"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, February 14, 2014

Goresan Pilu Kalbuku oleh Zia Zinia


Goresan Pilu Kalbuku
By Zia Zinia

Cinta….
Lima huruf yang sederhana namun dapat menjungkir balikkan dunia…
Lima susunan huruf sederhana namun dapat memporak-porandakan hati dan jiwa manusia…

Cinta…
Sebuah kata yang selalu membuat manusia merasa senang, sedih, bahagia, marah dan kecewa…
Sebuah kata yang diagungkan dan dielu-elukan oleh semua manusia.

Cinta…
Yang bagi sebagian orang adalah hal terpenting dalam hidup…
Namun bagi sebagian orang tak lebih dari susunan lima huruf dan sebuah permainan…


Haruskah aku percaya cinta?
Ketika semua fakta menunjukkan bahwa lawan jenisku memandangku tak lebih hanya sebagai objek pemuas nafsu mereka
Ketika semua kepercayaanku dihancurkan dalam hitungan detik ah bukan kurasa lebih cepat dari detik

Ketika semuanya harus berakhir, akankah hatiku dapat percaya kembali,

Seorang teman pernah menegurku, “kamu terlalu cepat menaruh hatimu kepada laki-laki. Makanya kamu akan selalu sakit hati. Dan oleh karena itu pula setiap laki-laki akan mudah mempermainkan hatimu.”

Saat itu aku tak pernah mengindahkan kata-katanya. Bagiku semua yang terjadi  terlalu indah untuk berpikir jika laki-laki sebaik dia mempermainkanku. Manalah mungkin laki-laki sebaik dirinya tega mempermainkan seorang perempuan.

Butakah aku?

YA. Aku telah dibutakan dengan sikap manisnya, kata-kata lembutnya, semua perhatian kecil yang diberikannya padaku. Padahal ada beberapa hal yang menunjukkan jika aku “BUKAN APA-APA” dan “BUKAN SIAPA-SIAPA”. Tapi aku tetap menutup mata dan hatiku. Tak ingin mempercayai jika dia bisa tega melakukan itu semua.

Baginya…

Aku hanyalah seorang teman yang tatkala dia bersedih berada di sisinya. Tatkala dia membutuhkan sebuah penopang, aku akan menjadi sebuah tongkat untuknya. Tatkala dia kesal, aku bersedia mendengarkannya. Tatkala dia tak bisa tidur, aku menemaninya.

Dia, dia, dia dan dia…. Hanya dia yang ada di pikiranku saat itu.

Tapi apa yang ada di pikirannya? Akukah? Atau wanita lain yang mampu membuatnya nyaman, yang mampu membuatnya tersenyum….

Tapi bukankah di awal kedekatan kami, dia selalu mengatakan tak ingin berhenti untuk saling memberi kabar. Tak sanggup jika sehari saja tak mendengar kabar dariku. Tak ada satupun yang sama denganku.  Selalu saja mengucapkan kata rindu.

Ketika pagi menjelangpun dia selalu menyapaku walau hanya dengan sebuah panggilan atau sebuah sapaan. Ketika pagi menjelang, dia selalu dapat membuatku tersenyum dengan segala tingkah lakunya.

Kemana dia yang dulu?

Apa semua yang dikatakan hanyalah setumpuk janji manis yang tak berharga. Semua perkataannya hanyalah angin lalu yang dapat dilupakan dengan mudah. Semua perhatiannya hanyalah topeng yang sewaktu-waktu bisa ditanggalkan begitu saja ketika semuanya telah dirasakannya cukup.

Apa yang terjadi? Apa salahku? Sudah bosankah dia padaku?

Jika memang dia sudah bosan harusnya aku dapat melangkah pergi bukan? Tapi mengapa rasanya sulit sekali, Tuhan.

Jika memang aku tak ada lagi berarti bukankah sebaiknya aku lari meninggalkannya? Tapi mengapa hati ini tak rela, Tuhan.

Sudah tak tahu malukah aku? Kemana harga diriku sebagai seorang wanita?

Mungkin memang di matanya aku bukan wanita baik-baik yang pantas dia hargai, hormati dan sayangi dengan sepenuh hati. Aku hanyalah seorang wanita yang tak mempunyai harga diri.

Aku tak pernah lebih dari seorang wanita yang dengan mudah didapatkannya dengan sedikit rayuan dan kata-kata manis. Setelah didapatkan, apa yang dilakukannya? Mempermainkan sedikit demi sedikit hingga puas. Setelah dia puas, letakkan atau buang saja aku seperti seonggok sampah yang tak berarti. Tinggalkan aku di belakang, campakkan aku. Aku hanyalah sebuah kenangan masa lalu yang tak berharga, yang tak patut diberi ruang di hatinya. Itu mungkin yang ada di pikirannya.

Dapatkah sepenuhnya aku menyalahkannya? TIDAK….

Karena seperti temanku bilang, aku terlalu mudah untuk percaya dan jatuh cinta pada seorang pria. Jadi tak terhitung sudah berapa banyak laki-laki yang singgah, menikmati segala yang mereka inginkan. Setelah puas, tinggalkan. Jangan pernah melihatku lagi. Bagi mereka aku hanyalah sebuah pelabuhan kecil yang bahkan tak pantas untuk diingat dalam pikiran mereka. Aku hanyalah seorang wanita kesepian yang bahkan tak perlu ditorehkan namanya di hati mereka.

Entah apa salah dan dosaku pada mereka? Mungkin di kehidupan yang lalu, aku seorang playgirl. Sehingga di kehidupan kini aku harus membayarnya. Jika memang itu benar, TUHAN, hamba mohon kuatkan hati hamba. Jangan biarkan airmata hamba jatuh di hadapan mereka. Bantu hamba dalam menghadapi semuanya. Karena hamba yakin hanya ENGKAU lah yang takkan pernah mengkhianti hamba, yang akan selalu menjadi penolong hamba, yang bisa menguatkan hamba.

Masih percayakah aku akan cinta? Entahlah. Rasanya sulit aku mempercayainya.
Masih percayakah aku jika seseorang yang tepat akan datang suatu saat nanti? Aku tak tahu. Rasanya sudah hilang kepercayaanku.

Fisikku boleh sehat, tersenyum manis dan tertawa bahagia di hadapan semua orang. Namun hatiku sudah penuh luka, sudah tak bisa diperbaiki atau diobati.

Cinta…
Takkan pernah kudapatkan dengan tulus ikhlas tanpa ada rasa sakit…


Cinta dan sakit sebuah paket yang tak kan mungkin lagi mampu aku hadapi…

No comments:

Post a Comment

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.