"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, November 21, 2013

Not So Tough Lady - Part 7


Seminggu lamanya Bren sibuk menghubungi rekan, keluarga, atau siapapun yang dia rasa bisa memberinya pekerjaan selain Stuart’s, namun tak ada satupun yang berhasil. Seolah semua pekerjaan tidak ditakdirkan untuknya. Bren juga telah mengatur keluarganya untuk bisa pindah ke rumah kontrakan lain agar bisa pergi dari apartemen itu. Selama tiga hari belakangan, Bren tidak banyak berbicara, lebih sering mengurung diri di dalam kamarnya dan berkutat dengan komputer. Dia sibuk mencari lowongan pekerjaan apapun yang mungkin di dapatnya, baik itu di dalam negeri, ataupun di luar negeri.


Bren menghela nafasnya, sudah lima belasan lebih lamaran dia ajukan sejak tiga hari belakangan pada belasan perusahaan-perusahaan multi level, properti, konstruksi bangunan, bahkan pabrik penggalangan minyak pun dikiriminya. Dengan tiga orang sebagai tanggungan, Bren tidak ingin berlama-lama meratapi nasib, tabungan yang dimilikinya di dalam rekening hanya cukup untuk membiayai keluarganya selama satu tahun, itu tidak termasuk biaya sekolah adik-adiknya beserta membayar cicilan hutang sang ayah yang masih harus dilunasinya selama lima tahun lamanya.

Disandarkannya punggung ke kursi, pintu kamarnya diketuk dari luar.

“Bren... Makan dulu,” suara panggilan ibunya memintanya keluar.

“Belum laper, Bu. Nanti deh lagi dua jam,” sahutnya sembari melihat jam digital di atas meja. Pintu kamarnya pun terbuka, sebelum menutup lagi. Namun tak ada siapa-siapa yang menghampirinya. Bren pun memutar tubuh untuk mencari tahu apa yang terjadi.

Matanya sedikit membelalak ketika menyadari siapa yang tengah berdiri menatap matanya, meski wanita itu dengan kacamata hitam yang menyembunyikan bola mata berwarna birunya.

“Mam? Kenapa kau bisa ada disini?” tanya Bren tak percaya. Dia berdiri namun tak berani mendekat.

Magdalena membuka kacamata hitamnya, meletakkan tas bahunya ke atas ranjang tempat tidur Bren yang acak-acakan. Bren belum sempat memperbaiki tempat tidurnya dan itu membuat laki-laki muda itu malu, namun berusaha disembunyikannya.

“Aku menunggumu malam itu, kenapa kau justru pulang ke sini? Kau belum boleh libur. Don’t you know that?” tanya Magdalena datar.

Bren memperbaiki sisiran rambutnya, meskipun dia telah bersisir sekedarnya setelah mandi pagi, Bren masih merasa tak percaya diri di hadapan wanita elegan ini.

“Aku kira aku tidak ingin melanjutkan pekerjaan yang kau berikan untukku. Aku mengundurkan diri, besok senin aku akan ke kantor dan membawa salinan surat pengunduran diriku. Aku akan mengembalikan semua fasilitas yang kudapat setelah itu.”

Magdalena meneliti foto-foto di dinding, foto-foto ketika Bren kecil, saat pertama kali meraih juara bulu tangkis di sekolah, hingga foto kelulusan sewaktu kuliah bersama kedua orang tua dan kedua adiknya.

“Ayahmu sudah meninggal kan?” tanya Magdalena, kini dia menoleh pada Bren yang terpaksa mengangguk untuk memberi jawaban. “Jadi bisa dibilang kau adalah kepala keluarga, kau bertanggung jawab dan kau adalah satu-satunya pencari nafkah untuk keluargamu. Apakah kau ingin berhenti hanya karena sebuah tamparan?” tanya Magdalena acuh. Wanita itu sibuk meneliti barang-barang koleksi pribadi yang ada di atas meja tempat Bren meletakkan buku-buku bacaannya.

“...Kau merendahkanku dengan pekerjaan itu, Mam,” geram Bren meski dia tidak membantah bila dia kehilangan pekerjaan ini, maka Bren terpaksa harus membuat kehidupan ekonomi keluarganya kembali terancam.

“Apakah bayaranmu kurang? Aku bisa menambahkannya lagi. Lima ratus juta sebulan? Cukup, kan?” tanya Magdalena tanpa memutar tubuhnya menghadap Bren. Dia tidak menyadari betapa geramnya Bren dengan penghinaannya.

“Meski seluruh kekayaanmu kau berikan padaku, kau tidak bisa membeliku, MAM!” teriaknya sedikit keras.

Magdalena memutar tubuhnya, tersenyum sinis dan menghampiri Bren. “Apa yang membuatmu mengira aku tak bisa membelimu? Aku bisa, dan akan aku lakukan. Aktingmu semalam cukup bagus, kau bisa diandalkan,” jawabnya enteng.

Bren menarik nafasnya dalam-dalam, berusaha tidak terpancing kembali emosinya, dia tidak ingin menyakiti wanita, tidak juga wanita di depannya yang begitu ingin dibungkamnya.

“Kau sungguh licik, aku sempat tak percaya mengapa orang-orang mengatakan kau begitu licik, namun rupanya mereka benar,” desis Bren marah.

