"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, November 26, 2014

CERMIN - Endless Love oleh Parameswari Primadita


ENDLESS LOVE
Written by +Parameswari Primadita 
15 Tahun Lalu
" Kasih Ibu kepada Beta...tak terhingga sepanjang masa.Hanya memberi,tak harap kembali.Bagai sang surya menyinari dunia!"
      Terdengar suara canda,tawa, hingga gema tepuk tangan yang berasal dari dalam mobil honda putih itu.Sebuah keluarga kecil  tengah dalam kondisi suka cita,mereka sedang perjalanan untuk piknik,di sebuah  Minggu pada sebuah akhir pekan.Meski cuaca sangat mendung dan gerimis mulai turun membasahi bumi,tidak juga mengurungkan semangat mereka.

      Soraya Ambarwati,si Ibu muda yang tampak sangat amat cantik dan penuh vitalitas di usia menjelang 25 tahun itu, menoleh ke jok belakang sesekali untuk melihat kondisi sepasang anak kembarnya.Felishia dan Saga Gunantara sedang asyik bermain merebut cemilan.
      "Feli,Saga jangan rebutan ya Nak,Bunda masih punya banyak kok camilannya" kata Soraya.
      Wanita itu memutar badan,mengambil sesuatu dari dalam tas besarnya,terdengar bunyi gemerisik sesaat,tangannya meraup beberapa buah wafer coklat dan bersiap memberikannya kepada para buah hatinya.
      "Jangan terlalu banyak makanan manis sayang,nanti kamu protes lagi kalau kesehatan gigi mereka terganggu" tukas Aldian Gunantara.Suami Soraya sekaligus Ayah dari si kembar.
      Soraya menolehkan lehernya,memandangi lelaki berumur 30 tahun yang sangat amat manis dan memiliki sepasang lesung pipit sedalam palung samudra ketika tersenyum itu.
      "Tenang saja sayang aku cuma memberikan anak-anak camilan seperti ini sekali dalam seminggu,yaitu hari minggu sebagai hadiah" jawab Soraya.Melemparkan senyum lebar yang memperlihatkan seluruh kecantikannya bak malaikat.
      Aldi meleleh seketika.6 tahun sudah mereka menikah,namun Aldi masih saja terpukau dan terpesona pada Istrinya itu seolah-olah dirinya masih menjadi remaja yang sedang kasmaran.Aldian jelas-jelas teramat sangat memuja Soraya dengan segenap hatinya.
      "Kamu betul-betul berpikir hingga sejauh itu ya sayang.Hemmm aku benar-benar beruntung dan tidak salah memilih Istri" kata Aldi sungguh-sungguh.Membuat Soraya tersipu malu.
      Aldi menjulurkan tangannya.Meletakkan tangannya di atas punggung tangan kanan Istrinya yang diletakkan di atas paha kanan. Kemudian meremasnya lama.
      "I love You honey" Aldi mengucapkannya keras-keras.
      Soraya menyelipkan sehelai rambut ke belakang telinganya.Menunduk.Dibalasnya geng-gaman tangan Suaminya semakin erat."I love you always" jawab Soraya dengan pipi mero-na.Yang membuat Aldi makin gemas.
      "Bunda dan Ayah sedang apa?" Feli mendadak muncul di antara Soraya dan Aldi.
      Malaikat kecil nan cantik itu menatap penasaran ke arah tangan kedua Orang Tuanya yang saling berpegangan erat.Pipinya yang tembam menggembung dan mengempis bergantian.
      "Bunda Saga lapelll" si sulung menjulurkan kepalanya secara mengejutkan.Tangan-tangan mungilnya terjulur kemudian dikalungkan erat ke leher wajahnya.
      "Iya Saga sayang ini wafer buat kamu tapi bagi dengan adil ya sama adek" kata Soraya di barengi seulas senyum manis.
     "Mana adek duluan" tanpa basa-basi Feli merebut semua wafer itu dari tangan Bundanya.
     "Ahhh adekkk apaan sih..itu kan ada yang buat Kakak juga!"
     "Kakak ngalah dong sama Feli!"
     " Adek curang Bunda huaaaa!"
     "Kakak,adek jangan ribut dong.Sini Bunda yang bagiin aja kalo gitu"
     "Sayang jangan rebutan ya" Aldi menoleh,mencoba meredakan keributan akibat aksi saling dorong sepasang anak kembarnya.Karena bisa mengusik konsentrasinya menyetir.
     "Nggak mau ini punya Feli semua pokoknya
     Dinnnn...dinnn....Bunyi klakson dari arah depan mobil. Memandang ke depan.Aldi terkejut setengah mati saat melihat dirinya sudah keluar jalur dan ada truk besar dari arah lain melaju dengan kecepatan kencang.Refleks Aldi membanting stir ke kiri lagi,tapiiii.....
      "Ayahhhhh!!!!!" Soraya,Saga,dan Feli menjerit bersamaan.
      Benturan.Bunyi besi retak dan ditabrak.Kaca pecah berserakan ke mana-mana.
      Lalu segalanya menggelap baik bagi Aldi maupun Soraya.
***************
      Surabaya.Masa Sekarang.
      "Maaf saya terlambat" Satria Wibisono terengah-engah sembari memakai celemek-nya,memasuki dapur.
     "Kebiasaan deh kamu Sat..." Felishia Gunantara mendengus sebal seraya berkacak pinggang.
     "Sori banget,semalem aku ngelesin anak-anak SMU sampai malem banget,bis gitu bantu-bantu Ibu Panti nambal genteng karena ada yang bocor.Bentar lagi kan musim ujan kesian ntar anak-anak Panti" kata-kata Satria berhamburan.
