"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, January 14, 2014

Belum Ada Judul - Part 1


(kalau ada yang punya ide cerita ini baiknya dikasi judul apa, silahkan tulis di kolom komentar ya. Makasi ;) 

Wajah gadis itu tertekuk dengan sangat ketika ibunya berkacak pinggang dengan gemas. Tubuh gendut si ibu menghalangi pemandangan keluar dari dalam ruang tamu sempit rumah mereka. Wajahnya menyeramkan, telunjuknya menuding ke arah sang anak, segenap caci-maki dan sumpah serapah dimuntahkan oleh si ibu di hadapan anaknya.

“Kamu ya, disuruh begini aja gak mau nurut. Disuruh begini ngelawan, disuruh begitu ngelawan. Lagian apa sih susahnya? Tinggal dilakuin lagi, kan? Toh sebelumnya kamu sudah biasa. Atau kamu mau adik-adikmu yang ngelanjutin pekerjaan kamu di sana?” wajahnya merah menahan amarah, ibu itu kemudian meminum segelas air dingin yang diletakkan di atas meja, mencoba meredakan amarahnya lalu duduk di samping anak gadisnya yang baru berusia empat belas tahun.


“Aku gak mau lagi, Mak. Sakit banget.” Gadis kecil itu mulai terisak, mengingat kembali siksaan-siksaan kelam yang harus dialami tubuh mungilnya.

“Ya sudah kalau kamu enggak mau!! Mending kamu pergi aja dari sini. Biar Emakmu ini sama adikmu yang menggantikan kamu di sana!! Biar saja Emakmu yang ngerasain semuanya, biar kamu puas!!!”

Ibu itu mendorong tubuh anaknya agar segera keluar dari rumah mereka, anak sulungnya yang selama setahun belakangan telah menjadi sumber penghasilan mereka dengan menjajakan tubuhnya kepada laki-laki hidung belang yang mengunjungi rumah bordil di dekat rumah mereka, rumah biasa yang disamarkan sebagai rumah bordil oleh Mpok Asih, mucikarinya.

Gadis itu menangis, berlutut di lantai dan memegangi kedua kaki ibunya, memohon agar si ibu tidak mengusirnya dari sana.

“Jangan, Mak... kalau aku gak boleh tinggal di sini, terus aku musti tinggal dimana?? Aku gak mau pergi, Mak. Aku janji, gak akan membantah perintah Mak lagi. Aku akan pergi ke sana sekarang juga, Mak.”  

“Huh! Ya sudah, awas kalau kamu seperti ini lagi. Aku usir kamu.” Si ibu kemudian mengangkat telephone rumahnya, menghubungi Mpok Asih si mucikari.

“Iya, Mpok. Kenapa sih gak suruh si Izah tinggal di sana aja? Daripada dia balik ke sini lagi, kan di sana dia gak mungkin bisa melarikan diri.” Ibunya melirik ke arah Izah dengan tatapan sinis, dia sangat membenci anak tirinya itu hingga ingin mengenyahkannya ke panti tuna susila.

Telephone ditutup, si ibu memerintahkan Izah untuk mengemas pakaiannya, karena dia akan tinggal di dalam rumah bordir itu mulai hari ini. Tanpa bisa membantah, Izah akhirnya menuruti keinginan ibu tirinya. Dia berpamitan dengan adik-adik tirinya yang sudah sangat dia sayangi. Izah berharap ibunya tidak akan memperlakukan adiknya seperti bagaimana dia diperlakukan. Setidaknya, ibu tirinya tidak akan menjerumuskan anak kandungnya sendiri, kan?

Satu minggu lamanya Izah berada di rumah bordir itu, dia menempati sebuah kamar yang dibaginya bersama dua orang wanita penjaja cinta lain. Mereka adalah Mbak Atik dan Mbak Tutik yang sudah menempati rumah itu selama tiga tahun lamanya.

