"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Saturday, January 25, 2014

Punishment Rage - Chapter 5


Erlangga sedang duduk di kursi ruang tamu kantornya ketika Pak Anton membuka pintu dan mempersilahkan masuk dua orang rekanan dari perusahaan mitra bisnis mereka untuk bertemu dengan Erlangga. Mereka telah membuat janji makan siang di restoran yang terdapat di dalam gedung Erlangga building lantai dua puluh enam. Makan siang kali ini guna merayakan ditandatanganinya kerjasama proyek yang bernilai dua ratus Milyar Rupiah oleh kedua perusahaan itu. Memperkenalkan diri mereka masing-masing, Pak Anton, Erlangga dan kedua rekan bisnis mereka akhirnya menuju ke restoran di lantai dua puluh enam.


“Mari silahkan, saya sudah memesan ruangan yang paling istimewa di dalam restoran ini. Mitosnya, bila bersantap di ruangan ini, proyek-proyek besar lain akan segera menyusul dalam kerjasama kita.” Pak Anton menjamu rekan bisnisnya dengan profesional tapi tidak menghilangkan sisi humor yang dimilikinya, berbanding terbalik dengan Erlangga yang nampak mulai kehilangan sisi humornya belakangan ini.

Perubahan yang terlihat dari raut wajahnya tak luput dari perhatian Pak Anton, dia berpikir bila anak sulungnya ini memerlukan liburan.

Percakapan tak penting dan basa-basi itu akhirnya selesai satu jam kemudian. Erlangga yang memiliki janji temu dengan klien lain akhirnya mengundurkan diri dan meninggalkan ayahnya bersama dengan kedua rekan bisnis mereka. Perbincangan yang tadinya formal kini berubah lebih santai.

“Pak Anton pasti bangga punya penerus sehebat Pak Erlangga. Kharismanya saja membuat orang lain segan padanya. Belum lagi hasil kerja Pak Erlangga selama ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Nampaknya tak lama lagi keinginan Pak Anton untuk pensiun bisa terlaksana.” Mister Budiono, Direktur perusahaan Citra Laksmana Lestari, perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi alat berat dan bangunan memuji Pak Anton yang tengah menghisap rokoknya dengan nikmat.

Senyum bangga tersungging pada bibir laki-laki paruh baya itu. Wajahnya yang tidak menunjukkan penuaan berarti terlihat tetap menawan dan elegan, Pak Anton mematikan puntung rokoknya sebelum menjawab, “Tentu saja saya bangga. Ayah mana yang tidak bangga punya anak seperti Erlangga, ha?” tawanya terdengar begitu senang. Jauh di dalam hatinya, Pak Anton meringis membayangkan apa reaksi Erlangga bila mengetahui kegiatan yang ayahnya lakukan selama ini.

“Sayang saya tidak punya anak perempuan, kalau tidak, mungkin sudah saya sodorkan pada Erlangga,” celetuk Pak Budiono. Dia memiliki dua orang anak laki-laki yang kesemuanya telah menikah, keinginan untuk menyambung tali kekeluargaan dan bisnis dengan keluarga Suez nampaknya kandas.

“Disodorkan bagaimana? Erlangga tidak suka disodorkan wanita, dia suka mengejar. Hingga hari ini, dia belum pernah memperkenalkan calon istrinya kepada keluarganya. Ibunya sudah pusing mencarikan dia jodoh. Entah apa tidak ada wanita yang menurutnya pantas untuk dikejar, saya sendiri bingung dengan selera anak saya itu.” Pak Anton membandingkan seleranya sendiri dengan selera Erlangga. Bagi Pak Anton, menyukai sembarang wanita sangat mudah. Untuk jatuh pada wanita tertentu juga tidak sulit. Hal inilah yang membuatnya menebar banyak cinta kepada wanita-wanita lain di luar istrinya.

“Mungkin bapak saja yang belum tahu?” selidik rekan bisnis Pak Anton yang bernama Pak Satrio, dia adalah pengacara perusahaan dari Mister Budiono.

Pak Anton menatap Pak Satrio tajam, “Maksud anda?” tanyanya.