      Feli tertegun menatap wajah tampan lelaki berbadan ramping atletis di hadapannya. Per-juangan hidup seorang Satria Wibisono merupakan alasan utama tergugahnya hati Feli,berubah dari sosok manja menjadi seorang gadis tangguh dan mandiri seperti sekarang. Padahal Feli adalah pewaris tunggal dari seluruh kekayaan jutawan besar penguasa perkebunan minyak kelapa sawit,Gunantara Company milik keluarganya.Namun Feli tidak malu harus menghabis-kan musim panasnya dengan bekerja sambilan sebagai Kasir di sebuah coffe shop ternama di bilangan Surabaya pusat.
       Satria benar-benar sudah membawa banyak perubahan positif dalam kehidupan Feli.Tiada lagi Feli si sellfissh,tuan putri arogan.Feli sekarang adalah wanita muda peka,kuat,serta mampu menghadapi masalahnya tanpa harus bergantung terus-menerus pada Orang Tuanya.Itu juga alasan Feli jatuh cinta pada sosok Satria.
      Namun,bukan hanya itu saja alasan ketertarikan Feli pada Satria.Pada  pertemuan pertama mereka di hari orientasi mahasiswa baru,di sebuah perguruan tinggi negeri Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.Feli tahu ada yang berbeda dalam diri Satria,lelaki itu terlihat spesial di mata Feli.
      Sikap rendah hati,kepintaran dan pastinya rupa fisik, membuat Satria menjadi pusat perha-tian banyak gadis di kampus.Bagi Feli,Satria adalah medan magnet.Ke manapun ia memandang dan melihat,hanya ada wajah Satria terbayang di kepalanya.
      Feli merasa yakin 100%,itulah yang disebut cinta pada pandangan pertama.Meski penasa-ran,Feli mempertahankan harga dirinya sebagai perempuan dan tak mau melemparkan diri begitu saja ke pelukan Satria secara sembarangan.Dia menunggu,hingga waktu itu tiba.Ketika Satria secara mengejutkan mengajaknya berkenalan sekaligus meminta Feli menjadi kekasihnya di akhir pekan masa orientasi siswa di luar kota. Satria mampu meyakinkan Feli kalau lelaki itu serius padanya.Rupanya sama seperti Feli, Satria juga sudah menaruh hati pada gadis itu sejak perjumpaan pertama mereka.
      Masa 2 tahun berpacaran tidaklah mudah.Dunia Feli dan Satria amat berbeda,terutama di masalah status ekonomi.Namun Feli tak pernah menyerah,seperti Satria yang tidak berhenti memperjuangkan hubungan mereka meskipun sifat Feli amat sangat mengesalkan kala itu.Perlahan tapi pasti,Feli berubah ke arah lebih benar,dan menjadi manusia lebih baik lagi.
      "Sayang,kok kamu sekarang malah melamun sih?" Satria mengibaskan tangannya di depan wajah Feli hingga gadis itu terkesiap kaget.
      "Ah ya...sori sori sayang tadi ngomong apaan?" tanya Feli,sambil meringis malu.
      Satria hanya tersenyum geli dibuatnya."Pasti lagi banyak pikiran?Ya sudah ayo mulai kerja,ntar kalau bos tahu kita masih asyik ngobrol di sini bisa kena potong gaji loh"
      Kedua tangan Satria memutar lembut bahu Feli,sedikit mendorong gadis itu hingga keluar dari dapur. "Tapi jangan ngelamun lagi ya,bisa-bisa pembukuannya berantakan nanti kalau mikirin pacarmu yang paling ganteng sedunia ini" canda Satria.
      "Idiiihhh ge-er amat situ.Siapa juga yang mikirin kamu" bantah Feli dengan pipi memerah.
       "Pacar aku kalau merona tambah cantik deh"
      "Satria!" Feli memukul lengan kekasihnya.
      Satria tertawa melihat kelakuan malu-malu tapi mau perempuan di hadapannya. Feli beranjak meninggalkan Satria sambil bersungut-sungut,namun tanpa sepengetahuan lelaki itu sesungguhnya Feli diam-diam tersenyum dan harinya terasa lebih riang.
***************
Maybe it's intuition.But some things you just don't question.  Like in your eyes
I see my future in an instant,and there it goes.  I think I've found my best friend
 I know that it might sound more than.A little crazy but I believe
###
 I knew I loved you before I met you. I think I dreamed you into life
 I knew I loved you before I met you. I have been waiting all my life
       Satria sadar betul kalau dirinya tengah di amati sejak beberapa menit terakhir oleh sese-orang. Jenis tatapan menusuk yang bisa membakar tubuhmu. Awalnya Satria berusaha bersikap biasa bahkan cenderung cuek,dia sudah sering begitu selama di kampus bila menghadapi kerumunan fansnya.Namun masalahnya kali ini berbeda.Satria dapat merasakan getaran kuat,hingga mampu merasuk jauh ke dalam inti sel di dalam dirinya hanya melalui tatapan.
      Pada akhirnya Satria menyerah kepada rasa penasarannya.Menegakkan tubuh,lelaki itu mencari sumber dari kegelisahannya. Dan dia menemukannya.
      Seorang wanita yang duduk di dekat meja display cronout dan cheese cake.Wanita tersebut adalah salah satu perempuan tercantik,selain Feli pastinya,yang pernah Satria lihat dan temui secara langsung.
      Tubuhnya mungil berlekuk,tertutupi sackdress selutut  berbahan wol lengan panjang berwarna merah tua.Rambut bergelombang mencapai bahu dengan helaian poni miring membingkai rahang ovalenya.Tulang pipi tinggi,bibir mungil kemerahan,alis lebat asli berwarna gelap,di padu sepasang bola mata besar seperti langit ketika fajar.
      Satria terpesona pada kecantikannya,bahkan dari jarak sedemikian jauh Satria bisa melihat detail terkecil wajah wanita itu nyaris tanpa cela ataupun kurang akibat keriput. Padahal menurut tebakan Satria,wanita itu tak kurang dari menjelang akhir kepala 3.
