"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, September 20, 2013

CERMIN 32 - TO MAKE YOU FEEL MY LOVE SERIES - MAKE YOU FEEL MY LOVE - PART 1 - OLEH HEVI PUSPITASARI


Make You Feel My Love by +vie puspitasari 



When the rain is blowing in your face,
And the whole world is on your case,
I could offer you a warm embrace
To make you feel my love.

When the evening shadows and the stars appear,
And there is no one there to dry your tears,
I could hold you for a million years
To make you feel my love.
(Adele – Make You Feel My Love)


Toktok!!
“Val?”
Panggilan itu hampir saja membuat lipstik yang sedang aku kenakan melenceng jauh dari bibir dan dengan segera aku menuju pintu dan membukakannya.
“Mas Arre? Kenapa Mas kesini?” tanyaku tak percaya melihat Mas Arre yang sudah rapih memakai tuxedo putihnya.

Aku terdiam sejenak menikmati pemandangan indah di depanku-walau agak mendongak karena dia jauh lebih tinggi-matanya yang jernih, hidungnya yang mancung, rahangnya yang tegas, bibirnya yang terbentuk sempurna.

God! Rasanya aku ingin menjalankan jariku tepat di bawah anting kecil yang bertengger manis di telinga kiri, meluncur di sepanjang rahang yang mulus, menuju dagu, leher dan berakhir dengan kedua tanganku di dada bidangnya, merasakan debaran jantung yang menenangkan hatiku. Oke, sadarlah Valerie Triatmodjo!!!

“Val, menurutmu aku harus memakai dasi yang mana?” tanyanya sambil mengangkat kedua tangannya yang memegang dasi dengan motif yang hampir sama, aku tersenyum samar melihat kedua dasi yang dibawanya, dasi yang aku hadiahkan sebagai kado ulangtahun untuknya.

“Mas Arre, bukannya Mas punya dasi baru?” tanyaku sambil mengambil kedua dasi di tangannya dengan ekspresi bingung.
“Memang,” sahutnya sambil mengangkat bahunya cuek, “Entahlah, Mas merasa lebih nyaman pakai salah 1 dari dasi itu.”

Kalau saja aku bisa berteriak gembira saat ini, aku pasti sudah melakukan itu semua sedari tadi.
“Oke, kalau begitu pakai ini,” jawabku sambil menyerahkan dasi di tangan kananku.
“Apa kau yakin?” tanyanya sambil menerima dasi yang ku serahkan dan dengan langkahnya yang besar-besar dia memasuki kamarku, berdiri di depan cermin rias.

“Akan jauh terlihat lebih sempurna kalau Mas memakai dasi baru yang kemarin Mas beli bersama Nika, um, maksudku Mba Nika,” jelasku menyedekapkan tangan sambil mengamati Mas Arre yang sedang sibuk memakai dasinya.
Setelah merasa puas dengan pantulan dirinya di cermin, Mas Arre membalikkan badannya, “Tidak, aku lebih suka ini,” sahutnya sambil tersenyum puas di cermin.

“Darrel Rafandra! Ya, Ampun, Mom mencarimu kemana-mana dan kau ada di sini,” Bude masuk ke dalam kamarku sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, “Jam berapa ini dan kau masih belum siap?”

“Aku sudah siap, Mom. Aku hanya meminta pendapat Valerie sebentar,” jelasnya kepada Bude, “Oke, terimakasih Val, kau memang yang terbaik,” lanjutnya sambil mencium pipiku, membuatku terlonjak dan setengah berlari dia langsung keluar kamar.

Aku memandangi punggung tegap Mas Arre hingga menghilang di balik pintu, tuxedo putih itu sangat pas di tubuh sempurnanya. Kalau saja boleh memilih, aku lebih memilih tuxedo hitam dibanding putih. Well, Mas Arre pakai apa saja memang tidak masalah, derajat ketampanannya tidak akan turun walau hanya memakai kaos oblong dan celana pendek lusuhnya.

Tanpa sadar aku menghela nafas tertahan, berusaha meringankan perasaanku yang campur aduk. Kenapa di hari bahagianya, dia justru memilih dasi yang ku berikan sebagai kado ulangtahun dibanding dasi yang dibelinya berdua dengan calon istrinya?

