"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Monday, October 14, 2013

Not So Tough Lady - Part 5


Dalam perjalanan kembali ke kota, Magdalena sibuk dengan tablet di tangannya, menghiraukan Bren yang duduk di kursi depan bersama sopir. Mereka tak berbicara, memang seharusnya demikian. Atasan dengan bawahan tak perlu berbincang-bincang seolah mereka akrab, dan Bren sangat mengerti dimana tempatnya berdiri. Lalu dia menyentuh bibirnya sekilas, teringat kembali ciuman mereka semalam. Ciuman yang terjadi akibat suasana yang mendukung, Bren bahkan yakin Magdalena telah melupakan ciuman mereka. Wanita itu hanyalah menganggapnya sebagai salah satu mainannya dan harga dirinya turun satu level karena diperlakukan sedemikian rupa, namun Bren tak berkomentar apa-apa. Bagi Bren, Magdalena melupakan ciuman itu akan jauh lebih baik sehingga mereka tak perlu canggung berada di satu tempat yang sama.


“Turunkan aku disini, dan kau, sopir akan membawamu ke suatu tempat untuk mengukur pakaianmu. Disana kau akan bertemu seseorang, dia akan mengatur semuanya.”

Tanpa petunjuk yang lebih jelas, Magdalena meninggalkan Bren dengan sopir pribadi yang membawanya ke sebuah butik pakaian mahal untuk pria. Laki-laki yang ditemuinya disana mengambil semua kesempatan untuk berbicara dan menjadikan Bren sebagai manekin hidup dengan banyaknya pakaian yang dicobakan padanya. Laki-laki itu bernama Marcello, seorang Indonesia yang telah lama bergelut di dunia mode.

Bren baru saja keluar dari ruang ganti, dengan jas hitam licin, rompi warna senada dan dasi sutra berwarna hitam kebiruan, kemeja dalaman putih tanpa cela, celana pantalon lembut dan sepatu hitam mengkilap, Marcello berdecak senang dan memakaikan sebuah kacamata hitam pada Bren.

“Oh, Mamamia... Why you look so gorgeous? Hot!! Sexy!! Lena knows what best for her... She knows how to attract young man. And you are one lucky body!!” unjuk Marcello dengan gaya feminimnya. Dia merapikan lekuk-lekuk jas pada tubuh Bren lalu meninggalkan laki-laki itu untuk memilihkan pakaian lainnya.

“Apa artinya itu?” tanya Bren ingin tahu.

“Oh... nothing. None of your concern. Kau lakukan saja seperti kata Miss Lena. She will tell you what you need to know, dia akan memberitahukanmu nanti malam.” Marcello mengedipkan sebelah matanya pada Bren lalu kembali pada aktivitasnya memilih pakaian-pakaian mahal dengan penuh semangat hingga akhirnya Bren meninggalkan butik itu dengan empat setel pakaian berjas lengkap dengan sepatu dan kacamata yang berbeda-beda.

Bren merasa tak enak hati, dia mencurigai motif dari pembelian pakaian-pakaian mahal ini. Pakaian yang bahkan tak akan sanggup dibelinya dengan gajinya yang dulu.

“No question asked.” Bren mengingatkan dirinya agar tidak bertanya yang bukan-bukan pada Magdalena. Suasana hati wanita itu sedang tidak baik karena sejak kepulangannya ke rumah, Magdalena telah memarahi beberapa pelayan dan mengomeli Bren tiada henti karena merokok di dalam ruangan. Bren baru saja menyalakan rokoknya ketika Magdalena menangkap basah dirinya, diapun tak bisa berkelit dan berkomentar. Bren menerima hukuman atas keteledorannya.

“Bersiap-siaplah, kita berangkat dua jam lagi. Marcello sudah datang, dia akan meriasmu sebelum meriasku,” kata Magdalena yang muncul dari belakang Bren. Bren tengah menghisap rokoknya dengan frustasi setelah menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan Magdalena untuknya.

“Yes, Mam,” jawab Bren patuh.

