"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Sunday, March 16, 2014

Not So Tough Lady - Part 18



Tersedia cerita versi lengkap dalam bentuk paperbook/novel. Untuk membeli/memesan klik link berikut : PESAN NOVEL


Di luar kamar yang berisik itu, Ibu Maria, Shanti dan Rio hanya saling toleh sebelum Ibu Maria tersenyum simpul dan membawa kedua anaknya untuk pergi keluar apartemen mereka. Wanita tua itu mengerti apa yang sedang terjadi di dalam sana, dia tidak ingin mengganggu apapun yang sedang dilakukan oleh pasangan itu. Bren sudah dewasa dan Ibu Maria percaya Bren tahu apa yang dia lakukan.

Dua jam lamanya Magdalena tertidur di samping Bren. Tubuhnya yang telanjang kini tertutup selimut hangat. Dadanya naik turun dengan nafas teratur, wajah cerah dengan senyumnya yang damai membuat Bren semakin jatuh hati padanya.

Bren tidak menyesal telah mengungkapkan isi hatinya pada wanita itu, meski dia ragu Magdalena mendengarnya atau mengacuhkannya. Dia hanya perlu tahu, bahwa dirinya telah mengatakannya. Apapun jawaban Magdalena bukanlah prioritasnya, dia puas dengan apa yang dimilikinya saat ini.


Tangan Bren membelai lembut rambut-rambut halus yang tergerai lepas menghalangi pandangannya dari pipi wanita itu, mengelus lembut pipinya yang kemerahan, Bren yakin sebelumnya warna kulit Magdalena tak secerah sekarang. Mungkin percintaan mereka yang panas telah membantu darah mengalir pada wajahnya. Dia pun mendengus memikirkan hal itu.

Jari-jarinya merasakan lembut bibir Magdalena, bagaimana bibir mereka begitu bengkak akibat ciuman gila yang tak pernah dia pikirkan akan mungkin terjadi. Magdalena terlalu tertutup, Bren bahkan tak bisa menebak apa keinginan dari Nyonya Besar. Mencium wanita itu, meskipun mungkin, tak pernah menjadi khayalannya selama ini.

Namun, melihat tubuh telanjang wanita itu terlelap di atas ranjangnya yang berantakan, Bren hanya bisa tersenyum samar. Mungkin dia bisa bermimpi, bila mereka memang saling tertarik, karena Bren tak yakin dia sanggup menyamai Magdalena dalam setiap aspek kehidupan mereka.

“Mungkin aku bisa menyamainya bila perusahaanku nanti sukses dan menjadi besar, sehingga aku tak akan mempermalukan dia. Mungkin kemudian, kami bisa bersanding, mungkin dia akan memandangku,” ucapnya dalam hati.

Bren bangkit dari ranjangnya, masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Beberapa bekas gigitan samar terlihat pada pundaknya, nampaknya Magdalena secara tak sadar telah menggigit pundaknya saat percintaan mereka mencapai klimaks, karena Bren tak pernah menyadari hal itu.

Dia tersenyum, meraba bekas gigitan itu dan mengusapnya pelan, “Sangat masuk akal untuk seorang Nyonya Besar,” ujarnya bukan pada siapa-siapa.

Bren melanjutkan mandinya di bawah kucuran air hangat, membersihkan tubuhnya dari lengketnya keringat akibat percintaan mereka. Dia masih bisa merasakan sensasi-sensasi percintaan mereka, pada bibirnya yang memagut bibir Magdalena, mengecap tubuh mulusnya.... Pada tangannya yang membelai dan menyentuh, menggenggam dan merayu.... Bren bergetar menyadari betapa besar pengaruh wanita itu pada tubuhnya dan juga hatinya.

Dia mendesah pelan, meletakkan nasib kisah cintanya pada keputusan seorang Magdalena Stuart yang dia yakin pasti akan melupakan percintaan mereka tadi. Bren percaya Magdalena hanya menganggap percintaan mereka sebagai sebuah hiburan lain dari sekian banyaknya mainan yang bisa dimiliki oleh wanita itu.

“Shit!! Apakah dengan begini aku mengaku bila aku adalah seorang Gigolo?” umpatnya tajam.

Mata Bren memandang horor pada cermin ketika mengingat percakapan terakhir mereka, diapun mendesah dan keluar dari kamar mandi dengan handuk putih membungkus di pinggang.

Magdalena telah terbangun dan sedang duduk di pinggir ranjang, rambutnya yang tergerai jatuh di bahu, matanya mengantuk, memandang sendu pada Bren, seolah tak mengenali pria itu.

Dia pun menguap, “Bolehkah aku menginap di sini malam ini?” tanyanya malas.

“Bukankah kita harus menghadiri undangan Direktur televisi?”

Magdalena menepiskan tangannya di udara sembari menguap lagi, dia melirik jam di dinding, pukul delapan malam.

“Tidak penting, aku hanya ingin membuat alasan agar bisa menemuimu,” jawabnya tanpa dosa.

Magdalena tak menghiraukan ekspresi Bren yang terkejut, tak menyangka wanita itu akan mengatakan hal itu.