“Anak itu benar-benar,” gerutu Bude membuatku tersadar, aku tidak sendirian di kamar, aku langsung membalikkan badan dan menghadap cermin, “Dia selalu merepotkanmu, kali ini dia meminta pendapat tentang apa, Val?”

“Dasi, Bude,” jawabku kalem, sambil berpura-pura sibuk memakai lipstik.
“Dia selalu meminta pendapatmu untuk hal sekecil apapun, kenapa dia tidak menikahimu saja? Bude akan jauh lebih bahagia jika itu terjadi, seperti keinginan Ibumu,” bisik Bude, “Baiklah, Bude tidak akan mengganggumu, kita akan berangkat 10 menit lagi, semua sudah siap di bawah,” lanjut Bude sambil tersenyum dan meninggalkanku di kamar.

Ketika pintu kamar tertutup rapat, aku langsung melorot, terduduk di lantai dengan tangan masih memegang lipstik, mencoba menahan airmata yang tiba-tiba berdesakan, memaksa untuk keluar setelah mendengar kata-kata Bude tadi.

Oh, Bude, tidakkah Bude tahu betapa aku juga ingin meneriakkan kata ‘YA!’ pada pertanyaan Bude tadi? Tapi tidak mungkin bukan? Karena anak kesayangan Bude itu tidak pernah menganggap Val sebagai wanita, dia hanya menganggap Val sebagai seorang Adik, Bude! Walau pada kenyataannya calon istrinya sekarang justru berumur 2 tahun lebih muda dari orang yang dianggapnya adik ini.

Mah, kenapa Mamah harus meninggalkan Val sendirian? Val butuh Mamah, Val butuh omelan Mamah untuk menguatkan Val hari ini, Mah.

 Aku melepaskan lipstikku, menangkupkan wajahku, menekan kedua mataku untuk menahan air mata, tetapi tidak sanggup, aku tidak bisa. Beberapa tetes airmata mengalir di antara jari yang menekan mataku, tidak! Aku tidak boleh menangis! Dengan kasar aku menghapus airmata, dan mencoba membetulkan kembali make up di wajahku yang sudah susah payah aku persiapkan sejak 1 jam lalu.

Kau harus kuat, kau harus tegar Val!!! Hari ini hari bahagia orang tersayangmu, kau tentu tidak mau merusak hari bahagia Kakak sepupumu sendiri bukan? Tersenyum Val, kau harus tersenyum, relakan cintamu, ikhlaskan dia bahagia bersama orang yang sudah dia pilih. Bukankah kau dimintai pendapatnya sejak mereka dekat? Kau juga yang mendorong Mas Arre untuk melamar wanita beruntung itu untuk dijadikan istri. Ayo!! Kau pasti bisa Val!! Kau pasti kuat!!!

“Kau pasti bisa!!” gumamku di depan kaca sambil-mencoba untuk-tersenyum manis, “Ok, here we go,” dan dengan cepat aku mengambil tas yang sudah aku siapkan di tempat tidur.
~~o00o~~

“Val! Sini!!” panggilan Mas Arre menghentikan obrolanku dengan Mas Ega, Arkharega Wirasena, sahabat Mas Arre dan juga seniorku di Rumah Sakit. Kami baru saja bersiap memasuki mobil sebelum dia memanggil.
“Kenapa, Mas? Udah jam berapa ini? Nanti kita telat, kasihan keluarga N, um Mba Nika nunggu kelamaan,” gerutuku ketika sudah berada di dekatnya.

“Aku mau kamu duduk di mobilku,” pintanya membuatku melongo.
“Hah? Duduk di mobil Mas? Gimana bisa? Udah penuh begitu juga!” tolakku. Oh, Tuhan, apalagi sekarang? Kenapa Mas Arre senang sekali menguji hatiku, Tuhan?

“Gak, masih muat, Ayo!” begitu dia selesai mengucapkan itu, dia langsung menarik lenganku, terkejut, tetapi aku tetap menuruti keinginannya, mengikuti langkahnya menuju mobil Mercy –nya yang sudah dihias.

