"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Sunday, September 29, 2013

If Tomorrow Never Comes - Short Story




Awalnya cerita ini rencananya akan saya ikutkan pada CERMIN tema "If Tomorrow Never Comes". Namun karena rasanya terlalu lama hingga tema itu mendapat kesempatan untuk dipilih dan saya telah menyelesaikan tulisan ini saat itu juga, maka saya memutuskan untuk menayangkannya hari ini. Semoga tulisan ini dapat menghibur pembaca myowndramastory sekalian. Terima kasih dan salam. 


If tomorrow never comes
Will she know how much I loved her
Did I try in every way to show her every day
That she's my only one



Seorang wanita muda dengan gaun yang menjuntai tertiup angin tengah berlari menyambut kedatanganku. Wajahnya tersenyum penuh kelegaan karena akhirnya menemukan sosokku di antara ratusan orang-orang yang baru saja turun dari kereta api dan berdesak-desakan untuk menemui keluarga mereka.


Dia tetap secantik terakhir kali aku melihatnya, wajahnya bersinar seperti mentari pagi, sejuk dan menyilaukan. Membuai embun menitik pada dedaunan dan rerumputan pagi, menyibakkan keindahannya pada setiap mata yang memandang dan menghirup kesegarannya. Bau rumput tertiup angin hingga melayang menyentuh pucuk-pucuk daun pohon cemara di perbukitan, udara dingin yang mulai menghangat oleh sinarnya, memberi kesan penuh pengharapan akan hadirnya sinar mentari pagi yang menyilaukan.

Hatiku yang merindu akan dirinya menjadi hangat hanya dengan melihat senyuman yang disunggingkannya, hanya untukku. Kubalas senyum itu dan membuka pelukanku lebar-lebar. Seragam kebesaran yang kukenakan menutupi ringkihnya tubuhku setelah empat tahun lamanya berpisah dari belahan jiwa, yang kini masih setia menunggu demi janji yang telah kami ucapkan sebelum kepergianku untuk membela bangsa.

Kudengar dia memanggil namaku, suaranya bergetar di antara isakan tangis kebahagiaan yang samar menyertai pelukannya padaku. Kuhambur tubuhnya ke udara, masih dalam pelukanku yang erat, tak akan kulepas lagi walau untuk sekejap.

Wangi tubuhnya kuhirup seolah itu adalah nafas kehidupanku, seperti bagaimana surat-surat yang dikirimkannya untukku selalu kusimpan di saku kanan seragam dan kubaca lagi dan lagi ketika hanya Sang Hening Malam menjadi peneman kesendirianku di medan tempur.

“Aku merindukanmu, Isabella. Aku selalu memimpikan saat ini, dimana kau menghambur ke dalam pelukanku dan meneriakkan namaku, persis seperti ini.” Kukecup kening kekasihku, tunanganku, calon istriku, yang masih menatapku penuh cinta. Air telah mengalir dengan deras dari matanya yang lentik, iris warna kelabunya menatapku nanar dan bibirnya bergetar hendak mengucapkan sesuatu.

“Aku juga, Sayang... Empat tahun menunggu kepulanganmu serasa ribuan tahun. Kini kau telah kembali, aku lega, aku bahagia.” Isakannya menambah haru dalam dadaku, aku beruntung masih bisa kembali dengan utuh ke Tanah Air, dimana beberapa kawan seperjuangan tak seberuntung diriku.

Tak sedikit yang gugur di medan perang atau kembali dengan kondisi mengenaskan. Perang yang melanda negeri kami telah menggerogoti setiap pemuda bangsa untuk bertempur dan mematahkan daun-daun muda penerus bangsa atas nama kemerdekaan. Kemerdekaan yang akhirnya bisa kami pertahankan dari tangan-tangan musuh yang mencoba menguasai negeri kami ini.

“Ya... Aku telah kembali, aku tak akan pergi lagi. Akan kutepati janjiku padamu.”

Kutekuk lutut di depannya, tanganku menghilang di balik saku celana, meraih kotak kecil yang telah kusembunyikan sejak kereta api berlokomotif ini menepi di stasiun.

“Miss Isabella Dorothy Mc.Allister, maukah kau menikahi laki-laki yang baru saja kembali dari medan perang ini dengan segala kekurangan dan keburukannya, ataupun kelebihan dan kesetiaannya sebagai pendamping hidupmu dan peneman setiap detak jantungmu hingga maut memisahkan kita?”

