"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, October 15, 2013

CERMIN 32 - MAKE YOU FEEL MY LOVE OLEH HEVI PUSPITASARI - PART 4


When the rain is blowing in your face,
And the whole world is on your case,
I could offer you a warm embrace
To make you feel my love.


When the evening shadows and the stars appear,

And there is no one there to dry your tears,
I could hold you for a million years
To make you feel my love.
(Adele – Make You Feel My Love)

Aku masih sibuk dengan pikiranku sore ini sambil memandang monitor detak jantung di sebelah ranjang Nika ketika Mas Arre beranjak dari sofa dan menuju pintu, sepertinya untuk mengangkat telepon, ekor mataku memperhatikan punggung Mas Arre yang menjauh. Sesuai permintaan Mas Arre semalam, aku tetap tinggal dan segera memberitahukan Mas Ega yang masih menunggu, bahwa aku akan bermalam di rumah sakit. Setelah berpamitan langsung dengan Mas Arre, Mas Ega pulang dan memintaku untuk menghubunginya jika terjadi sesuatu, aku hanya mengangguk.


Sepanjang malam aku mencoba untuk mengistirahatkan badanku di sofa tetapi mataku tidak mau terpejam. Terpaksa aku menyaksikan secara langsung kegelisahan Mas Arre tanpa bisa berbuat banyak. Hatiku teriris melihat Mas Arre seperti itu, tapi tidak ada yang bisa aku lakukan, ini bukan bidangku dan aku benci dengan keadaan seperti ini. Aku baru saja menggeser posisi dudukku ketika samar-samar aku mendengar Nika memanggil.
“Val, kau datang,” sapanya sambil tersenyum lemah, entah mengapa aku merasa dia terlihat lega melihatku di sini.
“Iya, Mba, aku datang,” jawabku sambil mendekat ke arahnya, “Istirahatlah, semua akan baik-baik saja.”
“Syukurlah, kau datang,” bisiknya sambil memejamkan matanya.

“Kau sudah sadar, sayang?” tanya Mas Arre yang tiba-tiba sudah berada di dalam lagi dan langsung mengambil tempat di sebelah Nika, tepat di seberangku, “Apa kau ingin diambilkan sesuatu?”
Nika menggeleng lemah.
“Aku akan memanggil dokter,” jelas Mas Arre dan tepat ketika Mas Arre hendak melangkah, Nika menahannya, “Nika?”
“Tolong panggilkan semuanya, ada yang ingin aku sampaikan.”
“Nika, kau baru saja sadar, sebaiknya aku panggilkan dokter terlebih dahulu.”

“Kak, kumohon, panggilkan semua, aku harus mengatakan sesuatu dihadapan semua orang.”
“Baiklah, aku akan memanggil semuanya, tetapi sebelum itu kau harus diperiksa dokter terlebih dahulu,” potong Mas Arre dan tak lama langsung meninggalkan kami berdua menuju pintu.
Aku masih menatap kepergian Mas Arre ketika Nika berbicara dengan lirih, “Kau mencintainya,” membuatku menatapnya tak percaya.
“A-apa?”

“Jangan berbohong padaku, Val. Kau mencintainya,” dia memejamkan mata sejenak, “Aku tahu sejak pertama kita bertemu, kau mencintainya sebagai seorang wanita bukan sebagai adik,” lanjutnya lemah.

Dia mengatakan itu semua tanpa membuka matanya, aku membeku di tempat, dia tahu? Bagaimana bisa? Tidak ada tulisan ‘Aku mencintai Mas Arre’ ketika kami pertama kali bertemu, bukan? Aku juga tidak berusaha menunjukkan rasa cintaku setiap berada di antara mereka bertiga, aku bersikap se-normal mungkin walau pada kenyataannya aku ingin sekali lari saat itu.

“Begitu pula Kak Arre kepadamu, Val. Maafkan aku berada di antara hubungan kalian, dan mengacaukan semuanya,” dia masih saja memejamkan matanya dan nampak setitik airmata keluar dari matanya.
“Tidak, tidak. Mba Nika jangan bicara seperti itu. Mas Arre mencintaimu sepenuh hatinya, dia tidak melakukan itu semua, jangan berpikiran yang tidak-tidak,” aku semakin erat menggenggam tangannya.

“Pada awalnya aku pun hanya menduga-duga dan mengabaikan semuanya karena Kakak selalu menunjukkan cintanya kepadaku. Hingga akhirnya, ketika Kakak nekat menyusulmu di hari pertama pernikahan kami ke bandara, saat itu juga aku tersadar, dia mencintaimu, Val,” dia membuka matanya dan detik itu juga aku melihat kesakitan di matanya, sakit yang sama yang aku rasakan.
“Jangan, Mba, jangan seperti ini. Mas Arre mencintaimu, dia sangat bahagia menikahimu, tidakkah kau rasakan itu semua? Dia hanya mencintaiku layaknya seorang kakak kepada adik, tidak lebih, Mba.”

“Ya, dia mencintaiku, dia memang bahagia bersamaku, Val. Tetapi kebahagiaannya berkurang setelah kau meninggalkannya. Ada lubang tak terlihat di hatinya ketika kau pergi, Val, dan aku tidak bisa menutup lubang itu sebahagia apapun kami, karena dia juga mencintaimu. Dia hanya belum menyadari semuanya, atau mungkin lebih tepatnya tidak mau mengakui semuanya.”

Tak lama aku mendengar suara pintu terbuka, Mas Arre datang dengan dokter dan perawat di belakangnya. Aku menyingkir, membiarkan mereka melaksanakan tugasnya dan menuju pintu, berjalan dengan diam bersama Mas Arre.

I know you haven't made your mind up yet,
But I would never do you wrong.
I've known it from the moment that we met,
No doubt in my mind where you belong.


