"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, May 16, 2014

You're My X Factor


Seumur hidup, tak pernah aku menyangka akan berada dalam situasi seperti saat kuberada kini. Bahkan berada di depan para direktur perusahaan dan mempresentasikan ide-ide baru yang digalang bawahanku tak pernah membuatku gelisah dan harap-harap cemas. Aku sendiri bingung mengapa bisa aku terjatuh dalam permainan ini yang jelas-jelas sejak semula pasti tak akan pernah kumenangi.

Sejam dua jam yang lalu jantungku berdebar tak karuan, kendatipun ruangan tunggu ini berpendingin udara, tak pelak butiran keringat menitik dari keningku. Aku melirik jam tangan Rolex-ku sekilas, benar-benar dua jam yang sia-sia. Seharusnya saat ini aku berada di dalam kantor CEO Wahlbert Co. perusahaan yang dibangun oleh keluargaku beberapa puluh tahun silam yang bergerak di bidang konstruksi dan marketing, dan bukan duduk di kursi tunggu yang terbuat dari chrom yang keras.


Orang-orang di sekelilingku hiruk-pikuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Kulirik satu per satu yang dekat dengan posisiku, seorang wanita beramput pirang tengah berbisik dan bersenandung di pojok ruangan ini, duduk bersila di lantai meskipun tempat duduk lain banyak yang kosong. Ada pula beberapa pemuda berusia sekira dua puluh enam tahun juga sedang sibuk menghafal lirik-lirik lagu dari secarik kertas yang mereka pegangi.

Suara-suara keras, melengking, teriakan kasar dan memekakkan telinga benar-benar mengganggu pendengaranku. Tak pernah sebelumnya suasana seperti ini menjadi pilihanku, bahkan... ini bukanlah pilihanku.

“Kau yakin tidak ingin minum?” tanya sebuah suara yang sedari tadi dengan setia menawariku minuman.

“Tidak. Aku tak ingin terpaksa pergi ke toilet. Lagipula tak lama lagi nomerku akan dipanggil, kan?”

Dia hanya tersenyum, menyesap air putih dari botol di tangannya. Dia lah alasan mengapa aku berada di dalam ruangan ini sekarang. Ballroom hotel The Ambassador yang terletak di tengah kota London ini memang menjadi pusat dari acara yang terpaksa kuikuti kali ini. Yang sayangnya... bukan sebagai seorang CEO perusahaanku, namun hanya sebagai seorang pria, suami dari istriku yang tengah mengandung lima bulan.

“Peserta nomer 20988, silahkan masuk ke bagian belakang studio untuk bersiap-siap.” Seorang petugas memanggil nomer pesertaku.

“Honey... giliranmu,” ujar Istriku antusias. Dia menepuk lenganku, sungguh bersemangat, meski dia tahu aku begitu enggan untuk melanjutkan permainan ini.

“Tidak bisakah kita pulang saja? Aku akan melakukan hal lain, tapi ini terlalu banyak....” Aku mencoba menawar dan bernegosiasi... walaupun jauh di dalam hatiku, aku tahu tak mungkin berhasil. Tapi tak ada salahnya untuk mencoba, kan?

“Tidak. Kau telah berjanji. Sekarang lakukan apa yang kau janjikan, jadilah seorang Pria Sejati. Pria sejati tak pernah ingkar janji.”

“Aku kira itu hanya berlaku untuk merpati,” keluhku dengan alis terangkat tinggi. “Merpati tak pernah ingkar janji,” lanjutku lagi.

Istriku berkacak pinggang dan menampilkan wajah galaknya, ya... ya... aku menyerah.

“Alright, Honey... apapun perintahmu, Ratuku....”

Aku membungkuk memberi salut seolah istriku adalah The Queen, dia lalu mencubit pinggangku dan menarik lenganku menuju ke belakang studio.