Kata-kata yang telah kucoba untuk diulang berkali-kali dalam kepala akhirnya terucap lewat bibirku, berharap dengan kenekatanku melamarnya di tengah kerumunan para tentara yang berlalu-lalang dengan keluarga mereka akan menggugah setiap sisi romantis dalam diri Isabella, sehingga dia tak akan tega menolak lamaran yang telah empat tahun tertunda karena perang ini.

Isabella tak mampu berucap, tangannya yang tak kugenggam sibuk menutupi bibirnya yang bergetar semakin hebat dengan tangisan yang kini semakin keras. Suara yang berhasil keluar dari mulutnya berupa rengekan kecil yang tak dapat kudengar jelas. Akhirnya anggukan berulang-ulang darinya mengukuhkan jawaban Isabella atas lamaranku.

Tentara dan orang-orang yang berkerumun di sekitar kami bertepuk tangan riuh saling melemparkan topi mereka ke udara, semua bersukacita dengan kebahagiaan kami. Beberapa tentara dan perwira menepuk pundakku dan mengucapkan selamat.

“Congratulation, Sir. All the best for you!!”

“Thank you, thank you...” ucapku tulus. Isabella dan aku berpelukan hingga stasiun itu mulai sepi, berdua kami meniti koridor menuju mobil yang telah menjemput untuk membawa kami kembali ke rumah kediaman keluarga besarku.

~*~*~*~*~

Lonceng gereja telah berdentang, pertanda pernikahan sakral kami telah selesai dan kini saatnya menggandeng mempelaiku keluar menuju rumah yang telah lama kubangun namun tak pernah sempat kami tinggali karena perang terlalu cepat datang. Rumah itu akhirnya bisa kami tempati, dimana kami berdua berjanji untuk menghabiskan suka dan duka bersama, merajut jalinan rumah tangga kami hingga ajal menjemput.

Rumah ini bukan sekedar tempat tinggal bagiku, pernah di suatu masa tempat ini juga menjadi saksi betapa aku menyesal telah tumbuh menjadi diriku saat itu. Pemuda dengan segala keacuhannya pada lingkungan hingga akhirnya suatu kejadian hebat menimpa dan berhasil membuka mataku.

Aku beruntung kesempatan kedua masih menghampiri hidupku, setelah kehancuran yang kukira akan menenggelamkan hidupku dalam sesal tak berkesudahan, aku bertemu dengan Isabella, wanita yang membuatku sanggup untuk bangkit lagi dan memandang masa depan dengan lebih kuat.

Dia tak pernah bosan mendukungku, menerima segala kekeras-kepalaanku dan selalu di sana saat setiap orang telah angkat tangan terhadapku. Cintanya yang tulus mengalahkan kearogansianku dan menampar sifat angkuh yang dulu biasa kulontarkan pada setiap orang.

Keinginan untuk ikut andil mengangkat senjata bagi negeri pun tak pernah ditentangnya, Isabella mengerti dan mendukung betapa inginnya aku membela negeri ini agar tidak tertindas oleh rezim militer negara tetangga yang mencoba menakhlukan negeri di bawah jajahannya. Empat tahun yang cukup lama bagi kami menunda segala rencana yang telah matang dipersiapkan, dan dia tetap menunggu di sana untukku.

Rumah itu telah dihias dengan segala ornamen pernikahan di setiap sudutnya, hiasan pita dan vas bunga semarak berdiri di setiap meja, koridor, hingga pada lukisan di dinding juga tak luput ikut memeriahkan pernikahan yang paling meriah setelah kemenangan peperangan kami. Para Bangsawan ikut memberi selamat, para Jenderal besar berderet menyalami pernikahan kami dan kerabat kerajaan berdiri bangga memeluk pundak memberi restunya atas pernikahan ini. Tiada hadiah yang lebih baik dari sebuah senyuman kebahagiaan di bibir istriku, Isabella.

Kuhela tubuh rampingnya ke dalam pelukanku. Di kamar kami yang baru, dengan hiasan berwarna merah dengan kelopak bunga mawar di atas permukaan karpet, ranjang, meja, bahkan kamar mandi, kami menikmati kedamaian dalam hening, mensyukuri semua kesempatan yang kami raih yang tak semua orang bisa merasakannya.

“Kau bahagia, Isabella?” tanyaku padanya. Kupeluk erat pinggangnya dari belakang, berdua kami menatap keluar jendela, pada hamparan padang rumput di kejauhan, dengan pohon apel yang dulu kami tanam sewaktu kanak-kanak. Pohon itu telah berbuah setiap musim gugur, warna merah kekuningannya yang lezat menggugah selera, namun sayang untuk kupetik, karena di sana, terbaring damai seseorang lain yang pernah begitu berharga untuk kami.

