"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Sunday, June 22, 2014

FANFIC Topeng Kaca - Langit Sejuta Bintang - Part 1


Peristiwa ini terjadi ketika Maya dan Masumi sedang menyaksikan langit penuh bintang sewaktu mereka berdua berada di kampung halaman Bidadari Merah. Saat itu Masumi dan Maya berbaring saling berdampingan, tangan mereka menumpu di bawah kepala, sedang Maya berbaring miring sembari menatap penuh damba Sang Mawar Jingga pujaan hati yang baru saja diketahuinya, yang tak lain adalah musuh bebuyutannya, Pak Masumi.

“Kenapa kau memandangiku seperti itu, Mungil? Kau membuatku salah tingkah,” senyum Masumi pada Maya. Gadis muda itu sumringah dan dengan cepat memutar tubuhnya membelakangi Masumi.

Masumi tersenyum hangat, hanya berada berduaan dengan Maya dia mampu untuk tersenyum dan menampilkan dirinya yang sebenarnya. Maya mampu membuatnya melupakan segala masalahnya, status sosial, pekerjaan yang menumpuk, kecuali satu hal... usia yang menjadi jarak di antara mereka.

Masumi tersenyum miris, memandangi punggung Maya dari belakang tepat di sampingnya, hanya berjarak beberapa senti dan dia dengan mudah bisa merengkuh tubuh gadis itu, gadis yang telah menguasai hati dan jiwanya selama tujuh tahun ini. Masumi selalu membohongi dirinya, dengan fakta bila dialah pembunuh ibu dari gadis ini, Masumi membentengi dirinya dari perasaan Maya, Masumi tak percaya gadis ini akan mampu memaafkannya.

“Maafkan aku, Mungil. Andai bisa kurubah waktu, ingin kuputar kembali sehingga kita tak akan pernah bertemu. Kehadiranku dalam hidupmu hanya menambah beban dan penderitaanmu. Karena akulah kau kehilangan satu-satunya orang tua yang kau miliki. Aku tahu bagaimana rasanya, namun saat mataku telah dibutakan oleh dendam dan uang, dengan keinginan untuk membuatmu terkenal... aku lupa... bahwa bukan itulah sesungguhnya makna dari hidup ini. Kau telah memberikanku banyak pelajaran tentang kehidupan, tentang bagaimana harus tersenyum lagi. Maya... aku tak pantas untuk kau maafkan,” bisik Masumi dalam hati. Kesedihan makin tersirat dari wajahnya yang memandang jauh dalam kegelepan malam, pada ujung jalan di balik tubuh Maya.

“Pak Masumi...” panggilan Maya membuyarkan Masumi dari lamunannya.

“Kau berbicara padaku?” tanya Masumi pada Maya.

“Ya, tentu saja aku berbicara padamu. Apa kau kira selain kita ada orang lain lagi disini?” tanya Maya balik dengan merengut.

Masumi tertawa kecil, hanya dengan melihat ekspresi gadis ini telah mencerahkan harinya. Dia baru saja menempuh perjalanan jauh dari Tokyo karena mendengar kabar ayahnya menghilang setelah mobil yang ditumpangi Eisuke Hayami masuk jurang. Meski Masumi tidak memiliki perasaan sayang pada laki-laki yang menjadi penyebab kematian ibunya, hanya dialah satu-satunya keluarga yang masih dia miliki. Membayangkan kepergian laki-laki itu tak ayal membuat hati Masumi gundah.

“Jangan marah, kau terlihat semakin jelek bila memasang wajah merengut seperti itu,” ledek Masumi yang hanya menambah kekesalan Maya.

Maya bangkit dari tidurnya, bersedekap dan mengalihkan wajahnya ke samping, “Aku memang jelek, aku tidak cantik. Aku juga masih anak-anak, kau tidak akan pernah melihatku sebagai wanita, Pak Masumi. Apapun yang aku lakukan tak akan sanggup membuatmu tertarik padaku, aku bukanlah siapa-siapa dibandingkan Nona Shiori yang begitu cantik, dari keluarga kaya dan terhormat. Kau lebih baik tidak bergaul denganku lagi, aku hanya membuatmu terlihat jelek di mata orang lain.” Maya mencoba menyembunyikan air matanya yang menetes dengan deras, meski hatinya sakit, tapi dia menyadari dengan penuh kata-kata yang dia ucapkan adalah benar. Maya mengakui dirinya jelek, miskin, bahkan nilai-nilai akademisnya begitu buruk. Maya malu pada Pak Masumi, malu pada Mawar Jingga-nya yang telah mendukungnya selama ini hingga menyekolahkannya sampai lulus. Maya tidak dapat memandang mata Masumi yang bingung dengan kelakuan gadis kecil ini.

“Mungil... Apa yang kau katakan? Itu semua tidak benar...” Masumi mencoba menyentuh Maya namun gadis itu menepisnya. Dengan sedikit kekuatan, akhirnya tubuh Maya mendongak, berbalik ke arah Masumi. Masumi memaksa gadis itu untuk mendongakkan wajahnya ke arahnya, tangan Masumi mengunci dagunya agar Maya tak bisa berkelit.

“Lepaskan! Kau tidak boleh melihatku, aku jelek, Pak Masumi!” teriak Maya tak berdaya.

