"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Monday, October 7, 2013

Not So Tough Lady - Part 3


“Anda sudah lebih baik?” tanya Bren sembari mengulurkan tissue pada Magdalena. Mereka berdua kini sedang berada di dalam kamar tamu tempat Bren beristirahat. Sudah pukul dua dini hari ketika Magdalena akhirnya berhenti menangis, hatinya lega, dan anehnya dia tak merasa malu menangis di hadapan laki-laki muda yang juga seharusnya asing baginya.

“Ya, thanks to you,” jawab Magdalena malu-malu.


“It’s my pleasure, Mam,” ujar Bren pelan. Mereka duduk di atas sofa empuk dalam posisi yang sangat intim. Tubuh Magdalena bersandar pada dada Bren dan kedua tangan laki-laki itu tengah memeluk Magdalena agar tak terjatuh. Lalu dengan canggung Bren melepaskan pelukannya.

“I’m sorry,” ujar Bren salah tingkah. Mereka kemudian mengambil jarak yang cukup jauh di atas sofa. Seolah tak ingin berdekatan lagi.

Hati Magdalena serasa dicubit saat Bren melepaskan pelukannya, dia memang tak pernah meminta khusus agar Bren memeluknya, namun pelukan hangat Bren mampu membuai Magdalena dan menghiburnya dari kesedihan yang mendalam. Saat laki-laki itu menjauh, kesepian kembali memenuhi hati Magdalena.

“Aku rasa aku mengganggumu, tidurlah.” Magdalena bangkit dari sofa dan berlalu keluar menuju kamarnya.

“Mam... I...” panggil Bren spontan. Dia tergagap gagu, bingung dengan apa yang ingin dikatakannya.

“Yes?” tanya Magdalena menunggu.

“No, it’s ok. Good night, have a nice sleep.”

Sekejap Magdalena tak membalas, lalu dia menyunggingkan senyum simpul, “You, too. Good night.” Dan wanita itupun menghilang di balik pintu.

Bren melemparkan tubuhnya ke atas ranjang, mengusap wajah dan rambutnya dengan frustasi, “Damn!! Apa yang sudah aku lakukan?! Aku bisa dipecat!! Damn!! Damn!! Damn!!” dan Bren tertidur masih dengan kemeja tidur yang basah di bagian dada bekas tangisan Magdalena.

Setelah sarapan pagi yang sepi, karena tak ada yang bersuara di antara mereka, Magdalena yang kembali menjadi dingin dan acuh tak acuh, Bren pun menghela nafasnya. Dia memilih kembali ke rumahnya sendiri dengan menaiki taksi. Magdalena tak menemuinya saat Bren pergi, dia sedang menerima telephone dan tak dapat mengantarkan kepergian Bren. Itulah yang dikira oleh Bren. Kenyataannya Magdalena tengah memperhatikan laki-laki itu melalui cctv yang terpasang di seluruh ruangan dan sudut halaman. Magdalena menonton berulang-ulang saat dimana Bren tengah memeluknya semalam.

~*~*~*~*~

Hari-hari berjalan seperti biasa bagi Bren. Dia tak pernah memikirkan perkataan Magdalena yang berjanji akan memastikan karirnya di perusahaan itu. Bren hanya mengerjakan pekerjaannya dengan serius, berharap dapat mengerjakan sesuai target dan jadwal agar dia mendapat sedikit waktu untuk melepaskan stres yang menumpuk karena pekerjaan tiada habis di atas mejanya.

Suatu siang, Bren dipanggil menghadap ke kantor Presiden Direktur.

“Duduk,” perintah Thomasson padanya. “Aku tak akan lama-lama. Do you want a sum of salary, of a hundred million rupiah per month, some bonuses, health insurance, accomodation, transportation, even clothings and else will be paid for you by the company if you willing to take this job. Pekerjaan ini hanya untuk orang tertentu, tidak ditawarkan dua kali dan kau bekerja dua puluh empat jam nonstop, tanpa mengeluh, tanpa membantah dan tanpa cela. Bila kau mau, maka semua itu menjadi milikmu.” Thomasson mengamati wajah Bren yang datar seolah tak terpengaruh dengan apa yang baru saja dia ucapkan, padahal di dalam hati, pikiran laki-laki itu berkecamuk dipenuhi kebingungan.

“So, what do you say? Yes, or no? Jawab sekarang. Bila kau sudah keluar dari kantor ini, kesempatanmu melayang.”

Thomasson menyalakan cerutunya, gerakannya secara tak langsung mengintimidasi Bren yang tengah memikirkan tawaran itu, untung dan ruginya.

“Pekerjaan apa itu, Sir?” tanya Bren masih dalam kebingungan.

