"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Sunday, January 5, 2014

Not So Tough Lady - Part 13


Bren tengah duduk di teras kebun rumah keluarga Stuart ketika Mr. Stuart dengan kursi rodanya menghampiri pria muda itu dan duduk di sampingnya. Mereka berdua diam tak ada yang mencoba memecahkan keheningan di sana. Mr. Stuart yang sibuk dengan asap dari cerutunya dan Bren yang sibuk mengira-ngira apa yang akan dibicarakan oleh laki-laki tua itu.

“Dia terlalu banyak mengalami kekecawaan dalam hidupnya. Hampir semua orang di dunia ini pernah melukai dia, aku hanya berharap kau salah satu pengecualian. Aku sangat menyayangi anak itu walaupun tak pernah kutunjukkan. Akan lebih baik bila dia membenciku dan hidup, daripada larut dalam penyesalan karena telah membuatku berada di atas kursi roda ini.”


Bren mendongakkan wajahnya demi mendengar penuturan Mr. Stuart, dia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh laki-laki itu. Wajahnya yang biasanya dingin dan kaku di depan Magdalena, kini tak ada lagi. Di samping Bren yang duduk hanyalah seorang kakek tua yang lelah menghadapi hidup. Keletihan dan kesedihan mendalam tersirat nyata dari bola mata pucatnya, rambutnya yang kelabu nampak tipis di kepala. Laki-laki ini menyembunyikan rahasia yang sesungguhnya tak sanggup dia tanggung seorang diri.

“Kau pasti bingung kenapa aku menceritakan hal ini padamu.” Mr. Stuart menoleh pada Bren dengan senyum yang baru pertama kali ini dilihat Bren. Senyum itu adalah senyum kegetiran hidup yang terkumpul selama berpuluh-puluh tahun dalam dadanya, Mr. Stuart ingin membaginya dengan seseorang yang dirasanya bisa dia percayai.

“...Aku telah mengamatimu sejak Thomasson mengabarkanku bila Lena tertarik padamu,” bibirnya mencibir, “Anakku itu tak tahu apa-apa tentang pria. Banyak pria licik di sampingnya, sayangnya hanya pilihan itu yang dia punya. Dan Lena telah salah memilih, bahkan dua kali.” Mr. Stuart menghembuskan asap cerutunya ke udara.

“Kau tahu mengapa?” tanyanya sambil mendongak pada Bren yang mendengarkan dengan cermat.

Pria muda itu menggeleng, “No, Sir. Aku tidak tahu,” jawab Bren.

“Lena... Dia seperti ibunya... Jatuh cinta pada pria yang salah... pria yang hanya bisa menyakiti dia, bahkan membunuhnya...” Lama Mr. Stuart diam sebelum menghela nafas dan melanjutkan bicaranya.

Well... Wanita... Mereka dibuai oleh pikiran-pikiran romantis mengenai percintaan, tanpa tahu bila di luar sana hampir semua pria adalah iblis. Mereka mencari sesuatu dalam wanita itu, sesuatu yang akan mereka rebut dan bila mendapatkannya? Mereka lalu kabur... hilang tanpa berita.”

Mr. Stuart mencibir lagi, “Tapi jangan anggap tinggi dirimu young man, kau bahkan belum lolos syarat minimalku untuk menjadi calon suami Lena, walaupun aku mendesak dia untuk segera memberiku cucu, sejujurnya aku hanya ingin dia memiliki keluarga yang bahagia, bukan seperti ini. Aku gagal memberikan itu padanya.” Mr. Stuart menghisap cerutunya dalam-dalam sebelum dihembuskan lagi, “Saat ibu Lena meninggal, aku telah berjanji padanya untuk memastikan Lena mendapatkan pendamping yang baik, aku tak akan mati sebelum itu. Aku harus melihatnya bahagia sebelum pergi dari muka bumi ini,” lirikannya tajam ke arah Bren,  “Mungkin kau bisa membantuku, young man??!!”

Bren tak mengerti, “Aku tidak mengerti, Tuan,” sahutnya.

“Kau... akan menjadi suami ‘sungguhan’ dari Lena. Bukan hanya pura-pura.”

Pria tua itu tertawa, tawa yang keras hingga pelayan yang sedari tadi menunggunya terpaksa harus menghampiri untuk memastikan bila majikan mereka baik-baik saja.

Wajah Bren memucat, dia tidak menyangka Mr. Stuart telah mengetahui tentang perjanjian Magdalena dengan dirinya, tapi sekali lagi, itu tak mustahil, dia adalah Tuan Besar, pemilik Stuart ltd. dan dia berkuasa.

“Jangan takut, aku tak perduli apa motif awal kau menyetujui menjadi ehm.. bagaimana aku menyebutnya? Tunangan palsu Lena?” Dia tersenyum, lalu menghela nafas, “Ah... Anak itu, sejak bercerai dari Robert, dia seolah-olah menjauh dari semua pria yang mencoba mendekatinya. Dia membuatku gemas dan memaksaku menggunakan akal bulus itu untuk mendesaknya menikah, memberiku cucu... yang justru membuatku semakin dibenci olehnya. Sayang sekali... Tapi tak apa, aku sudah terbiasa dengan kebencian Lena, aku masih bisa bertahan,” tatapnya getir pada wajah Bren.

Mr. Stuart berlalu dari sana meninggalkan Bren dengan sepatah informasi yang semakin membuatnya kebingungan. Namun satu hal telah Bren ketahui pasti, Mr. Stuart mengetahui penyamarannya dan dia penasaran bila orang lain juga mengetahuinya.

