"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Sunday, October 12, 2014

Surrender In Your Arms - Chapter 9


Pukul sebelas malam Kimberly keluar dari kamar Derby. Bocah kecil itu tidur dengan nyenyak dalam buaiannya. Setelah seharian menemani putri majikannya, Kimberly kembali ke dalam kamarnya untuk membersihkan badan dan bersiap tidur. Tapi pintu kamarnya diketuk dari luar.

“Siapa?” tanyanya. Kimberly mengenakan kembali pakaiannya yang tadinya dia copot.

“Aku. Elliot.”


Tubuh Kimberly menegang. Dia teringat kembali peristiwa lusa malam saat Elliot mabuk dan berbuat tak senonoh padanya. Namun dia harus membuka pintu itu, dia tidak tahu apa yang diinginkan Elliot malam ini.

Bunyi kunci pintu terbuka, wajah Elliot terlihat samar terpantul cahaya dari dapur.

“Apakah kau sedang sibuk?” tanya Elliot padanya.

Kimberly menggeleng, “Tidak. Aku hanya ingin membersihkan badan di kamar mandi. Ada yang bisa aku bantu, Mr. Webb?”

“Besok malam akan datang seorang tamu spesial. Aku akan mempertemukannya dengan anak-anakku. Aku harap kau mempersiapkan mereka. Derby tidak perlu ikut ke kantor karena aku pasti sangat sibuk. Tapi aku telah meluangkan makan malam bersama keluargaku. Mrs. Rose akan memberitahukanmu detailnya,” jawab Elliot. Dia memperhatikan penampilan Kimberly. Walau menemani Derby yang begitu aktif sepanjang hari, wajah Kimberly tidak nampak kelelahan. Hanya beberapa helai rambutnya terlepas dari ikatan karena tangan Derby yang gemar membelai rambutnya. Aroma tubuhnya pun tidak seperti seseorang yang telah bekerja keras seharian. Seperti pheromon yang memusingkan kewarasan Elliot.

Aroma melati bercampur khas tubuh Kimberly menguar di hidungnya. Rahang Elliot mengeras. Dia berusaha mati-matian untuk tidak menarik tubuh di hadapannya ke dalam pelukannya dan melumat bibir merah itu tanpa ampun. Tinjunya mengepal di dalam saku celan panjangnya, matanya menatap tanpa kedip ke dalam bola mata Kimberly yang berdiri dengan bingung. Elliot tidak bergerak, tatapannya mengurung mereka. Elliot membawa Kimberly ke dalam dunianya hanya lewat matanya. Mengungkung kebebasan wanita itu sehingga dia tidak bisa berkutik walau hanya menggerakkan kelopak matanya. Biru bola mata Elliot menyihirnya agar tetap membalas tatapan tajam itu, meski dengan enggan.

Suara panci terjatuh di dapur membuyarkan kuncian tatapan mereka. Suara Mrs. Rose melengking dari dapur, memaki seekor tikus yang mengintip dari balik lemari. Kesadaran Elliot kembali pada dirinya, rahangnya yang tadinya mengeras kini mengendur. Dia sadar apa yang sedang mereka hadapi, kekakuan tak bertepi. Bila dia tidak menghentikannya, semalaman Kimberly dan dirinya akan masih bertatapan mata seperti itu. Kimberly bukan tipikal wanita pemalu yang akan tertunduk dengan pipi merona saat seorang pria menggodanya, pun bukanlah seorang wanita penakut yang akan mudah gentar saat seseorang menatap tajam pada dirinya. Kimberly telah hidup cukup lama mengalami itu semua. Kehidupan yang Kimberly tinggalkan tidak akan pernah sanggup dibayangkan oleh seorang pengusaha kaya raya yang hidup dalam kenyamanan dan cinta seperti seorang Elliot Webb.

“Kalau begitu. Aku akan kembali ke kamarku. Silahkan lanjutkan apa yang akan kau lakukan tadi. Selamat malam, Kim,” ujar Elliot menutup percakapan mereka. Dia memutar tubuhnya, berlalu dari sana tanpa melihat untuk terakhir kalinya.

