"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, October 10, 2013

Not So Tough Lady - Part 4


“Sedikit lagi, dan ruangan ini bersih kembali,” ujar Bren senang. Sudah satu minggu lamanya dia berada di villa pribadi itu menjadi asisten pribadi Nyonya Besar.

Satu minggu yang panjang dengan banyak cobaan yang menguras hampir seluruh kesabaran dan ketangguhan hati seorang Bren dan hampir meledak bila tak mengingat jumlah uang yang bisa dia dapatkan untuk keluarganya. Bren kerap kali dibuat kesal oleh perintah Magdalena yang plin-plan. Wanita itu sering mengganti perintah yang dia titahkan. Tanpa merasa bersalah sedikitpun, dia membudak Bren dengan caranya sendiri. Membuat laki-laki itu berjalan kesana-kemari, menghabiskan energi dan menguras kekuatan fisiknya hingga titik terendah. Bren kelelahan dan dia mengambil satu jam istirahat untuk mendinginkan kepalanya.


“Baru satu minggu dan aku merasa seperti bekerja satu tahun,” keluh Bren. Asap rokok membumbung di udara, sudah empat batang rokok yang disesapnya sejak setengah jam yang lalu.

“Itu membuktikan kau kurang olahraga. Pekerjaan fisik yang tak seberapa itu telah membuatmu kelelahan,” sambar Magdalena yang tiba-tiba muncul dari belakang Bren. Seperti yang biasa dilakukannya belakangan ini, Magdalena mencuri lagi rokok yang tengah dihisap Bren lalu menghisapnya di bibirnya sendiri dengan perlahan, nikmat dan penuh perasaan.

Bren tak mampu geram bila menyaksikan bagaimana wanita itu memperlakukan rokoknya sedemikian rupa, bahkan Bren bersumpah dalam hati, Magdalena membuatnya menahan nafas karena hasrat yang ditimbulkan dari perbuatan wanita itu.

Bren menyalakan sebatang rokok lagi untuknya, dia sudah tak perduli lagi dengan jawaban apa yang mungkin dia berikan pada Magdalena pada jam istirahat. Bila mereka sedang berada pada jam kerja, Bren akan menghormati Nyonya Besar sebagaimana biasanya wanita itu dihormati.

“Laki-laki setangguh apapun bila dipekerjakan seperti pekerja paksa akan runtuh juga, Mam,” jawab Bren datar. Magdalena duduk di sampingnya sembari tersenyum.

“Kau tahu? Saat kakekku membangun perusahaan ini dari nol, dia tidak pernah mengeluh, bahkan dia bekerja sepertimu bertahun-tahun. Jarang pulang ke rumah, selalu bepergian dan meninggalkan keluarganya untuk berbisnis. Dia berhasil, kini perusahaan kami bisa seperti ini, salah satunya berkat beliau. Ayahku juga begitu, dia menjadi seperti kakek, meninggalkan anak istri, bahkan ketika istrinya meninggalpun ayahku sedang berada jauh, dia tidak menghadiri kelahiran anaknya, dia lebih memilih berada bersama orang-orang dari pemerintahan dan melobi mereka. Saat istrinya matipun, hanya pekerjaan yang diurusinya. Maka kami semua seperti ini, bila ingin kekayaan, kau harus bekerja keras. Karena uang tak pernah datang dengan mudah, kecuali...”

Magdalena sengaja menggantung kata-katanya, berusaha memancing keingintahuan Bren yang setengah berharap mendengarkan.

“Hm... Kecuali what?” tanyanya untuk menghindari mempermalukan atasannya sendiri.

“Kecuali kau menjadi simpanan seseorang yang kaya raya,” lanjut Magdalena penuh makna.

Bren tersedak saat menghisap rokoknya, ucapan Magdalena telah membuatnya terbatuk-batuk karena mengira diri salah mendengar. Wanita itu kemudian menepuk-nepuk punggung Bren dan meledeknya. “Why don’t you take a break, old man?”

Bren kemudian merengut kesal ditinggalkan begitu saja oleh Magdalena, namun sekilas Bren memikirkan kembali kata-kata Magdalena. “What she want...?” ujarnya pelan.

Bren tak dapat memejamkan matanya, dia baru saja menelphone ibunya di rumah. Mereka telah tinggal di rumah baru yang diberikan perusahaan untuk mereka. Bren belum bisa meninggalkan villa itu hingga satu bulan lamanya. Kini telah memasuki minggu ke-empat dan beberapa hari lagi dia boleh kembali ke rumah. Untuk satu hari penuh, Bren memperoleh libur dari satu bulan lamanya bekerja siang-malam.

