"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Saturday, June 21, 2014

ONESHOOT - An Evening With Mister Leopard


Time : 19.00PM
Location : Braden Anderson's House
Person : Braden Anderson & Chloe Delyse Livia
Witness : Only God Knows... & some cctvs in B's House

"Mister Anderson, kau yakin tak apa aku masuk ke rumahmu?" 

Si Kucing kecil bertanya dengan sedikit gugup, perasaan gugup yang berbeda dengan yang dia rasakan ketika menanti pertemuan dengan calon tunangannya sepuluh tahun yang lalu, yang sayangnya tak pernah terjadi... karena calon tunangannya pergi begitu saja, meninggalkan luka di dalam hati gadis kecil itu dan kemurkaan ayahnya yang tak berhasil mengikat hubungan keluarga mereka. Dia hampir melupakan kejadian sepuluh tahun yang lalu, kejadian yang seharusnya dia ingat dengan jelas, bahwa alasannya berada di depan pria ini bukanlah untuk bersenang-senang. 


"Masuklah, aku tak akan memakanmu. Bukankah kau memerlukan file itu untuk diserahkan pada klien besok? Bila tidak... Singa itu akan menerkammu, kan?" ujar Braden dengan senyuman simpulnya. 

Dia membukai pintu garasi rumahnya yang terhubung dengan remote control di dalam mobil. Ketika pintu garasi itu terbuka, terpampang jelas halaman rumah yang luas dengan taman yang terawat baik, juga sebuah kolam renang tak jauh dari gazebo taman dan air terjun mini yang keluar dari dinding pembatas rumah itu, menjulang tinggi, sekitar empat meter. 

"Kau suka berenang?" tanya Braden menyadari Chloe terpana melihat kolam renang yang dikelilingi tumbuhan hijau dan bunga-bungaan di dalam pot. Chloe bertaruh kolam renang itu juga dilengkapi dengan jacuzzi, dia berandai-andai bila suatu waktu bisa menenggelamkan tubuhnya di dalam kolam renang mewah itu. 

"Kadang-kadang... bila aku ada waktu," jawab Chloe acuh, sadar betul dia tak memiliki banyak waktu sejak bekerja di bawah atasan super perfeksionis yang menuntutnya profesional dan mempertaruhkan seluruh fokusnya pada pekerjaan. 

"Seandainya laki-laki itu bukan...." desah Chloe dalam hatinya. 

"Kau bisa menggunakannya bila kau ingin," kata Braden. 

Pintu rumah bertingkat dua itu telah terbuka. Suasana ruangan tamu yang nyaman, rapi dan berkelas, tapi terlihat santai, tak seperti rumah Danof yang formal di bagian-bagian tertentu rumahnya yang memang sengaja diatur sedemikian rupa. 

"Ah, tidak. Aku bisa berenang di rumah Danof. Ada Cassey dan Lotta di sana, kami bisa berenang bersama," jawab Chloe semakin gugup. Dia memegangi tangannya, mencegah tangan kurus itu gemetar. Kegugupannya di luar batas, tak pernah sebelumnya dia segugup ini meskipun berada di samping laki-laki lain yang jauh lebih tampan atau perkasa dibandingkan Direktur Finansial Danof ini. 

"Kau ok?" Braden membuka pintu ruang kerjanya, mengamati Chloe yang bergerak pelan sembari menarik langkahnya yang seolah berat. 

"Ha? What? Oh, ya... aku tak apa." 

"Kau terlihat gemetar. Kau sakit?" tanya Braden, kini mendekati Chloe dan meletakkan tangannya di dahi gadis itu. Dahinya berkerut. "Tak panas," ujarnya. 

"Aku tak apa-apa. Ambil saja file itu, setelah itu antarkan aku pulang." 

Braden terdiam sejenak, berpikir apa yang membuat gadis di sampingnya begitu gelisah, dia lalu tersenyum mengerti. "Kau tak usah setakut itu... aku bukan pelahap gadis yang tak ingin dilahap" 

Senyumnya semakin mengembang, meninggalkan Chloe terpaku di ambang pintu dengan jantung berdebar kencang. 

"Apa yang aku pikirkan," pekik Chloe dalam hati. Dia kepanasan, bukan karena cuaca yang menggerahkan, bukan pula karena pakaiannya yang tebal. Tapi karena pria yang tengah mengaduk-aduk isi laci meja kerjanya itu membuatnya seperti itu. 

Chloe memperhatikan wajah Braden dari jauh, pada setiap jengkalnya, pada alisnya yang lebat, matanya yang menatap tajam dan fokus pada apa yang dia cari. Keseriusannya membuat Chloe menatap teduh, berpikir di dalam hati, mengapa pria itu tak melakukan hal yang sama pada hubungan mereka dulu. 

"Seandainya kau tahu...." desah Chloe. 

"Tahu apa?" tanya Braden, tiba-tiba telah berada di hadapan Chloe dengan seberkas map warna oranye di tangannya. 

"Ah, tidak. Bukan apa-apa." Chloe berusaha menghindar setelah merenggut berkas itu dari tangan Braden dengan kasar, membuat pria itu menganga semakin bingung. 

"Hei!" sergah Braden, memotong langkah Chloe yang setengah berlari, mencoba kabur dari dalam rumah itu yang semakin menambah kecurigaan Braden. "Pasti ada apa-apa, bila tidak... kau tak akan mendadak seperti ini. Katakan padaku, apakah aku melakukan sebuah kesalahan padamu? Bila ya, aku minta maaf. Tak ada maksudku untuk memaksamu masuk ke rumahku. Bila bukan karena file itu sangat penting... ah tidak, bisa saja aku memberikannya padamu besok di kantor. Sudahlah, maafkan aku," cetus Braden akhirnya, membuka kungkungannya dari tubuh Chloe yang mengkerut ketakutan. 