“Saya dengar Pak Erlangga sering bepergian ke klab malam, mungkin beliau masih ingin bermain-main dan belum fokus pada kehidupan berumah tangga. Kasihan sama bapaknya, masih muda begini masak sudah dikasi cucu?” decak Pak Satrio yang menciptakan gelak tawa mereka bertiga.

“Iya, Pak Anthony. Anda masih muda, masih bisa nambah empat orang anak lagi. Ayo kasi Pak Erlangga adik lagi.” Mister Budiono ikut menyemangati, tahu benar laki-laki seperti apa Pak Anton karena mereka pernah berpapasan di koridor sebuah hotel dengan pasangan mereka masing-masing yang ironisnya bukanlah istri sah mereka.

Pak Anton masih tertawa senang, keinginan untuk memiliki anak muncul lagi dalam benaknya meski tidak menggebu-gebu seperti dulu. “Ah, Mister Budi bisa saja. Dua anak saja cukup. Apalagi Erlangga dan Lani sudah besar. Beda usia mereka pasti jauh kalau diberikan adik lagi. Lagipula istri saya sudah tidak mau punya anak lagi.”

Mister Budiono mendekatkan wajahnya ke arah Pak Anton, membisikkan sesuatu yang membuat pria itu terdiam dan tidak bisa menjawab.

“Istri ketiga saya sedang hamil muda. Cewek yang bapak lihat dulu itu juga sudah memberi saya dua anak. Kalau dijumlah, mungkin anak saya sudah lebih dari lima belas. Sampai-sampai saya bingung yang mana ibunya, yang mana anaknya siapa.” Mister Budiono menertawakan ucapannya sendiri, merasa lucu dengan leluconnya.

“Istri ketiga anda yang mana, Mister? Setahu saya anda hanya memiliki dua istri,” tanya Pak Satrio yang mengurusi langsung pembuatan akte nikah Mister Budiono tiga tahun silam.

Mister Budiono menepis tangannya di udara, “Ahh... Pak Satrio tidak tahu. Itu istri siri saya. Masih SMU, kalau sudah lulus baru saya nikahi resmi.”

Mereka tertawa lagi, namun Pak Anton diam, hanya dengusan dan pandangan tak senang yang dia berikan. Menyadari bila bukan hanya dirinya yang menjadi seorang pria berengsek di dunia ini.

Mereka kemudian berpisah pada pukul lima sore, Pak Anton yang merasa malas untuk kembali ke kantornya memilih pergi ke firma hukum palsu miliknya dan mengajak Lusy untuk makan malam. Satu jam berselang setelah makan malam itu, Pak Anton telah membawa Lusy ke sebuah hotel mewah di kawasan Jakarta Selatan. Dia khusus memesan kamar president suite yang telah lama tidak disewanya lagi, membangkitkan kenangan lama Pak Anton saat dulu menggemari hobinya sebelum satu per satu wanita yang dipeliharanya menghilang tanpa kabar.

“Kamu tahu kan kita mau ngapain di sini?” tanya Pak Anton pada Lusy yang duduk gugup di atas ranjang.

Lusy mengangguk, memandang ke sekeliling pada kamar yang begitu mewah. Di dalam hatinya, Lusy memang tertarik pada pria di hadapannya. Wajahnya yang tampan dengan gurat-gurat kedewasaan, alisnya yang tebal dan cambang yang terpelihara rapi memperlihatkan kemaskulinan seorang Pak Anton yang didambakan banyak wanita-wanita muda. Pak Anton adalah sosok laki-laki penyayang dan penuh perhatian pada wanita yang disukainya, dia akan memberikan apapun bagi wanita-wanita itu selain status pernikahan. Lusy menyadari hal itu namun tak pernah mampu untuk meninggalkan pria itu meskipun dia tahu tidak akan pernah ada masa depan yang jelas baginya.

“Bagus, kalau begitu, kita mandi dulu. kamu sudah menghubungi orang rumahmu? Apa katamu?” tanya Pak Anton dengan berkacak pinggang, memperlihatkan bentuk dada kokohnya yang terlihat di balik kemeja putihnya yang licin.

“Sudah, Om. Saya bilang mau nginep di rumah temen.”

Pak Anton tersenyum, senang dengan jawaban yang dia dengar. “Bagus. Kamu memang yang paling saya suka. Ayo, kita mandi sekarang.”