Pukul dua dini hari, Bren mendengar langkah seseorang di depan kamarnya, diapun terbangun dan mencoba mencari tahu asal suara itu. Di luaran, Bren melihat Magdalena sedang duduk-duduk di taman seorang diri, memandang langit malam penuh dengan bintang. Bulan purnama tengah bersinar dan Bren lupa bila Magdalena menyukai bulan.

“Bulan terlihat cantik, kan? Bila dari jauh dia terlihat begitu bersinar, cahayanya lembut menerangi tapi tak menyakiti. Lain dengan matahari, dia menyilaukan, menyakitkan, sepertiku. Banyak orang membenciku di luar sana,” bisik Magdalena saat menyadari kehadiran Bren.

“...Meski begitu, matahari memberikan kehidupan pada semua makhluk, tanpa matahari tak akan ada kehidupan di dunia ini. Tak ada musim, tak ada siang, semua mati. Sama denganmu, dengan artimu bagi perusahaan dan pegawai-pegawaimu, Mam...” ujar Bren merasa perlu memperbaiki pernyataan Magdalena.

Magdalena tertawa masam, “Sudah berapa kali kubilang, panggil aku Lena... Hanya beberapa orang di dunia ini yang kuizinkan memanggilku demikian. Kau tak merasa tersanjung?” tanya Magdalena mengalihkan topik.

“Maaf, Mam... Aku belum berani memanggilmu demikian.”

Magdalena menghampiri Bren, menyentuhkan telunjuknya dengan kukunya yang panjang pada dada laki-laki itu, menusuk dengan tekanan kasar, menyakiti Bren.

“Mam...”

“Hari ini... adalah hari kematian ibuku, beliau meninggal saat melahirkanku, saat bulan purnama bersinar, aku selalu teringat padanya. Aku merindukan ibu, meskipun aku tak pernah tahu seperti apa rupa ibu,” Magdalena semakin menyakiti Bren dengan tusukan jari telunjuk dan kukunya yang panjang.

Bren menghirup aroma minuman keras dari mulut Magdalena, “Anda minum, Mam? Anda harus beristirahat.” Bren menangkap pergelangan tangan Magdalena, menghentikan wanita itu dari menyakiti dadanya dengan telunjuknya. Namun Magdalena semakin memberontak, dia menyayat leher Bren hingga berbekas merah kebiruan. Lalu Magdalena mengelus bekas itu perlahan.

“Aku menyakitimu...” bisiknya pelan. Bren tak bereaksi, dia hanya kasihan melihat Magdalena menyakiti dirinya sendiri. Kesepian yang terpancar dalam mata wanita ini melukai hati Bren. Dia tak dapat membayangkan bagaimana hidup tanpa seorang ibu, Bren akan mati bila ibu meninggalkannya.

Dengan sinar bulan purnama yang begitu terang Bren melihat betapa cantiknya wajah Magdalena yang tak tertangkap olehnya sebelumnya. Wajahnya yang berbentuk oval dengan hidung mancung, alis terukir sempurna, tidak terlalu tebal, tidak terlalu tipis, bola mata hazel yang semakin gelap di malam hari, bibir tipis mengundang, rambut pirang kecoklatan yang tergerai panjang, Bren melupakan rasa sakit yang menyanyat-nyayat pada lehernya tatkala tanpa memikirkan apa-apa lagi Magdalena telah meraup tubuh Bren dan menciumnya dengan kasar.

Ciuman kasar yang disambut kebingungan pada awalnya, lalu tergantikan oleh gairah yang menggelora oleh Bren. Magdalena telah menunggu dengan sabar kapan Bren akan bergerak untuk menyentuhnya. Awalnya dia tak ingin mendesak laki-laki itu meski dia menginginkannya, namun saat semuanya telah dipengaruhi suasana, tanpa pikir panjang akhirnya Magdalena memagut bibir laki-laki yang lebih muda darinya itu dengan liar.  

Ciuman kasar itu kini berubah semakin lembut, semakin mesra dan dalam. Bibir Bren mengecup dan menguasai bibir manis Magdalena, merangkum wajah wanita itu dalam cakupan tangannya, mempertemukan wajah mereka, dahi dengan dahi, hidung dengan hidung, bibir dengan bibir dalam sebuah ciuman panjang nan romantis bersinarkan cahaya rembulan.

