"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Sunday, January 5, 2014

Punishment Rage - Chapter 2



WARNING : 18THN KE ATAS

Dua tahun kemudian,

“Kalian masuk dulu ya, Papa capek. Papa sudah tua nih kayaknya,” ujar Pak Anton yang terengah-engah menyusul anak-anaknya berlari pagi berkeliling di kompleks perumahan mereka.

Selama dua tahun setelah pembalasan dendam Erlangga berakhir, Pak Anton tak pernah menyentuh wanita lain lagi selain istrinya sendiri. Erlangga juga telah bisa melupakan ketidaksempurnaan ayahnya dan bersikap hangat seperti semula. Dia juga mengendurkan kewaspadaannya dan tak pernah membuntuti ayahnya lagi.


Namun, kebusukan yang disimpan sebaik apapun pasti akan tercium juga. Sama seperti kebusukan yang disimpan oleh Pak Anton sejak beberapa bulan yang lalu, sejak dia mulai tergoda untuk menjalankan hobi “jajannya” lagi.

Tanpa sepengetahuan Erlangga dan keluarganya yang lain, Pak Anton telah mengumpulkan beberapa orang wanita sekaligus yang dia sembunyikan di dalam sebuah kompleks perkantoran yang berkedok sebagai kantor sebuah firma hukum penyedia jasa pengacara. Tanpa disadari Erlangga, ayahnya kerap berkunjung ke tempat ini dengan beralasan mengurus surat-surat perusahaan mereka yang belum kelar.

Di perkantoran yang lobi depannya begitu mirip dengan lobi sebuah firma hukum asli, dipekerjakan seorang wanita muda kelulusan fakultas hukum yang sama sekali tidak mengetahui tujuan di balik dibangunnya kantor firma hukum itu. Bahkan seorang pengacara asli sengaja dibayar oleh Pak Anton untuk memperlihatkan pada orang luar bila kantor itu benar-benar adalah firma hukum asli, sehingga tidak akan ada yang curiga dengan penampilan luarnya.

Sejak menghilangnya Anggie dua tahun yang lalu, Pak Anton telah membayar detektif swasta untuk menyelidiki kemana perginya wanita-wanita simpanannya satu per satu. Baru satu tahun kemudian detektif itu mampu memberikan jawaban untuknya walaupun Pak Anton tidak dapat mempercayai jawaban yang diberikan detektif itu karena memang bukti yang menunjuk Erlangga tidaklah kuat.

Pak Anton hendak melupakan kasus menghilangnya gundik-gundiknya dan hidup dengan bahagia bersama keluarganya. Tapi rupanya bagi Pak Anton, hidup monoton seperti itu sangat membosankan. Diapun mulai tergiur kembali setelah bertemu dengan seorang wanita yang baru saja bercerai dari suaminya yang kerap mengasarinya. Wanita itu juga mendukung keinginan Pak Anton untuk mengumpulkan wanita-wanita yang diinginkannya dalam satu rumah sehingga Pak Anton tidak perlu bersusah payah untuk mengunjungi mereka satu per satu.

Maka, didirikanlah perkantoran firma hukum itu oleh si wanita yang bernama Geraldine dengan dana sepenuhnya dari kantong Pak Anton. Selama dua bulan belakangan, hobi Pak Anton tak terendus sama sekali, dia juga belajar mengatur ekspresinya agar Erlangga tidak curiga padanya. Bahkan Pak Anton tidak memberitahukan apapun pada sopirnya, berada di dalam kantor pengacara selama dua hingga tiga jam setiap hari bukanlah keanehan karena memang Pak Anton memilih tugas itu untuk dirinya.

Hari itu, senja hampir menelan mentari sepenuhnya, menggantikan sinar matahari dengan rembulan yang mulai memendar di langit. Pak Anton dengan tubuh bersimbuh peluh terengah-engah di atas tubuh seorang wanita muda yang baru saja dikenalkan padanya oleh Geraldine, wanita itu kini resmi menjadi mucikari untuknya.

“Om keluarin di dalam ya, Sayang....”

Wanita muda itu melenguh, tubuhnya mengejang hebat saat Pak Anton menyemburkan cairannya di dalam tubuhnya. Wanita yang baru pertama kali merasakan hubungan intim ini sama sekali tidak menyangka akan mendapat kenikmatan yang tak diduga-duganya, diapun tersenyum lemah dan dengan manja memeluk tubuh Pak Anton yang masih terlihat gagah pada usia awal lima puluhnya.

“Om hebat... Mitha jadi ketagihan nih sama anunya om... Besok lagi ya, Om...”

