"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, March 5, 2014

Kontrak Dengan Iblis - SHORT STORY


Cerpen ini saya dedikasikan untuk Rosita Amalani, semoga mampu menghibur. Selamat membaca :)

Masih bisa kurasakan sakitnya penolakan yang kau berikan. Dada tersengat, perih, bahkan malu yang kurasakan mengerogoti relung-relung tenggorokanku. Tanpa kata, kau meninggalkanku termangu seolah tak berharga. Wajahmu datar tanpa ekspresi, seolah apa yang kukatakan selama lima menit tak ada artinya bagimu. Hatimu keras bagai karang, namun bahkan karang lautan pun bisa tergerus, terkikis oleh kegigihan ombak di laut.

Mengapa hatimu lebih keras dari itu?

Tanpa daya kurapikan kembali proposal yang telah kukerjakan selama tiga bulan lamanya dengan mengorbankan waktu tidurku yang berharga, waktu yang begitu langka hingga menguras emosi dan tekad yang tadinya menggebu-gebu. Semua daya upaya kukerahkan, mencari cara dan sumber informasi untuk melengkapi proposal itu. Tiada guna, terbuang begitu saja, bahkan dalam hitungan detik. Tersentuh hanya di permukaan, tak ingin kau sibak isinya dengan tanganmu.


Proposal itu kini teronggok di atas meja kerjaku, dengan lelah kuhempaskan tubuhku di kursi, menyesali bulan-bulan yang berharga kini sia-sia. Lima bulan lamanya sudah aku bertahan di perusahaan ini demi masa depan yang lebih baik. Semuanya rela kulakukan, berada di bawah tekanan dan tatapan tak berharga yang kau layangkan untukku.

Setiap kali matamu menatapku tajam, aku merasa begitu kerdil. Setiap yang kulakukan menjadi salah di matamu. Tanpa kata, kau sanggup membuatku merasa kurang, merasa tak berharga, hanya dengan sorot matamu itu.

Kuhembuskan nafas keras, melirik jam tangan di pergelangan kiriku, masih lima jam lagi sebelum waktunya pulang. Kau masih bisa memanggilku selama itu dan merendahkan harga diriku lagi dengan tatapan mata dinginmu.

“Ahhhh....” keluhku lelah. Memandang ke sekeliling, pada karyawan lain yang bekerja dengan tekun, tak sedikitpun memiliki paras menyedihkan seperti wajahku. Mereka terlihat bahagia dengan pekerjaan mereka.

Apakah hanya aku yang paling bodoh di sini? Sehingga mengerjakan pekerjaan semudah ini perlu tiga bulan lamanya bagiku untuk menyusunnya, dan gagal!

Tak sedikit dari pegawai di sini lulusan sarjana, baik lulusan dalam ataupun luar negeri. Mereka semua bekerja lebih dari setahun di tempat ini dan merasa betah. Mereka tak mengambil pusing kata-katamu, atau mungkin... akulah yang terlalu memasukkan ke dalam hati setiap kata-kata yang keluar dari mulutmu.

Mungkin aku terlalu perasa, atau lebih tepatnya besar kepala?

Kau tak pernah memerintahkan mereka seperti layaknya kau memerintahkan tugas-tugas itu padaku. Kau juga tak pernah memberi ucapan tajam mematikan pada salah satu dari mereka di depan seluruh karyawan. Tapi aku... dengan sengaja kau meninggikan nada suaramu hanya untuk meneriakkan namaku dan membuat seluruh pegawai menggunjingkan diriku, sepertinya aku baru saja melakukan perbuatan terburuk padamu atau pada perusahaanmu.

Bila memanggilku, kau hanya membiarkanku begitu saja berdiri di samping mejamu, menunggu instruksi darimu. Selama setengah jam lamanya aku berdiri bagai patung, kau tak mengizinkanku duduk, atau berbicara, atau melakukan hal lain yang lebih produktif. Hanya seperti itu, berdiri dengan mata menoleh ke sana kemari, selain ke tempat kau duduk mencoretkan penamu di atas kertas, atau mengetikkan kalimat demi kalimat dalam laptopmu. Kau membuatku mendengarkan celotehanmu di telephone, seolah aku tak ada di sana di sampingmu.

Pernah suatu hari kau menerima telephone dari seorang wanita, pacarmu kah itu? Kau membuatku mendengarkan kata-kata menjijikan yang kau perbincangkan dengannya. Semua kata-kata pujian dan menjijikkan itu keluar dengan lancar dari mulutmu, tawamu bahkan sungguh memuakkan, membuatku ingin muntah seketika. Kebencianku padamu perlahan semakin subur.

