"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, June 18, 2014

ONE SHOOT - Birthday Girl


Seminggu belakangan Cassey tampak uring-uringan dan selalu membuat Danof kewalahan dengan kemanjaannya yang berlebihan. Kekasihnya itu selalu bertanya hal yang sama berulang-ulang, “Kau tak ingin pergi ke mall bersamaku?” atau “Kau tidak membuat janji di akhir minggu ini?” Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Danof bingung dan hampir meradang karena emosinya tengah berada di titik puncak. Pekerjaan yang menumpuk dan banyaknya proyek yang tertunda, ditambah harus menghadapi Cassey yang kekanak-kanakan membuat kesabarannya menipis, hingga akhirnya mereka bertengkar hebat pagi ini.


“Bila kau ingin pergi ke mall, pergilah sendiri. Aku tak punya waktu untuk itu, Cass. Gunakan kartu kredit yang aku berikan, and bullshit about not using my money. Don’t add my frustration today. I have enough!!” Untuk pertama kalinya Danof menggunakan nada tinggi lagi setelah berbulan-bulan lamanya mereka tinggal bersama dan berjanji untuk memperbaiki hubungan mereka yang dulu sempat buruk.

Cassey terlihat mengkerut di tempatnya berdiri, matanya berkaca-kaca seperti ingin menangis, namun ditahan-tahannya. Wajahnya memerah dan dia menggigiti bibirnya. Tenggorokannya terasa sakit, dadanya berat menahan sesak dan sakit hati karena ucapan Danof. Dia tahu, dia juga terlalu mendesak lelaki itu, itu hanya karena dia merasa kesal dengan kecuekan Danof mengenai hari spesial di hari sabtu, Danof bahkan tak mengingat hari apa hari ini, sama sekali, dan itu menghancurkan hati Cassey hingga berkeping-keping.

Menarik nafasnya dalam-dalam untuk meredakan kepenatannya, Danof menghela panjang, “Maafkan aku. Aku harus pergi, aku akan terlambat bila tak berangkat sekarang. Sampai nanti,” ucap Danof tanpa mencium bibir Cassey seperti biasanya. Mereka masih diliputi emosi yang tak dapat disisihkan begitu saja, mungkin dengan tak bertemu selama sehari penuh emosi mereka bisa sedikit terobati.

Cassey menutup pintu kamar mereka, mendengar deru mobil Danof yang pergi meninggalkan rumah. Di sana kemudian tangisnya turun tak terbendung lagi, dia terduduk di atas karpet dengan kedua kaki menekuk, menempel ke tubuhnya, kedua tangannya memeluk lututnya dan dia menangis terisak, menyesali sikapnya selama seminggu ini yang tak mengerti dengan kesusahan Danof.

“Tidak, aku tidak boleh begini. Ini tidak benar,” ujarnya sembari mengusap air mata di pipi, “Aku harus memperbaiki ini. Aku akan membawakan Danof makanan, mungkin dengan begitu, frustasinya akan sedikit berkurang. Ya... aku akan membuatkan makanan kesukaannya.”

Cassey melompat berdiri, memperbaiki penampilannya di dalam cermin sebelum pergi ke dapur dan menemui dua orang asisten rumah tangga yang tak banyak berkomentar melihat bekas tangisan di wajahnya. Meski mereka tak mengerti apa yang sedang terjadi, namun mereka cukup tahu diri untuk tidak mencampuri urusan orang lain.

“Aku ingin masak makanan spesial hari ini untuk Mr. Danof, minta bantuannya ya, Bi.”

“Baik, Nona,” sahut mereka berbarengan.

Pagi itu hingga tiga jam ke depan Cassey sibuk di dapur, membuat mashed potato gurih kesukaan Danof, Tender Chicken Breast berbalut tepung tempura yang dia goreng dalam minyak panas, serta beberapa batang asparagus yang juga disukai Danof. Pria itu tidak menyukai salad, tapi dia tak pernah menolak sayuran matang.

“Baiklah. Semua sudah siap, sekarang tinggal membersihkan tubuhku. Aku akan menemui Danof di kantornya... semoga dia menyukainya,” ujar Cassey penuh harap. Dadanya membumbung tinggi dipenuhi rasa bangga. Dia yakin masakannya enak dan Danof akan memujinya seperti biasa. Mungkin dengan makanan itu Danof akan melunak padanya.

