"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Saturday, September 21, 2013

CERMIN 32 - MAKE YOU FEEL MY LOVE - PART 2 OLEH HEVI PUSPITASARI


Make You Feel My Love by +vie puspitasari 


Pesta berlangsung meriah, ketika aku sedang menenggak sampanye, Mas Ega mendekatiku, “Dance with me?” tanyanya sambil mengulurkan tangannya.
“Bukankah seharusnya Mas berdansa dengan pasangan pendamping wanita Mas?” jawabku.

“Tidak, aku lebih memilih berdansa dengan wanita tercantik di pesta ini dibandingkan oranglain,” jawabnya sambil mengedipkan matanya, aku tersenyum.
“Mas Ega lebay,” sahutku sambil menerima uluran tangannya.


“Sudah berapa gelas kamu minum?” tanyanya ketika kami berdansa.
“Um, aku tidak menghitung, 3 mungkin,” sahutku sambil mengangkat bahu.
“Apa kamu yakin tidak mau meninggalkan tempat ini dan pulang? Nanti malam kamu harus berangkat, apa sudah packing?”

Ah, iyah, besok aku harus berangkat ke Baltimore untuk melanjutkan sekolah spesialisku, atau lebih tepatnya: melarikan diri.
“Sudah, Mas.”
“Apa kamu yakin tidak memberitahukan Arre mengenai keberangkatanmu besok?”
Aku mengangkat kepalaku, memberikan kami jarak, lalu menggelengkan kepalaku.
“Kamu tentu tahu Arre akan marah besar kalau dia baru tahu sepulangnya dari bulan madu nanti,” Mas Ega mengingatkanku.

Oh, justru itu yang aku mau, karena kemarahannya itulah dia tidak akan menyusul dan menyeretku kembali ke Jakarta, tidak dengan perbedaan waktu dan jarak yang terbentang. Tidak mungkin Mas Arre akan senekat itu menyusulku, semoga.

Aku tidak akan sanggup berada di Jakarta setelah ini, tidak akan bisa. Sekeras apapun aku mencoba mendamaikan hatiku. Aku sudah memutuskan, selepas menyandang predikat dokter spesialis, aku akan mencari pekerjaan di sana, apapun, asalkan pekerjaan itu memastikan aku tidak bisa pulang ke Jakarta sesuka hati.

“Val?” panggilan Mas Ega menyadarkanku.
“Tidak apa, biar aku yang menyelesaikan semuanya nanti,” aku tersenyum mengatakan itu semua.

“Kalau aku orang lain, aku pasti akan berpikiran kalian sedang kasmaran,” suara yang sudah sangat aku hafal menghentikan pembicaraanku dengan Mas Ega.

Ketika menoleh ke belakang, aku melihat Mas Arre sedang menyedekapkan tangannya di dada sambil mencoba menatap garang ke arah kami, Mas Ega tertawa kecil melihat tingkah Mas Arre.
“Memangnya dimata ‘bukan orang lain’mu kami bukan orang kasmaran?” tantang Mas Ega tanpa melepaskanku.
“Tidak, kalian hanya adik kakak yang tersesat di antara orang kasmaran,” sungut Mas Arre.

“Lalu bagaimana orang lain melihat antara kau dengan Nika? Paman dan keponakan yang tersesat di hubungan suami istri?” ledek Mas Ega yang langsung mendapat pelototan dari Mas Arre.
“Hei! Kau sungguh kasar!” sergah Mas Arre, yang justru mendapat tawa dari Mas Ega.
“Sudah, sudah,” cegahku sambil melepaskan diri dari Mas Ega dan berdiri di antara mereka, “Kenapa Mas Arre sendirian? Mana Nika?” tanyaku.

“Nika sedang menyapa teman-temannya, dan aku ingin berdansa dengan adikku serta menolongnya dari playboy gadungan,” sahutnya cepat sambil menarik tanganku.
“Hahaha, kau seperti kakak yang posesif. Apa kau tidak percaya kepadaku? Aku ini sahabat baikmu, Arre,” jawab Mas Ega terlihat berpura-pura tersinggung.

“Justru karena kau sahabat baikku! Aku harus menjauhi adikku tersayang dari playboy gadungan sepertimu,” sahut Mas Arre dan hatiku berdenyut pedih mendengar kata ‘adik’ yang keluar dari mulutnya. Padahal sudah ribuan kali aku mendengar kata itu terucap semenjak Nika hadir.

See?? Kau tidak akan bisa tahan ada di sini lebih lama lagi, Val. Kau benar-benar harus memastikan tidak kembali ke Jakarta, tidak sebelum kau berhasil menghapuskan semua rasa ini, Val!
“Oke, oke, kuserahkan Valerie padamu, setelah itu kau harus menyerahkannya kembali kepadaku, kecuali kau ingin tidur sendirian di malam pertamamu,” ledek Mas Ega dan langsung meninggalkan kami sambil tertawa.