      Satria semakin yakin kalau dirinyalah pusat perhatian si wanita.Sebab sejak tadi perempuan itu tak berkedip sedikitpun sambil terang-terangan memandanginya.
Mendesah panjang,Satria memutuskan untuk melakukan sesuatu. Meletakkan tumpukan bon di atas meja,Satria mengambil buku pemesanan beserta pulpennya lalu berjalan keluar dari balik meja kasir menuju meja si wanita.
      "Permisi Ibu,ada yang bisa saya bantu?mungkin anda ingin memesan lagi?" tanya Satria ramah. Wanita itu malah melongo,menatapnya terpaku.
      Berdeham keras,Satria mengamati sekitar kafe sekilas melalui kedua sudut matanya.Setelah memastikan kondisi aman,Satria nekad maju dan menepuk lembut pundak wanita berbaju terusan merah tua itu. Wanita itu terlonjak kaget di atas kursinya,membuat Satria meringis merasa bersalah.Wanita cantik tersebut berkedip dua kali hingga sepenuhnya sadar.
      "Ma...maafkan saya,apa adik tadi bicara dengan saya?" tanya wanita itu tergagap.Sorot matanya memancarkan rasa malu.
      "Ehm,iya.Saya bertanya pada Ibu apa ada yang bisa saya bantu lagi?mengisi refill teh melatinya mungkin?" tawar Satria ramah.
      Wanita itu menggeleng pelan."Tidak perlu Nak,aku hanya menunggu putriku,dia bekerja di sini.Tapi dari tadi aku belum melihatnya,mungkin adik mengenalnya.Namanya Felishia Gunantara"
        Seketika jantung Satria berdegup kencang ketika mendengar nama kekasihnya di sebut.
      Mendadak Satria jadi ingat,alasan kenapa dirinya merasa familiar dengan wajah Ibu-ibu di hadapannya ini.Wanita itu pastilah Soraya Gunantara,Ibu kandung Felishia! Ya tak salah lagi,beberapa kali Feli pernah memperlihatkan foto kedua Orang Tuanya pada Satria.Pantas saja Satria merasa tidak asing.
      "Apa anda Ibu Soraya?Ibunda Feli?" tanya Satria ragu-ragu.
      "Ya!" mata Soraya berbinar cerah." Jadi,adik ini teman putriku ya?"
       Satria mengangguk." Feli tadi memang ada Tante,tapi sekarang dia sedang sibuk di gudang belakang mengecek bahan yang baru tiba.Itu sebabnya saya menggantikan posisinya di bagian kasir" jawabku lancar.Mencoba tidak tampak bodoh di hadapan Ibunda tercinta pacarku.
      "Oh begitu pantesan.Eh ya nama kamu siapa?" tanya Soraya penasaran.
      "Ehmm,saya Satria Wibisono.Ibu"
      Kedua pupil Soraya melebar seketika."Jadi,kamu toh yang namanya Satria.Feli sering cerita tentang kamu loh.Pantas saja Feli betah kerja di sini" kemudian tawanya terlepas.
       Ucapan terus terang Soraya justru membuat Satria salah tingkah.Kaki Satria bergerak-gerak sendiri di tempat,tidak menyangka akan mendapat sambutan seriang ini dari Nyonya jutawan terhormat seperti Soraya Ambarwati Gunantara.
      "Jangan panggil Ibu,panggil saja Tante Raya seperti kebanyakan teman Feli memanggil" Soraya menjulurkan tangannya ke hadapan Satria.
      Meski sempat bimbang,Satria mengulurukan tangannya juga."Ah iya Tante Raya"  Satria menjabat tangan Soraya dengan mantab.Saat itu juga sesuatu terjadi.
      Satria merasakan sentakan energi kuat mengalir ketika kulit mereka bersentuhan.Seperti arus setruman kekuatan listrik yang mampu menghanguskan tubuh Satria hingga ke sel-sel tulang sum-sumnya.Kepalanya mendadak penuh,berkabut dan menggelap.Perlahan-lahan gambaran aneh muncul secara bertahap di dalam kepalanya.
      Tapi justru Sorayalah yang pertama kali melepaskan jalinan ikatan di antara mereka dengan menarik tangannya.Wanita itu secara mendadak bangkit dari kursinya,sepasang iris sehitam jelaga milik Soraya melebar dalam,kapasitas maksimal.
      "Sa..saya lupa mendadak harus pergi,ada janji dengan orang.Bisa tolong sampaikan pada Feli,kalau saya tadi mencarinya?" tanya Soraya.Kalimatnya terbata-bata.Ekspresi wanita itu sepucat seperti habis melihat hantu.
      "Ah..eh iya Tante,akan saya sampaikan" jawab Satria.Kedua alisnya bergerak-gerak, pikiran-nya dipenuhi berbagai pertanyaan.
      "Ya,terima kasih kalau begitu" Soraya terdiam beberapa waktu.Matanya mengisyaratkan begitu banyak pertanyaan sekaligus kebingungan.
      "Satria!kamu ngapain di situ?sini tempat pembayaran nggak ada yang urus" teriakan Store Manager,Pak Burhan membuyarkan segalanya.
      Menoleh,Satria meringis dan berkata."Iya Pak,mohon maaf sebentar lagi saya akan ke sana"
      Pak Burhan mendengus kesal,jika marah lelaki kurus paruh baya itu mengingatkan Satria pada tokoh Severus Snape dalam Harry Potter karena model dan panjang rambutnya yang serupa.Membuat Satria ingin tertawa sendiri.
      Satria kembali menolehkan kepalanya ke depan,namun Soraya sudah menghilang.Kabur begitu saja bagaikan angin. Mendesah panjang.Satria membereskan bekas cangkir Soraya seraya mengelap meja dengan tisue dan kembali tempatnya di belakang meja dan mesin pembayaran.Dalam hati mengingatkan diri sendiri agar tidak lupa memberitahu Feli perihal kedatangan Ibunya ke Kafe barusan.