Saat pintu kamar Elliot tertutup, Kimberly mendesah panjang dan menutup pintu kamarnya. Dia kemudian berlalu ke dalam kamar mandi membersihkan tubuhnya.

“Tamu spesial yang akan bertemu dengan Landon dan Derby? Siapakah gerangan?” tanya Kimberly pada dirinya sendiri saat air mancur mengucur membasahi tubuhnya.

Keesokan paginya Elliot berangkat ke kantornya tanpa Derby. Dia hanya mencium pipi anaknya sebelum berlalu dengan mobilnya. Elliot nampak terburu-buru meskipun hari masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Kimberly yang mengawasi kepergian majikannya itu hanya memandang kosong pada pintu gerbang kediaman Elliot, sebuah perasaan aneh muncul dalam hatinya. Perasaan hampa dan kehilangan. Dia terbiasa ikut serta ke kantor pria itu, memandanginya hampir sepanjang hari, mengamati wajah serius Elliot tatkala laki-laki itu sedang sibuk dengan pekerjaannya atau berbincang serius dengan seseorang di dalam telephone. Diam-diam Kimberly memperhatikan Elliot tanpa sepengetahuan pria itu.

Sejak insiden di meja makan beberapa hari lalu, Kimberly semakin was-was bila Elliot berada di sekitarnya. Tubuhnya akan meremang, mengantisipasi pergerakan Elliot. Awas, namun berharap.

“Switty, aku ingin makan donut,” rengek Derby manja. Bocah lima tahun itu menarik jari tangannya, mengajak Kimberly ke dapur.

“Donut? Dengan selai kacang yang banyak?” tanya Kimberly bersemangat. Derby mengangguk senang dan antusias.

“Ya!!! Selai kacang yang banyak!!!” pekiknya senang.

Di dalam dapur nampak Mrs. Rose sibuk dengan dandang dan panci yang mengepul. Bahkan di dalam oven terlihat sebuah nampan besar sedang dipanaskan. Entah apa yang sedang dimasak oleh Mrs. Rose.

“Anda memasak untuk nanti malam, Mrs. Rose?” tanya Kimberly. Tangannya mengoleskan selai kacang pada donut yang diminta Derby.

Wanita paruh baya itu tersenyum. Baru kali inilah rumah ini mengadakan pesta sejak dia mulai bekerja tujuh bulan yang lalu. Mrs. Rose sangat antusias, dia gemar memasak dan kesempatan ini dia gunakan sebaik-baiknya untuk menunjukkan skill memasaknya sekaligus menyalurkan hobinya. Dia bahkan bersenandung ringan kala mengaduk gravy di dalam panci.

“Ya, kau benar, Switty. Nanti malam rumah ini akan kedatangan seorang tamu spesial. Apakah kau tahu siapa?” tanya Mrs. Rose. Wajahnya bersinar, raut kebahagiaan terpancar jelas.

“Siapa?” tanya Kimberly ingin tahu.

“Calon istri Mr. Webb!! Ah, akhirnya tuan kita ini akan memiliki seorang pendamping lagi.” Kedua tangan Mrs. Rose bertepuk di udara, dia telah mengikuti gosip yang berkembang di sekitar majikannya. Selama dua tahun menduda, akhirnya Elliot Webb akan menjatuhkan hatinya pada seorang wanita.

“Calon istri?” Mulut Kimberly menganga.

Tanpa diinginkannya, hatinya tertusuk oleh senjata kasat mata. Sebuah rasa nyeri yang bernama cemburu. Namun dia menepis perasaan itu, dia sadar, dia tidak memiliki hak untuk cemburu. Elliot adalah majikannya, dan dia bebas memilih siapapun yang dia inginkan sebagai istrinya.

