"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Sunday, December 29, 2013

Surrender In Your Arms - Chapter 7


Keesokan paginya Elliot bersikap seolah tak terjadi apa-apa di antara mereka semalam. Dia meyakinkan dirinya bahwa Kimberly menganggap dia sedang dalam keadaan mabuk dan tak akan mengingat apa yang mereka lakukan. Elliot tidak ingin Kimberly merasa tidak nyaman dan membuat pekerjaannya terganggu. Dia tak ingin Kimberly meninggalkan pekerjaannya karena Derby membutuhkannya.

“Kalian siap berangkat ke kantor?” tanya Elliot pada kedua anaknya. Landon dan Derby akan bermain di kantor ayahnya hari ini, siang nanti mereka akan makan siang bersama sebelum menghabiskan hari pergi ke tempat bermain anak-anak.


Elliot mengambil pekerjaannya hingga siang khusus di hari sabtu, dia ingin menghabiskan waktu bersama anak-anaknya lebih banyak.

Kimberly baru saja keluar dari kamar Derby dengan menjinjing sebuah tas perlengkapan Derby dan Landon. Ms. Clayton sedang pergi menjenguk ibunya di rumah sakit sehingga tugasnya digantikan oleh Kimberly untuk menjaga serta Landon, anak sulung Elliot.

“Ms. Whittaker, duduklah di samping Daddy. Aku ingin bermain karet gelang dengan Derby.” Kata Landon yang meminta Kimberly untuk duduk di samping ayahnya.

Tanpa berkomentar, Kimberly membuka pintu penumpang depan dan duduk dengan sopan. Dia tidak berani memandang wajah Elliot yang sedang menatap lurus ke depan. Kimberly merutuk dirinya karena jantungnya berdebar kencang hanya dengan berada di samping Elliot. Dia tahu laki-laki ini telah melupakan apa yang semalam mereka lakukan di ruang makan. Kimberly membuang mukanya ke samping saat Elliot melirik pada Kimberly dan bertanya pada anak-anaknya.

“Kalian siap?”

“Yes.... we’re readyyyy,” jawab kedua bocah itu serempak.

Mendengar aba-aba dari anaknya, Elliot menjalankan mobilnya menuju kantor. Walaupun suasana di dalam mobil itu ramai oleh celoteh kedua anaknya, Kimberly dan Elliot tetap tidak saling berbicara. Mereka hanya menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Landon dan Derby kepada mereka.

“Baiklah, kalian pergi ke kantor, Dad harus menemui beberapa orang sebelum menemui kalian di sana. Be good, ok?” perintah Elliot pada kedua anaknya yang mengangguk dan langsung berlari, berlomba untuk mencapai lift menuju kantor ayah mereka, meninggalkan Kimberly dan Elliot yang masih berdiri bersisian.

“So, sampai bertemu lagi kalau begitu,” kata Elliot pada Kimberly, wanita itu mengangguk dengan gugup.

Dari sudut matanya, Elliot memperhatikan punggung Kimberly yang menyusul kedua anaknya ke dalam lift yang masih membuka. Landon dan Derby dengan sengaja menahan pintu lift menutup hanya untuk menunggu baby sitter mereka mencapai lift. Setelah pintu itu menutup, Elliot Webb mendesah berat, merasa tak yakin dengan kekuatannya untuk bertahan lebih lama lagi.

~*~*~*~

Dari dua puluh lima wanita yang berhasil masuk kategori calon istri Elliot, hanya tersisa dua orang kandidat lagi yang harus ditemuinya. Walau Elliot telah setengah hati dalam pencaharian istrinya, dia masih tetap menemui mereka hanya agar kepalanya bisa mengalihkan pikirannya dari sosok seorang Kimberly Whittaker yang semakin hari semakin membuat kepalanya dipenuhi kabut gairah yang membelenggu, Elliot bepikir mungkin bila dia telah menemukan calon istri bagi dirinya, semua obsesinya pada baby sitter anaknya itu akan menguap.

Siang ini dia akan bertemu dengan Chamber Snow, seorang mahasiswi perguruan tinggi yang menekuni bidang manajemen. Dari kurikulum vitae miliknya, Chamber mengatakan dirinya adalah penyayang anak-anak. Hanya satu yang kurang disukai Elliot, wanita ini meskipun menyayangi anak-anak, namun dia tidak memiliki keinginan untuk melahirkan anak. Chamber adalah anggota dari komunitas anti aborsi, dimana dia berikrar tidak akan mengandung anak seumur hidupnya demi solideritas kepada sesama wanita lain yang tidak berhasil memiliki anak dari rahim mereka. Dia mengecam aborsi dan mendukung inseminasi buatan. Data-data yang membuat kening Elliot berkerut.