*************
      Seminggu sudah berlalu sejak pertemuan Satria dan Ibunda Feli.Soraya.Semenjak hari itu Feli bercerita pada Satria kalau Bundanya menyukai Satria dan ingin mengenal lelaki itu lebih dekat.Karena itulah Satria di undang untuk acara makan malam Jumat ini.Untungnya setiap satu minggu pegawai Kafe di ijinkan mengambil libur dua kali,dan Satria sengaja meliburkan dirinya hari ini juga hari Minggu mendatang.
       Sekarang Satria sedang dalam perjalanan pulang dari kampus menuju rumah Feli.Satria sudah sejak lama mengetahui alamat rumah Feli,lelaki tampan itu juga cukup sering mengan-tarkan Feli hingga di depan gerbang rumahnya selama mereka pacaran.Namun tak sekalipun Satria berani menampakkan diri di hadapan Orang Tua Feli,karena Satria merasa malu,rendah diri sekaligus sadar kalau dirinya masih belum menjadi apa-apa.Sehingga dia berencana mendatangi rumah Feli nanti,saat dirinya merasa sudah matang,mapan sehingga bisa langsung sekaligus melamar kekasih pujaan hatinya itu.
      Namun siapa sangka nasib berkata lain.Ibunda Feli terlanjur mengetahui dirinya, dan kini beliau ingin bertemu dirinya sekaligus  ingin mengenal Satria lebih dekat lagi.Jadi,bagaimana Satria bisa menolak itikad baik itu.
      Satria hanya bisa pasrah,menyiapkan mental dan hati serta banyak-banyak berdoa.Yang lelaki itu perlukan hanyalah menjadi dirinya sendiri nanti,di saat bertemu kedua Orang Tua Feli.
      Satria melewati jalanan tikus salah satu jalan pintas menuju perumahan mewah tempat tinggal Feli di Surabaya Utara.Ketika itulah Satria melihat sebuah kendaraan mewah mogok terbengkalai di tepian kanan jalan.Sang pemilik tampak frustasi sampai-sampai duduk di atas batu dengan kepala tertunduk dan kedua tangan diselipkan di antara helaian rambut.Merasa kasihan,tanpa berpikir dua kali Satria segera meminggirkan kendaraannya untuk menolong lelaki tersebut.
       Lelaki itu terlonjak kaget karena mendengar deru sepeda motor Satria.Pandangan mata pria dalam balutan kemeja lengan panjang,berkerah biru itu bersirobok dengan mata gelap Satria.
Bagai di sambar petir,Satria terkejut setengah mati saat menyadari kemiripan dirinya dengan lelaki di hadapannya,seolah-olah mereka adalah masa lalu dan masa depan yang bertemu. Menelan ludahnya,Satria berjuang agar bisa tetap berfikir rasional.
      "Maaf mobil Bapak mogok ya?" tanya Satria ramah,di barengi seulas senyum lembut.
      Pria tampan di hadapan Satria diduga berumur pertengahan kepala 4.Terkesiap kaget,dia berdeham,sedikit bingung namun segera angkat suara.
      "Eh ya,anu itu...kendaraan saya bermasalah,cylinder heatnya panas dan melengkung seper-tinya sudah turun mesin, butuh di derek.Masalahnya ponsel saya hanya satu yang terbawa dan itupun mati karena baterai lemah.Mau pergi memanggil bantuan jaraknya sangat jauh" tukas lelaki tersebut sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
     "Ehm,kalau begitu begini saja.Bapak telpon jasa penderek memakai ponsel saya,kalau Bapak mau pulang bisa saya antarkan.Apa Bapak mau ke daerah Citraland?kalau iya kebetulan saya juga sedang mau ke sana" tawar Satria.
      Ucapan Satria barusan memberikan angin segar pada lelaki tersebut. "Anda serius Nak?benar tidak merepotkan?" tanya Lelaki tersebut dengan mata berbinar karena menemukan jawaban atas permasalahnnya.
      Satria menggeleng pelan."Tidak ada  namanya kerepotan dari menolong orang lain yang benar-benar membutuhkan Bapak.Nah ini ponsel saya bisa Bapak pakai"Satria menjulurkan handphonenya yang diterima lelaki itu dengan gembira.
      Beberapa menit kemudian lelaki berpenampilan seperti seorang pria sukses dan kaya di depan Satria tampak sudah sibuk berbicara serta memberikan instruksi mengenai lokasi kendaraannya pada jasa penderek prosfesional.Setelah selesai diberikannya kembali ponsel tersebut kepada Satria.
     "Terima kasih ya Nak,bersyukur masih ada anak muda sebaik dirimu di zaman sekarang" ucap lelaki itu sungguh-sungguh,wajahnya tampak sangat letih.
      "Bukan masalah besar kok Pak.Ya sudah mari kalau begitu saya antar,tapi Bapak bisakah jadi navigatornya juga?"
     "Tentu saja Nak.Ah tunggu sebentar aku harus menutup dan mengunci pintu mobilku" tukas Lelaki tersebut.
      Satria menunggu lelaki tersebut menyelesaikan urusannya dengan sabar.
       "Nah mari Nak. Oh ya sampai lupa, nama saya Aldi"
      "Ah ya,saya Satria Wibisono Pak"
      "Satria,nama yang bagus.Tindakanmu mencerminkan namamu" kata Aldi. Menerawang.
      Satria hanya bisa meringis mendengar pujian dari orang asing yang baru dikenalnya itu. Hatinya entah kenapa terasa nyaman berada di dekat Bapak bernama Aldi ini.
      "Ayo Pak,kebetulan saya selalu membawa cadangan helm ke mana-mana siapa tahu diperlukan" Satria menyerahkan helm sport berwarna kuning kepada Aldi dan segera di pasangnya.
