"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Saturday, December 14, 2013

Not So Tough Lady - Part 10


Pintu itu dikuncinya dengan frustasi. Magdalena menepis air mata yang tiba-tiba keluar membasahi pipinya. Dia membenci topik mengenai keturunan penerus keluarga Stuart yang selalu ayahnya dengung-dengungkan tiap kali Magdalena pulang ke Inggris, karena hal inilah salah satu alasan dia membenci Inggris dan lebih banyak berada di Indonesia.

Magdalena bisa saja membayar sejumlah uang untuk mendapatkan benih terbaik yang akan melanjutkan keturunan Stuart, tapi dia tak pernah merasa nyaman dengan ide inseminasi buatan itu. Magdalena adalah wanita kolot, dia memandang perkawinan sebagai sesuatu yang sakral. Persatuan sekali seumur hidup dimana anak-anak lahir dari cinta antara kedua orang tuanya yang sayangnya tak pernah mampu dia wujudkan dalam perkawinan pertamanya. Robert, mantan suaminya telah menipunya mentah-mentah hingga Magdalena dibutakan oleh rasa cintanya pada laki-laki itu. Tak heran dia masih menyimpan dendam untuk mantan suaminya.


“Semua pria sama saja, mereka hanya menggunakanmu hingga mendapatkan apa yang mereka inginkan. Setelah itu mereka akan membuangmu dan mengekang kebebasanmu dengan larangan-larangan dan ancaman dengan mengatasnamakan cinta. Aku tak perlu laki-laki untuk melindungiku, aku bisa melakukannya seorang diri. Aku bisa menjadi penerus keluarga Stuart tanpa harus membuktikan diriku bisa memberi anak pada keluarga ini atau tidak!!”

Magdalena menyambar botol vodka yang ada di atas meja, dengan gelap mata cairan bening itu diteguknya seperti menenggak air minum. Dia tak peduli bila akan mabuk, dia hanya ingin melepaskan semua penderitaan dan rasa frustasinya yang selama ini hanya disimpannya seorang diri. Hidup tanpa kasih sayang seorang ibu, ayah yang menuntut kesempurnaan darinya, Magdalena tidak sanggup menemukan jati dirinya, dia dihadapkan pada tuntutan-tuntutan yang mengharuskannya menjadi sesuai dengan standar seorang pewaris pria. Magdalena kehilangan masa kecilnya, masa remaja, bahkan hingga kini hidupnya masih dikekang dengan segala tuntutan yang harus dipenuhinya.

“PRANKKK!!!” suara botol pecah dilemparkan ke tembok membuat orang-orang yang sibuk di balik pintu dengan rangkaian kunci-kunci untuk membuka pintu kamar Magdalena terkejut. Bren semakin cemas dengan apa yang tengah dilakukan Magdalena di dalam kamarnya.

“Bisa kau buka pintu ini lebih cepat?” tanya Bren panik. Sudah lima menit lamanya kepala pelayan mencoba memilah anak kunci yang tepat namun belum satupun yang berhasil.

Yes... Saya yakin, kali ini pasti berhasil. Saya ingat anak kunci untuk kamar ini memiliki lecet di bagian pegangannya. Saya yakin ini pasti dia!!” jawab kepala pelayan dengan semangat baru. Keringatnya mengucur hanya karena tidak dapat menemukan anak kunci yang benar.

“Kau telah mengatakannya empat kali, Sir. Sekarang cepatlah. Entah apa yang terjadi di dalam sana.”

Bibir kepala pelayan komat-komit membacakan doa, lalu dengan ajaib pintu itupun terbuka, kelegaan tampak di wajah-wajah pelayan yang ikut membantu. Tanpa membuang waktu sedikitpun, Bren melangkah masuk dan mencari Magdalena yang tak terlihat dimana-mana.

“Mam?? Where are you??!!” teriak Bren khawatir. Dia mencari ke teras, Magdalena tak berada di sana, ruang ganti pakaian juga tak terlihat hingga Bren menuju kamar mandi yang pintunya terbuka setengah. Disana Magdalena sedang berbaring di dalam bath tub kosong tanpa air. Di tangannya botol minuman lain telah habis setengahnya.

“Mam?”

Tak ada jawaban dari Magdalena, hanya tangannya yang menjulur keluar dari bath tub bergerak-gerak menirukan gerakan pemain piano menyentuh tutsnya. Jari-jari lentik itu bergerak di udara dan kepala Magdalena bergoyang seolah dia sedang mendengarkan lantunan nada piano yang sedang dimainkan oleh tangannya. Sedikitpun dia tidak menggubris Bren maupun beberapa pelayan yang berdiri di belakang laki-laki itu.

