"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, January 21, 2014

Not So Tough Lady - Part 14


Di dalam kamar Magdalena, Marko merenggut tubuh wanita itu ke dalam pelukannya, menguncinya dalam dekapan ketat hingga Magdalena tak mampu berkutik.

“Kenapa kau memaksa, Lena? Aku tak perlu melakukan ini bila kau tak sibuk menghindariku selama ini,” bisik Marko di telinga Magdalena.

Wanita itu mendesis, desis kemarahan yang bergemeretak melalui gigi-giginya, “Kau laki-laki menjijikkan, Mark!! Aku muak denganmu!! Lepaskan aku atau...”


Tubuh Magdalena tersentak ketika dengan keras Marko menghempaskan dan mendesak tubuhnya ke tembok, menghimpit dengan berat tubuhnya, mengurung tubuh Magdalena dalam kungkungannya.

“Atau apa, Lena? Kau akan membunuhku?” desisnya culas.

Tangan Marko memiting kedua pergelangan tangan Magdalena, mencegah wanita itu melawan dengan sekuat tenaganya. Kedua kakinya juga mengangkang, mengapit kuat paha Magdalena agar dia tak bergerak. Tubuh Marko yang tinggi tegap tak mampu dilawannya, Magdalena hanya bisa mengumpat dan memaki karena intimidasi laki-laki yang pernah begitu dia cintai itu, dulu...

“Lepaskan aku!!!”

Alih-alih melepaskannya, Marko mencoba mencium bibir Magdalena yang berkelit kesana-kemari agar tak tersentuh oleh Marko. Dia membenci laki-laki ini, terlebih karena perbuatannya dulu.

Ciuman Marko memaksa, mendesak dengan kekuatannya ketika tangannya yang sedari tadi mencengkeram bahu Magdalena kini mengunci dagu wanita itu untuk memaksanya mendongak menerima ciuman darinya. Ciuman yang awalnya memaksa lalu berubah perlahan, mengingat kembali rasa yang begitu telah dirindukannya dari bibir lembut wanita itu, membangkitkan kembali kenangan manis mereka saat masih bersama-sama dulu sebelum semuanya terkuak dan hancur berderak.

Tubuh Magdalena lunglai, hatinya teriris sakit mengingat bagaimana mereka bisa berpisah dulu. Kenangan-kenangan menyakitkan sekaligus membahagiakan yang dia rasakan saat Marko masih begitu menyayanginya, masih begitu memperhatikannya, ketika Marko masih menjadi dunianya yang dia puja dengan segenap hatinya, hati seorang Magdalena Stuart muda yang baru saja mengenal cinta, cinta pertamanya.

“Lepaskan aku....” rintih Magdalena dalam isak tangisnya. Air matanya menggenang di pipi, meleleh bak air bah yang siap akan meledak sesaat lagi.

Tubuh Marko membeku, kemudian mengendur. Lidahnya mencicipi air mata asin di pipi Magdalena, meringis karena teringat dulu bagaimana dia telah menghancurkan hati dan harapan wanita muda di depannya ini.

“Berikan aku kesempatan itu lagi, Lena... Aku berjanji... Aku akan menebus semua kesalahanku dulu...” bisik Marko memohon, sinar matanya redup penuh penyesalan, kesedihan akan waktu yang tak mungkin bisa dia putar kembali untuk memperbaiki apa yang telah dia akibatkan pada hidup wanita ini, wanita yang masih sangat berarti untuk dirinya.

Magdalena menggeleng, dia berusaha mendorong tubuh Marko yang tak ingin mengendurkan sama sekali pelukannya. Magdalena putus asa, dia tak ingin berada sedekat ini dengan Marko, Magdalena takut bila tubuhnya akan menolak untuk jauh dari laki-laki ini lagi setelah berada begitu dekat dengannya. Wangi tubuh Marko masih mengingatkannya akan percintaan mereka dulu, akan manisnya cumbuan laki-laki itu ketika mereka pertama kali berciuman di kebun anggur milik keluarga, memetik dan berpiknik di bawah pohon, bermesraan seperti tak ada hari esok lagi.

