"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, October 17, 2013

CERMIN 32 - MAKE YOU FEEL MY LOVE - FINAL - OLEH HEVI PUSPITASARI


Make You Feel My Love - Tamat


“Selamat,” ucap Nika dan aku melihat setitik airmata masih berbekas di ujung matanya ketika kami sudah berada di dekatnya.
Mas Arre langsung memeluk Nika, “Maaf,” bisiknya sambil menutup mata.
Maaf? Kenapa Mas Arre harus meminta maaf?
“Kau berhak bahagia, Kak. Kau harus bahagia setelah aku pergi nanti, karena aku bahagia melihatmu bahagia,” Nika terisak mengatakan itu semua sambil menutup matanya.


Untuk beberapa saat mereka seperti itu dan aku membiarkannya, aku tidak berhak menginterupsi hal itu.
“Val, selamat,” ucapnya setelah mereka melepaskan pelukan mereka.
Aku tersenyum dan mendekatinya, “Terimakasih, Mba.”
Dia memelukku dan berkata sambil terisak, “Justru aku yang seharusnya berterimakasih, terimakasih banyak, Val.”
“Ssshh, Mba, sudahlah,” hiburku sambil menghapus airmatanya.

“Pulanglah, ini malam pengantin kalian,” pinta Nika sambil tersenyum lemah.
“Lalu bagaimana dengan kamu?” tanya Mas Arre sambil menggenggam tangan Nika.
“Jangan khawatir, malam ini Mamah yang akan menjaga Nika,” jawaban Tante Aya mengagetkan kami semua, karena tidak ada yang menyadari kapan dia masuk.
“Baiklah, kalau begitu, aku pulang dulu, sayang,” pamit Mas Arre sambil mencium kening Nika.
“Aku pulang dulu, Mba,” pamitku sambil mencium pipinya, “Kami pulang dulu, Tante,” lanjutku sambil berpamitan dengan Tante Aya.
Tak lama kami berjalan beriringan menuju pintu dengan Mas Arre menggenggam tanganku. Kenapa aku merasa seperti sedang mencuri sesuatu yang bukan milikku?

When the rain is blowing in your face,
And the whole world is on your case,
I could offer you a warm embrace
To make you feel my love.

When the evening shadows and the stars appear,

And there is no one there to dry your tears,
I could hold you for a million years
To make you feel my love.
(Adele – Make You Feel My Love)
~~o00o~~

Tak seperti dugaanku-yang sempat mengira kami akan menginap di hotel sekitar rumah sakit Nika-ternyata kami berhenti di kawasan apartemen dekat dengan rumah sakit Nika dirawat. Setidaknya, dugaanku tentang tempat yang tidak jauh dari rumah sakit Nika itu benar. Tetapi, tunggu sebentar, apartemen ini?
“Ya, ini apartemen lamaku yang sempat ingin kau beli karena kau sangat menyukai view nya. Siapa sangka apartemen ini berguna di saat seperti ini,” sesalnya dan dengan pasti dia menggenggam tanganku memasuki lobby.

“Aku seharusnya menggendongmu, Val, tetapi akan terasa aneh dilihat banyak orang sementara mereka belum mengetahui pernikahan kita,” jelas Mas Arre ketika kami berada di lift.
“Aku mengerti, Mas,” aku paham posisiku, lanjutku dalam hati.

Aku terkesima begitu memasuki apartemen, memang ada perubahan di sana-sini-terutama dengan taburan mawar putih dimana-mana yang sudah pasti sengaja disiapkan khusus untuk malam ini-tetapi aku masih mengenali apartemen ini, dan reflek aku langsung menuju jendela besar yang mengarah langsung ke langit Jakarta, tempat favoritku. Dengan keadaan di malam hari seperti ini, aku bisa melihat bintang bertebaran, beberapa gedung pencakar langit yang dulunya belum ada dan tentu saja rumah sakit Nika di rawat yang dulunya belum selebar itu terlihat juga.

“Maaf, aku tidak membawamu langsung ke rumah, Val. Aku tidak bisa berada jauh dari Nika dengan keadaannya yang seperti ini, untuk sementara kita akan tinggal di sini,” jelas Mas Arre sambil menyerahkan segelas air dingin kepadaku.
“Aku sudah menduga Mas tidak akan membawaku ke rumah karena jaraknya yang lumayan jauh dari rumah sakit, aku sempat mengira kita akan menginap di hotel sekitar rumah sakit tadi, tetapi aku tidak menduga Mas membawaku ke sini,” jawabku sambil menerima gelas yang diserahkan Mas Arre.

“Ya, pada awalnya aku memang ingin membawamu ke sana, tetapi kemudian aku teringat apartemen ini, dan beruntungnya aku sempat menyuruh seseorang untuk membersihkan apartemen ini beberapa hari lalu. Siapa yang menyangka kalau ternyata itu semua semacam firasat.”
“Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi pada kita nantinya, Mas.”

“Maafkan aku, Val.”
“Mas, hentikan bicara tentang permohonan maaf, sudah beberapa kali aku mendengar permohonan maaf seharian ini, dan aku mulai bosan! Tak bisakah kita menjalani apa yang ada dulu sekarang dan membicarakan langkah selanjutnya nanti? Kau butuh fokus pada Nika untuk saat ini bukan?” gerutuku tanpa mengalihkan pandangan dari jendela besar di hadapanku.
“Tetapi aku tetap harus mengatakan itu. Val, aku tahu pasti kau marah besar terhadapku, dan kau memang berhak merasakan itu. Siapalah aku ini sampai mengatur hidupmu menjadi seperti ini, tetapi aku tidak punya pilihan lain, Nika sekarat, yang ingin aku lakukan sekarang adalah membuatnya bahagia. Tidak pernah sekalipun aku berniat membuatmu susah seperti ini, aku benar-benar minta maaf.”

