"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Sunday, July 6, 2014

FANFIC Topeng Kaca - Langit Sejuta Bintang - Part 2


Sudah beberapa hari mereka mencari di sekitar jurang tempat tergelincirnya mobil yang membawa ayah Masumi. Alat-alat telah dikerahkan, anjing pelacak pun telah disebarkan bersama dengan polisi hutan dan penduduk setempat yang lebih mengetahui area itu, namun tak ada kabar sedikitpun mengenai keberadaan orang paling berkuasa di Daito itu. Masumi yang tak berdaya karena tak mengetahui kabar ayahnya menjadi semakin sering emosi, kemarahannya begitu gampang tersulut bila pegawainya melaporkan kabar kosong mengenai ayahnya.

Dia harus mengetahui bagaimana kondisi ayahnya. Bila laki-laki tua itu mati, dia harus tahu. Masumi telah mencurahkan segala waktu dan energinya, bahkan perasaannya untuk membuktikan pada Pak Tua itu bahwa dia sanggup, dan dia akan membalaskan dendam ibunya padanya.


“Kau tak boleh mati, aku belum menunjukkan kehebatanku padamu. Kau belum boleh mati,” ujarnya geram. Tangannya mengepal marah, yang hanya disadari oleh Shiori yang berdiri tak jauh di sampingnya.

Tunangannya itu menyusulnya ke kampung halaman Bidadari Merah. Rencananya mereka akan menyaksikan Sang Legenda Chigusa Tsukikage mementaskan Bidadari Merah di Lembah Bunga Plum untuk yang terakhir kalinya. Namun karena musibah yang menimpa Tuan Hayami, pementasan itu terpaksa ditunda untuk sementara waktu.

“Kita kembali ke penginapan? Aku rasa sebentar lagi akan hujan, cuaca di lembah ini begitu tak menentu,” ujar Shiori lemah lembut. Dia menggamit lengan Masumi seperti biasa, memperlihatkan posisinya di samping laki-laki itu agar Masumi selalu ingat akan status mereka.

Masumi membiarkan Shiori menggandeng lengannya saat mereka masuk ke dalam mobil, pikirannya berada di tempat lain, dia tidak terlalu memperhatikan Shiori di sampingnya. Banyak hal yang menyita pikirannya, terlebih lagi seorang gadis mungil yang tak bisa dia enyahkan dari pikirannya.

Sesampainya di penginapan, Shiori mendapat telephone darurat dari keluarganya. Kakeknya terkena serangan jantung dan terpaksa harus dirawat di rumah sakit. Dengan terpaksa dia pun harus kembali ke Tokyo, meninggalkan Masumi tanpa pengawasannya. Entah mengapa dia merasa tak nyaman meninggalkan Masumi tanpa dirinya, dia merasa sesuatu akan terjadi yang membuatnya tak bisa melihat laki-laki itu lagi.

“Sampai jumpa di Tokyo. Aku akan menantikanmu,” senyum Shiori mengucapkan selamat tinggal. Masumi mengantarkannya sampai di depan penginapan. Mobil yang membawa Shiori dan pelayannya kemudian menghilang di ujung jalanan desa.

Tak ingin berlama-lama meratapi masalah yang datang beruntun, Masumi memutuskan untuk mengunjungi Lembah Bunga Plum, cuaca mendung yang tadinya cukup tebal kini memudar, langit kembali cerah, matahari bersinar hangat menyentuh kulit-kulit pucatnya.

Hati-hati, Masumi melangkahkan kakinya di atas jembatan rapuh yang menghubungkan Lembah Bunga Plum dengan perkampungan penduduk. Sudah jarang ada yang berkunjung ke lembah ini, cuaca begitu cepat berubah di sana, yang tadinya cerah bisa menjadi hujan badai dan tak ada penduduk yang berani bertaruh untuk bepergian ke sana.

Masumi menjejakkan kakinya di lembah bunga plum, kabut merah yang berasal dari udara dingin di lereng bukit berbaur dengan warna bunga plum yang merah, pemandangan di sana begitu menakjubkan, Masumi merasa seperti berada di sebuah dunia yang berbeda dari tempatnya berasal. Seperti di dunia bidadari, begitu mistis dan misterius.

