"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, March 11, 2014

Not So Tough Lady - Part 17


Kaos putih yang tadinya dikenakan oleh Bren kini teronggok di lantai, terinjak-injak oleh dua pasang kaki yang saling melilit, mendorong dan menarik. Tangan Magdalena berada di kepala Bren, mencengkeram rambut laki-laki itu dalam genggamannya saat bibir mereka saling berpagutan dalam ciuman terpanas yang pernah dia rasakan.

Tangan Bren telah berada di balik pinggang Magdalena, memeluk, menahan hingga tubuh mereka menempel keras. Daging lunak bertemu dengan dada Bren yang keras, debar jantung makin bertalu-talu. Wajah-wajah mereka memerah, darah mengalir ke seluruh tubuh, mengumpul di kepala.


Panas, ciuman itu teramat panas, membengkakkan bibir-bibir mereka. Dengan nafas terengah-engah, Bren menangkap udara sebanyak-banyaknya untuk paru-parunya bernafas. Wajahnya tak kalah terguncangnya dengan wajah Magdalena yang termangu larut oleh ciuman mereka tadi.

Tubuh mereka masih menempel, hanya jarak sejengkal yang membatasi wajah mereka saat Bren menatap sendu pada bibir Magdalena yang terbuka, merah dan mengundang, bengkak.

Tak ada kata-kata lain yang terdengar, Bren menarik tubuh Magdalena ke atas ranjang dengan tubuh Bren di bawah wanita itu. Berpelukan, saling menyentuh, saling membelai, ciuman itu kini melibatkan lidah-lidah yang saling memilin, masuk dan menguasai. Membelit dan menghisap tanpa memperdulikan suara-suara liar yang mereka timbulkan.

Magdalena membuka pakaian atasnya, sebuah blouse dengan kerah rendah hingga memperlihatkan bra warna jingga miliknya, membungkus kedua payudara yang terlihat sempurna. Ujung putingnya telah mengeras, bra Magdalena tak sanggup menyembunyikan payudaranya yang besar, seakan menantang Bren untuk segera menyentuhnya.

Magdalena menahan tubuh Bren di bawahnya, bibirnya menyeringai nakal sedang tangannya bermain-main di atas dada laki-laki itu, membuat lingkaran di dekat putingnya.

Nafas Bren berat, wajahnya merah menahan gairah, pupil matanya melebar dikuasai hasrat yang telah membuncah di dada. Magdalena dapat merasakan sesuatu berubah pada bagian bawah tubuh Bren, perubahan yang membuat wanita itu menyunggingkan senyum, merebahkan tubuhnya lagi setelah menarik lepas kait bra yang kini tak berdaya di lantai.

Bren menelan ludahnya, semua akal sehat yang dia miliki mendadak sirna dan tak mau kembali. Otaknya telah dipenuhi dengan imajinasi-imajinasi liar yang bisa dia lakukan bersama Magdalena. Membayangkan wanita itu bergerak liar di atasnya, merintihkan namanya, Bren pun tak dapat menahan dirinya lagi.

Dia memutar tubuh Magdalena, menindih wanita itu dan mendekatkan wajahnya pada leher wanita itu. Cumbuan bibirnya yang berani menjelajahi jengkal kulit jenjang leher Magdalena, membelai dengan lidahnya, mengecap dengan bibirnya, membuai Sang Nyonya Besar hingga sebuah lenguhan tercetus keluar dari bibirnya yang seksi.

Magdalena memejamkan matanya sedari tadi, menerima semua kenikmatan yang ditawarkan bibir Bren padanya. Telah lama Magdalena tak disentuh laki-laki. Setelah mengetahui akal bulus mantan suaminya, Magdalena memutuskan untuk berpisah dari laki-laki itu. Sudah hampir tiga tahun lamanya Magdalena berstatus janda, tekadnya untuk tidak mengumbar dirinya pada laki-laki semakin melemah, Bren telah membuatnya mengaburkan prinsip-prinsip dasar hidupnya mengenai laki-laki.

“Fuck me, Bren.... Fuck me hard....” desah Magdalena di tengah-tengah tarikan nafasnya yang memburu.

Sebelah tangan Bren menarik turun celana dalam Magdalena, menggulung ke atas rok yang dia kenakan, memperlihatkan pahanya yang mulus terawat. Bibirnya kini merayap di atas dada Magdalena, turun ke bawah menyusuri tubuhnya, menghembuskan nafas hangatnya pada kulit-kulit sensitif wanita itu.

Tubuh Magdalena melengkung, dia menginginkan lebih. Kecupan bibir Bren pada kulitnya membuatnya gila, cara laki-laki itu mencumbu tubuhnya membuat Magdalena hampir berteriak dalam klimaks yang dahsyat. Laki-laki itu tahu pengaruh yang diciptakan hembusan nafasnya pada tubuh Magdalena, dia bahkan tak perlu bersusah-susah, Magdalena telah merasa sangat basah di area intimnya.

