"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Monday, February 24, 2014

Not So Tough Lady - Part 15


Bren masih bergelung di dalam selimutnya ketika adik laki-lakinya yang berusia sebelas tahun membangunkannya. Bocah kelas lima SD itu menarik selimut kakaknya dan ikut berbaring di atas ranjang, dia mengecup pipi Bren dan mengucapkan selamat pagi untuknya.

“Pagi, Kak!”

Bren menggeliat demi mendengar suara adiknya di telinga, dengan malas dia melirik jam di dinding, pukul sebelas siang dan dia merasa badannya masih pegal, masih membutuhkan lebih banyak tidur yang nyenyak. Diapun menarik selimutnya lagi sambil mengigau tak jelas pada adiknya.

“Hm... wagii...” Dia tertidur lagi, dengkuran halusnya telah terdengar tak lama kemudian.


Karena gemas, Rio, Sang Adik akhirnya menduduki Bren dan menghentak-hentakkan tubuhnya di atas kakaknya. Pria muda itu akhirnya terbangun dengan sebal walaupun dia tak mungkin memarahi adiknya. Bren menyayangi keluarganya.

“Ada apa? Niat banget banguninnya?” dengus Bren sambil menguap. Dia menarik baju kaosnya yang tersampir di atas kursi meja belajarnya, mengenakannya dan duduk di kepala ranjang, menunggu adiknya menjelaskan apa yang dia inginkan.

“Ye... kan ini minggu. Kak Bren sudah janji kan mau ngajak jalan-jalan,” tuntut Rio dengan mata berbinar-binar.

Bren memang berjanji akan mengajak adik-adiknya berbelanja bila dia telah kembali ke Indonesia. Dengan gaji yang baru didapatnya, Bren sanggup memberikan sedikit kesenangan untuk keluarganya. Senin esok, dia akan mengurus sisa hutang milik ayahnya di Bank dan menyelesaikan semua kepelikan permasalahan hidup mereka. Walau tak ingin diakuinya, pekerjaan yang dia ambil sangat membantu kehidupannya. Meski itu berarti mengorbankan harga diri dan perasaannya.

Magdalena...

Nama wanita itu kembali terngiang dalam ingatannya, secuil rasa sakit mencubit relung hati Bren. Wajahnya yang tadinya ceria kini tersenyum ironis, bagaimana dia merasa tak bisa menghilangkan pikirannya dari Si Nyonya Besar yang telah mencuri hatinya. Perasaan ini salah dan Bren tak ingin mengingat-ingatnya lagi.

Tapi itu sulit, dia datang sekali dan tak ingin pergi. Apa yang harus kulakukan?

“Kamu sudah mandi emang?” tanya Bren pada adiknya. Mereka keluar dari kamar menuju dapur dimana ibu mereka sedang merapikan piring-piring dari atas meja makan, hanya menyisakan satu buah piring untuk Bren menyantap sarapan paginya.

“Sudah donk. Emangnya Kak Bren, kayak Kebo! Bangunnya siang!!” ledek Rio yang langsung masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian.

Bren hanya meringis sebal, kesempatan bercanda dengan adiknya memang sangat jarang, terlebih dia baru saja pulang dari pekerjaan yang mengharuskan dia berada di luar rumah untuk waktu yang lama. Kesempatan untuk berkumpul lagi dengan keluarganya telah dia nanti-nanti, liburan selama seminggu ini akan dia manfaatkan sebaik-baiknya.

“Pagi, Bu,” sapa Bren pada ibunya. Dia mengecup pipi wanita paruh baya yang kini tersenyum dengan ramah, menatap penuh bangga pada putra yang dia harapkan, putra yang telah menjadi penopang hidup keluarga mereka.

“Sarapan dulu,” angguk ibunya. Menunjuk pada meja yang telah disiapkan sepiring nasi goreng hangat buatan Sang Ibu untuknya.