“Hei!” protes Mas Arre sambil tertawa, kemudian menarikku lebih dekat, dan kami mulai bergerak mengikuti musik, “Apa yang kalian bicarakan tadi? Kelihatannya serius,” lanjutnya.
“Tidak ada apa-apa. Bagaimana persiapan bulan madunya? Mas tetap bersikeras untuk berangkat besok pagi?” tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Ya, tentu saja, aku lebih menyukai menghabiskan malam pertamaku di rumah, karena sepulangnya dari bulan madu, kami langsung menempati rumah baru,” jelasnya dengan mata berbinar, Mas Arre memang mudah di alihkan jika menyangkut Nika.

“Apa Nika sudah tahu?”
“Tentu saja tidak, ini kejutan,” jawabnya sambil mengedipkan matanya, “Aku tidak sabar untuk membawanya ke rumah baru, memperlihatkan rumah impiannya, dia pasti terkejut mendapati rumah baru kami persis seperti keinginannya.”

“Dia pasti senang, Mas. Kau benar-benar memperhatikan setiap detil rumah itu.”
“Ya, aku ingin membuatnya nyaman di rumah impian kami, tinggal di sana sampai kakek-nenek dengan anak dan cucu kami nanti,” Mas Arre menjelaskan itu semua dengan mata berbinar dan pandangan yang menerawang.

Dia pasti sedang membayangkan semua itu, “Dan aku mengharapkan kau bisa mampir ke sana, Val. Sebenarnya aku ingin memperlihatkannya kepadamu sebelum pernikahan, tetapi kau terlampau sibuk di rumah sakit,” lanjutnya menyadarkanku.
“Oh, maaf,” sahutku.
Dia mendongakkan wajahku dengan telunjuknya, “Kenapa kau harus minta maaf?”

“Karena aku terlampau sibuk di saat Mas mempersiapkan pernikahan Mas,” dan tentu saja karena aku tidak bisa melihat rumah impian Mas dalam waktu dekat ini, aku akan pergi Mas. Rasanya ingin sekali aku mengucapkan itu semua, tetapi tidak, tidak boleh. Karena semuanya akan runyam kalau Mas Arre tahu.
“Tidak masalah, setelah kami pulang dari bulan madu, kau harus menginap di sana,” perintahnya. Tidak, bagaimana bisa?

“Kak,” panggil Nika di belakang Mas Arre membuat Mas Arre melepaskanku dan berbalik.
“Hei,” sahut Mas Arre sumringah sambil memeluk Nika dan mencium pipinya.
“Kakak terlalu berlebihan,” protes Nika setelah Mas Arre menciumnya, “Maaf, Val, aku menggangu kalian. Tetapi sekarang saatnya pelemparan bunga, dan ku harap kau mau ikut,” lanjutnya sambil tersenyum penuh arti ke arahku.
“Tentu saja,” sahutku mencoba terlihat bersemangat.

“Kau yakin ikut mengantri di antara mereka? Setidaknya ada ratusan orang yang mengantri di sana” tanya Mas Ega setelah MC mengumumkan saatnya pelemparan bunga dengan tatapan ngeri.
Lucu sekali melihat ekspresinya, “Mas terlalu berlebihan, mereka tidak sampai ratusan, hanya puluhan” jawabku sekenanya.

“Puluhan, Val!! Puluhan juga jumlah yang besar!”
“Siapa bilang aku akan berebut? Aku hanya akan ada di antara kerumunan itu, Nika memintaku langsung, tidak mungkin aku tidak ada di sana bukan?”

“Oke, aku akan berada di sini, mengawasimu, kalau mereka mencakarmu karena kau yang mendapat bunganya, aku akan langsung membawamu ke UGD dan memberikanmu suntikan anti rabies,” ledeknya, aku tahu dia mencoba menghiburku.
“Mas Ega lebay!!” protesku sambil memeletkan lidahku dan menuju kerumunan.

“Oke, sudah kumpul semua?” teriak MC, “Apa pengantin wanita sudah siap melempar?”
Mas Arre nampak geli melihat Nika yang berpura-pura belum siap, dan ketika Nika menganggukkan kepalanya, MC melanjutkan, “Okeeee, siap-siap semuanya, 1,2,” dia sengaja berhenti dan dengan tiba-tiba berteriak, “3!”

Seketika itu juga Nika melempar bunga dibantu Mas Arre, dan kerumunan mulai bergerak, aku melangkah mundur menghindari pergerakan kerumunan. Dalam gerakan lambat seperti di film-film, aku melihat bunga yang dilempar terbang menjauh dari pelaminan, menuju ke arah di depanku.

Entah siapa yang mendorong di belakang, aku merasakan badanku terdorong ke depan, dan refleks tanganku membuka, bermaksud mencoba berpegangan pada sesuatu karena dorongan di belakang, dan PLUK! Aku merasakan sesuatu terjatuh tepat di tangan, aku langsung menggenggamnya sebelum menyadari apa yang aku genggam.

Teriakan “Yaahh” menggema di seluruh ruangan, tetapi aku justru membeku ketika melihat benda di tangan, bagaimana bisa? Seketika itu juga, kerumunan menjauh, memberikanku ruang, mengangkat kepala aku nyengir kepada mereka semua sambil mengangkat bahu. Tak lama mereka semua tertawa dan serempak berkata, “Selamaaatt yaahhh!!”