Mereka tidak punya pilihan lain, berulang kali mencoba membangun kehidupan baru tapi selalu tak berhasil. Saat dia hendak memulai suatu hubungan dengan seseorang, menceritakan masa lalunya dengan berterus terang, laki-laki itu perlahan-lahan mundur dan menghilang. Padahal tidak sedikit dari mereka sebelumnya juga adalah pelanggan rumah bordil tempat Atik dan Tutik bekerja.

“Laki-laki itu memang munafik, maunya enak sendiri. Sok pengen yang suci-suci. Dewe hancur gak bercemin,” sungut Mbak Atik yang baru saja dikhianati pacarnya yang lebih memilih menikah dengan gadis lulusan SMU di desa sebelah.

Izah hanya tersenyum samar, dia mulai menerima nasibnya yang mungkin akan berakhir juga di rumah bordil itu untuk waktu yang cukup lama, entah bila dia memiliki harapan lain yang lebih baik. Mungkin seorang pelanggan cabul akan melamarnya, atau menjadikan dia istri ke-sekian atau mungkin seorang simpanan. Setidaknya dia akan pergi dari rumah ini dan bebas dari tatapan tak senonoh setiap laki-laki yang menidurinya.

Laki-laki itu kasar, tak pernah sedikitpun Izah dapat menikmati hubungan intim yang mereka berikan padanya. Tubuhnya yang kecil tidak cukup matang untuk menerima perlakuan laki-laki tak bermoral yang lebih memilih untuk meniduri anak seusianya dibandingkan wanita seumuran dengan mereka.

Tak sedikit om-om nakal, pemuda-pemuda yang ingin melepaskan keperjakaannya memilih Izah sebagai pelayan mereka. Terkadang ada yang dengan kejam memperlakukan tubuhnya hingga Izah menangis dan pelanggannya akan semakin mengasarinya. Tapi tak sedikit yang bersikap lembut padanya meski tak satupun dari mereka yang cukup mengasihaninya untuk tidak melakukan hal itu padanya.

Sebelumnya, tak sedikit pelanggan itu meminta Izah kepada Mpok Asih agar melepaskan gadis itu untuk dijadikan simpanan, ataupun mainan. Namun Mpok Asih yang melihat Izah sebagai aset masa depannya tidak bersedia melepaskan gadis itu. Izah bersyukur, setidaknya dia belum ingin meninggalkan desa ini, pergi dari keluarganya.

“Tik, katanya Pak Hasan kemarin dateng, ya? Ada apa?” tanya Atik kepada Tutik yang sedang bersolek, mempersiapkan riasan wajahnya untuk menyambut para pelanggan yang biasanya datang ketika malam menjelang.

Tanpa mengalihkan pandangannya dari cermin, Tutik menjawab pertanyaan Atik, “Iya, denger-denger dari Bunda, nanti malam kedatangan tamu agung. Seorang pengusaha, sudah beristri, biasalah... laki-laki mesum, apalagi. Paling juga nyari daun muda,” ketus Tutik sinis. Dia menghentikan riasannya dan berpaling ke arah Izah, menatap gadis kecil itu dengan pandangan iba. “Kemungkinan besar dia milih Izah nanti malam. Kamu hati-hati, Zah. Biasanya orang dari kota itu kejam-kejam. Kalau kamu gak kuat, teriak aja. Atau pura-pura mati, biar mereka gak semakin kejam sama kamu. Ngerti?”

Bulu kuduk Izah mendadak merinding, dia kembali teringat dengan peristiwa satu bulan yang lalu dimana seorang tokoh pejabat di kota memaksa untuk menyetubuhinya dengan kasar. Nafas busuknya yang menjijikkan mencoba menciumi bibir Izah dan gadis kecil itu mau tak mau harus menerima penderitaan selama dua jam lamanya. Kata kota memang menjadi momok bagi penjaja cinta di rumah bordil ini. Orang kota membawa pemikiran baru mengenai cara bercinta. Bukan sekedar penyatuan tubuh, bukan sekedar pemuasan nafsu birahi, bukan pula sekedar memasuki lubang yang sama dan meninggalkan sperma bercecer.

