"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, June 12, 2014

Short Story - A Finnegan's Secret


“Kau yakin dia tak akan tertipu dengan bujukanmu, Chloe? Aku bahkan mulai meragukan skill membujukmu?” celoteh seorang pria usia akhir dua puluhan di samping Chloe. Mereka sedang duduk-duduk di dalam kantor Chloe yang sepi, dimana semua pegawai hampir kembali ke rumah mereka masing-masing, jam kerja telah usai.

Chloe memutar bola matanya, sejak siang tadi, laki-laki di sampingnya ini selalu merecokinya dengan kemungkinan-kemungkinan yang paling tak ingin dia dengar. Seharusnya dia lah yang merasa gugup dan panik bila acara besar malam ini gagal, bukan pria yang beberapa minggu belakangan ini selalu mengikutinya seperti bayangan. Bukannya Chloe keberatan, dia justru sangat menyukai hal itu, walau tidak terlalu kentara ditunjukkannya.


“Kenapa kau meragukan skill membujukku?” tanyanya sedikit tersinggung. Chloe merasa tak ada yang salah dengan skill-nya membujuk Nanny-nya tadi pagi, buktinya Nanny Maggie bersedia untuk mengambilkan dress milik Chloe di tailor.

Pria itu tertawa geli, sesungguhnya dia tak pernah meragukan skill membujuk Chloe bila berhubungan dengan membujuk klien, atau anak kecil. Tapi untuk seseorang, nampaknya bujuk rayu Chloe tak pernah berhasil. Orang itu begitu dingin, bahkan tak jarang dia mendapati orang yang dia maksud menatap tajam padanya bila dia masuk ke dalam kantor Chloe untuk sekedar membawa file yang harus ditangani oleh gadis itu.

“Buktinya... kau tak bisa membujuk Boss-mu untuk segera pergi dari sini. Aku kira dia punya pekerjaan yang lebih besar di England, kan?”

Pria itu tertawa, tubuhnya yang tinggi dengan badan terbentuk sempurna, terbungkus setelan jas mahal, duduk di atas meja kerja Chloe, yang begitu senang dilakukannya. Dia selalu menggoda Chloe bila memiliki sedikit waktu –atau banyak- yang sering dia gunakan untuk berada di dalam kantor ini, menemani asisten salah satu pemegang saham dari rekanan perusahaan sahabatnya.

Chloe melirik pria di depannya, dia menghitung sudah berapa lama mereka bisa berbicara seakrab ini sejak pertama kali mereka bertemu, setidaknya bukan pertemuan yang diingat oleh pria di depannya. Mungkin pria di depannya tak akan pernah ingat dimana mereka bertemu, karena saat itu, pria itu bahkan tak bisa mengingat apa yang telah dia lakukan padanya.

Pipi Chloe merona merah, teringat kembali ciuman panas yang dipaksakan, namun kemudian berubah menjadi sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih mendesak. Untungnya ciuman itu tak berubah menjadi sesuatu yang akan dia sesali, karena tak mungkin baginya untuk berada di samping pria di depannya, keluarganya... setidaknya orang itu tak akan membiarkan mereka bersama. Laki-laki ini tak pantas menurut orang itu.

“Kenapa kau begitu ingin dia pergi?” tanya Chloe penuh selidik. Apakah alasan pria itu sesuai dugaannya?

Pria itu tak dapat menjawab pertanyaan tak biasa Chloe, dia tak menyangka Chloe akan menanyakan pertanyaan itu. Pria itu mengusap kepalanya untuk menyembunyikan kekikukannya.

“Aku kira untuk pria seperti Leonhart De Finnegan, dia akan lebih senang berada di samping keluarganya dan menekuni bisnisnya, dekat dengan mereka.”

“Apa yang membuatmu mengira dia tak dekat dengan keluarganya di sini, Mr. Anderson?”

“Braden, panggil aku Braden,” sahut pria itu dengan jengah. Sudah ratusan, mungkin ribuan kali dia meminta gadis di depannya agar memanggil nama depannya, tapi Chloe jarang memerdulikan permintaan pria itu. “Aku rasa sedekat-dekatnya Boss-mu dengan Danof, hubungan mereka tak sedekat hubungan antara orang tua dan anak, kan?” sahutnya lagi.

Chloe mengangkat wajahnya, mencermati lebih jelas wajah pria tampan di depannya, pria yang telah mendapatkan hatinya, bahkan jauh sebelum dia menyadarinya.

