"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Sunday, December 8, 2013

Not So Tough Lady - Part 9

Bernard Bram

“Good morning,” sapa Bren pada Magdalena yang baru saja membuka matanya. Bren mencoba mengantisipasi kehisterisan wanita itu bila dia tiba-tiba lupa mengapa mereka bisa berpelukan di atas ranjang. Tapi rupanya kekhawatiran Bren terlalu berlebihan. Magdalena menatapnya dengan ekspresi sayu, ekspresi seorang wanita tanpa gelar Nyonya Besar yang biasa disandangnya.

Di hadapan Bren, yang ada hanyalah sesosok wanita cantik dengan penampilan paginya yang mampu membuat pria manapun terpesona. Dia tanpa riasan pada wajahnya, terlihat alami dan segar. Untuk pertama kalinya Bren dapat melihat wajah asli Magdalena, wajah yang dari dulu tak pernah dilihat oleh laki-laki manapun, meski mantan suaminya sekalipun.


Hidungnya yang mancung dengan iris mata berwarna birunya membius Bren dalam hipnotis pesona seorang Lady Stuart, matanya perlahan-lahan turun pada bibir Magdalena yang terbuka, pada kelembutan bibir yang masih diingatnya saat mereka berciuman dengan panas di dalam kamar Bren, ciuman yang berbekas dalam relung hati laki-laki itu setiap kali melihat kedua belah bibir itu terbuka di depannya.

“Kau akan menciumku atau tidak?” tanya Magdalena mengejutkan Bren yang tengah larut dalam khayalannya.

“What?” tanyanya terperangah.

“Kau terlalu banyak bertanya, Bren.” Dengan itu Magdalena menarik wajah Bren untuk memagutnya dalam ciuman pagi nan panas.

Tubuh mereka saling bersisian, ciuman itu semakin dalam, melumat setiap jengkal bibir mereka dalam gairah pagi hari yang membutakan. Gerak tubuh Bren semakin berani saat tubuhnya telah berada di atas tubuh Magdalena, menindihnya dengan sebuah kebutuhan yang selalu ada di setiap pagi hari menyerang.

Namun, tatkala ciuman itu semakin mendesak, semakin memaksa untuk dilanjutkan, pintu kamar Magdalena terbuka lebar dan munculah dari sana Mr. Stuart di atas kursi rodanya, berdecak tak senang mendapati Magdalena dan Bren yang tengah bergumul.

Mereka berdua seketika merapikan pakaian masing-masing dan bangkit dari atas ranjang, Bren salah tingkah karena ini pertama kalinya dia dipergoki tengah mencumbu seseorang dan orang itu adalah ayah dari Magdalena.

“Kalian harus bersiap-siap, upacaranya dimulai sebentar lagi. Apapun yang ingin kalian lakukan, bisa kalian lakukan nanti. Tak akan ada bedanya bila dilakukan sekarang atau nanti, bila memang itu akan menjadi hakmu,” ujar Mr. Stuart sembari menoleh pada Magdalena yang berdiri dengan tangan bersedekap di depan dada.

Mr. Stuart kemudian pergi dari tempat itu diiringi pelayan yang bertugas untuk mendorong kursi rodanya, pintu kemudian tertutup lagi meninggalkan Magdalena dan Bren berdiri mematung tak tahu harus berbuat apa. Bren melirik pada Magdalena, wanita itu membalas lirikannya.

“What?” tanya Magdalena sarkastis.

“Ehmm.. Tidak,” jawab Bren gentar. Dia tidak tahu bila wanita begitu mudah berubah emosinya. Magdalena yang begitu penuh gairah dua menit yang lalu, kini bisa begitu menyeramkan dengan ekspresi penuh kebencian di wajahnya.

Lalu wanita itu mendekatinya dengan langkah cepat, menarik lehernya mendekat, dan memagut kembali bibir Bren setelah mengumpat tak perduli akan peringatan Mr. Stuart sebelumnya.

“Perduli setan dengan laki-laki itu!!” rutuknya. Dan Bren pun tahu, itulah saatnya dia harus memejamkan mata untuk menikmati ciuman manis pada bibirnya.

~*~*~*~

“Can i come in?” canda Bren setelah ciuman panas itu berakhir. Bibir mereka masih bengkak dan panas saat Magdalena melepaskan ciuman mereka. Kini Magdalena sedang bersiap-siap untuk membersihkan tubuhnya di bawah shower dan Bren dengan sorot mata nakalnya menggoda tubuh telanjang magdalena yang terlihat dari balik kaca box shower.

“Jangan bermimpi, Bren!” desis Magdalena meskipun dalam hati candaan Bren membuat debar jantungnya tak menentu. Efek ciuman mereka begitu nyata pada tubuhnya yang berusaha dia sembunyikan mati-matian. Magdalena tak ingin Bren tahu seberapa besar pengaruhnya terhadap dirinya. Magdalena tak ingin dimanfaatkan lagi oleh seorang pria, meski itu adalah Bren sekalipun.