“I can’t...” bisiknya serak. Tangis Magdalena semakin deras, Marko mengepalkan tinjunya, hampir putus asa bagaimana cara membuat Magdalena menerimanya lagi.

Sudah lima belas tahun lebih sejak mereka pertama kali menjadi kekasih, saat remaja hingga mereka berdua duduk di bangku kuliah universitas yang sama. Tujuh tahun lamanya hubungan ini mereka bina di atas pondasi kokoh yang sayangnya hanyalah kamuflase dari semua kebohongan-kebohongan yang coba ditutupi Marko untuknya. Laki-laki itu telah menipunya, mencoba menyembunyikan maksud terselubungnya mendekati Magdalena.

Walau berulangkali dia mengelak, tapi Magdalena terlanjur membencinya. Dia tak akan percaya sepatah katapun yang keluar dari mulut Marko lagi.

“Yes, you can...” desak Marko lagi. Tangannya yang tadinya mencengkeram pergelangan tangan Magdalena kini melepaskannya, tangan itu beralih pada pinggang wanita itu, memeluk tubuhnya dengan posesif, menyatakan bahwa mereka masih memiliki perasaan itu.

Magdalena menggeleng lemah, kedua tangannya masih tetap mendorong tubuh Marko, mencoba lepas dari pelukan laki-laki itu tanpa hasil. Marko masih mencoba mencium bibir Magdalena, kini wanita itu tak melawan, dia hanya mengatupkan bibirnya, menolak lumatan bibir Marko pada bibirnya, dia juga memejamkan matanya. Tepat ketika Marko hendak menyentuh tubuhnya, Magdalena berteriak dan saat itulah pintu kamar itu berderak terbuka dengan paksa, Bren muncul dari balik pintu itu dengan wajah merah padam menahan marah. Mereka berdua terkejut melihatnya.

Langkah kakinya panjang mendekati Magdalena dan Marko yang menatapnya kaget. Kedua tangan pemuda ini merenggut kerah kemeja yang dikenakan sepupu Nyonya Besar, menghantam dengan telak pipinya dan membuatnya tersungkur.

Tanpa kata Bren menarik tubuh Magdalena dan membawanya ke dalam pelukannya, “Kau akan baik-baik saja, ada aku,” bisiknya getir masih mengawasi tubuh Marko yang terguncang tak menyangka Bren akan berani memukulnya.

Bibir laki-laki itu sobek mengeluarkan darah, Marko tak terima, diapun berdiri dan mengepalkan tinjunya pada Bren. Dengan mudah pemuda itu menghindar, Magdalena dilepaskannya untuk berlari menyingkir. Kedua pria inipun berkelahi saling baku hantam. Sebuah tinjuan berhasil Marko sarangkan pada pelipis kiri Bren, membuatnya terhuyung menabrak meja rias yang berderak menjatuhkan hampir semua isinya.

Pertengkaran itu berlanjut dengan sengit, tubuh Marko yang tinggi besar mendominasi pertarungan. Bren dengan tubuhnya yang hampir tak sebanding dengan tinggi Marko mencoba bertahan walau tubuhnya juga tak kalah babak belur dari Marko. Magdalena berteriak, pelayan memanggil pengawal yang masih berlari dari pos mereka untuk segera melerai perkelahian itu.

Saat akhirnya mereka tiba, wajah Marko dan Bren penuh dengan bengkak dan lebam merah. Pertarungan itu imbang dan Marko pergi dengan raut wajah tak terima sementara Bren terhuyung duduk di kursi dekat meja rias, wajahnya sungguh mengenaskan.