Seorang pria yang katanya adalah pembawa acara event ini menyapaku, berbasa-basi singkat yang kebanyakan dijawab oleh istriku. Pembaca acara itu tertawa mendengarkan alasan mengapa aku bisa berada di sini, pada salah satu acara pencarian bakat di negara kami. Sungguh memalukan. Bagaimana bila kolega dan klien-klienku melihat apa yang kulakukan saat ini? Aku yakin harga saham perusahaanku pasti akan langsung jatuh, terjun dengan bebas.

“Ok, dalam hitungan ke-tiga, berlarilah ke panggung,” perintah seorang kru event ini padaku.

“Goodluck, Honey....” Istriku memberi semangat sembari mengelus perutnya yang membusung besar. Yeah... anak dan istriku pun ikut memberiku semangat.

“Satu, dua dan tiga... Pergilah!”

Dengan langkah lebar, aku pun menuju tengah panggung dan seketika mendapat sambutan luar biasa dari penonton yang membuat rambut-rambut di tubuhku berdiri. Bahkan ribuan pegawai yang kumiliki tak pernah memberi aplause sehebat ini sebelumnya. Acara apa ini sebenarnya??

“Halo, siapa namamu?” tanya seorang pria yang berdiri di depanku.

Ada empat orang yang tidak kuketahui siapa, walaupun aku pernah melihat wajah-wajah mereka di televisi atau iklan-iklan di media-media. Nampaknya mereka adalah juri dari acara ini, pencarian bakat? Istriku bahkan tak merasa perlu untuk memberitahukanku nama acara ini. Dia hanya memintaku untuk tampil di sini dan beberapa perintah lainnya yang harus kuturuti selama aku berada di atas panggung ini.

“Halo, namaku Henry Scott.”

“Baiklah, Henry, nampaknya kau peserta yang sedikit berbeda dari peserta-peserta sebelumnya. Berapa usiamu?”

“I’m twenty seven.” Dan penonton mulai riuh, ada yang aneh, kah dengan jawabanku?

“Alright... Henry... nampaknya para penonton menyukaimu. Apa pekerjaanmu, Handsome guy?” kini seorang juri wanita yang bernama Cheryl bertanya padaku. Haruskah aku senang dengan pujian itu?

Kuakui wajahku memang tidak jelek. Sebelum menikahi Gilda, istriku, bisa dibilang aku adalah pria yang... well... tidak terlalu sulit untuk mendapatkan wanita, baik karena ketampananku, uangku... atau hal-hal lain yang tidak mungkin kusebutkan di sini. Tapi ya... aku memang cukup tampan. Ditambah balutan suit resmi rangkap tiga yang kupakai sekarang. Istriku memang menculikku dari kantorku untuk datang ke tempat ini, aku bahkan tak sempat untuk mengganti pakaianku.

“Aku seorang bisnisman,” jawabku jujur. Dan sekali lagi mereka menjadi riuh. Yeah....

“Apa yang dilakukan seorang bisnisman di audisi X-factor ini, Henry?”

“Kau bekerja di bidang apa?” tanya seorang juri yang lain.

“Sejujurnya, aku berada di sini karena permintaan istriku yang sedang hamil lima bulan,” jawabku tanpa bermaksud mencari perhatian atau simpati penonton. Tapi rupanya itu tak perlu, karena mereka memang menyukai cerita seperti ini, eh?

“Tell us about it.”

“Well... ceritanya cukup panjang. Aku tak tahu bila aku bisa menceritakannya dalam beberapa kalimat,” kataku berusaha mengelak.

Tapi lagi-lagi penonton riuh, menyemangatiku agar segera menceritakan alasanku berada di sini. Aku menoleh ke samping, ke arah istriku yang sedang menatapku penuh bangga, bibirnya bahkan bergerak-gerak seolah berkata, “Tell them.... Tell them,” Oh yeah....

“It’s ok. Ambil waktumu sebanyak yang kau perlukan. Kami punya waktu seharian, Henry,” jawab seorang juri yang di-iyakan oleh seluruh penonton.