I'd go hungry; I'd go black and blue,

I'd go crawling down the avenue.
No, there's nothing that I wouldn't do
To make you feel my love.
(Adele – Make You Feel My Love)
~~o00o~~

Sesampainya kami di luar, Mas Arre langsung sibuk dengan teleponnya, melakukan beberapa panggilan. Tak lama Dokter keluar dan ingin berbicara dengan Mas Arre di ruangannya. Jadilah aku sendirian di ruang tunggu ini, dan tanpa bisa aku cegah, kepalaku memutar kembali percakapan tadi. Jadi, selama ini Nika mengetahui perasaanku, bagaimana bisa? Apa terlihat sejelas itu? Bukankah aku sudah menutupinya rapat-rapat? Apa jangan-jangan Mas Arre juga mengetahuinya? Tidak! Tidak! Itu tidak mungkin, Mas Arre tidak tahu apa-apa, itu pasti! Lalu apa yang harus aku lakukan selanjutnya?

“Val,” panggilan Mas Arre mengembalikanku.
“Ya, Mas?” jawabku mencoba tersenyum ke arahnya, namun langsung aku hilangkan karena melihat ekspresi Mas Arre, ada apa?
Belum sempat aku menyadari apa yang terjadi, aku sudah berada di pelukan Mas Arre, membuatku terhenyak. Dia menempatkan wajahnya tepat di leherku, membuatku merasakan langsung nafasnya.

Tiba-tiba aku merasa bahunya bergetar, dia mempererat pelukannya dan kemudian aku mendengar suara isakan tertahan. Mas Arre? Menangis?  
“Mas?” tanyaku dengan suara bergetar.
“Ini semua salahku, Val, ini salahku. Kalau saja aku menjemput Nika saat itu, kejadian ini tidak akan terjadi. Ini semua salahku, salahku,” racau Mas Arre membuatku semakin panik, ada apa ini?
“Mas!” pekikku sambil mencoba melepaskan pelukannya, tetapi tidak terjadi apa-apa, dia justru semakin mempererat pelukannya.

“Dokter sudah menyerah dengan keadaan Nika, aku takut, Val, aku takut.”
A-apa??
“Ssshh, semua pasti baik-baik saja, Mba Nika pasti kuat melewati semuanya, Mas jangan putus asa,” hiburku sambil mengelus punggungnya.
Menyerah? Bagaimana bisa? Apa tidak ada lagi yang bisa dilakukan?! Tuhan, jangan lakukan itu, kumohon berikan Mukjizat-Mu.

“Semua salahku. Salahku, Val. Aku yang menyebabkan semua ini terjadi!” isak Mas Arre.
“Mas, ini murni kecelakaan, kumohon jangan seperti ini,” potongku tetapi Mas Arre justru semakin terisak, membuat airmataku mengalir tanpa bisa kucegah.
Oh, Mas Arre.

The storms are raging on the rolling sea
And on the highway of regret.
Though winds of change are blowing wild and free,
You ain't seen nothing like me yet.


I could make you happy, make your dreams come true.

Nothing that I wouldn't do.
Go to the ends of the Earth for you,
To make you feel my love
To make you feel my love
(Adele – Make You Feel My Love)
~~o00o~~

Satu persatu keluarga yang dihubungi Mas Arre datang, Bude dan Pakde yang pertama kali datang bersama Mas Ega. Kemudian Tante Aya, Ibu Nika menyusul tak lama.
“Nika, semua sudah ada di sini,” ucap Mas Arre berusaha membangunkan Nika. Perlahan Nika membuka matanya dan tersenyum melihat ke arah kami.
“Mana Arine? Aku sangat merindukannya,” tanya Nika setelah mengedarkan pandangannya.
“Arine ada di kantin bersama Ayahmu, sayang. Ruangan ini tidak baik untuk anakmu, lagipula Dokter melarang anak seusia Arine masuk ke dalam,” jawab Tante Aya sambil mengelus kening Nika.

“Seharusnya kau istirahat, Nika, jangan paksa dirimu,” pinta Bude.
“Ada yang harus aku sampaikan, Mom, dihadapan kalian.”
Kami semua saling berpandangan mata, mencoba menerka maksud ucapan Nika, dan aku sama sekali tidak menyukai semua skenario yang sedang berputar di kepalaku. Mas Ega menggenggam tanganku, seolah memberikan dukungannya secara kasat mata, aku membalasnya dengan senyuman. Mas Arre menutup matanya, terlihat mencoba menguatkan dirinya sendiri, dan jika bukan karena jarakku yang jauh darinya, aku pasti sudah menggenggam tangannya, persis seperti yang dilakukan Mas Ega kepadaku saat ini.

“Val, bisakah kau mendekat?” pinta Nika membuat semua yang berada di ruangan ini memandangku penuh tanya, “Kumohon.”
Dengan ragu aku mendekat, dan berada di sebelah Mas Arre.
“Kak, berikan tanganmu,” pinta Nika, Mas Arre mengikutinya dengan patuh, “Val, berikan tanganmu juga,” lanjutnya, dan sekarang giliranku untuk mengikutinya dengan patuh.

Nika tersenyum, dengan perlahan dia menempatkan tanganku di atas tangan Mas Arre, membuat kami saling menatap.
“Aku ingin kalian menikah malam ini juga,” Nika mengatakan itu sambil menatap aku dan Mas Arre secara bergantian.
Spontan aku dan Mas Arre serempak berkata, “Apa?!”

Aku pun mendengar respon yang sama dari semuanya. Saat itu juga, Mas Arre menarik tangannya, dan aku mengikutinya. Ucapan Nika membuatku tak tahu harus bereaksi seperti apa. Bagaimana bisa??!!! Oh, Tuhan, aku harap Nika sedang mengigau. Tidak!! Tidak!! Tidak!!! Aku tidak mengharapkan kata-kata seperti itu keluar dari mulutnya. Tuhan, tolonglah, semoga aku salah dengar, kumohon, Tuhan.

