"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, November 7, 2013

Not So Tough Lady - Part 6


Pesta sambutan pembukaan produk baru dari salah satu klien perusahaan milik Magdalena telah usai, waktu untuk bersantap pun dimulai. Sebagian tamu undangan telah menuju ruang makan, sementara sebagiannya lagi masih berbincang-bincang dengan sesama pengusaha dan para ekspatriat yang ada di Jakarta. Di antaranya adalah Robert Burmingham, mantan suami dari Magdalena Stuart.


Kisah cinta mereka awalnya cukup manis, setidaknya sampai Magdalena menyadari bila dia telah dipergunakan oleh laki-laki itu. Suami yang terlihat begitu baik di depannya, dengan kejam telah mengkhianati dan melakukan transaksi ilegal atas nama perusahaan miliknya. Beruntung kehancuran yang dibuat Robert belum fatal. Dengan bantuan ‘Tuan Besar’, akhirnya Magdalena berhasil membangun kembali perusahaan mereka di Indonesia dan menunjuk Thomasson sebagai Presiden Direkturnya.

Bren memasukkan kacamata hitamnya ke dalam saku jas, matanya berkeliling melihat pada undangan dan berpikir dunia seperti apa yang dimiliki Magdalena karena wanita itu terlihat begitu riang bercengkerama dengan rekan-rekan bisnisnya. Dia terlihat luwes dan cakap, klien yang berada di sisi kanan dan kirinya mendengarkan dengan penuh perhatian, setiap kata yang terucap dari bibir wanita itu diberikan minat seratus persen oleh pendengarnya. Bren mendengus menyadari bagaimana Nyonya Besar bisa berubah menjadi menjengkelkan bila berada di dekatnya.

“Dari mana kalian berkenalan?” tanya mantan suami Magdalena yang tiba-tiba menghampiri Bren dari samping. Mereka berada di sebuah bar stand tempat tetamu mengambil minuman mereka. Saat itu Bren dengan polos hanya meminta segelas air mineral pada bartender.

Sembari menunjuk pada gelas yang dipegang Bren, Robert menyeringai licik, seolah mencemooh pilihan minumannya. “Apakah itu vodka atau hanya segelas air putih seperti dugaanku?” tanya laki-laki berkebangsaan Inggris itu. Dengan tinggi seratus delapan puluh senti meter, Robert Burmingham lima senti meter lebih tinggi dari Bren, tidak membuat ciut nyali laki-laki berdarah Indonesia ini.

“Ini air putih, aku perlu menjernihkan kepala malam ini, karena seseorang perlu memiliki kewarasan tinggi bila mendampingi seorang Lady secantik Magdalena bukan?” jawab Bren tanpa mengalihkan pandangannya dari Nyonya Besarnya. Bren mulai mengingat-ingat berapa jarak usia di antara mereka.

Robert mendengus, dia ikut bersandar di meja bar sebelum berujar, “Kau belum menjawab pertanyaanku.”

“Pertanyaan yang mana?” tanya Bren acuh. Sedari awal dia telah tidak suka dengan laki-laki di sampingnya, terlebih memikirkan bila laki-laki itu adalah mantan suami Magdalena, sesuatu dalam dirinya memicu kecemburuan yang tak mendasar.

“Darimana kalian berkenalan?” tanya Robert.

“Aku tidak punya kewajiban untuk menjawabmu, kan?” seringai Bren sinis. Dia menyadari dengan sangat Magdalena tidak menyukai mantan suaminya, diapun harus seperti itu.

Rahang Robert mengeras, kepalan tangan pada gelas old fashioned dengan Whisky on the rock-nya semakin mengencang, lalu dia tertawa, tawa yang membuat Bren terpaksa menoleh padanya.

“Kau sungguh menarik, anak muda. Aku tidak tahu bila Lena menyukai daun muda sekarang. Tapi, well... look at you...” Robert mundur selangkah untuk mengambil sebuah pemandangan lebih seksama pada tubuh Bren yang terbalut pakaian mahal.

“Dia menghiasmu dengan baik, bahkan seorang ahlipun tak akan tahu bedanya antara gigolo dengan kekasih asli,” cibirnya sinis.

Hal itu membuat Bren emosi, dengan kesal diraihnya kerah kemeja Robert dan membanting laki-laki itu ke meja bar. Bibirnya mendesis ketika mengeluarkan ancaman pada laki-laki berusia empat puluh tahun itu, “Cabut kata-katamu atau kuretakkan rahangmu disini. Aku bukan gigolo atau jenis seperti itu!!” ucap Bren geram. Orang-orang datang untuk mengerumuni keributan itu, sedang Robert menyeringai senang meski terbersit ketakutan dalam matanya.

