"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, January 15, 2014

Belum Ada Judul - END


“Kau senang dengan kamarmu?”

Izah mengangguk, sudah tiga minggu lamanya dia berada di rumah itu, hanya duduk-duduk menghabiskan waktu, membaca segala jenis buku pelajaran yang dijejalkan laki-laki berkacamata hitamnya dan menertawakan keseriusan laki-laki itu bila sedang mengajarinya cara memecahkan penjumlahan matematika.

“Kenapa tidak duduk di sini?” tanya Izah bersemangat, mereka telah begitu akrab dan Izah mendapati dirinya begitu senang menggoda laki-laki itu, walau dia tahu permainan yang dimainkannya sangat berbahaya.

“Sebentar lagi Marionnette datang, tak akan ada waktu untuk itu,” jawabnya gusar.


Izah tertawa cengengesan, “Kau terlalu serius. Ayolah... hanya sebentar,” bujuk Izah bersikeras namun laki-laki itu tetap pada pendiriannya.

Saat mereka masih berdebat, dua orang pelayan membuka pintu kamar Izah dan mendorong masuk sebuah kursi roda dimana duduk di atasnya seorang wanita berusia awal empat puluhan, wajahnya yang pucat tersenyum manis pada mereka berdua.

“Kalian di sini... aku senang.”

Izah berlari ke arah Marionnette, memeluk wanita itu dan mengecup kedua belah pipinya. “Ya, aku di sini, Bu...”

Izah melempar senyumnya pada laki-laki itu yang hanya memasang ekspresi tak terbaca. Hatinya berkecamuk saat memperhatikan dengan seksama bagaimana Marionnette menjadi begitu bahagia setelah dipertemukan dengan Izah.

“Enzo... terima kasih karena kau menemukan anakku, akhirnya aku bisa bertemu dengan Bridgette, Brie-ku sayang.”

Laki-laki itu, dia bernama Enzo, namun kali ini panggilan itu membuat dia memalingkan wajahnya, bibirnya gemetar ketika mengucapkan kata-kata yang begitu sulit untuk keluar dari bibirnya. “Aku... ada yang harus aku kerjakan. Bersenang-senanglah kalian.”

Langkah kakinya lebar, dalam lima detik dia telah menghilang di balik pintu yang menutup dengan berat. Sepuluh meter dari ruangan itu, Enzo membuka satu pintu lagi, membantingnya dengan kasar dan berteriak histeris sekuat-kuatnya karena ruangan itu kedap suara.

Lima menit dia berteriak histeris, lima menit dia memuntahkan segala frustasinya, lima menit dia merutuki diri karena telah membohongi orang yang dicintainya dengan kenyataan palsu. Enzo merasa bersalah, namun dia juga tidak bisa membiarkan Marionnette mematung setiap harinya menunggu kedatangan anaknya Bridgette untuk memeluknya lagi, karena Brie telah pergi untuk selama-lamanya.

“Maafkan aku, Marion... Aku tak sanggup melihatmu seperti itu, maafkan aku....” tangisnya menyayat hati yang mendengarnya, Enzo menangis seperti prajurit yang terluka hingga tangisnya habis, hingga suaranya tak bersisa menyesali diri.

~*~*~*~

“Dia sudah tidur?”

Izah mendongak, tersenyum lemah pada laki-laki yang baru muncul kembali di belakang punggungnya.

Tatapan Izah kembali pada wajah bulat Marionnete, pada senyumnya yang damai seolah dia sedang bermimpi indah, bahagia dengan kepalsuan yang mereka bangun untuk wanita itu.

“Sangat nyenyak, dia terlihat cantik. Seperti bidadari.... Kau beruntung memilikinya.” Izah merasakan dadanya sesak, perasaan aneh mulai menyusupi dadanya, perasaan yang tak ingin dimilikinya namun tak bisa dia tolak. Bahkan hati seorang gadis lugu sepertinya juga tak luput dari perasaan seperti itu, perasaan yang sering dibicarakan banyak orang, yang sering menjadi topik utama dalam novel-novel tulisan orang.