“Tidak, tidak, Nika. Jangan bicara sembarangan, kami tidak mungkin menikah!” potong Mas Arre.
“Kenapa tidak, Kak? Mom, Dad, kalian tidak keberatan bukan?”
Sejenak Bude dan Pakde saling memandang sebelum Bude berkata, “Tidak, kami tidak keberatan, tetapi tidak seharusnya kau mengatakan itu semua saat ini, kau harus berusaha untuk sembuh, Nika.”
“Mom, waktuku tidak banyak, aku tahu itu,” Nika berhenti sejenak untuk mengambil nafas sambil menutup mata, terlihat menahan sakit yang sedang dia rasakan, “Maka dari itu aku memanggil kalian untuk mengabulkan permintaan terakhirku ini, kumohon.”

“Nika, kumohon, jangan lakukan ini,” pinta Mas Arre sambil menggenggam tangan Nika.
“Kak, aku mohon kabulkan permintaan terakhirku, lakukanlah demi aku dan Arine. Kalian pasangan yang serasi, kalian saling melengkapi, tidak akan ada yang meragukan itu semua.”
“Nika, sebaiknya kau fokus pada kesehatanmu, jangan berfikir yang tidak-tidak,” ucap Tante Aya.
“Mah, kumohon, bantu aku mewujudkannya, jangan menghalangiku.”
“Hentikan semua omong kosong ini!! Kenapa kau mengatakan semua ini!! Apa kau pikir aku akan berdiam diri melihatmu seperti ini?!! Aku akan menyembuhkanmu, aku pasti bisa menyembuhkanmu!!” pekik Mas Arre, walaupun dia mengucapkannya dengan nada sekasar itu, tetapi terlihat jelas dia sedang menutupi ketakutannya.

“Mba, sadarkah kau apa yang kau lakukan ini?” isakku.
“Kau dokter, Val, kau tentu tahu seberapa parah lukaku,” dia tersenyum miris mengatakan itu semua.
“Aku memang dokter, tetapi dokter bukan cenayang, Mba, semua ada di tangan Tuhan. Mba harus percaya kalau Mba pasti akan sehat kembali.”

Dia tersenyum miris dan melanjutkan, “Jangan berbohong padaku, Val.”
Aku terdiam.
“Mom, Dad, Mah,” Nika berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Kumohon, ini yang terbaik.”
“Sebaiknya kau beristirahat,” saran Pakde.
“Aku akan beristirahat segera setelah aku mendapatkan jawaban, Dad.”

Aku tidak mungkin melakukan semua ini, benar bukan, Tuhan? Oh. Ya. Ampun. Kenapa semua harus terjadi seperti ini? Tidak pernah sekalipun aku bermimpi menikah dengan Mas Arre dengan cara seperti ini! Tetapi kenapa aku merasa seolah-olah hati kecilku mensyukuri semua ini? Cukup, Val!!! Kemana hati nuranimu??!!

Tidak boleh, Val!!! Kamu tidak boleh egois dan memikirkan kebahagiaan dirimu sendiri!! Apa bisa kamu bahagia dengan keadaan seperti ini? Apa kau benar-benar mampu merawat Arine nantinya, Val?! Oh, Tuhan, berikan aku petunjuk-Mu, kumohon, Tuhan.

“Akan ku lakukan,” ucapan Mas Arre menyadarkanku dari lamunan. A-Apa??!!!
“Benarkah? Kau tidak sedang membohongiku bukan, Kak?” sahut Nika antusias, ada rona merah di wajah pucatnya.
“Tidak, aku berkata yang sesungguhnya, akan aku lakukan. Aku akan menikah dengan Val, malam ini juga.”
A-APA???!!!

When the rain is blowing in your face,
And the whole world is on your case,
I could offer you a warm embrace
To make you feel my love.


When the evening shadows and the stars appear,

And there is no one there to dry your tears,
I could hold you for a million years
To make you feel my love.
(Adele – Make You Feel My Love)
~~o00o~~

Aku masih terdiam di ruang tunggu entah sudah berapa lama sementara mereka masih berada di dalam. Entah apa yang terjadi barusan, semua terjadi begitu cepat, begitu Mas Arre menyatakan kesediaannya untuk menikah denganku, Nika meminta Mas Arre untuk melepaskan cincin nikahnya. Semua keberatan-tentu saja-tetapi Nika berdalih untuk sementara dijadikan cincin pertunangan kami. Maka dengan perlahan Mas Arre melepaskan cincin di jari manis Nika-dengan raut wajah yang tak mampu ku artikan-dan memasangkannya di jari manisku. Bagai robot aku mengikuti semua yang diperintahkan, aku tidak tahu apa aku harus senang atau sedih, aku benar-benar tidak tahu. Kemudian mereka langsung membicarakan teknis pernikahan, seolah-olah aku tidak berada di sana. Merasa tidak ada gunanya aku ada di dalam, aku pamit keluar, toh tidak ada bedanya.

“Val,” panggilan Mas Ega membuatku mendongakkan kepala, “Apa kau baik-baik saja?”
“Apa aku masih berhak untuk merasa baik-baik saja? Sementara aku tidak punya hak lagi untuk berbicara.”
“Bukankah ini yang kau inginkan?”

Ucapan Mas Ega menohok hatiku, walau setengah mati aku mengharapkan menikah dengan Mas Arre, tetapi tidak seperti ini! Damn It!!
“Seperti itukah aku di matamu, Mas?” aku tersenyum miris mendengarnya sambil menatap nanar cincin yang bertengger di jari manisku.
“Bukan itu maksudku, Val. Setelah sekian lama, akhirnya kau akan menikah dengan Arre, seharusnya kau bahagia.”
Aku tidak pernah menginginkan pernikahan dengan cara seperti ini, For God’s Sake!!.