      Satria mulai menstater kendaraan,Aldi duduk di belakangnya,berpegangan erat pada san-daran di belakang.  Bunyi mesin meraung makin kencang.Pada hitungan kelima Satria mulai memacu motornya. Dia harus berusaha tidak telat malam ini jika masih mau menyelamatkan mukanya di hadapan Orang Tua Feli.
***************
        Satria tidak pernah percaya pada yang namanya kebetulan, dirinya yakin segala sesuatu di dunia ini sudah di atur oleh Tuhan. Termasuk, bagian yang satu ini.
        “ Kenapa kamu tidak bilang dari tadi kalau kamu temannya Feli” kata Aldi sambil menepuk bahu kanan Satria.
      Aldian  Gunantara, alias  Ayah Felishia, baru mengetahui kalau Satria adalah tamu yang akan di undang makan malam oleh Istrinya  hari itu. Setelah Satria dalam kondisi terkaget-kaget memekik kalau tempat tinggal Aldian adalah tujuan kepergiannya ke Citraland hingga bisa bertemu lelaki itu di pinggir jalan. Segera saja Satria di sambut ramah dan hangat di rumah mewah bergaya mediteranian tersebut.
      Terlebih lagi setelah Mama Feli, Soraya, muncul dengan kecantikan serta aroma harum untuk menyambut mereka. Wanita itu semaki terpukau pada sifat gentle Satria sesudah mendapatkan laporan dari Suaminya perihal insiden mobil mogok.
        “ Terima kasih banyak ya Mas Satria, kalau tidak ada Mas, bisa jadi Papanya Feli kejebak sampai malam di sana. Mana jalanan itu setelah magribh terkenal rawan dan angker” kata Soraya, bahkan sampai bergidik.
        Satria hanya bisa tersenyum simpul dan membalas perkataan Soraya. “ Semua sudah di atur oleh Tuhan Tante. Saya memang biasanya lewat jalan kecil itu, pas ketemu dengan Om yang sedang kesusahan. Oh ya, ngomong-ngomong Feli nya di mana ya?”
        Leher Satria celingukan mencari sosok gadis mungil dan cantik, kekasih hatinya yang sejak tadi tak kunjung muncul. Padahal sudah ada setengah jam Satria berada di ruang keluarga bersama kedua Orang Tua Feli.
        “ Feli lagi masak tuh. Begitu tahu kamu mau datang dia belajar mati-matian dari subuh buat masakin sayur asem, tahu, tempe, ayam bacem, dan orak-arik telur kesukaanmu katanya ya. Kebetulan sekali itu juga makanan Feli dari kecil loh. Kalau tak ada masakan itu seminggu aja, Feli pasti ngambek dan mogok makan. Hahahahhaha sama persis seperti Kakaknya Sa…..” celotehan Soraya seketika berhenti. Sesuatu seperti menghantam dirinya dan ekspresinya mendadak pucat pasi.
        Satria tahu benar siapa yang akan di maksud oleh Soraya. Feli pernah bercerita padanya dulu kalau dirinya memiliki seorang saudara kembar bernama Saga,namun meninggal ketika usia mereka masih 5 tahun akibat kecelakaan mobil. Itu sebabnya Feli menjadi trauma menyetir sampai sekarang, Feli bahkan langsung ketakutan jika mendengarkan bunyi guntur atau petir.
       Untungnya Aldian dengan cepat bisa merubah suasana, sebuah topik yang di angkat ten-tang kemampuan menyetir Satria segera mengalihkan pikiran Istrinya dari kesedihan menda-lam. Lagi. Setelah itu Aldian pamit sebentar untuk mandi dan bebersih diri sementara Soraya masih menemani Satria.
        “ Ngomong-ngomong Mas Satria tinggalnya di mana? Sama siapa?” tanya Soraya kembali ceria. Menyodorkan secangkir teh melati tubruk hangat yang diseduhnya sendiri.
        Satria membeku beberapa saat. Ini dia bagian tersulit sekaligus ketakutan Satria. Tidak semua orang bisa menerima anaknya berteman dengan yatim piatu dan tinggal di Panti Asuhan, apalagi keluarga selevel Gunantara. Namun Satria menguatkan tekadnya untuk mengatakan
kejujuran.
        “ Saya dari kecil yatim piatu Tante Raya. Saya di adopsi oleh pemilik yayasan Panti Asuhan Teratai Ibu di daerah Surabaya Pusat” jawab Satria apa adanya. Wajahnya seketika berubah menjadi sendu, dan matanya lesu. “ Saya sendiri kurang tahu kisah masa lalu saya, yang jelas seseorang menyerahkan saya kepada salah satu perawat di Panti Tersebut dan kini menjadi Ibu angkat saya. Nirma Wibisono. Nama belakang saya juga dari beliau”
         Satria menundukkan kepala, menunggu reaksi mengerikan yang bakal di terimanya. Namun di luar dugaannya, Soraya justru menjulurkan tangannya. Iris gelapnya berkabut oleh air mata. Wanita itu berkata. “ Jangan cemas ya sayang, mulai sekarang anggap saja kami keluar-gamu sendiri. Tante tak keberatan sama sekali kalau harus menjadi Mamamu”
       Kehangatan luar biasa melelehkan Satria. Di mulai dari mata, tubuh, isi organ dalam badannya hingga hati. Sebuah kekuatan serta perasaan sayang yang takkan pernah mampu Satria jabarkan membanjiri seluruh dirinya. Detik itu juga akhirnya, secara ajaib, Satria merasakan apa itu arti kata cinta seorang Ibu.
        Ya, Satria memang mendapatkan hal serupa dari para pengasuhnya di Panti, namun rasanya tetap saja berbeda. Seperti…entah kenapa Satria seolah-olah sudah jatuh cinta dan menyayangi Soraya, bahkan Aldian jauh sebelum mereka bertemu. Bagi Satria semua seperti Dejavu. Perasaan ini sama persis ketika dia memutuskan, menyatakan perasaannya pada Feli 2 tahun silam.