Digenggamnya telapak tanganku erat, nafasnya panjang, mencoba meraih sebanyak-banyaknya udara untuk mengisi paru-parunya. Dia mengangguk, tubuhnya bersandar padaku, mempercayaiku bahwa aku akan melindunginya dan membahagiakannya setiap harinya. Dia percaya padaku, seperti aku percaya bahwa matahari ‘kan selalu bersinar setiap pagi.

“Apakah kau mengingat Anabella?” tanyanya tiba-tiba padaku. Sebuah nama yang membuat mataku menutup, berusaha mengingat mengapa nama itu pernah begitu berarti untukku, untuk kami.

“Ya. Dia... apakah dia bahagia?”

Bisa kurasakan bibirnya tersenyum, mengingat Anabella adalah suatu kesedihan dan kerinduan yang berkumpul menjadi satu. Membuka kembali kenangan lama yang akhirnya bisa kurelakan, kenangan yang kini telah tergantikan dengan yang baru.

“Dia pasti bahagia, karena aku bahagia. Aku tahu, karena aku dan dia adalah satu...”

Kukecup puncak kepala istriku, mengenang kembali awal pertemuan kami dua puluh tahun yang lalu, saat usia kanak-kanak, saat orang tua kami masih sering berkunjung satu sama lain dan saling menjodohkan anak-anak mereka sebagai sebuah guyonan. Tanpa mereka sadari, Anabella, Isabella dan aku... memiliki hubungan yang begitu erat, meski tak pernah kuakui, hingga Anabella meninggalkan kami untuk selama-lamanya.

Aku tak pernah memberitahunya betapa aku menyayanginya, dia tidak pernah tahu mengapa selama dia hidup aku bersikap dingin padanya, mengapa aku pura-pura tak perduli kepadanya...

Dia hanya tahu betapa aku membencinya karena perjodohan itu. Itu hanyalah caraku agar dia memberikan perhatiannya padaku.

Kami memang tak pernah mengungkapkan perasaan masing-masing. Saat kanak-kanak, bersama terasa menyenangkan, namun setelah kami tahu cinta telah tumbuh di dalam diri kami masing-masing, keinginan untuk tampil baik dan mendapatkan perhatian orang lain sanggup membuatmu melupakan apa sebenarnya yang dibutuhkan oleh cinta.

Bukan kepura-puraan, bukan pula tipu muslihat. Hanya perhatian tulus dan tanpa pamrih.

Aku terlalu buta untuk menyadari perasaan Anabella, aku terlalu egois untuk mengungkapkan padanya perasaanku. Dan saat semua telah terlambat, hidupku tak akan pernah sama lagi. Ketakutan untuk kehilangan lagi membuatku apatis pada orang lain dan menolak untuk jatuh cinta lagi, hingga Isabella berhasil membuka pintu hatiku lagi. Ironisnya, Isabella adalah kembaran Anabella yang memiliki rupa hampir sama dengannya.

Awalnya aku selalu menampik kebaikan yang dia tunjukkan padaku, memperlakukannya sama kasarnya seperti kakaknya. Aku menolak setiap perlakuan ramahnya untukku, tapi Isabella bukanlah Anabella. Isabella tidak serapuh Anabella, dia adalah wanita kuat, wanita tangguh dengan sifat keras kepala yang ternyata dimilikinya.

Dia berhasil merubahku dengan sifat keras kepalanya itu, menamparku dengan kenyataan yang coba aku hindari sejak dulu. Bahwa aku adalah seorang pengecut, yang bersembunyi dari dunia dengan pembenaran bahwa aku tak pantas lagi untuk mencinta. Isabella membuatku membuka mataku untuk melihat dunia dengan perspektif baru, bahwa cinta tak datang hanya sekali saja dalam hidup. Dia datang bila hatimu sanggup untuk merelakan yang telah pergi.

Namun, akankah dia tahu bila aku tak pernah menganggapnya sebagai pengganti Anabella? Karena tak sekalipun dia kuanggap demikian. Isabella adalah cintaku saat ini, dan Anabella adalah kenangan masa laluku.

~*~*~*~

Sometimes late at night
I lie awake and watch her sleeping
She's lost in peaceful dreams
So I turn out the lights and lay there in the dark
And the thought crosses my mind
If I never wake up in the morning
Would she ever doubt the way I feel
About her in my heart

Malam telah larut saat mataku terbuka, kulirik tubuh wanita di sampingku yang masih tertidur pulas dengan senyum damainya. Berucap syukur bahwa ini bukanlah mimpi, dan aku tidak berada di medan tempur lagi.

