"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Sunday, March 23, 2014

Not So Tough Lady - Part 19


Tersedia cerita versi lengkap dalam bentuk paperbook/novel. Untuk membeli/memesan klik link berikut : PESAN NOVEL

Magdalena terbangun dengan tubuh pegal dan tenggorokan serak. sejak kedatangannya ke apartemen ini kemarin sore, dia tidak pernah beranjak dari atas ranjang. Hanya beberapa kali melepaskan diri dari pelukan posesif Bren untuk menuju ke kamar mandi membersihkan diri, tapi setelah itu dia akan bergulung lagi dalam pelukan Bren, pelukan yang membuatnya merasa nyaman walau Magdalena mengernyitkan dahinya ketika mengingat kembali berapa usia pria itu.

Magdalena mendengus senang, wajah Bren yang tertidur di sampingnya begitu damai. Senyum tanpa dosa laki-laki itu membuatnya gemas.

“Semoga hatimu sepolos wajahmu,” bisiknya dalam hati.


Magdalena beranjak dari tempat tidur untuk mengenakan kembali pakaiannya. Dia hendak pergi meninggalkan apartemen itu sebelum Bren terbangun, sebelum dia perlu menatap mata laki-laki itu dan mencoba menjelaskan apa yang telah terjadi di antara mereka. Tak ada yang perlu dijelaskan, Magdalena belum siap menerima hati Bren walaupun dia begitu menginginkannya. Masih banyak kesalahpahaman yang belum mereka jelaskan, terutama dari kehidupan pribadinya. Magdalena belum ingin Bren memasuki area tergelap hidupnya karena saat Magdalena bersedia menerima laki-laki itu dalam hatinya, dia tidak akan boleh pergi walau seburuk apapun kegelapan itu, mereka harus menghadapinya.

Tapi langkahnya terhenti ketika suara Ibu Maria menyapa Magdalena dari balik punggungnya. Wanita dengan suara lembut keibuan itu mengajak Magdalena untuk duduk di dapur dan berbincang-bincang. Ashanti dan Rio telah pergi berenang ke kolam renang publik, sedang Bren yang kelelahan masih tertidur pulas tanpa menyadari bidadarinya telah pergi dari ranjangnya.

“Makan dulu, kamu pasti capek. Minum tehnya dulu, mumpung masih hangat,” ujar Ibu Maria ramah.

Magdalena yang tak pernah mengenal sosok seorang ibu dalam hidupnya merasa tersentuh dengan kebaikan Ibu Maria, tapi dia masih asing dengan perasaan itu. keramahan orang lain padanya selama hidupnya hanyalah karena mereka tahu siapa dia dan apa yang bisa mereka dapatkan dari Magdalena. Dia tidak ingin berburuk sangka pada Ibu Bren, namun hatinya yang terbiasa membentuk perisai pada setiap orang yang berusaha ramah padanya kini mencoba membangun benteng itu lagi.

Sebuah lengan menyentuh pundak Magdalena yang tengah melamun, larut dalam pikirannya yang bimbang.

“Ayo... duduklah. Teh buatan Ibu istimewa lho. Bren aja suka... cicipin deh,” bujuk Ibu Maria lagi.

Magdalena hanya bisa menurut patuh, bujukan Ibu Maria terselip ketegasan yang tidak bisa dibantah. Magdalena kemudian mencuri-curi pandang ke arah pintu kamar Bren, was-was jikalau laki-laki itu keluar dari sana dan mendapatinya telah pergi.

“Terima kasih,” jawab Magdalena berusaha bersikap sopan.

Ibu Maria tersenyum, dia mengeluarkan sepiring biskui buatan rumah yang diletakkan di atas meja, mendorongnya mendekat ke arah Magdalena.

“Kue... cicipin. Ibu bikin sendiri, lho.... Bren juga suka. Seperti dia suka sama kamu, kan?”