“And one thing... Call me Lena from now on. Kalau kau lengah, aku tak akan memaafkanmu!” desis Magdalena dan menghilang dari sana, meninggalkan Bren lagi dalam keheningan dan kebingungan.

“...Lima bulan lagi dan aku selesai. Aku akan membuat usahaku sendiri dan terlepas dari sini,” geram Bren dalam hati.

Marcello membuktikan dirinya sebagai perias yang handal. Dia merubah penampilan Bren yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa. Bren terlihat lebih dewasa dari usianya saat ini dengan tatanan rambut yang diberikan Marcello pada kepalanya.

Now... Kalian berdua akan terlihat serasi,” kikik Marcello senang.

“Apa?” tanya Bren bingung.

It’s ok. Kau akan tahu nanti, sekarang... Taraa... Lihatlah dirimu di cermin, dan jangan lupa pakai kacamata hitam itu. Kau akan takjub dengan dirimu.” Marcello menggiring tubuh Bren menuju sebuah kaca lebar di dinding, memperlihatkan padanya bagaimana penampilannya di dalam cermin.

Bren terkesima, dia tak mampu bersuara melihat penampilannya sendiri, “Itu bukan aku, kan?” tanyanya tak percaya.

You see.. bagaimana uang bisa merubah penampilan seseorang. Kau sudah memiliki modal itu, young man... Kau tampan dan cukup gagah, meski aku belum melihatnya langsung ehm..tubuh telanjangmu,” ujar Marcello genit, lalu dia membersihkan tenggorokannya. “Lupakan apa yang kukatakan tadi, jangan sampai Lena tahu, right?”

Bren hanya memandangi Marcello tanpa tahu harus mengomentari seperti apa pernyataan laki-laki feminim itu. Dia asyik memandangi bayangan dirinya yang terlihat begitu tampan dan ‘mahal’ di dalam kaca.

Satu jam kemudian, Bren masih menunggu di kursi tamu, menunggu Magdalena selesai dengan riasan rambut dan wajahnya. Saat wanita itu muncul di depannya, Bren merasa debaran jantungnya semakin cepat tatkala menyadari siapa yang berdiri di depannya dengan senyum sumringah bagai anak remaja yang akan berkencan pertama kali dengan pacarnya. Namun hanya sekejap, wajah itu kembali menampakkan ciri-ciri seorang Nyonya Besar.

Tanpa banyak bicara, Magdalena masuk ke dalam mobil dan diikuti Bren dari belakangnya, “Kau duduk di sampingku, dan jangan tanya kenapa,” perintah Magdalena setelah mereka sampai di samping mobil. Tanpa bantahan, Bren melakukan perintah Magdalena.

Di dalam mobil pun mereka masih diam, barulah ketika mobil yang membawa pasangan itu masuk ke halaman lobi parkiran sebuah hotel mewah di ibukota, Magdalena membuka sedikit tugas yang akan dia berikan pada Bren.

“Malam ini, kau adalah kekasihku. Kau mencintaiku, berhubungan denganku karena cinta dan bukan karena uang. Dan tak lama lagi kita akan menikah. Pada orang-orang kau mengaku sebagai tunanganku, kita melangsungkan pertunangan sebulan yang lalu di vila pribadi dan tak mengundang siapapun. Dan... Kau cukup tampan malam ini, aku tak salah memilihmu.”

Perkataan Magdalena membuat jantung Bren berdetak cepat dengan extreme, pembuluh darahnya berdenyut-denyut menyadari dia telah digunakan.

“Kekasih?? Aku?” Bren mengepalkan tinjunya, ketidakpercayaan terlihat jelas di wajahnya.

“Tunggu apa lagi? Kau ingin membuatku menunggu disini?” teriak Magdalena yang telah keluar dari mobil.

