"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, May 13, 2014

Not So Tough Lady - Part 21


Desahan nafas mereka bersahutan.

Butiran keringat menetes dari leher jenjangnya saat tubuh langsingnya bergerak gemulai di atas tubuh kekasihnya. Tangan-tangan mereka bertautan, saling menopang, saling mendukung. Mata mereka bertatapan sayu, penyatuan tubuh dua anak manusia yang dilingkupi cinta itu begitu intens, tak terbendung dengan gerakan yang semakin mendesak.

Magdalena tak dapat menghentikan tubuhnya untuk mereguk kenikmatan yang diinginkannya. Tubuhnya begitu mendambakan pelepasannya, mencengkeram dengan kuat tubuh kekasihnya, meminta lebih dari pelepasan berulang-ulang yang telah mereka nikmati semenjak petang menutup usia sepuluh jam yang lalu.


Tak ada gangguan, Mr. Stuart telah kembali ke London, para pelayan telah diusir menjauh, hanya ada mereka berdua dengan hasrat membara dan cinta yang bergelora. Mereka tak memikirkan masalah yang ditinggalkan Mr. Stuart saat dia berada di sini, tidak juga pada kemungkinan merger perusahaan Stuart yang telah diambil seperempat sahamnya oleh sepupunya Mark.

Yang ada hanya pelampiasan kemarahan, kerinduan dan cinta yang bertumpuk setelah seminggu lamanya mereka berpisah saat Bren harus menemani Thomasson pergi ke Singapura untuk bertemu dengan klien.

Magdalena memintanya untuk mewakili dirinya sementara dia sibuk mengurus Marko yang mulai menajamkan cakar-cakarnya dalam merebut saham terbesar milik perusahaan yang dibangun oleh Kakek Stuart. Magdalena tidak akan membiarkan sepupu culasnya itu mendapatkan apa yang dia inginkan, dia akan membuktikan pada Dewan Stuart bahwa dia mampu walaupun dia adalah seorang wanita.

“Aku akan keluar...,” teriak Magdalena lantang, kedua tangannya mencengkeram pundak Bren, membenamkan kuku-kukunya yang panjang pada bahu laki-laki itu, menggoreskan luka-luka memerah yang selalu hadir di setiap percintaan mereka.

“Ambil hadiahmu, Sayang. Ambil sebanyak yang kau ingin.”

Magdalena tak dapat bertahan lagi, tubuhnya bergetar tak beraturan dan gerakannya perlahan-lahan berhenti. Dia tengah diserang terjangan pelepasan yang membuat seluruh tubuhnya lumpuh, tak mampu bergerak karena lemas.

Bren tak membiarkan hal itu berlangsung lama, masih dengan tubuh Magdalena bergetar di atas tubuhnya, Bren menghujam kencang, bergerak cepat hingga wanitanya memekik dengan teriakan kenikmatan, dengan tangisan pelepasan yang membuatnya menyerah.

Mereka berdua kemudian terdiam setelah erangan tertahan yang begitu menyiksa tercetus dari mulut mereka, dengan tubuh bergetar hebat dan kuyu lemas tak bertenaga.

Bren mendekap erat punggung Magdalena, mengelus mesra kulit mulus wanitanya dengan mata terbuka, nyalang menatap langit-langit. Dia masih dapat merasakan denyutan nadi-nadi tubuhnya yang berada dalam tubuh Magdalena, mereka terkait dan perlahan kaitan itu terlepas, sebuah desahan keluar dari bibir manis Magdalena, yang mendapat pagutan mesra dari Bren.

“Apakah kau merindukanku?” tanya Bren sendu. Tak sekejap pun dia bisa melupakan wanita yang mendominasi dunianya ini, seminggu tanpanya dengan pemikiran bahwa dia adalah miliknya, membuat Bren merasa kerinduannya berlipat hingga ribuan kali.