“Ya. Calon istri! Aku sungguh penasaran seperti apa wanita yang memenuhi kriteria Mr. Webb kali ini. Ah, semoga dia lebih baik dari Ms. Conahan. Ah, mungkin kau tidak tahu, Switty. Ms. Conahan adalah teman kecil Mr. Webb. Tapi sayang, gadis itu telah menikah dengan seseorang. Hm... salah satu dari White bersaudara kurasa. Sang adik, atau Sang kakak. Aku lupa,” kikiknya geli. Mrs. Rose terkadang senang bergosip.

“Aku tidak melihat satu pun foto almarhum istri Mr. Webb di rumah ini,” ujar Kimberly. Untuk pertama kalinya menyadari hal itu.

Wajah Mrs. Rose mendung, dia menurunkan ladle yang dipeganginya, meletakkan benda itu di atas meja, dan duduk di atas kursi yang baru ditariknya.

“Sejak kematian Mrs. Webb, Mr. Webb menyimpan semua foto Mrs. Webb yang ada di rumah ini kecuali foto yang ada di dalam kamar dan ruang kerjanya. Aku tidak terlalu tahu mengapa dia melakukan hal itu, tapi aku dengar, dia tidak sanggup melupakan kematian istrinya. Mr. Webb sangat mencintai istrinya. Mereka saling mencintai. Dulu temanku bekerja di sini, dia menceritakan banyak hal mengenai pasangan ini. Bagaimana mereka saling menyayangi, saling mencintai. Bahkan pertengkaran hampir tidak pernah terjadi, setidaknya di depan para pelayan. Tapi sejak kematian Mrs. Webb, Tuan Elliot berubah drastis. Mungkin dia bisa bertahan hanya karena keberadaan dua malaikat kecil ini, Landon dan Derby.” Mrs. Rose tersenyum pada Derby yang sedang menjilati selai kacang pada donatnya. Anak kecil itu tidak mengerti dengan apa yang sedang diperbincangkan oleh dua orang pelayan rumah tangganya itu.

“Aku tidak tahu apa pun mengenai mereka...,” bisik Kimberly, lebih kepada dirinya sendiri. Dia memang tidak mengenal Elliot Webb, terlebih istrinya. Dia melamar pekerjaan di sini pun karena begitu ingin pergi dari rumahnya di desa. Saat dia berada di dalam rumah ini, Kimberly tidak berharap akan merasakan sesuatu pada majikannya. Dia ingin bekerja untuk menghasilkan uang sehingga hidupnya akan lebih mudah, karena dia sebatang kara. Kimberly tidak ingin apa pun perasaan yang kini menghampirinya ini mengganggu pekerjaannya sebagai babysitter Derby. Tapi dia ragu bila perasaan itu bisa dia kekang, meskipun kini hanya sebesar biji kelereng.

“Mereka adalah orang-orang kaya yang hidup di dalam lingkungan eksklusif. Orang-orang seperti kita tidak memiliki kesempatan berinteraksi dengan mereka. Selain menjadi pengurus rumah tangga mereka. Tapi aku senang bekerja di sini. Mr. Webb bukan tipikal orang kaya sombong yang merendahkan pegawainya.” Mrs. Rose mendengus, “Tidak sedikit majikan tempat dimana aku bekerja sebelum rumah ini yang begitu sombong. Mereka tidak ada sepersepuluh pun dari Mr. Webb,” lanjutnya. Mrs. Rose nampaknya sangat mengagumi Elliot.

“Iya, dia memang baik hati. Saat aku mengira sudah tidak mungkin diterima sebagai babysitter Derby, aku sudah hampir pergi. Tapi dia menerimaku. Aku sungguh berterimakasih. Aku hanya bisa membalas kebaikan Mr. Webb dengan menjaga Derby sebaik-baiknya,” desah Kimberly, menyadari kembali tujuan utamanya di sini. Menjadi babysitter Derby dan hanya itu, tidak lebih.

