"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Sunday, December 29, 2013

Not So Tough Lady - Part 12


“Tak usah menekuk wajahmu seperti itu, dunia tidak akan kiamat hanya karena kau ‘belum’ bisa menyentuhku,” ujar Magdalena saat melenggang masuk ke dalam rumah kediaman penyelenggara pesta, meninggalkan Bren dengan wajah kusut dan ekspresi kesakitan.

Bren menghela nafasnya sebelum menutup mobil yang mengantarkan mereka, setelah gangguan kecil dari Mr. Stuart, Bren terpaksa mengguyur tubuhnya dengan air dingin yang sangat menyiksa. Dia berteriak kesakitan antara ditusuk sembilu dengan nyeri pada bagian tubuh bawahnya. Sudah berkali-kali dia mendapat siksaan seperti ini dan Bren tak yakin masih sanggup bertahan bila hal ini terulang kembali.

“Sir.” Seorang pelayan mengantarkan Bren masuk ke dalam ruang pesta dan menanggalkan jas hangatnya.


Di dalam ruangan itu telah penuh dengan orang-orang yang berpakaian serba mahal dan bagus. Wanitanya dengan gaun-gaun menjuntai, hiasan make-up sempurna, wajah-wajah rupawan yang beberapa di antaranya merupakan hasil operasi plastik yang menyamarkan rupa asli mereka. Perhiasan-perhiasan mahal yang dikenakan Nyonya-nyonya dan wanita-wanita konglomerat beserta para Bangsawan yang juga menghadiri pesta ini.

Sedang para prianya, dengan jas hitam licin, sapu tangan menyembul dari saku jas mereka, bahkan pena berharga ratusan hingga ribuan poundsterling menjadi salah satu pameran kekayaan di antara para pengusaha itu. Bren melirik pada penampilannya sendiri, meskipun dia bukanlah pengusaha, bangsawan atau orang kaya yang sanggup membeli pakaian-pakaian berkelas itu, namun Magdalena telah merubah penampilannya sehingga tak ada satu orangpun yang akan meragukan ucapannya bila Bren mengaku sebagai seorang pengusaha sukses.

Dia mendesah lagi, malam akan terasa cukup panjang baginya dengan berperan menjadi apa yang diinginkan Magdalena baginya.

“Panggil dia Lena, dan bukan Madam, atau dia akan membunuhku!” ingat Bren pada dirinya sendiri sebelum mendekat pada kerumunan dan mencari segelas minuman dingin untuk meredakan kegugupannya.

Bren duduk di sebuah sofa dekat bar station, di sampingnya beberapa wanita muda tertawa dan menunjuk-nunjuk ke arahnya. Salah satu di antaranya kemudian memberanikan diri untuk bertanya pada laki-laki itu.

“Hei, tampan... Apakah kau... ehmm... Tunangan sepupu kami?” tanya wanita itu. perkiraan usianya hanyalah dua puluh tahun, namun dia terlihat sudah cukup dewasa untuk wanita seusianya.

Bren tersenyum, lupa menanyakan pada Magdalena siapa-siapa saja yang harus diwaspadainya saat berada dalam pesta ini.

“Yes, I’m,” jawab Bren dengan tersenyum. Senyumannya hanya menambah kikikan di antara wanita-wanita itu yang kini dengan berani melingkari Bren dengan tubuh mereka. Tak kurang dari empat orang wanita muda mengelilingi Bren karena ingin tahu mengenai hubungannya dengan Magdalena.

“Tell me... tell me... Bagaimana kau bisa mencuri hati sepupu Lena? Dia adalah wanita dingin, sangat sulit untuk didekati setelah... well... dia bercerai..upss...” wanita itu menutup mulutnya sebelum berujar lagi, “Kau sudah tahu bila dia pernah menikah dan gagal, kan? Semoga kali ini pernikahannya tidak gagal lagi.”

Bren hanya mengetatkan rahangnya ketika mendengar wanita-wanita itu melecehkan Magdalena di depannya. Bren tak habis pikir mengapa ada orang-orang yang begitu senang membeberkan kisah hidup orang lain untuk mereka tertawakan. Namun tawa mereka meredup setelah dengan dingin Bren menyahut, “Magdalena adalah wanita terhormat, dia tidak akan menusuk seseorang dari belakang. Bila dia mau, dia bisa langsung menghancurkan setiap orang yang meledeknya. Andai mereka tahu kenyataan menyakitkan apa yang akan menunggu bila Lena mendengarnya.”

Bren kemudian bangkit dari sana dan meninggalkan wanita-wanita itu dengan bibir menganga dan saling bisik-bisik di antara mereka. Emosi dalam dadanya masih dia bawa hingga ke tempatnya berdiri sekarang, bar station lain yang berada di seberang bar station sebelumnya. Bren menengguk segelas Brandy dan menjengit ketika cairan itu membakar kerongkongannya, tersedak, Bren meminta segelas air putih dingin untuknya.

“Easy, brother. Kau belum terbiasa minum Brandy, eh? Cobalah Whisky, lebih ringan dari Brandy.” Seorang pria berusia tak beda jauh darinya ikut bergabung dan memesan segelas minuman pada Bartender.