Betapa mudahnya seseorang meminta maaf tanpa menyadari akibat dari perbuatan yang sudah dilakukannya. Apa kau sadar Mas akibat dari perbuatanmu ini? Bagaimana jika nantinya aku semakin mencintaimu dan tidak mau melepasmu? Bagaimana kalau akhirnya nanti aku menuntut cintamu dan memintamu mengabaikan Nika? Apa yang akan kau lakukan ketika aku meminta menjadikan pernikahan ini permanen dan bukan hanya sesaat, Mas?

I know you haven't made your mind up yet,
But I would never do you wrong.
I've known it from the moment that we met,
No doubt in my mind where you belong.

I'd go hungry; I'd go black and blue,

I'd go crawling down the avenue.
No, there's nothing that I wouldn't do
To make you feel my love.
(Adele – Make You Feel My Love)
~~o00o~~

Aku menghela nafas frustasi ketika melihat Mas Arre masih memandang ke luar jendela, ketika aku selesai mandi. Sepertinya dia mandi di kamar mandi tamu melihat rambutnya yang masih setengah basah, dan aku tahu, yang dia lihat bukanlah pemandangan malam Jakarta, tetapi dia melihat rumah sakit tempat Nika dirawat. Dia memang ada di sini, tetapi pikiran serta hatinya tidak ada di sini. Dia di sini lebih karena dia memang harus ada di sini, dan bukan keinginannya ada di sini. Oh, Tuhan…

“Pergilah, Mas.”
Mas Arre membalikkan badannya sebagai reaksi keterkejutannya, melihatku dengan tatapan tak mengerti.
“Pergilah, Mas, temani Nika, aku tidak ada masalah sendirian di sini,” jelasku tanpa bergerak dari tempatku berdiri.
“Tapi, Val,” bantah Mas Arre.
“Tidak ada yang memaksamu berada di sini, Mas. Pernikahan kita hanya sesaat, aku bukanlah istrimu yang sesungguhnya, pergilah dan temani Nika, dia lebih membutuhkanmu, aku akan baik-baik saja di sini tanpamu,” aku menjaga nada suaraku setenang mungkin walau kenyataannya hatiku bergemuruh. Sakit, dadaku terasa sakit.

“Aku tidak mungkin melakukan itu.”
“Kenapa tidak mungkin? Kau sendiri yang mengatakan pernikahan ini sesaat bukan? Pergilah!” pintaku sambil membalikkan badan, berniat menuju kamar tidur, tetapi tiba-tiba aku merasa ada yang menahan tanganku, dan begitu aku menoleh, Mas Arre sudah berada di belakangku dan menahan tanganku.

“Valerie! Aku mengatakan itu karena melihat keenggenanmu menuruti permintaan Nika, apa kau pikir aku orang yang dengan mudahnya mempermainkan kata ‘pernikahan’??!!” rahangnya mengeras ketika mengatakan itu semua, “Tidak 1 patah katapun yang keluar dari mulutku ketika mengucapkan janji pernikahan tadi adalah bohong. Aku bersungguh-sungguh mengatakan itu semua, aku mengucapkannya dengan kesungguhan hatiku.”

Aku hanya bisa terdiam mendengar itu semua, jadi, semua itu bukan kebohongan? Dia benar-benar menikahiku? Ini semua bukan pernikahan sesaat? Melihat tidak adanya reaksiku, dia memelukku.
“Aku tidak bermain-main dengan janji pernikahan tadi, Val. Aku akan membahagiakanmu, aku akan menjagamu hingga akhir hidupku, semua akan aku lakukan untukmu, tetapi aku mohon, berikan aku waktu, aku butuh pengertianmu. Aku tidak bisa menduakan Nika, tetapi bukan berarti aku tidak mementingkanmu. Seperti katamu tadi, aku butuh fokus dengan Nika untuk saat ini, aku mohon jangan perlakukan aku seperti ini, aku juga tidak menginginkan semua ini terjadi.”

Oh, Mas Arre, maafkan aku. Aku memejamkan mata, air mata mulai mengalir di pipiku, dan aku mengeratkan pelukannya.
“Aku mengerti, aku minta maaf, Mas. Tetapi aku bersungguh-sungguh, pergilah, aku tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja di sini, Nika lebih membutuhkanmu.”
“Apa kau yakin?” tanya Mas Arre sambil melepaskan pelukannya dan menatap mataku, terlihat sedang mencoba mencari keraguanku, tidak, kau tidak akan melihatnya, Mas.

Aku mengangguk, dia mencium kening, pipi, dan ragu-ragu mendekati bibirku. Ketika aku bersiap menerima bibirnya, ternyata dia menjauh, dan aku membiarkannya, tidak ingin memaksanya, walau hatiku pedih.
“Aku pergi dulu,” pamitnya dan langsung meninggalkanku setelah mencium keningku lagi, sementara aku tidak berani menoleh.
Tepat ketika aku mendengar pintu apartemen menutup, aku merosot, terduduk di karpet, memeluk diriku sendiri. Airmata mengalir dengan derasnya, dan aku tidak berniat untuk menghapusnya, berharap airmata ini bisa melarutkan kegundahan hatiku, sampai kapanpun aku tidak akan bisa mengalahkan Nika di hatinya, tidak akan bisa.

The storms are raging on the rolling sea
And on the highway of regret.
Though winds of change are blowing wild and free,
You ain't seen nothing like me yet.

I could make you happy, make your dreams come true.

Nothing that I wouldn't do.
Go to the ends of the Earth for you,
To make you feel my love
To make you feel my love
(Adele – Make You Feel My Love)
~~o00o~~

Aku terbangun dengan perasaan aneh, mencoba mengenali sekeliling, ternyata aku ada di tempat tidur. Aku menggeliat dan terkejut begitu membalik badan, ada Mas Arre di sebelahku. Mas Arre? Kapan dia pulang? Dia masih memakai baju yang semalam, belum ada lecekan berarti di bajunya, itu berarti dia belum lama pulang. Betapa aku menginginkan saat-saat seperti ini, terbangun dengan dia di sebelahku, melihat wajah polosnya ketika tertidur, mendengar suara seraknya ketika terbangun nanti, dan tentu saja menjalankan tanganku di dada bidangnya ketika dia terbangun.