Pak Anton mengulurkan lengannya, membantu Lusy untuk melepaskan helai demi helai pakaiannya dengan malu-malu sampai tubuh mereka telanjang bulat dan terpantul dari cermin kamar mandi. Perlahan-lahan Pak Anton membasuh tubuh langsing itu dengan shower air hangat, menggosokan busa sabun yang tebal pada tubuh muda Lusy, sesekali meremas daerah yang dilewati oleh tangannya.

Dari belakang tubuhnya, Lusy dapat merasakan sebuah benda menyentuh pantatnya, begitu keras namun kenyal, dan jantung Lusy berdebar-debar kencang penuh antisipasi. Dia telah memimpikan hari dimana Pak Anton akan mengambil kesuciannya.

“Kamu enggak menyesal perawan kamu buat saya, Lusy?” tanya Pak Anton setelah mereka berbaring dengan posisi terlentang di atas ranjang, masing-masing dengan tubuh polos tanpa benang.

Pipi Lusy merona merah, tangannya begitu tegang di atas perutnya, “Iya, Om. Lusy tidak menyesal. Om boleh ambil kesucian Lusy.”

Pak Anton tersenyum, dia lalu menindihi tubuh Lusy dan mulai mengecup wajah gadis itu. “Gadis baik. Om suka kamu. Kamu enggak bakal sia-sia jadi cewek Om. Om akan bertanggungjawab kalau kamu hamil. Mengerti, Sayang?”

Lusy mengangguk, memejamkan matanya saat wajah Pak Anton mendekat, memagut bibirnya tanpa ampun dengan keahliannya menguasai bibir polos itu. Kedua tangan Lusy diangkatnya tinggi-tinggi, membawanya ke atas ranjang dan menciumi sekujur tubuh bagian atas Lusy. Gadis itu mengerang hebat, dia menikmati cumbuan Pak Anton pada tubuhnya, pasrah dengan keinginan mereka dan menyerahkan keperawanannya pada laki-laki yang diketahuinya telah beristri dan beranak, hanya demi cinta yang dianggapnya ada.

Lusy menangis setelah Pak Anton berhasil mengoyak keperawanannya, cairan putih telah memeuhi liang senggama wanita itu, kini dia berada dalam pelukan Pak Anton, masih dengan isakan tangis karena bagian intimnya terasa perih menyakitkan.

“Sakit banget, Om.” Tubuh Lusy mengkerut, mereka baru saja selesai bercinta sepuluh menit yang lalu, tubuh telanjangnya masih terpapar udara, organ intimnya masih meneteskan cairan kenikmatan Pak Anton dan bercakan darah perawannya yang terkoyak, mengotori bed cover di bawah mereka.

Pak Anton mengecup kening Lusy, membelai lembut rambut Lusy dan menghiburnya dengan kata-kata cinta yang mengalir lancar dari mulutnya, seolah kata-kata itu telah begitu biasa keluar dari mulutnya yang terampil.

“Enggak apa-apa, Sayang... Nanti juga enak. Nanti Om bikin enak, ya?”

Bibir Lusy merengut, dia tidak terlalu mempercayai Pak Anton tapi wanita itu juga tidak merasa dibohongi. Dengan manja Lusy merajuk, “Om bo’ong. Pasti sakit lagi.”

Senyum Pak Anton kembali mengiasi bibirnya, berhasil meredakan gejolak ketakutan dalam jiwa muda Lusy, “Enggak bohong. Sebentar lagi om buktikan kalau om enggak bohong. Lima menit lagi, ok?”

“Lima menit lagi, Om?” pekik Lusy kaget.

“Iya, kamu enggak lihat dia sudah bangun?”

Lusy menoleh ke arah selangkangan Pak Anton, memperhatikan bagaimana benda yang tadi keluar masuk tubuhnya kembali membesar dan tegak, tubuhnya pun merinding membayangkan benda itu akan kembali menghajarnya.

“Takut, Om...”

“Jangan takut, Om enggak akan nyakitin kamu.” Pak Anton merangkum wajah Lusy dengan sebelah tangannya, mengecup pelan bibirnya dan kembali berujar, “Kamu percaya sama Om, kan?”