“Thanks,” jawab Bren.

Laki-laki itu tersenyum dan mengulurkan tangannya, “Marco, siapa namamu?” tanyanya lagi.

“Bren,” jawabnya sembari menjabat tangan Marco dan melanjutkan minumnya, segelas air putih dingin.

Marco nampak terkejut, lalu seringai lebar menguasai bibirnya, “Bren!!” ditepuknya pundak Bren hingga dia hampir terperanjat karena tersedak, “Ups.. sorry. Aku terlalu gembira karena akhirnya bertemu dengan pria yang berhasil menakhlukan Lena-ku.” Seringaian itu masih terpasang di sana saat Marco melanjutkan kata-katanya. Dia bahkan tak memerlukan jawaban dari Bren untuk pernyataannya sebelum itu.

“Aku tak mengerti mengapa Lena tidak mengenalkanmu pada kami, rupanya dia masih sibuk dengan bisnis, eh? Bersabarlah... Wanita Stuart memang seperti itu, terutama Magdalena...”

Pandangan mereka berdua tertuju pada satu orang wanita, Magdalena Stuart, dengan gaun putih yang membungkus tubuh langsingnya, pada belahan pendek pada bagian dadanya, dan juga lekukan tulang punggungnya yang telanjang, yang terlihat karena gaun itu terbuka pada bagian belakangnya. Setiap pria normal yang berada di dalam ruangan itu selalu melirik ke arah Magdalena, kemanapun dia berjalan. Magdalena adalah wanita yang paling dicari untuk dijadikan istri, selain karena kecantikannya, juga karena wanita itu adalah satu-satunya penerus sah Stuart ltd.

“She’s beautiful, don’t you agree?” ungkap Marco, pertanyaan yang tidak perlu jawaban karena mata Bren yang ikut memandang tubuh Magdalena juga bersinar sayu, teringat kembali ciuman panas mereka di dalam ruang pakaian. Diapun berdeham, membersihkan tenggorokannya untuk menuai ketegangan dalam tubuhnya.

“Ehm... Boleh aku tahu, anda...?”

Marco segera memutar tubuhnya, dengan antusias dia menjabat tangan Bren lagi, “Maaf, aku belum mengenalkan diriku dengan baik padamu. Aku Mark Anthony Stuart, sepupu jauh Magdalena Stuart, calon istrimu, eh?”

Bren mengangguk-angguk, mencoba menghafal siapa-siapa saja anggota keluarga Stuart agar di kemudian hari dia tidak salah mengingat mereka.

“Nice to meet you,” senyum Bren.

Mata Marco kemudian tertumbuk pada warna merah di leher Bren, tanda yang membuat senyum pria itu sedikit kecut, “Nampaknya kalian bersenang-senang,” tunjuk Marco dengan dagunya pada leher Bren. Laki-laki yang dimaksud mengangkat bahunya tak mengerti.

Marco tertawa, sedikit rasa cemburu muncul dalam hatinya. Dia lalu menepuk pundak Bren pelan, “Be good to her, dia adalah wanita yang hebat. Tidak sembarang pria bisa mendampinginya. Mungkin... Kau adalah pria yang tepat untuknya, tapi kita akan lihat nanti. I wish you the best, Bren.”

Marco kemudian pergi dari sana setelah mengangkat gelasnya untuk bersulang pada Bren, dia beringsut menjauh menuju kumpulan orang-orang lain di sudut ruangan.

“Aku mencarimu daritadi, kemana saja kau?” tanya Magdalena dengan nada sarkastis. Tubuhnya bertumpu pada badan bar dan meminta segelas Whisky untuk dirinya.

“Aku... mengambil minuman,” jawab Bren pelan. Dia masih memikirkan kata-kata Marco namun tak mampu menangkap maksud di balik kalimat laki-laki itu.

“Ayo, aku perkenalkan kau pada orang-orang itu, setelah itu kita pulang. Aku sudah muak berada di sini. Bila lebih lama lagi, aku yakin aku akan gila!!” sentak Magdalena dan menggamit lengan Bren untuk menyingkir dari sana.

Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, Bren berjalan dengan patuh di samping Magdalena, dia tidak ingin mendebat wanita itu lagi. Frustasi yang menumpuk dalam tubuhnya tak mampu dia tambahkan lagi dengan pertengkaran lain bersama Nyonya Besar.

Magdalena membawa mereka menuju kerumunan orang-orang, pria dan wanita yang di dalamnya juga terlihat Herbert Stuart dengan istri dan anak-anaknya. Di samping mereka, Duke of Gloucester, teman dekat Herbert Stuart yang selama ini mendukung pria itu juga ikut menoleh ketika Magdalena menyeret langkah Bren untuk menemui mereka.

“Well.. well.. well.. Bila ini bukan keponakanku, Magdalena yang cantik... dengan tunangan Indonesianya...” cerocos Herbert yang disambut tawa Sang Duke, tuan rumah pesta ini.

