"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, October 3, 2013

Not So Tough Lady - Part 2


“Angkat box itu ke dalam, by this evening, semua harus sudah rapi,” perintah Magdalena pada pekerja yang tengah membersihkan ruangan pameran lukisan itu. Salah seorang di antaranya adalah Bren yang telah menarik lepas dasinya dan menggulung tinggi lengan kemeja putihnya. Tanpa sanggup melawan kehendak Nyonya Besar, Bren pasrah ketika dititah untuk membantu para pegawai mengangkat box-box berisikan souvenir untuk para pengunjung yang akan datang pada pembukaan galery lukisan dan foto milik Alfredo Stuart, sepupu Magdalena yang langsung datang dari Inggris.


Peluh keringat telah mengucur sejak dua jam lalu Bren mulai mengangkat kardus-kardus, kursi, hingga menata audio system yang sayangnya harus dikerjakannya juga karena pekerja asli berhalangan hadir. Magdalena yang tak ingin menunda jadwal yang telah dirancangnya, dengan emosi memecat penata audio dan tinggalah Bren dengan sisa-sisa kemampuan yang tak pernah disangkanya akan berguna akhirnya mengerjakan hampir seluruh pekerjaan yang ada di galery itu. Kini ruangan yang tadinya berantakan telah tertata rapi dan siap untuk dihias dengan kain-kain, bunga dan lukisan yang akan dijejer di dinding dengan pengaturan khusus oleh Alfredo Stuart.

Bren pun melemaskan otot-ototnya yang kaku dengan duduk di luar ruangan sembari menyalakan sebatang rokok untuknya. Setengah terkejut, dia mencari tahu siapa yang mencuri rokok yang tengah dihisapnya.

“Aku juga memerlukan sebatang rokok untukku. You did a good job, aku tak tahu bila pegawaiku bisa mengerjakan pekerjaan seperti itu juga. Kebanyakan pegawai yang pernah mengikutiku bekerja akan menolak dan menyebutkan sejumlah job description mengenai pekerjaan mereka. Bahwa apa yang kuperintahkan tidak termasuk dalam deskripsi pekerjaan mereka.” Magdalena menyesap rokok milik Bren yang kini telah habis setengahnya, “Kau tahu apa yang terjadi pada mereka setelah itu?” tanyanya kemudian.

Bren hanya bisa menggeleng sembari menyalakan rokoknya yang baru.

Magdalena tertawa, tawa yang membuat wajah wanita itu terlihat menarik di mata Bren. Pria itupun menganga, takjub dengan apa yang sedang dilihatnya. Sang Nyonya Besar dengan tawa dan senyum yang kini masih menghiasi wajahnya tengah menatap bren yang terpaku bisu menunggu jawaban.

“Aku memecat mereka semua. Ya, mereka tak berguna. Mereka bodoh. Mereka tak tahu bila sedang diuji kesetiaannya pada perusahaan. Hanya orang-orang yang loyal yang aku suka, orang-orang yang mau bekerja seratus persen untuk perusahaan bahkan lebih. Dan kau... Kau melakukannya dengan baik,” Magdalena menyesap lagi rokoknya dan membuang jauh ke arah kolam, “Kau akan sukses, aku yakin. Aku akan melihatmu, aku akan memastikan kau sukses dalam karirmu,” Magdalena tertawa lagi dan mengambil lagi rokok yang masih dihisap Bren. Tanpa perlawanan, Bren membiarkan Magdalena mengambil lagi rokok miliknya yang telah dihisapnya sebelumnya. Dia tak berkomentar, Bren membiarkan keheningan mewarnai kebersamaan mereka malam itu. Sudah pukul sebelas malam saat semua pekerjaan terselesaikan. Lampu-lampu telah padam, perut telah kenyang terisi dan waktunya pulang.

“Aku akan mengantarkanmu pulang, dimana rumahmu?” tanya Magdalena pada Bren.

Bren tengah merapikan lengan kemejanya yang tergulung, namun wanita itu menyelanya, “You’re looking good when you like that,” bisiknya pelan, hampir tak terdengar oleh Bren. Laki-laki itupun tak mengomentari, dia takut salah memahami pernyataan Sang Nyonya Besar. Bren mencari jalan aman, “Tidak usah, Mam. Saya akan naik taksi saja,” jawabnya.

At time like this? Dimana kau akan mencari taksi? Ini perintah, aku membawamu kesini dengan mobilku, dan aku akan mengantarkanmu pulang dengan mobilku. Jadi bila kau hilang di jalan, itu semua tanggung jawabku. Understand?” seru Magdalena tegas, dia tak ingin dibantah. Tidak oleh laki-laki berusia lima tahun di bawahnya ini.

