"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Sunday, January 12, 2014

Punishment Rage - Chapter 3


Untuk usia 18 tahun ke atas saja

“Total berapa wanita yang kini kamu pelihara?” tanya Pak Anton setelah mengenakan celana dalamnya dan berdiri memunguti pakaiannya yang lain.

Geraldine tengah menghisap rokoknya, tubuh telanjangnya masih memperlihatkan sisa-sisa cairan kenikmatan Pak Anton yang membasahi perut langsing janda muda berusia tiga puluh lima tahun itu.

“Sepuluh orang kurasa, bila kau menghitungku juga,” kedipnya manja.

Pak Anton tergelak, “Tentu saja, Sayang. Kau termasuk di dalamnya.”


Geraldine beringsut mendekat, menghampiri Pak Anton yang masih merapikan dasinya, “Apakah kau langsung pulang? Kau belum mencicipi perawan barumu, masih tiga orang yang belum kau sentuh, Pak...” cicit Geraldine manja. Meskipun dia berbagi dengan sembilan orang wanita lainnya, Geraldine tak pernah merasa cemburu. Dia tahu, Pak Anton tak akan pernah meninggalkan hatinya untuk mereka, laki-laki tua yang memiliki hobi tak biasa ini telah meninggalkan hatinya di rumah, pada istri dan kedua orang anaknya.

Pak Anton tergelak lagi, dia kini duduk di samping ranjang, mengelus pinggul seksi Geraldine, mengecup bibir wanita itu dan berujar pelan, “Kalau aku cicipi sekarang, besok kau akan membawakanku tiga orang perawan lagi. Aku rasa... aku lebih suka yang sudah tidak perawan, Sayang. Terkadang aku ingin wanita yang sudah berpengalaman di ranjang, seperti kamu misalnya, hmm...?”

Geraldine menggeliat lagi, memeluk tubuh Pak Anton erat, enggan memberi izin laki-laki itu pulang. “Menginaplah di sini, kita bisa melakukannya sama-sama. Sepuluh orang wanita, dan seorang pria....”

Pak Anton melepaskan pelukan Gerladine, mengecup pipi wanita itu dan beringsut menjauh, “Sampai bertemu lusa. Besok adalah milik keluargaku. Kalian bersenang-senanglah, berliburlah.”

Geraldine melemparkan bantalnya pada daun pintu yang menutup, Pak Anton telah meninggalkannya dengan hati dongkol dan perasaan cemburu terhadap keluarga laki-laki itu. Tapi dia tidak punya pilihan lain, inilah resiko menjadi wanita kedua dari pria sehebat Pak Anton, diapun melupakan perdebatan kecil mereka dan menghisap rokoknya dengan nikmat. Tanpa diketahui Geraldine, Pak Anton kembali menghampiri Lusy dengan rayuan mautnya yang mau tak mau mulai memikat hati seorang wanita muda lugu nan cantik, wanita yang mampu membuat Pak Anton menggetarkan hatinya lagi untuk sebuah kata bernama “cinta”.

“Ayo.”

“Kemana, Pak? Saya masih bekerja.”

“Sudah, Bosmu sudah mengizinkan, kalau tidak percaya, tanya saja dia.”

Dari balik ruang lobi, Irfan muncul dan menganggukkan kepalanya, “Pulanglah, klien juga sudah habis. Lusa kembali lagi. Selamat berakhir pekan, Lusy.”

Lusy salah tingkah, dia tidak mengerti namun seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, dia mengikuti perintah Pak Anton dan mengekor laki-laki itu menuju sebuah mobil Mercedes Benz sport yang telah menanti mereka dengan setia. Mobil kemudian meluncur ke sebuah restoran mewah di dalam kawasan hotel Indonesia dimana Pak Anton telah memesan sebuah private room untuk mereka berdua bersantap malam. Pemandangan dari lantai dua puluh restoran itu begitu indah dan memukau, lampu-lampu perkotaan yang saling-silang pada bangunan pencakar langit bagai hiasan malam menerangi langit biru. Sinar redup dan sorot lampu kendaraan juga tak kalah indah menghadirkan harmoni pemandangan langit malam itu.

Pak Anton dengan sigap memesankan makanan terbaik untuk mereka, pukul tujuh malam, sangat tepat untuk mengundang seorang wanita secantik dan semenarik Lusy untuk menikmati makan malam yang menyenangkan. Setidaknya, rasa penasaran Pak Anton akan sosok di depannya ini akan sedikit terobati, walau dia masih ragu akan melancarkan rayuannya untuk mendapatkan tubuh Lusy baginya di atas ranjang. Bila dia mengikuti nafsunya, Pak Anton bisa saja menyiapkan obat bius untuk gadis tak berdosa ini, namun rasa kagumnya pada Lusy telah mengalahkan nafsu yang sedari tadi telah menjerit-jerit meminta perhatiannya.

