"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, December 10, 2013

Kau Selalu Di Hatiku - Final Chapter


Seorang laki-laki berkulit putih dengan kacamata minus yang menghiasi wajahnya tengah membaca koran harian yang tergeletak di atas meja, sudah lebih sepuluh menit dari waktu yang mereka sepakati dan orang yang menghubunginya belum juga menampakkan diri.

“Kita harus segera berangkat ke Pekanbaru, Pak. Bila tidak kita akan ketinggalan pesawat lagi seperti di Bali,” desak asistennya yang gelisah menatap gerak jarum detik dalam jam tangannya.


“...Aku harus menunggu orang ini, aku ingin tahu apa yang akan dia katakan. Aku yakin ada sesuatu yang tidak beres di antara mereka, tapi aku tak punya waktu untuk mengurusinya. Apakah kau tahu dimana ada jasa detektif yang bisa kusewa?” tanya Hendhy.

“De..detektif? Maksud anda untuk menyelidiki seseorang?”

Hendhy mengangkat bahunya acuh, “Apalagi kalau bukan itu tugas detektif? Mencari informasi, bukan?” Koran telah dia sampirkan di sisi meja, lalu sudut matanya menangkap kedatangan sosok laki-laki yang mampu memunculkan decak sinis di sudut bibirnya.

“Dia datang,” bisiknya pada dirinya sendiri, “Kau pergilah, setengah jam lagi temui aku di sini. Aku harus menghadapi laki-laki arogan ini terlebih dulu.”

Asisten itu kemudian meninggalkan Hendhy dengan Kenny yang telah berada di dekat mereka, Kenny dan Hendhy berjabat tangan begitu formal, sorot mata tajam menusuk dari Kenny sedangkan Hendhy hanya membalasnya dengan pandangan sinis.

“Apa yang membuatmu ingin menemuiku? Bahkan terbang dari Bali hanya untuk berbicara padaku? Aku rasa ini pasti sangat penting.” Hendhy menyalakan sebatang rokok untuk dirinya, menyesapnya dalam-dalam dan menikmati pemandangan raut wajah Kenny yang tengah memendam emosinya sedari tadi.

“Jangan hubungi Novi lagi, aku tidak ingin kau masuk dalam hidupnya, tidak dulu, tidak sekarang atau nanti!” ujar Kenny tajam.

Hendhy memicingkan mata, rahangnya mengeras, dia tidak senang dengan apa yang didengarnya.

“Kau tidak bisa mengintimidasiku lagi, Ken. Meskipun Novi adalah istrimu, bukan berarti kau bisa menghalangi dengan siapa saja dia berteman. Bila dia memutuskan ingin berteman denganku, bahkan kau.. tidak bisa melarang-larangnya,” desis Hendhy dingin.

“Aku bisa! Dan aku akan melakukannya. Kau tidak bermaksud hanya berteman dengan istriku, H. Kau ingin lebih dari itu dan aku tidak akan mengizinkan hal itu terjadi. Kau tidak bisa mengganggu hidup keluargaku, kecuali kau ingin kubuka aib yang kau simpan rapat-rapat dari Novi. Kau tentu tak ingin dia mengetahui hal itu, kan?” gertak Kenny sinis.

“Aku tidak takut gertakanmu, Ken!! Aku bukan remaja yang bisa kau ancam-ancam seperti dulu. Dulu memang kau berhasil membuatku pergi, tapi kali ini aku tak akan menyerah!! Akan aku rebut cinta Novi dan akan aku tunjukkan padamu bagaimana Novi menerimaku, dia akan memaafkanku. Dan kau, akan sendirian!! Aku juga akan mengambil Kevin darimu!!”

Kenny menyambar kerah kemeja Hendhy dan menarik laki-laki itu ke atas meja, tangannya mencekik kuat-kuat leher Hendhy yang tertawa melecehkan dengan tatapan penuh kebencian.

“Bila kau berani menyentuh sehelai saja rambut Novi atau Kevin, aku bersumpah akan membunuhmu!! Aku tak perlu turun tangan, H. Aku bisa memerintahkan orang untuk melakukan hal itu dan tak akan ada yang tahu bila kau telah mati!! Camkan itu!! Aku memintamu baik-baik kali ini, jangan buat aku mengulang lagi perbuatanku dulu padamu atau lain kali bukan hanya kau saja yang akan kuhajar!! Bila kau masih menganggap ‘hal’ itu berharga, maka kau tahu apa yang harus kau lakukan untuk menghindari kehilangannya. Aku akan mengawasimu!!”