“Keluarlah, aku akan berbicara dengannya,” perintah Bren pada para pelayan yang kemudian membungkuk memberi hormat sebelum menutup pintu kamar itu. Sedangkan pelayan lainnya telah membersihkan pecahan botol vodka yang berserakan di atas karpet.

Bren menekuk sebelah kakinya di lantai kamar mandi, diambilnya botol whisky yang dipegang Magdalena sembari memejamkan mata, masih larut dalam nada piano imajinasinya. Terlihat bekas-bekas tangisan di pipinya yang sembab, tatanan rambut yang tadinya rapi kini telah terlepas dari ikatannya. Rambut Magdalena tergerai lepas di pundak, membayangi wajahnya yang tirus pucat.

Lama Bren berlutut di sana, tanpa bicara, mendampingi Magdalena dengan desah nafasnya yang perlahan-lahan teratur. Namun wanita itu tidak sedang tidur, sebelah jari tangannya masih bergerak melantunkan nada tak terdengar. Bren pun memecah keheningan itu.

“Apakah kau ingin tidur di sini? Aku rasa ini terlalu pagi untuk tidur, tubuhmu akan menggigil kedinginan di dalam sini,” ucap Bren pelan. Dia mencoba menjaga intonasinya, tak ingin Magdalena yang tengah labil kembali meledak-ledak.

Menunggu jawaban yang keluar dari bibir Magdalena serasa bagai setahun, namun akhirnya wanita itu berbicara juga, “Aku ingin tidur di sini, apakah kau keberatan?” tantangnya pada Bren. Laki-laki muda yang mulai mencoba untuk membiasakan diri dengan sifat bosnya yang cepat berubah-ubah hanya mendesah pelan, dia cukup sabar menghadapi seorang Magdalena dengan segala masalah yang ditanggungnya.

“Kau akan sakit dan aku tak ingin melihatmu sakit. Berdirilah, tidurlah di atas ranjang,” kata Bren lagi.

“....Hanya bila kau menggendongku ke sana.”

Jawaban Magdalena membuat Bren mematung sekejap, dia mencoba berpikir apa yang harus dia lakukan di saat-saat seperti ini. Namun kepalanya kosong, buntu, tak dapat berpikir rasional. Emosi telah menguasainya, Bren tidak dapat membayangkan sebesar apa masalah Magdalena hingga wanita tangguh ini bisa begitu rapuh saat Tuan Besar menitahkan kuasanya. Apakah selama ini Magdalena telah menahan perasaannya demi mentaati perintah-perintah itu? hingga kali ini dia tidak mampu bertahan lagi.

Bren mengeraskan hatinya, dengan sedikit tenaga, dia meraup tubuh langsing Magdalena dari dalam bath tub. Dengan hati-hati di rengkuhnya leher wanita itu dan menelusupkan tangan kanannya menopang kedua kaki Nyonya Besar, membawanya dengan langkah-langkah mantap menuju kamar tidur mereka.

Magdalena membuka matanya, takjub dengan keberanian Bren. Kedua tangannya telah melingkar pada leher laki-laki itu, berpegangan dan meminta perlindungan darinya. Mata mereka bertemu, percikan pengertian dapat dilihat Magdalena dalam mata coklat Bren, sorot mata tertulus yang pernah dilihatnya dalam mata seorang pria dari sekian banyak pria yang mencoba mendekatinya. Bren.. tidak memiliki niat untuk memanipulasinya.

Magdalena masih mengunci leher Bren ketika tubuhnya telah dibaringkan dengan hati-hati di atas ranjang, dia tak ingin melepaskan tubuh Bren. Wangi parfum yang bercampur dengan aroma khas Bren dihirupnya dalam-dalam, mengingatkannya pada bunga Lily yang dulu sering dihadiahkan ayahnya padanya, yang juga dihadiahkan laki-laki itu pada ibunya.

“Beristirahatlah...” bisik Bren meminta Magdalena untuk melepaskannya. Dengan merajuk manja, Magdalena meminta Bren untuk menemaninya. Dia beralasan pada dirinya bila pengaruh alkohol membuatnya ingin memanipulasi Bren untuk dirinya. Magdalena ingin ditemani oleh seseorang dan orang itu adalah Bren, laki-laki yang telah membuatnya tak dapat memalingkan mata sekejap pun dari sosok itu.

“Temani aku, aku tak akan meminta benihmu. Not today....” bisiknya pelan di telinga Bren, bisikan yang membuat tengkuk pria itu berdesir.

“Tak ada dalam kontrak bila aku harus memberikanmu benihku,” senyum Bren miris. Dia mencoba menanggapi perkataan Magdalena dengan santai meskipun suaranya yang bergetar tak dapat menutupi kegugupannya.