Magdalena berlari menghampirinya, ketika dia mencoba membantu Bren untuk berdiri, laki-laki itu meringis, Magdalena menyentuh tulang rusuknya yang terkena pukulan Marko yang menyisakan nyeri yang sangat. Mungkin beberapa tulangnya retak walau dia ngeri membayangkan hal itu.

“Kau tak apa-apa?” tanya Magdalena cemas, tubuhnya bergetar melihat penampilan Bren, ketika laki-laki itu menggeleng, Magdalena memukuli lengannya.

“Kau bodoh! Kenapa kau datang? Bila tidak, kau tak akan seperti ini, lihat wajahmu... lihat tubuhmu,  kau... seperti adonan kue yang koyak, kau bodoh...” Magdalena dengan tangisnya mencoba merapikan pakaian Bren yang berlumuran darah dari pelipisnya, dari pipinya dan dari bibirnya yang sobek.

Tubuh Bren bergetar, tangannya mencoba meraih tubuh Magdalena yang masih mencoba melampiaskan kesedihannya dengan memukul pelan bahu Bren, dia tahu wanita itu mengkhawatirkannya.

“Aku tak apa-apa, aku baik-baik saja. Aku tak akan mati,” bisiknya setelah Magdalena berada dalam pelukannya, menangis dengan terisak karena mengkhawatirkannya.

“Aku tidak bilang kau akan mati!! Aku... aku hanya mengkhawatirkanmu, seharusnya kau tidak melawannya, kau bukan tandingannya...” isak Magdalena lagi. Tangisnya jatuh dalam dada Bren, dada yang bisa dipercayainya sebagai tempat untuknya mengadu tanpa merasa dimanfaatkan oleh laki-laki itu.

Bibir Bren tersenyum, dia merasa hatinya hangat, tak pernah menyangka reaksi Magdalena akan seperti ini, dia semakin yakin bila perkataannya tadi salah, Magdalena mencintainya, atau setidaknya... wanita itu memperhatikannya.

Bren mengecup puncak kepala Magdalena, dalam hatinya dia berbisik pelan, “I think I love you, Lady...”

Mereka pun berpelukan untuk beberapa saat sebelum dokter datang untuk merawat luka-lukanya.

~*~*~

 Magdalena dan Bren sedang duduk berdua di dalam pesawat terbang yang membawa mereka kembali ke Indonesia. Setelah berpamitan pada Mr. Stuart yang tak banyak bicara melihat penampilan Bren yang berantakan, mereka langsung menuju bandara tanpa singgah kemanapun lagi. Rapat keluarga besar Stuart akhirnya memutuskan memilih Marko untuk menjadi kepala keluarga Stuart yang berikutnya, dia akan memiliki kekuatan di dalam lingkungan keluarga mereka dan kata-katanya akan didengarkan walau itu berarti Magdalena tak akan pernah kembali ke Inggris lagi. Dia tidak ingin bertemu dengan Marko, masa lalu bersama laki-laki itu sudah dikuburnya dalam-dalam dan tak ingin dia buka lagi. Marko hanyalah masa lalu suram yang tak ingin diingat-ingatnya.

“Kita sudah sampai,” ujar Bren yang melirik jendela samping pesawat, memperlihatkan bandara Soekarno-Hatta di kejauhan.

Setelah mereka menginjakkan kaki di Indonesia, Bren akan pulang ke rumahnya dan mendapat cuti yang akan dia gunakan untuk mengurus surat-surat hutang keluarganya yang masih berada di pengadilan karena sengketa perusahaan. Pengacara keluarga mereka memberitahukan bila kemungkinan hutang-hutang ayah Bren yang tersisa ratusan juta lagi akan dihapuskan karena telah memenuhi kuota bunga yang dibayarkan dari penjualan sisa-sisa harta milik perusahaan mereka yang bangkrut.

Bila itu benar, Bren bisa fokus membangun hidup keluarganya dari nol lagi, dia bertekad akan membangun lagi usaha milik ayahnya yang telah jatuh.

