"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, July 17, 2014

FANFIC Topeng Kaca - Langit Sejuta Bintang - Part 3


“Maya... Maya... kau tak apa?” tanya Masumi dengan cemas. Maya belum membuka matanya sejak mereka terlelap malam tadi hingga kini mentari telah meninggi, menandakan pukul sebelas siang telah menjelang.

“Pak Masumi?” ujar Maya serak, matanya berkijap-kijap agar pengelihatannya jelas.

“Ah, syukurlah kau bangun. Aku kira kau akan tertidur sampai malam.”

Bibir Maya cemberut, bahkan di pagi hari pun Masumi masih berniat untuk meledeknya. “Aku kecapekan, karena itulah aku tidur lama,” ujarnya.

“Pakai pakaianmu, aku letakkan di sana. Kurasa sudah kering.” 


Masumi menunjuk pada tumpukan kain di samping tempat Maya duduk. Pakaiannya telah kering seperti yang Masumi katakan, hanya saja, Masumi masih melihatinya tanpa menunjukkan tanda-tanda bila dia akan memberikan kesempatan pada Maya untuk mengenakan pakaiannya kembali.

“Pak Masumi... bisakah... anda berbalik? Aku ingin mengenakan pakaianku.”

Wajah Masumi langsung memerah, dia lupa apa yang semestinya dia lakukan. Tak mungkin dia mengamati Maya mengenakan pakaiannya kembali dimana dia sendiri tahu bila Maya tak mengenakan penutup apapun di balik jaket hangat miliknya.

“Maafkan aku. Aku akan keluar. Keluarlah bila kau sudah selesai.” Masumi menutupi mulutnya, wajahnya memerah bagai kepiting rebus dan wajah Maya juga tak kalah merahnya dengan wajah Masumi.

Bunyi pintu tertutup, mendecit karena besi-besi engselnya telah berkarat. Maya yang kini berada seorang diri di dalam ruangan itu menebar pandangannya ke sekeliling ruangan. Dia teringat kembali akan setiap adegan yang mereka lakukan semalam. Setiap gerak yang Masumi lakukan padanya, setiap bisikan kata-kata Sang Mawar Jingganya pada telinganya. Desahan nafas Masumi yang hangat masih membekas di permukaan kulit halus Maya, dia masih bisa merasakan sensasi tubuhnya saat Masumi menempelkan bibirnya pada leher Maya, saat laki-laki itu mengecup bibirnya dengan mesra, lembut dan manis.

“Pak Masumi....” Maya berbisik, menyentuh bibirnya yang kering bekas ciuman semalam. Dia membasahi bibirnya, sungguh kejadian semalam membuatnya malu setengah mati. Bagaimana Maya akan bersikap di depan Pak Masumi setelah apa yang mereka lakukan semalam, dia sungguh tak tahu.

Tapi setibanya Maya di luar gubuk, ada hal lain yang jauh lebih mengkhawatirkan dibanding bagaimana harus bersikap di depan Masumi. Jalan untuk mereka kembali ke pedesaan telah hancur. Tak ada jalan lain, mereka terpaksa harus berada di Lembah Bunga Plum sampai para penduduk dan pegawai Masumi menyadari ketiadaan mereka. Sinyal handphone yang tak sampai di lembah ini membuat Masumi frustasi, dia tak mungkin berada di lembah ini sementara ayahnya belum ditemukan.

“Sial!!” umpat Masumi kecut. Dia memandangi jurang di depan matanya, yang memanjang hingga ke ujung terjauh, tak mungkin mereka bisa memutar apalagi turun ke dasar jurang untuk mencapai bagian lain dari jurang itu. Terlalu dalam, mereka tak mungkin bertahan.

“Pak Masumi...,” panggil Maya di belakangnya. Mereka sedang memandangi jembatan yang putus akibat hujan semalam. Berteriak memanggil bantuan dari ujung jembatan pun tak akan terdengar hingga ke seberang.

“Kita tak bisa kembali ke desa. Setidaknya sampai mereka menyadari kehilangan kita, kita harus tinggal di sini.” Masumi menjauh dari mulut jembatan, terlalu kesal melihat satu-satunya sarana pulang – pergi dari Lembah Bunga Plum dan desa terdekat telah hancur tak bisa diandalkan. Dia berharap menemukan pohon buah-buahan atau sesuatu yang bisa mereka makan, setidaknya agar mereka tak mati kelaparan.

Masumi tak tahu seberapa lama pegawai-pegawainya akan menyadari kepergiannya dan bila mereka tahu dimana keberadaan mereka saat ini. Masumi telah memerintahkan seluruh pegawainya untuk berkonsentrasi pada pencaharian Tuan Hayami senior, Masumi tak yakin bila mereka bisa mencarinya secepat yang dia inginkan.

“Pak Masumi.” Maya merengek di sampingnya, wajahnya sedih dan ketakutan, dia seperti ingin menangis namun ditahan-tahannya. Maya tak ingin mengeluarkan tangisnya di depan Masumi, setakut apapun dia dengan keadaan mereka sekarang.

Masumi menghela nafasnya, bila keadaannya berbeda, bila mereka tak terjebak di Lembah berkabut ini, Masumi akan sangat senang bisa menghabiskan waktu berduaan hanya dengan Maya. Tapi menyadari masa depan mereka tak mungkin berlanjut bila terperangkap di sana, Masumi menyesali kepergiannya ke lembah ini.

“Tapi bila aku tak ke sini... Maya akan terjebak seorang diri. Dia pasti ketakutan. Gadis mungilku,” bisik Masumi dalam hatinya.

