"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, September 19, 2014

One of A Kind




*****Saya bukan limited edition, tapi saya satu-satunya***** 

Suatu malam, (tepatnya malam minggu), Si Ulil lagi bengong di teras rumahnya, menggalau-gila. Datang kemudian temannya Si Patim, yang baru saja selesai ngapel dari rumah pacarnya. Dihampirinya kemudian Si Ulil oleh Si Patim. 

"Ngapain lu bengong, Lil? Kayak kebo kerasukan." 
"Gile lu, Tim. Kebo kerasukan. Gue lagi patah hati, nih." 
"Kenape? Bukannya baru seminggu lu jadian sama Mariyem? Anak Pak Somad itu, kan? Yang rumahnya deket pasar?"


Dengan wajah masam, Ulil menjelaskan pada temannya Si Patim.

"Gue diputusin, Tim," desah Ulil pasrah, paras wajahnya menggambarkan betapa galaunya dia. Malam minggu enggak punya pacar bagi Ulil bagai bumi tanpa matahari, bilangnya sih gitu.... 

"Alesannye apa, Lil? Kirain pacar baru, belum bosen-bosennya, donk?" tanya Patim penasaran. 

Ulil terkenal sebagai cowok perayu ulung, kata-kata gombalannya sudah terkenal di seantero kawan-kawan pemain Futsal di desanya. Hampir seluruh cewek yang menjadi SPG tempat mereka biasa main futsal sudah pernah dipacari sama Ulil. Hal ini terbilang baru, seminggu putus pacar. Biasanya, minimal sebulan baru putus, itupun diputusin sama Ulil. 

Ulil melirik Patim dengan lesu, "Gara-gara gue ngegombal. Gombalan gue dibilang basi sama Mariyem. Apes."

Tawa Patim tak terkira, dia sudah menyangka yang bukan-bukan, Ulil selingkuh, lah, Ulil ketahuan punya gebetan lain, lah, atau karena hal-hal masuk akal lain. 

"Emang lu bilang apa sama Mariyem, Lil?" tanya Patim, masih dengan tawanya yang hampir tak bisa dia bendung, air bercucuran dari ujung matanya. 

"Setan lu, Tim. Temen lagi sedih, lu malah ketawa." 

"Sori... sori..., Lil. Gue gak bisa bayangin lu diputusin hanya dalam seminggu, itupun karena gombalan lu. Itu lucu, Lil!!!" Patim tertawa terbungkuk-bungkuk, tak lupa menepuk punggung temannya. 

"Lu mau denger gak, kenapa gue diputusin? Atau lu mau gue tendang dari sini karena ngetawain gue?" sergah Ulil mulai sebal. 

"Iye, gue dengerin. Kenape emang? Lu bilang apa?" 

Ulil menghembuskan nafasnya panjang-panjang berulang kali, seperti orang yang sedang menimbang-nimbang, membuka lembaran pahit dalam ingatannya. Emang enak diputusin?

"Gue bilang, kalau dia itu cewek yang paling spesial bagi gue. Dia itu limited edition. Eh, Mariyem malah meradang. Wajahnya merah. Marah dia, Tim. Langsung diputusin gue saat itu juga." 

"Loh, emang ada yang salah dari perkataan lu?" 

"Itu dia, Tim. Gue gak ngerti salah gue dimana. Sampai akhirnya gue sms dia, nanyain apa salah gue. Tahu gak lu dia balas apa?"

Dengan polosnya Patim menggeleng-gelengkan kepalanya. 

"Kata Mariyem, dia itu gak mau dibilang 'limited edition'. Gara-garanya, bokapnya kapan hari beli mobil baru. Limited edition, cuman diproduksi 200 biji. Gile aja, speechless gue, Man!!!" jelas Ulil dengan nafas menderu kencang. 

Patim hanya mengangguk-angguk, sok ngerti. Tapi dalam hati Patim bergumam, "Besok-besok gue gak boleh bilang gitu ke Putri (pacarnya Si Patim), mustinya gue niru Michael Buble, gue musti bilang, "You're one of a kind"."

Patim hanya menepuk-nepuk punggung Si Ulil, ikut speechless mendengar kisah temannya yang cukup malang. 

*****
Secangkir teh with SH. ;)

1 comment:

  1. Ngebayangin salah satu mantan pacarnya Danof namanya Mariyem....hihihihii

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.