Dia langsung menyuruhku masuk, tetapi sebelum masuk, aku menoleh ke arah Mas Ega, sambil tersenyum dia mengangguk. Dan, disinilah aku, duduk di samping kiri calon pengantin lelaki-slash-orang yang merebut hatiku entah sejak kapan-slash-kakak sepupuku.

Diam-diam aku menghela nafas frustasi, mencoba meringankan beban berat yang tiba-tiba menimpa dadaku. Tak lama, Bude masuk dan duduk di samping kanan Mas Arre, sedangkan Pakde duduk di kursi depan. Mereka hanya tersenyum ke arahku, sementara Mas Arre menampakkan wajah tegangnya.

“Ga usah tegang gitu, Mas. Ni, um... Mba Nika ga bakalan kabur koq, semua pasti lancar,” hiburku sambil mengelus tangannya yang sedari tadi masih menggenggam keras tanganku, kebiasaannya pada saat tegang.

“Begitukah?” tanyanya sambil melirik ke arahku.
“Oh, Ya. Karena kalo enggak, dia pasti sangat bodoh karena meninggalkan cincin berliannya di Mas,” gurauku mencoba menghiburnya.
“Ga lucu!!” sahutnya sambil cemberut.

Ya, Nika sangat bodoh kalau sampai meninggalkan Mas Arre, lelaki yang amat sangat mencintainya. Dan jauh di lubuk hatiku, aku mengharapkan Nika sebodoh pikiranku itu. Yeah, mimpi aja terus Val!
~~o00o~~

“Bagaimana aku?” tanya Mas Arre ketika kami sampai.
Aku merapikan sedikit bentuk dasinya, kerah jasnya, letak saputangannya, walaupun aku tahu, aku tidak perlu melakukan itu semua, dia sudah sangat sempurna, setidaknya di mataku.

“Oke, Mas sudah tampan,” jelasku sambil mencoba tersenyum semanis mungkin.
“Aku gugup, Val. Bagaimana kalau aku salah mengucapkan janji pernikahan?” tanyanya dengan kerutan di kening.
“Jangan berpikir yang tidak-tidak, Mas sudah menghafal semuanya sejak 1 minggu lalu. Semua pasti lancar,” hiburku sambil mengelus kerutan di keningnya.
“Ayo, kita masuk ke dalam,” ajak Pakde dan kami mengikutinya.

Aku terpaku melihat pemandangan di dalam, Nika memang benar-benar mempersiapkan semua sesuai dengan keinginannya. Semua ini… Benar-benar indah. Seluruh ruangan di hias dengan ornament dan pernak-pernik berwarna putih, sesuai dengan tema yang diusungnya, wonderful winter, hanya satu yang kurang, hujan salju yang pastinya membuat suasana semakin romantis. Atau, jangan-jangan memang benar ada, mengingat budget fantastis yang sudah mereka keluarkan.

“Val, ayo, koq malah bengong?” ajak Mas Ega, aku tersenyum dan segera menuju kursi yang telah disediakan.

Entah aku harus senang atau justru menangis, karena diberikan bangku yang bersebelahan langsung dengan Bude, dan itu berarti, aku akan dengan jelas bisa melihat semua prosesi pemberkatan ini. Mas Ega sudah berdiri di tempat seharusnya dia berdiri, di samping Mas Arre, sejak dia memastikan aku telah duduk dengan nyaman di samping Bude, menemani Mas Arre di altar, menanti kedatangan mempelai wanita.

Tak lama musik pengiring dibunyikan, pertanda mempelai wanita sudah bersiap memasuki ruangan, tanpa dikomando, seluruh tamu memandang ke arah pintu masuk, dan terdengar decakan kagum dari beberapa tamu yang datang.

Oke, ini waktunya, Val! Kuatkan dirimu, kamu pasti kuat, kamu pasti bisa melewati ini semua! Bantu Val, Mah. Aku menghirup nafas dalam-dalam dengan pelan sambil menutup mata. Breathe in. Breathe out. Aku memberanikan diri menoleh ke arah pintu masuk, dan di sana berdiri Annika Bagaskoro, yang akan segera berganti nama menjadi Annika Rafandra, dengan gaun pengantin yang membalut tubuh rampingnya dengan elegan.