Santap malam itu berakhir memuaskan, mereka kini telah menikmati Caramel Puding yang dijanjikan Pak Anton pada Lusy. Gadis itu dengan berbinar-binar menikmati lelehan gula berwanra coklat yang menghiasi puding di atas piring miliknya, cream putihnya dia cicipi dan tanpa sadar menyisakan setitik putih pada bibirnya.

Tangan Pak Anton refleks menjentikkan jarinya pada bibir Lusy, membersihkan bekas cream itu lalu tanpa sadar tangannya membelai pelan belahan bibir Lusy yang mengundang terbuka untuk dipagut.

Pak Anton menelan ludahnya, keinginan untuk membawa wanita di hadapannya ini ke dalam sebuah kamar di hotel itu begitu besar, dia bisa merasakan tumbukan ereksinya telah berkedut-kedut protes. Tapi Pak Anton mencoba mengekang hasratnya, dia tidak ingin menghancurkan malam indah ini dengan nafsu sesaat karena dia ingin lebih, dia ingin memiliki Lusy untuk dirinya, bukan sekedar peneman dan pemuas nafsunya.

“Dia akan menjadi milikku....” bisik Pak Anton dalam hati.

Malam itu, Pak Anton mengantarkan Lusy ke rumahnya, dalam perjalanan pulang mereka tak banyak berbicara, namun saat Lusy hendak membuka pintu mobil untuk keluar, Pak Anton menarik tubuh wanita itu dan memagut bibir yang telah didambanya dengan lembut. Mereguk kenikmatan yang hanya bisa dia bayangkan sejak berhari-hari yang lalu.

Saat bibir mereka bersentuhan, debar jantung semakin bertalu-talu dan hasrat semakin menggebu-gebu. Keahlian Pak Anton menciumi gadis-gadis lain juga dipakainya untuk menakhlukan Lusy, Si Gadis Perawan yang dinanti-nanti Pak Anton.

Bibir gadis itu panas, membengkak dengan wajah merah menahan hasrat. Lusy juga dapat merasakan bagaimana tubuhnya menghangat, badannya lemas dan pikirannya kosong. Dia juga tak mampu menyahut saat Pak Anton mengucapkan selamat malam padanya, dia masih termangu kosong walaupun mobil milik Pak Anton telah menghilang di ujung jalan.

Lusy menyentuh bibirnya yang masih bengkak, memagutnya pelan dan merasakan kembali manis bibir Pak Anton. Wajahnya memerah, merasa bingung dengan perasaan yang tiba-tiba menyerangnya. Sejak saat itu, cara Lusy memandang Pak Anton tak akan pernah sama lagi, begitu juga sebaliknya.

 Semenjak saat itu, Pak Anton selalu meluangkan waktu untuk bepergian bersama Lusy, menghabiskan waktu bersama walaupun dia belum sekalipun meminta gadis itu untuk memasuki kamar hotel bersamanya. Namun hubungan mereka cukup intim, ciuman demi ciuman telah berhasil Pak Anton curi dan Lusy yang penasaran semakin ingin lebih, semakin ingin memenuhi keinginannya dan saat dengan polos dia mengungkapkan penderitaannya pada Pak Anton di saat mereka berdua sedang duduk-duduk di dalam mobil, dimana sopir telah diminta menyingkir sehingga meninggalkan Pak Anton dengan pacar barunya.

“Om... Aku bingung...” Panggilan Lusy bila hanya berduaan dengan Pak Anton telah berubah, sekarang dia memanggil pria itu dengan sebutan baru.

“Kenapa, Sayang... Kok bingung?”

Lusy menunduk sendu, dia bingung bagaimana cara mengungkapkan rahasia hatinya, diapun semakin mengkerut di ujung kursi.

Pak Anton gemas melihat pacar barunya meringkuk seperti kura-kura dan berlindung di balik tempurung yang keras, diapun mendesakkan tubuhnya, mencoba membuka cangkang yang coba disembunyikan Lusy darinya.

“Ayo, bilang sama, Om...”

Lusy menggigit bibirnya pelan, “Ka...kalau kita ciuman, kok....”

“Kok kenapa?” alis Pak Anton mengernyit.

“Kok... anuku jadi geli dan sakit ya om? Gak enak banget.”

Pak Anton berdecak senang, dia meremas paha Lusy dan membawa telapak tangan wanita itu ke bibirnya, mengecupnya perlahan sebelum memberikan jawabannya.

“Kamu mau tahu kenapa bisa gitu?”

Lusy mengangguk.

“Sekarang geli, ndak?”

Lusy mengerutkan dahinya, mencoba merasakan perubahan daerah yang dia maksud dan menggeleng pelan.

“Kalau gitu musti ciuman dulu, biar Om kasi tahu gimana cara ngilangin sakitnya. Mau, ndak?” tanya Pak Anton dengan senyum dikulum.