Hampir pukul sebelas siang saat Cassey berangkat dari rumahnya, dengan tingkat kemacetan yang tak terlalu tinggi, setengah jam kemudian dia sudah tiba di lobi gedung perkantoran tempat perusahaan Danof. Dengan tas yang berisikan makan siang Danof, Cassey melenggang penuh percaya diri menuju lift yang membawanya ke lantai tiga puluh, kantor CEO.

Sekali lagi Cassey bercemin di dalam lift yang memantulkan wajahnya, matanya sedikit membengkak bekas tangisannya tadi pagi, namun masih bisa disamarkan dengan bedak dan pemerah pipi, Danof mungkin akan menyadarinya, tapi Cassey yakin itu bukanlah hal utama yang ada dalam pikiran laki-laki itu. Cassey yakin pakaiannya sopan dan anggun, tidak berkesan genit atau nakal yang akan membuat Danof yang sedang emosi meradang. Tak ada dari pembawaannya hari ini yang bisa disalahkan Danof, Cassey berusaha tampil sempurna di depan pria itu.

“Masuk,” suara Danof terdengar dari dalam kantornya. Pintu pun membuka dan Cassey dapat melihat Danof sedang berbicara serius dengan Braden, Direktur Finansial perusahaannya.

“Hei, apa kabar, Cas?” sapa Braden yang berdiri menyambut Cassey dengan sebuah pelukan hangat dan ciuman di pipi.

“Hai, B. Kabarku baik, bagaimana denganmu?”

I’m good. Mengunjungi Pria-mu, kah?” tanya Braden dengan senyum jahil. Danof yang berada di balik meja kerjanya memasang ekspresi datar, seolah kedatangan Cassey bukan hal penting baginya.

“Kau tak bilang akan ke sini,” lebih seperti sebuah tuduhan dan jantung Cassey tiba-tiba berdebar lebih kencang, nyeri kembali terasa dalam hati wanita itu. Bahkan Braden menoleh ke arah Danof dengan pandangan bingung.

“Your woman’s coming, yet you’re speaking like that? You’re cruel, D,” ucap Braden sembari menggelengkan kepalanya.

“Dia sudah tahu aku sedang sangat sibuk di kantor, Braden. Apa yang kau harapkan untuk aku katakan? Kedatangannya hanya akan mengalihkanku.”

“Setidaknya kau bisa berdiri dan menyambut Cassey seperti bagaimana seharusnya seorang kekasih, kan?” ucap Braden mulai terlihat kesal. Dia tak mengerti mengapa sahabat karibnya bersikap bajingan seperti itu. Pekerjaan memang tak akan pernah habis dan meskipun proyek perusahaan mereka tertunda, tapi itu semua sudah dibereskan. Tak ada alasan lain seharusnya bagi Danof untuk merasa terganggu dengan kedatangan Cassey.

“Tak apa, B. Aku... aku kemari hanya ingin membawakan ini untuk D. Ini... aku letakkan di sini.” Cassey meletakkan tas yang dia bawa tadi ke atas meja kerja Danof, menunjuk dengan tangannya ke dalam tas itu, “Aku juga sudah menyelipkan pisau dan garpu, jadi kau tak perlu susah-susah untuk menikmatinya.”

“Wow, kau membawakan Danof makan siang, Cas?” ujar Braden antusias, membuka tas bawaan Cassey tadi dan menghirup aroma makanan yang membuat perutnya lapar seketika.

“Maaf, B... aku hanya membuatkan untuk satu orang saja.... Aku akan memasakkan untukmu lain kali. Promise...,” ujar Cassey dengan senyum bersalah.

“Aku tidak lapar, bawa pergi saja,” jawab Danof ketus. Dia masih lebih tertarik pada layar komputer di depannya yang berkedip tanpa henti.

Braden dapat menyadari Cassey tak bisa berkata-kata lagi, bahkan air matanya telah menetes mengkhianati kekuatan hatinya. Tanpa bisa mencegah kakinya, Cassey melangkah mundur dan mengucapkan selamat tinggal pada dua orang itu.

“Tak apa... buang saja bila kau tak ingin memakannya. Aku... aku akan pulang, sampai jumpa. Selamat siang.”