Mas Arre tertawa di pelaminan karena melihat ekspresiku sambil menarik Nika ke pelukannya dan kemudian menciumnya. Tepat ketika mereka berciuman, aku merasakan pinggangku ditarik dan tiba-tiba aku sudah berada di pelukan Mas Ega.
“Sebaiknya kau tidak melihat itu semua,” saran Mas Ega dan dengan pasrah aku berada di pelukannya beberapa saat.

When the rain is blowing in your face,
And the whole world is on your case,
I could offer you a warm embrace
To make you feel my love.

When the evening shadows and the stars appear,
And there is no one there to dry your tears,
I could hold you for a million years
To make you feel my love.
(Adele – Make You Feel My Love)
~~o00o~~

“Apa kamu yakin tidak mau bermalam di tempatku? Jaraknya lebih dekat dari bandara,” ajak Mas Ega, yang langsung aku hadiahkan pelototan, “Hei, aku hanya memberikan saran,” lanjutnya sambil mengangkat kedua tangannya ke udara, mengisyaratkan kata ‘menyerah’.

“Saran yang sangat membantu,” balasku dengan nada sarkastis.
“Apa mau ku antar ke bandara besok?”
“Tidak perlu, aku pamit dulu, terimakasih Mas untuk hari ini,” pamitku sambil membuka pintu dan dia tersenyum.

Aku baru melangkahkan kaki memasuki ruang tamu ketika Bude memanggil, “Val, Ega ga disuruh masuk?”
“Mas Ega langsung pulang Bude,” jawabku.
“Oh, Bude harus meneleponnya nanti, dia benar-benar membantu kita hari ini,” jelas Bude sambil memandangi bunga yang aku pegang, “Bude senang kau mendapatkannya, mungkin kalian bisa segera menyusul Arre,” lanjutnya.
“Kalian?” ulangku.

“Iyah, kalian, Ega dan kamu. Jangan pura-pura bodoh,” Bude mengatakan itu sambil tersenyum dan mendekat ke arahku, “Kalian sangat serasi ketika berdansa tadi, Bude juga lihat kalian berpelukan setelah kau mendapatkan bunga itu. Ega juga tidak pernah jauh dari kamu seharian ini. Walaupun Bude masih belum bisa ikhlas sepenuhnya kamu dengan orang lain, Bude masih mengharapkanmu menjadi menantu Bude jika saja Bude memilikin anak laki-laki lagi, tetapi Bude bahagia untuk kamu, sayang. Kapan Bude bisa mempersiapkan pernikahannya?” lanjut Bude sambil membetulkan posisi poni yang menghalangi pandanganku.

Sementara aku masih terdiam mencoba mencerna ucapan Bude, aku dengan Mas Ega? Ya, ampun, Bude pasti salah paham.
“Bude, aku dengan Mas Ega tidak ada apa-apa,” sergahku.

“Baiklah, Bude tidak akan mencampuri urusan kalian, tetapi Bude harap, Bude orang pertama yang mengetahui rencana bahagia kamu, Val. Bude memang bukan Ibu Kandungmu, tetapi Bude ingin membantumu merencanakan pernikahanmu seperti layaknya seorang Ibu yang membantu persiapan pernikahan anaknya, jangan sungkan.”

“Iyah, Bude. Terimakasih selama ini Bude sudah merawat Val.”
“Ucapan macam apa itu?! Kamu memang keponakan Bude, tetapi kamu sudah Bude anggap sebagai anak kandung Bude sendiri, jangan sesungkan itu,” jelas Bude sambil berjalan beriringan menuju tangga, “Ngomong-ngomong, apa Arre sudah tahu kepergianmu ke Baltimore besok?”
“Belum, Bude.”

Bude langsung menghentikan langkahnya dan menatapku tajam, “Kamu belum memberitahukannya?”
Aku menggelengkan kepala.
“Sebaiknya kamu segera memberitahukannya, kau tahu betul bagaimana sifatnya, dia pasti akan marah besar, Val. Susul ke kamarnya sekarang, mereka baru saja masuk ke dalam.”

“Val berencana memberitahukan hal ini sepulangnya Mas Arre dari bulan madu, Val tidak mau mengganggu pasangan baru itu Bude,” jelasku sambil tersenyum.
“Tidak, tidak, kau harus memberitahukannya sekarang, Bude tidak berani membayangkan kemarahannya nanti, Val.”
“Bude jangan khawatir. Semenjak ada Nika, Mas Arre tidak segarang dulu,” jawabku mencoba meyakinkan sambil mengedipkan mata.

“Begitukah?”
“Iyah, Bude tenang saja,” jawabku sambil menganggukkan kepalaku dan tersenyum.
“Jam berapa kamu berangkat besok?”
“Jam 6, Bude.”
“Jam 6? Memangnya kamu dapat penerbangan jam berapa?”
“Jam 08.20, Bude.”
"Sekarang sudah jam 9 malam, sebaiknya kamu segera beristirahat. Sudah kamu persiapkan semuanya? Apa ada yang kurang?”
“Sudah, Bude, semua sudah siap, tidak ada yang kurang."