Samar dia mendengar gema suara di kejauhan. Dicarinya suara itu, kabut yang cukup tebal menyamarkan pengelihatannya, seolah tampak di depan matanya seorang bidadari tengah bersemedi di bawah sebuah pohon plum yang besar, memejamkan mata, dia begitu menawan.

Angin semilir meniup wajah Masumi, membawanya kembali pada kenyataan. Bidadari yang tadinya terlihat oleh matanya berubah menjadi sosok Maya Kitajima, gadis mungilnya.

“Mungil?” bisiknya pelan.

Maya masih asyik dengan dunianya untuk mendalami peran Bidadari Merahnya, menciptakan Bidadari Merahnya sendiri, Bidadari Merah yang berbeda dari Bidadari Merah Ayumi, dari Bidadari Merah Ibu Tsukikage.

“Aku kira ada seorang bidadari yang sedang bersemedi di bawah pohon plum, rupanya hanya seekor monyet kecil yang sedang berteduh karena gerimis,” senyum meledek Masumi tak lepas dari wajahnya.

Maya yang menyadari kehadiran Masumi menjadi cemberut, sebal dengan ejekan yang dilayangkan oleh laki-laki itu padanya.

“Pak Masumi, anda sendiri apa yang anda lakukan di sini?”

Maya memanjat turun dahan pohon yang dipanjatnya tadi, menghampiri Masumi yang menunggunya dengan sabar.

“Aku ingin jalan-jalan di hutan, tak terasa kakiku membawaku ke sini. Apa yang kau lakukan di sini? Aku kira Ibu Tsukikage memberikan kalian test-test yang harus kalian selesaikan?”

Wajah Maya berubah murung, dia memang seharusnya berlatih agar akting airnya lebih meyakinkan. Tapi semangatnya memudar, dia tak yakin bisa mengalahkan Ayumi dan mendapatkan peran Bidadari Merah.

“Rasanya aku ingin berhenti, aku takut bila tak berhasil dan mengecewakan banyak orang. Bagaimana bila aktingku tidak memuaskan? Aku malu, Pak Masumi.” Maya berjongkok di samping Masumi, memainkan tanah basah dengan sebatang ranting yang dipatahkan.

Masumi ingin menyentuh pundak Maya, namun dibatalkannya. Dia takut bila menyentuh gadis itu, tangannya tak akan mau berhenti hanya di sana.

“Kau akan mengecewakan lebih banyak orang bila kau menyerah sekarang, Mungil. Apakah kau tak ingin menunjukkan padaku Bidadari Merahmu?” tanya Masumi.

“Anda ingin melihat Bidadari Merahku, Pak Masumi?”

“Tidakkah kau ingin memperlihatkannya pada semua orang?”

Maya mengangguk, walaupun semua orang tak ingin melihat Bidadari Merahnya, walaupun semua orang tak mengerti Bidadari Merahnya, Maya ingin tetap mementaskan Bidadari Merahnya, hanya untuk satu orang yang sangat berarti baginya sekarang. Mawar Jingga-nya, Paman Kaki Panjangnya, orang yang membantu dan menyemangatinya selama ini. Pak Masumi-nya.

“Aku ingin memperlihatkannya, Pak Masumi. Terutama pada penggemar nomer satuku. Hanya untuknya aku berlatih sekeras ini.”

Masumi tersenyum miris, “Laki-laki itu pasti sangat senang karena kau begitu memujanya. Aku iri padanya. Dia bisa mengungkapkan apa yang dia inginkan tanpa merasa perlu untuk berpura-pura. Aku ingin seperti orang itu.”

Masumi memandang wajah Maya dengan penuh arti, beberapa saat pandangan mereka bertaut, saling menyelami dalamnya perasaan masing-masing hingga akhirnya Masumi mengalah dan berjalan melewati Maya yang sedang berjongkok.

“Kau tak ikut?” tanya Masumi.

“Tunggu aku, Pak Masumi.”

