"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, November 29, 2013

Not So Tough Lady - Part 8


Pukul delapan malam waktu setempat, Magdalena dan Bren tiba di Bandara Internasional Heathrow. Mereka langsung dijemput oleh sebuah limusine yang membawa pasangan itu menuju kediaman Stuart di pinggiran kota London. Rumah bergaya Victorian abad ke-18 itu masih terlihat terawat meskipun usianya telah mencapai dua ratus tahun lebih. Magdalena dan Bren disambut oleh ‘Tuan Besar’ yang langsung menunjukkan tatapan penilaian pada sosok Bren yang berdiri kaku di belakang Magdalena.


Bren belum pernah bertemu dengan Sang Tuan Besar, dia adalah ayah dari Nyonya Besar Magdalena Stuart, seorang pengusaha besar dan masih berpengaruh dalam perusahaan Stuart ltd.

Tuan Besar berbisik-bisik pada Magdalena, dia yang duduk di atas kursi rodanya dengan cerutu kayu mengepul dari mulutnya masih tetap mengamati Bren dengan mata yang semakin buram.

“Semoga kali ini pilihanmu tidak salah,” dengus Mr. Stuart sambil berbalik dengan kursi rodanya. Seorang pelayan mendorong kursi roda itu untuk masuk ke dalam rumah sementara Magdalena dan Bren mengikuti dari belakang.

Mr. Stuart memutuskan untuk beristirahat karena sudah larut malam, namun sebelum masuk ke dalam kamarnya, Mr. Stuart memastikan Magdalena dan Bren berada dalam satu kamar.

“Semakin cepat, semakin baik. Usiaku tidak lama lagi, kau tak ingin seluruh kekayaan Stuart jatuh ke tangan yang tak berhak, kan?”  kata Mr. Stuart sebelum menghilang  ke balik pintu kamarnya. Magdalena hanya berdiri muram sebelum memerintahkan pelayan membawa koper-koper mereka ke dalam kamar lainnya yang telah ditata sedemikian rupa untuk dua orang.

“Kau ikut denganku. Kita berbagi kamar malam ini,” perintah Magdalena yang dijawab Bren dengan bingung.

Dia menyusul langkah kaki Magdalena yang berjalan dengan cepat di koridor mansion mewah itu, “Apa maksudmu kita berbagi kamar? Bukankah di sini banyak kamar?” tanya Bren cemas. Dia mencemaskan apa yang mungkin terjadi bila dirinya berada dalam satu ruangan yang sama bersama Magdalena. Bren tidak mempercayai dirinya berada sedekat itu dengan wanita ini, terutama setelah apa yang terjadi kemarin di dalam kamarnya. Bren masih ingat dengan jelas bagaimana wanita ini dapat membuatnya bertekuk lutut hanya dengan intimidasinya.

Magdalena tak menggubris pertanyaan Bren, dia membawa langkahnya menuju sebuah kamar dengan interior merah gelap yang cukup luas. Perabotan-perabotan mahal beserta furniture-furniture modern diletakkan berdampingan di dalam ruangan itu. Bahkan ranjang Queen Bed yang berada di tengah-tengah kamar utama terlihat mengagumkan dengan selimut warna merah darah yang berisikan gambar lambang keluarga Stuart.

“Kau akan tidur di sini, di kamar ini, selama satu minggu lamanya kita di London. Aku tidak ingin mendengarmu membantah, ini juga lebih baik agar kita punya waktu untuk membicarakan apa yang harus kita lakukan setelah ini.” Magdalena memutar tubuhnya menghadap Bren, telunjuknya ditodongkannya pada dada laki-laki itu, sekali lagi menyakitinya dengan tusukan kukunya yang panjang.

“Bila ini gagal, maka aku akan membunuhmu, Bren. Ini tidak boleh gagal, Tuan Besar tidak boleh tahu bila kau hanyalah tunangan pura-puraku!! Dia harus menyerahkan perusahaan atas namaku. Bila tidak, aku tak akan memaafkannya sampai mati pun!! Tak akan kubiarkan perusahaan yang membuat ibuku mati dengan sia-sia ini jatuh ke tangan orang lain!!” lanjutnya.

Awalnya Bren ingin mendebat keputusan Magdalena, namun setelah mendengar alasan dibalik semua kehebohan ini adalah demi ibunya, Bren menutup mulutnya. Dia bisa menatap jauh ke dalam mata biru kelabu itu bila Magdalena bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Rasa kesakitan yang dirasakan Magdalena bisa dirasakannya juga.

Alright. Akan kulakukan apa yang kau suruh. Enam bulan, dan aku selesai. Pastikan kau memberitahuku apa yang harus aku lakukan. Aku tak ingin terlihat bodoh di depan teman-temanmu, atau musuhmu,” ujar Bren dingin.

Magdalena memasang ekspresi terkejut, dia tidak menyangka Bren akan kooperatif pada rencananya, “Kau... setuju? Kau mau bekerja sama?” tanya Magdalena tak percaya.

Bren mengangguk, dia lelah bermusuhan dengan wanita di depannya ini. Meskipun Bren tahu segudang harga diri tak akan pernah cukup untuk direndahkan oleh wanita ini, namun dia bertekad, hanya enam bulan saja dan dia akan menjadi manusia bebas. Bebas dari hutang ayah-ayahnya, bebas dari ketergantungan pada orang lain, dan dia bisa memulai usahanya dari awal. “Akan kulakukan. Bukankah aku telah menandatangani kontrak itu, kan?” jawab Bren sembari menghentikan telunjuk Magdalena yang menusuk dadanya.