Enzo tersenyum, dia menyetujui perkataan Izah. Sebelah tangannya membelai pelan pipi Marionnette, memperbaiki letak helai rambut yang keluar dari bingkainya. “Ya, dia secantik bidadari.”

Enzo mengecup kening Marionnette, membisikkan selamat tidur untuknya sebelum merapikan kembali letak selimut yang telah sempurna.

“Ayo. Kita biarkan dia beristirahat,” ajak Enzo, memberikan lengannya sebagai tempat Izah untuk bergandengan.

Dengan gembira Izah menyambut kehormatan itu. Debar jantungnya semakin berpacu, apapun yang dikatakan oleh hatinya saat ini, Izah ingin merasakannya. Izah ingin memupuk perasaan itu walaupun perasaan itu tak akan pernah bisa dia miliki, walaupun orang di sebelahnya ini tak akan pernah dimilikinya.

~*~*~*~

Izah baru saja pulang dari sekolahnya, sebuah SMU favorit yang dipilihkan Enzo untuknya. Dia adalah Brie, Bridgette Montana, anak Marionnette yang meninggal dunia lima tahun yang lalu karena penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Sejak kematian Brie, Marionnette menjadi linglung dan sakit-sakitan. Enzo tak sanggup melihat Marionnette menyakiti dirinya, maka ketika matanya menangkap sosok Izah di sudut rumah pelacuran itu, dia tahu Tuhan memang telah mengatur pertemuan mereka. Mungkin dengan cara ini Marionnette akan sembuh, walaupun mereka membohongi wanita keibuan itu dengan kebohongan pahit.

“Mom... Aku pulang....” teriak Izah kepada ibunya yang menyambutnya dengan pelukan hangat dan kecupan di pipi.

Sudah hampir setahun lamanya Izah tinggal di sana, mulai terbiasa dengan keramahan penghuninya, mulai merasa nyaman dengan perlakuan Enzo yang kadang-kadang membuatnya kesal. Sejak beberapa bulan belakangan, laki-laki itu selalu membuatnya marah dan mengomentari setiap perbuatan ataupun pakaian yang dia kenakan.

Enzo baru saja turun dari kamarnya di lantai dua, dahinya berjengit melihat penampilan Izah yang dia rasa terlalu berlebihan.

“Rok apa itu? Apakah sekolahmu kehabisan kain?” tanyanya sarkastis.

Marionnette segera menengahi salah satu pertengkaran kecil yang bisa saja menjadi sebuah pertengkaran hebat. Marionnette masih ingat bagaimana Enzo yang kesal karena Izah tidak mengabari bila dia akan pulang pukul sepuluh malam. Pertengkaran itu begitu hebat hingga mereka tidak bertegur sapa selama satu minggu.  Enzo selalu menghindar dan Izah merasa bersalah, kendatipun itu bukanlah salahnya. Izah telah mengabari Marionnette namun ibunya tak pernah memberitahukan Enzo karena tidak merasa itu hal penting.

Malam itu, untuk pertama kalinya Enzo kehilangan kontrol akan dirinya, untuk pertama kalinya setelah malam-malam yang membuat tubuhnya menderita, Ezno tak sanggup lagi bertahan. Suatu malam setelah seminggu mereka tak berbicara, Enzo menyelinap ke dalam kamar Izah dan mengecup pelan bibir gadis itu. Ciuman pelan yang berubah menjadi sebuah kebutuhan yang tak akan pernah terpenuhi, namun Enzo pergi dengan kenyataan pahit, dengan hati tersiksa karena tak mungkin bisa memiliki Izah untuk dirinya, karena dia adalah anak dari kakaknya. Enzo tak mungkin menikahi keponakannya walaupun Izah bukanlah keponakan aslinya.