“Cantik, yah, pinter Arre cari istri,” ucap salah satu kerabat yang duduk di belakang kursiku.

Ya, Nika memang cantik, dengan badannya yang ramping, wajahnya yang kemayu, siapapun pasti langsung menyukainya. Dengan perlahan namun pasti dia menuju altar, selangkah demi selangkah menuju Mas Arre yang sudah menunggunya dengan senyuman paling sempurna yang pernah aku lihat. Tatapan mereka tidak pernah lepas, terkunci, seakan saling menguatkan, saling menyampaikan pujian satu sama lain.

Hingga akhirnya Nika mencapai altar, mereka tetap tidak melepaskan tatapannya, seolah terkunci pada dunia mereka sendiri, mengabaikan para tamu undangan yang memperhatikan mereka. Mas Arre mengambil uluran tangan Nika dan membawa ke sampingnya ketika Nika sudah berada tepat di depannya. Senyum bahagia tak pernah lepas dari wajah tampannya.

Saat mereka bersiap untuk memulai semua prosesi pernikahan, tiba-tiba aku merasakan dadaku sesak, seperti dihimpit ribuan ton bebatuan, sakit, sesak. Bernafas, Val. Bernafas! Meletakkan tangan kananku ke dada, aku mencoba menahan sakit yang semakin menyesakkan dada. Mah, bantu Val. Tuhan, kuatkan Val.

Aku memejamkan mata, mencoba menahan air mata yang berdesakan keluar. Jangan sekarang, tolong, jangan sekarang. Ketika membuka mata, aku menyadari ada sepasang mata yang memandangku, memperhatikanku, dan ternyata itu adalah Mas Ega. Dengan raut wajah khawatir dia menatapku, aku hanya bisa memberikannya senyuman lemah dan membisikkan kata, “I’m Ok.” Tetapi itu tidak menghentikannya untuk terus memperhatikanku dengan tatapan khawatirnya, dan aku mengabaikannya.

Aku masih sibuk menahan himpitan berjuta perasaan di dada ketika mereka menyelesaikan janji pernikahan, dan tepat ketika mereka sudah diresmikan menjadi sepasang suami istri, aku tidak bisa menahan air mataku lagi. Aku menutup mata saat mereka hendak berciuman, tidak, aku tidak akan tahan melihat itu semua. Ini baru permulaan, Val! Akhirnya aku memberanikan membuka mataku, tepat di saat hujan salju disemprotkan.

Bude menyentuh pundakku, memberikan isyarat supaya aku berdiri, karena sekarang waktunya kami menyambut pasangan pengantin baru. Tepuk tangan meriah menggema di seluruh ruangan. Mas Arre masih sibuk membagi kebahagiaannya dengan para pendamping pria, sementara Nika dengan para pendamping wanitanya. Tak lama setelah itu, mereka turun ke bawah, menuju keluarga inti.

Mas Arre terlebih dahulu menghampiri Bude dan Pakde, disusul Nika di belakangnya. Aku memalingkan wajahku, buru-buru menghapus air mata yang masih saja keluar ketika Mas Arre memeluk Bude di sampingku. Ketika dia sudah berada di depanku, Mas Arre tersenyum dengan bahagianya, dan tak membuang waktunya, dia langsung memelukku, sangat erat. Mengejutkanku.

“Terimakasih banyak, Val. Kalau bukan karena doronganmu, aku mungkin tidak akan ada di sini, aku tidak akan bisa menikahi wanita sesempurna Nika, terimakasih banyak,” ucap Mas Arre di sela-sela pelukannya.

Oh, Mas Arre, kalau saja kau tahu betapa beratnya aku saat mengatakan itu semua. Aku mencoba tersenyum ke arah Nika yang berada di belakang Mas Arre, membalas pelukan Mas Arre, menahan sesak yang semakin menghimpitku serta jebolan air mata yang sudah semakin mendesakku.