Bren berusia dua puluh tujuh tahun, dia telah bekerja di berbagai perusahaan yang bergerak dalam bidang yang sama. Namun karena faktor manajerial yang buruk, Bren terpaksa meninggalkan perusahaannya dulu. Saat dia melamar di Stuart Company, Bren tergiur dengan gaji tinggi yang ditawarkan. Meski demikian dia tak menyangka pekerjaannya akan seperti ini.

Tanpa dia sengaja, Bren tertidur di dalam perjalanan karena kelelahan. Saat dia dibangunkan oleh sopir, Bren telah berada di halaman rumah Sang Nyonya Besar. Halaman rumah dengan luas tiga ratus meter persegi itu terlihat mencengangkan mata awam Bren yang baru saja terbangun dengan paksa. Rumah mewah bertingkat dua dengan segala furniture dan taman yang diciptakan oleh tangan-tangan handal, pemandangan eksotis malam dengan lampu remang-remang taman, gemericik air kolam hingga gazebo rindang yang berada di pusat taman, menggugah ketakjuban dalam diri Bren. Namun demikian dia segera tersadar, “Sial! Aku ketiduran,” ujarnya sengit. Bren segera keluar dari dalam mobil dan bergerak gelisah mencari pintu keluar.

“Tinggalah disini semalam. Besok kau boleh masuk lebih siang,” ujar Magdalena yang melangkah pelan menuju dalam rumah. Bren hanya terbengong-bengong tak mampu mendebat. Pelayan yang menunggunya sedari tadi kemudian mengajaknya masuk ke dalam rumah.

“Disini kamar anda, anda boleh mandi dan beristirahat disini. Bila ada yang diperlukan, silahkan pencet angka satu dari pesawat telephone, anda akan langsung terhubung ke dapur. Angka dua pada kamar Nyonya Besar, tapi anda tak perlu melakukannya atau beliau bisa murka karena anda menganggunya malam-malam dan angka nol untuk memanggil sekuriti. Ada pertanyaan lain, Tuan?” tanya seorang pelayan yang telah menyiapkan kamar untuk Bren, di atas ranjang juga disediakan handuk baru beserta pakaian tidur ukuran laki-laki dewasa.

“Saya rasa itu sudah semua,” jawab Bren gelisah. Dia tidak terbiasa berada dalam lingkungan eksklusif seperti ini, dia takut dengan apa yang mungkin menunggunya atau apa yang mungkin akan dilakukannya di rumah ini. Namun kemudian, saat pintu telah tertutup, Bren melupakan semua kemungkinan-kemungkinan buruk yang bermain di kepalanya. Tubuhnya terasa panas dan lengket, dia perlu sebuah mandi air hangat yang lama, lalu tidur nyenyak sampai siang. Mungkin dia bisa melakukannya tanpa Sang Tuan Rumah memarahinya.

Bren telah menyelesaikan mandinya, dia duduk di teras kamarnya yang terletak di lantai dua. Dengan piyama pria yang dikenakannya, Bren merasa asing berada di rumah itu. Tak pernah terpikir olehnya berada di tengah-tengah kemewahan seperti ini, bahkan untuk menikmati layanan hotel bintang lima pun dia tak sempat. Hidup Bren dipenuhi dengan hutang yang ditinggalkan almarhum ayahnya. Dengan seorang ibu yang sudah tua, adik-adik yang masih berada di bangku sekolah, otomatis Bren bekerja untuk keluarganya. Dia tak pernah mengeluh meskipun kehidupan tak pernah berpihak padanya. Dengan perlahan Bren mulai merajut kembali kehidupan keluarganya dan mebayar hutang-hutang ayahnya di bank. Bren bersyukur mereka tak perlu tinggal di kolong jembatan atau emperan toko karena beban hidup yang rumit.

“Not sleepy yet?” sebuah suara feminim menyapanya dari samping. Bren menoleh dan melihat sosok Magdalena dalam balutan gaun tidur tipis yang memperlihatkan lengan telanjangnya, tengah memandangi bulan sabit di langit. Matanya memancarkan kesepian yang mendalam. Sebagian hati Bren merasa tercubit menyadari tatapan mata itu, tatapan penuh kesedihan yang coba disembunyikan Magdalena dari jangkauan publik. Apa yang sebenarnya tengah ditanggung oleh wanita ini dalam hatinya.

“I want to have a cigarette first, what about you, Mam?” tanya Bren sopan. Meskipun pemandangan di depan matanya mampu membuat pikiran Bren berkabut, namun demi keluarganya Bren mencoba mengenyahkan bayangan tubuh Magdalena yang terpantul sinar lampu yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sempurna. Bren terpekur ingin tahu bila wanita yang tengah dipandanginya ini telah bersuami.