Tetapi aku tidak bisa melakukan itu semua, aku hanya bisa memandang wajahnya, sabar, Val. Ya, bersabar, kau hanya bisa bersabar dan membuatnya merasakan cintamu, membuatnya mau mengakui cintanya kepadamu. Aku menghela nafas perlahan sebelum akhirnya memutuskan untuk bangun dan meninggalkan Mas Arre yang masih terlelap.
~~o00o~~

“Kenapa kalian ke sini?” tanya Mom heran ketika melihat aku dan Mas Arre berada di rumah sakit pagi ini.
“Memang kemana lagi kami harus pergi, Mom?” jawab Mas Arre cuek, “Aku masuk dulu,” lanjut Mas Arre sambil melangkah masuk ke dalam ruang ICU.
Mom menatapku heran, “Bagaimana bisa kalian ada di sini saat ini?”

Aku mengernyitkan kening mendengar pertanyaan Mom.
“Jeung Aya memberitahukan Mom bahwa semalaman Arre ada di sini hingga subuh, dan sekarang kalian sudah ada di sini, bagaimana kalian…?”
Aku tersenyum mengerti kemana arah pembicaraan Mom.
“Mas Arre tidak bisa jauh dari Nika, Mom, ngomong-ngomong dimana Arine? Bukankah seharusnya mereka sudah sampai?” potongku mencoba mengalihkan perhatiannya.

“Val, jangan mengalihkan pembicaraan!” protes Mom.
“Tidak apa-apa, Mom,” jawabku sambil memegang tangannya dan mencoba tersenyum semanis mungkin, mencoba meyakinkan Mom.
“Tapi, Val,” bantah Mom, dan ketika menyadari sesuatu Mom menutup mulutnya sambil menggumam, “Ah!”

Aku mengernyitkan kening melihat reaksi Mom.
“Ya, ampun, Valerie! Bagaimana bisa Mom tidak menyadari ini? Sejak kapan?” dia berhenti sejenak untuk menyentuh pipiku, aku masih tidak mengerti, “Ya Tuhan, kau sudah merasakannya sebelum kau berangkat Baltimore. Ya ampun, betapa bodohnya aku tidak menyadari ini semua, maafkan Mom, sayang,” lanjutnya dengan nada penuh penyesalan.

Apa sih yang dibicarakan Mom? Aku benar-benar tidak mengerti, kenapa dia harus bersikap seperti ini? Apa aku salah bicara?
“Kau mencintainya, kau mencintai Arre layaknya cinta seorang wanita dewasa. Ya Tuhan, maafkan ketidakpekaanku,” Mom langsung memelukku sementara aku masih terdiam.
Bagaimana bisa? Apa aku mengatakan sesuatu yang mengarah ke sana? Tetapi sepertinya tidak.

“Aku memang benar-benar tidak pantas menjadi Ibumu, Val. Maafkan aku,” isaknya tanpa melepaskan pelukannya.
Aku langsung melepaskan pelukannya, “Apa yang Mom bicarakan?!” protesku.
“Maaf, Val. Andai aku tahu perasaanmu ini sejak awal, mungkin keadaannya tidak seperti ini. Kau mencintai Arre, sangat mencintainya, dan tidak berkurang hingga saat ini.”
Deg!!!

“Mom?” tanyaku dan tanpa bisa kucegah, airmata mengalir di pipiku.
“Jangan berbohong padaku, kau mencintainya, dan kau masih sangat mencintainya. Kau pergi karena kau tidak tahan berada di dekat mereka setelah mereka menikah, benar bukan?”
Aku menunduk, dan airmata semakin deras mengalir di pipiku. Tuhan, mengapa kau buat Mom mengetahuinya saat ini? Val belum siap, Tuhan.

“Maafkan aku, karena tidak menyadari semua ini. Maafkan Mom,” ucapnya sambil mengangkat kepalaku dan memelukku.
“Sudahlah, Mom. Semua sudah terjadi, tidak ada artinya disesali.”
“Sejak kapan?” Mom melepaskan pelukannya dan menatapku lekat-lekat.
Aku menggelengkan kepala, “Val tidak tahu, Mom. Val tidak tahu sejak kapan perasaan ini datang.”
“Oh, Val,” Mom kembali memelukku, erat.

“Eyang Utiiii, Auntyyy,” teriakan Arine menginterupsi kami dan dengan cepat kami menghapus airmata lalu bersikap sesantai mungkin.
“Hai, sayang,” jawab Mom sambil mencium pipi Arine, “Kenapa masih memanggil Aunty?”
Arine langsung cemberut mendengar ucapan Mom, dan mendekati pengasuhnya, itu semua membuatku mengerti.
“Tidak apa-apa, Mom.”
“Tapi, Val?”
“Mom,” potongku sambil memegang tangannya, “Tidak apa-apa.”

Aku mensejajarkan tubuhku dengan Arine dan memegang wajahnya, “Arine boleh mangguk Aunty dengan panggilan Aunty.”
Dia melihatku tak percaya, tetapi kemudian tersenyum dan memelukku, “Auntyyyy”
~~o00o~~

“Arine, untuk sementara kita akan tinggal di apartemen ini, apa kau tidak keberatan?” tanyaku kepada Arine ketika kami sampai di apartemen tanpa Mas Arre-tentu saja- karena malam ini dia menginap di rumah sakit.
“Apa Mommy juga akan tinggal di sini bersama kita saat sembuh nanti?” tanya Arine polos.
Aku tersenyum mendengarnya, “Akan kita tanyakan nanti Mommy ingin tinggal di sini atau tidak.”
“Aunty, apa Mommy akan sembuh? Kenapa semua orang berkata kalau Mommy tidak akan pulang?” tanya Arine sambil menundukkan kepalanya.

Aku langsung memeluknya, “Arine harus menyerahkan semuanya ke Tuhan, Tuhan pasti memberikan yang terbaik untuk Mommy, oke?”
Aku tidak mungkin membohonginya, juga tidak mungkin memberikan jawaban yang belum sanggup dicerna otak kecilnya, semoga yang aku lakukan ini benar.