Masumi tertawa senang, dia mengulurkan tangan kanannya pada Maya. Dengan ragu, Maya menyambut tangan itu, lalu menggenggamnya dengan erat. Dia tahu Pak Masumi adalah Mawar Jingganya. Kendatipun Masumi tak akan pernah menerima cintanya, Maya hanya ingin melewati kebersamaan dengan Mawar Jingganya seperti ini. Biarlah di sini mereka bersama, karena ketika Lembah Bunga Plum ini telah mereka tinggalkan, mereka tak akan pernah bisa sedekat ini lagi. Pak Masumi bukanlah miliknya, dia bukanlah belahan jiwanya. Sudah ada seorang wanita cantik dan selembut Shiori baginya. Maya bukanlah siapa-siapa, dia tak bisa dibandingkan sejengkal pun dengan Shiori. Dengan pemikiran itu, Maya menyadari tempatnya bukanlah di samping laki-laki yang kini berada di sampingnya. Tapi kali ini... bolehlah dia berharap bahwa Masumi ‘ingin’ dia berada di sampingnya.

“Aku tak pernah menyangka lembah ini akan begitu cantik, bila aku tahu, mungkin sesekali aku akan berkunjung ke tempat ini,” ucap Masumi pada dirinya sendiri.

“Bolehkah aku ikut, Pak Masumi?”

Masumi menoleh pada Maya yang masih menggenggam tangannya erat.

“Tentu saja, Mungil. Kita akan menghabiskan waktu seharian di sini. Tapi aku rasa kali ini kita tidak bisa berlama-lama di sini,” ujarnya lagi.

“Kenapa begitu?” tanya Maya tanpa menyadari apa yang tengah terjadi. Setelah beberapa butir air hujan menerpa wajahnya, barulah dia sadar dengan apa yang coba disampaikan oleh Masumi.

“Hujannya deras....” teriak Maya mencoba menarik Masumi untuk menuju jembatan.

“Kau mau kemana?” Masumi menghentikan langkah Maya, menarik lengannya hingga tubuh gadis kecil itu berhenti.

“Kita kembali ke kampung, mungkin hujannya belum terlalu deras.”

Masumi menggeleng-gelengkan kepalanya, “Kau gila, Mungil. Mungkin kepalamu masih belum sembuh benar ketika terjatuh kemarin. Kau tidak lihat? Hujan semain deras dan dari arah jembatan terlihat mendung yang sangat tebal. Terlalu bahaya untuk melintasi jembatan rapuh itu di saat hujan lebat seperti ini. Kita berteduh, rasanya tadi aku melihat sebuah gubuk di samping kuil.”

Masumi menyeret langkah Maya yang berusaha menyamai langkah panjangnya, mereka berusaha melawan derasnya air hujan yang jatuh menerpa tubuh mereka. Pakaian Maya basah kuyup, dia hanya mengenakan baju kaos dan celana jeans, tak terasa air hujan telah membasahi hingga ke dalam pakaiannya.

Mereka akhirnya berada di dalam gubuk, Masumi menutup pintu, mencegah angin ribut meniup tubuh mereka. Udara begitu dingin, rupanya cuaca lembah bunga plum memang tak bersahabat untuk mereka kali ini.

“Kau kebasahan. Aku akan mencoba menyalakan api unggun, lepaskanlah pakaianmu, bila tidak, kau akan sakit.”

Maya hendak menyanggah perkataan Masumi, tapi sebuah bersin berhasil lolos dari bibirnya.

“Hatchi!!”

“Gunakan ini,” kata Masumi sembari menyodorkan jas hangatnya pada Maya. Jas itu tebal, air hujan tak sampai membasahi bagian dalamnya.

Masumi yang telah berhasil menyalakan api unggun dengan korek apinya memunggungi Maya yang sedang berganti pakaian dengan jantung berdebar kencang. Walaupun dia sudah berusaha untuk tak memikirkan apalagi membayangkan apa yang sedang dilakukan oleh Maya di belakang tubuhnya, tapi kepalanya tidak bisa berbohong. Dia masih saja membayangkan bagaimana tubuh Maya bila tak mengenakan sehelai benang pun.