“Selamat, Mas. I’m happy for you,” ucapku setelah dia melepaskan pelukannya dan tanpa aku duga, dia mencium pipiku, keningku.
I’m so happy to have you, Val, dan aku harap kamu segera menyusulku” ujarnya tersenyum sambil mengelus pipiku.

Untuk sesaat aku melupakan rasa sakitku, mencoba menyerap kebahagiaan yang sedang dibagikan Mas Arre. Inilah saatnya, Valerie, ini waktunya kau harus merelakan dirinya, dan kau harus sanggup, kau harus bisa membuang semua perasaanmu kepadanya. Mas Arre bergeser, membuat Nika dan aku berhadapan.

“Selamat, Mba Nika,” aku mencoba tersenyum ketika mengucapkan itu, dia memelukku.
“Terimakasih banyak, Val,” jawabnya dengan mata berbinar.
~~o00o~~

I know you haven't made your mind up yet,
But I would never do you wrong.
I've known it from the moment that we met,
No doubt in my mind where you belong.

(Adele – Make You Feel My Love)


Diam-diam aku memisahkan diri dari kerumunan orang yang masih sibuk mengucapkan selamat kepada Mas Arre dan juga Mba Nika, menuju lorong sepi. Ketika dirasa tidak ada yang mengikutiku, aku bersandar di dinding, mengabaikan rasa dingin di punggungku yang menempel dinding.

Perlahan merosot, dan setengah duduk dengan tangan kiri menutup mulut, menahan isakan, sementara tangan kanan memukul-mukul dada kiriku, mencoba menghancurkan beban tak terlihat yang menyesakkan dada.

Air mata yang sudah ku tahan sedari tadi keluar dengan derasnya, menutup mata, aku membiarkan kesedihan mengambil alih diriku. Entah berapa lama aku seperti ini, aku tidak menghitung, hingga akhirnya aku merasakan tangan hangat menyentuh pundakku, mengejutkanku. Dengan segera aku menghapus airmataku dan berbalik.

Aku mendapati Mas Ega berdiri di belakangku, membantuku berdiri, tanpa berkata apa-apa Mas Ega memelukku, membenamkan wajahku ke dadanya, menahan kepalaku di sana.

“Menangislah, Val. Izinkan aku meringankan bebanmu,” perintahnya dan tanpa berpikir panjang lagi aku menumpahkan seluruh persediaan air mataku.

I'd go hungry; I'd go black and blue,
I'd go crawling down the avenue.
No, there's nothing that I wouldn't do
To make you feel my love.
(Adele – Make You Feel My Love)

~~o00o~~

Better?” tanya Mas Ega  sambil menghapus airmataku setelah aku melepaskan pelukannya.
Thanks, Mas,” jawabku sambil mengangguk, “Bagaimana bisa Mas…” belum selesai aku bicara, Mas Ega sudah memotongku.
“Aku mengikutimu,” jawabnya sambil tersenyum.

“Maaf, Baju Mas jadi basah,” ucapku sambil meraba bagian bajunya yang basah karena tangisanku.
“Tidak masalah,” sahutnya sambil memegang tanganku yang meraba bagian bajunya dan menangkupkan wajahku, “Kamu hebat, Val, kamu bisa bertahan di sana tadi. Tetapi sekarang sebaiknya kamu pulang, jangan memaksakan dirimu untuk melanjutkan ini semua,” lanjutnya.

“Tidak, Mas. Aku tidak mungkin pulang. Mas Arre pasti akan mencariku,” sergahku sambil menatap matanya.
“Cukup, Val. Jangan sakiti dirimu lebih dalam lagi, aku akan mengantarkanmu pulang, dan memberitahu Arre kalau kau tidak enak badan.”

Aku menggelengkan kepalaku.
“Aku harus melewati ini semua, Mas. Aku pasti sanggup melewati semuanya, lagipula mungkin ini terakhir kalinya aku bertemu mereka sebelum keberangkatanku.”
“Apa kau sudah memberitahukan semua ini kepada Arre?”
Aku menggeleng lagi

“Sudah kuduga,” sahutnya sambil menyedekapkan tangannya.
“Aku akan mengatakannya nanti, sekarang sebaiknya kita kembali.”
“Kau yakin masih sanggup bertahan?”
Aku menganggukkan kepalaku.
 “Baiklah, tetapi setidaknya kita ke toilet dulu, kau harus membetulkan make up-mu,” ujarnya menahan tawa.