 “Val, Nika memanggilmu,” ucap Bude, aku berdiri dengan enggan, “Bude tahu, tidak seharusnya Bude merasakan semua ini, tetapi Bude senang, akhirnya kau bisa menjadi menantu Bude. Jangan khawatir, walaupun pernikahan dilakukan di rumah sakit karena kondisi Nika yang tidak memungkinkan, tetapi kami akan membuat semuanya sesempurna mungkin. Sekarang, sebaiknya kau menemui Nika dan segera bersiap setelahnya, Arre sudah mulai mengurus semuanya sejak tadi,” jelas Bude sambil tersenyum.

“Jangan berfikir macam-macam, karena semua akan beres, kami pergi dulu, Val. Sampai jumpa nanti malam,” ucap Pakde sambil mengelus pucuk kepalaku dan tak lama mereka meninggalkanku.

Begitukah?
“Valerie,” aku menoleh mendengar namaku dipanggil selengkap itu, dan ternyata yang memanggil Tante Aya.
“Ya, Tante?”
“Bisa kita bicara sebentar sebelum kau masuk?” ucapnya dan seolah mengerti arti ucapan itu, Mas Ega pamit untuk masuk ke dalam dan meninggalkan kami.
“Ada apa, Tante?” tanyaku setelah Mas Ega masuk.

“Tante tahu, semua ini pasti berat untukmu, bertapa tidak masuk akalnya permintaan Nika ini, menyuruhmu menikah dengan lelaki yang sudah mempunyai anak dan semua serba dadakan seperti ini. Nika sudah menjelaskan maksud permintaannya tadi di dalam. Kau dan Arre sepupu dari pihak Ibu, itu berarti kalian bisa menikah, terlebih lagi kalian sudah dibesarkan bersama, kalian sudah terbiasa saling melengkapi, itu kunci utama pernikahan. Dan yang paling penting, kau dan Arine masih berhubungan darah, kau tidak mungkin menelantarkannya nanti.”

Tante Aya terdiam sejenak sebelum melanjutkan, “Itulah yang melatarbelakangi alasan permintaan Nika, dia memikirkan masa depan Arine. Dia tidak mau Arine memiliki Ibu yang tidak bisa menyayangi dan merawatnya dengan baik,” Tante Aya menghela nafasnya sejenak, “Bisakah Tante memintamu melakukan 1 permintaan tambahan?”
Deg! Permintaan tambahan? Permintaan tambahan macam apa yang diinginkan Tante Aya?

“Apa itu, Tan?” tanyaku hati-hati.


Dia mengambil tanganku dan menaruhnya diantara kedua tangannya, “Valerie, bisakah kau mengizinkan aku dan suamiku untuk mengunjungi Arine sewaktu-waktu? Nika anak tunggal, dan jika Nika,” dia mengambil nafas dalam-dalam, seolah sedang mencari kekuatan tambahan sebelum melanjutkan, “Jika Nika meninggal, hanya Arine satu-satunya pelipur lara kami. Aku janji tidak akan mencampuri didikanmu kepada Arine, aku menyerahkan sepenuhnya kepadamu dan juga Arre, tetapi kumohon izinkan kami menemui cucu semata wayang kami.”

Aku tersenyum mendengar penjelasan Tante Aya, “Tentu saja, Tante. Aku tidak akan melarang Tante dan juga Om untuk bertemu dengan Arine, bagaimanapun kalian adalah Oma dan juga Opa Arine, siapalah Val ini sampai-sampai Val berani melarang seperti itu.”
“Syukurlah,” ucap Tante Aya tanpa menutupi kelegaannya, “Nika benar, kau memang pantas menjaga Arine. Masuklah, Nika sudah menunggumu,” lanjut Tante Aya sambil memegang pipiku.
~~o00o~~

“Apa kau yakin itu semua aman, Ega?” terdengar Mas Arre sedang bertanya kepada Mas Ega sambil duduk di samping ranjang Nika, tidak menyadari aku yang sudah berada di dalam.
“Kemarilah, Val,” ucap Nika riang, kenapa dia bisa tersenyum seperti itu?
“Kalian berbicaralah dulu, kami akan menunggu di luar,” pamit Mas Arre sambil mencium kening Nika dan ketika berada di dekatku, dia mencium pipiku.
Sementara Mas Ega hanya tersenyum kikuk ke arahku, terlihat sedikit canggung setelah pembicaraan kami yang terpotong tadi.

“Terimakasih, Val, terimakasih kau mau mengabulkan permintaanku,” ucap Nika setelah kami berdua di dalam, “Aku tahu, aku egois terhadapmu, tetapi aku tidak punya pilihan lain. Berjanjilah, Val. Berjanjilah untuk menjaga Arine dan juga Kak Arre untukku. Buat dia menyadari semua perasaannya kepadamu, dan hiduplah bahagia. Jangan biarkan Kak Arre larut dalam kesedihan karena menyalahkan dirinya sendiri. Aku melakukan ini semua demi Arine, aku tidak ingin Arine tumbuh besar tanpa kasih sayang seorang Ibu,” lanjutnya dengan suara yang lemah.

“Tak bisakah kau meminta hal ini kepada orang lain, Mba?”
“Tidak, Val, karena kau mencintai Kak Arre dan begitupun sebaliknya, walaupun saat ini Kak Arre masih belum mau mengakuinya,” dia memejamkan matanya.
Aku masih terdiam, tidak tahu harus mengucapkan apa, tetapi airmata mulai mengalir di pipiku.