Telah setengah tahun lamanya pernikahan ini kujalani bersama Isabella, peperangan yang dulu telah kami menangi kini tersulut kembali. Memang aku tak perlu bertempur lagi di medan perang, tapi panggilan prajurit dalam jiwaku memanggil. Demi Isabella, haruskah aku mengangkat senjata lagi dan pergi ke garis terdepan?

Kupandangi sekali lagi wajah istriku, senyum yang telah tercipta di wajahnya selama ini tegakah kuhapus dan terganti dengan gurat kekhawatiran dan tangis putus asa? Tak sanggup kubayangkan bagaimana bila esok hari, atau lusa, aku tak berada di sampingnya lagi, memeluknya seperti ini di atas ranjang kami. Akankah dia meragu betapa besar cintaku padanya, bukan sekedar kata-kata manis yang terucap melalui bibir, atau sentuhan-sentuhan cinta saat kami bercumbu.

Bagaimana bila pemerintah memanggilku lagi, memintaku bertempur untuk negeri dan meninggalkan keluargaku di sini, tanpa diriku, tanpa perlindunganku. Akankah dia mengerti bahwa aku melakukannya karena aku mencintainya, karena aku ingin memberikan kemerdekaan yang abadi untuk keluargaku? Untuk rakyatku?

Bila esok hanya ragaku yang kembali di dalam peti mati untuknya, bisakah dia melanjutkan hidup tanpaku. Apakah cinta yang dimilikinya masih cukup untuk membuatnya bertahan hidup dan bersyukur bahwa cinta itu pernah ada? Bahwa cintaku hanya untuknya.

Kusentuh wajah lembut Isabella, mengusap pipinya mesra, memperbaiki helai rambut yang jatuh dan berbisik pelan di dekat telinganya, “Sayangku, apakah aku cukup menunjukkan cintaku padamu? Apakah kau bisa merasakan betapa aku mencintaimu setiap hari?”

“Aku tak ingin mengulangi kesalahan yang sama, kesalahan yang kulakukan pada Anabella meski hal itu juga yang membuatku akhirnya menemukan cintamu. Tapi aku tak ingin hal itu terjadi padamu, aku ingin kau tahu, bahwa aku mencintaimu karena kau adalah Isabella, wanita yang kucintai kini, yang akan kucintai selalu hingga aku mati. Aku mencintaimu, seperti apapun dunia ini nanti, hidup matiku, akan kuserahkan untukmu, demi kebahagiaanmu, demi kedamaianmu.”

Kucium mesra bibirnya yang terbuka, kekasihku masih terlelap dalam tidur yang dalam. Seandainya esok mataku tak bisa terbuka lagi, aku ingin dia tahu bahwa setiap tarikan nafasku kuberikan untuknya, setiap helaan nafasku adalah untuknya. Hidupku berarti karena itu dia, dan bila dia tidak mengetahuinya, akan kubuat dia tahu, bahwa cinta ini bukan hanya sekedar di bibir. Aku mencintainya dari hatiku terdalam.

~*~*~*~

For My Beloved Wife, Isabella Dorothy.

Bila memoir ini sampai di tanganmu, itu berarti aku telah pergi untuk selama-lamanya. Hanya doaku yang bisa kutitipkan untukmu dan anak kita. Aku mencintaimu dan Junior, jangan pernah ragu akan hal itu. Dimanapun aku berada nanti, aku akan selalu melindungi kalian, dan maafkan aku karena pergi dengan cara seperti ini.
Andai bisa kuhabiskan waktu lebih lama lagi bersama kalian, menggenggam tangan Junior untuk pertama kalinya, mengandaikan seandainya aku ada di sana saat dia lahir, tertawa, merangkak, ataupun memanggil Papa padaku. Aku akan sangat bahagia.

Tapi rupanya Tuhan telah menakdirkan lain untukku, hanya foto-foto hitam putihnya yang selalu menemaniku, semakin menambah kerinduanku untuk segera pulang. Jenderal Besar berjanji bila kami memenangkan pertempuran di First Forest, seluruh skuadron pertama akan dipulangkan dan digantikan oleh skuadron yang baru. Itu berarti ini adalah pertempuran terakhirku sebelum bisa berkumpul dengan kalian lagi.

Telah dua kali Natal kulewatkan tanpa kalian, hanya lagu-lagu Christmas lawas yang kudengar dari radio butut yang kuperbaiki setelah terinjak-injak saat pertempuran sebelumnya. Tapi itu cukup mengingatkanku akan rumah, akan hangatnya keluarga saat salju musim dingin berjatuhan pada Christmas Eve.