Pelukan untuk ibunya menjadi salah satu kebutuhan yang diperlukan Bren, terlebih dia telah lama berada di luar, memeluk ibunya memberikan Bren kekuatan baru untuk menghadapi hidup mereka dengan semangat baru, pantang menyerah. Rasa gundah kadang menghampirinya bila terpikirkan kembali rintangan-rintangan apa yang dia dapat agar kehidupan mereka kembali seperti dulu. Rasa tanggung jawab Bren yang tinggi membuatnya menyembunyikan semua kesusahannya dalam hati dan tak mau memberitahukan keluarganya, sebuah pelukan hangat dari ibunya cukup bagi Bren untuk menata kembali hatinya, bahwa apa yang dia perjuangkan selama ini tidak sia-sia. Untuk merekalah dia berjuang, untuk merekalah dia berkorban.

“Aku menyayangimu, Bu,” kecup Bren pada puncak kepala ibunya.

Wanita tua itu berkaca-kaca matanya saat menepuk punggung anaknya penuh haru. Ibunya tahu apa yang telah dialami Bren semenjak kematian ayahnya. Bagaimana orang-orang menghina mereka, menjatuhkan harga diri keluarga mereka dan tak ada satu orangpun yang bersedia membantu. Hidup mereka terlunta-lunta, penghinaan dari orang-orang merupakan santapan sehari-hari bagi Bren, dialah yang menjadi perisai bagi keluarganya, dialah yang paling menderita dari semua akibat perbuatan ayahnya dulu.

Untuk mempertahankan perusahaannya, ayah Bren terpaksa berhutang pada teman-temannya, keluarga, sahabat, hingga tetangga. Pada mulanya mereka begitu baik dan bersedia membantu meminjamkan uang tanpa syarat apapun. Ayah Bren adalah pria jujur namun karena tekanan ekonomi, jadwal pembayaran hutang perusahaan dimajukan, dia harus berusaha mencari dana tambahan yang tidak sedikit untuk menutupi hutang itu. PHK pun menjadi salah satu jalan keluar, meminjam dari Bank dengan menggadaikan semua harta kekayaan keluarga, namun itu belum cukup.

Para pemberi pinjaman akhirnya mendengar mengenai kemungkinan bangkrutnya perusahaan mereka, hingga akhirnya satu per satu meragukan kekuatan ayah Bren untuk melunasi hutang itu. Seandainya mereka tidak menagih juga, mungkin perusahaan itu masih bisa dipertahankan, mungkin ayah Bren masih hidup dan mungkin mereka tak perlu merasakan bagaimana pahitnya hidup dengan penghinaan yang tak seharusnya mereka rasakan.

Bren mengusap air mata yang terjatuh di pipi ibunya, sama-sama mengerti kemana arah pikiran mereka. Bren bersyukur dia masih memiliki seorang ibu yang menjadi panutannya, menjadi pendorong semangatnya agar tidak menyerah, agar selalu berusaha walaupun dia harus berkorban harga diri dan perasaannya.

Dia rela, untuk mereka.

“Ibu... Sedikit lagi, kita akan kembali seperti dulu. Aku akan membeli rumah kita lagi. Kita akan tinggal di sana lagi, semua akan kembali baik. Aku berjanji, akan kukembalikan kehormatan keluarga kita. Tolong terus doakan anakmu ini, aku membutuhkannya,” kata Bren pelan.

Dikecupnya pipi ibunya lagi, mengusap pipi keriputnya dan mencoba menampilkan senyumnya agar Sang Ibu ikut tersenyum. Matahari pagi akan mereka jelang, masa depan yang cerah akan mereka raih. Semua akan kembali baik.

“Ya... Doa ibu selalu menyertaimu, Nak. Kamu baik-baiklah, jagalah dirimu. Ibu tahu kamu sudah berkorban segalanya. Ayahmu pasti bangga, dia pasti bisa tenang sekarang.”

Mereka berpelukan beberapa saat sebelum akhirnya Ibu Maria meminta anaknya duduk dan menikmati sarapannya.