“Aku yakin kau tidak akan menyakiti Arine setelah kalian menikah, kau mampu mengikhlaskan kami untuk menikah dan meninggalkan kami setelahnya. Itu semua sudah cukup membuktikan kau akan menjadi Ibu yang baik bagi Arine, karena kau sanggup melakukan apapun untuk orang yang kau cintai, termasuk merawat anak dari lelaki yang sangat kau cintai, Val,” dia membuka matanya ketika mengatakan itu semua.

Untuk sejenak kami berpandangan mata tanpa ada kata yang terucap, tidak ada lagi yang bisa aku lakukan, bukan? Tuhan, kuatkan Val.

I know you haven't made your mind up yet,
But I would never do you wrong.
I've known it from the moment that we met,
No doubt in my mind where you belong.


I'd go hungry; I'd go black and blue,

I'd go crawling down the avenue.
No, there's nothing that I wouldn't do
To make you feel my love.
(Adele – Make You Feel My Love)
~~o00o~~

“Maafkan aku, Val. Aku tahu aku egois, sangat-sangat egois memaksamu melakukan yang tidak kau inginkan,” ucap Mas Arre ketika kami sudah berada di dalam mobil, berniat membeli cincin pernikahan.
Melakukan apa yang tidak aku inginkan, Mas? Apa kau tahu apa yang aku inginkan?!!
Alih-alih mengatakan itu semua, aku hanya terdiam.

“Aku tidak punya pilihan lain kecuali mengabulkannya. Seperti yang kau tahu, Dokter sudah menyerah dengan keadaan Nika, kita harus membangkitkan semangat hidupnya untuk membuatnya mampu bertahan dengan mengabulkan keinginannya.” dia berhenti sejenak seraya mengukur reaksiku sementara aku memalingkan wajahku, tidak berani memandang ke arahnya dan melanjutkan ketika aku tidak bereaksi apa-apa.

“Kumohon maafkan aku, Val,” pinta Mas Arre sambil menggenggam tanganku.
There’s nothing that I wouldn’t do for him, that’s true. Tetapi, apa aku sanggup melakukan semua ini? Apa aku mampu memaafkan keegoisannya yang membuat aku berada dalam situasi seperti ini?
“Jika semua ini berat untukmu, aku akan mencari cara untuk membatalkannya, segera. Kau tidak perlu khawatir, tetapi untuk saat ini aku memohon kesediaanmu, Val, untuk tetap menikah denganku,” lanjutnya dengan nada suara dingin dan menekankan kata ‘segera’.

Bagai patung aku masih saja terdiam dari posisiku dengan air mata yang sudah mengalir deras entah sejak kapan, mencoba menelaah apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Membatalkan pernikahan segera? Apa menurutmu pernikahan hanya untuk main-main saja, Mas?!

“Demi Tuhan, Valerie!!!! Bicaralah padaku apa yang ada di dalam kepala mungilmu itu!!! God Damn It!!!” umpatnya sambil memukul setir mobil.
Aku terkejut dengan reaksi Mas Arre, sudah lama dia tidak membentakku seperti itu. Apa aku berlebihan mendiamkannya seperti ini? Tetapi ini hakku bukan? Aku juga punya hak untuk mendiamkannya, ini hidupku, tetapi mengapa aku tidak diizinkan untuk mengungkapkan apa yang aku inginkan? Kenapa dia tidak pernah menanyakan kesediaanku terlebih dahulu??!! Aku marah, sangat marah kepadanya!! Tetapi kenapa tidak sedikitpun kemarahan ini mampu mengurangi cintaku padanya? Oh, Tuhan….

“Lebih baik kita bergegas, Mas. Jangan fikirkan aku, aku baik-baik saja,” jawabku tanpa menoleh ke arahnya dan menghapus airmataku. Tepatkah cara ini, Tuhan?
Seakan mengerti keenggenanku membicarakan semua ini, Mas Arre langsung menekan pedal gas dan menuju jalan raya.
~~o00o~~

Dengan malas aku memilih cincin pernikahan dan lebih menyerahkan semuanya ke Mas Arre. Untuk apa aku susah payah memilih cincin yang aku sukai kalau ternyata cincin itu hanya dipakai sesaat? Terlihat jelas Mas Arre geram dengan tingkahku, dan dia tepat untuk tidak membahasnya saat ini, karena aku pasti akan langsung meledak saat ini juga.

Diam-diam aku mengutuk diriku sendiri yang terlalu mencintai Mas Arre, karena setelah kejadian ini semua, tidak sedikitpun mampu membuatku membencinya, tidak sedikitpun! Dan kenapa harus ada cinta macam ini Tuhan? Kenapa kau harus mentakdirkan diriku merasakan cinta seperti ini? Oh, Tuhan, kuatkan aku.

“Val, kita sudah sampai,” ucapan Mas Arre menyadarkanku dari lamunan, “Aku hanya bisa mengantarkanmu sampai di sini, kau bersiap-siaplah. Jangan fikirkan macam-macam, karena semua sudah diatur dengan rapih, kau hanya perlu berdandan yang cantik. Ega akan menjemputmu nanti malam,” lanjutnya sementara aku masih memperhatikan sekeliling.

Ternyata aku diantar di sebuah salon dan spa langganan Bude, biasanya tempat ini selalu ramai, lantas kenapa hari ini sangat lengang? Seperti sudah di booking untuk tidak menerima tamu, apa iya Bude membooking tempat ini untukku? Sementara aku melamun, ternyata Mas Arre sudah keluar dari mobil dan membukakan pintu untukku.

Aku melangkahkan kaki keluar mobil, dan sebelum memasuki pintu, Mas Arre menarik tanganku dan berkata, “Aku tahu kau marah padaku, Val, dan kau berhak memperlakukanku seperti ini,” dia terdiam untuk membetulkan posisi poni di keningku dan melanjutkan, “Tetapi aku tidak bisa pergi sebelum aku mendengar persetujuan langsung darimu.”