Mau tak mau Lusy terpaksa mengangguk. Dia percaya pada Pak Anton, seperti bagaimana dia percaya malam akan tergantikan dengan pagi. Begitulah mereka menghabiskan malam itu di dalam kamar hotel, isakan tangis yang awalnya mewarnai ruangan presiden suite itu akhirnya tergantikan oleh erangan kenikmatan yang keluar dari mulut Lusy ketika matahari menerbitkan sinarnya di ufuk timur. 


13 comments:

  1. oh noooo akhirnya lusy di jebol juga sama si om >,<

    ada apa dengan erlangga? jngan2 dia udah tau lagi kegiatan rahasia si om >,<

    ReplyDelete
  2. Ak schelin kak. Hohoho.
    Ak jujur bngung dgn gmna endingnya.. Apa si lusy jd ska erlangga, ato ntar si bkapnya erlangga kapok... Lanjut trs kak smpe abis... Msh pnsran sma ending dn jlan crtanya. Hohoho

    ReplyDelete
  3. Kalau lusi sampai jadi sama erlangga sungguh aq tidak rela. Bpknya erlangga bikin lumpuh aja dech, sebel ngeliatnya

    ReplyDelete
  4. Aku jg gak setuju erlangga sm lusi, bekas bapaknya masak -_-
    Tengsin entar emak erlangga tau mantunya dulu ada main sm suaminya

    ReplyDelete
  5. ish.. om om ini ya. udah tua pun! si lusy ini pun mau aja sama om2 yg mungkin seusia babe nya -.-"
    ck! keseeel
    #heheesmosi jadinya
    thank you mbak shin. . tetap semangat nulis yaa..

    ReplyDelete
  6. komenku kok gk bisa ter post yaa? hiks. yoweslah. pake anonim saja..

    april ardy here_

    ReplyDelete
  7. iiiih semoga si anton dapat karma secepatnya....najis bgt si tua bangka ini,, pokoknya erlangga gak boleh dgn lusy,enak bgt si lusy udah jadi pelacurnya si anton malah dan pengen dijadiin dgn erlangga AKU GAK SETUJU...

    Si lusy juga,dia mah bukan polos tapi memang udah ganjen,kegatelan...

    #Maaf emosi


    by Dewi Natalia

    ReplyDelete
  8. Aish pada emosi
    tp p anton hebat yaa..bs lsg 'bangun' lagi

    ReplyDelete
  9. sebel banget aku sama pak anton ....
    erlangga kasihan baget thor :( ...
    pk anton gak inget istri ama ank apa sebel tau , kenapa harus gitu coba ?, sangking gak pernah merhatiin anknya(erlangga) jadi gak tau deh kalo erlangga berubah
    thor bikin pak anton nyesel-senyesel nyeselnya thor biyar dia tau gimana sakitnya udah hianatin keluarga sendiri ...
    thor itu kapan istri sama adiknya erlangga tau pengen tau reaksinya , penasaran .
    aku gak rela kalo lusy ketemu erlangga, kalo bisa lusy & cewexx simpenan anton di gerebek masa ajah sekalian biyar tau rasa & gak ganjen lagi.
    semoga erlangga dapet cewe yang baik yah thor amin :)
    buat erlangga sabar yah
    thor kasihan bgt yah jadi erlangga .......

    ceritanya keren thor tapi kasihan erlangga , semangat 45 thor buat lanjut crtanya :)

    ReplyDelete
  10. Wah ktinggalan nch, izin blik lgi dch...

    ReplyDelete
  11. erlangga berubah? apa erlangga udah tau gelagat bapaknya kali yah?

    ReplyDelete
  12. Omooooo
    Esmosi tingkat dewa sma si bapak tua bangkotan gtw dri..
    Kckck

    ReplyDelete
  13. Anu, kok om anton gak kena penyakit kelamin? Kan dia suka gitu2 sama sembarang perempuan ._. Dan di cerita ini omnya gak pake kondom ._.
    Pesan dari kisah ini adalah: di dunia ini banyak perempuan yg dapat 'dibeli' dengan uang. Kalau khusus untuk wanitanya: janganlah kau percaya dgn om-om kaya (?) .___. /dia anak dibawah umur/

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.