"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Saturday, December 21, 2013

Not So Tough Lady - Part 11


Jam dinding telah menunjukkan pukul setengah enam sore saat Magdalena terbangun, namun dia masih membiarkan Bren tertidur sambil memeluknya. Kemeja dalam laki-laki itu telah habis dibuka kancingnya oleh Magdalena, dadanya yang bersih ditelusuri dengan jari-jari tangannya yang lentik. Dia memutar jarinya pada belahan dada kanan Bren, menarik garis turun menuju perutnya yang rata, pada area yang ditumbuhi rambut-rambut halus di bawah pusar laki-laki itu. Seketika darahnya berdesir membayangkan apa yang berada di balik celana pantalon licin itu.


Tangan Magdalena bergetar, pikirannya berkecamuk dengan keras. Ingin rasanya dia menyentuh atau menelusupkan tangannya ke dalam sana, hanya sekedar untuk merasakan kehangatan tubuh seorang pria. Sejak bercerai dari suaminya, bahkan lama sebelum itu, Magdalena tidak pernah menyentuh laki-laki lagi. Gosip-gosip yang sengaja dia tebar dengan menggandeng pria-pria muda hanyalah caranya untuk menghindar dari tuntutan Sang Ayah yang selalu meminta seorang penerus. Hingga sosok Bren hadir, tak pernah dia merasa begitu menginginkan seorang pria untuk menghangatkan ranjang dan hatinya.

Magdalena menarik tangannya ke dada, nyalinya terlalu kecil untuk melakukan hal itu. Meskipun sering dia menggoda Bren dan menikmati ekspresi konyol laki-laki itu saat dengan jelas gairah timbul di mata coklatnya, Magdalena tidak akan melakukannya bila tidak dibantu dengan sebotol minuman keras untuk menambah keberaniannya. Dia hanyalah wanita lemah yang mencoba terlihat tangguh, terutama di hadapan laki-laki. Bahkan pada Bren, Magdalena berjanji tak akan menunjukkan kerapuhannya.

Senyum di bibir Magdalena terukir tatkala melihat Bren menggeliat dalam tidurnya, pelukan laki-laki itu pada pundaknya semakin erat. Bahkan tangan Bren yang berada di pinggang Magdalena semakin mempersempit jarak mereka yang sebelumnya digunakan Magdalena untuk meneliti tubuh pria di sampingnya itu.

Kedekatan mereka menambah debar jantung Magdalena, nafas hangat Bren menyentuh dahinya. Dengan bibir terbukanya, Magdalena bisa serta merta mencium leher Bren saat itu juga. Didekatkannya perlahan-lahan bibirnya pada ceruk leher Bren hingga bibirnya menyentuh kulit pria itu. Tanpa membangunkannya, Magdalena mengecup pelan leher Bren, menghisapnya lebih kuat dari yang dia maksudkan. Tak heran, sebuah tanda berwarna merah timbul pada kulit putihnya.

Magdalena mengerjapkan matanya, takjub dengan hasil perbuatannya pada tubuh Bren. Kepalanya kemudian memiliki sebuah rencana lain. Tanpa mengusik kedamaian tidur Bren, Magdalena mendorong pelan tubuh laki-laki itu sebelum membungkuk mencari belahan dada kanannya. Tidak jauh di atas puting dada kanan Bren, Magdalena membuat sebuah cupang merah baru dan mengikik sebelum berpura-pura tertidur ketika Bren terbangun, tanpa menyadari apa yang telah Magdalena lakukan pada tubuhnya.

Bren membuka matanya dengan berat, tubuhnya pegal karena posisi tidur yang tak berubah selama dua jam lebih. Dipalingkannya wajahnya ke samping, pada wajah Magdalena yang masih terlelap dengan damai. Bren tersenyum, entah hal apa yang dipikirkannya ketika tangannya memperbaiki helai rambut yang jatuh pada pipi Magdalena. Refleks, dia menciumi bibir wanita itu dengan perlahan selama beberapa detik dan mengangkat bibirnya tepat sebelum Magdalena hendak membalas ciuman itu.