Wajah Mrs. Rose sayu dan penuh haru, dia memeluk tubuh Kimberly seperti anaknya sendiri, “Oh, sweet darling. Kini hidupmu akan lebih baik dari dulu. aku bersyukur kau pergi dari kakakmu. Aku tidak habis pikir bagaimana mungkin ada seorang kakak seperti itu. Bila aku mengenalmu sejak lama, aku akan membawamu pergi dari sana. Kau berhak mendapatkan kesempatan-kesempatan lain untuk hidupmu. Kau masih muda, kau cantik... bahkan mungkin Mr. Webb tertarik padamu.” Mrs. Rose mengerling nakal pada Kimberly. Dia menggoda gadis muda itu.

“Ah, apa yang anda katakan Mrs. Rose. Aku hanyalah seorang babysitter.” Pipi Kimberly merona merah, bahkan Derby ikut berpaling, memperhatikan wajah Kimberly yang memerah padam.

“Switty, kenapa dengan pipimu. It’s rwed,” tunjuk Derby polos.

Mrs. Rose tertawa terbahak-bahak, dia melanjutkan mengaduk gravy-nya dan memeriksa masakannya yang lain. Dia bersenandung kecil, sesekali melirik Kimberly dan menggodainya lagi.

“Semua pelayan di rumah ini tahu bagaiman Mr. Webb selalu menatapmu penuh gairah, Switty. Aku tidak mengerti, apa yang membuat dia bersikeras untuk tidak mendekatimu. Tapi mungkin dia memiliki sebuah alasan. Wanita malam ini? Siapa tahu.... Bisa saja mereka telah saling kenal beberapa lama. Jangan putus asa. Kau akan mendapatkan jodohmu kelak. Siapa pun itu, aku akan mendukungmu, Sayang,” kata Mrs. Rose.

Kimberly hanya mendesah, jantungnya berdebar kencang. Meski dia tahu Mrs. Rose hanya menggodanya, namun jauh di dalam hatinya Kimberly memiliki sebuah harapan bila hal itu benar. Namun dia kembali teringat akan keberadaan seorang wanita spesial yang akan datang dan berkenalan dengan anak-anak Elliot nanti malam. Dia merutuki dirinya, tidak boleh berharap, karena harapan untuknya hanyalah harapan agar bisa hidup dan tidak bergantung pada siapa pun lagi. Dia pun memantapkan hatinya. Kimberly akan berusaha keras dan bekerja sebaik-baiknya, setidaknya sampai Elliot Webb merasa jasanya sebagai babysitter sudah tidak diperlukan lagi.

“Akan datang hari itu, dimana dia lebih memilih istrinya daripada babysitter-nya. Aku tidak boleh berharap yang bukan-bukan. Aku di sini untuk bekerja, bukan untuk menggoda majikanku,” bisik Kimberly di dalam hati.


Seharian Kimberly menemani Derby bermain di dalam kamarnya, menemani gadis kecil itu tidur dan membacakan dongeng-dongeng kerajaan dimana cerita Cinderella selalu menjadi favorit Derby. Gadis kecil itu ingin bertemu dengan seorang pangeran yang akan menerimanya seperti bagaimana pangeran menerima Cinderellanya. 




11 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Wekekekekekekekek pelayan yg laen aja bs liat klo majikannya demen ama si baby sitter.

    ReplyDelete
  3. tabahkan hatimu kimberly jgn putus harapan#pukpuk#

    ReplyDelete
  4. semangat kimberly...ayo shin lanjutkan lagi

    ReplyDelete
  5. semangat kim, mr elliot naksir juga kok sama kamu, goda aja, pati kelepek-kelepek,#duagggh

    ReplyDelete
  6. aisshh mr. webb menyangkal klo dy tertarik ama kimberly ntar da yg dkt ama kimberly nyeseel looo hihi

    ReplyDelete
  7. yeyeyeyeyeyeyeyeye... bang elliot balik lagi :D

    cepetan disatuin dong mba, kasian si aku suka ikut galau :v :v

    ReplyDelete
  8. horeee.... dilanjutin lagi ceritanya...
    gemess aku... sebel aku... ayo sadar dong mr.webb....

    ReplyDelete
  9. Mba shin..lanjut lgi dongg..please??😁

    ReplyDelete
  10. si mbak shin, hibernasinya lama bngt x_x

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.