“Shh... Mungil...”

Maya meronta, mencoba melepaskan kuncian tangan Masumi namun laki-laki itu justru mencekal kedua tangannya dengan sebelah tangannya yang lain. Pergelangan tangan mungil itu muat dalam tangan besar Masumi.

“Mungil...” bisik Masumi lagi, wajahnya sayu menatap mata Maya yang mengeluarkan air mata, air mata kesedihan karena ketidakberdayaan gadis itu saat bersamanya.

“Pak Masumi... tolong lepaskan aku...” bisik Maya dalam isak tangisnya.

“...Maya... Kau memang jelek,” Masumi mendengus, “Tapi di mataku, kau adalah wanita paling cantik di dunia. Dengan caramu kau memperlihatkan padaku apa itu rasa sayang, maaf... Kau mengajariku banyak hal, bahkan cinta... Aku yang tak pernah mencintai siapapun di dunia ini akhirnya merasakan hal itu juga. Kau.. kaulah yang membuatku merasakan hal itu, Maya...” bisik Masumi, wajahnya semakin mendekat ke arah Maya.

Maya menggeleng-gelengkan wajahnya dengan sia-sia, tangan Masumi masih memegangnya. “Aku turut bahagia mendengarnya, Pak Masumi. Selamat, Nona Shiori adalah wanita paling beruntung di dunia ini karena mendapatkan cintamu.” Maya tak dapat menghentikan tangisnya yang semakin deras, hatinya semakin sakit mendengar curahan hati laki-laki di hadapannya.

“...Maya... Wanita yang kucintai adalah...”

Maya ingin menutup telinganya, matanya terpejam menolak melihat ekspresi penuh cinta Masumi saat mengungkapkan siapa wanita yang dicintainya, Maya bersikeras dia tak akan menerima sakit hati lain yang diberikan Masumi padanya, Mawar Jingganya.

Namun mata Maya membelalak saat dirasanya sentuhan bibir hangat Masumi menempel pada bibirnya, bibir basah yang kini memagut dalam bibirnya yang mungil, bibirnya yang baru pertama kali merasakan sentuhan bibir laki-laki.

“Pak Masumi...” bisik Maya dalam hati.

Masumi mendorong pelan tubuh Maya hingga badan mereka berbaring di atas rumput lembut, Masumi dengan berat tubuhnya menindih dan mengungkung tubuh mungil Maya, kedua tangannya berada di samping, menumpukan setengah beratnya yang lain agar tidak menimpa Maya sepenuhnya.

Ciuman pelan itu tersambut oleh Maya, meski hatinya tengah berada dalam kebingungan, Maya menerima seutuhnya desah cinta yang diberikan Masumi padanya. Bibir mereka berpagutan saling balas, mengklaim kepemilikan atas jiwa yang lain. Masumi menghisap bibir bawah Maya, mata mereka saling terpejam menikmati getar-getar kehangatan yang menjalar dalam hati. Sedang tangan Masumi mulai mengelus tubuh Maya, merasakan keinginan kuat untuk memiliki gadis itu.

Saat tautan bibir mereka terlepas, Masumi mendesahkan nama wanita yang dicintainya.

“Maya... Kaulah satu-satunya wanita yang ada dalam hatiku, wanita yang kucintai. Mungil-ku...”

“Pak Masumi...” bisik Maya penuh haru. Dia tak pernah menyangka Masumi akan membalas rasa cintanya, Maya mengira laki-laki itu hanya menganggapnya anak kecil yang tak perlu diperhatikan, namun dia ternyata salah.

“Maya... Aku telah membohongi diriku selama ini, aku tak sanggup lagi, Maya. Tapi keadaanku seperti ini, aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu. Tapi bila kau percaya padaku, aku berjanji akan membuat ini baik untuk kita berdua.”

“Pak Masumi... Aku...”

“Maya... Aku tidak akan memaksamu untuk menerima cintaku, aku tahu... aku adalah laki-laki yang paling kau benci. Tapi bila kau bersabar, aku akan menunjukkan padamu, aku akan membayar semua kesalahan yang telah kuperbuat. Aku akan menyerahkan keputusnnya padamu nanti, saat waktunya tiba,” ujar Masumi pelan. Matanya menatap penuh keyakinan, dia bertekad akan membuat Maya mencintainya, akan membuat Maya memaafkannya meski dia tahu.. dia tak pantas untuk dimaafkan.

“Pak Masumi... Aku tidak membencimu... Aku...”

Masumi menutup bibir Maya dengan jarinya, “Shh... Maya... jangan kau paksakan... Aku akan sabar menunggu, aku akan membuatmu mencintaiku.”

Bibir Masumi kembali menguasai bibir mungil Maya, tak ada lagi kata-kata, tak ada lagi penyangkalan yang keluar dari mulut mereka. Hanya desah nafas tertahan saat kedua insan itu mulai menyadari betapa penting arti mereka dalam hidup masing-masing.

“Pak Masumi... Aku juga mencintaimu...” bisik Maya dalam hati.

~*~*~ 

2 comments:

  1. Bru tau ada fftk baru... keren.. lanjut lg donk.. ada sekuel nya ga?

    ReplyDelete
  2. Ini part 1 y? Suka crtnya... lanjut pls..

    Erlin^^

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.