Tak seharusnya aku memiliki perasaan seperti itu padamu, walaupun kau menjengkelkan, namun kau membuatku lebih baik dalam pekerjaanku hari demi hari. Caramu kasar, setidaknya padaku. Kata-katamu pendek namun menusuk. Sorot mata penghinaan dari mata dinginmu tak pernah luput bila kita bertatapan. Entah apa salahku padamu.

Satu hal yang tak pernah kupahami... dengan semua keburukanmu di depanku, mengapa kau begitu baik pada orang lain? Aku tak pernah merencakan atau sengaja untuk mengikutimu sepulang kerja. Melihatmu membantu ibu-ibu menyeberang jalan telah memuntahkan semua kesangsianku akan dirimu. Senyum yang terpancar dari wajahmu begitu tulus untuk ibu malang itu. Kau bahkan membantunya mengangkati barang-barangnya ke dalam mobil angkutan yang dinaiki oleh si ibu.

Aku tak sanggup berkata-kata. Bahkan mataku tak bisa kupercayai saat itu.

Benarkah itu kau? Mungkinkah itu kau? Seorang Bos berengsek sepertimu bisa berbuat semulia itu? Aku tak percaya... ingin tak percaya, tapi bayangan dirimu tersenyum tulus selalu melintas di mataku. Ah... kau membuatku bingung.

Sejak hari itu, penerimaanku akan semua perlakuanmu padaku, berubah. Aku tak pernah merasa jengkel lagi, well... mungkin sedikit. Bayangan kau dengan senyummu mampu membuatku tersenyum setelah satu hari yang melelahkan bersamamu.

Ahhh....  Entahlah... apa mungkin benci bisa jadi kagum?

Kau tahu? Suatu hari, pernah dengan sengaja aku mengikuti laju kendaraanmu dengan menyewa sebuah taksi yang kebetulan disopiri oleh pamanku. Beliau hanya tertawa mendengar permintaanku yang aneh. Ya... mengikuti mobil atasanku melaju dengan kencang membelah jalanan sepi, ramai bahkan macet. Pun, saat mobilmu masuk ke dalam pom bensin, aku mengintip dari pinggiran jalan raya.

Kau turun dari mobilmu, menyerahkan sejumlah uang pada petugas dan sekali lagi... senyummu yang menawan itu menambat hatiku.

Dengan mudah kau berbincang-bincang dengan petugas pom bensin itu. Tertawa riang, membicarakan hal-hal ringan sekedar basa-basimu menghabiskan waktu sebelum tangki bensin mobilmu terisi penuh. Tak lupa kau mengucapkan salam pada petugas itu dan berlalu dari sana.

Aku tak mengikuti mobilmu lagi, cukup sudah aku membuntutimu tanpa alasan jelas.

Kau tahu? Setibaku di rumahku, hatiku semakin jatuh dalam kesedihan. Membandingkan perlakuan yang kudapatkan darimu, dengan perlakuan yang kau berikan pada orang lain, selain diriku. Hanya satu kesimpulan yang bisa kudapatkan, kau... entah apapun alasanmu... kau membenciku, dengan sangat.

Hari ini, aku menaiki angkutan itu dengan sedikit rasa percaya diri yang kukumpulkan dengan susah payah. Hari ini adalah hari terakhir aku bisa menerima semua tatapan sinismu dan mendapatkan jawaban dari pertanyaanku. Walau mungkin kau akan memecatku, aku tak perduli. Lebih baik mencari pekerjaan lain daripada menahan sakit dalam hati olehmu. Karena aku takut, sakit hati ini akan semakin dalam bila aku semakin mengagumi dirimu. Rasa kagum yang kutakutkan berubah menjadi pengharapan dan cinta.... Kau memang kejam, namun, kau bisa dicintai.

Tepat sebelum jam di dinding kantor menunjukkan waktunya untuk pulang, aku memberanikan diri mengetuk pelan pintu kantormu. Membuka pintu itu, mataku langsung berhadapan dengan sepasang mata dingin milikmu, menyorot tanpa ampun, tajam dan menusuk.

“Permisi, Pak.”

“Hmm....” hanya itu jawaban yang keluar dari mulutmu.