Kenny mendorong tubuh Hendhy hingga laki-laki itu menabrak tembok di belakangnya. Wajah Hendhy pucat karena kekurangan oksigen, namun senyum sinis tak lekang dari wajahnya. Tak sedikitpun kata-kata yang diucapkan Kenny masuk ke dalam kepalanya, dia menganggap remeh ancaman Kenny.

“Kita lihat saja nanti, Ken...  Siapa yang terakhir akan tertawa...” untuk pertama kalinya sisi culas Hendhy muncul di permukaan. Namun senyum itu kemudian menghilang saat asistennya datang menghampiri, dia tidak mengatakan apapun setelah berlalu dari tempat itu, banyak hal berkecamuk dalam kepala Hendhy yang ingin dia balaskan pada Kenny.

“Tunggu pembalasanku nanti, Ken! Kau akan rasakan pembalasanku!!” bisiknya dalam hati saat melangkah pergi meninggalkan Kenny yang menatap kepergiannya dengan kemarahan berapi-api.

“Setan!! Bajingan!!” bentak Kenny kesal. Di belakangnya seorang pria muda menghampiri dan membungkuk memberi hormat pada Kenny.

“Pak, kami sudah mendapat kabar mengenai keberadaan Ibu Novi,” ujar pria itu, dia adalah tangan kanan Kenny yang telah melakukan semua perintah di luar pekerjaan resmi yang diberikan Kenny, pria ini bertugas menjadi bayang-bayang Kenny dan membereskan segala masalah yang diperintahkan kepadanya.

“Terima kasih, Ron.”

Kenny mengernyitkan alis mendengar penjelasan Ronald tentang dimana keberadaan Novi, “Ya... Kemana lagi dia akan pergi selain tempat itu? Kami memang pernah berjanji akan ke sana saat berbulan madu nanti, yang sayangnya tak pernah terlaksana. Novi...” desahnya pelan. Pandangannya menerawang menatap pada langit-langit gedung kemudian berlalu dari sana, menuju rumahnya di Jakarta.

~*~*~*~

“Papa lihat, burung-burungnya lagi terbang masuk ke awan, Pa!” seru Kevin pada ayahnya. Mereka sedang berada di dalam pesawat Cathay Pasific yang membawa keduanya terbang melintasi benua Asia, menuju Taiwan.

“Iya mereka bergerombol, sudah Kevin foto?” tanya Kenny dari belakang punggung anaknya.

Kevin mengangguk senang, sesekali kamera pocket miliknya menangkap pemandangan di angkasa. Kevin cukup bersemangat menghabiskan waktu bersama dengan ayahnya meskipun sebelumnya tak ada pemberitahuan apapun pada Ibu Made mengenai keinginan Kenny untuk membawa Kevin ikut serta bersamanya. Namun setelah berbicara satu jam lamanya dengan Ibu Made, akhirnya Kenny diizinkan untuk mengajak anaknya ikut serta.

“Papa, nanti kita ketemu Mama di Taiwan?” tanya bocah lugu itu penuh harap. Kevin telah merindukan ibunya meski wanita itu kerap menghubunginya via telephone sambungan internasional setiap malam. Kevin tidak mengerti mengapa Papa dan Mamanya berpisah lagi setelah mereka sempat berbaikan. Bocah kecil ini hanya ingin kedua orangtuanya kembali bersama.

“Ya, kita akan ketemu Mama di sana. Kevin kangen sama Mama?”

Anak kecil itu mengangguk, dia lalu masuk ke dalam pelukan ayahnya dan memeluk pinggang Kenny dengan erat. Kepalanya kemudian didongakkan menatap ayahnya, “Pa... Janji ya jangan buat Mama pergi lagi? Kalau Mama pergi lagi, Kevin gak akan maafin Papa,” ujarnya dengan wajah cemberut. Meski demikian, wajah bocah kecil itu sangat menggemaskan dengan ekspresi seperti itu.