“Persetujuan macam apa lagi yang kau inginkan, Mas? Bukankah semuanya sudah diatur? Tidak ada gunanya lagi pendapatku saat ini, pergilah. Aku tidak akan lari,” dan aku langsung memasuki pintu meninggalkan Mas Arre yang masih terdiam tanpa menoleh lagi.

Begitu masuk ke dalam, aku langsung disambut petugas Spa yang menyapaku ramah, dan mengantarkanku ke tempat perawatan. Sudah lama sekali aku tidak ke sini, dan tidak ada yang berubah termasuk dekorasi serta backsound lagu yang didominasi seni Jawa. Aku selalu merasa nyaman memasuki tempat ini, benar-benar tempat yang tepat untuk melakukan perawatan, karena tidak hanya badan yang nyaman, tetapi perasaan setiap orang yang datang juga akan merasakan hal yang sama. Untuk sejenak aku berusaha melupakan kegundahan hati dan berusaha menikmati semua perawatan yang sudah dipesankan untukku saat ini.
~~o00o~~

Tepat pukul 7 aku dikabari bahwa Mas Ega sudah datang, dan sedari siang menjelang sore tadi, aku tidak mendapat kabar apapun mengenai Nika, itu berarti keadaannya stabil. Aku memandang cermin untuk terakhir kalinya sebelum melangkahkan kaki menuju pintu. Aku puas dengan semua yang aku dapat di sini, perawatan, makeup, gaya rambut, gaun serta bunga pengantin. Terutama gaun, aku sangat menyukai gaunnya, panjangnya sampai di lutut, dengan bahu yang terbuka tetapi tidak terkesan ‘nakal’, benar-benar tidak berlebihan, simple dan elegan.

Entah siapa yang membelikannya, tetapi gaun itu benar-benar pas di tubuhku, seolah-olah memang diciptakan khusus untukku. Walaupun bukan seperti ini pernikahan yang aku inginkan, tetapi gaun ini cukup menghiburku. Aku sempat mengira jenis gaun yang akan aku terima mirip dengan gaun yang dipakai Nika 4 tahun silam mengingat sedikitnya waktu mempersiapkan ini semua, tetapi begitu aku menerima gaun ini jam 5 sore tadi, aku benar-benar terkejut. Yah, setidaknya ada 1 hal yang bisa menghiburku.

Aku melihat reaksi terkejut Mas Ega melihat penampilanku, tetapi aku berpura-pura tidak melihatnya.
“Kau sangat cantik, Val.”
“Terimakasih,” sahutku cuek.

Sepanjang perjalanan kami hanya terdiam, aku tidak berniat membuka percakapan dengannya, hingga akhirnya kami berada di lampu merah, Mas Ega membuka percakapan.
“Maafkan perkataanku tadi siang, Val, aku tidak bermaksud begitu,” pintanya.
Aku menghela nafas dan menjawab, “Tidak ada yang perlu dimaafkan, Mas, karena memang itu kenyataannya.”

“Val, aku tahu kau masih marah padaku dan aku tahu kau juga pasti sedang kalut menghadapi ini semua, tetapi aku akan selalu ada untukmu. Kalau kau ingin melampiaskan kemarahan, kekalutan dan kegundahanmu, aku siap menerima semuanya. Tetapi tolong, maklumi keputusan Arre, karena dia melakukan semua ini demi Nika, dia sekarat, Val.”
Aku menghela nafas sejenak, “Aku tahu, Mas.”
Aku tahu, aku mengulang kata itu dalam hati sambil memandang kelamnya langit malam ini.

The storms are raging on the rolling sea
And on the highway of regret.
Though winds of change are blowing wild and free,
You ain't seen nothing like me yet.


I could make you happy, make your dreams come true.

Nothing that I wouldn't do.
Go to the ends of the Earth for you,
To make you feel my love
To make you feel my love
(Adele – Make You Feel My Love)
~~o00o~~

Sesampainya di rumah sakit, kami tidak masuk menggunakan pintu utama, tetapi menggunakan pintu khusus karyawan rumah sakit. Karena entah mengapa, sudah banyak wartawan menunggu di pintu masuk utama. Dengan kesuksesan yang digelar keluarga Rafandra, seharusnya aku tidak perlu kaget berita sudah menyebar dengan cepatnya. Entah apa yang akan ditulis di headline besok, dan aku membuang jauh-jauh semua pemikiran tidak masuk akal yang sedang berkelebat di kepalaku.

Seperti sudah diatur, beberapa anak buah keluarga Rafandra berjajar di pintu masuk itu, dan ketika kami sudah melewati pintu, mereka mengikuti kami di belakang. Apa ini semua tidak berlebihan? Ternyata lorong yang kami lewati kosong, tidak ada siapapun, di sepanjang lorong itu, bertabur bunga mawar putih, senada dengan gaun yang aku gunakan. Aku menoleh ke Mas Ega dan belum sempat aku ajukan pertanyaan yang sedang terlintas di kepalaku, dia sudah menjawab terlebih dahulu.

“Ini ide Arre.”
Aku mengerutkan kening mendengar jawabannya, ide Mas Arre? Oh, berarti ini semacam kamuflase, karena bagaimanapun tidak ada yang boleh tahu pernikahan ini hanya sesaat bukan? Hanya kami berdua. Dan, oke, walaupun ini hanya kamuflase, aku sungguh menghargainya, aku sangat menyukai ide ini. Menikah di rumah sakit, di waktu yang teramat singkat, dengan taburan mawar putih di sepanjang lorong, betapa sempurnanya pernikahanmu, Val, hiburku dalam hati.

