"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, November 20, 2014

Catching Angel's Heart - Chapter 14


Malam ini jamuan makan malam pengumpulan dana untuk biaya kampanye senator Jackson diadakan di ballrom hotel The Carlington. Hadir hampir seluruh pengusaha-pengusaha yang memiliki kantor pusat di Louisiana, yang selama ini telah menjadi pendukung setia senator Jackson, salah satu senator yang disegani di Amerika Serikat. Hanya tinggal menunggu waktu sampai Senator Jackson mengumumkan keinginannya untuk ikut bertarung memperebutkan kursi nomer satu di negara ini. Namun tampaknya Senator Jackson masih menikmati perannya sebagai wakil rakyat nomer satu dari Louisiana di gedung pemerintahan pusat.


Acara malam itu berlangsung meriah, dana yang rencananya akan digalang dalam dua puluh kali acara makan malam itu masih memerlukan jalan yang panjang untuk mencapai target. Meski demikian, seorang dermawan yang menyumbangkan hartanya bagi kampanye Senator Jackson rupanya memilih untuk menutupi setengah dari jumlah seluruh biaya kampanye senator Jackson. Saat namanya diumumkan, dermawan itu berdiri dari duduknya dan memperlihatkan dirinya di depan publik pendukung Senator Jackson. Dia mendapatkan tepuk tangan meriah dan dielu-elukan oleh pendukung Senator Jackson, sementara Senator Jackson hanya tersenyum kecut karena terpaksa.

Malam itu Evellyn tidak ikut serta menghadiri pesta itu, David tidak dapat menemuinya. Namun David tahu, dan Evellyn bukanlah yang dia cari malam ini. Urusannya dengan Evellyn bahkan belum dimulai, David masih mengincar senator Jackson karena hanya laki-laki inilah yang bisa membantunya, mau atau tidak mau. Terpaksa atau dipaksa.

Saat para tamu undangan sudah mulai berpulangan, Senator Jackson menggiring David ke sebuah ruangan sunyi, hanya mereka berdua. Di sana Senator Jackson sekali lagi mengintimidasi David dengan bentakan kasarnya, yang sekali lagi tidak membuat David bergeming.

“Apa yang kau mau? Apa maksudmu dengan menyumbangkan uangmu untuk kampanyeku? Aku tidak bisa kau beli, Mr. Steel,” sergah Senator Jackson marah.

David hanya mendengus, dia meneguk martini di tangannya hingga habis. “Aku hanya ingin mendukung idolaku untuk menjabat kembali di Gedung Capitol Hill untuk musim berikutnya. Tidak ada yang salah dengan hal itu kan, Sir? Undang-undang tidak melarang masyarakat untuk ikut serta di dalam kampanye dan uang yang kusumbangkan itu murni uang hasil jerih payahku. Bersih. Anda tidak akan dituntut macam-macam,” ujar David sembari tertawa.

“Kau...!! Tapi kau tetap tidak akan kuizinkan menikahi anakku. Evellyn harus menikah dengan pria yang dia cintai. Tidak dengan dijodohkan, apalagi dengan paksaan. Negara ini adalah negara bebas, setiap penduduknya berhak memilih apa yang baik untuk dirinya. Kau tahu itu, kan, Mr. Steel?”

“Panggil aku David, Mr. Jackson. Ada satu hal menarik yang menurutku tidak bisa anda ingkari. Terutama... saat musim kampanye sudah dekat,” ujar David memulai konfrontasinya.

“Apa maksudmu?” Senator Jackson waspada, dia tahu David Steel bukanlah pengusaha kacangan. Dia tidak bisa dianggap remeh. Kendatipun Senator Jackson tidak pernah mengetahui mengenai bisnis-bisnis gelap milik David, tapi dia yakin, David lebih dari sekedar pebisnis jujur yang menghasilkan milyaran dollar dari penjualan yatch dan peralatan kesehatan. Dia lebih dari itu.

“Maksudku... bila ada satu saja hal buruk yang terjadi di sekitar anda, katakanlah... keluarga anda... atau... anak anda... maka, anda pasti tahu bagaimana nasib dan kemungkinan nama anda diloloskan untuk menjadi senator. Walau berhasil lolos, anda pasti juga tahu seberapa besar kemungkinan nama anda akan dipilih lagi oleh masyarakat Louisiana. Ini juga akan menjadi sebuah noda yang... well... tergantung dari besar-kecil masalah yang anda miliki... dan mempengaruhi rekam jejak anda sebagai seorang negarawan. Anda ingin menjadi orang nomer satu di negara ini, kan, Sir? Suatu hari nanti...,” jelas David. Sudut bibirnya tertarik ke atas, tahu benar ambisi yang dimiliki oleh seorang Frederick Jackson yang telah menggeluti dunia politik sejak usianya muda.