Sedikit ekspresi terluka terlihat pada sorot mata Magdalena, namun hanya sekejap. Dia justru menghampiri Bren dan menepuk pipi laki-laki itu, “Apa kau kira seorang wanita bisa berada di atas bila dia tidak licik? Karena laki-laki senang memanipulasi, mereka merasa bisa mendominasi segalanya. Mereka menganggap wanita tidak bisa menjadi seorang pengusaha hebat. Kau tahu... aku melakukannya dengan cara-cara beradab awalnya, tapi apa yang kudapatkan? Semua orang memandangku sebelah mata. Mereka membuatku seperti ini, Bren. Seperti inilah orang-orang bisa kutundukkan. Mereka tidak boleh memandangku sebelah mata lagi. Tidak mantan suamiku, tidak juga kau! Kau harus menyelesaikan kontrak kerjamu selama enam bulan, atau aku akan membuatmu hancur!” ancam Magdalena.

Bren tersulut emosinya, dengan kesal dia mencengkeram kedua lengan Magdalena, membawa wanita itu merapat ke dinding kamar, mencekal kedua pergelangan tangannya, mengintimidasi dengan tubuhnya. Kepala mereka hanya berjarak beberapa senti, Bren dengan sengaja menekankan tubuhnya pada Magdalena. Tubuhnya bergetar hebat hanya karena menahan emosi di dalam dada, wanita itu telah membuat batas kesabarannya terlampaui, dengan kesal Bren mengancam Sang Nyonya Besar.

“Bila kau berani mengganggu keluargaku, aku bersumpah akan melakukan apapun untuk membalasmu!!” bisik Bren di depan wajah Magdalena. Nafas mereka sahut menyahut, nafas Bren karena amarah, dan desah hangat Magdalena karena debar jantung yang mengencang, antara takut dan bergairah.

“Apa yang akan kau lakukan padaku?” tantang Magdalena dengan seringainya.

Bibir Bren berkedut, dia tidak mengharapkan tantangan seperti itu dari Magdalena, Bren berharap wanita itu meminta maaf, atau setidaknya ketakutan, namun rupanya dia salah.

“Kau?!!”

What? Katakan apa yang akan kau lakukan padaku?!!” desak Magdalena lagi, bibirnya mencibir semakin berani.

“Berengsek kau wanita!!” bentak Bren sebelum melumat habis bibir Magdalena dan memeluk tubuh wanita itu dengan erat.

Kedua tangan Magdalena telah bergelung di lehernya, mengunci tubuh Bren agar tak melepaskan ciuman mereka. Bibir Bren mencari-cari, lidah saling memilin, bibir saling menghisap, bahkan tangan saling mengelus. Magdalena melepaskan kaos putih yang dikenakan Bren, mendorong tubuh laki-laki itu ke atas ranjang dan menindihnya. Mereka berciuman lagi dengan ganas, tangan Magdalena dengan ahli membukai kancing celana pendek Bren, menguasai tubuh laki-laki itu sebelum kembali meraba tubuh bagian atasnya.

Magdalena melepaskan ciuman mereka, bibir mereka sama-sama bengkak dan panas, nafas terengah-engah seperti baru saja lolos dari badai. Magdalena dengan rambut acak-acakan dan kancing blouse yang terlepas sebagian, duduk di atas perut ramping Bren dan bertumpu pada dadanya yang bidang. Nafas mereka naik turun berirama, mata saling terpaut, tanpa bicara.

Magdalena kemudian turun dari ranjang, memperbaiki pakaian dan rambutnya sebelum mengenakan kembali kacamata hitam dan tas bahunya. Di dekat pintu dia berhenti, “Besok sebuah mobil akan menjemputmu pukul enam pagi. Kita akan ke Inggris, semua telah di atur. Kau hanya perlu membawa tubuhmu, dan juga isi kepalamu yang lebih pintar,” ujarnya sebelum pergi dari sana, meninggalkan Bren masih berbaring di atas ranjang dengan kemaluan mendesak menyakitkan karena gairah. Dia lalu menghela nafas panjang, menyembunyikan kepalanya dengan bantal dan tak berkata apa-apa saat lima menit kemudian ibunya membuka pintu kamarnya untuk menanyakan keadaannya.

“Aku tidak apa-apa, Bu,” jawabnya untuk mengusir ibunya keluar dari kamar. Wanita berusia hampir enam puluh tahun itupun mengangkat bahu sebelum menutup pintu kamar Bren dan berlalu menuju dapur.  


4 comments:

  1. Hai,slm kenal...
    Aku, Uda seminggu msuk blog ini,dan smua cerita uda di baca,
    Semua cerita'y keren-keren,byk jg cerita Romance blm di lanjutin,,penasaran tingkat dewa!!
    Untuk cerita'y 5 Bintang untuk penulis'y 4 jempol!!!!
    Semangaaaaat sist,di tunggu lanjutan'y....

    ReplyDelete
  2. Asiiikkk akhirnya dilanjutin lagii!!! Makasi mba shin! Semangaaatt untuk lanjutannyaaa! Hehehe
    -fina

    ReplyDelete
  3. Ga sabaran...
    Menunggu... Menunggu...
    Ayo dunk sis lagi...

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.