Tiba-tiba ponselku berbunyi, aku melepaskan pelukan dan merogoh kantung celanaku. Mas Arre? Ada apa?
“Val, Nika,” suaranya bergetar, aku menelan ludah.
“Nika kenapa, Mas?”
“Nika koma, Val,” jawabnya sambil terisak.
Ya, Tuhan, “Kami kesana sekarang.”

Dengan tergesa aku langsung menggendong Arine dan bergegas menuju pintu.
“Aunty? Kenapa?” tanyanya heran.
“Um, kita harus ke rumah sakit lagi sayang,” jawabku di sela-sela kesibukanku mengambil tas.
“Tapi Arine mengantuk, Aunty,” rengek Arine.
“Arine bisa tidur di gendongan Aunty,” jawabku sambil memposisikan kepalanya di bahuku, dan tak lama dia terlelap.
~~o00o~~

Aku berusaha berlari menuju ruang ICU, tetapi sulit dengan adanya Arine di gendonganku, beruntung Mas Ega datang tak lama ketika aku baru saja memasuki lobby rumah sakit. Kami bersisian menuju ruang ICU, dan dia langsung mengambil alih Arine untuk menggendongnya, sementara Arine tidak terganggu selama proses itu, dia tetap terlelap. Bergegas kami menuju ruang ICU.
“Val,” panggil Mas Arre begitu melihat kami dan langsung memelukku ketika kami sudah mendekat, “Aku takut, Val, aku takut.”
“Ssshh, semua pasti baik-baik saja” hiburku sambil membalas pelukannya.

When the rain is blowing in your face,
And the whole world is on your case,
I could offer you a warm embrace
To make you feel my love.

When the evening shadows and the stars appear,

And there is no one there to dry your tears,
I could hold you for a million years
To make you feel my love.
(Adele – Make You Feel My Love)
~~o00o~~

Sudah 1 minggu lamanya Nika koma dan belum juga ada tanda-tanda ‘membaik’ darinya. Selama itu pula Mas Arre berada di rumah sakit, tidak mau pergi semenitpun dari sisi Nika, dia ingin jadi orang pertama yang dilihat Nika ketika dia sadar, jadilah aku tinggal berdua saja dengan Arine di apartemen. Sesekali Mom menginap di apartemen terkadang Tante Aya ikut menginap di apartemen. Tetapi setiap Tante Aya menginap di apartemen, Tante Aya menyuruhku untuk menemani Mas Arre di rumah sakit dan aku menyetujuinya.

Seperti saat ini, aku sedang bersiap tidur ketika samar-samar aku melihat pergerakan tangan Nika. Reflek aku langsung memanggil Mas Arre yang sedang melamun di samping ranjang Nika.
“Mas, Nika sadar!”
Saat itu juga aku langsung keluar memanggil Dokter, meninggalkan Mas Arre yang langsung memanggil serta menciumi tangannya.

Sekembalinya aku dari memanggil Dokter, aku melihat Mas Arre sudah menitikkan airmata, dan Nika sedang menggumamkan sesuatu dengan mata terpejam. Mereka tidak menyadari kedatanganku, dan aku memberanikan diri mendekat.
“Kak, kumohon, berbahagialah dengan Valerie, akui perasaanmu kepadanya. Jangan menahannya lagi, aku tahu kau sangat mencintai Valerie, kau selalu mencintainya, sejak dulu dan bukan cinta seorang kakak kepada adiknya. Kau mencintainya layaknya seorang pria kepada wanita.”

Aku mematung mendengar ucapan Nika, Mas Arre mencintaiku? Selalu mencintaiku? Apa aku tidak salah dengar? Atau jangan-jangan Nika salah menduga, tetapi bagaimana bisa?
“Tidak, Nika. Aku tidak mencintainya, aku sangat mencintaimu, hanya kamu.”
“Jangan berbohong padaku, Kak. Aku tahu, kau tidak pernah mencintaiku, kau hanya menggunakanku untuk mengalihkan rasa cintamu dari Valerie.”
“Nika,” potong Mas Arre, dan mereka masih belum menyadari kehadiranku.

“Aku tahu, Kak. Aku tahu sejak dulu, tetapi aku hanya terlalu egois untuk memilikimu,” dia membuka matanya dan memegang wajah Mas Arre, “Berbahagialah dengannya, kumohon. Kau berhak untuk bahagia.”
Nika terdiam, tampak dia mulai kesulitan untuk bernafas, Mas Arre mulai panik, dan saat itulah dia menyadari kehadiranku, tetapi mengabaikanku.
“Nika!! Kumohon, bertahanlah, demi aku dan Arine. Jangan tinggalkan kami.”

“Val,” panggil Nika lemah, dan aku mendekat.
“Ya, Mba?”
“Berjanjilah padaku, jagalah Kakak dan Arine untukku, kumohon,” pinta Nika sambil menggengam tanganku.
Airmata mulai menetes di pipiku, nafasku tercekat, tidak tahu harus mengatakan apa, aku mengangguk. Dia tersenyum lemah, lalu melepaskan genggamannya, menempatkan tanganku tepat di genggaman Mas Arre.
“Maafkan aku,” dia berhenti sejenak untuk menelan ludah, “Berbahagialah, demi aku.”

Setelah mengucapkan itu pegangannya melemah, suara ‘piip’ panjang monitor detak jantung menyadarkanku bahwa Nika sudah pergi, tetapi Mas Arre masih saja memanggil-manggil namanya dengan suara yang menyayat hati.
“Nika!! Bangun, Nika!!”
Bagai gerakan lambat di film-film aku melihat Mas Arre mengguncang-guncang tubuh Nika, masih terus memanggil-manggil namanya. Aku menangkupkan kedua tanganku di mulut, seketika itu juga Dokter masuk dan suster mengarahkanku serta Mas Arre untuk keluar.