Bila Magdalena memiliki waktu luang, malam hari mereka akan berbicara dalam telephone meski hanya sekedar basa-basi dan mengungkapkan betapa mereka saling merindukan. Hubungan mereka membaik, lebih mesra dan hangat. Magdalena tidak lagi menyangkal rasa cintanya pada Bren, dia mengungkapkannya tanpa malu-malu meskipun di depan Mr. Stuart Magdalena masih bersikap malu-malu memperlihatkan hubungan mereka. Tapi Bren selalu dapat melihat sebuah senyum samar pada sudut bibir laki-laki itu, bahkan ketika Mr. Stuart kembali ke Inggris, dia memberikan restunya pada Bren dan membisikkan sebuah pesan padanya. Pesan yang juga telah sering dia ungkapkan di depan Magdalena.

“Segera berikan aku seorang cucu.”

Senyum tersungging di bibir Bren mengingat hal itu, Magdalena yang sedang mendekap dada laki-laki itu menyadarinya.

“Mengapa kau tersenyum? Ada yang lucu?” tanyanya. Tubuh mereka masih sama-sama telanjang meskipun keringat telah mengering dan selimut telah menutupi bagian bawah tubuh mereka.

Senyum Bren semakin lebar, dia mengecup kening Magdalena dan memeluk erat tubuh wanita itu, mendekapnya hingga Magdalena hampir kehabisan nafas.

“Kau gila,” dengusnya sebal.

Bren tertawa, akan sangat aneh bila dia mengatakan hal itu pada Magdalena. Bren tak ingin Magdalena merasa dirinya dimanfaatkan. Lalu sebuah pikiran tercetus di kepalanya, diapun menanyakan hal itu pada Magdalena.

“Kita tidak pernah memakai pengaman,” ujarnya pelan.

Walaupun hubungan mereka telah begitu dekat, masih sangat sulit bagi Bren untuk menerka ke arah mana hubungan mereka ini akan berjalan. Akankah ada masa depan bagi mereka? Masa depan yang bernama pernikahan?

Bren menyangsikan kesempatannya untuk bisa membawa wanita yang tengah menindih tubuhnya ini ke pelaminan. Sedikit bayangan mendung tersirat di wajah tampannya.

“Apakah itu masalah bagimu?” tanya Magdalena tersinggung. Dia tidak suka melihat wajah Bren yang mendung, mengira bahwa laki-laki itu menyesal melakukannya dengannya. Diapun berusaha untuk lepas dari pelukan Bren.

Tak ingin wanitanya pergi, Bren mengeratkan pelukannya.

“Itu bukan masalah bagiku. Justru pertanyaan itu ingin kutanyakan padamu,” ujarnya sambil menatap mata Magdalena yang berusaha menghindar. “Apakah masalah bagimu bila... mungkin kau akan mengandung anakku?”

Magdalena membelai pipi Bren, menangkupkan kedua tangannya dan menatap mata coklatnya. “Bukankah itu yang aku inginkan? Kau memberikan seorang bayi, atau lebih.... Aku mencintaimu. Aku sudah mengatakannya dan aku tak ingin mencabutnya. Jadi, jangan pernah berpikir kau bisa lepas dari cengkeramanku. Kau sudah menjadi milikku, Bernard Bram. Tak akan kubiarkan kau lepas. Kalaupun kau berhasil lepas, akan kupastikan tak ada satu wanitapun yang bersedia kau tiduri,” bisiknya tajam.

Bren meringis geli, bukan jawaban yang dia sangka namun hatinya berbunga-bunga mendapati betapa posesif Magdalena terhadap dirinya. Bren senang, tak pernah dia merasa sesenang ini menjadi “milik” seorang wanita yang dia tahu pasti akan mengekangnya. Tapi Bren yakin, Magdalena adalah wanita yang lemah lembut hatinya. Walau dia juga yakin, wanita ini bisa begitu kasar di atas ranjang. Tak heran tubuhnya penuh luka goresan kuku-kuku yang memerah saat dia bercermin keesokan pagi setelah percintaan mereka. Terkadang, luka-luka itu akan terasa perih saat Bren membersihkan tubuhnya di bawah shower. Namun tak lebih, dia senang, dia menyukainya. Magdalena Stuart adalah bidadarinya.

“Tak akan. I’m yours. Hanya milikmu.” Bibir mereka pun bertemu dalam sebuah ciuman dalam sebelum tertidur pulas hingga mentari pagi menjelang.