“Wanita yang rumit,” keluhnya saat menunggu Chamber selama setengah jam lebih dari waktu yang mereka sepakati.

Dengan gelisah Elliot melirik jam tangan Rolexnya, dia hendak mengangkat pantatnya ketika seorang wanita dengan rambut tergerai dalam pakaian hangatnya menyentuh pundaknya dan meminta maaf padanya.

“Maafkan aku, pertemuan itu ternyata mengundang seorang pakar kesehatan yang telah lama aku idolakan sehingga aku hampir lupa dengan pertemuan kita,” ujarnya bersemangat. Dia mengambil tempat di depan Elliot yang memandangnya dengan masam. “Jadi, kau Elliot Webb? Si Pialang Saham itu?”

Elliot mengangguk, ketika dia hendak menjawab, Chamber telah memotong kesempatannya. Wanita itu berceloteh dengan lancar, membicarakan mengenai dirinya tanpa memberi kesempatan sekalipun pada Elliot untuk bertanya, atau mengomentari pernyataannya. Elliot hanya menjadi pendengar dari seseorang yang begitu terobsesi dengan penelitiannya mengenai alasan mengapa ada wanita-wanita yang ingin mengaborsi anak-anak mereka dan Chamber mengekspresikan kekesalannya dengan berapi-api. Topik yang mereka bicarakan bukanlah topik yang ingin dibicarakan oleh Elliot.

Maka dengan setengah hati, Pialang Saham itu meminta izin untuk ke toilet sebelum berbelok keluar dari restoran dan meninggalkan Chamber seorang diri, sibuk dengan kertas-kertas pertemuannya yang dia bolak-balik. Elliot tak mungkin memberikan anak-anaknya pada orang seperti Chamber, dia mendesah keras, tak menyangka standar yang dia berikan begitu tinggi untuk mencari seorang istri dan ibu bagi anaknya.

“Bila seperti ini terus, aku tak akan pernah mendapatkan seorang istri lagi,” dengusnya kesal pada dirinya sendiri. Dengan gemas Elliot membawa mobilnya kembali menuju kantornya. Esok hari, dia akan bertemu dengan kandidat terakhir, calon terakhir yang mungkin memenuhi kriteria seorang Elliot Webb untuk dijadikan istrinya.

Dan saat Elliot duduk di depan wanita terakhir itu, bibirnya tersenyum sejenak, mendengarkan lelucon yang diberikan oleh wanita itu saat mereka makan siang. Dia sempurna, rambutnya hitam kecoklatan, digelung seperti seorang wanita karir namun tak terlihat kaku. Kacamata minus yang bertengger di hidungnya memperlihatkan betapa pintarnya dia dengan wawasan yang cukup luas, karena setiap pertanyaan Elliot dapat dia jawab dengan baik. Ketika Elliot menanyakan hal itu, wanita itu tampak berpikir cukup lama.

“Mengapa kau mengirimkan lamaranmu?” tanya Elliot setelah satu jam lamanya mereka berbincang-bincang. Sudah tujuh puluh persen wanita ini akan mendapat kesempatan untuk bertemu dengan kedua anaknya, untuk melalui test yang lebih tinggi lagi.

Wanita itu terdiam, matanya mengamati Elliot lekat-lekat, mencoba menyelami maksud dari pertanyaan laki-laki itu sebelum memberikan jawabannya.

“Aku rasa aku sudah menyukaimu sejak pertama kali aku melihatmu. Aku beruntung karena melihat iklan yang kau pasang dan aku tak berpikir dua kali untuk mengirimkan emailku.”

Dia tersenyum, seolah jawaban yang dia berikan cukup untuk memuluskan langkahnya menuju level berikutnya dalam hubungannya dengan Pialang Saham tampan, duda beranak dua di depannya.

Elliot tak menyangka jawaban itu yang akan dia dapatkan dari wanita itu, tapi dia tersenyum, karena jawaban itu cukup baginya. Akhirnya Elliot mendapatkan seorang wanita yang mungkin akan menjadi istrinya kelak, dan juga ibu bagi anak-anaknya.