Magdalena hampir tersedak dengan tehnya saat mendengar keterusterangan Ibu Maria. Dia mengira wanita paruh baya ini akan seperti anaknya, menyimpan kata-kata yang ingin dia sampaikan dan memilih untuk bermain teka-teki. Rupanya ada perbedaan yang cukup mencolok antara ibu dan anak itu.

“Ma... maaf, saya menumpahkan tehnya.”

Magdalena meletakkan cangkir tehnya dengan kikuk, wajahnya panas, jantungnya berdebar-debar, tak yakin mengapa dia bersikap seperti remaja belasan tahun yang sedang diinterogasi oleh Ibu pacarnya.

“Kamu tidak berencana akan pergi meninggalkan Bren begitu saja, kan? Setelah....” Ibu Maria menggantung ucapannya, yakin Magdalena mengerti kemana arah pembicaraan mereka.

Sejatinya Ibu Maria bukanlah wanita yang suka ikut campur urusan orang lain, namun saat dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Bren dulu berantakan dan tidak keluar kamarnya setelah bertengkar dengan wanita ini, Ibu Maria tak ingin hal serupa terjadi. Dia sangat menyayangi anaknya sehingga bersedia menjadi penghubung mereka, Bren pasti mencintai wanita ini sehingga dia berani menyembunyikan Magdalena dalam kamarnya.

Selama ini, Bren bahkan tak pernah mengenalkan satu wanitapun pada ibunya meskipun wanita itu tahu siapa-siapa saja yang kerap digandeng oleh anaknya itu.

Bren tidak sulit untuk mendapatkan wanita yang bisa dia kencani untuk beberapa saat, mereka seolah datang dengan sukarela menjadi peneman malamnya. Meski demikian, Bren tak pernah pulang lebih dari pukul sepuluh malam kecuali saat dia lembur, anak laki-lakinya ini terlalu baik dan bertanggung jawab, dia tidak akan sembarangan memilih wanita bagi hidupnya.

“Kecuali dia jatuh cinta, karena cinta kadang bisa membuat orang gila. Tak terkecuali Bren,” bisik Ibu Maria geli dalam hatinya.

“Ah, tidak... Aku hanya ingin ke toilet,” jawab Magdalena berbohong, tatapan tajam Ibu Maria membuat nyalinya ciut.

Kharisma seorang Ibu yang telah berpengalaman dalam merawat tiga orang anak tak akan terkalahkan meski oleh seorang Nyonya Besar Magalena Stuart. Dia hanyalah seorang wanita biasa, teman kencan anaknya dan Magdalena mau tak mau merasa seperti itu. Dia merutuki dirinya karena berani bermain api dan menginap di apartemen itu.

“Seharusnya aku menyeretnya keluar dari rumah ini sehingga aku tak akan bertemu dengan wanita ini,” rutuknya dalam hati.

Magdalena tersenyum malu-malu walau dalam hati dia kesal setengah mati. Dia begitu ingin pergi dari sana dan terhindar dari wawancara tak mengenakkan ini. Terlebih, Bren pasti akan segera bangun tak lama lagi.

Belum sempat Magdalena memikirkan apa yang akan dia lakukan, pintu kamar Bren terbanting menabrak dinding dengan suara bergema memekakan telinga. Wajah pucat Bren dengan mata membelalak cemas, sedang tubuhnya hanya terbalut celana boxer tanpa pakaian lain, memperlihatkan dadanya yang telanjang pada Magdalena dan Ibu Maria.

“Mag... da... lena...,” bisiknya samar setelah berteriak tak jelas menyebut kata yang sama.

“Aku kira kau pergi,” lanjutnya namun dengan wajah malu-malu karena tertangkap basah oleh ibunya.

Belum pernah Bren merasa semalu ini karena terlihat hanya dengan celana boxer di pinggang meskipun biasanya dia sering berlalu-lalang dengan pakaian yang sama di dalam rumah mereka.

“Aku hanya minum teh,” jawab Magdalena dengan wajah terpaling.

Sikap dinginnya muncul lagi hanya karena kebiasaan. Tak akan ada yang berubah di antara mereka kecuali Bren membuatnya berubah.