Tanpa disadari oleh Enzo, Izah belum tertidur ketika dia menciuminya dengan penuh hasrat. Bagaimana wajah Enzo tertekuk, bagaimana raut terluka di wajah laki-laki itu sanggup membuat Izah membanjiri bantal tidurnya dengan air mata karena sama-sama menyadari mereka tak mungkin bisa bersama. Saat pertama kali Enzo memintanya menjadi anak Marionnette, Izah tak pernah menyangka dia akan jatuh hati pada laki-laki yang usianya dua puluh tahun lebih tua darinya.

Enzo yang tak banyak bicara, Enzo yang dingin, Enzo yang menyembunyikan banyak cinta, begitu menyayangi kakaknya, dia akan mengorbankan kebahagiaannya agar kakaknya tetap bahagia. Dia bersedia menerima semua siksaan itu agar kakaknya tetap tersenyum, walaupun Enzo harus menangis dalam diam, dalam setiap malam-malam sepi di atas ranjangnya.

Lamunan Marionnette terhenti ketika mendengar anak dan adik yang disayanginya masih beradu mulut, dia hanya tersenyum kecil sebelum mendudukkan Enzo dan Izah di meja makan, menyediakan makan siang bagi dua orang yang paling berharga dalam hidupnya.

“Udah, jangan berantem. Makan siang dulu, ya? Enzo? Brie?”

Kedua orang itupun saling menunduk, walau dalam hati Izah mendongkol namun dia melirik ke arah Enzo yang telah sibuk dengan handphone di tangan, mengurusi pekerjaannya.

Saat Marionnette kembali ke dapur, meja makan itu berubah menjadi laga peperangan lagi. Enzo masih tak terima mengenai panjang rok sekolah Izah.

“Besok minta sekolahmu membuatkan rok yang baru. Lima senti di bawah lutut.” Enzo tak ingin dibantah, dia merasa perlu untuk menjaga Izah, karena gadis itu adalah anak kakaknya. Bila sesuatu terjadi pada Izah, maka kakaknya akan kembali sakit-sakitan.

Namun jauh di dalam hatinya, Enzo mengakui, dia tidak ingin laki-laki lain atau teman-teman sekolah Izah tertarik degan gadis itu. Enzo tahu pesona yang dipancarkan oleh gadis ramah itu, gadis polos yang masih tetap sepolos saat pertama dia bertemu. Gadis dengan senyumnya yang damai, senyum yang selalu memenuhi malamnya, senyum yang terpajang dalam wajah penghias background handphone-nya.

“Ih, apa sih, Om. Ini kan standar sekolah. Nanti aku diketawain temen-temen gimana?” rajuk Izah seperti layaknya keponakan yang merajuk pada pamannya.

Mata Enzo mendelik, dia melirik ke arah dapur, saat Marionnette masih sibuk dengan tukang masak, Enzo menarik lengan Izah dan membawanya ke sebuah sudut tersembunyi di dalam rumah itu, tak jauh dari ruang makan.

“Sejak kapan kau memanggilku dengan sebutan itu? Om? Panggilan apa itu?” bisik Enzo tak suka. Dia berjengit karena tak senang dengan panggilan itu, mengingatkannya pada sosok-sosok wanita-wanita penghibur yang sering dia berikan pada klien-kliennya, wanita-wanita yang selalu menggodanya bila pergi ke klab malam.

“Lalu aku harus memanggil apa? Enzo? Kau? Paman?” tantang Izah berani.

Sejak ciuman Enzo malam itu, Izah tak dapat menepiskan rasa cintanya pada laki-laki di depannya lagi. Hatinya semakin perih dan dia perlu mencurahkan perasaannya, walaupun dia yakin Enzo akan membencinya karena hal ini. Bagi Enzo, kakaknya adalah segalanya, Izah bukanlah siapa-siapa, dia hanyalah seorang pelacur yang diangkat dari rumah bordil, dinaikkan derajatnya oleh laki-laki itu sebagai anak kakaknya, namun tak lebih. Pria di depannya masih menganggapnya sebagai pelacur, begitulah yang Izah kira.