Tiga tahun musim kemarau yang menyakitkan akankah terobati oleh hujan sehari ini?

“Aku tak akan menyetubuhimu, Lena.... Aku akan bercinta denganmu, kau pantas mendapatkan tak kurang dari itu. Aku memujamu, kau adalah dewiku,” aku Bren dalam tatapan sendunya.

Pandangan mereka saling bertumbukan, sesuatu di mata mereka sepakat bahwa tak ada keberatan bila memang saat itu juga mereka melakukan apa yang sejak semula selalu tertunda.

Magdalena pun memejamkan matanya, pasrah pada apa yang akan dilakukan Bren terhadapnya.

Then... bercintalah denganku bila menurutmu aku cukup pantas mendapatkan cintamu,” bisiknya pelan.

Tak perlu kata-kata lain lagi bagi Bren untuk menyelesaikan apa yang telah mereka mulai, tangannya melucuti helai kain terakhir yang membungkus tubuh Magdalena hingga kini tubuhnya polos, memperlihatkan keindahan seorang Magdalena Stuart yang telah mengalami kegagalan cinta untuk kedua kalinya.

Besar harapan Magdalena dari Bren, namun dia tidak berani berharap berlebihan pada laki-laki itu. Tatapannya mengatakan Magdalena telah memberikan hatinya pada sosok laki-laki yang selalu diketusinya, laki-laki yang selalu menjadi tempat pelampiasan kemarahannya.

Magdalena tidak membenci Bren, dia menyukainya. Kata cinta mungkin terlalu dalam untuk menggambarkan perasaan yang dia rasakan terhadap Bren saat ini, Magdalena tidak ingin salah langkah lagi. Dia terlalu sering patah hati, karena bila kali ini pun cintanya kandas, Magdalena takut dia akan benar-benar menjadi seorang wanita dingin yang tak mengenal belas kasihan pada siapapun juga.

Dia ingin Bren merubahnya, laki-laki ini dengan kesabarannya menghadapi Magdalena telah mencuri hati seorang Magdalena Stuart yang keras bagai karang. Selama satu setengah bulan kebersamaan mereka, percik-percik cinta dan gairah telah mulai menyala di dalam hati Magdalena untuk Bren. Hanya saja pria itu terlalu bodoh untuk menyadarinya.

Tidak... dia kurang percaya diri dengan kemampuannya. Bren menganggap dirinya tak akan sebaik itu, menganggap dirinya tak akan mampu meluluhkan hati Nyonya Besar yang angker dengan segala predikatnya yang beredar di antara karyawan-karyawan Stuart ltd.

Bren tidak menyadari, bahwa cinta bisa hadir dalam bentuk apapun, dia hanya membutuhkan ketulusan sebagai pemupuk agar terus tumbuh dan berkembang subur di dalam hati yang merasakannya. Itulah jenis cinta Magdalena. Dia memerlukan pupuk yang bernama ketulusan, siraman air bernama kejujuran dan perhatian bernama kepercayaan. Magdalena akan menyerahkan hatinya bila Bren mampu memberikannya ketiga hal itu.

Selama ini, laki-laki itu telah lulus untuk dua hal pertama. Magdalena hanya perlu mengujinya untuk syarat terakhir. Mampukah Bren untuk menjaga kepercayaannya yang akan dia berikan, nanti...?

Bibir Magdalena mencari bibir Bren, menangkap lehernya dan membawa tubuh laki-laki itu menindih tubuhnya. Ciuman mereka panas, bibir-bibir saling berpagutan kasar, terbakar oleh gairah yang membara, tersulut oleh lamanya frustasi terpendam dalam dada.

XXX-SORRY DISENSOR - LENGKAPNYA HANYA DALAM NOVEL-XXX

Tak lama, Bren mengerang, urat-urat di wajahnya menegang, rahangnya mengetat, pelukannya pada tubuh Magdalena semakin kencang. Hujamannya semakin liar, tubuh mereka beradu menghasilkan suara ribut dan derak suara ranjang yang bergoyang. Bren pun mengerang hebat saat hujaman-hujaman terakhir tubuhnya mulai perlahan dan tubuh mereka merosot jatuh, lelah... namun terpuaskan.

“Jangan benci aku bila aku katakan, aku mencintaimu, Mam....”

Iris biru itu melebar, wajahnya yang dipenuhi ekspresi kelelahan kini tersenyum lemah. Sunggingan senyumannya tak menghilang, terbawa pergi dalam mimpi ketika Magdalena memejamkan mata dan tertidur sesudah percintaan panas mereka.

Dalam tidurnya Magdalena bermimpi mengucapkan kata yang sama pada laki-laki yang memeluk tubuhnya posesif, laki-laki yang akan melindunginya dari dunia, laki-laki yang akan dia andalkan sebagai penopang kepalanya yang lelah.

“I love you too, Bernard Bram....”