Mereka terkadang begitu gila dan terobsesi dengan adegan-adegan dalam film biru yang mereka bawa dari kota. Memperlakukan penjaja cinta itu bagai pelacur murahan, kendatipun mereka memang pelacur. Atik dan Tutik lebih memilih menghibur laki-laki yang berasal dari kota kecil mereka dan bukan dari kota besar, tempat dimana para predator seks berkumpul.

Perbincangan mereka terpotong ketika Mpok Asih muncul dari tirai pintu yang tersibak, berkacak pinggang dan menggelengkan kepala melihat anak-anak asuhnya masih sibuk berias. Suara cemprengnya bergema memenuhi ruangan, memekakkan telinga siapa saja yang mendengarnya.

“Kok masih belum siap? Pak Hasan sebentar lagi tiba. Buruan! Dia ikan kakap kita, syukur-syukur ada yang mereka sukai dari kalian. Kalau tidak, Pak Hasan berencana mencari di rumah sebelah.” Mpok Asih terlihat tak senang dengan kemungkinan itu.

Sudah sejak tiga tahun belakangan rumah bordil sebelah menjadi saingan utamanya. Wanita-wanita di sana lebih cantik, lebih bahenol, lebih berani menggoda dan tentunya lebih bersedia diperlakukan seperti apapun juga oleh orang yang membayarnya.

Mendengar ceramah panjang lebar Mpok Asih, Atik, Tutik dan Izah saling beriringan keluar dari kamar mereka, menolak menjadi tempat pelampiasan kekesalan Mpok Asih yang memang gemar mengumpat, seolah umpatannya harus dikeluarkan minimal sepuluh kali dalam sehari.

Atik mengikik geli setelah mereka berada di luar kamar, meninggalkan Mpok Asih masih dengan ceramahnya kepada anak asuhnya yang lain.

“Zah, kamu di dalam aja, kasihan kalau kamu di luar. Baru semalem kan kamu dapet pelanggan?” tanya Tutik, dia sudah menganggap Izah sebagai adiknya sendiri.

Di pedesaan seperti tempat mereka tinggal, tak sedikit para orangtua menjajakan anak gadis mereka ke rumah bordil seperti ini agar mendapatkan uang tambahan atau bahkan menjual anak gadis mereka untuk dijadikan penjaja cinta seperti Atik dan Tutik.

Tutik dulunya juga berasal dari lingkungan yang sama seperti Izah, dia telah mengenal rumah bordil sejak usianya tiga belas tahun. Dua belas tahun lamanya dia malang melintang di dunia ini dan dia sudah muak. Tingkat kesabarannya sudah habis namun dia tidak tahu harus berbuat apa. Masa lalunya akan selalu mengikuti, berkata jujur tak akan mampu merubah pandangan orang lain terhadapnya. Orang-orang yang merasa diri mereka suci akan menghujat dan menghina masa lalunya, keinginan untuk bertobat pun lenyap dan Tutik terpaksa kembali ke satu-satunya tempat yang dia ketahui akan menerima masa lalunya. Rumah bordil, sebagai penjaja cinta, sebagai pelacur bayaran.

Dua buah mobil mewah berhenti di depan rumah bordil sebelah, mata Mpok Asih langsing membelalak marah. Dia tahu, di dalam salah satu mobil itu terdapat Pak Hasan yang telah berjanji untuk menemuinya terlebih dahulu, namun rupanya laki-laki botak itu lebih memilih rumah bordil saingan Mpok Asih.

“Dasar tua bangka sialan!! Rupanya dia mengkhianatiku!! Akan kupotong kont*lnya kalau dia berani datang ke kamarku lagi!!” bentak Mpok Asih marah. Anak-anak asuhannya merangsek ke pinggir, memberi jalan bagi Mpok Asih untuk maju ke depan, melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Pak Hasan menarik sudut bibirnya dan berlalu dengan wajah tak bersalah. Mpok Asih geram, bibirnya berkedut marah.