“Aku tidak mengerti kemana arah bicaramu. Katakan secepatnya maksudmu,” perintah Senator Jackson. Dia tidak suka diputar-putar tanpa penjelasan oleh David.

“Aku sebenarnya tidak ingin menggunakan cara ini, tapi anda membuatku tidak memiliki pilihan lain, Sir,” David mendekati Senator Jackson, jarak mereka hanya beberapa senti, David berbisik di telinga Senator Jackson, mengucapkan beberapa patah kata yang hanya bisa didengar oleh pria tua itu.

“Anakmu hamil... dia mengandung anakku,” bisik David.

Tubuh Senator Jackson menegang, matanya membelalak ngeri, tak percaya. Rahangnya mengeras, dia menggertakkan tinjunya kuat-kuat. Kedua tangannya meraih kerah jas David, mencengkeram dan mendorongnya ke dinding. David hanya berlaku dingin, sama sekali tidak merasa takut.

“Kau!! Bajingan!!! Apa yang telah kau lakukan pada Evellyn? Bila kau menyakitinya, aku bersumpah atas nama ibuku, aku akan membunuhmu.”

“Akan lebih bijak bila anda membiarkanku menikahinya dan melihat cucu anda hidup dengan seorang ayah di sampingnya, bukan di dalam kubur,” balas David.

“Kau!! Aku tidak percaya padamu. Evellyn tidak pernah menyembunyikan apa pun dari kami orang tuanya. Bila dia... dia... kau tahu, kalian... pasti dia akan memberitahu ibunya. Apalagi...,” Senator Jackson melihati penampilan David dari sisiran rambutnya hingga ujung sepatu hitamnya yang mengkilat. “Kau bukan selera Evellyn, aku yakin itu. Evellyn, lebih menyukai pria yang sopan dan tahu tata krama, tidak sepertimu. Arogan, angkuh dan congkak. Kau mengira aku akan membiarkanmu menikahi Evellyn walau dia mengandung anakmu? Tidak akan!! Jangan bermimpi, Mr. Steel. Lebih baik aku tidak menjadi senator lagi daripada hidup anakku menderita karena menikah denganmu,” rutuk Senator Jackson.

“Tanyakan padanya, apa yang terjadi saat kalian berada di atas kapal yatch Lady Luck. Tanyakan padanya bagaimana kami bertemu, dan apa saja yang kami lakukan,” David melepaskan cengkeraman tangan Senator Jackson dari kerah jasnya, “Tanyakan bagaimana dia menerimaku, tanyakan bagaimana dia bereaksi padaku. Dan tanyakan, mengapa dia tidak memberitahukan kalian hingga saat ini juga. Dan bila dia masih belum mengakuinya, jangan khawatir... sebuah video akan kukirimkan ke kantormu. Setidaknya, itu cukup, kan... untuk membuatku bisa menikahi anakmu? Tentunya... kau tidak ingin video itu tersebar ke masyarakat luas dan menghancurkan nama keluargamu.”

“Kau!! Bajingan!!” Senator Jackson berusaha meninju wajah David, namun gagal, David berhasil menghalanginya. Tenaga Senator Jackson tidak sebanding dengan tenaga David.

“Tidak ada gunanya, Sir. Bersedia, atau hancur.”

“Nama keluargamu juga akan hancur, tidakkah kau pikirkan hal itu?” tanya Senator Jackson, suaranya mulai tampak gentar.

“Apakah menurutmu aku peduli? Aku hanya menginginkan anakmu. Itu saja,” sahut David.

“Dalam mimpimu!! Tak akan kubiarkan kau menyentuhkan tanganmu yang kotor itu pada anakku!!” Senator Jackson menepis lengan David, dengan kalimat terakhirnya, dia berlalu meninggalkan ruangan itu. Tak lama, Senator Jackson berbisik-bisik pada istrinya, mereka pun meninggalkan ballroom itu sebelum para tamu undangan pulang seluruhnya.