“Ayo, dimakan dulu. Adik-adikmu sudah tidak sabar, mau naik mobil baru katanya.” Ibu Maria tertawa geli.

Bren tersenyum lemah, menyadari sebuah mobil Mercedes Benz baru telah terparkir dengan rapi di dalam garasi mobil khusus untuknya, mobil yang juga adalah hadiah yang diberikan Magdalena sebagai bonus karena pekerjaan yang dia lakukan memuaskan.

Setidaknya itulah yang dikatakan oleh Mr. Thomasson padanya saat menerima cek gajinya kemarin sore. Bren merasa tak berdaya karena seolah-olah dia memanfaatkan Magdalena untuk mendapatkan benda-benda mewah yang tak akan pernah sanggup dia beli dengan pekerjaannya sekarang. Bahkan untuk bermimpi pun Bren tak pernah.

“Iya, mereka pasti sangat senang.”

Demi kebahagiaan adik-adiknya, Bren rela mengerjakan pekerjaan ini. Dia meyakinkan dirinya bahwa pekerjaan yang dia ambil bukanlah pekerjaan rendah. Dia tak pernah meminta apapun dari Magdalena, semua hak dan kewajibannya telah tertulis di dalam kontrak yang mereka sepakati. Apapun yang Magdalena berikan padanya adalah murni karena wanita itu puas dengan pekerjaannya.

Namun mengapa Bren tak dapat menelan makanannya dengan mudah? Rasa sesak di dada karena merasa begitu hina membuat tenggorokannya panas. Bren tak ingin Magdalena memandangnya sebagai seorang gigolo, atau apapun istilah yang mungkin diberikan oleh teman-teman sekantornya mengenai profesi barunya, sebagai asisten Magdalena yang sekarang lebih dikenal dengan posisi sebagai tunangan pemilik Stuart ltd.

Dia menelan nasi di mulutnya dengan terpaksa, mengunyah tanpa semangat dan meletakkan sendok garpu walaupun masih tersisa sebagian makanan di piring. Ibunya bertanya namun Bren hanya mengecup pipinya dan berlalu ke dalam kamar. Dia bergegas membersihkan tubuhnya di bawah guyuran air dingin untuk mengenyahkan segala pikiran buruk dan penyesalan yang mulai menjamah hatinya.

“Aku harus kuat. Demi keluargaku!” ujarnya pada dirinya di dalam cermin.

Bren mengajak adik-adiknya berbelanja ke mall, membelikan mereka beberapa pakaian baru dan alat-alat sekolah. Adiknya Ashanti juga membeli pernak-pernik wanita yang hanya digelengi kepala oleh Bren, remaja lima belas tahun itu tersenyum malu-malu saat mencoba peralatan kecantikan di depan cermin.

Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul lima sore, merekapun masuk ke sebuah rumah makan yang dulu biasa mereka masuki saat ayah mereka masih hidup. Mengenang kembali masa-masa dimana kebahagiaan adalah anugerah dan kesusahan bukanlah masalah.

“Ibu tadi nitip apa saja?” tanya Bren pada Ashanti.

Adiknya langsung mendiktekan pesanan ibunya yang membuat Bren tersenyum. Sejak dulu, Ibu Maria hanya senang dengan makanan itu bila mereka makan malam di rumah makan ini. Kenangan masa lalu saat keluarga mereka masih lengkap membuat Bren menyadari semua pengorbanannya berarti. Dia ikut bahagia melihat senyum di wajah adik-adiknya, mereka tak pernah menuntut, mereka mengerti bahwa hidup memang sulit. Dan seketika Bren ingin membawa mereka dalam pelukannya, menarik udara sebanyak-banyaknya dan berdoa kepada Tuhan, kepada Ayahnya, bahwa mereka akan baik-baik saja.

“Aku menyayangi kalian, Shanti, Rio.”

Pelukan mereka semakin erat, mata berkaca-kaca namun perasaan lega yang hinggap dalam dada mereka tak akan dapat tergantikan meski oleh harta berlimpah yang dulu pernah mereka miliki.  



3 comments:

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.