Masih kuingat dulu, kita berdua di depan perapian dengan secangkir coklat panas di tangan, berusaha menghangatkan badan dan suasana dengan para sahabat dan keluarga lain. Tapi dengan peperangan ini, bahkan teman yang kau temukan di medan perang bisa menjadi keluarga.

Cintaku, aku menyayangi kalian, keputusan untuk membela negeri tak akan pernah kusesali, hanya saja bila diberikan pilihan lagi, ingin kuberdiam diri dan melewatkan hari bersama kalian, melihat Junior tumbuh dan mengenalku.

Ah... Semua telah terjadi, tapi aku tak akan menyesali semua ini. Kalian adalah anugerah terindah yang pernah bisa kumiliki. Mengetahui kalian bisa hidup dan aman adalah cita-citaku. Sampaikan pada Junior bila nanti dia telah dewasa, bahwa ayahnya mencintainya, bahwa ayahnya meminta maaf atas keegoisannya dan tak pernah ada saat dia lahir dan tumbuh.

Isabella, I love you everyday, although tomorrow would never come for me, but still, my love will always there for you. My love, my everything. I love you, please forgive me for all my bad and wrong.

October 25th, 1941
Yours Sincerely

Brian W. Addison III





21 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Jadi si om mati G̲̮̲̅͡åк̲̮̲̅͡ ni??hiks3 knp pada galau2 nih crita...
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°ºea mba cin

    ReplyDelete
  3. baru sempet koment di mari nih kenapa sih sedih mulu, mbak shin cerita di sini aku jd mewek, trs agak parno gitu kl ada cerita baru pasti sedih nih ujungnya, ternyata benarrrrrr kontroversi hati nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahaa...... gitu ya?? ckkckc... marahin aja si Shin :p

      Delete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. Jadi brianny meninggal ini mba??ngga kan mba??hikshiks....
    Btw makasiy mba shin

    ReplyDelete
  6. ???
    ini apa??
    huaa mb shin bikin galau melanda

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini cerita ka, bukan kacang goreng :heeee: -________-

      Delete
  7. Huaaaaaaa,,,Mba Ciiiiiiiiiiinnnnnn....
    Jadiiii,,jadiiiiii Briannya meninggal??
    Jadiiii Isabella sndrian?? Huaaaaaaaaaaa... Hukz,,hukz
    Mksh Mba Ciiiiinnnnnnnnn.....

    ReplyDelete
  8. Huwaaaaaa :'(:'(:'(
    Sdih bgt mbak..:'(:'(:'(
    *mewek*
    Jdi, ni critany mati ap ga?:'(:'(:'(

    ReplyDelete
  9. Mba sssshhhiiiinnnn jgn blg cerita ini udah selesai sampai disini aja...
    ƍĪ rela om siapa tadi ya namanya?? Oh ya, om brian... Kasihan kan isabellanya :'(нΰά˚°º:'(нΰά˚°º:'(нΰά˚°º :'(нΰά˚°º:'(нΰά˚°º:'(нΰά˚°º ƍäª rela bin ƍäª ikhlas « orasi depan rumahnya mba shin :P

    Pokoknya harus lanjut :'(нΰά˚°º:'(нΰά˚°º:'(нΰά˚°º
    Udah ah komennya mau lanjut nangis dulu :'(нΰά˚°º:'(нΰά˚°º:'(нΰά˚°º

    ReplyDelete
  10. Hik, my eyes wet...

    Feel so sad reading this....

    From the title aja uda tau bklan banjir air mata tp tetap nekad baca...

    *lanjut nangis*

    ReplyDelete
  11. wawawawaw......so, this from true events? right???
    sing a song...
    ISABELA ADALAH WANITA YANG PALING....LALALALALALALALA ( ES TEH 12 ) >,<
    Good story mami....hehehehehehe, telat deh komennya, efek ketergantungan pada sinyal lemot ( gak pake isasi )

    ReplyDelete
  12. kyaaa baru baca komennya di f.b ea deh kuwpanggil mbakyu ayu hehehehehehehe....>,<

    ReplyDelete
  13. memang perang itu ga ada manfaatnya. hanya menghilangkan nyawa2 manusia.

    ReplyDelete
  14. Mba Shiiin nie sedih pake bangetz, hiks..hiks..hiks..

    ReplyDelete
  15. Baca sambil menahan isakan tangiss *lebaay

    Jd galaaaauu niihh,, tapi kereeeenn

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.