Setibanya di luar, Mas Arre berdiri mematung, di belakangnya aku melihat Mom, Dad, Tante Aya, Om Bram, Mas Ega serta Arine di gendongannya setengah berlari menuju ke arah kami dengan raut wajah khawatir. Kakiku seperti jeli, aku langsung merosot tepat setelah Mom berada di depanku.
“Val? Val?” panggil Mom sambil mengguncang-guncangkan bahuku, aku masih saja terdiam tak mampu mengeluarkan sepatah katapun.

Ini mimpi!! Ini pasti mimpi.
“Nikaa!!”
Teriakan putus asa Mas Arre membuatku menoleh, dan melihat Mas Arre langsung menerobos masuk ke dalam, sementara Dokter yang tadi memeriksa Nika menunduk dan menggeleng-gelengkan kepala, menggumamkan kata ‘maaf’ berkali-kali kepada Om Bram dan juga Dad yang berada di sebelahnya. Saat itu juga aku merasakan diriku ditarik ke pelukan Mom, diiringi tangisan Arine yang mampu menyayat hati siapapun yang mendengarnya sambil memanggil-manggil Nika karena melihat Mas Arre yang memanggil Nika tadi.
“Mommyyyyyy!!!!!”

I know you haven't made your mind up yet,
But I would never do you wrong.
I've known it from the moment that we met,
No doubt in my mind where you belong.

I'd go hungry; I'd go black and blue,

I'd go crawling down the avenue.
No, there's nothing that I wouldn't do
To make you feel my love.
(Adele – Make You Feel My Love)
~~o00o~~

“Aunty, kenapa Mommy tidak ikut kita pulang? Kasihan Mommy sendirian di sana,” tanya Arine ketika kami sudah berada di mobil selepas pemakaman Nika sambil menempelkan wajahnya ke kaca mobil belakang, tempat duduk kami.
Mom terisak mendengar pertanyaan Arine, di bangku depan, sementara Mas Arre mengencangkan pegangannya pada stir mobil dengan rahang yang mengeras.

Pada awalnya kami memang tidak berniat membawa Arine ke pemakaman, tetapi Arine terus saja menangis membuat kami tidak punya pilihan lain dan mengikutsertakannya pada prosesi pemakaman Nika.
“Karena Mommy tidak bisa ikut kita pulang, sayang.”
“Kenapa Mommy tidak bisa ikut kita pulang, Aunty? Mobil ini masih muat kalau Mommy mau ikut kita pulang. Arine kan kecil, jadi Arine bisa duduk di pangkuan Mommy, seperti biasanya,” tanya Arine sambil menepuk-nepuk bangku kosong di sebelahnya.

Mom semakin terisak mendengarnya, aku tidak berani melihat reaksi Mas Arre.
“Karena sekarang Mommy tidak bisa ikut kita, begitu juga kita saat ini. Mommy sudah bahagia di sisi Tuhan, sayang.”
Arine menunduk sedih, dan melanjutkan, “Apa sekarang Arine harus memanggil Aunty dengan sebutan Mommy?”
Aku mengangkat wajah Arine, dan menatapnya lekat, terlihat ada keraguan di matanya, dia tidak menginginkan panggilan itu untukku, aku tersenyum.

“Arine ingin memanggil Aunty dengan sebutan apa?”
Arine terlihat ragu-ragu untuk menjawab, tetapi akhirnya dia menjawab, “Arine ingin panggil Aunty, karena Aunty bukan Mommy Arine.”
Aku mencoba tersenyum, jawaban yang sangat jujur, aku suka, “Kalau begitu Aunty tidak masalah. Arine bisa memanggil Aunty dengan sebutan Aunty seperti biasanya.”
Arine tersenyum mendengar penjelasanku dan langsung memelukku, “Terimakasih, Auntyy.”

Ketika Arine memelukku, secara tak sengaja aku melihat tatapan Mas Arre di kaca tengah mobil yang tak mampu aku artikan, dan tak lama kami langsung meninggalkan area pemakaman.
~~o00o~~

Sudah 2 minggu sejak Nika pergi, sudah 2 minggu pula kami tinggal di rumah Mom, dan selama itu pula Mas Arre mengurung dirinya di kamar sementara aku dan Arine tidur di kamar lamaku. Beberapa kali kami sudah membujuk Mas Arre untuk keluar kamar, tetapi tidak berhasil, bahkan bujukan Arine dan Mas Ega tidak berhasil juga. Hingga akhirnya kami mengalah dan membiarkannya mengurung diri sesuka hatinya.

Mas Arre bisa sangat keras kepala jika sedang kalut seperti ini, dia seperti kembali ke Mas Arre yang dulu, sebelum mengenal Nika. Cara terbaik untuk menghadapi Mas Arre yang seperti ini adalah membiarkannya sendiri terlebih dahulu. Jangan ditanya bagaimana keadaannya, karena setiap aku masuk dan mengantarkan makanan untuknya, dia terlihat sangat kusut.

Rambut yang acak-acakan, kumis serta jenggot yang tumbuh lebat di wajahnya karena tidak bercukur selama 2 minggu terakhir-sempat membuatku ragu apakah dia mandi atau tidak-kantung matanya yang terlihat hitam membuktikan betapa hancurnya dia akan kematian Nika. Tetapi kami tidak punya pilihan lain, dia membutuhkan waktu untuk berdamai dengan kenyataan ini.

Aku, Mom dan Arine sedang menghabiskan waktu senggang di sore hari sementara Dad masih sibuk di kantornya ketika tiba-tiba Mas Arre sudah terlihat rapih, bersih dan wangi berada di belakang kami. Pada awalnya tidak ada yang menyadari keberadaan Mas Arre jika Arine tidak memanggil Mas Arre dengan riangnya dan langsung menghambur ke arahnya.

“Daddyyy,” cekikiknya ketika Mas Arre menggendong dan menciumi wajahnya.
“Apa Arine rindu rumah?”
“Ya! Arine rindu rumah, kangen sama tempat tidur Barbie Arine,” rengek Arine sambil memainkan rambut Mas Arre yang sudah mulai panjang, sementara aku dan Mom masih terdiam di tempat.