“Salah satu syarat adalah, kau tak mempertanyakan pekerjaanmu. Yang jelas kau tidak akan disuruh membunuh atau melakukan tindak kriminalitas yang merugikan orang lain atau perusahaan. Dan... kau tak boleh menanyakan pekerjaanmu nanti. Apa yang diperintahkan, harus kau kerjakan.”

Bren berpikir, dia sungguh tak mengerti bila ada pekerjaan seperti itu. Dia tak mungkin menerima pekerjaan tak jelas seperti itu meskipun gaji yang ditawarkan begitu menggiurkan. Bila dia menerima pekerjaan itu, Bren dapat mengangkat derajat hidup keluarganya, memindahkan ibu dan adik-adiknya dari rumah kontrakan dan tinggal di lingkungan baru, membayar cicilan hutang-hutang almarhum ayahnya dan mungkin menabung untuk masa depan adik-adiknya.

Bren berpikir cukup lama, bahkan dia hampir tak mampu berpikir. Kepalanya gelap, dipenuhi kemungkinan-kemungkinan terburuk mengenai pekerjaan yang ditawarkan padanya. Lalu telephone di ruang Presiden Direktur berdering.

“Thomasson here,” jawab Presiden Direktur.

“Not yet, what? Are you sure? It’s hillarious. You can’t do that. But... I know it’s your money... But, Lena... Oh, alright.. alright...” Thomasson kemudian menutup telephone dan menatap kembali wajah Bren yang merengut kebingungan.

“Dua ratus juta sebulan atau dipecat dari sini. Itu tawaran terakhir,” kata Thomasson tegas. Rahangnya bergemeretak pertanda dia sesungguhnya tak menyetujui ide itu.

“OK, deal!!” thomasson berdiri dan menjabat tangan Bren bahkan sebelum laki-laki itu memberikan jawabannya.

“But, Sir.. I...”

“Kau terlalu lama memutuskan, apakah kau ingin dipecat?”

“...No, Sir...”

“Maka tak ada pilihan lain, kau harus menerimanya. Sekretarisku akan membawakan surat-surat kontrak. Kau bekerja selama enam bulan, setelah itu kau akan kembali kesini dan menduduki jabatan lain. Sekarang keluarlah, aku tak punya waktu seharian mengurusimu,” usir Thomasson. Setelah Bren keluar, Presiden Direktur itu menghempaskan tubuhnya di atas kursi kesayangannya. Dia mendesah pelan sambil bergumam, “Lena... What do you want from that young man?

~*~*~*~*~

“Tanda tangan disini, disini dan dua lagi disini. Dan ingat, hal ini tidak boleh diceritakan pada pekerja yang lain karena akan menimbulkan kesenjangan sosial yang tinggi. Bila sudah, kau bisa mengemas barang-barangmu dan pergi ke lobi. Disana sudah ada mobil yang menunggu, kau akan langsung dibawa ke tempatmu bekerja. Dan... selamat. Semoga berhasil,” sekretaris itu berkedip nakal pada Bren yang tengah memperhatikan dengan seksama.

Tak satupun dia mendapat bayangan akan apa yang harus dikerjakannya nanti, di dalam kontrak itu hanya tertulis hak-hak dan kewajiban Bren yang lebih bersifat administratif daripada penjabaran kewajiban dan tugas-tugasnya. Bahkan aturan yang tak tetulis yang diucapkan Presiden Direktur sebelumnya tidak tercantum di dalam sini. Hanya sebuah kalimat yang berada di poin terakhir yang cukup menganggu pikiran Bren, sebuah kalimat yang berbunyi, “Loyal pada atasan”

Bren telah berada di dalam sebuah mobil Fortuner putih yang membawanya menuju daerah pegunungan sejuk, daerah peristirahatan orang-orang kaya yang tak terjamah publik karena ketatnya aturan untuk dapat masuk kesana. Namun, Bren berada di dalamnya, di sebuah villa pribadi dengan kolam mandi air hangat yang khusus dialirkan dari pegunungan sekitar. Dia kemudian diantarkan menuju ruangan kerjanya.

“Disini ruangan anda, pekerjaan anda telah disiapkan di atas meja, bila ada yang diperlukan silahkan mengangkat telephone dan akan langsung terhubung pada kantor depan.”

Pelayan itu kemudian meninggalkan Bren seorang diri di dalam ruangan yang ditebaknya merupakan sebuah kamar yang sebelumnya disulap menjadi kantor. Di atas meja, Bren melihat sebuah laptop putih dengan beberapa tumpuk file dalam map telah menunggu untuk dikerjakan. Diapun mencari posisi terbaik untuk pantatnya duduk sebelum menyalakan laptop yang telah disambungkan dengan internet.