“Apa aku seberantakan itu?” tanyaku tanpa menutupi keterkejutanku.
Dia hanya tersenyum sambil menggenggam tanganku, setengah menarikku menuju toilet dan aku  pasrah mengikutinya.
~~o00o~~

Total 15 mobil beriringan menuju gedung resepsi, walau sebenarnya mereka lebih memilih membuat pesta resepsi di halaman tempat pemberkatan, tetapi dengan cuaca yang sedang tak menentu di bulan-bulan ini, akhirnya mereka mengalah dan membuat resepsi di gedung dengan jarak 30 menit dari tempat pemberkatan.

Aku memandang mobil pengantin di depanku sepanjang perjalanan menuju gedung resepsi dengan tatapan kosong, Mas Ega menyetir dengan diam di sebelahku, begitu juga Bude dan Pakde di kursi belakang karena mobil pengantin hanya diisi pengantin baru.

Sesampainya di dalam gedung, Mas Ega tidak melepaskan genggamanya, dia baru melepaskan genggamannya saat dia diberitahu harus bersiap-siap untuk acara penyambutan kedua mempelai.
“Aku harus bersiap-siap, apa kau tidak apa-apa aku tinggal?” tanyanya terdengar cemas.
“Mas, aku tidak apa-apa,” jawabku meyakinkan dan tak lama dia meninggalkanku.

Tamu-tamu mulai berdatangan, sebagian dari mereka aku mengenalnya, terlepas kenyataan aku tinggal di rumah Bude semenjak Mamah meninggal 8 tahun lalu, aku dan Mas Arre tidak terpisahkan, membuat Mas Arre selalu memperkenalkan teman-temannya ketika mereka sedang main ke rumah ataupun ketika aku dibawanya di setiap acara-acara mereka.

Sedangkan Mas Ega, kami dekat karena dia merupakan teman Mas Arre sejak SMA, dimana ada Mas Arre pasti ada Mas Ega, membuatku juga ada di sekitar mereka, sehingga kami dijului ‘the triangle’ karena kami selalu bertiga di setiap kesempatan, tak peduli perbedaan umur yang membentang diantara kami bertiga.  

Ketika Mas Ega menyelesaikan sekolah spesialisnya di luar negeri, Mas Arre tetap di Jakarta, menemaniku, membuatku tegar, karena saat itu berdekatan dengan kepergian Mamah yang tiba-tiba, dan mengajakku di setiap acaranya dengan teman-teman barunya. Bahkan mereka sempat mengira aku pacar Mas Arre karena kebiasaannya membawaku dibanding pacar-pacarnya yang tentunya terjadi sebelum Mas Arre bertemu dengan Nika.

Ya, Nika, dari awal mereka bertemu aku sudah menduga Mas Arre sudah berubah, dari lelaki yang takut akan komitmen menjadi lelaki yang me-nomorsatu-kan komitmen. Dia yang tidak pernah menginginkan hubungan lebih dari ‘pacaran’ akhirnya terpikirkan untuk menikah, dengan Nika tentu saja. Hal itu mengagetkanku, mengingat kebiasaannya mencari wanita yang seumuran dengannya, siapa sangka justru hatinya jatuh ke wanita dengan perbedaan umur 10 tahun.

Hanya Nika yang sanggup mengimbangi perbedaan mereka, Nika membuat Mas Arre tampak jauh lebih muda dari usianya, siapa yang menyangka Mas Arre sudah berumur 32 tahun saat ini, karena mereka terlihat seumuran.

Nika-lah yang membuat Mas Arre semakin fokus terhadap hidupnya setelah sekian lama menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang, membuatnya berani untuk merencanakan masa depan, membuatnya menjadi manusia yang lebih terarah selama 3 bulan mereka bersama, mungkin itulah yang dinamakan-sebut aku konyol atau apapun terserah kalian karena menyebutkan dua kata ini-kekuatan cinta.