Bren terengah-engah saat pagutan mereka terlepas, dia menempelkan dahi mereka sembari mengatur nafasnya yang terputus-putus. Perlahan Bren melepaskan pegangan tangannya dari kepala Magdalena tapi perempuan itu menahan kerah kemejanya.

“Don’t go... Please...” desah lirih Magdalena, berharap Bren tak akan meninggalkannya. Dia kesepian, bulan purnama tak sanggup menemaninya lagi. Magdalena ingin Bren dan dia harus mendapatkannya.

“Mam... Aku... Maafkan aku,” bisik Bren merasa bersalah. Dia ingin melepaskan pelukan tubuh mereka namun Magdalena memeganginya kuat-kuat.

“Don’t go.. It’s an order!” perintah Magdalena masih dengan tangan mencengkeram kain kemeja Bren yang mengusut.

“I...” kata-kata Bren terpotong oleh desisan Magdalena yang mengingatkannya tentang isi kontrak kerja mereka.

“Bila itu tak cukup membuatmu tinggal, tolonglah seorang wanita kesepian ini. Malam ini saja, temani aku melihat rembulan. Aku tak ingin sendirian saat teringat akan ibuku yang telah tiada.” Magdalena memohon dengan wajah memelas, dia merendahkan derajatnya hanya agar Bren mau mengabulkan permintaannya.

“Baiklah... Tapi kita tak perlu berdekatan seperti ini, aku tak pantas, Mam...” bujuk Bren lagi sembari melepaskan cekalan tangan Magdalena dan membawa wanita itu untuk duduk lagi di kursi taman.

Mereka duduk berduaan dengan jarak setengah meter di antara mereka. Cukup lama Bren membiarkan Magdalena memandangi rembulan tanpa suara, menikmati bunyi-bunyian binatang malam dan keheningan daerah pegunungan dingin.

“Anda tidak kedinginan, Mam? Angin malam is not good for your body.” Bren melihat sekelilingnya lalu menemukan selembar handuk yang telah kering di jemuran. Dia menyampirkan handuk itu di atas pundak Magdalena, perbuatan kecil yang mampu membuat Sang Nyonya Besar terharu.

“Aku rasa aku tak akan takut kedinginan bila ada kau di sisiku,” sebuah senyum kecil di sudut bibir Magdalena sekilas terbayang di wajahnya. Wanita yang masih terlihat anggun meski hanya mengenakan gaun malam tipis dan bungkusan handuk yang terlihat aneh untuknya, dia mampu membuat seorang Bren semakin terdiam dengan pikiran yang berkecamuk dalam kepala.

“Apa yang membuat wanita ini menjadi seperti ini?” Bren menyadari sinar mata seorang yang putus asa, sinar mata dari seorang wanita yang hanya mencoba melanjutkan hidup tanpa memperdulikan lingkungannya. Seorang wanita dengan topeng angkuhnya di muka publik.

“Sudah hampir pukul empat pagi, kita harus berangkat kembali ke kota besok jam delapan. Anda tak ingin melewatkan hari, kan?”

“Ya... kau benar. Tapi kau sudah tahu, kan? Bila kau belum bisa pulang ke rumahmu. Kau tinggal di rumahku selama kau bekerja bersamaku. Dan pekerjaan utamamu akan di mulai malam besok.” Magdalena berdiri, membawa tubuhnya ke depan Bren. Kepala laki-laki itu di dekatkannya pada pelukannya, Bren yang sedang duduk tak kuasa menghentikan perbuatan Magdalena.

“Let me hold you like this for some moment...” Lima detik kemudian pelukannya terlepas, “Thanks... Good night, Bren. Jangan bangun terlambat besok,” ujar Magdalena sebelum meninggalkan Bren termangu di atas kursi. Magdalena dengan langkah gemulai melangkah masuk ke dalam kamarnya, handuk yang tersampir di pundaknya masih berada disana, seolah itu adalah pelindungnya dari kematian, Magdalena memeganginya kuat-kuat. 


3 comments:

  1. Asiiikk ayo mba shiinn lanjutkaann hehehe
    -fina

    ReplyDelete
  2. komen ah....
    bayanganku nih....Demi Moore sama Ashton Kutcher wakwawawawakwak thanks jeng shin

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.