“Selamat malam, Miss Stuart. Sayang sekali Mr. Stuart tidak bisa hadir. Padahal kami berencana membincangkan beberapa hal mengenai proyek istana di Gloucester,” sapa Duke of Gloucester setelah mencium punggung lengan Magdalena dengan sopan.

“Terima kasih, Duke, suatu kehormatan diundang pada pesta anda yang megah ini. Saya akan menyampaikan maksud anda pada ayah. Dia pasti sangat senang mendengarnya,” balas Magdalena.

Duke of Gloucester mengangguk, dia lalu menunjuk ke arah Bren dan tersenyum menilai, “Apakah kau akan memberiku kehormatan dengan berkenalan dengan pria tampan ini?”

Magdalena ikut tersenyum, dengan anggun dia memperkenalkan Bren pada masing-masing orang itu, beserta beberapa bangsawan dan pengusaha yang ikut mendekat untuk melihat perbincangan mereka.

“Tunanganku, Mr. Bernard Bram. Kami akan menikah tak lama lagi, jadi bisa dikatakan, dia adalah perwakilan Stuart ltd. selanjutnya.”

Herbert Stuart berdehem, rahangnya mengeras dan dengan kesal dia menyela, “Dan apakah pekerjaan dari Mr. Bren ini? Sehingga nampaknya dia memiliki kriteria untuk menjadi perwakilan Stuart ltd? Semoga dia bukanlah laki-laki yang sama seperti Robby...” tawa Herbert Stuart berkumandang namun tak ada yang ikut tertawa bersamanya hingga laki-laki tua itu menutup mulutnya sendiri.

“Dia... akan mendampingiku mengelola Stuart ltd. Aku memastikan kemampuannya tak akan mengecewakan. Bersama, kami akan membuat Stuart ltd. semakin besar,” jawab Magdalena yakin.

Mereka kemudian saling berkenalan satu per satu, menyebutkan nama dan jabatan masing-masing. Beberapa di antaranya juga menyerahkan kartu nama kepada Bren dan memastikan Bren menghubungi mereka bila memerlukan bantuan. Magdalena membeku ketika langkahnya terhenti saat melihat Marco menunggu mereka dengan senyumnya.

“Kau tak akan mengenalkanku dengan priamu, Lena?” tanyanya. Kedua tangan Marco berada di dalam saku celananya, senyuman di bibirnya nampak santai, bahkan mata laki-laki itu menggoda, membuat Magdalena salah tingkah.

“Marco, kenalkan, Bren.”

“Sejujurnya kami sudah berkenalan, aku hanya mengujimu, apakah kau akan mengenalkan tunanganmu padaku. Well... rupanya kau sudah bersiap-siap pergi? Tanpa bermaksud menghindariku, kan?” tanya Marco tanpa memperdulikan keberadaan Bren di sana. Laki-laki itu sama sekali tak memandang Bren, nampaknya dia memiliki urusan yang belum selesai dengan Magdalena.

“Jangan macam-macam, Marco. Bila kau berkata yang tidak-tidak, aku tak akan memaafkanmu!” ancam Magdalena. Mereka bertiga berada jauh dari keramaian, sehingga Marco tak perduli bila Magdalena marah padanya atau menamparnya karena kelancangannya.

Marco mengangkat tangannya, menyerah. Dia melirik air muka Magdalena yang hampir menangis, Marco tahu seperti apa Magdalena dan dia tidak tega membuat wanita itu menangis, terutama di depan laki-laki yang menjadi saingannya dalam merebut hati Nyonya Besar.

“Aku akan menemuimu nanti, sebelum kau kembali ke negara itu, pastikan kita bertemu. Kau masih berhutang satu pertemuan padaku, Lena.” Sorot mata Marco tajam, setelah berpamitan pada Bren, diapun pergi meninggalkan mereka berdua.

Dengan langkah tergesa-gesa, Magdalena masuk ke dalam mobil dan menunggu Bren dalam diam. Saat di dalam mobil, dia memerintahkan sopir untuk segera membawa mereka pulang.

Pada Bren dia berbisik, “Jangan bertanya, tolong, jangan bertanya. Aku belum bisa menjawabnya.” Dan tangis pun turun di pipi Nyonya Besar.

Bren menghela nafasnya lagi, begitu banyak hal yang tidak diketahuinya mengenai Magdalena. Saat dirasanya mereka mungkin bisa memiliki sesuatu untuk ‘dimulai’, Bren dihantam telak dengan pengetahuan lain, bahwa mungkin mereka memang tidak memiliki apa-apa untuk ‘dimulai’.

Dengan sikap seorang gentleman, Bren memeluk pundak Magdalena untuk menangis di dadanya. Dalam diam dia meremas pelan bahu Magdalena, menenangkan wanita itu dari tangisannya. 


3 comments:

  1. Yeaay ayo lanjutkan lagi mba shin! Hehe makasiiii
    -fina

    ReplyDelete
  2. Kasian abg bren,gagal maning..
    Lanjoott mba :D

    ReplyDelete
  3. Lanjut,.... tryata mmg menyimpan bnyk misteri

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.