Ternyata lorong itu mengarah langsung ke gereja kecil di dalam rumah sakit, ketika aku sudah berada di depannya, samar-samar aku mendengar suara denting piano. Piano? Di dalamnya ada piano? Dadaku berdegup kencang, sumpah mati aku berusaha menstabilkan degupanku tetapi tidak bisa, dadaku semakin berdegup tak karuan. Seperti inikah rasanya menjadi pengantin? Mah, lindungi, Val.
“Apa kau siap, Val? Ini saatnya,” ucap Mas Ega sambil tersenyum.
Apa aku siap?
“Berikan tanganmu,” pinta Mas Ega dan aku menurut.

“Mas, aku takut,” ucapku dengan suara bergetar.
“Tidak perlu takut, aku tidak akan membiarkanmu jatuh, semua akan baik-baik saja,” hibur Mas Ega sambil menepuk-nepuk tanganku yang berada di lengan kirinya.
Perlahan kami masuk ke dalam, dan aku sempat terkejut melihat dekorasi di dalamnya, mawar putih dimana-mana, di dinding, di sekitar bangku, di sekitar altar, dan terutama di sepanjang jalan menuju altar dangan lilin di kanan dan kiri jalan menambah intens suasana. Oh, Ya, Ampun. Ini, benar-benar indah…

Tanpa sadar mataku menangkap ada yang aneh di sebelah kanan altar, dan ternyata ada layar besar yang menayangkan Nika secara live di ruangannya, sedang tersenyum dan dari jarak sejauh ini aku bahkan bisa merasakan ketulusan serta kebahagiaan dari senyumannya. Tuhan, maafkan aku, tetapi kenapa kau menggariskan hidup Nika seperti ini?

Ternyata Pakde yang memainkan piano dan dia tersenyum ke arahku, kemudian aku melihat Bude, Tante Aya, Om Bram dan Arine yang berada di gendongannya, tak ketinggalan hadir ayah dan ibu Mas Ega yang tersenyum ke arahku. Ketika tidak ada lagi yang bisa aku lihat-karena jarakku dengan altar sudah semakin dekat-aku melihat Mas Arre dengan tuksedo hitamnya. Dan tanpa bisa aku cegah, kepalaku memutar kembali kejadian 4 tahun silam ketika Mas Arre menikah dengan Nika, aku sempat mengatakan lebih menyukai Mas Arre menggunakan tuksedo hitam dibanding tuksedo putih. Dan sekarang, dia mengenakan tuksedo hitam, berdiri di depan altar, menungguku.

Ketika tatapan mata kami bertemu, ada perasaan hangat menjalar di seluruh tubuhku. Tuhan, jadikanlah pernikahan ini permanen, aku sangat mencintai lelaki sempurna yang sedang berdiri di altar itu, Tuhan. Sangat! Aku tahu, ini terdengar sangat egois, tetapi buatlah dia merasakan cintaku, Tuhan. Berkati pernikahan kami, Tuhan, aku sangat mencintainya dan tidak akan sanggup jika menjalani pernikahan ini hanya untuk sesaat saja. Buat dia mencintaiku, Tuhan, kumohon.

Aku memejamkan mataku sejenak, dan ketika membukanya, aku sudah berada tepat di depannya. Dia tersenyum, tetapi bukan jenis senyuman yang sama yang dia tunjukkan 4 tahun silam, tidak ini berbeda. Dan itu membuat hatiku berdenyut perih, sadar tempatmu, Val!! Mas Ega menyerahkan tanganku kepadanya dan selama proses pemberkatan, mataku tak bisa berpaling darinya, mengunciku di dalamnya.

Barulah ketika kami diumumkan sebagai sepasang suami istri, aku memutuskan kontak mata, menutup mata dan mencoba meyakinkan diriku sendiri ini bukan mimpi. Begitu membuka mata, dia sudah mendekatkan wajahnya, menjadikan jarak kami tidak lebih dari sejengkal, perlahan dia mendekati bibirku, dan tepat ketika bibirnya menyentuh bibirku, aku menutup mata, merasakan luapan perasaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya menyeruak, menguasai diriku.

Setengah mati aku mencoba mengendalikan diri, berusaha menelaah perasaan yang sedang dirasakan Mas Arre saat ini. Mencoba mengartikan setiap sentuhan bibirnya, lidahnya serta suara geramannya selama kami berciuman. Tidak, tidak ada reaksi yang aku takutkan, tidak ada perasaan yang aku takutkan, dia justru semakin mengetatkan pelukannya, membanjiri diriku dengan aliran listrik yang belum pernah aku rasakan. Oh, Tuhan, apa yang terjadi padaku?

Suara batuk-batuk disengaja Mas Ega-lah yang menyadarkan kami dari ‘kegiatan kecil’ kami, Mas Arre mencium keningku seraya mencari nafas setelah melepaskan pagutannya, sementara aku masih sibuk mengatur degupan jantungku supaya normak kembali dan  bernafas. Oke, what was that?

Segera setelah kami menandatangani beberapa surat dan saling memakaikan cincin-oke, mungkin lebih tepatnya: dia memakaikanku cincin- kami mendekati keluarga. Karena Mas Arre tidak melepaskan cincin nikahnya dengan Nika, hanya aku yang memakai cincin nikah kami, tidak mungkin bukan dia melepas cincin nikahnya dengan Nika sementara mereka masih resmi berstatus suami isteri? Inilah pengorbanan pertamaku, di pernikahan sesaatku, mengalah tidak memakaikan cincin pernikahan kami di jari manis Mas Arre, suami sesaatku.

“Sekarang kau tidak boleh memanggil Bude lagi, kau harus memanggilku dengan sebutan Mom,” ucap Bude sambil memelukku.
“Iyah, B-err, Mom,” jawabku.
“Kau benar-benar cantik, persis seperti Mamahmu.”
“Mom,” ingat Mas Arre
“Oh, maafkan Mom, sayang.”
“Tidak apa, Mom,” jawabku.