“Lalu apa yang kau takutkan? Apakah aku akan memakanmu bila kita seranjang?” tanya Magdalena masih tak ingin melepaskan Bren yang masih merangkak dengan kedua tangan bertumpu pada sisi-sisi ranjang di samping Magdalena.

Bren terdiam sesaat, dia tidak takut Magdalena akan memakannya atau istilah apapun yang ingin perempuan itu sebut. Dia lebih takut pada kemampuan dirinya bila berada di dekat wanita itu. Bren tak ingin terlibat sesuatu yang terlarang meskipun dia tahu, dia tidak punya pilihan lain.

“No.”

Magdalena tertawa mendengar jawaban Bren, “Masuklah, hangatkan ranjangku malam ini,” ujarnya dengan senyum licik menghiasi bibir merahnya.

Bren mendengus, disibaknya selimut untuk mereka berdua, bahkan masih dengan pakaian lengkap, mereka berpelukan di atas ranjang, “Istilah yang kau pilih cukup provokatif, dan aku rasa ini masih siang.”

“Katakanlah apa yang kau suka, aku tak ingin berpikir lagi. Aku ingin memejamkan mataku untuk selamanya.”

Don’t... Nanti malam kita harus menghadiri pesta itu, bila tidak...” Tangan Magdalena telah menutup bibir Bren, mencegahnya melanjutkan ucapannya.

Shut up.... Jangan bahas laki-laki tua itu sekarang. Kepalaku pusing, aku ingin mendengar suara piano dimainkan. Apakah kau bisa bermain piano?” Magdalena setelah terlelap masih berusaha melepaskan kancing jas hitam Bren lalu menelusupkan tangannya ke dalam kemeja sutra yang dia kenakan. Tangannya bahkan kini semakin berani masuk menyentuh kulit telanjang laki-laki itu. Bren hanya sanggup menahan nafas dan merasakan desiran darah dalam tubuhnya semakin deras, otaknya mulai kehilangan kewarasannya.

Dengan menyesal Bren memaki dalam hati karena telah menerima tantangan Magdalena untuk mengangkatnya ke atas ranjang, kini Bren harus menahan ledakan gairah yang memberontak di dalam tubuhnya.

“Tidurlah...” bisiknya parau. Magdalena mengikik, mengerti jelas apa yang membuat laki-laki di sampingnya mendadak berubah menjadi lebih pendiam. Dia menjadi semakin ingin menggoda tubuh Bren dengan tanganya.

“Stop it,” decak Bren.

“Stop it, or what?” tantang Magdalena lagi.

Bren memejamkan matanya, haruskah dia mengutarakan isi dalam kepalanya pada wanita ini dan beresiko dia akan ditertawakan? Akhirnya Bren memilih untuk diam. Dia tak ingin semakin dipermainkan oleh wanita licik ini.

“Kenapa diam? Tak tahu jawabannya?”

“Aku sudah tidur, jadi tidak bisa menjawab,” elak Bren sembari menirukan suara dengkuran dan mencoba menarik keluar tangan Magdalena yang masih membelai perut dan dadanya.

“Bila kau sudah tidur, tubuhmu tak akan bereaksi seperti itu. Is it hurt?” Magdalena semakin membuat Bren gila, kini betis wanita itu telah menyentuh bagian bawah Bren yang berbanding terbalik dengan pengakuannya.

“Bila kau melakukannya lagi, aku akan bangun,” ancam Bren.

Why? Aku mengharapkan lebih dari itu, Bhrennn...” Sebutan Magdalena pada namanya membuat tubuh Bren bergetar pelan.

Nafas Bren memburu, rambutnya telah habis diremasnya sedari tadi dengan mata terpejam. Magdalena membuatnya harus menahan siksaan jiwa dan raga seperti ini. Siksaan yang tak perlu bila dia tidak bersusah-susah untuk mencampuri urusannya.

“Aku pergi!” bentaknya kasar. Magdalena tertawa dan menarik tubuh Bren, menguncinya dengan erat dan membisikkan kata-kata yang membuat laki-laki itu mengendurkan emosinya.

If you do that again, I swear... Aku tak akan segan-segan lagi!” desis Bren di sampingnya.

“Oh.. I can’t wait for it.” Senyum Magdalena menghiasi wajahnya, penghiburan singkat itu mampu membuatnya lupa sejenak dengan masalah penerus keturunan.  


5 comments:

  1. penisirin,,, mbak shin yg baik, laannjjuutt donggg. Thanks mbak shin

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. halo sist.. salam kenal juga. makasi udah mampir ke sini n nyempatin komen ya :D

      kapan-kapan aku main ke blogmu, kayaknya banyak ceritanya udah ya? sip.... sukses selalu buatmu ya :)

      Delete
  3. asiiiikkk!! makasi mba shiinn! ayo lanjutkan! :D
    -fina

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.