“Ehm... entahlah, aku tak tahu. Bisa jadi menurut Leon, sudah cukup berada sedekat ini dengan anggota keluarganya yang lain. Tak masalah walau itu hanya hubungan persaudaraan.” Chloe tersenyum penuh arti, membuat wajah Braden dalam tanda tanya, tapi pria itu tak ingin mencampuri terlalu jauh urusan orang lain, dia tak punya keinginan untuk tahu sebesar itu.

“Ah... mungkin saja,” jawabnya untuk mengakhiri topik yang canggung itu.

“Kau yakin akan mengantarkanku ke sana, kan?” tanya Chloe yang mulai membereskan mejanya, mereka akan pulang sebentar lagi.

Danof dan Leon sedang mengikuti rapat pemegang saham dengan klien dari Amerika, mereka akan tersita waktunya hingga pukul dua belas malam nanti. Sedang acara yang dia rencanakan bagi Nanny Maggie tak bisa ditunda lagi. Untungnya Chloe juga mendapatkan bantuan dari kekasih Danof.

“Tentu saja. A man keeps his promises like he keeps his mother’s life.”

“That’s deep coming from you, Sir,” gurau Chloe yang mengikik geli mendengar kepongahan Braden, tapi mereka tertawa bersama.

“Kau tak tahu seberapa dalam lagi bahasa yang bisa kugunakan, Chloe. Bila kau mau mendengarnya, mungkin setiap hari akan kutuliskan kata-kata itu dan mengirimkannya melalui e-mail padamu.”

“Oh... aku akan sangat senang menerimanya,” kedip mata Chloe menggoda Braden. Pria itu seketika menahan nafasnya.

Memang tak dia sangsikan lagi, dia tertarik pada wanita di depannya. Semulanya Chloe memang terkesan begitu angkuh, arogan, sombong... dan memasang tembok penghalang yang tinggi di antara mereka. Namun seiring banyaknya mereka bertemu, kharisma dan sikap dinamis Braden mampu membuat Chloe perlahan-lahan membuka pintu kantornya –dan mungkin pintu hatinya- bagi Braden. Braden beranggapan, bila Leonhart De Finnegan tak ada di samping asisten cantiknya ini, dia pasti akan dengan lebih mudah mengajak wanita di depannya ini berkencan.

“Hati-hati dengan kedipan matamu, Nona.”

“Kenapa?”

“Di depanmu sedang berdiri seekor Macan yang kelaparan.”

Chloe menaikkan alis sebelah kanannya, “Macan?” tanyanya sembari melirik ke sekeliling mereka, “Kau? Macan?” lalu tawanya meledak, tawa lepas pertama kali yang pernah dia keluarkan.

Braden menggeleng-gelengkan kepalanya, rupanya gombalannya tak berhasil, tidak untuk wanita ini.

“Kau membuat pernyataan epic terdengar menjijikkan.”

Wajah Chloe mendayu, “Ouhh... jangan berkata seperti itu. Aku hanya... merasa aneh mendengar itu keluar darimu. Bila aku tak tahu bagaimana kau di depan para direktur... aku tak akan tahu bila kau bisa bercanda, Mr. Anderson....”

Tanpa mereka sadari, tubuh mereka telah begitu dekat, bisikan mulut mereka hampir tak terdengar, hanya deru nafas yang semakin berat mengalun di dalam kantor sejuk itu.

“Kau tak tahu banyak hal mengenaiku, Nona...,” bisik Braden pelan, tangannya telah berada di balik pinggang Chloe, mendekapnya erat pada tubuhnya, jarak bibir mereka kian menipis, sejengkal demi sejengkal wajah mereka saling mendekat.

“Oh... aku sungguh ingin tahu...,” bisik Chloe menimpali.

Bibir Braden memagut halus, mulanya bibir bawah Chloe, basah, lembut, manis. Ciuman itu bagai madu, bagai mariyuana yang memabukkan. Tak cukup hanya sejumput, ekstasi itu membuatnya ketagihan, lebih... menginginkan semuanya. Ciuman mereka yang romantis perlahan-lahan semakin intens, tak ada yang menginterupsi seperti sebelumnya, tak ada yang berteriak melihat kedekatan mereka. Malam ini adalah malam mereka, malam pertama mereka bisa berciuman seperti sekarang ini.

Bibir Braden memagut bibir Chloe, tangannya membelai punggung gadis itu, lembut, sedang tangan Chloe telah bergerak tanpa disadarinya, masuk ke dalam jas hitam Braden yang telah terlepas kancing-kancingnya, kini telapak tangan gadis itu menempel, merasakan debar jantung Braden yang bertalu kencang, seperti debaran jantungnya juga.