Bren akhirnya menarik nafas dalam-dalam sebelum keluar dari dalam mobil. Saat kakinya berpijak di karpet merah, puluhan lampu flash kamera menyerang mereka berdua. Magdalena dengan senyum penuh kepura-puraan di wajahnya, memeluk mesra lengan kiri Bren sementara sebelah tangannya lagi sibuk melambaikan tangan ke arah kamera. Dia lalu berbisik di telinga Bren.

“Peluk pinggangku dan tersenyumlah seolah kita pasangan yang berbahagia,” Magdalena mengetatkan gigi-giginya agar mimik bibirnya tak terbaca kamera. Bren lalu mengikuti perintahnya, Bren menyadari apa tugasnya dan dia bertekad akan menanyakan semua ini setelah malam usai. Dia harus mengetahui motif di belakang semua kepura-puraan ini.

“Bila ini tujuan akhirmu, maka pekerjaanku selama di villa sungguh sia-sia,” bisik Bren membela diri.

“Oh tidak sia-sia... Kau menjadi lebih kuat, kulitmu lebih gelap, kau terlihat sexy. Wanita kami menyukai tipe pria sepertimu,” jawab Magdalena tak mau kalah. Mereka akhirnya berhasil masuk ke dalam ballroom saat Magdalena di sapa oleh seorang laki-laki dengan wanita muda memeluk lengannya posesif.

“Hai, Lena... Kau datang? Aku kira kau tak akan hadir,” senyumnya lalu terhenti ketika menyadari Magdalena sedang memeluk seorang laki-laki. “Who’s this?” tanyanya.

“Perkenalkan, Bernard Bram, calon suamiku yang baru. Bren, sayang... Kau masih ingat apa yang kuceritakan dulu? Ini Robert, eks suamiku...” jawab Magdalena dengan nada penuh kemenangan. Dari balik kacamata hitamnya, Bren melihat tatapan benci Robert pada Magdalena, nampaknya bekas suaminya itu tak terima Magdalena telah mendapatkan seseorang sebagai penggantinya.

Bren mengulurkan tangannya yang disambut Robert sinis, “Kau beruntung anak muda, kau mendapatkan ikan gemuk sekarang,” sindirnya penuh makna.

Bren pun tak ingin kalah, “No, Sir. She’s even better than that. I catched a Shark,” decak Bren. Mereka berdua kemudian tertawa terbahak-bahak, tawa sarkasme penuh kepalsuan.

“Well, kalau begitu... Sampai berjumpa lagi nanti, Robby? Aku dan kekasihku akan duduk di kursi kami.” Magdalena menarik lengan Bren agar menjauh dari pasangan yang paling dibencinya di dunia.

Setelah mereka duduk, Bren meminta penjelasan dari Magdalena.

“Apakah akan melanggar kontrak bila aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi disini?” desis Bren marah. Untuk pertama kalinya dia merasa emosi pada atasannya. Dia merasa ditipu mentah-mentah dan tidak dipersiapkan dengan rencana Magdalena. Namun wanita itu menepisnya.

Not here. Aku akan memberitahukanmu di rumah. Sekarang diamlah dan mainkan peranmu. Kau sudah kusewa untuk bekerja selama enam bulan. Kau tak bisa membatalkan kontrak itu atau kau akan hancur,” ancam Magdalena tanpa menoleh ke arah Bren.

Bren menggertakkan gerahamnya, “Kau wanita li... Ah sudahlah!” Bren tak sanggup meneruskan kata-katanya.

Why? Say it! Katakan saja bila kau berani!” ketus Magdalena tak kalah  garang, perasaannya sungguh kacau balau. Dia mengira mampu melihat mantan suaminya dengan penghinaannya, namun dia salah, Magdalena masih terguncang dengan keberadaaan laki-laki itu di dalam ruangan yang sama.

“Kau!!” dengus Bren kesal. Tinjunya telah mengepal namun dilepaskannya. Sebagai gantinya Bren menarik nafas dalam-dalam dan mengalihkan pandangannya dari Magdalena, “We’ll talk about this later,” ujar Bren akhirnya.  



2 comments:

  1. Menunggu part 6,hehee
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°ºea mba cin

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.