“Baiklah... well.... Istriku membuat sebuah permainan dan bila aku kalah, aku harus mengikuti permintaannya, apapun itu.”

“Dan kau kalah?”

“Aku di sini... menurutmu apakah aku menang?” tanyaku dengan ironis. Are they blind?

Mereka tertawa, “Dan istrimu memintamu untuk mengikuti audisi ini. Apakah kau bisa bernyanyi, Henry?”

“Aku tak pernah bernyanyi di depan umum, hanya di depan istriku. Itupun hanya beberapa kali saat dia mengeluh kesakitan.” Dan suara penonton bergemuruh, mereka pasti khawatir suaraku akan membuat telinga mereka kesakitan. Huh... aku memang bukan penyanyi handal.

“Hei, rasa-rasanya aku mengenalmu.” Juri yang bernama Simon mencetuskan pernyataan itu. “Kau adalah Henry Jameson, Pemilik dan CEO Wahlbert Company, perusahaan yang membangun stadium-stadium, hotel-hotel, apartemen-apartemen dan lainnya. Apakah kau yakin tidak sedang mabuk?”

Oke, ini sudah cukup. Kapan aku harus menyanyi dan kabur dari ini semua?

“Can I sing now?” tanyaku enggan. Atau bisakah aku segera pergi dari sini?

“Oh, ayolah, Henry. Ceritakan sedikit tentang permainanmu dengan istrimu,” rayu juri wanita yang bertanya padaku tadi.

Haruskah aku menceritakan permainan itu? Bahwa saat aku tak bisa menahan gairahku selama satu minggu tanpa menyentuh istriku, maka aku kalah. Dan Gilda dengan senang hati memintaku untuk mengikuti audisi ini, menyanyikan lagu yang sering kunyanyikan untuknya dalam tidurnya. Dia bilang, “Anakmu ingin mendengar ayahnya bernyanyi.” Ya... aku yakin itu....

“Aku kalah... dan istriku ingin aku mengikuti audisi ini, karena lagu yang akan kunyanyikan ini... adalah untuk dia dan anak kami yang sedang dalam kandungan.”

Semua penonton mendesah, so sweet mungkin?

“Oh, itu sungguh manis, Henry. Lagu apa yang akan kau nyanyikan untuk mereka?”

“All of me, dari John Legend.”

“Baiklah, Good luck, Henry.”

Akhirnya!!!

“Thank you,” balasku.

Dan musik pun mulai dimainkan. Aku melirik Gilda, dia mengepalkan kedua tinjunya, “Semangat!!” katanya.

Dengan fasih kulantunkan lirik demi lirik lagu All of Me tanpa cela. Suaraku memang bukan suara yang terindah di dunia, tapi tidak juga terlalu buruk. Terbukti, saat musik telah berhenti, para penonton berdiri memberikan tepuk tangannya, tak terkecuali ke-empat juri yang tadinya duduk di depanku.

“Henry... Henry.... Aku yakin istri dan anakmu sangat bangga padamu. Itu tadi adalah lagu yang sangat indah dan manis. Wanita manapun yang mendengarkannya akan meleleh hatinya dan pastinya... tak sedikit penonton yang jatuh cinta padamu hari ini, tak terkecuali Cheryl, kurasa,” ujar salah satu juri pria.

Aku hanya tersenyum, tugasku sudah selesai.

“Henry... benar kata Louies tadi. Aku memang jatuh cinta pada suaramu. Kau sempurna. Handsome, can sing and sure... rich!!”

Sudut bibirku tertarik ke atas, betapa aku ingin segera menghilang dari sini.

“Baiklah, kita vote?” tanya Simon pada rekan-rekan jurinya yang lain.

Walhasil, aku pun mendapat empat YES, yang berarti aku masuk ke babak audisi berikutnya. Hei... apa artinya itu? Apa aku harus mengikuti audisi lain lagi??? Bagaimana dengan pekerjaanku?