Magdalena berjalan di depan meninggalkan Bren yang masih mengambil bagasi mereka, mereka menuju pintu keluar bandara dimana beberapa pegawai telah menunggu untuk menerima bawaan mereka dan mengantarkan Magdalena kembali ke rumahnya. Dia berhenti sebelum masuk ke dalam mobilnya.

“Kau... ditunggu Thomasson di kantor, pergilah ke sana dulu,” Magdalena mengecup pelan pipi kiri Bren, membuat laki-laki muda itu termangu karena ciuman Magdalena di depan publik tak diantisipasinya. “Happy holiday...” bisik Magdalena di telinganya. Diapun meninggalkan Bren dengan sopir lain yang akan mengantarkannya ke kantor Stuart ltd.

Hati Bren kacau, dia berharap kedekatan mereka beberapa hari ini akan menunjukkan kemajuan, tapi rupanya dia terlalu banyak berharap. Magdalena tak tertarik padanya, emosi wanita itu selalu berubah-ubah dan Bren telah menyadarinya. Dia merasa bodoh karena berpikir Magdalena mungkin memiliki perasaan untuknya, wanita itu hanya menganggapnya aset perusahaan dan dia dibayar untuk jasanya.

Kenyataan itu semakin diperkuat dengan pertemuannya dengan Presiden Direktur Thomasson. Pria tua itu menyerahkan dua buah cek dengan masing-masing  cek senilai dua ratus lima puluh juta rupiah, jumlah yang mencengangkan Bren walaupun hati kecilnya tahu itu adalah bayaran atas apa yang dia lakukan satu setengah bulan mendampingi Magdalena.

“Bayaranmu untuk bulan lalu dan bulan ini, Magdalena merasa pekerjaanmu memuaskan jadi dia memberikanmu bonus, kau bisa melihatnya di rumahmu,” senyum Thomasson menutup kata-katanya.

Itu adalah tanda untuk Bren agar segera beranjak dari sana, dia tidak diizinkan untuk membantah ataupun berkomentar mengenai jumlah uang yang diberikan padanya.

Di dalam perjalannya menuju lobi gedung, sebuah kenyataan membuat dia terhenyak dan hatinya merosot seketika.

“Ya... Apa yang aku harapkan? Aku dibayar untuk itu, dan dia membayarku untuk jasaku. Tidak ada hutang budi, tidak ada rasa apapun yang terlibat di dalamnya, murni bisnis... Bodoh!! Sungguh bodoh!! Siapa yang aku tipu?! Dia tak mungkin melirikku walau di dunia ini hanya ada satu pria yang tersisa. Tak akan pernah,” desahnya muram. Senyum ironis penuh kesedihan terpasang di wajahnya yang kusut, Bren tak menyangka hatinya akan sakit karena Magdalena hanya memanfaatkannya. Dia tahu ini hanyalah bisnis semata, tapi apakah hati Magdalena sedingin itu padanya? Bren tak tahu, dia tak ingin tahu, kepalanya berdenyut nyeri, dia ingin beristirahat setibanya di rumahnya, tidur sepanjang hari, sepanjang malam selama seminggu, dia membutuhkannya, Bren tak ingin memikirkan apapun, atau Magdalena sekalipun.

“Aku harus mengenyahkan perasaan ini. Ini tidak ada di dalam kontrak, ini tidak boleh ada!” geramnya pada dirinya sendiri.

Mobil Mercedes Benz yang mengantarkannya menuju apartemen pun melaju kencang membelah jalanan ramai ibukota.  


5 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. seruu sist, makin bikin penasaran. ditunggu banget part 15-nya ;)

    ReplyDelete
  3. lama gag bisa online,,akhirnya bisa baca cerita ini,, bikin penasaran ama lanjutanya,,ditunggu lanjutannya mba

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.