"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Monday, December 16, 2013

Kau Selalu Di Hatiku - Epilogue


EPILOGUE

Siang itu seluruh keluarga besar Liong berkumpul di rumah baru mereka yang kini ditempati Kenny bersama dengan istrinya Novi, anaknya Kevin dan mertuanya Ibu Made. Belum ada seminggu yang lalu mereka sibuk mengatur dan berdebat mengenai penempatan furniture atau penataan kamar anak mereka, atau mengenai letak lukisan dan foto keluarga berukuran raksasa yang memperlihatkan seluruh anggota keluarga besar Liong beserta Ibu Made.

Perdebatan kecil itu menimbulkan percik-percik cinta baru di antara Kenny dan Novi, membuat rumah tangga itu semakin mesra seiring bertambahnya hari. Kevin juga sudah tidak sabar untuk segera berenang di kolam renang barunya.


Sementara para pria sibuk memanggang daging di atas griller BBQ di kebun, para wanitanya sibuk berbincang-bincang mengenai pria-pria mereka. Nampak Kristin yang kini tengah mengandung lima bulan mencicipi sup ayam buatan Novi.

Ehm.. Enak, Nov. Mau donk resepnya, kalau siang-siang gini di Jakarta bikin gerah, males keluar. Pinginnya bikin yang simpel aja. Sekalian kalau ada resep yang gampang donk,” ujarnya sambil tertawa kecil, “Kayaknya bayiku ngidam makan-makan mulu nih, coba kalau aku tinggal di Bali, tiap hari pasti aku main ke restoran,” lanjutnya dengan gemas.

Kristin sejak tiba di Bali dua hari yang lalu, hampir setiap hari berkunjung ke restoran Chinese food milik iparnya itu dan memesan menu yang sama. Aroma masakan tidak membuatnya gentar, melainkan semakin menjadi-jadi dan menyantap habis empat porsi Spring Roll kesukaannya.

Novi tertawa pelan, masih teringat olehnya bagaimana dua bulan yang lalu Kenny menyusulnya ke Taiwan dan mereka menikah di sana. Sejak saat itu Kenny menunjukkan bila laki-laki itu memang pantas menerima maafnya. Kenny selalu melimpahinya dengan kasih sayang dan perhatian yang tulus. Novi merasakan kembali cinta seorang Kenny yang dulu, seorang Kenny yang mencintainya dengan sepenuh hati.

Kenny melongok masuk ke dapur dan memanggil istrinya tercinta, seketika para ibu-ibu kompak menggoda pengantin baru yang belum sempat melaksanakan bulan madu mereka itu. Bagi Kenny, dimana Novi berada, di sanalah bulan madu itu ada. Sang mempelai wanitapun menjadi salah tingkah dan semburat merah muncul di pipinya saat berlalu menghampiri Kenny.

“Apa?” tanya Novi merajuk yang memunculkan seringai senang di bibir suaminya.

Ide nakal muncul di kepala Kenny saat melihat istrinya masih tersipu seperti remaja yang baru saja jatuh cinta, maka di depan ibu-ibu dan adiknya, Kenny mencium pipi Novi yang semakin menambah riuh sorak-sorakan di dapur. Novi lalu mencubit pinggang Kenny dan masuk ke dalam kamar mereka yang disusul Kenny sedetik kemudian.

Dengan gemas Novi duduk di atas ranjang mereka, bibirnya menekuk, sama persis seperti Kevin bila bocah kecil itu dilarang bermain di dalam kolam renang pada pukul delapan malam. Kenny yang tak dapat menyembunyikan senyumnya ikut duduk di samping Novi, wanita yang telah menguasai hatinya ini kemudian memunggunginya dan bersedekap manja.

Kenny tertawa pelan lalu memeluk tubuh Novi, mengecup pelan bawah telinganya dan berbisik serak, “Kau membuatku bergairah dengan sikapmu, Ma...” Kenny menciumi Novi lagi, kini memegang dagunya dan mencoba mencari bibir Novi yang masih merengut.

“Apa sih, sebel deh,” ujar Novi masih merajuk.

Kenny semakin gemas melihat tingkah istrinya, dia akhirnya memutuskan akan mencuri sebuah ciuman sebelum mengutarakan maksud awalnya memanggil wanita itu dari dapur.