Aku pun melirik istriku yang menampakkan dirinya dari belakang studio ke depan panggung, dia mengecup bibirku sekilas, tapi aku menarik lehernya agar kami bisa berciuman lebih lama lagi.

Penonton bersorak riuh, ada yang bersuit-suit, begitu rame dan penuh. Tepuk tangan berkumandang dengan musik cinta diperdengarkan di dalam ruangan itu. Sungguh sebuah kenyataan yang mencengangkan bagiku. Istriku memang sangat pintar untuk mengerjaiku.

“I love you, Honey...,” ujar istriku mesra.

“Aku juga mencintaimu, Sayang,” balasku.

Sembari melambaikan tangan dan memeluk pinggang istriku, kami pun melangkah keluar dari panggung, kembali ke belakang studio. What an amazing experience for me.

“Apakah aku harus mengikuti audisi berikutnya?” tanyaku saat kami telah berada di kursi penumpang mobilku.

“Ya, tentu saja,” jawab istriku enteng.

“But... bagaimana dengan pekerjaanku? Aku tak mungkin melepaskan pekerjaan kantor untuk... untuk... mengikuti audisi tak penting seperti itu, kan?”

“Oh, Henry... itu audisi sangat penting. Kau tahu kenapa?”

Alisku tertaut, “Kenapa?”

“Karena aku yang memintamu. Sama pentingnya dengan diriku. Aku penting, kan?”

Aku sungguh-sungguh tak sanggup berbicara. Bagaimana mungkin aku bisa menang dengan argumen seperti itu.

“Senangkan lah istrimu sekali-sekali, Mister Jameson. Tak setiap hari seorang wanita hamil, kan?”

Aku menarik tubuh istriku ke dalam pelukanku, mencium bibirnya dalam-dalam dan berujar, “Apapun yang kau inginkan, Mrs. Jameson. Bahkan bulan pun akan kuambilkan untukmu, sekarang... kau juga memiliki sebuah tugas sebagai seorang istri, eh?”

“Tugas? No... besok baru kau mendapatkan jatahmu, Mister. Not this night.”

“Oh, ayolah, Honey.... Sudah empat hari... apakah kau bermaksud untuk menyiksa suamimu?”

Dan tawa Gilda menjawab pertanyaanku. Aku rasa... tak akan ada hari-hari privasi lagi bagi kami setelah ini. Dan ketika malam menjelang, video saat aku di-audisi telah di-upload ke dalam Youtube dengan judul, “CEO tampan menyanyi untuk istri tercinta.” Oh yeah... video ini mendapat lima juta views dalam beberapa jam. Mungkin memang judul itu cukup menjual. Ahhh... dimana harus kuletakkan wajahku esok saat bertemu dengan para direktur dan klien-klienku.....


Gilda... kau harus bertanggungjawab, Sayang....... 


11 comments:

  1. Oo...eM...Gjie... SOOO SWEETTTTTT...!!!

    ReplyDelete
  2. wah ternyata aku yg pertamax.... salam kenal m.shin aku ria ratna

    ReplyDelete
  3. wah ternyata aku yg pertamax.... salam kenal m.shin aku ria ratna

    ReplyDelete
  4. Oo...eM...Gjie... SOOO SWEETTTTTT...!!!

    ReplyDelete
  5. keren sist, tema yang gak biasa, kita tunggu karyamu yang lain.. ;)

    ReplyDelete
  6. Coollll.... Simple but soooooo romantic....

    ReplyDelete
  7. Henry,coooo cweettttt bingitzzzz mbak shin...

    ReplyDelete
  8. noona anda sgt insfiratig skli
    q sng bc blog x
    d tunngu kry slnjt x


    pratiei

    ReplyDelete
  9. Cuteneessssssss!!!!!!

    ReplyDelete
  10. lanjut doank.sayang klo cuma sampe sini aja..ceritanya unik..

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.