Dia sengaja mencari alasan agar bisa menemuiku?

Dia membuka kembali selimutnya, bergelung menghadap tembok, memberikan punggungnya yang telanjang dengan belahan pantat menggoda ke arah Bren. Tak lama dengkuran halus terdengar dari arah ranjangnya.

Bren menggeleng-gelengkan kepalanya, tak percaya wanita yang sedang meniduri ranjangnya adalah pemilik dari Stuart ltd., Magdalena Stuart, Sang Nyonya Besar yang terkenal dingin dan kejam pada bawahannya.

Wanita yang kini membelakanginya ini begitu berbeda, walaupun hanya sekilas, kata-kata yang dia ucapkan telah memberitahu banyak hal. Magdalena menjadi lebih terbuka padanya, Madgalena tidak lagi menjaga kata-katanya, dia tidak perduli bila Bren menganggapnya berbeda dari apa yang selama ini coba ditunjukkannya.

Magdalena Stuart hanyalah seorang wanita yang juga memerlukan laki-laki. Ketika dia merasa nyaman berada di dekat laki-laki itu, dia akan membuka cangkang pertahanannya, mengundang masuk laki-laki itu untuk lebih mengenal dirinya, pribadinya... dan tubuhnya.

Bren menarik selimut hingga menutup tubuh Magdalena, tak ingin wanita itu kedinginan karena tidur tanpa pakaian. Dia mengerutkan keningnya, berpikir bagaimana Magdalena bisa bertahan dengan cairan mereka terkumpul di dalam tubuhnya.

“Tidakkah dia merasa lengket, gerah, tak nyaman?” pikir Bren.

Tapi dia tersenyum, Magdalena ingin menginap di sini merupakan kemajuan yang sangat berarti baginya. Mungkin dia telah mendapatkan kepercayaan wanita itu. Bren berharap kebersamaan ini akan berlangsung lama dan mampu bertahan dalam cobaan-cobaan berat yang dia yakin pasti telah menunggu di depan.

~*~*~*~

CUTTED/DIPOTONG/VERSI LENGKAP DALAM NOVEL

~*~*~*~

Berbicara dengan ibunya memang memberikan Bren cukup semangat baru dan pencerahan mengenai apa yang akan dia lakukan untuk masa depan mereka. Bren merasa harinya begitu sempurna karena semuanya berjalan dengan baik. Hari ini begitu indah, hutang-hutang ayahnya telah lunas, rumah mereka dia dapatkan kembali, bahkan perusahaan yang dulu tak pernah dia bayangkan bisa dibangun lagi, ternyata melebihi harapannya. Bren telah menyiapkan semuanya dengan Sang Pengacara yang akan membantu mengurus perizinan mereka, Bren akan mulai berdiri di atas kakinya sendiri, berusaha sekuat tenaga setidaknya agar dia tidak mempermalukan Magdalena Stuart saat meminta wanita itu untuk menjadi kekasihnya.

Wajahnya sumringah membawa senampan makanan untuk Nyonya Besar. Dia masih tertidur, atau pura-pura tertidur hanya agar Bren tidak menyadari dia telah terbangun dan mendengar percakapan Ibu-anak itu di ruang dapur. Magdalena tidak berbicara apapun mengenai hal itu, dia pura-pura menggeliat dan mengerjapkan matanya seperti orang yang baru saja bangun dari tidurnya yang nyenyak.

“Hm... morning?” tanya Magdalena dengan suara serak.

Bren tertawa kecil, merasa senang wanita yang dulu begitu dingin ini ternyata juga memiliki sisi humor yang tak pernah dia tunjukkan sebelumnya. Bren pun mengecup kening Magdalena tanpa diprotes oleh wanita itu.

Dia duduk di sisi ranjang di samping Magdalena, lalu memutuskan untuk membawa tubuhnya ke atas tubuh wanita itu, menindihnya dengan berat tubuhnya, memenjara Magdalena Stuart dalam kharismanya.

Tubuh mereka hanya dihalangi selembar selimut tipis dan pakaian Bren yang bisa dengan mudah dia lepaskan. Magdalena masih bertelanjang bulat walau dia telah membersihkan tubuhnya di bawah shower, Bren pun menyadarinya namun tidak lebih. Dia memang tak pernah berpikir yang macam-macam melebihi kemampuannya untuk menerima hasil pikirannya.

“Kau lucu... ini masih malam, pukul sepuluh malam.... Dan kita punya waktu yang cukup banyak untuk... You know what i mean, right?” tanya Bren serak.

Tubuhnya mengkhianatinya. Dia mempermalukan Bren karena begitu mudahnya terangsang bila berada di dekat Nyonya Besar. Namun wajah Magdalena memerah, sumringah. Dia merasa tubuhnya panas mengingat kembali percintaan mereka beberapa jam yang lalu.

“You wish....” desis Magdalena pura-pura marah namun tak membantah saat Bren menyingkap selimut mereka dan membawa Magdalena dalam pelukannya.  



2 comments:

  1. Seneng banget kalau Magdalena bersikap manis kaya gitu..
    Lanjutin, sist..

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.