Cassey pun berlari keluar dari kantor Danof, di dalam lift tangisnya kembali menguar dengan lebih dahsyat, kesakitan di dalam dada benar-benar tak terbendung lagi. Karena tak mungkin mengendarai mobilnya seorang diri dengan mata bengkak dan penuh air mata, Cassey hanya duduk dan menangis di balik kemudi mobilnya, mobil yang diberikan Danof padanya. Mengingat hal itu membuat Cassey merasa harga dirinya begitu rendah, mencintai pria yang berhati batu dan dingin seperti Danof, dia meragukan hatinya bila laki-laki itu adalah cinta sejatinya.

“D.... apa yang terjadi padamu? Kau begitu jahat padaku. Kenapa, D.... Kenapa...??” isakan tangisnya perlahan memudar, Cassey tertidur karena kelelahan di dalam mobilnya. Saat dia terbangun, dia hanya ingin pulang dan menarik selimut dan memejamkan matanya, bila mungkin... hingga dunia tak bersinar lagi.

Sementara itu di dalam kantor Danof.

“Kau yakin kau tak ingin makan makanan ini, D? Buatku?” tanya Braden sambil melirik ke arah sahabatnya.

“Sekali lagi kau sentuh tas itu, say goodbye to your handsome face,” sungut Danof sengit. Dia lalu berdiri dan menghampiri jendelanya yang tembus pandang.

“Ok, Mister... aku menyerah.” Braden tertawa cengengesan, namun ekspresinya berubah ketika membicarakan Cassey.

“Kau berhasil menjadi seorang Villain hari ini, kau senang?”

Danof mendengus, “Senang? Rasanya aku ingin membunuh diriku saat ini. Bagaimana mungkin aku bisa sekejam itu pada Cassey? Ide ini terlalu gila dan aku heran mengapa aku bisa memikirkan ide ini. Aku hanya berharap dia tidak akan berbuat sesuatu yang bodoh. Setidaknya ada asisten rumah tanggaku yang akan mengawasinya di rumah, kan?”

“Apakah Cassey sudah kembali ke rumah?” tanya Braden khawatir.

“Belum. Dia masih di dalam mobilnya... di basement. Aku meminta petugas sekuriti di bawah sana untuk mengawasi mobil Cassey, bila terjadi sesuatu yang tak diinginkan, you know....”

Braden menghela nafasnya, “Kau gila, D. Dan semoga kau tak mengulang kegilaanmu ini lagi. Kau tak ingin kehilangan dia untuk kedua kalinya, kan? Tak akan ada kesempatan kedua, D.”

“Yeah, I know...,” senyum Danof samar.
 
Braden kemudian kembali ke kantornya, meninggalkan Danof dengan makanan buatan Cassey yang melahapnya dengan penuh haru. Braden meledeknya melalui email dan mengatakan Danof licik.

“Makanan itu seharusnya untukku!!” ujar Braden dalam emailnya untuk Danof.

“In your dream, Man. Find yourself a woman or a wife even better.” Balasan email yang dikirimkan Danof pada Braden.

“Ah... dia selalu tahu apa yang aku suka. Terima kasih, Baby....”

~*~*~*~

Telephone berdering, dengan mata bengkak dan sembab, Cassey terbangun dari tidurnya. Lampu kamar belum dinyalakan, sudah pukul dua belas malam dan Danof belum juga pulang ke rumah.

“Siapa?” suara Cassey serak.

“Cass, kau dimana?”

“Siapa ini? Aku di rumah.”

“Cepatlah kemari, Danof sedang di rumah sakit, dia terpaksa dirawat karena berkelahi dengan seorang klien. Kau tahu, emosinya sedang buruk hari ini,” ujar suara di telephone.

“Apa? D dirawat? Ya, Tuhan.... Dia baik-baik saja, kan? Dia tak apa-apa, kan?”

“Dia pingsan dan harus mendapat beberapa jahitan di wajahnya. Dia kehabisan banyak darah, Cas. Kau harus cepat ke sini.”

“Aku akan ke sana.” Cassey panik, dengan penampilan seadanya, dia meraih tas tangannya dan membuka pintu kamar sebelum terperanjat dengan sambutan yang membuatnya tak mampu berbicara dan kaget setengah mati.