“Keluarlah, aku perlu waktuku sendiri,” usir Magdalena pada Bren yang menunggu di depan pintu kamar mandi. Dengan senyum tulus pertama yang bisa diberikannya pada Magdalena, Bren menutup rapat pintu kamar mandi itu dan meninggalkan Magdalena dengan kesunyian kamar mandi untuk dirinya sendiri.

“Ah... Bren...”

Hanya itulah suara yang terdengar berkali-kali dari dalam kamar mandi selama Magdalena berada di dalamnya, tak kurang dari satu jam wanita itu menghabiskan waktunya di dalam sana. Saat dia muncul kembali, wajahnya telah segar, begitu kontras dengan wajah Bren yang terlihat jelas sedang menyembunyikan segala rasa frustasi yang menghimpitnya. Dia pun meringis pelan sebelum mengambil gilirannya untuk membersihkan tubuh di bawah kucuran air hangat.

~*~*~*~

“Kau bisa memakainya?” tanya Magdalena pada Bren yang sedang mematut-matutkan diri di depan cermin. Dia sedang memasangkan dasi pada kerah kemejanya.

Karena gemas, Magdalena pun membantu laki-laki itu untuk memperbaiki letak dasinya yang miring.

“Thanks,” ujar Bren tulus. Magdalena hanya mendengus dan berlalu dari hadapan Bren menuju lemari tempat penyimpanan perhiasan.

Mereka mengenakan pakaian serba hitam, bahkan kemeja dalam yang dikenakan Bren juga berwarna senada. Rupanya mereka akan menghadiri upacara pemakaman seorang keluarga jauh dari Mr. Stuart.

Dengan topi bercadar jaring-jaring, Magdalena melangkah di depan diikuti Bren dengan setia. Mr. Stuart yang telah menunggu di ruang tamu rumah itu lalu mendorong kursi rodanya setelah melihat kedatangan mereka. Iring-iringan mobil kemudian membawa mereka ke sebuah kathedral klasik di pinggiran kota London. Church of Baltimore.

Dipimpin oleh Pendeta Mc.Abrey, pemberkatan jenazah akhirnya selesai. Peti jenazah kemudian diturunkan ke dalam liang lahat sebelum didoakan dalam bahasa latin. Mr. Stuart sebagai orang tertua di keluarga Stuart memberikan beberapa kalimat ucapan selamat jalan pada keluarga yang ditinggalkan. Mereka saling berpelukan dengan akrab setelah semua susunan upacara pemakaman selesai.

Dengan senyum sinis tersungging di sudut bibirnya, Magdalena memeluk pamannya, sepupu dari ayahnya yang beberapa belas tahun ini gencar ingin merebut kepemilikan perusahaan Stuart dari hak waris Magdalena, dia juga adalah musuh bebuyutan Nyonya Besar.

“Lena... lama tak berjumpa denganmu. Aku kira kau sudah betah berada di negara dunia ketiga itu. Bahkan kau membawa salah satu contoh produk sana, hah?” ejek Herbert Stuart, Sang Paman.

“Jangan berkata seperti itu, Herby, dia adalah calon menantuku. Keturunan Stuart tak akan terhenti di garis keturunan kita. Kupastikan itu. Sehingga kau bisa menyisihkan rencana busuk yang tengah kau pikirkan, keinginanmu untuk menguasai Stuart ltd. tidak akan berhasil,” Mr. Stuart memotong kalimat Herbert Stuart. Dia juga tidak menyukai sepupunya, kebencian yang jarang dia perlihatkan karena laki-laki itulah juga salah satu penyebab kematian istrinya yang sayangnya tak pernah diketahui oleh Magdalena. Mr. Stuart menerima semua kesalahan ditimpakan padanya, dia tidak ingin mengungkit sakit hati yang dulu begitu menyiksa dan membebaninya hingga sekarang.

“Oh, ayolah Brother... Kau masih mempercayai gosip murahan itu? Untuk apa aku merebut milikmu? Aku hanya memikirkan keturunan kita. Aku sangat senang ketika Lena bercerai dari suaminya yang rendahan itu, what was his name? Robert? Hah... Dia bahkan tidak bisa dibandingkan dengan keluarga kita. Lalu laki-laki ini, apakah pilihan Lena kali ini tidak salah lagi? Pasti laki-laki ini telah memperdaya anakmu. Seandainya Lena mau menikah dengan anakku Marco, tentu keturunan kita akan lebih kental mengalir darah Stuart di dalamnya,” kekeh Herbert Stuart tanpa terdengar Bren yang masih berbincang-bincang dengan keluarga Stuart yang lain.

“Marco? Apakah kau kira ini abad ke-18? Menikahkan saudara sepupu?” hardik Mr. Stuart geram. Dia akhirnya mulai membaca ke arah mana rencana saudaranya dijalankan.

“Tenang, Brother... Kenapa kau harus marah? Mereka adalah sepupu jauh, bahkan keluarga kerajaan masih gemar menikah dengan saudara sedarah mereka. Tidak ada yang salah dengan kita, bukankah masih mengalir darah bangsawan yang agung dalam keluarga Stuart? Kita adalah penerus Dinasti Stuart yang dulu sempat menguasai negeri ini!! Pernikahan Lena dan Marco akan membuat kekuatan Keluarga Stuart semakin diakui. Kita tidak akan dipandang sebelah mata lagi, Brother...” desis Herbert di telinga Mr. Stuart.