“Kau sudah selesai?” tanya Masumi tak sabaran.

“Iya. Sedikit lagi,” jawab Maya, buru-buru mengaitkan tali jas hangat Masumi di pinggangnya. “Sudah. Anda boleh berbalik,” lanjutnya dengan wajah memerah malu.

Masumi memandangi tubuh Maya yang terbungkus jas hangatnya. Bahkan jas hangatnya pun menelan tubuh gadis itu bulat-bulat. Dia begitu mungil, Masumi sudah bisa membayangkan seperti apa rasanya memeluk tubuh Maya, otak warasnya mulai mengabur.

Mencoba meredakan gairah yang tiba-tiba muncul dalam tubuhnya, Masumi duduk di atas sebuah papan yang tersedia di sana. Api yang dia nyalakan rupanya tak cukup untuk menghangatkan tubuh Maya yang menggigil kedinginan.

“Kemarilah. Tubuhmu menggigil. Bila kau tak segera menghangatkan tubuhmu, kau akan terkena radang paru-paru dan itu membahayakan nyawamu.”

Maya segan mendekat, dia merasa sangat malu. Tapi dingin tubuhnya mengalahkan rasa malu yang tadi memenuhi kepalanya. Dia harus menghangatkan badannya, tubuhnya terasa hampir membeku, bahkan gigi-giginya bergemeretuk.

“Anda berjanji tak akan berbuat yang tidak senonoh?” tanya Maya, dia tak akan bisa melihat wajah Masumi lagi bila laki-laki itu memutuskan untuk meledeknya lagi.

“Apakah kau berharap aku akan melakukan perbuatan tak senonoh padamu, Mungil?” senyum Masumi mengejek. Melihat ekspresi Maya yang akan menangis karena ledekannya, Masumi pun menambahkan, “Aku tak akan berbuat sesuatu hal yang tak kau inginkan, Mungil. Kemarilah, tubuhmu menggigil. Atau kau lebih memilih mati kedinginan? Itu bukan urusanku.” Dengan kejam Masumi memalingkan wajahnya karena tak sengaja telah melihat ke arah kerah jas hangat yang dikenakan Maya, memperlihatkan dada gadis mungil itu tanpa disadarinya.

Maya menguapi tangannya, meskipun dia sudah berjongkok di depan perapian, tubuhnya masih menggigil. Dengan memantapkan keberaniannya, dia menghampiri Masumi dan meminta laki-laki itu untuk mendekap tubuhnya.

Masumi tak menyangka Maya akan mengatakan hal itu. Tawaran yang hanya dia maksudkan sebagai candaan rupanya dianggap serius oleh Maya. Namun wajah Masumi berubah sendu, diapun menarik tangan Maya hingga tubuh mereka bertubrukan. Masumi menyesali keputusannya, karena kini jantungnya bertalu-talu semakin kencang. Sentuhan kulit Maya pada tubuhnya membuatnya seperti tersengat listrik, tubuhnya menegang, awas dengan siapa yang sedang dipeluk olehnya.

Masumi memeluk tubuh Maya dengan erat, mencoba menerima nasibnya berduaan dengan gadis itu. Bila takdir semanis ini, ingin Masumi menghentikan waktu dan merasakan momen kebersamaan mereka ini lebih lama.

“Jangan bergerak yang tidak perlu, Mungil. Aku hanyalah laki-laki biasa. Aku tak kebal dengan godaan, walaupun itu datang dari gadis ingusan sepertimu,” kekeh Masumi mencoba menyembunyikan ketegangan dalam suaranya.

Entah disadari oleh Maya atau tidak, Masumi mengetatkan rahangnya, berharap hujan segera berlalu dan penderitaan mereka akan segera berakhir. Bagaimana tidak, tubuh bagian bawahnya membuatnya tersadar sepanjang sore, Masumi bersyukur Maya masih terlalu polos untuk mengetahui apa yang tengah bergejolak di tubuh Masumi. Gairahnya yang dia coba mati-matian untuk disembunyikan, kini tak terlalu tersembunyi. Masumi berdoa agar Maya tak menyadarinya.