“Kenapa Bude merasa kamu menjaga jarak dengan Bude? Kamu tidak memberitahukan rencana melanjutkan pendidikan spesialismu, kamu mengurus semua sendiri soal keberangkatanmu dan bahkan kamu tidak membicarakannya terlebih dahulu dengan kami mengenai hal ini jauh sebelumnya walau hanya untuk sekedar meminta pendapat kami atau hal-hal lainnya semacam itu,” lewat ekor mataku terlihat dengan jelas Bude memperhatikanku dengan seksama tanpa bermaksud menghentikan langkah kami menuju tangga, membuatku tak berani menoleh ke arahnya.

“Terlebih lagi kamu menolak Bude membantu untuk masalah biaya hidupmu di sana. Bude tahu kamu sanggup menghidupi dirimu sendiri selama di sana, Val, tetapi izinkan Bude mendukungmu, izinkan Bude melaksanakan amanah Rindy untuk menjagamu, tak bisakah Bude melakukan sesuatu untukmu?” lirih Bude.

Pertanyaan Bude membuatku menghentikan langkah di anak tangga, apa Bude menyadari sesuatu?
“Maafkan Val, Bude. Val tidak menjaga jarak dengan Bude, semua terjadi begitu saja dan semua bertepatan dengan persiapan pernikahan Mas Arre. Val juga tidak percaya bisa lulus seleksi beasiswa di John Hopkins University yang terkenal ketat dan sangat selektif itu,” aku berhenti sejenak untuk mengambil nafas, mencoba menutupi perasaan yang sedang berkecamuk.

“Lagipula Val tidak sampai hati merepotkan Bude yang sedang sibuk mengurusi pernikahan Mas Arre, Val tidak mau menambah beban pikiran Bude,” jelasku merasa bersalah sambil berpegangan pada pegangan tangga merasa kakiku yang tiba-tiba terasa lemas.

“Kenapa kamu masih saja sungkan dengan Bude? Kamu sudah tinggal disini selama 8 tahun, Val, Bude sudah menjadi walimu yang sah setelah kematian ibumu, tak bisakah kamu menganggap Bude sebagai ibu kandungmu dan membiarkanku memutuskan hal-hal penting dalam hidupmu? Sejak kematian Rindy kamu tidak mengizinkan seseorang mengambil keputusan untuk hidupmu, kamu merencanakan dan mempersiapkan semuanya seorang diri, kamu terlalu mandiri di usiamu yang masih muda, Val,” Bude menghadap ke arahku ketika mengatakan itu semua.

"Jangan bersikap seolah-olah kamu tidak membutuhkan oranglain dan berpura-pura tegar. Kalau saja bukan karena Nika telah merubah Arre menjadi lebih terarah seperti sekarang, Bude lebih memilih kamu menjadi istrinya. Hanya Arre yang kamu izinkan masuk ke dalam zona amanmu, begitu juga sebaliknya. Jangan berbohong padaku Val, sebagai seorang Ibu aku tahu, kamu menyimpan sesuatu dan tidak ingin membaginya, dan Bude akan sabar menunggu hingga kamu siap menceritakan semuanya. Bude tidak percaya semua ini hanya kebetulan, pasti ada sesuatu yang kamu hindari dan Bude akan menutup mata tentang apa itu sampai kamu mengatakannya sendiri, asalkan kamu memberikan Bude kesempatan untuk menjagamu.”

Aku memejamkan mata sejenak, mencoba mencerna semua perkataan Bude, hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk menjawab, “Val tidak bermaksud begitu, Val juga tidak berfikir sampai kesana. Val hanya melakukan apa yang ingin Val lakukan, menjadi dokter sudah cita-cita Val sejak kecil, Bude pasti tahu dan kebetulan semua bersinggungan. Maafkan Val,” sahutku sambil menunduk.

“Hei, Bude mengatakan ini semua bukan untuk memojokkanmu dan membuatmu mengeluarkan kata ‘maaf’ terus menerus seperti ini, Bude hanya ingin kamu tahu betapa Bude menyayangimu dan berharap kamu bisa membuka dirimu untuk Bude, bersikaplah layaknya seorang anak perempuan yang membuat repot orangtuanya, dan bukannya bersikap layaknya seorang keponakan yang merasa sungkan tinggal dengan Budenya,” jelas Bude sambil memegang kedua lenganku.

“Terimakasih banyak Bude,” semburku sambil memeluk Bude, “Val harap Bude tidak menyesal sudah mengatakan itu semua, karena Val pasti akan banyak merepotkan Bude nantinya,” lanjutku setelah melepaskan pelukan kami sambil menyeringai.
“Justru itu yang Bude harapkan,” jawab Bude sambil tersenyum menenangkan.
~~o00o~~

Aku berjalan perlahan menuju kamar dengan kaki berjinjit, tidak ingin membuat Mas Arre menyadari keberadaanku. Dulu aku selalu bersyukur menempati kamar di seberang kamar Mas Arre, tetapi sekarang aku menyesalinya. Ketika berniat membuka pintu kamarku, aku mendengar suara tawa bahagia dari dalam kamar Mas Arre, dan lagi-lagi aku merasakan perih di dadaku.

Tanpa sadar, aku menuju pintu kamar Mas Arre, menyandarkan kepalaku di pintunya, dan berbisik, “Selamat berbahagia, Mas Arre. Maafkan aku yang terlalu pengecut dan lari dari semua ini.”