Dari balik kerumunan itu, Magdalane membelah orang-orang yang masih berbisik-bisik dengan gosip mereka, menyadari siapa yang sedang berkelahi.

“Bren?! Apa yang kau lakukan?” teriak Magdalena namun tak digubrisnya.

“Majikanmu memanggil, gigolo... Jawablah...” kekeh Robert senang, dia merasa di atas angin karena percaya tak akan ada yang simpati pada seorang muda yang mencoba menghajar laki-laki tua, terlebih laki-laki itu adalah mantan suami dari kekasihnya.

“Kau!! Bajingan!!” gertak Bren kesal, tarikan pada kerah kemeja Robert semakin mengencang, hampir mencekik leher laki-laki itu.

“BERNARD BRAM KUPERINGATKAN KAU!!!” teriak Magdalena yang akhirnya berhasil membuat Bren melepaskan cengkeramannya dengan wajah memerah penuh amarah.

Magdalena menarik jas hitamnya dan mencecar dengan pertanyaan, “Apa yang kau lakukan? Kau membuatku malu! Dan mengapa kau mencekik Robert?” tanyanya keras.

“Dia...”

“Oh, tidak apa-apa, Lena... Bren hanya sedikit cemburu ketika aku mengatakan betapa cantiknya dirimu. Dia tidak terima laki-laki lain memuji kekasihnya, aku maklumi...” ujar Robert sopan, berusaha menarik simpati penonton. Senyumnya pun dibuat-buat agar terlihat dialah sebagai korban dalam perkelahian itu.

“Kau?! Kau membuatku malu, Bren!” Magdalena mengepalkan tinjunya dan memutar tubuhnya hendak berlalu dari sana, tapi cekalan tangan Bren pada pergelangan tangan Magdalena menghentikan gerak wanita itu.

“Itu bohong. Bukan itu yang dia katakan sebelumnya,” bantah Bren tak percaya dengan pendengarannya. Bren dapat melihat air mata Magdalena yang menggantung di pelupuk mata, wanita itu berusaha melepaskan tangannya dari cekalan tangan bren, berusaha menghindari sorotan mata penonton yang memandangnya dengan penuh ejekan.

“Lepaskan aku...” bisiknya lemah.

“Lena... aku... Kau harus dengar kata-kataku dulu,” kata Bren lagi. Magdalena gelisah dan semakin tak berdaya hingga akhirnya sebuah tamparan melayang pada pipi kiri Bren, tamparan yang mengheningkan ruangan itu, bahkan membubarkannya.

Magdalena pergi dari gedung itu dengan mobilnya, Robert tersenyum sinis sebelum berlalu, para undangan kembali ke tempat mereka, dan Bren berdiri mematung dengan pipi ngias panas. Dia bahkan tak berkedip utuk beberapa lama, meredam amarah yang dikiranya akan meledak hingga hampir tiga per empat emosinya menguap dan menghilang. Dengan langkah pelan, Bren menuju lobi dan menyetop sebuah taksi yang membawanya pulang ke rumahnya.

Dalam perjalanan, Bren melepaskan kancing atas kemejanya, menyimpan dasi ke dalam saku dan menikmati rokok sepuasnya. Bren tak berbicara sedikitpun, bahkan di dalam hati dia tak sanggup berucap. Pikirannya kosong sekosong-kosongnya. Baru kali ini dia dipermalukan sedemikian hingga, oleh perempuan, di depan tamu undangan dari kelas atas.

Bren tidak pernah perduli dimana dia berada, namun saat tamparan yang menyakitkan dilakukan oleh seseorang yang dianggapnya perlu untuk dia bela, Bren meragukan motifnya untuk membela wanita itu lagi. Dia pun mendesah pelan sebelum keluar dari taksi, berdiri diam beberapa saat untuk melihat apartemen yang kini dihuni oleh keluarganya, apartemen yang mungkin akan ditinggalkannya tak lama lagi, setelah mengajukan surat pengunduran diri dari Stuart’s Company ltd.

~*~*~*~ 


3 comments:

  1. asiiikkk akhirnya ada yg baruuu! lanjutkan mba shin! hehehe makasiiii
    -fina

    ReplyDelete
  2. Ga sabar nunggu lanjutannya nh...Makasih Mba Shin

    ReplyDelete
  3. Dkit babnya,hihihihi
    Lagi mba cin, mba cin jrg posting skrg jd jrg buka blog jg :D
    Mksih y mba

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.