“K...kau!!!” Enzo tak mampu berkata-kata, terlalu terguncang dengan kenyataan Izah akhirnya berani menentangnya. Tak pernah sekalipun gadis mungil ini mencoba untuk menentangnya dulu, namun kini, Enzo tak habis pikir.

“Apa kau sudah gila?? Panggil aku Paman, bila memang harus seperti itu.” Wajah Enzo mengeras, dia memaksakan panggilan itu walaupun hatinya tak terima dipanggil Paman oleh Izah.

“Aku tak ingin memanggilmu Paman. Kau bukan pamanku.” Izah tak kalah bengis, bisikannya semakin meninggi, tenggorokannya telah tercekat dan tak lama lagi tangisnya pasti akan mengkhianatinya.

“Apa katamu? Kau... kau harus ingat darimana kau berasal, Nona. Hanya karena aku membawamu kemari dan menjadikanmu anak kakakku, bukan berarti kau bisa berbuat seenaknya. Aku bisa menghancurkan hidupmu bila aku mau!” Enzo begitu berapi-api, rasa kecewa yang menghinggapi dadanya tak bisa dia telaah, dia tak bisa menerima gadis yang dicintainya hampir setahunan ini kini berubah menjadi gadis bengal pemberontak. Enzo tak akan membiarkan Izah melukai hati kakaknya bila gadis ini berbuat buruk di luaran.

“Aku ingat!! Aku sungguh ingat!! Aku tahu, aku hanyalah pelacur murahan!! Pelacur yang tak mungkin dilirik oleh laki-laki terhormat sepertimu.”

Mata Enzo membelalak, kebingungan terlihat jelas di sana, geram dan amarah yang siap meledak.

“Ya... Aku hanyalah pelacur murahan yang tak pantas dicintai, sekali menjadi pelacur, akan selamanya menjadi pelacur. Akan seperti itu selamanya... apalah arti cinta seorang pelacur, tidak ada harganya. Siapalah aku berani mencintai orang sehebat dirimu, orang terhormat sepertimu, keluargamu....”

Izah hendak melarikan diri, tangisnya telah membanjiri wajah cantiknya, namun Enzo yang sedari tadi hanya mampu termangu diam dan mencoba mencerna setiap kata yang meluncur dari mulut Izah akhirnya menangkap lengan gadis itu dengan erat, menarik tubuhnya dan menatap lekat-lekat pada wajah Izah.

“Kau... katakan sekali lagi.”

“Apa? Apa yang ingin kau dengar? Bahwa aku pelacur murahan?” Hati Izah terasa sakit, seperti sembilu yang mengiris daging, berdarah dan membusuk.

“Tidak, bukan yang itu. Setelah itu, tentang kau mencintaiku.” Suara Enzo bergetar, kedua tangannya memegang bahu Izah, mencegah gadis itu melarikan diri.

Pandangan mata Izah semakin kabur, air mata telah begitu deras keluar. Kata-kata yang berusaha dia keluarkan pun tercekik, tak dapat terbentuk dengan baik. Hanya erangan-erangan suara seraknya yang terdengar. Lalu tanpa pikir panjang lagi, Izah menarik kepala Enzo, untuk pertama kalinya dalam hidupnya dia menciumi seseorang, orang yang pertama kali begitu ingin diciumnya, terlepas jarak usia mereka yang begitu jauh.

Mata Enzo membelalak, tubuhnya menegang kaku, tapi saat hatinya mampu mencerna setiap perkataan Izah, tubuh Enzo pun mengendur, pegangannya berubah menjadi pelukan, kebekuannya berubah menjadi kehangatan dan bibirnya memagut dengan penuh hasrat, bibir yang begitu didambanya sedari dulu.