“Kau... manis,” bisik Braden sayu.

Tubuh mereka sama-sama bergetar, pelukan terlepas, namun tak ada tamparan, atau wajah terluka atau merasa terhina dengan ciuman itu. Mereka sama-sama takjub dengan apa yang mereka rasakan, memilah dalam hati apa nama yang pantas untuk perasaan yang baru saja muncul dalam benak mereka.

“T..thanks...,” ucap Chloe terbata, tak yakin bila itu jawaban yang tepat sebagai balasan dari pernyataan Braden.

Braden tersenyum, kikuk. Dia berdeham untuk menghilangkan kekakuan di udara. Saat Chloe akhirnya sadar apa yang dia tinggalkan tadi, dia pun kembali merapikan mejanya dan memasukkan benda-benda lainnya ke dalam tasnya, sementara Braden memperhatikan penampilannya sendiri, tak menyangka ciuman tadi bisa sebegitu panas, bahkan jas hitamnya telah terbuka sepenuhnya. Sudut bibirnya tertarik menyunggingkan senyum.

“...Ehm... aku sudah siap,” ujar Chloe dengan wajah merona merah, merasa begitu tersipu untuk sekedar menyapa Braden, apalagi berada dalam satu ruangan bersamanya. Semua perasaan yang sebelumnya mampu dia kesampingkan, dengan membiarkan hatinya sedikit terhibur dengan kehadiran Braden setiap harinya... kini tak cukup lagi. Chloe ingin lebih dari sekedar obrolan tiap pagi, atau tiap malam, atau saat mereka berpapasan di koridor kantor.

Braden menarik nafasnya pelan, “Baiklah. Kita siap. Cassey baru saja mengirimiku teks, dia sudah berada di tempat itu bersama Lotta. Danof dan Leon juga sudah berangkat dari tempat meeting, jadi... kita semua akan merayakan malam ini,” katanya.

“Bagus. Ini akan menjadi malam yang menggembirakan.” Senyum mereka menghiasi wajah masing-masing.

Sesampainya di tempat yang telah mereka sepakati, Braden dan Chloe yang sampai terakhir mendapati Cassey, Danof, Lotta dan Leonhart telah menunggu mereka dan menyiapkan semuanya.

“Bagaimana di kantor?” tanya Danof pada Braden yang telah duduk di sampingnya.

“Tak ada masalah. Laporan untuk seminggu yang lalu sudah aku berikan pada sekretarismu, hanya perlu kau tandatangani besok. Tapi, kurasa kau harus berbicara pada direktur Kelvin, dia punya ide bagus untuk acara akhir tahun.”

“Oh... ayolah... guys.... Haruskah kalian membicarakan pekerjaan di sini?” Wajah Cassey cemberut mendapati Danof dan Braden masih juga membicarakan pekerjaan dimana mereka seharusnya bersenang-senang.

Danof menoleh pada kekasihnya, lalu menciumi bibirnya begitu saja. “Aku rasa Lotta senang mendengar ayahnya berbicara, jadi tak masalah, eh?” cengenges Danof yang mendapat cubitan di paha dari Cassey, tapi wanita itu kemudian berlalu dan mengobrol dengan Chloe yang baru saja kembali dari toilet.

“Dia sudah berangkat?” tanya Cassey padanya.

“Ya, lima menit lagi Nanny Maggie sampai, surpriseee....” senyum Chloe senang.

“Yeah... dia pasti senang.”

Lima menit kemudian, tamu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Tanpa menyadari apa yang sedang dipersiapkan oleh orang-orang itu, Maggie masuk ke dalam restoran dengan senyum lebar, senang bisa bertemu dengan keluarga dari Chloe. Tapi, kemudian restoran itu mendadak senyap, sebelum kemudian semua orang di dalam restoran itu berdiri dan meneriakkan, “Surprise!!!”

Maggie tak mengerti, lalu dua orang pelayan restoran bersama dengan seorang gadis yang dia kenal mendorong sebuah trolly yang di atasnya terdapat sebuah cake ulang tahun yang begitu cantik. Tahulah kemudian Maggie, bila ini adalah kejutan ulang tahun yang dibuat oleh Chloe untuknya.

“Ouhh.... kau tak perlu melakukan ini, Chloe..., telephonemu sudah cukup,” ucap Maggie penuh haru, dia bisa merasakan matanya berkaca-kaca dan air mata hampir meluruh.