         Soraya berpindah duduknya ke samping kanan Satria, menggenggam erat tangan besar anak muda itu. Dan Satria membalas melakukan hal yang sama. Selama beberapa saat mereka hanya saling pandang, tidak mengeluarkan sepatah pun kata. Tapi mata, telah mengatakan segalanya.
        Kehadiran Aldian mengejutkan keduanya. Soraya buru-buru mengelap air matanya, Satria cemas kalau Ayah Feli bakal salah paham. Tapi nyatanya tidak, lelaki itu justru memberikan senyum penuh dukungan pada Satria. Kegembiraan Satria saat ini sungguh sulit dijabarkan.
        “ Ah, kamu sudah datang rupanya. Pantesan kok aku kayak denger suara kamu. Tapi kayaknya sudah akrab banget sama Ayah Bunda, bikin iri ajaa” celetuk Feli manja, sambil memonyongkan bibirnya.Satria, Soraya, dan Aldian tertawa bersamaan.
        Princess, makanannya sudah jadi belum? Papa laper nih…” kata Aldian seraya menepuk-nepuk perutnya.
       “ Idiihhh Ayah rakuss. Udah tuh di ruang makan. Ayo ke sana semua” Feli beranjak ke hadapan Satria, menarik lengan pemuda itu dan membawanya menuju ruang makan di ikuti
kedua Orang Tuanya di belakangnya.
        “ Taraaaaaaaaa…..Tahu, tempe, ayam bacem. Orak-arik telur. Plus sayur asem ala Chef Felishia!”
        “ Nah, Fel. Ngomong-ngomong sayur asemnya mana yah?” tanya Satria kebingungan. Meneliti satu persatu menu yang ada di atas meja marmer onyx mewah tersebut.
        “ Oh iya lupa, masih di dapur. Sebentar ya semua” Feli meringis lalu bergegas melesat ke dapur.
        Satria hanya bisa tertawa melihat kelakuan polos Feli yang dari dulu tak berubah. Namun baru beberapa menit Satria mendengarkan jeritan Feli. Segera saja ketiga orang di dalam ruang makan melesat menuju dapur.
       “ Ada apa Feli sayang?” tanya Aldi tergopoh-gopoh datang.
       “ Berat banget Ayah….” tukas Feli terengah-engah.
       Satria melihat tubuh mungil Feli kewalahan mengangkat sepanci besar berisi sayur asem. Menyeringai geli, Satria buru-buru melesat untuk membantu kekasihnya.
       “ Sini biar aku sa….”
        Byurrr…
       “ Ouchhh….”
       “ Satriaa!....”
       Bahu kanan hingga dada Satria tanpa sengaja terkena tumpahan sayur asem yang masih panas. Rupanya Feli sudah tidak kuat lagi mengangkat panci berat di tangannya.
        Satria jatuh ke atas lantai, memegangi bahunya. Feli masih berdiri di tempatnya, campuran shock dan merasa bersalah. Dan yang bergerak pertama kali justru Soraya. Tanpa banyak bicara wanita itu melepaskan paksa baju atasan Satria dan memapah pemuda itu menuju kamar mandi terdekat. Dengan cekatan Soraya menyiramkan air dingin ke atas bekas tumpahan sayur.
        “ Papa tolong ambilkan handuk, Feli ambilkan es batu. Cepat!” perintah Soraya.
       Kedua orang tersebut segera melakukan yang diperintahkan oleh Nyonya rumah. Aldi datang lebih dulu dengan handuk di tangan, Soraya segera mengeringkan tubuh Satria dan meminta Suaminya mengambilkan salep antiseptic. Sementara itu Soraya memapah Satria kembali duduk di sofa ruang keluarga.
        “ Tenang saja, lukamu takkan parah kok” bisik Soraya lembut.
        Satria sendiri sebenarnya masih bingung. Campuran kaget terkena tumpahan masakan panas dengan keterkejutan akibat perhatian yang begitu besar dari Orang Tua kekasihnya. Pemuda itu hanya bisa mengangguk dan memasrahkan diri pada Soraya.
         Aldi datang sangat cepat, membawa salep yang diminta Istrinya. Namun tepat saat Soraya masih terfokus mengeringkan bahu Satria, sesuatu terjadi.
         “ Tanda ini! bagaimana kamu bisa mendapatkan tanda lahir ini?!”teriak Soraya. Tanpa sadar menekan punggung kanan Satria.
        Pemuda itu tahu betul apa yang di maksud Soraya. “ Maksud Tante tanda berbentuk hati separuh di punggung kanan saya. Itu memang tanda lahir saya sejak dulu. Apa ada masalah?”
        Satria memandangi Soraya dari balik bahunya, terkejut ketika mendapati wanita itu sudah menangis. Tubuh Soraya bergetar hebat. Segera saja Aldi berputar untuk melihat apa yang baru saja di maksudkan oleh Istrinya.
        “ Mustahil…ini tidak mungkin. Hanya dua orang yang kami kenal memiliki tanda lahir seperti itu….” Bisik Aldi. Suaranya parau. Gemetar.
        Satria akhirnya memaksakan diri berdiri. Menatap bingung kedua orang di hadapannya. Sesuatu dalam kepala Satria menyalakan alarm tanda bahaya.
       “ Apa maksud Om dan Tante sebenarnya?” suara Satria tanpa bisa dicegah meninggi.
       Soraya berdiri, matanya memerah karena menangis. Bibir bawahnya digigit keras-keras. Dengan rahang terkatup, Soraya berkata.
       “ Aku berani yakin dengan seluruh diriku, di dunia ini hanya ada dua orang yang kukenal memiliki tanda lahir hati separuh di punggung kanan mereka, dan bila didekatkan akan membentuk gambar hati secara utuh. Mereka adalah Saga Gunantara dan Felishia Gunantara, Nak. Sepasang anak kembarku…..”