“Kau sudah lapar?” tanya Masumi dengan senyum tulusnya. Masumi memilih mengesampingkan pikiran mengenai pertolongan untuk mereka dari pegawainya. Dia harus melihat kenyataan di depan matanya, bahwa mereka sedang berada di lembah, terisolir dari area sekitar, lembah yang penuh dengan misteri, yang tak pernah dijelajahi oleh orang lain sebelumnya.

Maya menggeleng walaupun perutnya berbunyi. Rasa perih melintir karena perutnya yang lapar, tapi coba dia sembunyikan.

Alih-alih meledeki Maya, Masumi menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya, “Kau masih bisa berjalan? Atau perlu kugendong?” tanya Masumi.

“A...aku masih kuat kalau hanya berjalan,” jawab Maya jengah. Membayangkan kontak fisik mereka membuat jantung Maya berdebar kencang.

Senyuman di bibir Masumi tertarik ke atas, tersenyum tipis. Mereka berjalan beriringan menuju ke dalam lembah, menyibak setiap semak dan cekungan, mencari sesuatu yang cukup berharga untuk mengenyangkan mereka, hingga akhirnya Maya secara tak sengaja menemukan sebuah celah sempit yang hanya cukup dilewati oleh tubuh manusia. Celah itu membawa mereka ke dalam sebuah cekungan yang di dalamnya terdapat sebuah danau kecil yang airnya mengalir dari tembok bukit. Danau itu tak hanya menyediakan air jernih yang bersih, tapi juga ikan-ikan gemuk yang memenuhi kolam-kolam kecil di pinggiran danau. Masumi tersenyum, bersyukur mereka menemukan tempat ini.

“Setidaknya kita tidak akan mati kelaparan lagi,” ujarnya.

“Iya. Tapi bagaimana kita akan menangkapnya, Pak Masumi?”

“Dengan tangan tentunya. Atau... kau ada ide lain?”

Maya teringat dengan sebilah pisau karatan yang teronggok di dalam gubuk, dengan pisau itu mereka membuat dua buah tombak yang berhasil mereka tombakkan pada ikan-ikan yang berenang di dalam kolam. Dalam waktu setengah jam, Masumi dan Maya berhasil menangkap sepuluh ekor ikan yang cukup besar.

“Kau bisa menghabisi semua ini, Mungil?” tanya Masumi dengan berkacak pinggang. Dia sungguh senang dengan acara memancing mereka barusan. Masumi yang menggulung lengan kemeja dan kaki celananya, telah basah kuyup hanya karena menangkap ikan yang bergerak gesit.

“Mungkin kita tidak akan kelaparan hingga malam ini, Pak Masumi.”

“Ya, mungkin saja.” Masumi tersenyum untuk menyembunyikan kekhawatirannya karena mereka tak harus berada di sini hingga malam ini. Tapi dia tahu, mereka harus.

“Pak Masumi, ehm...,” Maya menyela Masumi yang hendak kembali ke dalam gubuk untuk memasak ikan hasil tangkapan mereka.

“Ada apa, Maya? Kau sakit?” tanya Masumi khawatir.

“Ah, tidak. Itu... apakah anda tidak keberatan kalau aku tinggal di sini untuk beberapa menit?”

Masumi tak mengerti, alisnya berkerut bingung.

“Aku ingin berenang dan membersihkan tubuhku,” ucap Maya malu-malu. Walau suhu di dalam lembah cukup sejuk, tapi Maya merasa tubuhnya lengket dan bau. Dia tidak percaya diri berada di samping Masumi dengan tubuhnya sekarang.

“Baiklah kalau begitu. Apa kau ingin aku menemanimu?”

“Tidak! Ah, maksudku... tidak usah. Aku sendiri saja.” Maya menyadari kesalahannya. Dia salah tingkah dengan maksud Masumi.

Pria itu tersenyum kecut, dia hanya bercanda. Tak mungkin bagi Masumi memandangi tubuh Maya berenang-renang di dalam kolam danau tanpa merasa tergoda untuk menyentuhnya. Dia laki-laki normal, berada di dekat Maya tanpa sehelai benang bukanlah ide baik, seperti apa yang terjadi malam kemarin.

“Tak usah takut, Manis. Kau bisa menikmati waktumu, aku akan kembali ke gubuk untuk memasak ikan-ikan ini. Jangan terlalu lama, atau aku akan mencarimu ke sini. Aku akan masuk ke dalam kolam meskipun tubuhmu telanjang bulat. Karena toh... aku sudah melihat lebih dari... itu.” Masumi tersenyum misterius, wajahnya terlihat menjengkelkan bagi Maya.

“Pergilah, Pak Masumi. Anda meledekku,” rengut Maya.

Masumi terbahak-bahak tapi dia pergi juga, meninggalkan Maya seorang diri, bersiap-siap untuk berenang di dalam kolam.


“Ah... seharusnya aku merasa takut bila tidak bisa keluar dari lembah ini. Tapi mengapa aku merasakan sebaliknya? Hatiku tenang... damai... karena Pak Masumi juga ada di sini. Pak Masumi akan melindungiku. Pak Masumi... Mawar Jinggaku.” 


4 comments:

  1. hm.. cerita yang setiap membaca kata-perkata membuat menarik nafas... ceritanya jauh sekali dari cerita yang dibuku, tapi aku suka.. hanya kalo ingin membaca blog ini nunggu anak2ku terlelap dulu... makasi ya.. shin.

    tiara

    ReplyDelete
  2. aduhh... dilanjutin donk ceritanya... penasaran nich!

    ReplyDelete
  3. koq ga dilanjut nich....
    Aq suka bgt ceritanya... bisa jd pengobat rindu komik topeng
    kaca yg hang ga jelas.....:)
    Lanjut donk shin.......

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.