Di dalam ruangan sepi itu, David termenung seorang diri. Untuk pertama kalinya dia merasa bersalah memeras seseorang untuk mendapatkan keinginannya. Sesungguhnya dia tidak peduli dengan pernikahannya akan dibatalkan atau dilanjutkan. Dia hanya ingin mendapat kesempatan kedua bersama Evellyn, untuk mengenal wanita itu, untuk mendapatkan maafnya, menebus kesalahan-kesalahannya. Kendatipun bukan melalui pernikahan, yang sayangnya tidak mungkin bisa tercapai bila mereka tidak berdekatan. Selain itu, menikah dengan Tracy tidak pernah ada dalam bayang-bayang masa depannya. Hidupnya telah berakhir menjadi seorang David Steel yang berengsek, David berharap bersama Evellyn dia akna menemukan kehidupan baru yang merubah kepicikan hatinya. Andai dia berhasil.

~*~*~*~

Tiga hari berlalu tanpa kabar dari Senator Jackson. David mulai meragukan keberhasilan rencana keduanya. Haruskah dia menggunakan cara ketiga? Dengan menyebarkan video cctv di atas yatch yang merekam ciuman mereka berdua, bagaimana dengan paksa David mendorong Evellyn masuk ke dalam kamarnya, selanjutnya dia hanya perlu membayar wartawan dan jurnalist untuk memberitakan lanjutan dari video itu seperlunya. Orang-orang yang menonton dan membaca berita mengenai mereka akan memiliki pemikiran-pemikiran mereka sendiri dan itu sudah cukup untuk menghancurkan karir politik seorang Frederick Jackson. Bila Senator Jackson rela karirnya pupus, akankah Evellyn rela? David terpekur memikirkan hal itu, tepat ketika suara pintu terbuka kasar, mendobrak dinding dan terpental menutup, setelah sepasang kaki jenjang masuk ke dalam kantornya di gedung Steel and Iron Company.

“Kau bajingan!! Apa yang telah kau katakan pada ayahku?” teriak Evellyn tepat di wajah David. Seorang sekretaris David mengikuti Evellyn dari belakang, berusaha menghalau Evellyn mengamuk di kantor David.

“Tak apa, Carla, keluarlah. Aku mengenal nona ini,” katanya senang. Hari-harinya yang membosankan beberapa hari ini kembali berseri-seri. Dia senang mendapati Evellyn berada di depannya, di dalam kantornya.

Carla sang sekretaris menutup pintu itu sebelum keluar dari sana, meninggalkan Evellyn penuh dengan emosi yang meletup-letup. Dia bahkan masih menggunakan pakaian kerjanya, sebuah nametag masih terpasang pada jas laboratorium yang dia kenakan.

“Kau bekerja di rumah sakit?” tanya David, alih-alih menjawab pertanyaan yang diajukan Evellyn padanya sebelumnya.

“Kau pria berengsek. Aku tidak percaya ada manusia licik sepertimu. Apa sebenarnya yang kau inginkan, ha? Tidak cukupkah kau menghancurkan hidupku? Haruskah kau menghancurkan hidup keluargaku juga??!!” Evellyn meluapkan emosinya di depan David, tanpa bisa dia kuasai, tangisnya merebak frustasi.

David menghalau Evellyn ke dalam pelukannya. Wanita itu meronta, tak rela berada dalam dekapan David lagi.

“Lepaskan aku! Kau bajingan! Jangan pernah sentuh aku lagi! Pria busuk!! Pergi!!” teriak Evellyn berkali-kali. Cakaran kuku tangannya pada wajah dan leher David tidak membuat pria itu bergeming, David merelakan tubuhnya dicakar habis hingga berdarah-darah, David hanya ingin menenangkan Evellyn yang sedang kalap.

“Mengapa... mengapa kau katakan pada ayahku? Tidak bisakah kau simpan itu untuk dirimu? Kenapa kau permalukan orang tuaku juga...,” Evellyn yang kelelahan melawan dekapan David kini memukul-mukul dada pria itu dengan lemah. Tangisnya masih menguasai, bibir, hidung dan matanya merah bengkak. Dia tidak peduli lagi penampilannya di depan CEO Steel & Iron Co. dia hanya tahu, dia membenci David Steel.

“Aku membencimu...,” lajut Evellyn sendu, masih dengan isakan tangisanya.

“Aku tahu,” sahut David, lebih berupa bisikan.