        Prankkk!!....
       Es batu beserta baskom yang dipegang oleh Feli meluncur begitu saja, jatuh ke atas lantai. Gadis itu baru datang dan tanpa sengaja mendengarkan ucapan Ibunya barusan.
        “ Apa maksud Bunda?” tanya Feli. Menatap nanar Ibunya.
        “ Nak…” Aldi mulai, berjalan mendekat dan mencoba meraih lengan Satria yang kini terkulai lemas di samping tubuhnya. “ Kamu adalah putra kami sayang…..putra kami yang hilang dan sudah di sangka meninggal dalam kecelakaan maut 15 tahun lalu. Kamu adalah Saga Gunantara. Kakak kembar Felishia…
*******************
         Felishia tidak ingin mempercayainya, semuanya bagai mimpi buruk, namun itulah faktanya.
       Setelah penemuan mengejutkan tentang tanda lahir di punggung Satria, kekasih Feli oleh kedua Orang Tuanya. Mereka semua segera menuju Panti Asuhan tempat Satria belasan tahun di besarkan. Melalui keterangan Ketua Panti yang baru, Nirma Wibisono. Satria memang ditemu-kan oleh penduduk Sidoarjo setempat di hari naas kecelakaan mobil maut terjadi, 15 tahun lalu. Rupanya Satria alias Saga Gunantara tidak pernah mati terpanggang di dalam mobil sedan tersebut, melainkan terpental jauh dan jatuh pingsan di sekitaran semak-semak.
        Tidak ada yang mencurigai atau pun membuat asumsi jika Satria kemungkinan besar salah satu korban kecelakaan. Itulah sebabnya warga yang baik segera mengirimkan Satria ke Panti Asuhan yang dikenalnya, yaitu Teratai Ibu. Menurut Ibu Nirma juga, Satria alias Saga hilang ingatan. Pukulan pada otaknya mengakibatkan trauma yang menutupi seluruh memorinya. Akhirnya Ibu Nirma memutuskan memberikan nama baru yaitu Satria Wibisono, kemudian membesarkan dan melimpahi anak itu dengan cinta dan kasih sayang layaknya anak kecil normal lainnya.
         Soraya hanya bisa menangis sesenggukan. Aldian tak hentinya mengucapkan terima kasih pada Ibu Nirma. Ibu Nirma sendiri sama-sama mengeluarkan air mata. Satria alias Saga tampak kesulitan bicara. Namun hanya Felishia yang merasakan sakit hati.
        Drama terjadi ketika Felishia membanting kursi dan kabur dari Panti, mengakibatkan kehebohan. Untungnya Satria berhasil mengejarnya, namun kemarahan dan ketidak adilan yang Feli rasakan membuatnya mendorong pemuda itu menjauh darinya.
        “ Pergi! Sana kembali ke Orang Tuamu!” teriak Feli, sarat akan kepedihan.
        “ Feli jangan begini sayang”
        “ Jangan pernah memanggilku begitu lagi. Kamu ini Kakakku demi Tuhan. Kita sedarah dan kita pernah berciuman?!” Feli dibanjiri rasa dosa seketika.
        “ Saat itu kita sama-sama tidak tahu dan….”
        “ CUKUP! Semuanya sudah jelas Satria, atau perlu kupanggil Kak Saga. Akhir dari hubungan kita sudah jelas. Aku takkan pernah bisa memilikimu seperti yang kita harapkan sebelumnya, dan itu amat menyakitkan…”
          “ Aku tahu Feli, apa kamu pikir semua ini tidak menyakitkan buatku!” emosi Satria meledak di udara, tangisnya ikut pecah. Telunjuknya menuding dirinya sendiri.
         Feli menggelengkan kepalanya. Terisak. Lalu menghela nafas berat. “ Sekarang semua sudah jelas. Alasan ketertarikanku yang tidak masuk akal kepada dirimu sejak kali pertama kita bertemu, atau sebaliknya. Aku merasa seperti sudah jatuh cinta sangat lama dan mengenalmu jauh sebelum pertemuan pertama kita. Aku merasa kamulah takdirku. Aku merasa itulah yang dinamakan benang takdir. Tapi aku salah besar. Kamu hanyalah bagian dari permainan hidup rancangan Tuhan untukku”
       Satria maju hingga jarak tiada lagi di antara mereka. Jemarinya meraih dagu Feli dengan lembut, membawa dahinya begitu dekat lalu mengecup di sana dalam dan lama. Cukup lama hingga keduanya bisa mendengarkan dentuman jantung masing-masing yang seperti kuda liar berpacu di arena.
        “ Aku sangat amat mencintaimu Felishia Gunantara. Tapi kini dengan cara yang berbeda, maafkan aku sayang” kata Satria dengan suara tersendat.
        Tangis Feli semakin pecah. “ Aku juga….sangat mencintaimu Sat….maksudku Saga…” Feli memundurkan tubuhnya, berjalan beberapa langkah ke belakang dengan dagu tetap terangkat dan mata masih menatap intens ke kedalaman sepasang iris hitam legam Satria.
        “ Jangan mencariku lagi setelah ini, aku butuh sendiri. Dan…selamat tinggal…”
        Usai berkata begitu, Feli membalikkan tubuhnya dengan cara sangat dramatis lalu berlari secepat dia bisa. Didengarnya sayup-sayup teriakan memanggil-manggil namanya dari belakang. Bukan hanya Satria, namun juga suara memelas kedua Orang Tuanya.
        Tapi Feli tak bisa menoleh dan berbalik lagi. Karena saat ini yang Feli butuhkan adalah waktu.
*******************
Nusa Dua, 4 tahun kemudian.
            There's just no rhyme or reason .Only the sense of completion.
And in your eyes, I see the missing pieces.
I'm searching for I think I've found my way home.