Bren kemudian terhenyak, menyadari apa yang baru saja dia lakukan. Dia menyentuh bibirnya, seolah yang baru saja dia lakukan bukanlah perintah otaknya. Nafasnya terengah, mencari tanda bila Magdalena terbangun oleh ciumannya. Dia bernafas lega ketika melihat tak ada tanda-tanda bila wanita itu menyadari apa yang baru saja dia lakukan.

“Dasar bodoh!! Bodoh!! Bodoh!!” rutuk Bren pada dirinya.

Magdalena ingin tertawa, namun dikuat-kuatkannya agar tidak diketahui Bren, dia lalu berpura-pura membuka matanya dan melihat bingung ke seantero kamar.

“Kau berbicara pada siapa?” tanya Magdalena sembari pura-pura menguap.

Bren tampak salah tingkah, namun dijawabnya juga, “Ehm... Tidak, bukan pada siapa-siapa. Aku hanya mengigau,” elaknya.

Untuk menjaga harga dirinya, Magdalena melepaskan pelukan Bren yang masih mengurungnya dengan kedua tangannya. Bren hanya mendengus sebal karena merasa dimanfaatkan ketika wanita itu memerlukannya dan bisa menendangnya seenak perut setelah puas dengan dirinya.

“Mandilah, kita harus bersiap-siap. Waktumu setengah jam,” perintah Magdalena.

“Kau tidak mandi?” tanya Bren bingung.

Magdalena melengos, “Tentu saja aku harus mandi. Maka dari itu kau mandi terlebih dulu karena kau hanya memerlukan lima menit untuk berada di dalam sana,” ujarnya sebal.

Bren tertawa miris, sebuah ide jahil lain melintas di kepalanya, “Bagaimana kalau kita mandi bersama? Untuk menghemat waktu?” kedipnya nakal.

Bren hanya bisa mematung ketika Magdalena menyambut tawarannya. Bahkan hingga wanita itu telah berada di dalam kamar mandi, Bren masih menatapnya tanpa kedip dan tak bergerak hingga Magdalena memanggilnya.

“Kau tunggu apalagi?! Kita sudah terlambat!”

Bren mengangguk dan melangkah cepat menyusul Magdalena ke dalam kamar mandi.

Suasana terasa cukup panas bagi Bren, namun sebaliknya untuk Magdalena. Nyonya Besar masih saja memerintahnya meskipun dia bisa melakukannya seorang diri. Sambil membuka gaunnya satu per satu, Magdalena menunjuk bath tub untuk disiapkan baginya.

“Aku ingin mandi air hangat, siapkan untukku!”

Tanpa suara, Bren melaksanakan setiap perintah Magdalena. Dia kemudian berdiri tanpa mampu berpikir harus melakukan apa setelah itu.

“Why? Belum pernah melihatku telanjang?” tantang Magdalena pada Bren yang menundukkan wajahnya. Dia tidak menjawab, Magdalena mencibir.

Dengan langkah yang dibuat-buat, Magdalena menyadari sudut mata Bren masih mengawasi setiap gerak-geriknya. Dia mendekati laki-laki itu, mencoba melepaskan seluruh pakaian Bren hingga hanya tersisa celana pendeknya.

“Do you want to join me inside?” goda Magdalena dengan suara berbisik di samping telinga Bren.

Wajah Bren memerah, dia masih belum menyadari bekas hisapan bibir Magdalena pada dada dan lehernya, “A... Aku rasa itu bukan ide baik,” jawabnya akhirnya.

Magdalena mengikik, kakinya satu per satu masuk ke dalam bath tub dan dengan lemah gemulai tubuhnya menghilang di balik air hangat yang meluber keluar. Tangannya menggamit lengan Bren yang dapat dijangkaunya, menariknya mendekat untuk berlutut di sampingnya.

“Bukankah kau harus mematuhi semua perintahku? Aku ingin kau membilas tubuhku, memijatku. Maybe a quick massage...”

