"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, April 17, 2014

Dance With My Father - Short Story



Inspired by "Dance With My Father" by Luther Vandross

"Dance With My Father"

Back when I was a child, before life removed all the innocence

My father would lift me high and dance with my mother and me and then
Spin me around ‘til I fell asleep
Then up the stairs he would carry me
And I knew for sure I was loved
If I could get another chance, another walk, another dance with him
I’d play a song that would never, ever end
How I’d love, love, love
To dance with my father again



Deburan ombak pantai tak terlalu besar sore itu, menyapa kaki-kaki kami yang berjalan beriringan di tepi pantai berpasir putih. Hangat sinar mentari sore menyentuh kulit-kulit kami, menyilaukan dengan warna jingganya, menyinari wajah-wajah gembira kami, sebuah keluarga bahagia sederhana.


Di sisi kiriku, ibu menggandeng lenganku. Sedang sebelah kananku, ayah mengayun lenganku tinggi-tinggi. Kami bertiga tertawa riang, menertawakan air laut yang menerjang kaki-kaki mungilku, membasahi gulungan celana panjangku di bagian lutut.

Sore itu, di perjalanan menuju kampung halaman ayah di sebuah desa kecil di balik pegunungan Roswelt, kami memutuskan untuk singgah sejenak menikmati pemandangan pantai. Setidaknya memerlukan dua jam perjalanan lagi sebelum sampai di rumah bergaya pedesaan yang ditinggali oleh kakek dan nenek.

Ibu terlihat cantik dengan gaun putihnya yang berkibar tertiup angin laut, helaian rambutnya terbang menutupi sebelah pipinya. Sesekali tangannya yang lentik memperbaiki letak rambutnya, masih dengan senyum tersungging di bibirnya yang merah.

Ayahku… idolaku. Tubuhnya tinggi menjulang, tegap melindungi kami dari kehidupan. Sebuah lesung pipi menghiasi pipi kanannya, senyum di bibirnya menularkan senyum di bibirku, tawa canda ringan kami selama satu jam di tepi pantai itu adalah salah satu kenangan termanis yang kumiliki bersama ayah.

“Dad, kejar aku,” teriakku mendahului ayah, memintanya untuk mengejarku.

Ayah tersenyum, di tangannya ayah menenteng sepatuku dan sepatu ayah, ia memberikannya pada Ibu sebelum menerima tantanganku untuk mengejarku.

Melihat ayah bersiap untuk mengejarku, akupun berteriak senang, berusaha mempercepat langkahku agar ayah tak bisa menangkapku. Aku masuk ke dalam pantai, pada ombak air yang baru saja bergelung-gelung lebih tinggi, terlalu senang dengan permainanku dengan ayah.

Tapi rupanya lariku tak cukup cepat karena ayah berhasil menangkap tubuhku dari belakang. Ia tertawa senang karena berhasil menyusulku, tubuhku diangkatnya tinggi-tinggi, membuat tubuhku melayang dan menerbangkan tubuhku seperti kapal terbang.

Aku tertawa riang, “Daddy… aku terbang…,” kataku bersemangat. Aku meminta ayah untuk menerbangkanku sampai ke ujung pantai, ayah menurutinya dan membawa tubuhku dalam gendongannya.

“Kau ingin terbang, Karl? Seperti ini?” tanya ayah. Tubuhku diangkatnya tinggi-tinggi, melambungkan ke udara dan dilepaskan.

Aku berteriak histeris, bukan karena takut, tapi karena begitu senang.

“Aaaa…. Daddy… lagi… lagi…,” kataku.

Sampai Ibu menyusul kami di ujung pantai, barulah ayah menurunkanku. Ibu mencubit pipiku karena kelucuanku. Saat itu aku sungguh bahagia, orang tuaku menyayangiku, begitu banyak cinta yang kurasakan saat itu.

Aku… merasa begitu dicintai….

Aku hanyalah seorang anak kecil berusia lima tahun yang belum tahu banyak mengenai kehidupan. Kehidupan yang kutahu hanyalah sebatas lingkungan rumah yang kutinggali bersama ayah dan ibuku di sebuah perumahan yang dibeli ayah lima tahun yang lalu, setelah ia berhasil menjadi Manajer Pemasaran di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang elektronik. Sejak saat itu kehidupan keluarga kami membaik.

Aku ingat, suatu waktu, ayah membawa sebuah sepeda beroda tiga untukku saat ia pulang tengah malam. Ayah membangunkanku dari tidurku, berbisik dengan lembut dan sayang, memberitahuku bila hadiah ulang tahunku telah tiba.