Hal yang tidak bisa aku dan keluarganya lakukan di 13 tahun terakhir ini, dan hal itu pulalah yang membuatku mencoba mengikhlaskan mereka untuk bersama.

Karena Nika pula-lah Mas Ega akhirnya menyadari perubahan sikapku dan mengetahui perasaanku yang sesungguhnya. Dia kaget bukan kepalang ketika mengetahui semua, karena dia tidak menyangka, aku berhasil mengelabui semua orang termasuk dia yang selama ini selalu berhasil mengetahui semua yang sedang aku rasakan dan fikirkan tanpa harus dikatakan secara gamblang.

Aku hanya bisa terdiam saat dia bertanya sejak kapan aku memendam perasaan ini, karena aku sendiri tidak yakin sejak kapan aku memendam perasaan ini. Mungkinkah sejak aku SD? Atau mungkin sejak Mas Arre menolongku dari cemoohan teman-teman waktu SMP karena aku tidak punya Ayah? Atau justru sejak Mas Arre selalu ada di sampingku semenjak kematian Mamah?

Entahlah, aku tidak tahu, aku bahkan pernah menganggap perasaan ini mungkin hanya perasaan seorang adik kepada kakak lelakinya yang terlalu berlebihan, pelampiasan dari kenyataan: aku yang seorang diri tanpa orangtua di masa remajaku.

Tetapi semua terbukti keliru, karena setiap Mas Arre memperkenalkan teman dekat wanitanya, ada perasaan tidak suka mengelilingi hatiku, tetapi aku sanggup menahan itu semua seorang diri tanpa ada 1 orang pun yang menyadarinya. Karena entah kenapa aku merasa yakin, Mas Arre tidak akan bisa bertahan lama dengan mereka, Mas Arre tidak pernah menomorsatukan mereka ketimbang aku, Mas Arre pasti akan memprioritaskan diriku dibanding mereka, dalam keadaan apapun.

Tetapi, dengan Nika, sejak awal aku bertemu aku sudah tahu, aku tidak akan bisa menang, inilah akhirnya aku harus mengakui bahwa hubungan antara Mas Arre dan aku hanyalah hubungan sepupu tidak lebih. Selama ini Mas Arre hanya menganggapku sebagai adiknya, dan bukan orang lain.

Yah, harus ku akui, kehadiran Nika menyadarkan akan  perasaanku yang sesungguhnya, bahwa aku mencintai Darrel Rafandra, kakak sepupuku sendiri, dan menginginkannya-teramat sangat-untuk menjadi suamiku, bukan hanya sebagai kakak.

Alunan musik romantis menyadarkanku dari lamunan, menandakan acara akan segera dimulai, didampingi beberapa teman kuliah Mas Arre dan pasangan mereka masing-masing, aku menanti di samping karpet merah yang terbentang menuju pelaminan.

Tak lama rombongan pengantin memasuki ballroom, Mas Ega berada di barisan depan berjalan beriringan dengan pendamping wanita pasangannya yang-jika aku tidak salah-masih saudara dengan Nika, sedangkan di barisan ketiga, Mas Arre nampak menggenggam tangan Nika dengan erat, tersenyum dengan bahagianya ke arah kami. Seketika itu juga aku merasakan nyeri di dadaku, Oh, Tuhan, apakah aku akan terbiasa dengan semua ini?

The storms are raging on the rolling sea
And on the highway of regret.
Though winds of change are blowing wild and free,
You ain't seen nothing like me yet.


I could make you happy, make your dreams come true.

Nothing that I wouldn't do.
Go to the ends of the Earth for you,
To make you feel my love
To make you feel my love
~~o00o~~ 

~bersambung~ 



25 comments:

  1. vie.............................selalu sad ending

    ReplyDelete
    Replies
    1. May...................... belum ending... hehehehe
      Makasih udah baca n komen May...
      :D

      Delete
  2. Yah..:'(
    Kpan klanjutnnya?:'(
    Si Val mau prgi kmna?:'(
    Ap ntar Ega n Van brsatu?:'(
    Please d lnjut..:'(:'(:'(:'(:'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. part 2 kalo ndak besok, ya lusa. ;)

      Delete
    2. Yah,, kenaapaa sedihh?? T.T
      dtggu part selanjutnya yaahh...
      Semoga sabar menantiii...
      Makasih udah baca n komen Mba Mendy...
      :D

      Makasih Mba Ciiinn....