Dari mobil mewah kedua, turun sesosok laki-laki yang langsung memendarkan pandangannya ke arah pemukiman itu. Tidak ada yang berbeda dari rumah bordil yang memang berkamuflase sebagai rumah penduduk. Sekalipun aparat keamanan tahu mengenai praktek prostitusi ini, mereka seolah tak perduli. Konon rumah bordil-rumah bordil ini dibekingi oleh seorang pejabat atase di kepolisian di kota sehingga tidak ada satu aparat pun yang berani berbuat macam-macam atau menyentuh kegiatan prostitusi di desa ini.

Wajahnya tak terlihat, dia mengenakan pakaian resmi dengan sebuah jas biru gelap mahal, sebuah kacamata hitam yang tidak cocok dikenakan pada saat senja, dimana lingkungan sekitar rumah bordil itu begitu remang-remang. Namun laki-laki itu tidak kesulitan melihat deretan wanita-wanita penghibur yang telah berjejer menunggu kedatangannya.

Bagai tamu kehormatan, pria itu melangkah dengan wajah angkuh, seolah kedua bola mata di balik kacamata itu mencibir semua wanita yang berlomba-lomba untuk mendapatkan perhatiannya. Dia diberikan sebuah kursi utama dalam ruangan rumah bordil saingan Mpok Asih. Semua wanita milik rumah bordil itu dikeluarkan, satu per satu memperlihatkan kelebihan mereka, kecantikan mereka, seksinya tubuh mereka, kepintaran mereka menggoda dan keahlian mereka di atas ranjang.

Namun sosok laki-laki kehormatan itu bangkit dari kursinya dan melangkah keluar, meninggalkan rumah bordil itu untuk menuju ke arah rumah bordil yang lain.

Wajah peranakannya terlihat tampan tanpa cela, kulit putihnya dihiasi cambang halus yang semakin mengokohkan kejantanannya di mata para wanita yang terpana melihat bagaimana sempurnanya tubuh pria itu. Dia langsung menjadi idaman para wanita penghibur di rumah bordil Mpok Asih, sang mucikari yang langsung tersenyum lebar setelah melihat kedatangan tamu agungnya.

“Mari-mari, silahkan masuk,” ajak Mpok Asih bersemangat. Dia telah menyiapkan sofa khusus untuk menyambut tamu agung ini.

Laki-laki itu duduk di sana, lampu penerangan yang cukup mampu memperlihatkan sosok-sosok para wanita yang berdiri di hadapannya dengan harap-harap cemas, menunggu dengan antusias pilihan yang akan dijatuhkan oleh laki-laki rupawan di hadapan mereka.

Saat laki-laki itu memperdengarkan suaranya yang dalam, nafas para wanita di sana seolah tercekat, seolah nyawa mereka hampir dicabut oleh kharisma yang dipancarkan oleh laki-laki itu. Mereka begitu terpesona, dipilih oleh laki-laki ini adalah tiket menuju kebahagiaan surgawi mereka.

“Hm... Pilihlah yang kau suka, Hasan. Kita perlu lima orang wanita, kan?”

Hasan mengangguk, memilih wanita yang dianggapnya paling menarik. Tutik dan Atik termasuk di dalam lima orang itu.

Laki-laki itu bangkit dari tempat duduknya, memperbaiki letak kacamata hitamnya ketika sudut matanya menangkap sebuah gerakan kecil dari sudut ruangan, dimana seorang gadis meringkuk, mencoba bersembunyi dari pandangan rombongan Pak Hasan agar tidak terpilih.

Laki-laki itu berhenti, membuka kacamata hitamnya dan memperlihatkan bola mata coklat terangnya pada seluruh penghuni rumah bordil. Matanya mengunci mata Izah, menyelami isi hati gadis kecil itu sebelum mengenakan kacamata hitamnya lagi.