Pak Anton hanya tertawa senang, dia berguling dari atas tubuh Mitha dan menyeka keringatnya dengan handuk yang tersampir di pinggir ranjang. Sudah lima jam lamanya dia berada di kantor itu, mengunjungi dua bilik kamar dengan dua wanita yang berbeda, Mitha si gadis perawan, dan Lovely yang diperawaninya dua minggu lalu.

Sejak mengenal Geraldine, Pak Anton hampir tak kekurangan stok gadis yang bisa diperawaninya. Mucikarinya itu beralasan dengan perawan akan membuat Pak Anton panjang umur dan terlihat semakin muda. Walau Pak Anton tahu itu hanyalah mitos, tapi dia sangat menikmati sempitnya liang perawan dan nikmatnya tubuh muda itu menggeliat di bawahnya.

“Besok deh Om ke sini. Kan Om musti adil juga donk sama yang lain. Ntar kalau Sissy marah gimana? Audy, Lulu, Anjali, Betsy, terus.... siapa tuh yang baru? Ehm... Lovely... ya... Belum lagi Tante Geraldine bawain anak baru buat Om... Gak kuat ah kalau sehari banyak-banyak.” Pak Anton mencubit pinggul Mitha, membuat gadis itu memekik manja.

“Ya udah... Sampe ketemu besok, Om....” Mitha merelakan Pak Anton pergi dari kamarnya setelah pria paruh baya itu mengenakan pakaiannya kembali.

Di luar kamar wanita-wanita itu, Pak Anton bertemu dengan Geraldine yang mencium bibirnya sekilas.

“Kau puas?” tanyanya genit.

“Kau memang yang terbaik. Tidak percuma aku mengenalmu, Sayang....” Mereka berciuman lagi.

Pak Anton melirik ke arah lobi yang sedikit ramai, dia lalu bertanya pada Geraldine.

“Siapa di depan?”

Geraldine menggiring Pak Anton ke arah belakang, menuju ruangan yang tertutup sepenuhnya dari atas, dimana sebuah kolam renang mewah menjadi tempat satu-satunya dimana Pak Anton bisa melakukan hubungan seks dengan semua wanita yang dimilikinya.

“Kliennya Si Irfan, dia harus membuat gaji yang dia dapat tidak percuma. Bukankah dia memang pengacara asli? Bila dia tidak menerima klien, orang-orang akan curiga dan terbukalah kedokmu, Pak Anton. Pengusaha paling mesum di dunia,” kikik Geraldine manja.

Pak Anton tersenyum masam, dengan sudut matanya dia mencuri pandang pada seorang gadis yang bertugas sebagai penerima tamu di lobi kantor itu. Gadis itu bertugas mengatur semua klien yang berkunjung ke sana untuk bertemu dengan Irfan. Gadis itu juga tahu, dia tidak boleh ikut campur dengan urusan “ruangan belakang” dan tidak boleh bertanya-tanya bila dia tidak ingin dipecat dari pekerjaannya.

Sebagai seorang mahasiswi yang baru saja lulus dari kampus, dengan tekad sekuat karang untuk menghasilkan uang dari pekerjaan pertamanya guna membantu meringankan ekonomi keluarganya, gadis itu bersedia bekerja asalkan dia tidak harus mengerjakan pekerjaan yang melanggar hukum. Kontrak satu tahun pun ditandatangani dan gadis  yang bernama Lusy itu akhirnya bekerja di bawah firma hukum Irfan dan Co.

Geraldine menyadari arah pandangan Pak Anton, diapun berujar, “Kalau Pak Anton masih pengen perawan, besok juga datang lagi dua. Cewek yang di depan gak boleh disentuh, dia itu keponakan kakak angkatku. Aku gak pengen ngerusak dia, aku berhutang budi sama kakak angkatku, jadi Pak Anton gak usah ngelirik dia ya. Yang lebih cantik dan perawan masih banyak kok.”

Pak Anton mencibir, “Tahu darimana kalau dia masih perawan?” tanyanya sinis, walau dalam hati dia yakin, perawan ataupun tidak, tubuh Lusy akan sangat menggairahkan untuk dimiliki. Namun demi mendengar ancaman Geraldine, Pak Anton menghilangkan niatnya ingin memiliki gadis itu.

“Ya sudah, gak akan deh aku ganggu dia,” Pak Anton membuka dompetnya, mengambil sebuah amplop yang di dalamnya terdapat selembar cek bernilai seratus juta rupiah dan memberikannya pada Geraldine, “Untuk anak-anak, bersenang-senanglah kalian. Dan... bonus buat Irfan dan cewek yang di depan. Sekuriti, siapapun, biar mereka seneng.”

Geraldine mengangguk, senang dengan sifat Pak Anton yang murah hati, diapun mengantarkan pria itu hingga ke lobi.

“Selamat jalan, Pak. Hati-hati di jalan...” sambut Lusy dengan senyumnya yang ramah.