“Dan kau tak perlu menyakitiku seperti itu, kau kadang bisa berubah menjadi sangat kejam, don’t you know that?” desis Bren di depan wajah Magdalena.

In your dream. Itu tak ada sangkut pautnya dengan kontrak. Ini adalah kebiasaanku bila melihat laki-laki yang kuminati,” dengus Magdalena lalu menjauh dari cengkeraman mata Bren. Magdalena merasa jantungnya berdebar cepat tatkala Bren berada sedekat itu dengan wajahnya, dia menarik nafas pelan-pelan guna menenangkan debaran jantungnya. Sementara Bren mengerjap-ngerjapkan matanya bingung.

“Wanita memang sangat cepat berubah,” dengusnya sinis.

“Did you say something?” teriak Magdalena dari arah ranjang, wanita itu baru saja menyampirkan gaun tidurnya di sana untuk dia kenakan malam besok.

“Nope... I didn’t,” sahut Bren sambil lalu.

~*~*~*~

Selesai Magdalena membersihkan tubuhnya, Bren kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk berendam air hangat. Sesekali Bren ingin memanjakan tubuhnya dalam bath tub berlapis emas dan kamar mandi mewah yang tak akan pernah dilihatnya lagi setelah ini. Setengah jam kemudian barulah dia keluar dari dalam kamar mandi dan menemukan Magdalena telah terlelap di atas ranjang. Wanita itu tak menyisakan sedikit pun tempat bagi Bren untuk tidur. Kedua tangannya melintang seolah berkata ranjang itu hanyalah untuknya.

Bren mendengus, setelah mengenakan kemeja dan celana panjang, Bren pergi ke arah kursi sofa yang berada di ruang tamu kamar, di sana dia duduk dan menghisap rokoknya sambil melihat pemandangan di luar. Pikirannya kosong, dia bahkan tak tahu apa yang sedang dilakukannya di Inggris, tak pernah terpikir dalam kepalanya akan menjadi seorang ‘gigolo’ seperti hinaan Robert semingguan lalu yang masih begitu lekat di kepalanya.

Dengan geram Bren meremukkan puntung rokoknya ke dalam asbak, tanpa menghiraukan udara malam yang dingin, Bren tertidur di atas kursi dalam posisi duduk.

Pagi-pagi buta Bren dibangunkan oleh suara seorang perempuan yang tengah merintih gelisah dalam tidurnya, matanya tertumbuk pada tubuh Magdalena yang bergerak gelisah di atas ranjang. Tubuh wanita itu berkeringat meskipun udara cukup dingin malam itu. Dengan bingung Bren mencoba membangunkan Magdalena yang masih berteriak dalam tidur, memanggil nama ayahnya dan memohon agar laki-laki itu tidak meninggalkannya, atau ibunya.

“No... Daddy... No... Jangan pergi, aku takut!!”

Tak ada cara lain bagi Bren untuk menenangkan Magdalena selain menggoncang-goncangkan tubuhnya, namun wanita itu masih tetap memejamkan matanya. Bren semakin kebingungan tatkala melihat rembesan air mata yang mengalir dari mata Magdalena yang terpejam, dia bahkan terisak hingga akhirnya mata itu terbuka dengan kaget.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Bren cemas. Wajah Magdalena pucat pasi, rambutnya berantakan dan nafas wanita itu terputus-putus, seperti dia baru saja lolos dari cengkeraman maut.

“Apa yang terjadi?” tanya Magdalena tak menghiraukan pertanyaan Bren.

“Kau... Mimpi buruk, kurasa.”

Magdalena menatap wajah Bren dalam remangnya lampu kamar, lalu matanya teralihkan pada dinding di samping mereka, kemudian meraba jendela, pada pemandangan luar dan bulan setengah purnama di angkasa.

“Akan kuambilkan kau minuman, kau terlihat pucat.” Bren hendak pergi ke ruang tamu untuk mengambil segelas air putih untuk Magdalena, tapi wanita itu menahan lengannya.

“Jangan pergi, temani aku malam ini. Tidurlah di sampingku,” perintah Magdalena. Kata-katanya tegas, meski Bren bisa mendebat perintah itu, tapi melihat kondisi Magdalena yang cukup terguncang membuat Bren merasa iba dan hanya mengangguk patuh.

Magdalena memberikan bagian ranjang di sampingnya pada Bren, dia seolah berada di tempat lain, tidak seperti biasanya. Pandangan Magdalena jauh, pikirannya sedang mengembara kemana-mana, dia juga tidak menyadari apa yang dia lakukan pada Bren setelah mereka berdua berada di atas ranjang, wanita itu memeluk tubuhnya seperti seorang kekasih tengah mendekap prianya. Magdalena mencari perlindungan pada tubuh Bren, memeluk dengan erat kemeja yang dia kenakan, sedang kepalanya bersandar dengan nyaman pada dada bidangnya.

Dengan kikuk Bren meletakkan lengannya di bawah kepala Magdalena, meskipun mereka pernah berdekatan seperti ini sebelumnya, namun saat-saat seperti ini selalu menjadi cobaan yang sangat berat bagi pria normal sepertinya. Bren hanya menghela nafas panjang saat Magdalena tanpa sengaja mendesakkan tubuhnya yang kenyal pada tubuh Bren. Sepanjang malam itu adalah siksaan terberat dalam hidup seorang Bren, dia tidak dapat memejamkan matanya seperti keinginannya semula, Magdalena masih bergelung pada tubuhnya hingga keesokan pagi tubuh mereka disinari oleh mentari pagi yang terbit dari balik bebukitan.  


8 comments:

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.