“Aku mencintaimu, Enzo.” Izah membisikkan kata-kata itu di sela-sela ciuman mereka, “Walau kau akan membenciku dan mengusirku, aku tak perduli. Yang terpenting aku sudah mengatakannya.”

Terpesona dengan pernyataan cinta Izah, Enzo tak sempat menahan tubuh gadis itu saat dia pergi dengan air mata berderai, meninggalkan Enzo yang beranjak keluar dari persembunyian mereka namun harus memilih menghentikan pengejarannya ketika kakaknya muncul dari arah dapur dengan sepiring lauk makan siang.

“Izah mana?” tanya Marionnette kebingungan.

Enzo hendak menjawab dengan jujur namun dia langsung teringat dia tak boleh membocorkan rahasia itu pada kakaknya. “Sedang di toilet,” jawab Enzo sebelum kembali duduk di kursinya semula.

Sepuluh menit kemudian Izah kembali ke meja makan dengan pakaian baru namun mata masih bengkak dan hidung merah. Walau Marionnette menyadari perubahan Izah, namun dia tidak berkomentar. Makan siang itu menjadi riang dengan celoteh Marionnette mengenai kehidupan Brie ketika kecil, Enzo dan Izah mencoba tersenyum di depan Marionnette walaupun hati mereka menangis. Marionnette adalah orang yang mereka sayangi, mereka cintai. Enzo dan Izah memilih untuk mengesampingkan perasaan mereka demi kebahagiaan Marionnette.

~*~*~*~

Pukul delapan malam, Enzo meneliti kembali tiket bioskop yang dimilikinya, kakaknya membelikan tiket itu untuknya dan mereka berjanji untuk bertemu di bioskop. Enzo yang baru pulang dari kantor dan Marionnette beserta Izah dari rumah mereka.

Namun Enzo hanya mendapati Izah sedang duduk seorang diri, asyik dengan popcorn di tangan dimana film telah ditayangkan hampir setengah jalan.

“Mana ibumu?” tanya Enzo yang baru saja menjatuhkan pantatnya di atas sofa empuk.

Izah menoleh pada Enzo, merasa sedikit tak nyaman berada sedekat itu bersama laki-laki itu. Dia menjawab dengan gugup, “Sedang ke toilet.”

Enzo mengangguk tanda mengerti, namun lima belas menit sudah mereka menunggu Marionnette belum juga muncul. Enzo merasa khawatir, diapun mengeluarkan handphone-nya tepat ketika sebuah telephone masuk untuknya, dari Marionnette.

“Hai, adikku sayang... Enzo Hadi Montana. Pria paling baik di dunia, pria paling gentleman di dunia. Adik terhebat, adik paling sempurna yang bisa diharapkan oleh kakak manapun di dunia.” Sesaat terdengar jeda, namun ketika Enzo hendak menyela, Marionnette memarahinya.

“Eitss... jangan coba-coba menyelaku, Enzo. Dengarkan kata-kataku, dan turuti perintahku.”

Enzo terbengong-bengong dengan kata-kata kakaknya, tak pernah selama ini Marionnette bertingkah seperti ini, kecuali dulu, jauh sebelum kakaknya menikah dan memiliki Brie, saat mereka masih sama-sama lajang, saat dunia begitu indah tanpa beban masalah di pundak.

“Adikku... sampai kapankah kau akan membohongi semua orang? Well... aku tahu ini semua adalah kesalahanku. Bila aku tidak se... ya aku akui, segila itu! Puas?!” Enzo mengerutkan dahinya, terdengar samar tawa kakaknya, “Aku tahu kau akan kebingungan. Ahhh... sudahkah aku mengatakan betapa aku berterimakasih padamu?” Marionnette tersenyum di seberang sana.