“Kau semakin cantik kalau merajuk seperti ini, benar-benar menggemaskan.” Kenny lalu memagut bibir Novi yang membalasnya dengan malu-malu. Ciuman mereka semakin lama semakin menuntut. Ciuman yang hanya direncanakan beberapa detik berubah menjadi sebuah ciuman panjang bermenit-menit yang membakar tubuh mereka dalam gelora asmara tak berujung.

Barulah ketika Novi mendesak dada Kenny dengan tangannya, laki-laki itu memutuskan ciuman mereka.

“Mereka akan bertanya-tanya kita kemana...” ujar Novi dengan suara bergetar. Tubuhnya tak ingin kemesraan itu berakhir, namun akal sehatnya memintanya untuk melihat sekeliling sebelum memutuskan untuk larut dalam gairah yang menggebu-gebu bersama Kenny.

Kenny mengusap rambutnya kikuk, mencoba menenangkan gejolak dalam tubuhnya, dia pun berdeham untuk menghilangkan kegugupannya. Walau mereka telah menikah dan saling mengenal selama bertahun-tahun, Kenny masih merasakan debar yang sama saat pertama mereka bercinta dulu, merasa malu-malu kucing seperti remaja yang pertama kali jatuh cinta.

“Kau benar... Kita harus keluar sekarang,” jawab Kenny enggan, “Tapi aku rasa... Kau yang keluar pertama, Ma.”

Novi mengerutkan dahinya dan bertanya mengapa, dengan malu-malu Kenny menunduk pada bagian bawah tubuhnya yang telah mengkhianati kontrol dirinya. Wajah Novi semakin memerah demi menyadari maksud Kenny yang enggan keluar bersamanya. Dia pun tertawa geli setelah berada di luar pintu kamar dan Kevin berlari menghampirinya.

“Mammmaa!!!!” teriak Kevin riang. Bocah kecil itu hanya menggunakan celana renangnya dan membawa sebuah pistol-pistolan air di tangan, “Papa mana, Ma? Dipanggil Akong,” ujar Kevin setelah berhasil memeluk Mamanya.

“Ehm... Papa lagi....”

Dari belakang Novi, muncul Kenny yang langsung mengangkat Kevin ke dalam gendongannya, “Ayo, kita ke kebun, steak-nya sudah mateng ya?” tanya Kenny pada anaknya Kevin, sementara tangannya yang bebas menggamit pundak Novi, mengajaknya ikut serta berkumpul bersama dengan keluarga yang lain yang sudah bersiap-siap di kebun.

Sambil melanjutkan percakapan mereka, keluarga kecil ini berjalan beriringan menuju kebun tempat keluarga mereka yang lain telah menunggu. Mereka berbahagia karena hati mereka memiliki kesanggupan untuk memaafkan, menerima dengan tulus semua kelebihan maupun kekurangan yang telah mereka ketahui mengenai pasangan masing-masing. Mereka diberikan cobaan bukan karena tanpa alasan. Pembelajaran dan pahit getir hidup telah mereka cicipi untuk membentuk mereka menjadi manusia yang lebih baik di masa kini, memberikan mereka sebuah alasan baru untuk menyongsong kebahagiaan yang lebih indah dari yang pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Cinta itu akan selalu utuh karena dipelihara dengan penuh kasih, dirawat dengan cinta dan disiram oleh kejujuran.

Maka, satu tahun kemudian keluarga Liong pun bertambah satu orang lagi...


~*~The End~*~



6 comments:

  1. yeay...yeay... Happy ending.. Aku jg mo dong ke restorannya novi tiap hari,, gretong khan nov?? He..he..he

    ReplyDelete
  2. Seneng deh akhirnya Liöng family bisa dapet ending yang mäñìz, thanks mb shin:-)

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. wah bagus banget cerita nya. Memang mbak shin hoido ini jago banget kalau bikin drama cerita. Good job mbak :)

    ReplyDelete
  5. Horeeeee
    Akhirnya selesai juga cerita ttg Kenny dan Novi :)

    Selanjutnya proyek Lena dan Bren ya mbak Shin yang cantik XD

    ReplyDelete
  6. aku sukaaa ceritanya... Happily ever after... Kereeeennn

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.