Kenny mencium pipi anaknya dan mengangguk, “Papa janji, Papa gak akan buat Mama kabur lagi.” Mereka lalu berpelukan lagi, saling menguatkan satu sama lain, kedua pria yang sama-sama mencintai wanita yang sama.

~*~*~*~*~

“Tambah lagi Bu minumannya?” tanya seorang pelayan di sebuah restoran Chinese food yang terletak di antara deretan restoran-restoran sejenis di ibukota negara Taiwan, Taipei.

Novi menggeleng, sudah tiga jam lamanya dia hanya duduk termenung setelah menghabiskan makan pagi yang tidak disantapnya dengan berselera. Hampir satu minggu lamanya dia meliburkan diri di negara ini, negara dimana Novi pernah merencanakan tempat berbulan madunya bersama Kenny, yang sayangnya tak pernah terwujud.

Kerap mereka berandai-andai akan bepergian kemana saja setelah menikah, mengunjungi Disney Land di Hongkong, menyeberang ke Jepang atau Korea Selatan, atau mungkin memutar arah dan berlibur di wilayah-wilayah Indonesia lain yang juga tak kalah menarik dari obyek wisata di luar negeri.

Novi memilih Taiwan karena negara ini memiliki ratusan hingga ribuan restoran Chinese Food yang digemarinya. Novi sangat menyukai masakan Chinese, seolah telah mendarah daging dalam tubuhnya. Minatnya terhadap masakan pun tidak jauh dari jenis masakan ini.

Selama mengembangkan restoran miliknya di Bali, Novi telah berkenalan banyak dengan para Chef Chinese Food diseantero dunia. Tak jarang dia mendapat undangan untuk menghadiri pembukaan restoran-restoran baru dari koleganya itu.

Dragon Palace Restaurant adalah salah satu restoran yang pernah dikunjunginya yang dimiliki oleh seorang pria berkebangsaan Inggris - Singapura yang juga memiliki hobi yang sama dengan Novi, memasak. Mereka saling bertukar informasi mengenai tekhnik memasak yang baik dan telah berkawan sejak tiga tahun yang lalu. Martin Wong, dia sangat mengagumi Novi dan sudah menganggap wanita itu sebagai adiknya. Maka ketika Novi datang mengetuk pintu restorannya dengan wajah kusut masai, Martin telah mengerti apa yang telah Novi alami. Dengan tulus dia membantu Novi mengatasi setiap keluh kesah hidupnya selama berada di Taiwan.

Hingga saat ini Martin kerap mengajak Novi ikut memasak di dapur miliknya untuk mengalihkan Novi dari kemelut masalah yang tengah dipikirkannya. Tapi sayang, hal itu hanya mampu membuatnya teralih saat Novi berada di dapur. Bila dia kembali ke kamar hotelnya, Novi masih tetap merasa kesepian karena hatinya masih tertambat di Bali, pada sosok laki-laki yang telah menyakiti hatinya dengan kejam dahulu kala. Novi bimbang bila dia sanggup memberi kesempatan kedua untuk orang itu, ayah anaknya.

Kata-kata nasehat yang diberikan Martin padanya masih terngiang-ngiang hingga sekarang. Laki-laki blasteran Inggris - Tionghoa itu memiliki obsesi tersendiri pada gadis-gadis Indonesia keturunan, dia pernah mencoba meminta Novi untuk mencarikannya jodoh seorang keturunan Tionghoa Indonesia yang akan menjadi Istri masa depannya. Bujangan dua puluh sembilan tahun itu telah bosan dengan hubungan cinta yang tak pernah berhasil.

“Bila cintamu cukup besar untuk memaafkannya, berikanlah dia kesempatan. Hati manusia itu hebat, meski telah dihancurkan dengan sadis, dia masih mampu menyisakan cinta yang mampu untuk dikobarkan lagi dan lagi, bila kedua belah pihak saling mengerti posisinya masing-masing, bertanggung jawab dan jujur. Cinta bukan sekedar rasa sesak di dada yang tak sanggup diungkapkan, tetapi juga komitmen, kemampuan untuk saling memaafkan dan kemampuan untuk selalu menghadirkan cinta baru yang berulang-ulang kepada orang yang sama. Percayalah, kau masih mencintainya, Nov.”

