"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, April 10, 2014

Not So Tough Lady - Part 20


Mr. Stuart yang baru saja tiba di Indonesia langsung masuk ke dalam kamarnya dan beristirahat. Sudah pukul enam sore ketika mereka tiba di rumah itu dan pergi ke kamar masing-masing. Magdalena pada kamarnya, dan Bren pada kamar Magdalena, mau tak mau, wanita itu harus menerimanya. Dia menjadi semakin kesal karena Bren menolak tidur di sofa.

“Setelah apa yang kita lakukan semalam, apa kau yakin aku tak akan menyentuhmu walaupun tempat tidur kita terpisah?” bisik Bren di telinga Magdalena, dia telah membawa tubuh wanita itu dalam cekalannya, mengintimidasi dengan tubuhnya dan mengurung Magdalena di balik daun pintu yang menutup. “Aku akan membuatmu berkata lain, Lena.... Akan kubuat kau mengakui... bahwa kita bercinta semalam,” lanjut Bren sebelum menggigit cuping telinga Magdalena lalu meninggalkannya dengan debaran jantung tak menentu, terombang-ambing dalam gairah dan putus asa.


“Grrr!! Laki-laki sialan!!” sentaknya sebal melihat tawa culas Bren, laki-laki itu kini tidur di atas ranjangnya dan tak ingin bergeser dari sana.

Dengan sengaja Bren membuka kemejanya, memperlihatkan tubuhnya yang dia tahu mampu membuat seorang wanita dingin sekalipun gelisah. Bren tak pernah merasa serendah itu dengan menggunakan tubuhnya untuk menggoda wanita, tapi dia mengecualikan untuk seorang wanita yang terlalu angkuh untuk mengakui perasaannya. Magdalena Stuart, wanita itu akan memohon padanya dan Bren akan dengan senang hati membuatnya memohon.

Mata Magdalena hampir tak bisa berkijap menyaksikan pemandangan di depannya, tubuh Bren yang kokoh dengan dada bidangnya yang naik turun mengikuti nafasnya dengan teratur, pinggulnya yang langsing dengan perut berotot namun tidak terlalu terbentuk dengan rambut-rambut halus mengintip malu-malu dari balik pantalon hitamnya, pemandangan yang mampu membuat Magdalena Stuart membuka mulutnya menganga dan menelan air liur yang mungkin menetes.

Walau baru semalam mereka berhubungan intim, Magdalena mampu merasakan bagaimana bagian intim tubuhnya telah menjerit-jerit mendambakan laki-laki berusia dua puluh tujuh tahun itu dengan sangat. Dia bahkan mencetuskannya tanpa sadar.

“Kau baru dua puluh tujuh tahun.”

Bren bangkit dari tidurnya, melangkah pelan ke arah Magdalena dan menatapnya lekat-lekat, ekspresinya tak terbaca, antara kagum dan kaget.

“So, what? Apakah aku tidak bisa memuaskanmu?”

Pipi Magdalena merona merah, jelas bukan pertanyaan yang tepat untuk mendeskripsikan bagaimana Magdalena melenguh berkali-kali di atas tubuh Bren, dia telah mereguk kepuasannya yang bahkan tak pernah dia bayangkan bisa dicapai oleh wanita seumurnya lagi.

“Ka... kau vulgar!” bentak Magdalena tak berdaya, kakinya bergerak perlahan, mundur, hingga menyentuh tembok ketika Bren mendesaknya dengan intim. Dia berharap dengan menunjukkan sikap dominannya, Magdalena akan bertekuk lutut padanya dan membuang semua keangkuhannya.

“Itu bukan apa-apa, Sayang....” sebelah tangan Bren mengangkat paha Magdalena, membelai pelan paha dalamnya hingga wanita itu terpekik, nafasnya tercekat, suasana begitu panas dan kepala Magdalena berdenyut-denyut, menjerit dengan gairah yang berkumpul di ubun-ubun.

“Aku bukan Sayangmu!” desisnya pasrah, tanpa sanggup memberikan perlawanan.

Bibir Bren telah mengembara pada leher jenjangnya, mengecup dengan bibir tersenyum, yakin Magdalena akan bertekuk lutut padanya.

Tak mau melepaskan kesempatan itu, Bren dengan gemas menarik turun celana dalam Magdalena, menyentuhkan jari-jarinya pada kemaluan Magdalena yang telah basah, terangsang oleh gairahnya sendiri yang berusaha dia tahan dan sembunyikan.

“Bagaimana kau menjelaskan hal ini, Sayang?” tunjuk Bren pada Magdalena saat memperlihatkan dua buah jarinya yang basah dan licin oleh cairan Magdalena, berkilat dan dia menjilatnya. Magdalena pun kaget. Tak kuasa menahan libidonya yang telah mencapai batas, diapun menarik kepala Bren dan memagut bibirnya kuat-kuat.

“Persetan dengan cinta! I want to fuck you all day, all night. And don’t care what people say!!” teriak Magdalena sebelum mereka berciuman.

Bren kewalahan, ciuman Magdalena yang ganas dengan tangannya yang ikut bermain melepaskan pakaian Bren yang tersisa membuat aktivitas mereka begitu cepat, tidak seperti yang dibayangkan Bren. Meski demikian, percintaan ini begitu panas, begitu cepat!

Dengan masih berdiri, Bren dengan terpaksa menghujamkan dirinya ke dalam Magdalena yang melenguh kasar, penyatuan mereka intens, cepat dan instan.