Wajah Maya memerah, jengah dengan apa yang dia rasakan. Bukannya dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada tubuh Masumi. Namun menyadari laki-laki itu terangsang oleh kedekatan mereka menyebarkan rasa hangat baru dalam tubuhnya. Walaupun Masumi meledek dia ingusan, Maya masih bisa tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Masumi, dia bahkan tersenyum sebelum tertidur dalam pelukan laki-laki itu.

Tubuh Masumi kaku, tapi dia tidak ingin bergerak terlalu cepat. Dengan pelan dia menyeret tubuhnya ke arah dinding, menyandarkan punggungnya yang berat dan memangku Maya masih dalam pelukannya. Tubuh gadis itu sekarang duduk di dalam pangkuannya, pahanya melingkari tubuh Maya, sedang kepala Maya bersandar di lengan Masumi.

Semalaman Masumi tak bisa memejamkan matanya, memikirkan seorang bidadari mungil berada dalam pelukannya. Tak pernah dia memimpikan hal ini mungkin terjadi, Maya berada dalam pelukannya, pasrah, tanpa perlawanan, rapuh... begitu cantik dalam tidurnya. Senyumnya yang mendamaikan hati Masumi tak dapat ditolaknya. Gejolak laki-laki dalam tubuh Masumi akhirnya mengizinkannya untuk mengambil sebuah kecupan dalam dari bibir indah itu.

Saat ciuman itu terputus, Masumi membuka matanya kembali. Alangkah kagetnya dia ketika mendapati Maya sedang menatap matanya dengan sendu.

“Pak Masumi....” bisiknya pelan.

“Maya... kau bangun.”

“Aku mencintaimu, Pak. Mawar Jinggaku. Aku sudah tahu bila Anda adalah Mawar Jinggaku. Anda lah yang melindungiku selama ini, menjadi penggemarku saat tak ada satu orang pun yang ingin melihatku. Anda tetap setia. Ketika aku mengira semua orang memusuhiku, Anda tetap menyemangatiku. Tahukah Anda, aku begitu merindukanmu, Pak Masumi,” ujar Maya dengan air mata tertitik.

“Maya... aku bukan....”

“Bila Anda menyangkalnya kali ini, maka aku tak akan pernah mengganggu Anda lagi. Sangkal lah aku bila aku salah, Pak Masumi,” tantang Maya dengan mata berkaca-kaca.

Masumi tak dapat berkata-kata, Maya mengungkapkan rasa cintanya padanya. Mungkinkah gadis mungilnya mencintainya, setelah apa yang dia lakukan pada ibunya? Mungkinkah gadis mungilnya memaafkannya?

“Mungil... aku... ya... akulah si Mawar Jingga.”

“Pak Masumi... jadi benar Anda lah Mawar Jinggaku? Aku mencari Anda, begitu merindukan Anda. Pak Masumi....” Tangis Maya pun merebak, merengkuh tubuh Masumi erat-erat.

“Maya... gadisku. Maafkan aku karena menyembunyikan identitasku. Aku tak ingin melukaimu. Bila kau tahu siapa aku sebenarnya, kau akan terluka. Kita tak bisa bersama, Maya. Takdir kita tak mengizinkan kita untuk bersatu. Kau ingin menjadi Bidadari Merah, sedangkan aku ingin merebut hak pentas Bidadari Merah. Kau tak akan pernah mau bekerjasama dengan Daito lagi, bila aku tak dapat membuatmu bekerjasama, maka aku harus mengenyahkanmu. Apakah kau tahu seberapa berat itu, Maya?”

“Apa yang harus aku lakukan, Pak?”

Masumi terdiam, dia sendiri tak tahu apa yang terbaik bagi Maya, atau hidupnya. Masumi tak mungkin meminta Maya untuk melepaskan cita-citanya sebagai Bidadari Merah, setidaknya sebelum berusaha semaksimal yang dia bisa. Masumi juga tak mungkin menghancurkan kehidupan Maya. Dia mencintai gadis itu, rela menyerahkan hidupnya bagi Maya. Tapi menghancurkan Maya, dia tak mungkin melakukannya. Menghancurkan dengan melindunginya, sama saja dengan menghancurkan Maya seperti permintaan ayahnya.