I can’t sleep. Tiap malam aku senang memandangi bulan di langit, seolah dia bisa menemani malam-malam disini. Rumah ini besar, namun tak ada penghuninya. Begitu dingin, sepi. Tidakkah kau merasakan itu?” Kini mata Magdalena menatap langsung pada mata Bren, pandangan mata mereka bertaut dan Bren bersumpah dia melihat sebuah senyuman bidadari pada wajah Boss besarnya.

Bren pun menelan ludahnya, “Hanya perlu sebuah keluarga untuk membuatnya hangat, Mam,” jawab Bren sembari membayangkan keluarganya di rumah.

Ibunya pasti telah terlelap di dalam kamar bersama dengan adiknya yang paling kecil, Rio. Seorang bocah kelas lima SD. Sementara adiknya yang lain, Ashanti, lima belas tahun, pasti tengah mengerjakan PR dan belajar dengan keras. Meski kehidupan mereka susah, Ashanti dan Rio tak pernah mengeluh, mereka mengerti keadaan keluarga dan tak pernah menyusahkan kakak mereka, Bren. Sifat penyabar dan pasrah yang dimiliki Bren dan saudara-saudaranya diturunkan dari Sang Ibu yang juga amat sabar.

“I don’t have family. Keluargaku di rengut dariku dengan kejam. Aku bahkan tak percaya bila keluarga mampu memberikan kehangatan, aku tak pernah mengenal ibuku sejak aku lahir. Ayahku hanya sibuk dengan pekerjaannya. Suamiku... Aku bahkan tak pernah tahu bila dia menikahiku karena cinta atau sekedar harta yang mungkin bisa dinikmatinya bila menjadi suamiku,” kata Magdalena. Dia tidak tahu mengapa malam itu dia begitu ingin menceritakan tentang hidupnya pada Bren, pada orang yang bahkan tak dikenalnya. Pada pegawainya, yang mungkin saja esok akan membeberkan rahasia terpahitnya. Namun ada sesuatu yang berbeda dari Bren yang tak mampu dia ungkapkan. Sesuatu dalam mata laki-laki itu membuat Magdalena yakin, laki-laki ini bisa dipercaya.

Bren mematikan rokoknya di atas asbak, dia ikut memandangi bulan seperti Magdalena. Wanita itu kemudian melanjutkan kisah hidupnya.

“Aku hanya ingin sedikit kebahagiaan, apakah begitu sulit? Bahkan untuk keluar dari rumah ini dan bertemu dengan orang-orang aku harus memakai topeng sehingga tak ada yang tahu seperti apa aku ini sebenarnya, aku lelah berpura-pura. Aku ingin berhenti.” Magdalena merasa dadanya sesak, semua kepahitan yang tak pernah dia keluarkan pada orang terdekatnya sekalipun dengan mudah keluar begitu saja di depan Bren. Bren yang baru dikenalnya, yang belum sehari penuh diperhatikannya sejak laki-laki itu menyebutkan namanya di depan Thomasson, laki-laki yang telah mencuri perhatiannya sedari tadi.

Bren merasakan kesedihan yang dirasakan Magdalena, tanpa ada niatan buruk padanya, Bren merangkul pundak Magdalena yang tergoncang-goncang oleh isakan tangis yang coba disembunyikannya. Saat tubuhnya telah dirangkul Bren, Magdalena akhirnya menumpahkan seluruh tangisnya di atas dada laki-laki itu. Bren memeluknya erat, dia melepaskan semua prasangka di antara mereka. Bren melupakan sekejap derajat dan status yang memisahkan mereka. Wanita ini memerlukan seseorang untuk menghiburnya dan Bren ada di sana, dia tak dapat melihat seorang wanita menangis, meskipun mungkin dia adalah si tangan besi berhati dingin seperti cerita pegawai perusahaan tempatnya bekerja. Namun apa yang dilihat Bren dalam mata Magdalena adalah kebalikan dari itu semua. Wanita ini rapuh, wanita ini ketakutan. Dan Bren ingin mengenyahkan semua mimpi buruk Magdalena bila wanita itu mengizinkannya.

“It’s gonna be alright...” bisik Bren di atas kepala Magdalena. Tanpa disadarinya, Bren telah mengecup pelan puncak kepala Bossnya. 



3 comments:

  1. Udh cerai lum si tante am suaminya ini?
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°ºea mba cin

    ReplyDelete
  2. Keren cerita nya, lanjut lagi yaa ci ci hehe

    ReplyDelete
  3. inget yuni shara ma mas rafi.tp dlm versi LBH KEREN N GA ALAY. HAHAHA.Lanjut jeng!:D

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.