"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, March 6, 2014

Not So Tough Lady - Part 16


Urusan di pengadilan walau berbelit-belit, akhirnya Bren berhasil mengambil kembali sertifikat rumah miliknya yang terpaksa digadaikan di Bank. Meskipun beberapa rumah mewah lain yang pernah menjadi milik keluarganya telah dilelang untuk membayar sisa hutang-hutang dan bunga Bank, setidaknya rumah yang mereka tinggali di Jakarta bisa mereka miliki lagi. Pengacara yang membantu Bren mengurus surat-surat utang ayahnya juga memberi selamat atas kemajuan ini. Mereka berpisah setelah Bren menerima sertifikat yang kini dia letakkan di jok penumpang di samping dia duduk di dalam mobil Mercedes yang diberikan Magdalena untuknya.

Di dalam mobil, Bren memanjatkan doa, bersyukur semuanya telah usai. Dia bisa membawa keluarganya kembali ke rumah itu dengan kepala tegak dan menghiraukan semua cibiran tetangga yang mengintip dari dinding-dinding rumah mereka. Ingin Bren menjual rumah itu, tapi demi mengingat begitu banyak kenangan di dalam rumah yang telah ditinggalinya sejak lahir, dan memikirkan perasaan Ibunya, maka Bren memutuskan sebaliknya.


Hanya kenangan yang mereka miliki, bila rumah itu direnggut, apakah yang tersisa dari ayahnya yang bisa dia lindungi selain keluarganya sendiri.

“Terima kasih, Yah. Aku berjanji, aku akan menjaga mereka seumur hidupku,” doanya dalam hati.

Bren kemudian memacu mobilnya menuju rumah yang tampak begitu tak terurus. Setelah lima tahun lamanya rumah itu tak berpenghuni, kotoran dan sampah menggunung dan mengurangi keindahan rumah yang dulu dirawat oleh ibunya dengan sepenuh hatinya.

Dengan kunci di tangan, Bren membuka pintu pagar halaman rumah yang cukup luas itu, menyusuri besi-besi pagar yang karatan, memandang sekeliling pada kebun-kebun liar yang dulu ditanami bunga-bungaan dan pepohonan indah dan rapi oleh ibu dan ayahnya. Orangtuanya hobi berkebun, rumah itu menjadi begitu indah dimana mereka menghabiskan akhir pekan dengan bercengkerama di atas hamparan rumput halaman dan bersenda gurau menghabiskan waktu. Ayahnya selalu ada untuk keluarganya, maka ketika kepala keluarga itu pergi, semua terpukul. Bila Bren tak segera bangkit mungkin mereka telah musnah termakan kesedihan dan penderitaan.

Tapi kini dia telah berdiri di atas halaman rumahnya lagi, hanya perlu beberapa tukang untuk membersihkan rumah dan memperbaiki bagian-bagian yang rusak sehingga bisa mereka tinggali kembali. Barang-barang tersisa yang masih tertutup rapi oleh kain putih saat mereka tinggalkan seharusnya masih ada di dalam rumah, sehingga mereka tak perlu membeli furniture-furniture baru bila memang masih layak untuk dipakai.

“Lima tahun... begitu cepat waktu berlalu.” Bren tersenyum tipis, garasi yang dulu menjadi tempat dia memarkir mobil kebanggaannya kini melompong kosong.

Mobil itu telah dijual untuk membayar bunga Bank dan menutupi sedikit hutang di tetangga. Setidaknya Bren tak perlu menghadapi kemarahan warga karena hutang ayahnya lagi.

“Ah... tak sabar rasanya untuk segera pindah ke rumah ini lagi!” seru Bren bersemangat. Dia memungut beberapa batang pepohonan yang jatuh melintang di jalan, menyingkirkannya untuk memberi jalan pada mobilnya.

Pukul empat sore, Bren telah kembali ke rumahnya. Seminggu liburan yang dimilikinya hanya tersisa dua hari lagi. Senin, dia sudah harus kembali melapor ke kantor, satu setengah bulan lagi dan dia bebas menentukan langkahnya.

Kendati demikian, Bren masih ragu dengan apa yang akan dia kerjakan setelah itu. Haruskah dia kembali bekerja di Stuart ltd. dengan resiko menjadi gunjingan pegawai-pegawai lain yang begitu ingin tahu mengenai hubungannya dengan Magdalena?

Atau pergi dari sana dan membangun usahanya sendiri dengan modal gaji dan bonus yang dia dapatkan dari pekerjaannya sebagai tunangan Magdalena?

Dia berbaring di atas ranjang kamarnya, pikirannya melamun jauh, memikirkan usaha apa yang akan dia kerjakan bila akhirnya Bren memilih keluar dari Stuart ltd.

“Matamu sungguh ekspresif saat kau melamun.”

Sebuah suara feminim menyentak kesadaran Bren, dia pun bangkit untuk duduk di ranjang dan mencari sumber suara itu.

Magdalena, tengah duduk di kursi dan memandangi Bren dengan sorot tajam.

Dia datang seperti hantu, suara langkah kakinya pun tak terdengar.