Aku terbangun seketika, memeluk ayahku dan segera mendekap tubuhnya yang kokoh. Ia pun membawaku melihat hadiahku. Dengan senang aku mencoba hadiah baruku, berseru senang dan berterima kasih pada ayah. Ibuku hanya menggeleng-gelengkan kepala, bahkan kue ulang tahunku belum ditiup lilinnya.

Malam itu, kami meniup lilin bertiga, usiaku enam tahun. Keesokan harinya, aku tak sabar ingin segera menaiki sepedaku. Seharian aku mengitari halaman depan untuk menaiki sepedaku. Aku yang sebelumnya sudah pernah menaiki sepeda kecilku, tidak memerlukan bantuan lagi untuk menaiki hadiah baruku ini. Setelah dua jam lamanya aku menaiki sepedaku, Ibu datang dari dapur dan memintaku untuk segera makan sarapanku.

Aku tak mau menuruti permintaan ibuku, aku anak nakal. Dengan sepedaku, aku masuk ke dalam rumah, mencari ayah dan mengadu padanya. Dengan tersenyum ayah membuatku mengerti, gurauannya membuatku tertawa hingga akhirnya akupun kembali pada ibuku yang menunggu dengan tangan berkacak di pinggang, menerima permintaan maafku dengan senyumnya yang jahil. Aku berlari memeluk ibu, membuka kursi meja makan, dan mulai mengunyah sarapanku.

When I and my mother would disagree

To get my way, I would run from her to him
He’d make me laugh just to comfort me
Then finally make me do just what my mama said
Later that night when I was asleep
He left a dollar under my sheet
Never dreamed that he would be gone from me


Suatu malam ketika aku sudah tertidur, Ibuku baru saja kembali dari kamarku setelah membacakan cerita pengantar tidur untukku, merapikan rumah dan menyusul ke dalam kamarnya. Ayah belum pulang dari tempatnya bekerja. Setengah sadar, aku merasakan pintu kamarku terbuka, tubuh tinggi besar milik ayah terbayang dalam lampu kamar yang temaram. Aku terlalu mengantuk untuk dapat melihat wajahnya, meski sekilas.

Lama ayah duduk di samping ranjangku, melihati aku yang tengah tidur dengan nyenyaknya. Sentuhan tangan ayah pada pipiku membuatku terbangun.

“Daddy… kau sudah pulang,” tanyaku dengan mata berat mengantuk.

Terlihat senyum ayah, ia mengecup keningku dan memperbaiki letak selimutku.

“Tidurlah,” bisiknya sebagai balasan untukku.

Tak pernah kutahu, itu adalah kata-kata terakhir dari ayah. Malam itu, ia pergi dan tak pernah kembali, meninggalkan hatinya untuk kami.

Sejak saat itu hidup tak akan pernah sama tanpa ayah. Kami menjadi pemurung, begitu sedih walaupun Ibu selalu mencoba menguatkanku, tapi aku tahu, ibu jauh lebih bersedih dariku.

Setiap malam kulihat ke dalam kamar ibu, ia menangis sepertiku, merindukan kehadiran ayah seperti bagaimana aku juga merindukan ayahku. Ibu begitu menderita, kepergian ayah membuat ibu terluka. Tak bisa kubayangkan betapa sedihnya ibu, setiap malamnya ia menangis tanpa henti, berdoa agar ini semua hanyalah mimpi.

Tuhan, seandainya aku punya kesempatan untuk melihat ayah untuk yang terakhir kalinya, bersenda gurau seperti biasanya dengan ayah, bermain kejar-kejaran seperti dulu, menembangkan lagu kesayangan kami sambil berdansa di lantai, akan kunyanyikan lagu yang tak pernah ada akhir.

Walau kutahu, hal itu tak biasanya KAU berikan, tapi bolehkah aku meminta hal itu dari-MU? Setiap malam aku berdoa, hanya inilah satu-satunya yang kuimpikan, untuk bisa berdansa dengan ayahku lagi….


If I could steal one final glance, one final step, one final dance with him

I’d play a song that would never, ever end
‘Cause I’d love, love, love
To dance with my father again
Sometimes I’d listen outside her door
And I’d hear how my mother cried for him
I pray for her even more than me
I pray for her even more than me
I know I’m praying for much too much
But could you send back the only man she loved
I know you don’t do it usually
But dear Lord she’s dying
To dance with my father again
Every night I fall asleep and this is all I ever dream


2 comments:

  1. Yes,..... Ayah seorang yang sangat fair dalam segala hal. Aku juga mengalami hampor seperti ini mbak..... Saat aku tidak pernah seide dgn ibu, aku akan berlari ke ayahku and the lastly aku mengikuti harapan ibu because of him.....

    aku penggemar barumu mbak. Cerita yang ini aku suka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, terima kasih banyak ya sist. semoga tulisan2ku yg lain juga bisa menghibur. :D salam kenal....

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.