~*~*~*~

Meski banyak gunjingan pegawai yang iri terhadap karir Bren karena begitu cepatnya dia menempati posisi tinggi, dia tidak menghiraukannya. Bren memaksakan diri untuk menebalkan muka dan menutup telinga dari gosip tak mengenakkan yang dia dengar, desas-desus bahwa dia peliharaan Magdalena dan laki-laki yang mendekati Nyonya Besar hanya untuk menggerogoti kekayaannya hanya didengarnya sambil lalu.

Bren tak banyak memiliki teman di perusahaan Stuart, dia baru bekerja satu bulan ketika Thomasson memintanya menjadi Asisten Magdalena. Maka tak heran, Bren tidak ambil pusing pada orang-orang yang hanya bisa bergosip di belakangnya. Bren meneguhkan tekadnya, akan memperlihatkan pada mereka semua bahwa dia memang pantas mendapatkan kedudukan baru di perusahaan Stuart, terlepas posisinya sebagai tunangan Sang Nyonya Besar.

Bren kini diangkat menjadi Asisten Owner, jabatan resmi yang memang ada di perusahaan, tugas yang lama kosong karena Magdalena tidak banyak mempercayai orang-orang untuk mengisi tempat itu.

Asisten Owner bertanggung jawab langsung pada Magdalena, bertugas mewakilinya dan mengatur pertemuan bisnis bersama klien. Jabatan yang lebih bersifat pribadi dibandingkan jabatan seorang sekretaris. Walaupun demikian, Magdalena dan Bren tidak pernah sekalipun menggunakan waktu kerja mereka untuk melakukan hal-hal diluar pekerjaan. Mereka begitu profesional dan Magdalena semakin mengagumi Bren untuk kepintarannya meskipun dia sedikit geram karena laki-laki itu tak pernah menerima sinyal-sinyal yang dia lemparkan padanya saat mereka berada di dalam kantor miliknya.

Bren bukan tidak dapat menangkap sinyal itu, dia terlalu gentar menerima sinyal Magdalena, tak ingin seseorang memergoki mereka yang akan semakin merusak nama Magdalena ataupun nama dirinya sendiri.

Seperti siang ini, emosi Magdalena tengah naik turun, pengaruh periode kewanitaannya yang akan segera datang.

Sebelumnya, Magdalena telah meminta sebuah ciuman dalam dari Bren saat mereka berada di dalam lift kantor. Pagutan panas itu hampir saja mempermalukan mereka di hadapan karyawan lain bila Bren tidak segera menyadari dimana mereka berada. Magdalena terkadang bisa dengan spontan menciuminya tanpa alasan jelas lalu bersikap acuh setelahnya, menggantung Bren dalam hasrat yang mengaduk-aduk perasaannya.

Hubungan mereka membaik, semakin intim dan jarang sekali pertengkaran karena Bren sering mengalah. Bukan hanya untuk urusan pekerjaan, namun juga untuk urusan ranjang. Dia rela selalu berada di bawah Magdalena dan menunggu wanita itu mendapatkan pelepasannya terlebih dulu, baru kemudian Bren akan mencari pelampiasannya sendiri.

Hubungan itu seolah tak ada halangan, hingga suatu hari Magdalena mendapat panggilan dari London, yang menyatakan ayahnya terjatuh dari kursi rodanya dan tak sadarkan diri hingga terpaksa dibawa ke rumah sakit.

Magdalena yang panik akhirnya terbang seorang diri ke London karena Bren harus menggantikan tempatnya sebagai perwakilan Stuart ltd. untuk mengikuti pertemuan dengan pengusaha-pengusaha seluruh Asia dan Negara-negara Pasifik di Bali bersama para pemimpin negara, ditemani Thomasson. Bren yang tak rela Magdalena pergi seorang diri hanya bisa tersenyum muram karena hatinya gundah, perasaannya tidak enak. Dia mengkhawatirkan akan terjadi sesuatu di sana.

“Magdalena....” bisiknya setelah mengantarkan Nyonya Besar masuk ke dalam ruangan penumpang, setelah sebuah kecupan perpisahan mewarnai perjumpaan terakhir mereka. 


2 comments:

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.