"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Saturday, July 26, 2014

REGRET An Article



Yang manakah kamu? 
*****
Apakah menurutmu lebih terasa menyedihkan mengatakan sesuatu yang mungkin akan kamu sesali belakangan, 

atau... 

menyesali tidak pernah mengatakan hal itu karena kesempatan untuk mengatakannya telah terlewat? 


Dalam hidup itu, baik setiap detiknya, setiap menitnya, jam, hari, bulan... manusia dan makhluk hidup diberikan kesempatan untuk memilih dan untuk tidak memilih. Karena tidak memilih pun adalah suatu pilihan. 

Kesempatan untuk menggunakan kesempatan itu, untuk mengatakan apa yang ada di dalam hatimu kepada seseorang, atau melakukan sesuatu di dalam hidupmu yang kemudian akan mempengaruhi hidupmu selanjutnya. 

Atau berdiam diri... karena menurutmu itulah yang terbaik untuk saat itu, untuk masa depanmu. 

Sebuah keputusan, pasti akan memberikan berbagai kemungkinan akibat dari yang telah diputuskan. 

Bagaimana bila tidak mengatakannya, bagaimana bila mengatakannya. 

Jadi... lebih menyedihkan yang mana menurutmu...? 

Mengatakan tapi menyesali, 

atau...

Berdiam diri, lalu menyesali. 

Seperti contoh yang sangat sederhana sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Bilamana kita berkendara di jalanan umum, dengan banyak orang yang memiliki berbagai sifat yang berbeda satu sama lain. Ada yang ramah, cuek, perhatian, kasar, arogan, dan sebagainya. 

Ketika kita menemukan diri kita berada di dalam suatu keadaan, dimana seseorang yang mengendarai kendaraan bermotor di depan kita lupa untuk memperbaiki letak standar motornya. Tentu... di dalam kepala kita akan timbul bayangan kemungkinan apa saja yang bisa terjadi bila orang itu kemudian di tengah jalan terantuk oleh benda yang tidak seharusnya berada di tengah jalanan, atau ketika orang itu berbelok yang kemudian akan membuat posisi dari kendaraannya miring yang bisa saja membuat si pengendara terjatuh dari kendaraannya. 

Nah, pada saat seperti itu, otak kita diajak untuk berfikir, berkompetisi dengan hati nurani kita. Apakah akan membantu dengan cara menegur dan memberitahukan kelalaian pengendara di depan kita, atau berlalu seolah tidak terjadi apa-apa. 

Fikirkanlah... apakah yang akan kita lakukan bila keadaan itu kita alami? 

Untuk beberapa contoh reaksi yang bisa kita lakukan, akan saya jabarkan, berupa : 

1. Menebalkan kerendahhatian kita dengan menghampiri pengendara itu, kemudian berusaha dengan wajar memberitahukan hal itu kepada si pengendara, yang kemudian dengan rasa bangga karena telah melakukan sebuah hal yang baik di dalam kehidupan bermasyarakat berlalu tanpa merasa perlu untuk menunggu sebuah ucapan terimakasih dari pengendara yang kita tolong itu. 

Atau... 

2. Melewati si pengendara motor, dan diam-diam berdoa di dalam hati semoga si pengendara itu tidak mendapat celaka selama dalam perjalanan, atau mendoakan seorang baik hati lain menyapa pengendara itu untuk memberitahukannya. 

Semua adalah sebuah pilihan. Dan setiap pilihan memiliki konsekuensi. Ada baiknya, sebelum melakukan sesuatu hal, kita berfikir dalam setiap sudut pandang sehingga akan memberikan kita pandangan yang berbeda untuk setiap langkah yang kita ambil. 

Andaikan kehidupan adalah sebuah permainan RPG (Role Playing Game), dimana kita dituntut untuk menyelesaikan sebuah tugas, untuk mencapai suatu tujuan, yang mana mengharuskan kita dibekali dengan segala kemampuan sehingga saat tugas itu mencapai klimaks, kita akan mampu lulus dengan hasil terbaik. 

Tentunya, dalam hal ini... kelulusan kita adalah bagaimana kita bisa memandang setiap perbuatan dan perkataan kita, yang mana telah memberikan kualitas dan peningkatan di dalam hidup dan cara berfikir kita. 

Jadi... sudahkah kita tahu apa yang menjadi keputusan kita? 

Mengatakan, tanpa menyesali... karena hal itu sudah kita fikirkan masak-masak,

atau...

Berdiam diri, dan seolah tidak terjadi apa-apa. Membiarkan hukum alam berjalan dengan sendirinya di dalam roda kehidupan. Karena setiap manusia memang telah ditakdirkan untuk terus berjalan di dalam arus yang bernama KEHIDUPAN. 


Salam, 

SH


2 comments:

  1. Klo perumpamaannya yg itu aku gak tau knapa selalu reflek tuk "teriakin" yg bawa motornya mbak blg klo standar motor nya pak... Org nya ngeh atw nggak terserah... Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha gpp lah... asal jgn diisengin aja orangnya. bisa ngamuk2 mereka kl diteriakin taunya cuman dikibulin. ihihihihi

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.