I know you haven't made your mind up yet,
But I would never do you wrong.
I've known it from the moment that we met,
No doubt in my mind where you belong.
(Adele – Make You Feel My Love)
~~o00o~~

“Kau sudah mau pergi, Val?” sapa Bude ketika aku sedang menutup pintu, membuatku berjengit karena kaget. Oh, ya ampun, ini masih jam 6 pagi, kenapa Bude bisa ada di sini?
“Iyah, Bude,” haduh Bude, jangan kencang-kencang, aku tidak mau membangunkan Mas Arre dan menghadapi kemarahannya di sini.

“Apa kau yakin tidak mau membangunkan Arre?”
“Hah? Jangan Bude, ini hari pertama mereka setelah resmi menikah, sebaiknya jangan mengganggu mereka,” larangku sambil setengah menarik lengan Bude menjauhi kamar Mas Arre, sementara tanganku yang satu lagi menarik koper besarku, mengabaikan tatapan heran Bude kepadaku.

“Bawaanmu banyak juga, Val,” sapa Pakde ketika kami berniat menuruni tangga, membuatku hampir saja menjatuhan koperku karena terkejut.
Saat ini aku berharap Mas Arre terlalu ‘sibuk’ semalam dan sedang tertidur pulas sehingga tidak mendengar keributan kecil kami ini. Haduh, kenapa mereka harus kompak di waktu yang salah? Jangan sekarang ku mohon.

“Um, karena Baltimore itu jauh, Pakde, Val takut agak susah mendapatkan keperluan Val dengan mudah, jadi Val bawa persediaan yang banyak,” jawabku sekenanya.
“Ya sudah, kami akan mengantarmu,” ajak Pakde sambil membantuku membawa koper yang sepertinya mengabaikan jawabanku yang terdengar tidak masuk akal.
~~o00o~~

“Kau benar-benar yakin tidak mau berpamitan dengan Arre?” tanya Bude dengan mata berkaca-kaca sebelum aku memasuki mobil, setelah perdebatan panjang karena Bude bersikeras menyuruh Pak Min mengantarkanku ke bandara, aku menyerah, karena kalau sudah berdebat dengan Bude, aku pasti kalah.

“Val, pikirkan kembali, kalian selama ini tidak terpisahkan, bagaimana jadinya Arre kalau dia tahu kamu pergi dan bahkan tidak berpamitan padanya sebelum berangkat?” Pakde menambahkan.

“Bude, Pakde jangan khawatir, Mas Arre sudah punya Nika sekarang, dia tidak akan sepemarah dulu kalau Val tinggal pergi. Setidaknya ada yang bisa dia ganggu selain Val sekarang,” sahutku sambil menyeringai.

“Oh, sayang, kenapa Bude merasa tidak rela kamu tinggalkan?” Bude langsung memelukku.
Aku tidak berkata apa-apa, hanya memeluk Bude dalam diam, menikmati perhatian mereka untuk terakhir kalinya, setidaknya sampai aku berpikiran untuk kembali, entah kapan.

“Bude pasti akan sangat merindukanmu, Val,” lirihnya setelah melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya.
“Pulanglah kemari begitu kamu selesai menyelesaikan pendidikanmu,” Pakde menjelaskan itu sambil memelukku.

“Sering-seringlah pulang, tak usah kau pedulikan ongkos yang mahal. Telepon kami begitu kamu tidak betah, kami pasti akan langsung menyuruh seseorang untuk menjemputmu, dan mengatur semuanya. Tidak usah khawatir dengan pekerjaan, Pakdemu memiliki banyak koneksi di berbagai rumah sakit terkenal di Jakarta, jangan kamu lupa itu, kamu pasti akan segera mendapatkan pekerjaan baru tak perduli pendidikan spesialismu yang belum selesai,” jelas Bude tanpa melepaskan tanganku.

“Bude, jangan terlalu khawatir, Val akan baik-baik saja,” hiburku sambil menghapus airmatanya dan berusaha mati-matian menahan airmataku.
“Mom, nanti Val tertinggal pesawat,” ingat Pakde dan akhirnya Bude melepaskanku dan membiarkanku masuk ke dalam mobil.

“Hati-hati di sana,” pesan Pakde sebelum menutup pintu mobil, aku menghapus air mataku dan tersenyum ke arah mereka.
“Val jalan dulu, salam buat Mas Arre dan Mba Nika,” pamitku.

Mereka masih berada di teras ketika mobil yang aku naiki menuju jalan raya. Oh, Tuhan, maafkan aku yang egois dan tidak memikirkan perasaan mereka demi kegoisanku sendiri. Ini yang terbaik bukan, Mah?

Aku menghapus airmata dan dengan mantap berkata, “Langsung ke bandara yah, Pak.”
Pak Min menganggukkan kepalanya dan tanpa berkata apa-apa langsung menekan pedal gas.

I'd go hungry; I'd go black and blue,
I'd go crawling down the avenue.
No, there's nothing that I wouldn't do
To make you feel my love.
(Adele – Make You Feel My Love)
~~o00o~~

Aku sedang berada di ruang tunggu bandara ketika ada yang memanggilku, “Val, kamu sudah sampai?”
Aku langsung membalik badanku dan mendapati Mas Ega dengan ransel di belakangnya, “Mas Ega? Koq Mas ada di sini?”