Novi menyesap air putih yang telah menipis dari dalam gelasnya, samar musik yang telah begitu dihafalnya terdengar di dalam restoran yang kini hanya terdapat beberapa pasang orang yang tengah menyantap makan siang. Masih dua jam lagi restoran ini akan penuh dengan tamu-tamu lain, jarang sekali musik telah dinyalakan pada pukul sepuluh pagi.

Tanpa berusaha menanggapi lingkungan sekitarnya, Novi masih tetap larut dalam coretan-coretan di atas kertas yang diciptakan oleh tangannya. Sebuah lukisan seorang pria yang secara tak sadar telah memenuhi kertas yang dipinjamnya dari kasir. Sosok wajah pria itu begitu mirip dengan wajah anaknya, dan Novi tersenyum memandang wajah itu.

Dielusnya pelan kertas yang berisi gambar pria itu pada bagian pipinya, tatapan penuh kerinduan membayang dipelupuk matanya, hingga mata Novi berkaca-kaca hanya karena mengingat laki-laki itu. Dia bingung dengan dirinya, berlari dan pergi dari masalah untuk kedua kalinya membuatnya ragu bila dia akan cukup berani mempertahankan Kenny dikemudian hari. Novi sangsi dirinya mampu untuk menjaga hubungan mereka bila masalah-masalah lain menghantam lagi. Kehadiran Kenny dalam hidupnya lagi telah menghidupkan cercah harapan yang dulu telah dipendamnya, Novi ingin mempercayai bila masih ada masa depan bersama laki-laki itu dan mereka boleh bersama lagi.

“Ken... Aku merindukanmu.” Setetes air mata jatuh pada pipi sosok gambar di atas kertas. Novi mengusap air matanya, namun bibirnya tersenyum, merasa dadanya penuh sesak karena bahagia, karena mengetahui dia masih merindukan laki-laki itu.

“Martin benar, aku memang masih mencintai dia. Seburuk apapun kelakukannya dulu, bukankah kini dia sudah berubah? Bukankah dia sudah menyesali perbuatannya? Dia meminta maaf... Jadi... hubungan ini mungkin, kan?” tanyanya pada dirinya sendiri.

Lamunan Novi terputus ketika bait-bait lagu yang mencuri perhatiannya kini dia dengarkan dengan lebih seksama. Suara laki-laki yang menyanyikan lagu itu begitu familiar di telinganya. Begitu dekat dan terngiang hingga ke sanubari.

Kau selalu di hatiku
Terpaut di dalam sukma
Tiada ku bimbang tiada ku ragu
Akan setia janjimu

Bersemi di dalam kalbu
Penawar hati nan lara
Padamu bintang, padamu bulan
Saksi yang abadi

Tangis air mata Novi semakin runtuh demi melihat sepasang mata coklat yang menatapnya penuh kerinduan, mata yang sama yang tengah dilihatnya di atas kertas gambar itu, mata yang dirindukannya.

Kenny turun dari panggung dengan mikrophone di tangan, masih sambil melantunkan lagu Kau Selalu Di Hatiku yang dipopulerkan oleh Yuni Shara. Tautan matanya pada Novi tak terputus, dengan langkah pasti Kenny berjalan menghampiri Novi.

Wajahnya nampak letih, seminggu yang panjang bagi Kenny untuk membereskan seluruh masalahnya yang belum membuatnya puas. Kenny ragu bila di kemudian hari Hesty atau Hendhy tak akan menganggunya lagi. Tapi kini, yang terpenting adalah memenangkan hati Novi yang masih meragukan tulusnya cinta laki-laki itu.

Sambutlah tanganku ini
Belailah dengan mesra
Kasihmu hanya untukku
Hingga akhir nanti

Kau selalu di hatiku
Bersemi di dalam kalbu
Dari semula hingga akhirnya
Kasih ku serahkan

Kenny mengulurkan tangannya menjangkau Novi, berharap wanita itu mau menyambut ulurannya, karena dengan itu, Kenny akan tahu bila Novi mau memaafkannya. Musik telah berhenti, lagu telah usai dan Kenny masih menunggu dengan setia apapun jawaban yang akan diberikan Novi padanya, untuk mereka.