Namun setelah Braden melepaskan lengannya, Chloe merasa kehilangan. Dengan langkah cepat, Braden menuju pintu rumahnya, dia akan mengantarkan Chloe kembali ke rumah Danof, mungkin dengan demikian perasaan dalam hatinya tak akan sekacau ini. Entah mengapa dia membawa gadis ini ke dalam rumahnya, itu keputusan salah. Tak seharusnya dia begitu, Danof telah memperingatinya, gadis ini tak bisa dipermainkan, Braden tak ingin mempermainkannya. 

Lalu Braden berhenti, berpikir sejenak dalam hatinya,"Aku tak mempermainkannya. Aku bahkan tak tahu bagaimana perasaanku pada gadis ini. Aku hanya ingin membuatnya terkesan padaku, bukan seperti yang selama ini biasa aku lakukan pada wanita-wanita lain. Tidak, dia berbeda. Aku... tak ingin hanya sekedar seks, bukan itu yang kuinginkan darinya. Aku ingin dia memperhatikanku, aku ingin dia tertawa dan tersenyum di sampingku, aku ingin dia mempercayaiku, aku ingin dia membuka hatinya untukku...," Braden menghela nafasnya, terlalu jauh berpikir hal-hal yang tak perlu. Dia bahkan tak tahu siapa gadis ini sebenarnya. 

"Maafkan aku," bisik Chloe dari belakang, menggamit kain jaket Braden. 

"Tidak, maafkan aku, kau tak salah. Akulah yang egois." 

Braden masih memunggungi Chloe ketika gadis itu menarik lengan Braden, membuat pria itu berputar ke arahnya. 

"Kiss me."

Tanpa memiliki waktu untuk mencerna perkataan Chloe, gadis itu telah menarik leher Braden ke arah wajahnya, mencari bibir pria itu dengan bibirnya yang telah membuka, bersiap menerima ciuman kedua mereka. 

"Chloe...," bisik Braden sebelum menutup matanya, menikmati ciuman mereka dalam kebingungan yang tak memerlukan jawaban. 

Ciuman mereka ringan, tubuh saling berpelukan erat, punggung Braden menempel ke dinding, dengan Chloe mendesakkan tubuhnya padanya. Gadis itu memimpin, dia merasa memiliki kuasa atas ciuman mereka kali itu, tak seperti ciuman sebelumnya dimana mereka sama-sama tak sadar siapa yang memulai. Tapi kali ini, Chloe-lah yang memulai ciuman itu. 

"Bila kau tak menghentikan ciuman ini sekarang, kau akan membuat seseorang menjadi kriminal, Nona," bisik Braden di sela-sela helaan nafasnya yang terputus-putus. 

"Atas tuduhan apa?" tantang Chloe, masih mendekap leher Braden, memenjaranya dalam pelukannya. 

Sejenak Braden terdiam, kebingungan memilah kata-katanya, pikirannya berkabut, pikiran warasnya telah dikuasai hal lain, hal lain yang bernama gairah dan intuisi. 

"Pelecehan?" tanya Braden ragu-ragu. 

Chloe tertawa, "Mungkin tuduhan itu lebih tepatnya ditujukan padaku, Mister Anderson." 

Chloe mendorong tubuh Braden ke atas sebuah sofa hitam panjang di ruang tamu, kini merangkak di atas tubuh pria itu, masih dengan sikap berkuasa. Dia berusaha dengan keras agar tak terlihat gugup di depan Braden meskipun dia tak yakin apa yang tengah dia lakukan saat ini. 

Chloe melepaskan jaket hangatnya, melepaskan sepatu hak tingginya dan melemparkannya tinggi-tinggi. 

"Ups... sorry," kekeh Chloe ketika stiletto birunya mendarat di atas meja dan terantuk hingga mengenai dahi Braden yang meringis kesakitan, dia yakin bekasnya akan kasat mata. 

"Kau... gadis liar." 

"Oh, ya? Kau belum tahu apa-apa tentangku, Mister Anderson. Tapi tak apa... sejauh ini, we're good. Right? Kita baik, kan?" 

"Yeah... we're good," balas Braden dengan senyum melunak, "So... apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanyanya lagi. 

"Tutup matamu."

"Why?" 

"Jangan banyak tanya, lakukan saja." 

Sejak Braden menutup matanya, yang bisa dia lakukan hanyalah mengerang walaupun dia tak pernah bermimpi hal itu akan pernah terjadi. 

"Kau memang liar.... Kucing liar, huh?" 

"Lalu aku harus mengeong?" 

Braden tertawa, "No. Cukup mengepur... kau bisa?" 

"Ehm... like this...?" 

Chloe mendekatkan bibirnya ke telinga Braden, membisikkan sesuatu yang membuat tubuh pria itu meremang, bahkan tarikan nafasnya semakin panjang. 

"Again...." 

"Like this...?" 

"Yeah... like that." 

Mereka saling bertatapan, tak mengerti apa yang harus mereka katakan setelah ini. 

"Aku yakin... kita tak mungkin bisa saling bertatapan mata setelah ini tanpa membayangkan apa yang baru saja terjadi di sini, kan?" tanya Braden serak. 

"Hm... kita lihat saja nanti, Mister Anderson. Jangan terlalu percaya diri." 

Braden tersenyum, menerima tantangan gadis di atasnya. Mulai esok hari, dia bertekad akan menakhlukan gadis ini, menunjukkan siapa yang lebih berkuasa, siapa yang menjadi pemenangnya, siapa yang akan bertekuk lutut dan merengek dan berujar, "Aku kalah." 

_Fin_ 

2 comments:

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.