Walau tak mengerti apa urusan Pak Anton di dalam firma hukum tempatnya bekerja, Lusy yakin Pak Anton adalah seorang pengusaha yang memiliki urusan dengan bosnya, Irfan. Diapun berusaha bersikap ramah kepada siapapun sesuai dengan tugasnya sebagai penyambut tamu.

Pak Anton merasa sayang meninggalkan tempat itu sebelum menyapa wanita yang mengisi benaknya beberapa hari belakangan, diapun menghampiri Lusy dan berbincang-bincang dengannya.

“Belum pulang?” tanya Pak Anton sambil lalu.

Lusy melirik jam tangannya, “Sebentar lagi, Pak. Masih sepuluh menit sebelum kantor tutup.”

Pak Anton meraih lengan Lusy, ikut melirik pada jam tangan mungil yang melingkari pergelangan tangan langsing itu. Kulitnya bersentuhan dengan kulit halus Lusy, kulitnya yang kuning langsat dan pikiran kotor Pak Anton seketika bereaksi.

“Pulang sama siapa?” tanyanya, masih menggenggam tangan Lusy yang agak sungkan diperlakukan seperti itu.

“Sa... saya naik bis kota, Pak.” Lusy berusaha menarik tangannya dengan sopan.

Pak Anton memasukkan kedua tangannya ke saku celana, berusaha melupakan rasa halus yang diingat tangannya pada kulit lembut Lusy, diapun mengangguk. Dengan senyum terbaiknya, yang memperlihatkan wajahnya yang tampan dengan gurat kebijaksanaan yang dimilikinya, Pak Anton yakin Lusy akan jatuh hati padanya. Pak Anton telah banyak melihat wanita-wanita bertekuk lutut padanya hanya karena lemparan senyuman yang diberikannya, darah blasteran miliknya membuatnya begitu mudah untuk menarik hati para wanita yang haus kasih sayang dan harta....

Lusy tersipu malu, tak terbiasa mendapat perlakukan seperti itu dari laki-laki manapun. Gadis berusia dua puluh tiga tahun itu menunduk dan tersenyum kikuk.

“Ya sudah, hati-hati di jalan. Sampai bertemu besok kalau begitu.”

Pak Anton memutar tubuhnya, melangkah menuju pintu sebelum memutar tubuhnya kembali menghadap Lusy, “Namamu siapa tadi?” tanyanya.

“Saya Lusy, Pak.”

“Ok, Lusy... Apakah kamu suka Caramel Puding?”

“Bagaimana, Pak?” tanya Lusy tak mengerti.

Pak Anton tersenyum, “Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa besok.”

Laki-laki itupun menghilang dengan suara siulannya yang khas, hatinya nampaknya cukup senang, pria tua itu merasa semangatnya kembali diperbaharui, dia merasa hidupnya tidak membosankan lagi.

“Yah.... Laki-laki memang memiliki beberapa kesempatan untuk puber.... Aku rasa... Aku jatuh cinta lagi!!”


Pak Anton membuka pintu mobilnya, sopir yang telah menunggu kedatangannya pun menjalankan mobil menjauh dari kantor firma hukum itu, kantor firma yang menyembunyikan kegiatan Pak Anton selama berbulan-bulan belakangan tanpa diketahui oleh siapapun, terutama Erlangga, anak laki-lakinya. 


6 comments:

  1. idihh beneran maniak nih pa anton.. sehari 2 perawan belum lagi istrinya dirumah hadeuhhhh bener2...
    tunggu ledakan amarahnya erlangga aja.. bisa2 pa anton kali ini disunat lagi... hhi

    ReplyDelete
  2. Ini lanjutan dari cermin waktu itukan, say?? Oh No!! Baca ahhhh mas Anton yg demen virgin. Aku demen perjaka dmn nyarinya ?? Wkwkwkkkk pagi2 udah eror :D

    ReplyDelete
  3. duh bener2 nih anton ckckck gk kapok2 ihhh umurnya udah setengah abad juga masih aja demen perawan. mesti ati2 ini siapa tau ntar ketemu sama anton di jalan klo di goda2 kan bahaya xD #plakk
    kalo sama erlangga sih mau #eh xixixixixixix

    ReplyDelete
  4. hueeee...kok komenku gak muncul ya T_T

    ReplyDelete
  5. *baiklah komen lagi*

    dari tahun lalu udah liat blog ini tapi belum kesampaian naaah skrg sangat sangat tertarik ama blug ini dan mulailah baca satu per satu :)

    Aaah penasaran Erlangga seperti apa..


    Idiiiih pak enton seorang penjahat kelamin...ckckckck semoga Lucy gak jatuh dalam perangkapnya...

    ReplyDelete
  6. aaahh hawanya pengen nyunat om anton deeeh....biar sampe abis...

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.