“Selamat yah sayang, semoga pernikahan kalian langgeng,” aku langsung mengamini ucapan Pakde-oke, Dad-dalam hati.
“Terimakasih, Dad.”
Untuk beberapa saat kami sibuk bersalaman dengan keluarga, dan ketika hendak menuju ruangan Nika, Arine memanggil Mas Arre.

“Daddyyy!!” teriak Arine dan langsung menghambur ke pelukan Mas Arre, “Kenapa Mommy ada di sana dan tidak ada di sini?”
Mas Arre dan aku saling melirik mendengar pertanyaan Arine, “Mommy masih sakit, sayang. Jadi, Mommy tidak ada di sini,” jawab Mas Arre.

“Kapan Mommy pulang? Arine kangen Mommy,” rengek Arine sambil memainkan dasi Mas Arre.
“Mommy juga kangen Arine, tapi Mommy harus ada di sana supaya cepat sembuh. Arine mau Mommy cepat sembuh kan?” jelas Mas Arre sabar.
Arine mengangguk.
“Nah, sekarang Arine sama Eyang Uti dulu yah, Daddy mau ke ruangan Mommy,” jelas Mas Arre sambil menyerahkan Arine kepada Mom dan langsung menggenggam tanganku.

~~o00o~~ 

~TBC~



16 comments:

  1. Mksh Mba Ciiinnn,,mksh atas smw support n msukan2nyaaa... *peluk2*

    Haaiiiiii kawan smuaaa....
    Maaf klamaan update...
    Smg brkenaann.. Selamaaaaattttt Membacaaaaa....
    *nunduk*

    ReplyDelete
  2. Well... That was awesome..
    Tapi kenapa kesini2nya aq malah merasa bosan ya Vie??
    Aq pengennya Valerie bisa move on dari Arre dan mulai menata hidupnya dengan Ega..
    For me, he's a Great Man!

    But overall..smga koment aq nie g let u down, yaa..
    Keep writing and Semangat!

    *KissKiss_MuaahMuaaahh..
    Thankies Darl'..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe,,udh bosen yah Mba?? Vie jg kmrn mpe bosen ngtikny,, *eehhh* xixixixi
      Pan jdulny Make You Feel My Love Mba Ris,,interpretasi lgu ni bgi Vie yaaaaa bgni lah...
      Gmn 'skit'ny Val nahan cntany,,ngbwt Arre mrsakan cntany..
      Crta aseli dkpala sbnrny jauuhhhhh lbih tragis,,prjuangn si Val bnr2 klhtn.. Tp p mw dkata,,tgn ni tak mmpu mnuliskan smw yg d dikepala.. Jdilah part4 ni stlh hsl pngeditan 2mggu (baca : semedi 2mggu nyari pangsit) ;p

      Klo Val jd sm Ega,,jdulny dgnti nnti Mba Ris.. Xixixixi
      Gaaaa koq Mba Riiiss.. Udh nyiapn hati sblm ngrim crta ni k Mba Cin.. Hehehehe

      Mksh Mba Riiisss,,mksh udh bc n komen
      *peluk2 smpe megap*
      :D

      Delete
    2. Thanks juga cantik.
      Keep writing, yaa..
      Aq harap di endingny nanti ada twist yang spesial..hehehehhe

      #smooch

      Delete
  3. kerrreennn....
    kasian bgt sih Val jadi yang tersakiti terus...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Krn Val pmeran utamany, Mba Angel :P
      Hehehe
      Krn tema cerminny lagu Adele-Make You Feel My Love,,stiap lht vidclipny sllu nangis.. Jadiii yah,,spt ni lah nsib Val *kedip2*

      Mksh Mba Angel.. Mksh udh bc n komen
      :D

      Delete
  4. Replies
    1. Yaaa ampyuunn Ekaaaa... Hehehehe

      Mksh Eka udh bc n komen...
      :D

      Delete
  5. So awesome story!:D
    Ya ampun.. Ddaku sesek bgt..:'(
    Brasa ap yg d rsain Val n Nika n Arre..:'(
    Gmna nih ntar klanjutanny?:'(:'(:'(
    Jgn lma2 ya lnjutiny..:'(:'(:'(
    Mkasih Vie!!!:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. *elus2 dada Mba Mendy*
      Sedih yah,,hukz...
      Ga lama koq,,plg g sbntar :p
      Hehehe...

      Mksh Mba Mendy,,mksh udh bc n komen
      :D

      Delete
  6. Good job vie...tapi jangan kelamaan ya part berikutnya, jadi amoeba aku...xixixixixxi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mksh Mba Ditaaa (bnr g pggilanny ntuh?? Hehehe)
      Maap klmaan... *nunduk*
      Mksh udh bc n komen...

      Delete
  7. suka kok ama ni crita..... tpi bener kata mba dita agak lama untuk part selanjutnya jdi feelnya harus dibgun lgi deh...
    good job vie

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe,,Maap Maayyyy.. Maap klamaan...
      *nunduk*
      Mksh Maayy,,mksh udh bc n komen :D

      Delete
  8. Wah mbak vie, setelah tiap menit dr part 3 slalu buka tutup website akhirnya ada jg lanjutannya...makasih y atas hasil semedinya...kayaknya keren nih kl dibuat pov dr si arre...#eh
    Makasih y mbak shin...
    *duduk manis nungguin bab 5...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mkasiihhh Mba Astriiidd.. Mksh mw setia mnunggu.. Hehehehe
      Waahhhh,,Mba Astrid ngntip obrolan Vie sm Mba Cin yakz?? Hahahaha koq tahuuuuuu sihhh mw dbwt pov Arre?? Tapiiii (smg) sbr mnunggu yah,,soalny saya bnr2 moody,, daannn moody-ny paraahhh.. *nunduk*
      mksh udh bc n komen :D

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.