Mr. Stuart memicingkan matanya, dengan bisikan geram dia mendekatkan bibirnya pada telinga sepupu liciknya, memastikan hanya laki-laki tua itu saja yang mendengarnya, “Seandainya kau tidak membunuh Ibu Lena, mungkin aku sudah menikahkan anakku dengan anakmu. Tapi sekarang, bermimpilah, Herby. Kau tidak akan pernah menginjakkan kaki keluargamu di dalam perusahaanku. Lena akan memberikan cucu untukku tahun ini!!”

Mr. Stuart dengan gemas memerintahkan pelayannya untuk pergi meninggalkan Herbert Stuart. Laki-laki tua yang baru saja diceramahi oleh kakak sepupunya itu berdiri gemetar dengan tangan mengepal marah. Lena yang sedari tadi berdiri cukup jauh darinya akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana, dia tidak ingin bertemu dengan pamannya yang telah begitu licik dengan rencana-rencana jahatnya selama ini pada keluarganya.

“Bren, kita pulang,” panggil Magdalena pada Bren yang baru saja membuat pertemanan baru dengan sepupu-sepupu jauh Magdalena yang berusia hampir sama dengannya.

“Hey, kau akan menikahi Lena?” tanya Franz pada Bren.

Dia terdiam, bingung dengan jawaban apa yang harus diungkapnya. Bren tak ingin berbohong pada teman barunya, namun dia juga tidak mungkin menghancurkan rencana Magdalena. Maka dari itu Bren mengangguk pelan dan berpamitan pada Franz.

“Aku harus pergi, senang berkenalan dengan kalian,” senyumnya menutup perbincangan mereka. Bren setengah berlari mengikuti Magdalena yang telah masuk ke dalam mobil limusine yang membawa mereka kembali ke Mansion Stuart.

~*~*~*~

“Aku akan menemui Ludwig, nanti malam jangan lupakan pesta dansa itu. Kau mewakili Stuart ltd. di depan bangsawan-bangsawan sombong itu. Pastikan kau tidak membuat nama keluarga kita rusak, Lena,” Mr. Stuart memutar kursi rodanya mengarah ke mobil yang akan membawanya pergi lagi, lalu dia berhenti dan menoleh kembali pada Lena dan Bren yang masih berdiri mematung.

“Akhir tahun ini, kau sudah harus memiliki sedikitnya seorang penerus untuk keluarga ini. Jangan mengecewakan kepercayaanku lagi, Magdalena.”

Setelah mengucapkan kata-kata intimidasi itu, Mr. Stuart dengan angkuhnya meninggalkan dua anak manusia dengan wajah hampir sama pucat. Magdalena yang akhirnya mendengar kalimat yang paling tak ingin didengarnya, dan Bren yang merasa iba dengan kondisi keluarga Magdalena. Betapa beratnya masalah wanita itu.

Tubuh Magdalena bergetar, hampir tak terlihat oleh Bren. Ketika dengan leluconnya Bren mencoba menghibur Nyonya Besar, Magdalena memberondongnya dengan kata-kata kasar karena frustasi dengan masalah yang baru saja ditanggungnya. Magdalena histeris dan mengumpat Bren dan memojokkan laki-laki itu hingga ke dinding rumah.

“Kau tidak tahu apa-apa, jangan membuat lelucon atas masalahku!! Bila kau tak mengerti apa yang sedang aku alami, maka uruslah urusanmu sendiri!! Aku tak perlu nasehatmu, aku tak perlu rasa simpatimu!! Aku hanya perlu benihmu di dalamku!!!” pekik Magdalena yang akhirnya menyesali kalimat terakhir yang terucap dari mulutnya.

Mulut Bren menganga tak percaya, tapi dia tidak sempat berkata apapun, Magdalena telah berlari meninggalkannya ke dalam kamar mereka. Kamar itu terkunci dan Bren tidak dapat memasukinya lagi.

“Apa yang telah aku lakukan?? Kenapa harus sepelik ini??!!” umpat Bren dengan geram. Dia berjalan mondar-mandir sebelum akhirnya meminta kunci cadangan pada kepala pelayan. Dengan puluhan kunci di tangan, Bren mencoba keberuntungannya dengan memutar setiap anak kunci yang dimilikinya untuk membuka pintu kamar menuju Nyonya Besar.  


4 comments:

  1. Yeaaayy! Makasi mba shiiin! Ayo ayo lagi lagi lagiiii hehehehe
    -fina

    ReplyDelete
  2. Waduhhh, kok jadi riweuh yak nasib om bren???
    :(

    ReplyDelete
  3. º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°ºea mba cin, lgi ya,xixixixi

    ReplyDelete
  4. Gantengnyaaaaaa mas Bren !! Peluukkkkkkk ampek megap2 Wakakakakaka

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.