“Apa anak kecil itu juga bisa dibawa?” tanya laki-laki itu bukan pada siapa-siapa.

Hasan maju mendekat, “Ah, iya, Tuan. Dia bisa dibawa.” Hasan menoleh ke arah Mpok Asih, “Dia bisa dibawa, kan, Sih?” tanyanya dengan nada mengancam. Hasan tahu, bila Tuannya telah meminta, maka berarti laki-laki itu menginginkannya. Dia merasa kasihan pada tubuh kecil gadis itu.

Hasan mengenal almarhum ayah Izah, tapi hal itu tidak sanggup untuk membuatnya melindungi bocah itu. Dengan terpaksa, Hasan harus mematuhi perintah Tuannya atau dia sendiri yang akan menanggung celaka dari membantah perintah laki-laki di hadapannya.

Laki-laki itu melanjutkan langkahnya, membiarkan Hasan tergopoh-gopoh di belakangnya, mengikuti. Sesampainya di pintu penumpang mobil yang telah dibukakan untuknya, laki-laki itu memberi perintah pada Hasan.

“Dia milikku!”

Hasan mengangguk sambil membungkuk, tahu benar maksud dari ucapan Tuannya dan dia tak berkeinginan untuk membantah. Maka malam itu Izah disiapkan untuk menemani laki-laki berusia tiga puluhan itu di dalam kamar villa pribadinya yang terletak di lereng bukit, sementara lima wanita lain akan melayani teman-temannya, para rekan bisnis yang dia undang untuk retreat sehari di puncak gunung, tempat dimana dia memiliki berhektar-hektar ladang tembakau yang telah dia kelola selama sepuluh tahun memegang tampuk pimpinan perusahaannya.

~*~*~*~

Laki-laki itu membuka dengan perlahan pintu kamarnya, mengantisipasi apa yang akan dia temukan di dalam kamar setelah menghibur rekan-rekan bisnisnya bersama para pelacur yang dia bayar untuk memuaskan mereka.

Laki-laki itu tidak ikut serta dalam pesta seks yang dia selenggarakan untuk mereka, dia hanya memandang dengan sinis dari kejauhan, sudut bibirnya terangkat, licik. Dia lebih memilih untuk berada dalam kamarnya, menikmati sajian mentah dan muda, miliknya.

Suara pintu berderak terbuka, Izah seketika menebah jantungnya, ketakutan merambat tubuhnya yang gemetar. Dia mendapati laki-laki itu telah berdiri di depannya, kokoh, tinggi dan mengintimidasi.

Izah memperhatikan dengan seksama wajah laki-laki itu, kini kacamata telah dia sampirkan di atas meja, memperlihatkan sepasang mata indah, mata yang begitu menenangkan namun sekaligus mampu menghanyutkan. Begitu tajam, namun bisa berubah menjadi lembut. Begitu menakutkan, namun terkadang terlihat kemuliaan di baliknya.

Laki-laki itu mendekati Izah yang duduk di pinggir ranjang. Dengan celana jeans terbaik yang dia miliki, kaos dalaman ketat yang dibelikan Mpok Asih untuknya, yang memperlihatkan dadanya yang kecil namun cukup untuk membangkitkan nafsu laki-laki yang melihatnya, Izah mencoba menegarkan diri. Meyakinkan dirinya bahwa ini hanyalah satu malam lain yang harus dia jalani bila tidak ingin menyerah kalah oleh nasib yang sudah begitu buruk untuknya sejak kematian sang ayah.

“Kau sudah makan?” tanya laki-laki itu. Pertanyaan yang tidak diduga oleh Izah sama sekali.

Tak ada jawaban, Izah masih termangu, bingung dengan jawaban yang harus dia berikan. Sedari tadi, kepalanya telah menyiapkan jawaban-jawaban dari pertanyaan yang mungkin akan dilontarkan oleh laki-laki berkacamata hitam yang menyewanya. Tapi pertanyaan yang barusan tercetus seolah membuyarkan segala kepintaran Izah dalam menjawab pertanyaannya.