“Nov, bila hatiku ini menurutmu masih bisa dimaafkan, masih bisa diberikan kesempatan, diberikan kepercayaan lagi... Aku bersumpah.. demi kedua orangtuaku, demi Kevin, demi diriku sendiri, aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku telah banyak belajar setelah kau meninggalkanku, aku memang bodoh dan berengsek karena menyia-nyiakanmu. Tapi kini, aku berbeda, Nov. Aku bukan aku yang dulu. Sekarang, aku sudah berubah, bukan lagi remaja cengeng yang gampang frustasi hanya karena masalah sekecil itu.”

Kenny menggengam mikrophone di tangannya dengan erat, tangan kanannya masih melayang di udara berharap Novi mau menerimanya. Tapi harapan itu semakin menipis tatkala tak ada tanggapan apapun dari Novi, wanita itu tetap menunduk dan tak menghiraukan Kenny yang hampir putus asa untuk mendapatkan maaf darinya.

Hingga akhirnya Kenny berlutut, memohon dengan kedua kakinya di bawah Novi.
“Aku bersumpah demi Tuhan, karena aku percaya Dia ada, bahwa aku, Kenny Alexander Lee, tidak akan menyakiti hati wanita yang aku cintai, Novita Laksmi. Bila apa yang kulakukan berbeda dengan apa yang aku katakan ini, aku bersedia mati dengan mengenaska...”

Kenny tak sempat melanjutkan kata-katanya hingga akhir karena tangan Novi telah menutup mulut laki-laki itu dan memeluknya dengan haru. Tangis Novi tumpah dalam pelukan Kenny, begitu pula Kenny yang menutup matanya dengan berat. Isak tangis bisunya tak terdengar walaupun matanya ikut berkaca-kaca penuh kelegaan, Novi menerimanya lagi.

“Terima kasih, Nov. Terima kasih....” bisiknya di telinga wanita yang dicintainya itu.
Di belakang mereka berlari dengan bibir ditekuk dan hampir pecah dalam tangisan seorang bocah kecil yang berhambur memeluk Novi dan Kenny. Kevin kemudian menangis hingga terisak-isak karena gembira dengan bersatunya kedua orangtuanya.

Lima menit lamanya Novi dan Kenny menghibur Kevin yang masih menangis sesenggukan hingga laki-laki kecil itu tertawa masih dengan isak dan sesenggukan.

“Mama Papa jangan marahan lagi ya. Janji ya, sama Kevin,” harap Kevin dengan tatapan memohon. Orangtua mana yang akan tega menolak permintaan malaikat kecil pemersatu mereka? Kevin telah membantu bersatunya kedua orangtuanya meski tanpa disadarinya.

“Mama love you, Kevin...” kecup Novi pada kening Kevin dan mengangguk. Sedang Kenny memeluk kedua orang yang sangat berarti dalam hidupnya itu dan mengecup puncak kepala mereka satu per satu.

“Papa love you both... Even more...” sahut Kenny menimpali.

Kevin lalu menyeringai dan terkikik geli, tak ingin kalah, “Kevin loves Mama dan Papa moreee...” teriaknya yang memecah suasana mencekam di dalam restoran itu menjadi tepuk tangan riuh dan gembira.

Martin yang menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Novi akhirnya berhasil mengalahkan keraguan dan bimbang dalam hatinya telah memanen cinta yang manis. Cinta yang tak akan kalah karena cinta yang kini mereka miliki semakin kuat akibat terpaan masalah yang mereka lewati. Martin tersenyum dan mendoakan pasangan berbahagia ini umur yang panjang dan bahagia selamanya.

Tamu-tamu dan para pelayan yang bekerja di restoran itu masih berdiri memberikan applausenya pada Kenny dan Novi. Martin lalu memeluk mereka satu per satu dan memberikan selamat yang diikuti oleh setiap mereka yang hadir di sana. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, keesokan harinya Kenny akhirnya mengajak Novi pergi ke gereja untuk mengikrarkan pernikahan mereka di sana.

“Memang ini terkesan terlalu cepat atau terburu-buru. Tapi bila tidak kulakukan sekarang, aku takut kau akan berubah pikiran, Nov. Maka... menikahlah denganku di sini. Di negara ini, dan hiduplah bersamaku hingga maut memisahkan kita. Kau mau?” tanya Kenny tepat di depan gereja yang telah dia hubungi sebelumnya. Seorang pendeta dan pembaca doa beserta paduan chorus telah menunggu mereka untuk meresmikan ikatan sakral itu agar tak mampu diputuskan oleh siapapun. Kenny akan menautkan dirinya kepada Novi dalam pernikahan suci atas nama Tuhan.