Entah apa yang terjadi, tetapi Mas Arre yang berdiri di depanku benar-benar Mas Arre yang kukenal, apa ini artinya dia sudah berdamai dengan kenyataan?
“Oke, kalau begitu, mari kita pulang,” sahut Mas Arre antusias, “Val, kemasi barang-barang, kita pulang malam ini juga!” perintah Mas Arre sambil membalikkan badan.
Aku dan Mom saling bertukar pandang, dan tersenyum. Terimakasih, Tuhan.

The storms are raging on the rolling sea
And on the highway of regret.
Though winds of change are blowing wild and free,
You ain't seen nothing like me yet.

I could make you happy, make your dreams come true.

Nothing that I wouldn't do.
Go to the ends of the Earth for you,
To make you feel my love
To make you feel my love
(Adele – Make You Feel My Love)
~~o00o~~

Tidak ada pembicaraan berarti selama perjalanan kami, hanya celoteh riang Arine yang terdengar. Aku terdiam ketika memasuki rumah Mas Arre, sekarang aku mengerti kenapa dia tidak siap pulang ke rumah setelah kepergian Nika. Karena hampir di setiap pojok ruangan ada foto Nika, dari foto prewedding mereka, pernikahan, saat Nika mengandung sambil memegang perut besarnya dengan gembira, ketika kelahiran Arine, ulang tahun pertama Arine, saat mereka berlibur, foto candid mereka bertiga di halaman rumah, dan puluhan lainnya yang tersebar hampir di seluruh rumah.

Jelas sekali Mas Arre menyerahkan urusan dekorasi rumah ke tangan Nika, dan keputusannya tepat, karena semua penempatan furniture berada tepat pada tempatnya, dan ada kesan hangat begitu memasuki rumah. Lamunanku terhenti ketika Arine menarik tanganku.
“Aunty, ayo, Arine tunjukkin kamar Arine. Tempat tidur Arine persisi kayak di film-film Barbie,” ajaknya, aku tersenyum dan mengikutinya, mencoba menutupi kegundahanku. Sementara Mas Arre sudah menghilang entah kemana.

Dengan antusias Arine menunjukkan semuanya, dan kegiatan kami terhenti ketika Mas Arre masuk dan menyuruh Arine bersiap untuk tidur. Ketika Arine sudah terlelap, Mas Arre mengarahkanku ke sebuah pintu dekat lemari pakaian Arine.
“Ini adalah pintu penghubung antara kamar Arine dengan kamar utama di rumah ini,” jelas Mas Arre sambil membuka pintu dan mempersilahkan aku masuk lebih dulu.

Kamar yang luas dan indah, itu pasti karena ini merupakan kamar utama di rumah ini, dan tentu saja ada foto Nika, tetapi kali ini foto yang terpajang lebih ‘natural’ karena diambil dengan cara candid. Dan bisa dipastikan foto-foto ini diambil saat mereka awal-awal dekat, bulan madu dan berlibur sebelum kehadiran Arine diantara mereka.

“Aku tahu, ini semua bodoh, tetapi, aku tidak sanggup berlama-lama di kamar ini. Aku bahkan bisa mencium wangi Nika di sini, merasakan keberadaannya di setiap sudut kamar ini,” dia terdiam sejenak sambil menutup mata, “Maafkan aku, Val, tetapi kita tidak akan tidur di kamar ini, aku masih belum sanggup,” sesalnya sambil membuka mata dan menggelengkan kepalanya.

Begitu juga aku, Mas, sahutku dalam hati.
“Ayo,” ajaknya dan ketika kami sudah berada di kamar Arine lagi, dia langsung mengunci pintu dan menaruhnya di kantung celana jeansnya.
~~o00o~~

“Aku tahu, kamar ini tidak seluas dan seindah kamar utama, tetapi kamar ini memiliki view yang bagus, kamu pasti suka,” jelasnya sambil mempersilahkanku masuk ke kamar tamu di depan kamar Arine.

Ya, memang, tidak ada yang istimewa di kamar ini, tetapi mataku terpaku memandangi jendela besar di samping tempat tidur. Aku berjalan ke arah jendela dan tersenyum melihat pemandangannya, karena rumah ini berada di tengah kota, aku bisa melihat beberapa gedung pencakar langit menjulang, dan tentu saja aku bisa melihat langit malam lengkap dengan bintang serta bulan malam ini, pemandangan favoritku, persis seperti pemandangan di apartemen.

Oke, tidak bisa dikatakan sama persis memang, tetapi konsep yang dibuat di sini sama persis.  Karena kamar ini berada di lantai 2, aku pun bisa melihat pemandangan halaman belakang, lengkap dengan kolam renang begitu menunduk, dan tentu saja, ada balkon di sini.

“Aku sengaja membuat kamar ini, karena berharap kau bisa sering-sering menginap setelah kami menikah, tetapi karena kau pergi, aku belum sempat menunjukkan kamar ini kepadamu.”
Aku menoleh mendengar ucapannya, sengaja membuat kamar ini untukku?

“Aku tahu, sudah terlalu banyak aku meminta, tetapi, maukah kau lebih bersabar kepadaku? Aku masih belum sanggup melupakan Nika begitu saja, jadi, bisakah kita menjalani semuanya perlahan?” tanyanya sambil menyelipkan rambut ke belakang telingaku.

Aku tersenyum mendengar ucapannya. Kalau boleh aku mengutip, aku akan mengutip dari sebuah lagu yang akhir-akhir ini menjadi favoritku: ‘I know you haven't made your mind up yet,’ Mas, ‘but I would never do you wrong. I even could hold you for a million years to make you feel my love,’ Mas. And no doubt about that. Kapan aku tidak bisa bersabar menghadapimu, Mas?

Aku memberanikan diri untuk mendekat, mencium perlahan bibirnya dan segera menjauh sebelum dia sempat merespons dan berkata, “Aku akan menunggumu, Mas.”