“Siapa namamu? Nama lengkapmu, umur?”

Izah mendongak, menatap ke arah laki-laki itu dengan penuh tanda tanya. “Aku kira kau akan meniduriku,” tanya gadis itu polos.

Laki-laki itu menahan nafasnya, rahangnya mengeras dan Izah merasa telah membuat laki-laki itu marah. Tapi dia tidak memarahi Izah.

“Jawab pertanyaanku. Apakah susah?” tanya laki-laki itu lagi, kini dengan wajah mendekat hingga jarak yang begitu tipis., tubuhnya yang tinggi membungkuk agar dapat mencapai Izah yang sedang duduk.

“A...aku Alizah, empat belas tahun,” jawab Izah terbata-bata.

“Sejak kapan kau menjadi pelacur?” Laki-laki itu menanyakan pertanyaan yang mau tak mau membuat mata Izah berkaca-kaca.

Tak pernah sekalipun dalam hidupnya Izah ingin berakhir dengan hidup seperti ini. Dia ingin seperti kawan-kawannya yang lain, yang bersekolah hingga lulus SMP, melanjutkan ke SMU atau bahkan hingga perguruan tinggi dan mendapatkan pekerjaan yang bisa membantu keuangan keluarganya. Izah tidak memiliki siapapun lagi selain ibu dan adik-adik tirinya.

Izah menggigiti bibirnya, menahan tangis yang hendak keluar mendesak. Meski usianya baru empat belas tahun, Izah telah hidup menjadi anak yang dipaksa untuk bersikap sepuluh tahun lebih tua dari usianya. Dia terbiasa diperintah oleh ibu tirinya dan Izah tak pernah bisa melawan. Dia cukup mengerti dengan intrik kehidupan walaupun Izah masih tetap ingin bermain bersama kawannya sesuai dengan usianya.

“Sejak satu tahun yang lalu.” Sebuah isakan lolos dari bibir Izah.

Mata laki-laki itu menyipit, wajah mereka masih begitu dekat, “Apakah kau sukarela menjadi pelacur?” tanya laki-laki itu lagi.

Izah tidak dapat menahan tangisannya, tanggulnya jebol bak air bah, tangisan pun keluar dengan deras dibarengi isakan yang meraung-raung.

Laki-laki itu kaget, dia tidak pernah mendapati seorang gadis akan menangis di depannya. Namun setelah dia mengerti, laki-laki itu menarik tubuh Izah ke dalam pelukannya, mengelus punggungnya dalam diam, memberikan kemeja mahalnya sebagai tempat pengaduan dan pelepasan kesedihan Izah.

Lima belas menit kemudian, ketika akhirnya Izah mengangkat wajahnya, dimana matanya bertemu dengan sepasang mata coklat cerah itu, Izah memejamkan mata, menunggu sebuah kecupan manis mendarat di bibirnya.

Malam itu adalah malam bersejarah bagi mereka, malam pertama dimana mereka menemukan sebuah ketergantungan, dimana mereka menemukan setitik harapan dari hal yang selama ini mereka sama-sama cari. Pengertian....

I know you like I know myself.
But, sometimes I prefer never know you...
So I can guess what I can do to make you happier....

“Apa? Tapi... tapi... Izah adalah asetku, San. Kamu gak bisa donk ngambil dia seenaknya gitu.” Mpok Asih dengan rokok kretek di tangan, asap mengepul di udara, sibuk menolak keinginan Hasan yang datang keesokan pagi setelah mengembalikan kelima anak asuh Mpok Asih.

“Katakan berapa harga dia. Tuanku bersedia membayar sepuluh kali lipat!!”

Mata Mpok Asih membelalak, membayangkan bergepok-gepok uang yang akan dia terima, membayangkan segala kemewahan yang akan dinikmatinya. Lalu otak bisnisnya bekerja, dia membayangkan hal yang seharusnya tak pernah dia bayangkan.