“Aku ingin kau mati,” sambung Evellyn.

“...Aku juga tahu itu,” mau tak mau bibir David terpaksa tersenyum, sunggingan senyum yang menggelikan hatinya.

“Aku akan membunuhmu,” ujar Evellyn, semakin jengkel dengan jawaban David, walaupun dia sudah tidak memberikan perlawanan lagi pada pria itu.

“Aku menunggu hari itu tiba,” jawab David akhirnya.

Evellyn mendorong tubuh David, menjauh dari dekapan longgar laki-laki itu.

“Jangan pikir kau berhasil mendapatkanku, laki-laki memuakkan. Aku tidak akan pernah menerimamu. Aku juga tidak akan pernah memaafkanmu, untuk banyak hal. Kau... benar-benar tidak berperikemanusiaan. Kau... bahkan mulutku tidak kuasa mengucapkan makian untukmu,” cecar Evellyn. Dia hendak pergi dari kantor David tapi lengannya ditarik, dia pun tidak bisa pergi.

“Lepaskan aku!!” teriaknya kesal.

David tidak mengizinkannya pergi, alih-alih membukakan pintu bagi Evellyn, David membawanya ke dalam sebuah suite yang ada di dalam kantor itu. Dia tidak mendengarkan teriakan Evellyn, sorot matanya dingin, menarik Evellyn dengan paksa ke dalam sana.

Evellyn panik, dia teringat kembali akan pemerkosaan yang dilakukan David padanya dulu. “Tolong, lepaskan aku. Jangan, aku tidak mau lagi. Hentikan!!” teriak Evellyn.

Tapi David tetap tak bergeming, hingga akhirnya mereka berada di dalam suite, David mendudukkan Evellyn di atas sofa di sisi ranjang.

“Duduklah. Aku tidak akan memperkosamu. Kau harus menenangkan dirimu.” David membuka lemari pendingin di samping meja rias, mengeluarkan sebotol air mineral dan menuangkannya untuk Evellyn. “Jangan khawatir, tidak ada obat bius atau racun. Aku tidak mabuk kali ini. Kau kira aku menyukai melakukannya saat mabuk?” dengus David, tidak merasa perlu untuk menyembunyikan kebejatannya dari hadapan Evelyn.

David tidak pernah menyembunyikan jati dirinya pada siapa pun, kecuali kedua orang tuanya, atau lingkungan keluarganya yang memaksa David untuk meninggikan derajat dirinya. Bagi lingkungan keluarganya, bersikap dan berbicara tak senonoh adalah hal yang tabu.

David menyodorkan minuman itu pada Evellyn, dia tidak ingin menerimanya, tetapi David memaksa. Dia membuat Evellyn menggenggam gelas itu di tangannya, “Minum. Aku akan mengambilkan handuk bersih untukmu.” Setelah itu David menghilang selama lima menit. Saat dia kembali, sebuah baskom air dingin dan handuk basah berada di tangannya.

Dengan telaten David memeras handuk itu hingga tetes air terakhir. Dia meminta Evellyn untuk merebahkan tubuhnya ke sandaran sofa. Evellyn terpaksa mengikuti kemauan David atau pria itu akan memaksanya lagi. Satu hal yang mulai disadari Evellyn, David adalah pria yang tidak suka ditolak. Dia akan memaksa bila keinginannya ditolak. Dan Evellyn sangat menghindari pria itu memaksanya.

David mengusap wajah Evellyn yang bengkak dan merah karena tangisannya. Senggukan-senggukan kecil masih terdengar dari mulutnya, tapi mendapat perlakuan sopan dari David, sesaat hati Evellyn meragu. Dia hampir lupa dengan tujuan awalnya mendatangi kantor David.

“Tolong jangan kau lakukan apa pun yang sedang kau rencanakan. Hidup ayahku akan hancur bila karirnya hancur. Bila ayahku hancur, ibuku akan hancur. Cukup aku saja, tolong.... Aku tidak akan meminta pertanggungjawabanmu. Aku tidak hamil. Kau tidak perlu mengatakan apa pun pada siapapun. Cukup antara kita, dan ini adalah kali terakhir aku akan menemuimu. Begitu pula kau... aku harap ini adalah kali terakhir kau berhubungan denganku, dengan keluargaku. Biarkan kami hidup tenang dengan kehidupan kami,” pinta Evellyn dengan suara memelas. Dia rela melakukannya untuk melindungi hati orang tuanya.

David tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia masih sibuk dengan handuk di tangan, merapikannya di atas meja sebelum duduk di hadapan Evellyn dan memandang bola mata wanita itu lekat-lekat.

“Mengapa kau kira aku tidak bersungguh-sungguh ingin menikahimu?” tanya David serius.

Evellyn tidak mengerti dengan keinginan David. Di saat pria itu bisa kabur dari tanggung jawab, dia justru menyodorkan diri ke depan tungku perapian. David bisa memilih wanita-wanita lain untuk dimilikinya, mengapa harus Evellyn, mengapa harus wanita yang tidak dia kenal.

“Karena kau tahu aku tak akan pernah menerimamu sebagai suamiku. Kehidupan kita tidak akan pernah mudah. Aku membencimu, lebih memilih mati daripada hidup bersamamu. Tak ada gunanya kau bersikeras,” jawab Evellyn, walau dia ragu mati adalah pilihan yang lebih baik dari sekedar hidup serumah dengan pria tampan di depannya.

David tidak buruk, bahkan tampan. Rambut coklat kehitamannya berkilau sehat. Wajahnya yang bersih tanpa cambang atau kumis sedikitpun, dia menjaga kebersihannya. Selalu tampil rapi dengan pakaian bersih dan licin, meski hanya sehelai kemeja polos. Tak pernah macam-macam dengan menggunakan perhiasan yang akan membuatnya terlihat berlebihan. Sejujurnya, dalam hatinya, Evellyn mengakui dia sedikit tertarik pada David... bila dia diharuskan memilih penampilan pria itu.

“Katakan padaku, antara aku dan pria Jonathan itu, manakah yang lebih kau pilih? Terlepas dari apa yang aku lakukan hanya agar bisa menikahimu?” tanya David, masih dengan sorot mata serius.

“Itu bukan pilihan. Lagipula, kita tidak berandai-andai di sini. Semua sudah kau lakukan, aku tidak bisa menilaimu akan apa yang tidak kau lakukan.” Evellyn mencoba bangkit, tapi sekali lagi David menekan pahanya, mencegah Evellyn berdiri dari duduknya.

“Aku atau dia?” tanya David, menekankan kata-katanya pada ‘aku’ dan ‘dia’.

“Aku tidak memilih,” ujar Evellyn mulai kesal.

“Aku... atau dia...,” kini tubuh David lebih dekat, menyingkirkan meja yang tadinya menghalangi di antara mereka berdua.

Tubuh Evellyn merangsek mundur, semakin merunduk pada sofa empuk, sementara David merayap di atas tubuhnya, menghembuskan nafas hangat yang memelintir perasaan Evellyn. Darahnya berdesir, tubuhnya teringat akat pujian-pujian bibir dan lidah David pada kulitnya, mau tak mau Evellyn terpaksa memejamkan matanya, antara takut menerima apa yang akan diberikan David sekaligus mengingat-ingat sensasi saat bibir basah itu membelai tubuhnya.

Lama hening, tak ada yang bergerak. Mata Evellyn masih terpejam kuat-kuat, menunggu dengan debar jantung tak menentu. Namun tak ada yang terjadi. Dia pun membuka matanya dan mendapati David sedang menatap matanya, tak jauh di atas tubuhnya.

“Apa yang kau lakukan?” tanya David, dia masih menunggu jawaban Evellyn.

“Apa maksudmu? Kau, apa yang kau lakukan?” balas Evellyn dengan bertanya kembali.

“Aku menanyakan siapa yang akan kau pilih, dan kau belum memberiku jawaban. Kau hanya memberikanku ekspresi itu...,” decak David geli.

Wajah Evellyn memerah, takut rahasia hatinya tersibak. “Ekspresi apa??” tanya Evellyn untuk menyembunyikan pipinya yang memerah sumringah.

“Ekspresi yang minta untuk dicium habis-habisan... di atas sofa ini. Apakah kau tahu, posisi kita sungguh sangat menguntungkan,” jawab David sembari menyunggingkan senyuman mautnya. Jantung Evellyn seketika melonjak penuh antisipasi.

“Ti...tidak. Aku mau keluar, aku sudah mengatakan apa yang perlu aku katakan. Lepaskan aku. Menyingkir dari tubuhku.” Evellyn mendorong tubuh David, tak berdaya, tubuh David justru semakin membebani tubuhnya.

