"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Monday, May 26, 2014

I Love You, Kak


Suasana yang begitu kaku, baru pertama kali mereka rasakan. Tak pernah sebelumnya mereka duduk berdua di dalam cafe tanpa melontarkan ejekan dan candaan yang membuat mereka terbahak-bahak. Kali ini jauh berbeda dari hari-hari biasanya, tanpa mereka sadari, dalam hati mereka tengah berkecamuk sesuatu yang tak mampu diungkapkan. 

"Kak...."
"Dek...." 

Mereka saling berpandangan bingung, bersamaan menyebut panggilan mereka. 

"Ah, enggak, Kakak aja yang duluan," ujar gadis itu gugup. 


"Enggak... enggak. Kamu aja. Mau bilang apa?" balas remaja pria itu sembari mengelus rambut ikalnya dengan kikuk. 

"Kakak aja. Gak apa, beneran, ciyus... Kakak duluan."

"Ya, udah kalau kamu maksa," pria itu membolak-balikkan menu di atas meja, mencoba membaca deretan huruf-huruf yang berbaris rapi namun kepalanya tak bisa berkonsentrasi, "Mau makan apa?" tanya pria itu akhirnya. 

Gadis itu dengan sedikit kecewa mengangguk pasrah, melihat pada menu di depannya, sebersit air mata membayangi bola matanya yang cantik. 

"Ehm... a... aku... mau....,"

"Aku sayang kamu, Dek. Jadilah pacarku."

Si gadis menutup mulutnya demi mendengar cetusan kata-kata yang diucapkan dengan tergesa-gesa oleh pria di depannya. Pria yang kini memandang ke samping, terlihat begitu kikuk dan keringat menetes di tengkuknya. Akhirnya dia memberanikan diri mengatakan kalimat yang telah diulang-ulangnya semenjak sore tadi, sebelum berangkat bertemu dengan gadis ini di cafe tempat mereka makan malam. 

Gadis itu hampir menangis, matanya berkaca-kaca tak tahu harus menjawab apa. Dia begitu terkejut, jantungnya berdebar semakin kencang, wajahnya memanas, menahan segala gejolak perasaan yang terpendam dalam hati, ingin segera melepaskan tekanannya. Dalam hati gadis itu, dia ingin berteriak, agar seisi dunia mendengar, 

"Aku juga, Kak... aku juga....," Namun hanya rengekan tak jelas yang berhasil keluar dari mulutnya. Dia seperti orang gagu yang tak mampu bersuara, bahkan kedua tangannya bergetar karena takut bila ini semua hanyalah khayalannya belaka. 

"Dek... Kakak tahu... kamu pasti terkejut. Maafkan, Kakak.... Bila kamu... ah, tidak... tidak apa. Walau kamu tidak memiliki perasaan yang sama pada Kakak, setidaknya jangan benci Kakak. Kakak tidak bisa melihatmu menangis seperti ini. Maaf bila Kakak sudah menyusahkanmu," ujar pria itu, kedua tangannya mengepal di bawah meja, berharap dia tak pernah mengungkapkan perasaannya. 

Ketika si pria hendak berdiri dan pergi, gadis itu menarik pergelangan tangannya. 

"Kak... aku...," ujarnya terbata-bata. 

Pria itu menoleh dengan bingung, sirat kesedihan di matanya tergambar jelas, wajahnya pucat seperti orang yang baru saja kehilangan segalanya. 

"Aku mau, Kak.... Aku juga... aku juga menyayangimu. Aku mencintaimu, sudah sejak lama." Dan tangis gadis itupun pecah, pria itu menghambur dan membawa si gadis yang disayanginya itu ke dalam pelukannya. 

"Shhh... menangislah, menangislah...," ujar pria itu dengan rahang mengeras. Bukan... bukan karena marah, namun dia mencoba menahan tangis haru yang juga menguasai dadanya. Tak pernah dia merasa sebahagia ini dalam hidupnya mendengar seorang wanita membalas perasaannya. Dia tahu... karena wanita yang selalu dicintai hatinya tengah berada dalam pelukannya, dialah wanita yang ditakdirkan untuk hatinya, dialah wanita yang ditakdirkan untuk hidupnya. 

"Terima kasih banyak, Dek. Kakak berjanji... akan memegang cintamu dalam hati, tak akan sekalipun Kakak mengkhianati cintamu, Kakak berjanji." 

Gadis itu mengangguk, matanya sembab namun senyum manis terkembang di bibirnya. Dengan malu-malu dia menyeka air mata dan ingus yang menetes dari hidungnya. 

"Ih, anak kecil... ingusnya kelihatan tuh," ledek si pria yang juga merasa matanya panas dan berkaca-kaca. 

Gadis itu memukul lengan pria-nya, ikut meledek dengan tertawa masih sambil menangis, "Kakak juga!! Cowok kok nangis, ih, malu-maluin!!" 

"Biarin, wek!" 

Mereka akhirnya bersama, sungguh dibutuhkan sebuah keberanian dan kepercayaan diri yang tidak sedikit untuk mampu melawan ego di hati, melawan ketakutan yang bersemayam, demi masa depan, demi cinta yang tak pernah kita tahu... akan terbalas, atau hanya bertepuk sebelah tangan. Namun... bukankah lebih baik menyesal karena pernah mengatakannya, daripada menyesal karena tak pernah mengatakannya. Karena hidup... adalah tentang bagaimana menjalani kehidupan, bukan tentang menghindari yang bisa membuat hidup itu berwarna. 

Semoga jiwa-jiwa kekasih itu semakin dikuatkan untuk menggenggam harapan dan cinta mereka, sehingga terbitlah keberanian-keberanian dalam hati-hati yang masih menunggu kepastiannya, agar.. menjadi pasti. 


~Fin~ 

4 comments:

  1. yupzzzz tul banget,,, singkat,padat,jelas. klo cinta y bilang cinta.. klo sayang y bilang sayang, jangan ditunda2 nanti di ambil orang....

    ReplyDelete
  2. singkat,jelas,padat,berisi.... btw mbak shin, jung nam nya dah klamaan dicuekin tuh,,lanjut lagi donk next chapter jungnam nya pleaseeeeeeee.... ngarep banget nich,,, jung nam...3x

    ReplyDelete
  3. singkat,jelas,padat,berisi.... btw mbak shin, jung nam nya dah klamaan dicuekin tuh,,lanjut lagi donk next chapter jungnam nya pleaseeeeeeee.... ngarep banget nich,,, jung nam...3x

    ReplyDelete
  4. Mbak shin jung nam nya diterusin dong....

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.