“Mas pikir-pikir, Mas sudah lama tidak mengambil cuti dan bersenang-senang, jadi Mas memutuskan untuk berlibur ke Baltimore,” jawabnya sambil menyeringai.

“Untuk berapa lama?” tanyaku menyelidik.
“Hm, aku belum memikirkannya, mungkin 1 minggu, 1 bulan atau bahkan 1 tahun,” sahutnya enteng sambil mengangkat bahunya acuh.
“Dan kota tujuan dari liburan berharga Mas adalah Baltimore?” tanyaku begitu saja tanpa menutupi keterkejutanku.

“Ya, tentu saja, memang kenapa? Ada masalah?” sahutnya terlihat tersinggung-atau setidaknya sengaja terlihat tersinggung-karena nada suaranya terdengar terlalu enteng untuk dikatakan tersinggung, "Oh,ya, 1 lagi, aku sudah mengupgrade tiketmu ke kelas 1," lanjutnya tanpa merasa bersalah.

“Aku tahu apa yang sedang Mas coba lakukan, lebih baik Mas pulang. Dan kenapa Mas harus mengupgrade tiketku?" Aku menatap garang Mas Ega.
"Aku hanya melakukan apa yang mau aku lakukan, dan yang ingin aku lakukan sekarang ini adalah berlibur serta mengupgrade tiketmu."

Aku hendak membantah ucapan Mas Ega tetapi dia langsung melanjutkan, "Dan jangan membahas masalah tiket seolah-olah itu adalah masalah besar. Aku melakukannya karena aku mau dan bisa."

Dia selalu saja begini, Mas Ega dan Mas Arre sama, selalu berbuat semaunya karena merasa mampu dan bisa. Bagaimana aku bisa lupa dengan sifat semaunya ini?! Aarrgghhh!!!

"Bagaimana dengan pasienmu di sini kalau Mas berlibur selama itu dengan jarak yang sangat jauh untuk panggilan emergency sewaktu-waktu,” tukasku.
“Masih banyak dokter-dokter lain di Jakarta yang lebih kompeten dibanding aku, kenapa kamu harus repot-repot memikirkan mereka? Kenapa tidak memikirkan dirimu sendiri yang harus berada di kota asing selama beberapa tahun ke depan?”

“Apa yang harus dipikirkan? Aku hanya perlu belajar dan segera lulus,” sahutku sambil mengangkat bahu.
“Apa kau yakin?”

“Setidaknya aku tidak perlu berpura-pura bahagia di sana,” aku akhirnya mengakui.
“Nah, itu baru Val yang aku kenal.”

Tak lama aku mendengar nomor penerbangan kami dipanggil, ketika aku hendak membawa koperku, dia langsung mengambil koperku tanpa berkata apa-apa.
“Mas Ega sudah terbiasa mengetahui semua yang ku rasakan tanpa harus aku katakan. Kenapa sekarang Mas memojokkanku seperti ini?” rajukku sambil cemberut.
“Aku hanya ingin kamu mengakui, kalau kamu tidak setegar yang ditunjukkan.”

Aku menghentikan langkahku mendengar ucapannya, seperti itukah? Aku masih berdiam di tempatku semula untuk beberapa saat dan ketika dia merasakan aku yang tidak juga mengikutinya, dia menoleh dan setengah berteriak memanggil, “Ayo, nanti kita ditinggal pesawat!”

The storms are raging on the rolling sea
And on the highway of regret.
Though winds of change are blowing wild and free,
You ain't seen nothing like me yet.


I could make you happy, make your dreams come true.

Nothing that I wouldn't do.
Go to the ends of the Earth for you,
To make you feel my love
To make you feel my love
(Adele – Make You Feel My Love)
~~o00o~~

Seperti yang sudah aku duga, aku mendapat tempat di sebelah Mas Ega, dan aku yang mendapat tempat dekat jendela, tempat favoritku. Setelah menyamankan diri, Aku memandang ke arah jendela dengan pikiran berkecamuk. Apa aku akan sanggup berada di kota asing seperti yang Mas Ega katakan tadi? Apa aku benar-benar mampu melupakan dan menghapus semua perasaanku kepada Mas Arre selama di sana? Atau, akankah aku sanggup untuk kembali ke Jakarta?
Lamunanku terhenti ketika pilot berkata di speaker, “Mohon maaf, dikarenakan ada urusan emergency, pesawat menunda keberangkatan selama 10 menit.”

Tak lama pintu penumpang terbuka, entah kenapa detik itu juga aku merasa yakin, Mas Arre-lah yang akan masuk melalui pintu yang terbuka. Mengambil nafas dalam-dalam, aku memejamkan mata, tidak Val, kamu terlalu banyak menonton film drama, Mas Arre tidak akan senekat itu sampai menahan pesawat. Kau hanya adiknya, dan dia tidak akan melakukan semua ini, ini pasti benar-benar urusan emergency.