~~o00o~~

When the rain is blowing in your face,
And the whole world is on your case,
I could offer you a warm embrace
To make you feel my love.

When the evening shadows and the stars appear,

And there is no one there to dry your tears,
I could hold you for a million years
To make you feel my love.

I know you haven't made your mind up yet,

But I would never do you wrong.
I've known it from the moment that we met,
No doubt in my mind where you belong.

I'd go hungry; I'd go black and blue,

I'd go crawling down the avenue.
No, there's nothing that I wouldn't do
To make you feel my love.

The storms are raging on the rolling sea

And on the highway of regret.
Though winds of change are blowing wild and free,
You ain't seen nothing like me yet.

I could make you happy, make your dreams come true.

Nothing that I wouldn't do.
Go to the ends of the Earth for you,
To make you feel my love
To make you feel my love
(Adele – Make You Feel My Love)

TAMAT
~~o00o~~ 



36 comments:

  1. akhirnyaaaaaaa tamaaaaatttttt :3 hehehehe dilla mau baca dulu dr awal wkkkkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe,,
      Mksh Mba Dillaaaa....
      Mksh g bosen nunggu n komen
      :D

      Delete
  2. :'(:'(:'(
    Mbakkkk Viieeeee!!!:'(
    Knapa kyk gtu? Knapa Arre + Arine ga mau nrima???:'(:'(:'(
    Lnjutin mbak..:'(:'(:'(
    Msih ga trima nih sma ending yg menyayat hati gni..:'(
    Ya ampun, klo ak jdi si Val, udh nunggu skian lma, ak mnding mati jga deh, dripda ga d anggep gtu..:'(:'(:'(
    Bsar bgt cintany Val trhdap Arre.. Ckckck :'(:'(:'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbaaakk Mendyyyyy....
      Maapppp endingnya g asik yahhh....
      Soalnya dr awal bkin emg udh g niat bkin happy end..
      Ngrasa g cocok sm laguny,,laguny galauuuu beud soalny ennnnn dualeemmm.. Jd yaahhhh jdny nih crta bgni deh....
      Maapppppp.. Hukz...
      Mrk bknny g mw nrima,,tp msh blm bs sprtnya (sok paham)
      Mksh udh bc n komen
      :D

      Delete
  3. Pertama, saya terharu baca endingnya.. Ahhhhh, endingnya emang sesuai dengan emosi kenyataan yang seharusnya, tapi entah kenapa jiwa ababil saya kok ga nerima kalau cuma segini aja tulisan 'tamat' muncul. Pengennya masih ada 'bonus'
    vie, buatin epilognya dong, beneran deh, masih ganjel di hati nih. Kalau diumpakan, makan sayur asem, rasanya udah lengkap tapi kurang garemnya.. #apadehhhhhh....

    Makasih juga buat mbak shin yang udah update, *cium mbak shin & vie*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pertama,,saya mksh bgtz Mba Lee smpe trharu gt.. Hehehehe
      Ummm,,smg sbr mnnti yah.. Soalny saya ni moody bgtz,, eennnnn moody-ny parahhh...
      Jd apakah dbwt epilog??entah,,saya jg msh blm tw...
      Maapppp klo akhrny g asiikkk.. *nunduk*
      Mksh Mbaaa,,mksh udh bc n komen
      :D

      Delete
    2. Stuju bgtt ak klo ad epilog mbak vie..:'(

      Delete
    3. *Peluk2*
      Smg Sbr mnnti yah... Hehehe...
      Mksh Mba Mendyy...

      Delete
  4. Nanggung mbak vie...hehehe *ngelunjak...
    Lebih dihaluskan dikit endingnya...kl kaya gini malah mau ikut happy ga bisa, mw ikut sedih jg gimana...udh mw nangis baca bagian atas...tapi dgn ending begini...tiba2 stop deh...
    Ibaratnya udh mw naik endingnya eh tiba2 jatuh begitu aja :D
    Tapi nice story mbak...
    Daebak...
    Hwaiting..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe,,maap Mba Astriiidd...
      Soalny dr awal bkin emg udh kpkrn mw dbkin 'gantung' or sad ending
      Tp gntungny parah yakz?? Hehehehe,, mklumz msh bljr bkin crta cerbung..
      Mksh Mbaa,,mksh udh bc n komen
      :D

      Delete
  5. ada epilognya gag mbg,, ih ini kentang bgt. kentang goreng,kentang bakar lah kentang rebus lah......

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haaiiiiiii Mba Iik...
      Hehehe
      Maaapppp akhrnya kentang yakz?? *nunduk*
      Mksh Mbaa,,mksh udh bc n komen
      :D

      Delete
  6. huaa mb viee.
    endingnya kenapa galau gni??
    ada epilognya kah?
    kasian val klo kya gni..
    :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huaa.. Ekaaa...
      Maap.. *nunduk*
      Ummm,,blm tw Ka,,d epilog or ndak...
      Mksh ekaa,,mksh udh bc n komen
      :D

      Delete
  7. Mau nyanyi ah....
    * Cobalah mengerti semua ini mencari artiSelamanya takkan berhentiInginkan rasakan rindu ini menjadi satuBiar waktu yang memisahkan
    Dan kamu hanya perlu terimaDan tak harus memahami, dan tak harus berfikirHanya perlu mengerti aku bernafas untukmuJadi tetaplah di sini dan mulai menerimaku.....
    COBALAH MENGERTI : MOMO GEISHA FEAT NOAH/PETERPAN gak taulah apa nama bandnya saat itu >,<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaakkkkkkkk Ariiiillllllllll
      *slh fokus*
      Hahahaha,,Mba Ditaaa.. Tepaattttt skliiii.... Xixixixxii
      *buru2 pgang kecrekan*
      Mksh Mbaa,,mksh udh bc n komen
      :D