Sejenak Lusy tampak berpikir, lalu dia mengangguk lagi, “Mau, Om...”

Dengan perlahan, Pak Anton merebahkan kepala Lusy pada pegangan tangan jok mobil, menindih tubuh muda itu dengan dadanya yang bidang, merayap mendekat, menuju bibir yang ingin dia beri pelajaran karena begitu ingin tahu dengan tubuhnya.

Ciuman itu perlahan, lembut... Rayuan bibir Pak Anton dan pagutannya membuat Lusy kembali dibawa ke awang-awang, bibirnya kembali bengkak dan rasa tak nyaman pada bagian intimnya kembali menyerang.

Lusy menghela tubuh Pak Anton, “Om... gelinya udah dateng,” cicit Lusy lugu.

Pak Anton dengan ahli, melepaskan kancing-kancing blazer kerja Lusy, menarik turun celana dalam wanita itu lalu memundurkan duduknya. Lusy terkesiap, kepala Pak Anton menghilang di balik rok selutut miliknya, bibir dan lidah laki-laki itu telah membelai daerah intim Lusy, membuat si Wanita merintih dan menggelepar tak berdaya, seperti ikan yang kekurangan air.

Bibir Pak Anton menghisap, merayu dan memilin, seluruh permukaan kewanitaan Lusy dijilatinya dengan gemas, lidahnya menusuk dan membelai, dia tidak membiarkan sejumput bagianpun tak tersentuh oleh lidahnya. Maka tak heran, dua menit kemudian tubuh Lusy bergetar hebat dan liang kewanitaannya berdenyut-denyut hingga dia lemas dan tubuhnya tak berdaya di atas jok mobil.

Pak Anton membersihkan bibirnya dengan tisu, memandang takjub pada Lusy yang masih mengatur nafasnya dan kakinya yang lemah tak sanggup dia gerakkan.

“Apa yang kamu lakukan padaku, Om? Rasanya aneh... Tapi... kenapa... ah... rasanya, lemas sekali padahal aku gak ada ngapa-ngapain, kan?” bisik Lusy tanpa daya. Kedua kakinya masih mengangkang lebar dengan kemeja terbuka, memperlihatkan payudaranya yang setengah terpapar karena bra yang tersibak.

“Kamu suka?”

Lusy mengangguk, entah apapun itu namanya, tapi dia suka.

“Itu belum seberapa. Kapan-kapan Om tunjukkin yang lebih enak. Mau?”

Lusy menggigit bibirnya, dia tahu apa yang akan Pak Anton lakukan padanya, namun rasa cintanya pada laki-laki itu dan keingintahuannya pada rasa nikmat yang dijanjikan Pak Anton padanya telah membuatnya terlupa dengan pesan-pesan orangtuanya tentang menjaga diri dan tubuhnya.

Tanpa berpikir panjang lagi, Lusy mengangguk, dia tidak menyadari tumbukan celana Pak Anton telah membusung tinggi. Dengan malu-malu Lusy mengancingkan kembali kemejanya sebelum mereka menuju kantor firma hukum tempat Lusy bekerja. Pak Anton lalu melanjutkan perjalanannya dari lobi kantor menuju kamar gadis-gadis yang telah menunggunya dengan setia. 



12 comments:

  1. ishhhh muak bener sama lanang-an satu ini#ciyusss# erlangga mana suruh dia beraksi lagi

    ReplyDelete
  2. Jangan bilang nanti erlangga jatuh cinta sama lusy?aduh sinetron deh -_-

    ReplyDelete
  3. Mane erlangga! Ckckck
    Tu bgian pling selatan bawahny mnta d sunat smpe hbs emg!

    ReplyDelete
  4. ni kakek2, kalo belum mati, belum berhenti.. hueeek.. :p

    ReplyDelete
  5. makasih buat ceritanya mbak shin.. maap ya, aku jarang komen.. :(

    ReplyDelete
  6. Horeeeee akhirnya di publish jg plan crita erlangganya, emang tuh ya pak anton minta dikebiri ckckck

    ReplyDelete
  7. Ni aki2 satu kuduny bukan dsodorin perawan tapi disodorin psikiater#sarap gila ni aki
    Erlang..ini bapamu lho disunat lg aja#sodorin kapak
    Btw tengkyu ya mba buat crita2 kerennya :)

    ReplyDelete
  8. dihhh kan udah janji sama geraldin ga bakalan ngapa2in lusy hadeuh... emang dasar tua2 keladi...

    ngerusak anak org itu namanya. kalo ketauan sama erlangga terus dilakuin kayak dulu lagi kan kasian...

    ReplyDelete
  9. hot yah.. lanjutkan.. *eh
    hihi

    emang durjana ini om.. :p

    ReplyDelete
  10. Huahaha lucy ini polos2 kyk anak SD tapi mau di anuin si om haha dasaaar. *cincang lucy dan om anton*

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.