Seolah tak menyadari nada sarkastis pada suara Magdalena, Bren menyusul wanita itu untuk duduk di sampingnya, menyesap cangkir teh Magdalena untuk menghilangkan kekikukannya.

“Hey! Kau meminum tehku!” delik Magdalena sebal.

Bren meminta maaf tapi Magdalena mengacuhkannya, seperti anak kecil yang berebut mainan dan Magdalena adalah pihak yang tidak mau mengalah. Ibu Maria hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah dua orang itu.

Setelah Ibu Maria tahu diri dengan meninggalkan mereka berdua di dapur, Bren membuka suaranya. Dia telah memikirkan kalimat apa yang akan dia pakai untuk mengungkapkan sikapnya atas hubungan mereka.

“Uh... bisakah kita berbicara di kamarku?” tanya Bren takut-takut.

Magdalena menatapnya dengan ujung matanya, mendengus seolah dia tidak perduli.

“Lebih aman di sini.”

Bren mengusap rambutnya, tersenyum meminta maaf karena telah membuat Magdalena merasa tidak aman berada dalam kamarnya. Bagaimana tidak, semalam mereka begitu bergairah dan hampir tak bisa menghitung berapa kali pelepasan telah mereka dapatkan. Hingga pukul tiga dini hari barulah mereka terlelap karena kelelahan.

“Well, baiklah... tapi, aku ingin bertanya... apakah... ehm... apakah sesuatu akan berubah setelah semalam kita....” Bren menggantung kalimatnya, terlalu sulit baginya mencari kata-kata yang tepat untuk menyatakan aktivitas mereka semalam.

Di dalam kepalanya telah terbentuk sebuah kata yang siap keluar, namun bibir Magdalena telah mengalahkannya satu detik. Dua buah kata meluncur dari mulut wanita itu.

“Have sex?” tanyanya seolah tak acuh.

Tubuh Bren menegang, itu bukanlah kata-kata yang dia pikirkan. Tak sedikitpun dia menganggap percintaan mereka semalam adalah seks. Bagi Bren, itu adalah satu percintaan yang indah, pemenuhan akan cinta, kasih sayang, perhatian dan... seks.... Memang ada seks di dalamnya, tapi bukan itu yang Bren ingin katakan.

“Bercinta...,” ucapnya miris. “Aku kira aku telah mengatakan bila aku mencintaimu.” Bren bergumam putus asa. Hatinya meringis, dia tidak hanya menginginkan tubuh Magdalena, tapi juga hatinya. Namun tampaknya wanita itu belum ingin memberikannya pada siapapun.

“Berkemaslah. Ayahku akan tiba beberapa jam lagi. Setelah ini kita bicarakan lagi. Kau tak perlu mengantarku, sopirku telah menunggu di lobi.”

Magdalena meninggalkan Bren yang masih termangu di pintu keluar apartemennya, menatap kepergian Magdalena dengan setengah jiwanya melayang pergi dari tubuhnya. Dia membenci kepengecutannya, kebodohannya karena telah jatuh cinta pada wanita yang paling dingin di dunia.

“Setidaknya tubuhnya tidak dingin,” senyum Bren kecut.

Setelah mengemas pakaiannya, Bren dengan mengemudikan mobilnya berangkat menuju rumah Magdalena, dia akan memerankan tokoh tunangan Magdalena dengan lebih berani. Mungkin dengan demikian  Nyonya Besar akan lebih melihatnya, mungkin dengan demikian Nyonya Besar akan membuka hatinya, karena dia adalah wanita yang perlu ditakhlukan.


“Aku harus menakhlukan betina ini,” decak Bren ironis. Dia tersenyum dan menerima nasibnya karena jatuh cinta pada wanita kejam bernama Magdalena Stuart. 



2 comments:

  1. Hayo Bren, berjuanglah!
    Tq sist Shin Haido, ditunggu part 20'nya..

    ReplyDelete
  2. Lanjutin donk, crtanya seru..
    Thanks ya

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.