Akupun melangkah ke mejamu. Kau dengan kemeja putih yang digulung ke atas pada bagian lengannya, dasi yang sedikit kendur ikatannya dari lehermu, kancing atas kemejamu yang tak terpasang... tak pernah aku menyaksikan ada pria setampan dirimu sebelumnya.

Dengan wajah kakumu, alis hitam tebal sempurna, bahkan hidung mancungmu melengkapi ketampanan dirimu. Kulitmu bersih, rambutmu ikal tercukur rapi, bibir itu... yang selalu mengucapkan kata-kata tak termaafkan, mengapa bisa seindah itu.

Kau... adalah iblis berkulit malaikat. Mungkinkah itu...?

“Apa kau akan diam di sana dan melihatku bekerja? Tak ingin bekerja lagi?” tanyamu dengan nada tajam tanpa mengalihkan pandanganmu dari layar laptopmu.

“Ti...tidak, Pak. Saya... ingin menanyakan sesuatu.”

Kau menghentikan coretanmu dari kertas putih di depanmu, menatapku penuh minat dan bersedekap seperti biasa, menunjukkan kekuasaanmu di hadapanku.

“Apakah kau ingin kenaikan gaji? Untuk proposal sampah itu?” sudut bibirmu tertarik ke atas, begitu sinis.

Kutarik nafas dalam-dalam, aku tahu akan seperti ini, namun rasanya tetap menyakitkan. Tak bisakah kau memperbaiki sedikit saja caramu berucap padaku? Bukannya aku meminta banyak, kan?

“Bukan, Pak. Ini tidak ada hubungannya dengan gaji, saya cukup dengan gaji yang saya dapatkan.”

Kuakui... bekerja sebagai pegawai magang di perusahaan inipun... penghasilan yang kudapatkan lebih dari cukup untuk hidupku yang sederhana.

Aku hanyalah seorang yatim piatu yang berusaha mendapatkan kehidupan yang lebih baik setelah keluar dari rumah asuhan yang kutempati selama delapan belas tahun hidupku. Kini usiaku dua puluh dua tahun, hanya mengikuti kursus dan kuliah diploma, aku bersyukur bisa bekerja di tempat ini, perusahaan perindustrian yang bergerak di bidang penambangan mineral dan minyak bumi. Tanpa orang tua kandung yang menyayangiku, bahkan nama mereka pun aku tak tahu. Seseorang meletakkan buntalan yang berisi tubuh mungilku di depan rumah asuhan saat usiaku baru beberapa hari.

Aku tak pernah menyesali kelahiranku, ataupun kehidupanku yang penuh kemalangan. Dihina, dimaki, dianggap tak berharga... walau seumur hidup... akan kuterima dengan lapang dada. Aku hanya perlu mengetahui alasan di balik semua penghinaan itu, setidaknya dengan mengetahuinya, aku bisa memperbaiki diriku bila memang itu perlu diperbaiki.

Kau tak bergeming dengan jawabanku, wajahmu masih datar menatapku. Kau menungguku melanjutkan pernyataanku.

“Saya ingin tahu, mengapa anda begitu keras pada saya?” tanyaku akhirnya.

Bisa kulihat sedikit riak dalam bola mata hitammu. Kau kaget aku akan bertanya itu? Kau tak pernah menyangkanya? Sadarkah kau bila kau telah memperlakukanku dengan tak adil?

Sengajakah kau...?

“Siapa namamu?” tanyamu setelah semenit lamanya yang kurasa bagai seabad. Tanganmu yang tadinya bersedekap kini berada di atas meja kerjamu, keduanya kini bertautan, bersiap untuk memberikan ceramah lain padaku.

“Rosita, nama saya Rosita.”

“Usiamu?”

“Dua puluh dua tahun, Pak. Tapi apa hubungannya dengan pertanyaan saya tadi?”

Kau mengangkat tangan kananmu, mencegahku untuk melanjutkan pertanyaanku. Kini kau berdiri, dengan pelan kau melingkari meja kerjamu, mencariku.

Bulu tengkukku meremang, seolah terintimidasi oleh gerakanmu di belakang tubuhku. Aku tahu kau hanya diam mematung di belakang tubuhku, membuatku ikut tegang dan tak bisa bergerak, bahkan bernafaspun rasanya sulit.

Jantungku berdebar tak karuan saat merasakan desah hangat nafasmu di samping telingaku. Bisikmu pelan, “Kau ingin tahu mengapa aku begitu kasar padamu? Memperlakukanmu seolah tak berharga? Menghina dina dirimu dan memperlakukanmu tak adil?”