Bisikan Magdalena merasuk ke dalam jiwa Bren, kata-kata yang diucapkan Nyonya Besar semakin membuat kalut perasaannya. Bren hampir tak bisa menjaga kewarasannya, laki-laki normal manapun tak akan bisa berkutik bila dihadapkan pada wanita seperti Magdalena dalam suasana seperti ini.

Bren mendadak bisu, dia hanya mengangguk sebagai jawaban setiap perintah Magdalena. Dengan keras dia mencoba menyembunyikan sesuatu yang telah memberinya peringatan sejak Magdalena bertelanjang bulat di depannya. Tanpa disadarinya, Magdalena telah mengetahui apa yang coba Bren sembunyikan sedari tadi yang berada di antara selangkangannya.

Dia berlutut di belakang Magdalena, dengan busa sabun di tangan, Bren mulai menggosok bagian tubuh Magdalena yang terlihat dari luar air. Magdalena kemudian menyerangnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang ingin dihindarinya.

“Kau tidak terangsang melihat tubuh telanjangku?”

Bren menghentikan pijatannya sekejap, nafasnya semakin berat, Magdalena menyeringai senang dengan hasil pertanyaannya.

“Aku hanya pria normal, Mam. Sangat munafik bila kukatakan aku tidak terangsang,” jawabnya serak.

Magdalena mendengus, “Tidakkan kau ingin?”

Bren mendongakkan wajahnya, bingung. “Ingin... Apa?” tanyanya.

“Kau tahu... Do it...”

Tinju Bren mengepal, kenakalan isengnya telah membawanya pada penderitaan tiada akhir. Bren mengingatkan dirinya agar tidak pernah melayangkan pertanyaan yang mengundang bila dia merasa tak sanggup untuk menahannya.

Karena tak ada jawaban dari Bren, Magdalena menanyakan hal lain, “Apakah kau pernah melakukannya, Bren? Having sex.” Magdalena tak ingin bersilat lidah dengan Bren, dia ingin langsung ke pokok pertanyaan tanpa menyembunyikan maksud yang ingin dia ketahui.

Bren mengangguk, masih sambil memjiat pundak Magdalena dari belakang. Kini dia bergeser ke samping agar bisa meraih kedua lengan Nyonya Besar dengan lebih leluasa. Magdalena tersenyum melihat cupang merah pada leher dan dadanya.

“Kau belum menjawabku,” ujar Magdalena lagi. Bren mendongak, menatap mata Magdalena yang jahil dan penuh tantangan.

“....Ya, aku pernah. Dulu...”

Hati Magdalena tercubit mendengar pengakuan Bren, dia merasa cemburu karena seorang wanita lain pernah melakukannya dengan laki-laki ini.

“Dengan satu orang?” tanya Magdalena dengan nada seolah tak berminat. Di dalam hatinya, Magdalena berharap Bren akan menjawab seperti apa yang Magdalena inginkan.

“Haruskah aku jawab itu?” tanya Bren kecut.

“Yes, you have!!”

Bren menarik nafasnya, kedua belah tangan Magdalena telah habis disabuninya. Kaki sebelah kiri Magdalena kemudian muncul ke permukaan air, menunjukkan kemolekan tubuh wanita itu pada Bren yang masih berusaha mati-matian meredam gairah dalam tubuhnya hanya dengan bersentuhan dengan kulitnya.

“More than one,” jawab Bren akhirnya.

Tanpa disangkanya, Magdalena marah dan bangkit dari bath tub. Dia mendorong tubuh Bren hingga terjatuh ke lantai sebelum melangkah keluar kamar mandi dan menyambar handuk mandinya.

“What was that supposed to mean?!” teriak Bren geram. Dia tidak terima diperlakukan seperti pelayan oleh siapapun, meski itu adalah Nyonya Besar. Dia bersedia melayani wanita itu, namun tidak diremehkan seperti binatang.