Bren memperbaiki duduknya, bangkit dari ranjang dan menyambar kaos yang tersampir di pinggir ranjang. Dengan wajah merah menahan malu karena dadanya yang telanjang, Bren jengah menatap Magdalena yang terlihat tak terpengaruh sedikitpun.

Wanita ini merasa biasa-biasa saja dan tanpa malu masuk ke dalam kamarnya.

“Apa yang kau inginkan? Aku masih dalam masa liburku.” Bren mengusap wajahnya, khawatir bila terdapat kotoran atau air liur karena tak sengaja tertidur yang mungkin ditangkap Magdalena di wajahnya.

“Liburanmu telah usai, ikut aku. Malam ini kita menghadiri pesta pernikahan salah satu Direktur Utama perusahaan televisi rekanan Stuart ltd. Kau bertugas menemaniku. Setelah itu kau tinggal di rumahku. Tuan Besar datang ke sini, dia akan bertanya-tanya bila kau tak ada di rumahku.”

Bren mengetatkan rahangnya, dia sedikit kecewa karena Magdalena memintanya untuk mendampinginya hanya karena Mr. Stuart akan datang ke Indonesia, bukan karena wanita itu murni menginginkannya.

Dia tersenyum miris, namun mengangguk setuju. Bren tidak terbiasa menolak, bila itu untuk kebaikannya, dia tak akan berpikir dua kali.

“Baiklah,” jawabnya masih duduk dengan tenang.

Magdalena menaikkan sebelah alisnya, “Kau tunggu apalagi? Kemasi barang-barangmu. Aku tidak punya banyak waktu untuk menunggumu memutuskan apapun yang kau pikirkan sekarang,” ujar Magdalena ketus sebelum berdiri dan menyambar tas bahunya, menuju daun pintu.

Bren geram, wanita itu sungguh kejam. Tak ada sedikitpun dia memikirkan perasaan Bren. Dia datang ke apartemennya memberikan perintah yang tak bisa dibantah.

Lengan kiri Magdalena ditarik kasar oleh Bren, membawa tubuhnya menempel pada tubuh Bren. Cekalan tangan Bren menyakiti Magdalena, bibir wanita itu mendesis marah. Sorot matanya menusuk, Bren telah menyulut kemarahan Nyonya Besar.

Tapi Bren tak perduli.

“Walaupun kau membayarku, bukan berarti kau bisa datang ke sini dan merendahkan harga diriku, Nyonya. Aku bukan pembantumu, bukan pula pelayanmu. Bila kau tak bisa menghargaiku sedikit saja, lebih baik kau mencari laki-laki lain sebagai gigolomu!” ketus Bren gusar.

Harga dirinya telah dia kesampingkan saat menerima pekerjaan ini, tapi dia tidak bisa menerima kesombongan Magdalena setelah apa yang mereka alami di Inggris. Sedikitnya Bren meminta wanita itu memberinya kehormatan sebagai seorang manusia.

Sejenak mata Magdalena membelalak kaget, tapi iris biru muda itu kemudian membesar, pandangannya sendu seolah menantang Bren dengan apa yang akan dikatakannya.

“Jadi... kau merasa dirimu gigolo? Kau merasa bisa memuaskanku?” cibirnya sinis.

Bren terhenyak, pilihan kata yang salah membuatnya terjebak dalam permainan Magdalena. Bren mengumpat dalam hati, kemarahannya membuat dia tak mampu mencari kata-kata lain sebagai pengganti yang lebih masuk akal mengenai pekerjaannya.

“Kau tahu bukan itu maksudku.”

“Lalu apa maksudmu?”

Kini tangan Magdalena menyentuh dada Bren yang hanya terbungkus kaos putih tipis. Tangan wanita itu bisa merasakan degup jantung Bren yang berdetak kencang. Tangannya dia tangkupkan pada dada atas Bren, menghitung detak demi detak suara jantung yang berpacu bagai derap kaki kuda di arena.

“Apakah kau ingin menjadi gigoloku, Bren...?”

Suara desahan Magdalena pada telinganya membuat Bren merinding, rambut-rambut ditengkuknya berdiri oleh sensasi yang membuat nafasnya tertahan. Aliran darah pada nadinya bergerak semakin cepat, keluar masuk jantungnya, terpompa ke seluruh tubuh. Bren hampir dapat mendengar setiap detak nadi dan jantung yang dilalui oleh darah di dalam tubuhnya.

Tak ada jawaban dari Bren, dia masih terpaku oleh pertanyaan Magdalena yang membuatnya membisu, membelalak kaget dan tak dapat berbicara.

Wanita itu dengan berani menghembuskan nafas hangatnya pada leher Bren, tinggi tubuh mereka hanya berbeda sepuluh senti meter, dengan mudah Magdalena dapat meniup leher Bren dengan udara dari mulutnya. Lalu wanita itu melakukan sesuatu yang membuat Bren memejamkan matanya.

Sebuah kecupan mendarat pada leher laki-laki itu.

Dan semuanya menjadi tak terkendali.