“Kau telah memberikanku kesempatan kedua dari makhluk cantik dan mulia seperti dirinya. Kau mengorbankan dirimu agar kakakmu yang delusional ini bisa tersenyum. Tapi aku telah sembuh, Enzo. Aku telah menyadari semuanya. Ya... berbicara dengan Brie, ah tidak... aku bahkan tidak tahu nama aslinya. Dia begitu pintar, begitu.... ah, susah menjelaskannya. Dia mengajarkanku apa itu hidup. Walaupun aku tak tahu apa yang telah dia alami hingga bisa berpikiran dewasa seperti itu. Namun, dia tetaplah seorang gadis remaja. Gadis remaja yang sedang jatuh cinta. Padamu... adikku sayang.”

Enzo menahan nafasnya, jadi kakaknya telah menyadari semua kebohongannya. Enzo semakin khawatir namun pertanyaannya tak pernah tersampaikan karena Marionnette mengancam akan menutup telephone mereka bila dia berani berbicara sedikit saja.

“Jangan khawatirkan aku, aku sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Kalian... gunakanlah waktu berharga itu. Kalian memerlukannya.” Entah mengapa Marionnette merasa senyumnya tak akan pernah pudar malam ini, dia senang bisa meluruskan semuanya. “Dan... jangan antarkan anakku larut malam atau kau akan berhadapan dengan ibunya.”

Enzo menghela nafas panjang, hatinya berkecamuk, sama sekali tidak tahu bagaimana harus bereaksi dengan berita itu. Lega, penasaran, sedih, bahagia... semua perasaan sukacita, bersalah, cinta.... Semua hadir menyertai hatinya malam ini.

Saat Enzo menatap dua bola mata cerah Izah, dia tahu, mungkin mereka memang ditakdirkan bertemu untuk bersama. Di tengah-tengah pertunjukan film, Enzo menyebut nama Izah.

“Alizah....”

Gadis itu menoleh, merasa heran Enzo menyebut nama lengkapnya.

“Hm.... ya? Mama mana?” tanya Izah.

“Marionnette sudah kembali pulang. Ada satu hal yang ingin kukatakan padamu. Aku telah menyimpannya dengan rapat sedari dulu, tapi aku ingin mengatakannya sekarang juga.”

“A...pa?”tanya Izah bingung.

“Ini....” Tangan Enzo menarik belakang kepala Izah, membawa kepala mereka mendekat, bibir saling merekat dan di tengah-tengah pertunjukkan, Enzo memagut mesra bibir gadis pujaan hatinya, dalam remang cahaya lampu, dalam sepinya ruangan bioskop yang telah disewa malam itu khusus hanya untuk mereka berdua.

“Aku mencintamu, Alizah.”

“Aku tahu. Aku juga mencintaimu, Om....”

“Mengapa memanggilku dengan panggilan itu??”

“Karena kau dua puluh tahun lebih tua dariku.”

“....Aku tak tahu bila aku sudah setua itu.”

“Om....”

“Diam....”

“Atau apa?”

Bibir Enzo kembali menciumi bibir Izah, memagut mesra hingga pertunjukan itu berakhir, bahkan jauh setelahnya. Meski hubungan cinta mereka pasti akan mendapat cobaan-cobaan lain, Enzo berjanji pada dirinya, dia akan membuat orang-orang yang dicintainya bahagia dan bangga akan dirinya. Karena cintanya adalah keluarganya.


~Fin~ 



8 comments:

  1. nah..
    bnar kn jdul Q yg Pedofil Love kmaren..
    bda by ampe 20 taund gtu..
    *maksa.

    :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha takut sist pake judul yg isi ped0 gt ahahhaa...

      Delete
  2. Enzo sekolahnya 1 angkatan ama aku kali yaaa... Masih inget dulu rok sekolah kudu 5cm di bawah lutut. Biar rada pendekan di lipat aja pinggangnya. Kalo ada razia tinggal di turunin hahahaha

    ReplyDelete
  3. Suka bgtttt mbakkkkk...
    Keren...
    Lnjut mbak, spa tw klo d bwt sekuel jdi bgus.. Wkwkwkwk

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.