“Baiklah, kau lulus. Tapi, dimana kau pernah bertemu denganku?” tanya Elliot saat menjabat tangan wanita itu di pintu keluar restoran.

“Ini adalah pertemuan pertama kita, Mr. Webb,” jawab wanita itu dengan tersenyum.

Dahi Elliot berkerut, dia tidak mengerti.

“Aku melihatmu di televisi, di koran, di internet. Aku adalah penggemar beratmu. Dan aku senang kau meluluskanku. Sampai jumpa minggu depan.”

Elliot hanya berdiri, tubuhnya sekejap mati rasa. Walaupun wanita itu mengecup pipinya sebelum pergi, Elliot masih tak bergerak. Dia mulai memikirkan ulang keputusannya meluluskan wanita itu.

“Apakah dia... maniak?” bisiknya pada dirinya.

Namun demikian, wanita itu melambaikan tangannya dari kejauhan, melayangkan sebuah kecupan di bibir pada Elliot.

“Hm... No... dia tidak terlihat seperti seorang maniak....”


Dengan pikiran itu, Elliot mencoba membuat dirinya nyaman karena sudah tidak ada pilihan lain lagi yang bisa dia wawancarai. Diapun membawa mobilnya kembali ke kantornya, menghabiskan waktu bersama pekerjaan dan berinteraksi dengan baby sitter anaknya yang masih mampu membuat darahnya berdesir tatkala sembunyi-sembunyi memperhatikan Kimberly yang tengah menemani anaknya bermain. 


18 comments:

  1. Akhirnya .....
    Mudah - mudahan yg david steel kayak gini juga ???

    ReplyDelete
  2. kangen bgt sama cerita ini... aaaaaa *histeris

    makasih ya mbak shin :*

    ReplyDelete
  3. kangen bgt sama cerita ini... aaaaaa *histeris

    makasih ya mbak shin :*

    ReplyDelete
  4. Ampe lupa am crtanya, xixiixi
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°ºea mba cin

    ReplyDelete
  5. yah akhirnya dilanjut juga duren satu ini walau rada sdkt lupa baca lagi dr awal neh hehehhe thak you shin

    ReplyDelete
  6. Akhirnyaaaaaaaaaaaaaaaaaa ihiiiyy semoga terus berlanjut! Makasi mba shin
    -fina

    ReplyDelete
  7. Akhirnya,,,duren muncul lagi,,,makasih mba shin,,yang S̤̥̈̊є̲̣̥ṁ̭̥̈̅̄ⓐN̶̲̥̅̊Ǧ̩̥α̇̇̇†̥̥ Ɣªª,,biar cerita ƔªϞƍ Uϑªh lama dilanjutin lagi :)

    ReplyDelete
  8. OMG my duren kembali.. makin lope2 deh sama kmu....


    Makasih mb cin.. ki g bilang2 sih klo udah pos :(

    ReplyDelete
  9. Aaaaaargh...akhitnyaaa...makasiih mbak shiiin.......
    Hihihiii....
    Lanjutt..lanjuuut....

    ReplyDelete
  10. nah kan gimana kalo tu cewe beneran maniak? kan kasian brother elli sama sista kim * hadeuh bahasanya*

    ReplyDelete
  11. Akhirnya keluar jugaaa..
    Uh, ampe bingung pas awal baca. Semoga Mr. David juga mengikuti jejaknya elliot.
    Makasih kak shin..

    ReplyDelete
  12. Akhirnya keluar jugaaa..
    Uh, ampe bingung pas awal baca. Semoga Mr. David juga mengikuti jejaknya elliot.
    Makasih kak shin..

    ReplyDelete
  13. Stelah skian lma bru d post..-_-
    Lnut aj dehh!!!

    ReplyDelete
  14. hahahhaha sekian lama ku menunggu~~ #nyanyi

    ReplyDelete
  15. Mas Elliot bnr2 pantang menyerah ya...demi mendapatkan ibu yg terbaik buat anak2nya? Hemmm semangat ya mas!! Btw Kimberley di depanmu, tuh hihihi

    Thanks sist Shin *hug*

    ReplyDelete
  16. Akhirnya Mr. Webb nongol juga.
    Miss you so bad.

    Udah aja ga usah pake seleksi lagi. Ngapain nyari yang belom pasti. Mending ama Kimberly aja yang udah pasti. Ditunggu lanjutannya ya mba, asap hehe... :D
    Thanks mba Shin

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.