      Delete
  8. Haiiiiiii kawaaannnnnn smw....
    Maapp.. Maappppp kalau endingnya galau bin kentang bin gantung dan bin2 yg laennya yg g ngenakkin *nunduk*
    Dr awal bkin crta ni,,jujur saya memang g d niat bkin happy end,,dfkran sy klo g sad ending ya gntung,,krn inilah interpretasi sy ttg lagu Adele ni...
    'Bgmn prjuangn seseorg mmbwt org yg dcntainy mrskn cntanya,,tnp mmnta tmbal balik atas prasaannya'...
    Dan knp skrg gntung??krn saya pny alsan trsndiri... ;p
    Apa itu?? Tunggu tgl maennya yah,, *kedip2* smg sbr menunggu n mnanti.. Krn ju2r,,saya moody,,dan moody saya paraahhhh... Plus saya khbsn wktu.. Khdpn nyta saya mghbskn hmpr slruh wktu saya *sok sbk*

    Oke,,okee,, tllu pjg brkomentar...
    Intiny,,sy mmnta maaf atas ktdknymanan kwan smw stlh mmbc crta ni,,crta ni sdh mllui proses pnyringn 2mggu,,krn crta aseli dkpla jauhhh lbih trgis n galau,,dan sy g brani mnmpilkanny dsni... Tgn sy jg ikt 'protes' krn g smw yg d dkpala mmpu sy tuliskan,,

    Skli lg,,trimakasih byk sbesar2ny sy ucpkan atas ksediaan kawan2 smw utk mnunggu n mnnti klnjtn crta ni...
    Mksh byk Mba Ciiinnn atas smw suport n ksbrn tak trbtasny utk saya *sok artis* ;D
    Mksh banyaakkkk smwnyaaa *peluk satu2*
    :D

    ReplyDelete
  9. kasihan bgt sama nasib val,cinta sejati gak selalu membutuhkan balasan yang penting kita bisa tiap hari melihat dia walaupun hati terasa perih.

    makasih banyak mbak VIE di tunggu karya2 sedih selanjutnya :D
    :X

    ReplyDelete
    Replies
    1. pan akhirnya nikah? koq kesian? *nyengir kuda*
      Jahh,, Mba Aniikk,,kesannya saya bkin cerita sedih terus(pdhl emg iy) hehehe
      mksh Mba Anik, mksh udh bc n komen
      :D

      Delete
  10. Gpp mbak vie, cerita ini gantung msh bisa diterima :d cm endingnya aja yang tiba2 jeder...dr awal emg udh kelihatan kok alur ceritanya pasti bakal menggantung, soalnya ak malah di pikiran pengen si val nyerein si arre, penggambaran tokoh2nya oke...
    Sukses bikin ak pengen ngamuk ke arre...tega si arre minta val pindah k rumah mreka...yg penuh dgn foto nika...
    Contoh reader banyak maunya...maaf ya...hehehee
    Gpp mbak moody...tetap semangat nulis, hwaiting...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe, akhirnya cetarrr membahana yaakkzz??(Cetar membahana gantungnya, mksdnya, xixixi)
      gpp, dimaafin, karena saya juga bnyak maunya.. ;p
      makasih Mba Astriidd,, mksh banyaakkk.....
      *peluk2*

      Delete
  11. tunggu tanggal maen??? hem,,,,,berarti ceritanya masih bisa/akan dilanjutin lagi nie,,,,,aku menunggu,,,,menunggu ceritanya mbg vie

    ReplyDelete
    Replies
    1. ummm,kasih tw gak yah?? *kedip2*
      smg sbr menantiiii yahh,,soalnya moody-ny parahh bgtz...
      mksh Mba Iik..
      *peluk2*

      Delete
  12. kok gini endingnya???
    galau tingkat dewa...
    penantian tiada akhir...
    isinya menata hati melulu..
    hiks...hiks... : '(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huaaa,,Maap Mba Lunaaa.. Hukz...
      Mksh Mba Luna,,mksh udh bc n komen
      :D

      Delete
  13. Bacanya dgn mimik manyun...
    Dr awal ampe akhir G̲̮̲̅͡åк̲̮̲̅͡ ad bhagianya si val..hiks3
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°ºea mba cin n vie

    ReplyDelete
    Replies
    1. Koq mnyun Mba Ndooonggg?? Hukz
      Mksh Mba Ndong,,mksh udh bc n komen
      :D

      Delete
  14. Replies
    1. Maaayyyyyyy...
      Sbr yah *kedip2*
      Smg bnr2 bs cpt terrealisasikan(bnr g sih ntuh tulisan??kykny aneh)
      Mksh Maayy,,mksh udh bc n komen
      :D

      Delete
  15. Pertama bacaa asyiiikkk ada lanjutan lagiii, pas baca ujungnya loooh udah tamat yak? Gantung bgt hihihi maaf mbak vie cman klo begini saya ndak rela val harus bersatu ama arre klo nyesek trus2an mending cari cwok yg lain aja dech,,, tapiii yaaa kembali ke penulis pembaca ngikut aja dech hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha,,maap yh Mba Sulis *nunduk*
      Mksh Mba Suliisss,,mksh udh bc n komen
      :D

      Delete
    2. Hihihi gpp mbak viee masih logis kok endingnya meski ngrasa ngegantung dripda dipaksa HE tapi gk dpt feel nya. ^_*

      Delete
  16. arrrrggghh....mb vie masa final sih...hiks kacian val blm dpt bahagia...jd arre tuh beneran cinta val ga sih?!? kayanya mending ama ega yah ga tersiksa fisik n batin. hiks terus ditungguin dr awal sampai akhir....belah durennya maaaaannnnnaaaa..hehehe maapkan yah mb vie ini reader kepo byk nuntut. after all tq buat ceritanya...keep writing ya mb vie ciayooo!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe,,Maap Mba Vera.. Akhrny aneh yah?? *nunduk*
      Sm Ega?? Ega udh d yg pny *siriikkk* xixixi
      Jiaahhhh belahhhh durennn.. Belah semangka ajjah gmn?? *kedip2*
      Mksh Mba Vera.. Mksh udh bc n komen
      :D

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.