Aku menelan ludahku, telapak tanganku berkeringat. Aku gugup. Dengan gagu aku mengangguk kencang, “Ya, saya ingin tahu,” jawabku.

Bisa kurasakan sudut bibirmu tertarik membentuk sebuah senyuman licik, entah mengapa rambut-rambut halus di tubuhku meremang. Sang Iblis ingin menampakan dirinya, kah?

“Kau masih punya tujuh bulan lagi untuk mengetahui jawabannya... saat kontrakmu denganku habis. Sementara itu... nikmati saja. Kau beruntung karena aku yang menjadi atasanmu.”

Dia lalu beranjak kembali ke kursinya, mengangkat kedua kakinya ke atas meja dan dengan senyum jahil yang pertama kali kulihat sejak bekerja bersamanya, dia memintaku untuk keluar dari kantornya. Sesi tanya jawab telah usai.

Seperti ini saja kah? Hanya seperti itu jawaban yang dia berikan?

Ingin kutanyakan lagi, namun dia telah memalingkan wajahnya, sengaja menghindar dan tenggelam lagi dalam pekerjaannya. Tak ada pilihan lain untukku selain keluar dari ruangan ini. Aku akan mundur... untuk hari ini. Esok... aku akan kembali.

Menutup pintu di belakangku, masih ada satu hal yang bisa kusyukuri. Aku tidak dipecat... dan itu cukup untuk membuat sisa hariku berjalan mulus tanpa masalah.

Dewantara Ardiyanto... akan kubuat kau mengatakan alasanmu padaku. Akupun tersenyum sambil melenggang pergi dari ruangan ini. Setidaknya... kau memiliki alasannya, kan? Akan kuhadapi semua halangan dan rintangan yang kau berikan. Akan kutunjukkan padamu, aku tak serendah yang kau kira. Aku tak sehina yang kau bayangkan.

~*~*~*~

Pintu itu tertutup pelan, Presiden Direktur yang baru saja acuh tak acuh pada Rosinta mengalihkan pandangannya dari laptopnya menuju pintu yang baru saja tertutup. Dia merebahkan punggungnya ke atas sandaran kursi kerjanya. Kedua tangannya menumpu kepalanya, sebuah senyum tersungging di bibir.

“Maaf... aku belum bisa mengatakannya sekarang. Kau... harus mengalami semua itu. Karena setelahnya, banyak hal-hal yang lebih menyakitkan akan kau lalui bila akhirnya aku memutuskan membawamu ke dalam keluargaku. Bersabarlah... selama kau menjadi dirimu, maka aku akan tetap menaruh hatiku untukmu.”

Dia pun tersenyum, kembali menekuni pekerjaannya yang masih menunggu untuk diselesaikan.

Begitulah kehidupan mereka berjalan, bulan demi bulan hinaan dan sindiran itu perlahan-lahan bertambah, diselingi guyonan yang juga ikut bertambah. Perlahan-lahan, Dewantara Ardiyanto berhasil membuat Rosinta mengungkapkan perasaannya padanya. Dia terkejut, tak menyangka akan mendapatkan pengakuan cinta dari seorang wanita, yang dikiranya tak akan seberani itu. Rupanya dia salah.

Alih-alih menjawab perasaan Rosinta, Dewantara menarik pergelangan tangan wanita itu dan membawanya menikmati sebuah makan malam romantis di sebuah restoran tepi danau yang eksotis. Dalam diam dan senyum penuh makna, Dewantara menikmati keindahan pemandangan di sekelilingnya dan kecantikan Rosinta di depannya. Dia tahu... sudah saatnya dia mengatakan alasannya.

“Maukah kau menjadi istriku? Pendamping hidupku... penopang pundakku, pengobat kesedihan hatiku... tempatku berlabuh dan berkeluh kesah, tempatku membagi suka dan laraku... tempatku menggantungkan kelangsungan keturunanku. Menikahlah denganku, aku mencintaimu sejak pertama kali melihatmu. Aku bersungguh-sungguh.”

Dan pasangan itupun berbahagia selamanya. Naik turun kehidupan mereka hanyalah pemanis hubungan dan perekat pernikahan yang berlangsung berpuluh-puluh tahun lamanya.

Fin....



4 comments:

  1. sukaaa...
    terus berkarya sist, ditunggu cerita-cerita selanjutnya..

    ReplyDelete
  2. nggak pernah ngecewain dehhhh :)

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.