“KEJUTAN!!!”

Dari arah samping, melangkah seorang pria yang mendekatinya dengan sebuah kue ulang tahun berbentuk hati dan sebuah lilin mungil. Selamat Ulang Tahun Cassey, tertulis di atas kue itu yang seketika membuat Cassey merosot turun dan menangis keras.

Danof yang mengerti perbuatannya keterlaluan memberikan kue ulang tahun itu pada asisten rumah tangganya lalu menghampiri Cassey dan memeluk tubuhnya erat.

“Maafkan aku, Sayang. Maafkan semua kebusukanku semingguan ini... oh, tidak... aku rasa aku akan meminta maaf untuk semua kebusukanku selama ini. Maafkanlah aku, dan... selamat ulang tahun,” bisik Danof di depan wajah Cassey yang masih menangis dan menolak untuk menatap wajah laki-laki itu.

“Kau menyebalkan, D. Aku membencimu.”

It’s ok. Tak apa... karena dengan demikian... aku memiliki kesempatan lagi untuk membuatmu mencintaiku lagi.”

“Gombal!! Terlalu percaya diri!! Siapa bilang aku mau denganmu lagi?!”

“Jadi... kau tak mau denganku lagi?” tanya Danof usil, dia mengecup pipi Cassey yang masih mengalir air mata dengan deras.

“Jangan menyentuhku,” ujar Cassey namun tanpa berusaha untuk mencegah Danof untuk memeluk tubuhnya, membelai punggungnya, merapikan rambutnya yang berantakan, mencuri sebuah ciuman mesra dari bibirnya.

“I love you, Baby... forever....”

You lie. Kau tak mencintaiku.”

“Sebaliknya... aku sangat mencintaimu.” Danof menggenggam tangan Cassey, membawa tangan mungil itu ke atas dadanya. “This heart is beating fast because of you and you only. This man, live only for you, his woman, his lover, his forever. My Cassey Adriana.”

“...kau akan mendapat hukuman yang sangat berat karena mengerjaiku, Mister.”

“Aku menerima segala hukuman yang akan kau berikan, Lady... selama hatimu untukku, selama itu pula aku akan menjadi pelayanmu.”

“You said it yourself.”

“Yeah, aku memegang kata-kataku.”

Isakan tangis Cassey berubah menjadi senggukan, wajahnya memerah mendapati semua teman-teman dan keluarganya mengelilingi mereka dan ikut merayakan hari ulang tahunnya.

“Aku kira kau tak ingat...,” bisik Cassey setelah Danof membantunya berdiri, mereka tengah menyanyikan lagi Happy Birthday untuk Cassey.

“Kau mengira terlalu banyak, Lady.... Dan itu buruk untuk kepalamu.” Dikecupnya puncak kepala Cassey, “Sekarang tiuplah kuemu dan berikan potongan pertama kuemu pada orang yang kau sayangi.”

Cassey dengan wajah berbinar-binar, meskipun matanya masih bengkak, meniup lilin di atas kue itu dan sumringah senang, Danof bahkan menyiapkan kado spesial untuknya.

“Bukalah,” ucapnya pada Cassey.

“Oh, D... kau masih ingat ini? Aku kira...,”

“Sekali lagi, Lady... kau mengira terlalu sering. Give me a kiss would you?”

Cassey lalu merangkul leher Danof, berjinjit untuk mencium bibir laki-laki itu dengan mesra. Harinya yang terasa bagai akhir dunia berubah sepenuhnya menjadi salah satu hari yang paling membahagiakan baginya. Di kelilingi teman-temannya dan keluarga Danof, Cassey merasa diterima, Cassey merasa disayangi.

“Thank you, for everything, D.”

“Thank you for everything too, Cass.”

Mereka berpelukan, meresapi kebahagiaan yang mereka miliki hari ini. Karena tak ada yang pernah tahu apa yang akan mereka hadapi esok hari, atau lusa, atau di masa depan. Mereka menghargai apa yang mereka miliki hari ini, agar mereka bisa menghargai apa yang akan mereka peroleh esok hari.

“Aku suka kalung pemberianmu ini. Sangat cocok dengan gaun biru yang kau berikan minggu lalu.”

“I know... woman,” bisik Danof geli.

~Fin~



No comments:

Post a Comment

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.