Dengan tembok sebagai penahan berat mereka, Bren membawa Magdalena mendaki ke atas gunung yang tinggi, membawanya naik melewati awan, mencapai langit ke tujuh dan menghempaskan tubuh mereka kembali ke bawah, ke dalam jurang kenikmatan yang ingin mereka reguk berkali-kali, bahkan dengan pakaian yang tak terlepas habis.

Bren dengan celana yang masih melorot di kaki, Magdalena dengan gaun setengah terkoyak, tubuh mereka terhubung, bersatu dalam gairah dan puncak kenikmatan. Tubuh dan tangan saling mencengkeram, bibir saling menghisap, menggigit untuk meredakan debaran jantung bertalu-talu sebelum larva yang melelehkan gairah mereka meledak dan mengalir turun.

Nafas mereka terengah-engah, keringat membasahi tubuh, dan saat penyatuan itu terlepas, saat cairan kenikmatan terpapar udara, Bren membisikkan sebuah kata yang membuat dia mendapat tamparan keras di pipi.

“This is what called Sex....”

Pipinya ngias, merah dan nyeri. Sedang tangan Magdalena tak kalah nyerinya setelah menampar pipi tampan Bren. Walau dia tahu mereka baru saja melakukannya atas dasar nafsu belaka, namun mendengar apa yang baru saja mereka lakukan dari Bren adalah seks, kemarahan berkobar dalam dada Magdalena. Dia tidak ingin laki-laki itu mengatakan bila mereka baru saja berhubungan seks, Magdalena ingin Bren berkata padanya bahwa mereka bercinta, bercinta... dan bercinta... walaupun dia selalu menolak dan berkata bahwa itu hanya seks.

Magdalena merasa dirinya bodoh, begitu egois namun sekaligus tak ingin terlihat seperti itu. Air mata jatuh di pipinya dengan cepat, dan dia hendak berlari dengan tangis merebak bagai air bah. Namun Bren telah memeluknya erat, membawa punggung wanita itu dalam dekapannya, menariknya lembut dalam pelukannya dan membiarkan Magdalena menangis dalam dadanya yang telanjang.

“Kau bodoh, tentu saja kita bercinta. Bahkan seks terpanas pun bila dilakukan oleh dua orang yang saling mencintai, itu namanya bercinta.”

Magdalena mendengus, masih dengan tangis terisak, “Kau terlalu percaya diri Bernard Bram!” namun senyuman telah mengintip dari bibirnya.

“Aku suka saat kau memanggil nama lengkapku. Jadi... we’re good now?” tanya Bren dengan bibir tersenyum geli.

“In you dreams....”

Bren berdecak, “I see.... Jadi aku rasa kini saatnya kita tidur dan bermimpi? Tentu sangat menyenangkan.”

Masih dengan pakaian berantakan, Bren membawa tubuh kekasihnya ke atas ranjang, melepaskan sisa-sisa pakaian mereka dan bergelut untuk terakhir kalinya sebelum selimut menutupi tubuh telanjang mereka yang menari dalam tarian cinta.

~*~*~*~

Keesokan paginya, Mr. Stuart menaikan dahinya ketika melihat sepasang kekasih itu bergandengan tangan dengan senyum terkulum di bibir. Tanpa diketahui mereka, Mr. Stuart tersenyum samar namun tetap melanjutkan cerutunya tanpa berkata apapun. Baru ketika Bren menyapa selamat pagi padanya, Mr. Stuart menyahut.

“Morning. Kau terlihat senang,” ujarnya tanpa mengalihkan pandangannya dari surat kabar pagi berbahasa Inggris.

Bren dan Magdalena saling bertukar pandang, pipi Magdalena memerah dan Bren berdecak senang.

“It is a beautiful day, Sir. Don’t you agree?” ucap Bren masih dengan senyuman yang membuat wajahnya terlihat dua tahun lebih muda.

Mr. Stuart menurunkan kacamata bacanya dan menatap laki-laki muda itu dengan lebih seksama. Dia mengeluarkan pernyataan yang membuat Bren salah tingkah dan Magdalena berlari kecil menuju dapur, mencari pelayan untuk membawa sarapan pagi mereka.

“Laki-laki hanya bisa tersenyum seperti itu setelah dia bercinta semalaman suntuk dengan kekasihnya.”

Tak ada jawaban dari Bren, namun Mr. Stuart tak perlu jawaban. Makan pagi itupun menjadi lebih menyenangkan karena Magdalena mulai membuka hatinya untuk apapun, bahkan ayahnya yang terlihat menyebalkan baginya, kini begitu ingin dipeluknya.

Magdalena kemudian termenung ketika menyadari dia hampir tak pernah memeluk ayahnya lagi sejak dia mengetahui mengapa ibunya meninggal. Magdalena terpekur dan Bren menyadarinya. Mereka tengah berada di balkoni kamar Magdalena saat wanita itu tersenyum muram dan menggelengkan kepalanya. Bren tak memaksa, dia yakin suatu hari nanti Magdalena akan memberitahunya.

Untuk menghibur hatinya, Bren mengingat kembali bisikan lirih Magdalena saat tangis wanita itu jatuh di atas dadanya, setelah tubuh mereka terhempas oleh gairah nikmat bercinta. Senyum Bren selalu tersungging bila dia mengulang kembali suara indah Nyonya Besar yang mengucapkan satu kalimat terindah yang paling ingin didengarnya. Akhirnya kekasih hatinya mengatakannya juga.

“I love you too, Bernard Bram....” 



No comments:

Post a Comment

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.