“Jadilah dirimu sendiri, Maya. Aku berjanji, setelah ini usai, aku akan mencarimu.”

“Pak Masumi....”

“Maya... benarkah kau mencintaiku? Aku tak bermimpi, kan, Mungil?”

“Tidak, anda tidak bermimpi, Pak Masumi. Aku memang mencintai anda, bahkan jauh sebelum anda menyadari cinta anda padaku.”

“Kau sungguh percaya diri, anak kecil.” Masumi berdecak senang, pelukannya pada tubuh Maya semakin erat, kini tubuh Maya dipangkunya di atas pahanya.

“Aku bukan anak kecil Pak Masumi, usiaku sudah sembilan belas tahun. Catat itu!” ujar Maya galak.

“Sembilan belas tahun? Tak terasa... sudah sebesar itukah usiamu?” lirik Masumi pada tubuh Maya, “Tapi tubuhmu tak ada perubahan sama sekali, kau masih... mungil... sama seperti saat aku pertama melihatmu.” Masumi begitu senang bisa meledek Maya.

“Pak Masumi jahat!!” Maya semakin sebal, mencoba memukul dada Masumi yang bidang.

Pergelangan tangannya dicekal oleh Masumi, tawa laki-laki itu terbahak-bahak, mereka pun bergulat saling melepaskan cekalan tangan masing-masing hingga akhirnya tubuh Maya berada di bawah tubuh Masumi, dengan jas hangat yang telah terlepas taliannya.

“Maya... kau....” Masumi tak menyadari apa yang sedang terjadi, pemandangan di depan matanya membuat pikiran warasnya menghilang.

Wajah Maya begitu sendu, pandangannya sayu. Dia tidak mengerti mengapa tubuhnya tiba-tiba enggan untuk bergerak. Seharusnya dia menutupi tubuhnya yang terbuka, tapi tangannya seolah tak ingin melakukannya.

Mata Masumi dengan bebas memandangi tubuh bagian atas Maya, pada bagian bawahnya yang juga telah tersibak.

“Maya....” bisik Masumi serak.

“Pak Masumi....”

“Maya....”

Ketika malam menjelang, ketika udara dingin semakin menusuk tulang, Masumi semakin kehilangan akal sehatnya. Maya pun tak membantunya sama sekali. Dua tubuh yang menggigil kedinginan itu seolah tertolong oleh gairah yang menyala-nyala dalam dada mereka, mengobarkan kehangatan baru, kehangatan yang tak memerlukan panasnya api, cukup sebuah sumber panas yang bernama cinta.

“Maya....”

“Pak Masumi... ahh....”

Desahan Maya pun menghilang tertelan sepinya malam....  



8 comments:

  1. Tq mbak shin.... Serasa nemu "harta karun" nich #kegirangan

    ReplyDelete
  2. akhirnya bisa baca fanfic topeng kaca yg baru yeayy.... eh tpi benernya, komik topeng kaca ini memang ga pernah tamat ya??mbak shin kmu tau ga klo mau cari komiknya seri lengkap nyari d mana ya?? dulu bacanya d perpus yg bayar seribu per buku hehhee...(jaman sma)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, kurang tau ya sist. coba langsung tanya ke gramedia, mereka kan jualan online jg tuh. atau ke online shop2 yg emang jualan novel2 n komik. mgkn kl hunting dengan sabar bakal nemu serinya lengkap :D

      Delete
    2. wah, kurang tau ya sist. coba langsung tanya ke gramedia, mereka kan jualan online jg tuh. atau ke online shop2 yg emang jualan novel2 n komik. mgkn kl hunting dengan sabar bakal nemu serinya lengkap :D

      Delete
  3. Seneng deh.. lanjut part 3 ya mbak shin..

    Erlina^^

    ReplyDelete
  4. ending yg dharepin bgt pas baca komik aslinya.. klo endingnya gini ga perlu stres lg nunggu komikny yg ga beres2 huhuhu

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.