“Aku pria berengsek, kan? Apa yang membuatmu mengira Singa tidak akan memangsa anak rusa yang masuk ke dalam sarangnya... dengan suka rela...,” bisik David pelan. Bibirnya mencari-cari bibir Evellyn, merayu, menggoda.... pipinya pun berhasil dia kecup. Lalu David bangkit dari posisinya, Evellyn terbengong-bengong di atas sofa, tak menyangka David akan melepaskannya begitu saja.

Alis kanan David terangkat, dia memandangi Evellyn yang masih seperti semula di posisinya, “Kau tidak jadi pergi?” tanya David.

Dengan salah tingkah, Evellyn bangkit dari duduknya. Dia memperbaiki pakaiannya, mendesah frustasi ketika teringat dengan bengkaknya mata dan bibirnya akibat tangisan.

“Apa yang kau kendarai ke sini?” tanya David.

“Aku tidak perlu menjawab itu. Itu bukan urusanmu.”

“Itu urusanku, terutama bila kau akan menjadi istriku, beberapa hari lagi.”

Evellyn menoleh, menatap mata David dan mencari sebuah bentuk penghinaan di dalam sana, tapi dia tidak menemukannya.

“Sekali lagi aku tegaskan, Mr. Steel, kau tidak perlu bertanggungjawab, akan lebih mudah bagiku melanjutkan hidup tanpa lagi kau jejali dengan dirimu. Biarkan aku dengan hidupku, memilih apa yang kuinginkan. Lupakan saja apa yang terjadi di kapal pesiar itu. Aku sudah melupakannya,” sergah Evellyn kesal. Dia tidak suka dengan ego David yang arogan.

Tapi rupanya kata-kata Evellyn menerbitkan amarah dalam diri David, dia menarik pinggang Evellyn dan mendesakkan tubuh mereka. “Kau tidak melupakannya. Bagimana mungkin kau melupakannya? Kau tidak diperkosa setiap hari, kan? Kau berbohong!”

Evellyn terdiam, dia tidak menjawab. Tangannya melepaskan dekapan David, meski pada awalnya sulit, tapi David mengendurkan pegangannya.

“Jangan ganggu kami lagi,” ujar Evellyn sebelum berlalu dari kantor David dan dengan sukses menorehkan sebuah luka dalam hati pria itu.

Entah mengapa, David tersinggung. Seharusnya dia senang mendapati seorang wanita tidak meminta pertanggungjawabannya, sementara dahulu hampir setiap wanita yang ditidurinya mengaku tengah mengandung anaknya. Walaupun dia yakin mereka hanya berbohong, karena David tidak pernah absen menggunakan pengaman, terkecuali saat malam itu bersama Evellyn.


“Semakin kau menolakku, semakin ingin aku memilikimu, Eve....” 


9 comments:

  1. Wow. David is so cool...

    No wonder Nanny Mag like him so much...

    ReplyDelete
  2. wuih..si om, daripada ngejer2 eve susah payah, mending sama aku aja om hahahaha #gampangan bngtttt xD sering2 update dong mba shin, kn kngn klo lama2 ga ketemu si om ini xD

    ReplyDelete
  3. Huaaaa, David, semangat, beri dukungan buat usaha David merebut hati Eve. Hehehehehe, tambah seru, Mbak Shin. David semakin ditolak semakin semangat. Jangan bosen untuk nulis dan update cerita, ya, Mbak. Semangat.

    ReplyDelete
  4. Mantap mb ceritanya. Mau dunk lanjutannya. Bikin penasaran nih. Penasaran ma kisah hidupnya dave.

    ReplyDelete
  5. Baru nemu story ini dan langsung suka... Kapan nih mbak dilanjutnya...
    penasaran nih,, Evelyn keluarnya lama banget sihhh...
    cepeta ah,, nikah ama David.. Gak sbar nihh... hihihihi...

    ReplyDelete
  6. Mbak shin dimana sih? Smoga sehat2 trus ya mbak... gantung nih storynya, lanjutin dong mbak

    ReplyDelete
  7. Wah keren..pas lagi seru serunya eh...gk diterusin.
    Ditunggu lanjutannya.

    ReplyDelete
  8. Sudah lama sekali, ada apakah mba shin? Blog ini sudah tidak aktif lagi kah? Rindu cerita2nya

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.