Kevin yang bertugas membawa cincin kawin orang tuanya memandang silih berganti pada Papa dan Mamanya, dia tidak menangis lagi, senyum terukir di sana. Anak kecil itu yakin Mamanya tak akan menolak Papanya. Ketika Novi belum menjawab juga, Kevin menarik gaun putih ibunya.

“Mama... sudah pakai gaun cantik masak gak mau? Kevin kan pengen foto keluarga, sudah pakai jas cakep kok...” rengek Kevin manja. Dia merasa keluarganya telah lengkap dengan hadirnya Papa Kenny dalam hidupnya. Kevin juga sudah tak sabar lagi untuk berkumpul dengan Akong dan Oma-omanya.

Kenny ikut merengek pada Novi, tapi mendapat delikan sebal darinya.

“Memang kamu kira kalau aku ikut ke sini itu pertanda gak mau?” tanya Novi masih mempertahankan rasa sebalnya pada Kenny.

Kenny tersenyum, diapun menggamit lengan Novi dan membawa mereka bertiga masuk ke dalam aula dimana seorang pendeta telah menunggu dengan senyum cerahnya.

“Dengan kekuasaan yang diberikan kepada saya, saya nyatakan kalian suami-istri. Suami boleh mencium istrinya,” ucap Pendeta mengakhiri rangkaian upacara pernikahan Kenny dan Novi yang diabadikan Kevin melalui kamera poketnya. Kevin lalu meminta bantuan seorang jemaat untuk mengambil foto keluarga barunya dimana senyum Kevin terlihat paling lebar di antara mereka bertiga.

“Cheeeessseeee...!!” teriak Kevin sambil memperlihatkan senyum terbaiknya.

~*~*~*~ 

~The End~


7 comments:

  1. “Dengan kekuasaan yang diberikan kepada saya, saya nyatakan kalian suami-istri. Suami boleh mencium istrinya,”

    Wahhhhh setelah berbagai macam halangan & rintangan merekapun berhasil melewatinya...

    Happy ending.

    Mereka belum pulang Indo kan sist Shin? Aq mau ketemuan dulu, pasti Kevin seneng deh klo ke Taipei Zoo hihihi aq juga mau nyicipin bebek panggang Novi yg begitu nyam..nyam..bikin ngiler wakakaa sekaligus nonyor jidatt Kenny yg begitu menyebalkan telah menyakiti Novi dg begitu kejamnyaaaaaa wakakkaaaa :))

    Thanks sist Shin, yuhuuuu aqpun memiliki bukunya...hahaha kiss

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahhahaa..... mantabb... sana coba hubungin mereka, kali aja masih hanimuner di Taipei. ihihihihi.....

      Delete
  2. Ada yg kelupaan ....

    Plus aku mau foto bareng ama mereka di depan Panda sambil ngegendong Kevin hihihihi

    Jangan2 di bilang aq ini baby sitternya Kevin lagi, hiks....

    Cium pipi Kevin, i will miss you boy, muach muach !!

    ReplyDelete
  3. Mbak ak masih penasaran ama ancamannya si handy...harus beli bukunya ya biar ak ngerti? Atau ada di cerita sblomnya?*gantung jadinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. rencananya cerita tentang Hendhy akan dibahas di sekuelnya sist. nanti menceritakan Kevin n ..... Hendhy... :D

      Di novel jg gak ada kok dibahas... ;)

      tp kl mau beli novelnya sih, aku seneng banget wkkwkwkw....

      Delete
  4. wow happy ending juga akhirnya, and as always... ,bisa banget mbak yg satu ini menggantung n mengkepoin reader nya, kira2 apa yah rahasia ' hal ' nya si hendy?? Hmmmm

    ReplyDelete
  5. yeay!!! Setelah segala hal yg menyakitkan buat novi... Akhirnyaaa Kenny dan Novi bersatu.... Makasih mba Shin, udah bikin cerita sebagus dan sekeren ini... Keep writing and fighting!

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.