Dengan langkah lebar, Bren mengikuti kemanapun Magdalena pergi, menunggu jawaban yang memuaskan untuk mengobati sakit hatinya. Magdalena tetap kukuh, dia tak ingin menjawab satupun pertanyaan Bren hingga mereka berada di dalam ruang pakaian yang cukup lebar. Bren lalu menarik tangan Magdalena dan memaksanya untuk menatap wajahnya.

“Talk to me, apakah kau selalu bersikap seperti ini pada setiap manusia yang kau temui? Merendahkan mereka seperti hewan?!” wajah Bren begitu emosi, urat di keningnya berkedut menahan amarah.

“You’re idiot!! I want to fuck with you!! Dan aku tidak ingin mendengar kau meniduri wanita-wanita lain. Kau dengar itu?!!”

Bren terhenyak, Magdalena lalu mendorong tubuh Bren ke arah lemari tempat pakaian-pakaian mereka tergantung. Dengan gemas dia melemparkan pakaian-pakaian itu dan menahan tubuh Bren dengan ciumannya. Ciuman panas yang tersulut oleh emosi, dilanjutkan dengan gairah yang membara hingga membawa mereka ke dalam dunia yang hanya mereka berdua nikmati.

“Kiss me, Bren... Kiss me like there’s no tomorrow. I want you to kiss me!!” desis Magdalena di sela-sela ciuman mereka. Tangannya telah meremas rambut Bren yang kini berada di bawahnya, masih di dalam ruang pakaian mereka.

Bren berguling ke atas tubuh Magdalena, dengan jelas Magdalena bisa merasakan tumbukan kejantanan laki-laki itu menghantam perutnya. Bren menginginkannya dengan sangat.

Mereka berciuman intens, handuk yang membungkus tubuh Magdalena telah terlepas dan tubuh telanjangnya menjadi santapan tangan Bren yang merajalela kesan-kemari, menjelajah area baru yang sebelumnya hanya bisa dipandanginya dengan penuh damba.

“Kau yakin, ini yang kau mau?” tanya Bren dengan nafas terputus-putus. Efek ciuman mereka telah menguras habis stok udara dalam paru-parunya. Tak pernah dalam hidupnya Bren merasakan percintaan yang begitu panas bergelora, membakar setiap denyut nadi dalam tubuhnya. Magdalena membuatnya gila dengan setiap gerakan dan sikap yang dia lakukan padanya.

Magdalena memegang kedua pipi Bren, mengunci tatapan mereka dalam sorot mata tajam, “Ya. Aku yakin, I want you, in me, now!!”

Seperti mendapat komando, Bren tanpa segan mulai menjelajah tubuh Magdalena dengan bibirnya. Mereka telah terbakar api asmara, pemenuhan akan kebutuhan untuk saling mengisi, saling memberi, saling melepaskan, yang tak bisa ditunda meski sekejap saja. Namun rupanya mereka salah.

“Lena!! Where are you??? Sudah pukul setengah tujuh lebih. Apa kalian bermaksud merusak nama perusahaan, eh?”

Suara Mr. Stuart terdengar dari ruang tamu kamar Magdalena, dengan mengumpat pelan, Bren berguling ke samping dari tindihannya di atas Nyonya Besar.

“Kakek tua itu membuatku gila!!” pekik Magdalena sebelum berdiri dan menyambar handuknya. Dia pergi meninggalkan Bren yang masih mencoba menenangkan debar jantungnya, menenangkan gairahnya yang terasa begitu menyakitkan.

“Ah... Apa yang telah aku lakukan?” keluhnya frustasi, “Shit!! Shit!! Shit!! Sial!! Sakit sekali!!!” Bren lalu meringkuk memeluk selangkangannya yang masih menggunung terbungkus celana pendekanya. 


3 comments:

  1. Pas lg seru ada yg ganggu aja...blue ball deh bren nya...hahaha

    ReplyDelete
  2. hahaha bikin gregetan aja niih! ayo mba shin lanjutkaaann! hehehe makasiii
    -fina

    ReplyDelete
  3. Ckck,,, gak jadi ehem-ehem deh...

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.