“Dia sangat istimewa, belum banyak pria menidurinya, jadi... aku rasa harga Izah sangat mahal.” Mpok Asih memiringkan wajahnya, bersikap angkuh seolah enggan untuk menjual salah satu koleksi penjaja cinta miliknya.

Hasan berdiri dengan kesal, dia menarik rambut Mpok Asih yang tergerai panjang, begitu ingin mencekik mati wanita di depannya.

“Jangan bertele-tele, atau tak akan kuberikan kau sepeser pun!!”

Mpok Asih bergidik ngeri, air mukanya pucat dan dia meminta maaf. Dengan bibir gemetar dia menyebutkan jumlah yang harus dibayar pada Hasan walaupun laki-laki itu menaikkan sebelah alisnya.

Hasan mengambil sepuluh gepok ikatan uang seratus ribuan, meletakkannya di hadapan Mpok Asih yang menganga lebar karena baru pertama kali melihat uang dengan jumlah sebanyak itu.

“Bila kau coba mencarinya lagi, atau melakukan hal-hal licik, maka kau akan menerima akibat yang sangat buruk, Sih. Jangan main-main dengan Tuanku. Dia bisa menghancurkan siapapun yang dia mau, bahkan pejabat tinggi, jenderal, dia sanggup. Apalagi hanya mucikari murahan sepertimu. Camkan itu. Jangan pernah bermain-main dengannya!! Mengerti??!”

Mpok Asih mengangguk, bersumpah tak akan berurusan dengan Hasan lagi walaupun laki-laki itu selama ini menidurinya.

“Mengerti. Aku akan membereskan semuanya, keluarganya tidak akan mencarinya lagi. Akan kukatakan dia mati karena penyakit kelamin. Mereka tidak akan meminta mayatnya, keluarganya tidak menyukainya sama sekali.” Mpok Asih mengangguk pada idenya sendiri.

Hasan mengerutkan dahinya namun tak ambil pusing. Diapun meninggalkan tempat itu, bersiap-siap menuju villa Tuannya yang akan kembali ke Ibukota bersama seorang gadis kecil yang telah dia beli seharga seratus juta rupiah.

Mpok Asih memberikan harga yang sangat mahal untuk seorang gadis desa yang sudah tidak gadis lagi. Hasan lebih mengerutkan dahinya karena tak menyangka Tuannya memiliki selera yang sedikit aneh, walaupun dia sendiri tidak memungkiri bila sebelumnya dia tahu Izah berada di rumah bordil itu, dia juga akan memilihnya.

“Anda memang punya selera yang bagus, Tuan.” Hasan terkekeh seorang diri, menghembuskan asap rokoknya dan tertawa senang. Dia memuji dirinya karena berhasil menghibur majikannya, mungkin dia akan mendapat bonus yang cukup besar karena Tuannya memang terkenal royal pada orang-orang yang setia padanya dan Hasan adalah salah satu bawahannya yang paling setia, dan juga paling licik.

~*~*~*~ 

5 comments:

  1. ntu s tuan ny brapa umr ny??
    udh tua kh??
    klo "pedofil love" gmna??
    gk pande buat jdul. XD

    ReplyDelete
  2. wah aku juga bingung judulnya :))) ahaha.. mbaa update not so tough lady dong :(

    ReplyDelete
  3. "The Savior Found Me"

    wkwkwk cocok g' tuh? eh beda 16 thun ya?? tp g' pa2 lah.. :D

    Thanks mba shin :* #kiss
    *udahlamag'ngomen2* peace

    ReplyDelete
  4. hahhaha,, aku udah baca mbake,,, judulnya yahhh,,,,hmmmmm
    "Aku bukan kupu2 malam a.k.a Im not Nightfly" hahahha
    bener2 otak ku cetek ...
    ditunggu kelanjutannya mbake,,,

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.