I know that it might sound more than a little crazy but I believe...

            Wanita itu berjalan di hadapan altar. Tampak luar biasa cantik dan mempesona di dalam balutan gaun pengantin abu-abu gading vintage berlengan pendek, berenda-renda dengan pita dan bunga-bunga mawar merah menghiasi sekeliling pinggangnya, gaunnya yang terjatuh pas di tubuhnya hanya mencapai sebatas betis.
       Rambut wanita itu hanya di ikal alami begitu saja dan dibiarkan terurai, tudung menutupi wajah dan kepalanya, hiasan bunga mawar merah dipadu aster ungu menjadi mahkota di puncak kepala tudungnya.
        Dialah Felishia Gunantara. Wanita yang paling dicintai Satria alias Saga Gunantara, kedua, setelah Ibu kandungnya, Soraya. Wanita yang pernah membuat Satria rela menyerahkan seluruh hatinya. Wanita yang telah menghancurkan hatinya sebagai kekasih, namun akhirnya mengobatinya dengan menjadi adik paling berharga.
        Feli akhirnya tumbuh dewasa, kuat dan tegar dari sosok gadis menjadi wanita hebat nan tangguh.
        Keputusan Feli untuk bersemedi sesudah segala drama terbongkarnya identitas masa lalu Satria, dengan pergi ke New York ternyata memang tepat. Dua tahun kemudian setelah wanita itu kembali, segala sesuatunya menjadi lebih baik. Rasa sakit itu memang masih terpancar di kedua bola mata cantik Feli setiap kali Satria melihatnya, dan begitu juga sebaliknya.
     Namun  waktu perlahan menghilangkannya. Waktu menghapus semua duka. Dan waktu juga secara ajaib mengubah kebencian dan ketakutan menjadi cinta lebih murni serta tulus.
       Satria bukanlah Rangga, dan Feli apalagi dia bukanlah Cinta. Namun Satria percaya, kehadiran lagi Feli dalam hidupnya adalah murni sebagai adiknya semata.
      Feli bekerja bersamanya mengelola perusahaan keluarga. Ayahnya memutuskan akan segera melepaskan semua beban di hari setelah beliau melihat putrinya dipinang orang. Dan itu adalah sekarang.
       Feli berhasil menemukan tambatan hatinya di New York, mantan kekasih yang tak sengaja bertemu karena hujan dan terjebak kemacetan di dalam sebuah kafe kopi. Betrand namanya, adalah pria tampan peranakan Chicago dengan Sunda. Betrand mengajarkan Feli hal-hal baru seperti keterbukaan dan keberanian menghadapi luka. Dan di hari kepulangannya ke Indonesia bersama Feli, Betrand tanpa ragu langsung meminang wanita itu. Mengikat adiknya dalam ikatan pertunangan.
       Satria dengan tulus mengucapkan selamat serta merasakan kebahagiaan luar biasa untuk adiknya. Terlebih dari itu, dia sendiri sudah menemukan jalannya.
        Wanita cantik nan sederhana di sampingnya, yang kini tengah menggengam erat telapak tangannya hingga berkeringat.Seorang keturunan suku jawa asli, berwajah manis bagaikan gula jawa yang membuat ketagihan bila digigit. Dian Kesuma Astuti namanya. Salah satu head manager  di kantor pusat di Surabaya. Pegawai langsung di bawah Satria.
       Wanita itu jelas sudah menaruh hati pada Satria di hari pertama pria itu mengambil tanggung jawab sebagai Direktur Pemasaran di kantor pusat. Namun, baru setahun lalu Satria secara berani membuka hati dan memberikan cintanya kepada Dian untuk dijaga serta dilindungi. Sama seperti yang Satria lakukan kepada perempuan cantik itu.
        Walaupun untuk saat ini Satria mengaku pada Dian, jika posisinya masih berada di bawah kecintaannya pada Ibu dan Adik perempuannya, namun bukan masalah bagi Dian. Karena yang terpenting dialah penggengam hati seorang Satria Saga Gunantara saat ini dan selamanya.
         Prosesi utama mulai berlangsung. Pendeta mengucapkan janji, mempelai saling berhadapan mengatakan sumpah pernikahan dan puisi mereka. Penukaran cincin terjadi. Pengesahan di laksanakan dengan seluruh saksi berdiri, turut mengucapkan janji dan di akhiri tepuk tangan membahana.
          Feli mendapatkan dan memberikan ciuman mesra kepada lelaki yang kini sah menjadi Suaminya, setelah tudungnya di buka. Sesudah itu Feli memutar badan dan berlari ke arah keluarganya. Memeluk Ibunya yang menangis tak kurang dari berliter-liter ember sejak semalam. Serta tangis bahagia penuh kebanggaan sang Ayah.
         Ketika tiba giliran Satria, Feli tak kuasa lagi membendung isakannya hingga pecah. Satria meraih tubuh mungil adik kembarnya, memeluknya erat-erat dan mengucapkan sebuah kalimat yang akan digunakan Feli sepanjang sisa usianya dan di sampaikan kepada seluruh generasi keturunannya.
            Cinta itu nyata, ada, dan bisa kau rasa. Cinta tak perlu kau cari, namun kau pahami. Cinta berada tepat di depan dirimu, mengetuk pintu hatimu sejak dulu tapi sering kau mengabaikannya. Cinta sejati bukan ego namun komitmen serta kekuatan ketulusan dan kebenaran yang mendasarinya. Dan paling penting adalah. Hatimu akan selalu tahu, kepada siapa cintamu berada, jauh sebelum kau melihat dan membukanya”

I knew I loved you before I met you. I think I dreamed you into life
I knew I loved you before I met you. I have been waiting all my life


A thousand angels dance around you I am complete now that I've found you
I knew I loved you before I met you I have been waiting all my life…. 

CERMIN LAIN 

No comments:

Post a Comment

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.