      Delete
  3. Kok sad ending gini? Lanjutannya donk...hiks *nangis sore2

    ReplyDelete
    Replies
    1. sad ending memang selalu membekas di hati :muwahahhaha:

      Delete
    2. pukpuk Mba Astrid... belum ending koq... sabar menanti yaakkkkzz...
      Makasih udah baca n komen Mba Astrid....
      :D

      Setujaaaaahhh persis kayak VE... xixixxi

      Delete
    3. Ngintip endingnya donk *eh :p

      Keren mbak vie ceritanya...keep writing ya...

      Waduh keliatannya sad ending neh...siapin tissue...part 2 aja blom ending...hahahhaa keliatannya panjang neh ceritanya

      Delete
  4. Vie lagiiiiiiiiii...
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°ºea

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ditungguuuu yakz Mba NDoooonggg...
      hehehe
      Makasih udah baca n komen Mba Ndong...
      :D

      Delete
  5. vie bikin ceritanya udah pinter sekarang... ceritanya jg semakin menarik, konfliknya selalu ngena, cara nulisnya jg udah rapi banget. cuman 1-2 biji aja yg typo, itupun krn kurang huruf aja (yg udah aku edit), tp overall sudah bagus banget. :D ditunggu lagi karya2 vie yang lain. dan tentunya masih menuggu lanjutannya yg ini ehhehe...

    semangat selalu ya vie :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasiihhh Mba Ciiinnnn... Semua berkat Mba Cin yang sabar ngajarin Vie.. hehehe
      masih ada typo yah? padahal udah berkali2 dibca.. wakakakakak...
      Siaappp Mba Ciinn.. sabar menanti yakkz...
      *peluk2*
      :D

      Delete
    2. kurang huruf aja vie, di paragraph2 awal, aku lupa yg mana udah aku ganti soalnya :D

      sip.. besok ya. wkwkkwkw

      Delete
  6. bingung mau komen apa.
    mb viee hiks
    :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ekaaa *peluk2*
      pegangan kalo bingung yakz..
      Makasih udah baca n komen Eka...
      :D

      Delete
  7. Makasih Mba Ciiinn, akhirnyaaaa Vie berhasil juga nyelesein cerita ini walaupun baru part1 ...
    xixixixi

    Semoga berkenan bagi teman2 semua...
    selamaaatt Membacaaaa....
    :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. yah. kirain udah selesai part 2nya jg wkwkkwkwkw ;Peace vie:

      Delete
  8. Cma bs bilang...
    "Kenapa nanggung mba vie?????" >-<

    Mau kmn c Val itu?
    Trs kynya Ega kece jga ni....xixixii

    Semangat ya mba vie buat bkn karya2 lainnya.. :D

    Thanks mba shin.. :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. karenaaa yang nanggung ituuuhh enaakkk.... hahahaha....
      *gagal fokus*
      Makasiihhhh udah baca n komen Mba Donaaaa
      :D
      makasih semangatnyaa... xixixi

      Delete
  9. Vieeee....always using Good Names...

    Cakeeeeeep!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbaaa Riiisss... Makasiiihhh....
      Mkasih udh bc n komeenn Mba Riisss....
      :D

      Delete
  10. Sist Vie dirimu emng berbakat Oey soal coret-mencoret ... Semangat ya ... Tuh udah di komporin ama sist Shin hehe ;)

    Btw thanks sist Vie & sist Shin ^^ muach !!

    ReplyDelete
  11. Sist Vie dirimu emng berbakat Oey soal coret-mencoret ... Semangat ya ... Tuh udah di komporin ama sist Shin hehe ;)

    Btw thanks sist Vie & sist Shin ^^ muach !!

    ReplyDelete
  12. Saya memang brbakat soal coret mencoret,,dr umur 4th udh coret2 dnding (baca: ngrusuh)... Xixixixi
    Haduuhhh,,snengny dblg brbkt..
    Mksh Mba Shila udh bc n komen..
    :D

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.