Chloe memeluk erat Nanny kesayangannya, yang selalu menghiburnya di saat-saat terberat hidupnya, saat keluarganya yang kejam memaksa dan menuntutnya sempurna. Syukurlah Chloe telah berhasil melewati fase kehidupan itu. Selain karena Nanny-nya, dia juga melirik Leonhart yang tersenyum penuh makna. Mereka bertiga berpelukan, seperti keluarga yang telah lama tak bertemu.

“Happy birthday, Miss Maggie. This is special for you, from us. You’re such a special person, and there’s nothing on earth that we wouldn’t give to you if you want. Say your birthday wish,” ujar Leon pada Maggie yang menganga tak percaya.

Selama dia mengenal keluarga Leon dan Chloe, mereka telah begitu baik padanya, dia tak menginginkan apapun, dia tak perlu apapun.

No, Sir. Melihat kalian bahagia, aku sudah bahagia.” Demikianlah mereka berpelukan lagi.

Nanny... Tiup lilinnya sekarang,” ucap Chloe riang, matanya juga ikut berkaca-kaca yang disadari Braden. Pria itu semakin tak mengerti dengan perasaannya.

“Ohh... aku sudah tua, aku malu...,” ucap Maggie walau dalam hati dia merasa sungguh senang. Hari-hari ulang tahunnya sebelum ini tak pernah begitu bermakna seperti hari ini.

Sekumpulan orang-orang yang juga ikut bersimpati dengan pesta ulang tahun Maggie juga ikut bernyanyi. Mereka menyanyikan lagu, Selamat Ulang Tahun dan Happy Birthday. Barulah kemudian lilin itu ditiup dengan dada haru oleh Maggie. Tepuk tangan riuh memenuhi restoran itu.

“Bungkusan yang kau bawa, bukalah. Itu hadiah dariku,” kata Chloe menunjuk bungkusan yang dibawa Chloe atas permintaan Chloe.

Maggie membuka bungkusan itu, sebuah gaun dengan warna kesukannya, begitu lembut dan indah, untuknya.

“Oh, Chloe... ini... ini...,” mata Maggie berbinar-binar. Ini adalah gaun yang diidam-idamkan Maggie namun tak pernah ingin dia beli, merasa sayang untuk menghabiskan uang sebanyak itu hanya untuk sebuah gaun malam.

“Kau suka?” tanya Chloe dengan mata penuh harap.

Maggie mengangguk, memeluk Chloe dan berterima kasih. Dia tahu, tak ada guna menolak pemberian Chloe, gadis itu selalu tahu bagaimana cara membuat Maggie merasa segan untuk menolak kebaikan mereka.

Pesta itu berlangsung meriah, makan malam yang nikmat, minuman yang menghangatkan badan, walau Maggie lebih memilih air putih dan cocktail, dia tak suka alkohol. Hadiah-hadiah dijejalkan ke atas pangkuan Maggie yang menerimanya dengan bahagia, walau dia tak pernah begitu mengenal keluarga De Finnegan yang lain. Bahkan dari seorang pria yang dia kenal betul karena pria itulah yang selalu berada dalam hati Si Kecil Chloe yang mana Maggie ketahui dari foto yang diselipkan Chloe di dalam buku yang dulu sering dia bawa kemana-mana.

Maggie mengerti, meski tak cukup paham apa yang tengah terjadi. Chloe sedang duduk di samping Braden, terlihat nyaman, terlihat merona merah setiap kali pria itu membisikkan sesuatu di telinganya, bahkan Maggie yakin, sesekali Braden mencium pipi Chloe yang tak disadari oleh orang lain.


Maggie tersenyum, walaupun kisah mereka begitu kompleks, begitu rumit, namun dia berharap... bocah kecilnya akan mendapatkan kebahagiaan yang selalu dia impikan. Menikahi tunangannya, meski pria itu bukanlah tunangannya lagi... 

4 comments:

  1. Ulala.... Coment dulu baru baca...

    ReplyDelete
  2. Uwaaa.. Smpet lupa siapa sbnernya cwo yg disuka chloe.. Pas bca, ak kira leonhart. Dn pas diakhir2 bru ingt kalo chloe sukanya sama braden.. Uwwoooo.. Cptan dilanjutttt...


    -felly

    ReplyDelete
  3. yah udah ga bisa daftar finnegan shadowsnya yah?huhu

    ReplyDelete
  4. Klu mau baca lanjutan finnegan shadows n BM series caranya gimana mbak ?

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.