Shit! Aktingku apa seburuk itu?” rutuknya pada dirinya sendiri. Bren kemudian bangkit dari kursinya menuju kamar Magdalena untuk memberitahukannya mengenai kabar itu.

Sayangnya pintu kamar itu sekali lagi terkunci, Bren mencoba untuk mengetuknya, tak ada jawaban. Ketukan kedua, lalu ketiga, tetap tak ada jawaban. Dia lalu menyerah, namun lima detik kemudian, setelah Bren berbalik meninggalkan tempat itu, pintu terbuka dan terkuak, memperlihatkan Magdalena dengan mata bengkak karena tangisan yang masih membekas di pipinya.

“What do you want?” tanyanya serak. Magdalena hampir tak dapat mengeluarkan suaranya, tangisan membuat kerongkongannya kering dan dia membutuhkan minuman.

“Kau tak apa-apa?” tanya Bren menghampiri Magdalena.

Magdalena menggeleng dan membiarkan Bren masuk menyusul di belakangnya. Pintu itu kemudian tertutup untuk mereka berdua.

Alih-alih menjawab pertanyaan Bren, Magdalena memerintahkan pria itu menyusun bagasinya, mereka akan kembali ke Indonesia esok sore, melewatkan acara puncak pertemuan keluarga Stuart yang akan membahas mengenai siapa yang berhak memegang kursi pimpinan keluarga itu setelah Mr. Mervyn Stuart meninggal beberapa hari yang lalu.

Kursi kepemimpinan keluarga Stuart itu tak mungkin jatuh ke tangan Magdalena meskipun ayahnya adalah keturunan yang paling senior lalu diikuti Herbert, pamannya yang culas. Maka kemungkinan terbesar, kursi itu akan dikuasai oleh Marco yang memang telah mengincarnya dari dulu, bahkan sebelum mereka beranjak dewasa. Laki-laki itu memiliki obsesi untuk menguasai Keluarga Stuart di tangannya.

“Kau tak ingin menunggu sampai pertemuan besok selesai?” tanya Bren memastikan, karena setelah kepulangan mereka ke Indonesia, Bren akan mendapatkan liburannya selama satu minggu penuh. Dia tak ingin selama seminggu itu mendapat gangguan karena dia sangat memerlukan liburan untuk kepalanya.

No, tak ada gunanya. Kita pulang, kecuali kau ingin lebih lama di sini, aku bisa meninggalkanmu dan kau kembali sendiri. Dan malam ini kau tidur di kamar tamu. Aku ingin sendirian.”

Perintahnya jelas, dengan itu Bren terpaksa membawa bagasinya ke kamar tamu yang telah disiapkan untuknya oleh pelayan.

Bren tengah berbaring di atas ranjang, memikirkan dan merangkai informasi-informasi yang di dapatnya dari Mr. Stuart atau dari kabar burung yang beredar di antara keluarga itu yang sempat dia dengar dari obrolan singkat dengan anggota keluarga Stuart lain. Tapi dia masih tidak dapat menyimpulkan mengapa Mr. Stuart dan Magdalena bermusuhan dan mengapa mereka tidak bisa berdamai.

Di tengah khayalan dan pikirannya yang dalam, Bren mendengar ribut-ribut suara Magdalena berteriak marah. Terdengar juga suara pelayan yang mencoba menengahi serta suara seorang laki-laki yang sudah tak asing lagi bagi pendengarannya.

Dia kebingungan mencari asal suara itu ketika membuka pintu kamar tamu untuknya. Dua orang pelayan pria dan wanita setengah berlari menuju ke arah kamar Magdalena dengan panik, Bren lalu mengikuti mereka, mencoba mencari tahu sumber keributan itu.

Teriakan itu masih berlanjut, umpatan dan hardikan kemarahan Magdalena pada laki-laki yang kini merenggut lengannya dengan paksa, masuk ke kamar milik wanita itu. Bren yang tiba setelah pintu tertutup sempat melihat sekilas wajah laki-laki yang telah berubah merah menahan kemarahan yang tak kalah besarnya dengan kemarahan di wajah Magdalena. Dia memicingkan matanya mencoba mengingat siapa laki-laki itu. Seorang pelayan di sampingnya menebah dada, debar jantung mereka bertalu-talu karena kejadian seperti ini jarang terjadi di sana.

“Siapa laki-laki itu?” tanya Bren pada seorang pelayan di sampingnya.

“Dia Mr. Markus, mantan tunangan Nona Magdalena.”

Bren terpaksa memalingkan wajahnya dengan ekspresi terkejut, dia mencoba mencari tahu pada wajah pelayan itu bila dia salah mendengar.

“Markus? Mark? Sepupunya?”

Pelayan itu mengangguk, “Benar, Tuan. Itu Mr. Mark, biasa kami panggil Mr. Markus atau Mr. Marco.”

Lalu mereka semua meninggalkan Bren yang berdiri tak mampu menggerakkan kakinya. Dia akhirnya tahu mengapa Magdalena berubah menjadi begitu panik di pesta kemarin malam, begitu juga mengapa wanita itu menangis dan cepat-cepat ingin pergi dari Inggris. Laki-laki itu, Markus, dialah penyebabnya. Dan kecemburuan menguasai hati Bren, namun dia tak dapat berbuat apa-apa selain menghembuskan nafasnya lemah.

“She’s not for me. I’m nobody... Nobody at all...” bisiknya pelan pada dirinya sendiri sebelum angkat kaki melangkah kembali ke dalam kamarnya.  


No comments:

Post a Comment

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.