Bren mengerjakan tugas-tugasnya dengan rapi dan cepat, sehingga pukul tiga sore semua file yang tadinya bertumpuk kini telah habis seluruhnya. Bren juga menengok sekeliling namun tak ada orang lain yang lalu lalang. Merasa bosan dengan keheningan dan tak adanya aktivitas, Bren kemudian keluar dari kantornya menuju taman belakang. Disana dia melihat pemandangan yang tak pernah diduganya. Magdalena tengah di pijat oleh seorang spa therapist dan tubuhnya telanjang bulat, memperlihatkan lekuk pinggul dan belahan pantat beserta sebagian payudara yang menyembul ke samping.

Bren menahan nafas dan memutar tubuhnya, mencoba pergi dari sana.

“Tunggu,” panggil seseorang dari belakang Bren. Magdalena. Wanita itu kini telah mengenakan jubah mandi berwarna putih dan berjalan menghampirinya.

“Kau sudah menyelesaikan tugasmu?” tanya Magdalena setelah jarak mereka dekat.

Bren melirik kembali dan setelah melihat kondisi aman terkendali dia memberanikan diri memandang wajah Magdalena sekilas. Masih dengan tubuh membungkuk, Bren pun menjawab, “Yes, Mam. Semua telah selesai.”

“Bagus, kalau begitu, ikut aku sekarang.”

Bren mengikuti Magdalena tanpa bantah, dia tak ingin terlihat melanggar kontrak yang telah begitu jelas diterangkan oleh Thomasson. Bren ingin membuktikan bila dia layak dipekerjakan dengan gaji dua ratus juta rupiah sebulannya!

Mereka kembali ke arah parkiran villa private itu, Magdalena memerintahkan sopir untuk membuka bagasi mobil lalu beralih pada Bren.

“Angkat bagasi-bagasiku dan bawa masuk ke kamar. Setelah itu baru akan kujabarkan pekerjaanmu yang lain,” perintah Magdalena tanpa memandang wajah Bren yang berubah merah. Bren mulai menyadari jenis pekerjaan apa yang akan dia temui di villa itu, dia juga menyadari siapa atasan yang dimaksud di dalam kontrak kerjanya.

“Loyal pada atasan... apakah itu termasuk di dalamnya mengangkat bagasi dan koper-koper?” keluh Bren dalam hati.

Bren menyabarkan hatinya dan melapangkan dada menerima setiap perintah Magdalena untuknya. Dari mengangkat koper-koper, merapikan isi bagasi ke dalam lemari, membawakan makanan dan minuman untuk Magdalena hingga menemani makan wanita itu. Namun, bila saatnya tiba, Magdalena akan mendiktekan pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan perusahaan padanya. Seperti membalas email-email dari klien, mengawasi nilai saham di bursa efek, menjawabkan telephone dari klien, sebagai penghubung Magdalena dengan klien-klien karena Bren juga difungsikan sebagai asisten wanita itu, asisten seorang pemilik perusahaan bernilai puluhan Milyar Dolar.

“Kau tak lelah?” tanya Magdalena yang sedari tadi memperhatikan Bren masih sibuk menjawab semua email yang masuk dari laptopnya. Mereka sedang berada di dalam kamar Magdalena yang berantakan. Berantakan karena ulah wanita itu sendiri yang senang menghambur-hamburkan pakaian dan barang-barang dimana-mana. Bren menyadari, dialah yang akan ditugaskan untuk membersihkan kekacauan itu, namun dia tak berkomentar.

 Bila Bren terlihat sibuk dengan pekerjaannya, Magdalena dengan sembunyi-sembunyi akan memperhatikan wajah Bren yang serius dan mengaguminya dari jauh. Bila Bren menoleh, Magdalena akan membuang muka ke arah lain tepat sebelum Bren mampu menyadari apa yang telah terjadi. Bren terlalu lambat menyadari perhatian yang diberikan Magdalena padanya. Laki-laki dengan keluarga sebagai prioritas pertama ini tidak berniat mencari gara-gara dengan atasannya. 


6 comments:

  1. Aseeekk udh d post...
    Asisten kantor ap asisten rmh tangga tu si bren,smuanya d krjain,kejam amat tante lena..hihiii
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°ºea mba cin

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe.. ada dehhh....

      sama2 ndong :D

      Delete
  2. Akhirnya diposting juga.terusannya jangan lama2 ya mb shin :)
    makasiii

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasi ya sist, kirain gak ada yg baca... habis komennya membuat mringis. ahahha.. sip deh... tunggu ya ;)

      Delete
  3. wakwawakwawakwawkaa......ini kan cerita indo ya jeng cin...wah, bayanganku bren kayak rio dewanto gitu ( versi gag pakek kumis hekekekekekekekekeke)

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.