Tetapi, ketika membuka mata, tanpa sadar aku menahan nafas begitu melihat Mas Arre dengan rambut setengah basah memakai kaos yang dilapisi jaket dan celana pendek, berdiri dengan tatapan marah ke arahku.

Di belakangnya ada Nika yang sedang memegang lengan Mas Arre, seolah menahannya untuk berlari-yang memang tidak perlu mengingat tempat dudukku yang tidak jauh dari tempatnya berdiri-ke arahku, sementara kedua tangan mengepal di sampingnya. Mas Ega menyenggol lenganku, mengisyaratkanku untuk berdiri dan menghampiri Mas Arre.

Oh. Ya. Ampun!
~~o00o~~

When the rain is blowing in your face,
And the whole world is on your case,
I could offer you a warm embrace
To make you feel my love.


When the evening shadows and the stars appear,

And there is no one there to dry your tears,
I could hold you for a million years
To make you feel my love.


I know you haven't made your mind up yet,

But I would never do you wrong.
I've known it from the moment that we met,
No doubt in my mind where you belong.


I'd go hungry; I'd go black and blue,

I'd go crawling down the avenue.
No, there's nothing that I wouldn't do
To make you feel my love.


The storms are raging on the rolling sea

And on the highway of regret.
Though winds of change are blowing wild and free,
You ain't seen nothing like me yet.


I could make you happy, make your dreams come true.

Nothing that I wouldn't do.
Go to the ends of the Earth for you,
To make you feel my love
To make you feel my love
(Adele – Make You Feel My Love)

~~o00o~~
To Be Continue

… 



38 comments:

  1. good story >,< kept writting, thanx vie and mbk shin...
    btw, covernya yg cowok memper2 kellan lutz yah hehehehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasiiihhhh Mba Zetaaaaa (Benera khan yah?? hehehe)
      Err,,, Vie g tw siapa yg di cover Mba,,
      Makasih udah baca n komen Mba Zetaaa...
      :D

      Delete
  2. Haduuuh pendiiing lagiii...*nangis sore2 lagi...
    Mbak shin mbak vie kekna ini cerita panjang ya...
    Pengen val ama mas are tapi dha nikah ama nika *tuing2
    Kekna mas ega jg sayang ama val nih...curiga endingnya ama mas ega...go to the ends of the earth...
    Req buruan donkkk lanjutannya...*iklas disebut tukang paksa demi penasaran hilang
    *peace....

    Makasih ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. *sodorin tissue*
      ummm,,sprtinya sih bgtu(sok rahasia2an)
      Semoga sabar menantiii Mba Astrid,, dan semoga bakalan suka sama endingnya nantiiii...
      Makasih udah baca n komen Mba Astrid...
      :D

      Delete
    2. Maunya ama arre, secara budhe nya aja setuju ama si val tapi kok udh nikah aja sih si arre *hiks...
      Mbak vie masih lama ya :o penasaran, biar galau sekalian...hahahaha thanks ya ceritanya mbak...

      Delete
    3. Hahaha,,, smg garis takdir mrk cocok... *lebaayy*...
      Mksh jg Mba Astrid...

      Delete
  3. Vieeeeeee!!! Bgus bgt!!!:'(:'(:'(
    Ak smpe mau nangis.. Nyesek bgt..:'(
    Trus si Arre tu knapa gtu? Klo emg dia ga ad prasaan lbih sma Val, knapa jga seolah2 dia mmbri harapan?:'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya sih seneng, tapi ga nyadar atau memaksa diri melihat val adalah adeknya :(

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
    3. Mungkin Arre memang sayang banget sama Val, hampir sister complex gitu tapi pengen juga kalau Arre sebenarnya maksain diri ngelihat Val sebagai adek *kerling mbak astrid*, gimana mbak Hevi? Digituin aja yaa.. yaa... *maksa*

      Yang go to the end of the earth, si Ega kan ya?

      Delete
    4. *Peluuukkkkk Mba Mendyyy*
      maapp udah bkin nangiiss.... ga da maksud bwt bkin nangis kawan2 semua yang baca... hukz....
      Mungkin maksudnya g mmberi harapan, tapi nanti coba tak tanyain dl ke Arre yakz...
      Makasih udah baca n komen Mba Mendy...
      :D

      Umm,,smg di part selanjutnya kjwb yah Mba Astrid..
      :D

      Arre emang sayang sm Val, klo g, g mgkin khan dia sampe nyusul Val n nahan pesawat gt? *sotoy*
      hahaha,, boleh, boleh dgtuin sementara qt anggp gt ajjah.. xixixi
      Makasih udah baca n komen Mba Yuyun...
      :D

      Delete
  4. Akhhh, vie, lanjuntannya mana? Mbak shin, upload lagi dong. Saya tungguin deh ampe pagi,, hiks hiks, seru,,,

    akk, saya sampai kehabisan kosa kata mau kasih komentar *alibi ga bisa komen*..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maap Mba Lee... lnjutannya masih dalam tahap proses pembuatan, kalau dpksa tayang skrg tkur trjadi kegundahan besar2an.. jadiiii smntra msh dlm thp editing *sok profesional*
      semoga sabar menantii yah Mba Lee...
      Makasih udah baca n komen Mba Lee...
      :D

      Delete
  5. Replies
    1. Huaaa..... Ekaaa jangan galauuu.... hukz...
      Makasih udah baca n komen Ekaaaa...
      :D

      Delete
  6. Vieeeeeeeee...lg kena virus Galau heh??
    Knpa jadi giniiiiiii??

    Hadewwwwwwwwhhh >,<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huaaa,,,,,, Mba Riiisss.... lamaaa tak bersuaaaaaaa kitaa...
      maafkaaann, sedang terjadi modernisasi kudeta hatinisasi jadiiinyaa beginiii dehh.. (apa sihh)
      Makasih udah baca n komen Mba Riiiss...
      :D

      Delete
  7. aku tau bgt gmn rasanya jd Val... di harkosin, di PHP-in. smoga sj kisahmu tidak pereti kisahku Val *elap ingus* wkwkwk
    penasaran bgt. Asli keponya. ini akhirnya mau di bawa kemana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Vinda pernah ngalamin (juga?) *bantu elap ingus*
      semoga Val bs jauuhh lebih bahagia yah nantinya.. kesian si Val...
      semoga sabar menantiii yah Mba Vinda...
      Makasih udah baca n komen Mba Vinda...
      :D

      Delete
    2. mba vie jg pernah? *berpelukan* iya nih klo baca kisah Val serasa deja vu. di tarik terus di ulur. di lambungin terus di hempasin. sakit... *eh knp jd curhat begini?*
      happy ending ya mba. request ini mah wkwkwk ;)

      Delete
    3. Eehhh,,jd curcol giniiihhh kitaaa... Hahahaha
      Ummm,,smg si 'mood' brbaik hatiiii yakz mmbrikan happy end (KabooooOoooorRrrRrrrrr  sblm dtmpukk)
      Hahahah...

      Delete
  8. Duh....,ich kok jdi tambah galau y,,,,,, next chapter dunk..... Thanks mba shin n mba hevi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya yah, oq jd galau....
      semoga sabar menanti yah May...
      Makasih udah baca n komen Maayy...
      :D

      Delete
    2. Iya yah, koq jd galau...
      semoga sabar menanti yah May...
      Makasih udah baca n komen Maayy...
      :D

      Delete
  9. Rupanya udh part 2, G̲̮̲̅͡åк̲̮̲̅͡ nyadar,xixixixi...baca2 msh aj galau..hiks3...
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°ºea vie n mba cin
    Eehh tmpilan komennya brubah y,hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jaaahh wakakakakak Mba Ndooonggg *cubit2*
      pukpuk Mba Ndong
      iyah, ternyata berubah.. baru ngeh..
      Makasih udah baca n komen Mba Ndng..
      :D

      Delete
  10. Haiiii semuaaa... Maaff baruuu sempat mampir (baca: baru berani nongol)
    Sbnrnya saya ga nygka ternyata kegundahanisasi yang sedang menggelora di hati membuat efeknisasi yang sama ke kawan2 smw...
    saya mengucapkan terimakasih yang sebesar2nyaaaa atas sgala apresiasi yang kawan2 tnjukkan, krn sjujurnya, sedang terjadi moderniasai kudeta hati ktika saya menyelesaikan part ini...
    (aapaa sihhh??)

    Oke, Oke, marii qt bcara dgn bhs yg baik dan benar...
    Semogaaaa kawan2 smw sabar menanti klnjutan cerita ini yaaang trnyt mmbtuhkan wktu tmbhn dan smg tdk smpai adu pinalti.. ;D
    Terimakasih banyaaakkk kawaaaannn2 semuaaa..
    *peluk2*

    ReplyDelete
  11. kolom komentarnya baru ya? :gak nyadar: emang bedanya apa nih ama yg lama hmm...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beda dikit sist Shin ... Tapi kliatan bgt bedanya heheh

      Delete
  12. Sad Story Oey... Cerita yg ane demenin hihihi
    Lagi Donk Donk Donk !! Wkwkwkkkk *suka nambah :))

    thanks sist Vie ... & sist Shin ... Kiss again muach muach ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Woww,,d yg demen sm sad story trnyt...
      Sbr yakz,,yakz,,yakz... Xixixixi
      Mksh Mba Shila udh bc n komen
      :D

      Delete
  13. lagu adelle selau bikin hati galau
    ihhh kenapa arre harus muncul lagi gak tahu apa sudah bikin hati Val hancur berkeping2 *timbuk arre pake sandal jepit*

    +sis vie ditunggu kelanjutanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. bangeeettttzzz..... lagu ini sukses mengobrak-abrik hati dan perasaan... *lebay*
      huaaa.... Mba Aniikk jangan ditmpuk, kesiaann pan... xixixi
      mksh Mba Anik udah baca n komen
      :D
      semogaa sabar menanti.. ;p

      Delete
  14. Mbak vie masih galaunisasi sepertinya...

    ReplyDelete
  15. selama ni jadi silent reader...
    bolak-balik buka blog..
    nunggu part selanjutnya...
    #galau

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heheheh,,mksh Mba Dyla
      Mksh udh bc n komen
      :D

      Delete
  16. selama ni jadi silent reader...
    bolak-balik buka blog..
    nunggu part selanjutnya...
    #galau

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.