"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Saturday, November 29, 2014

CERMIN - Mimpi Kanaya oleh Yunita Azifa Savitri



MIMPI KANAYA
Written by +Yunita Azifa Savitri  

Aku mengerjapkan mataku, berusaha untuk melihat diantara kegelapan malam ini. Sesosok wanita menatapku dengan tersenyum, seolah merasa begitu bahagia melihatku.
Tatapan lembutnya membuat hatiku terselubungi kehangatan. Rasanya, seperti aku sudah mengenalnya begitu lama. Dia mengulurkan tangannya padaku, memintaku untuk mendekat padanya. Tanpa ragu-ragu, setengah berlari aku menghampirinya.
Kegelapan itu datang lagi, memisahkan kami. Aku berteriak-teriak penuh frustasi, memanggil-manggilnya. Namun, dia tidak terlihat lagi.

-**-
Aku terengah-engah, mimpi itu terasa begitu nyata. Kuseka keringat diwajahku. Aku kebingungan, siapa wanita yang ada dalam mimpiku. Aku merasa seperti begitu mengenalnya, seolah dia selalu ada dalam hatiku.
Seolah-olah aku begitu mencintainya, menyayanginya dengan segenap hatiku. Namun, bagaimana hal itu mungkin terjadi. Aku bahkan tidak mengenalnya.
-**-
“Kanaya..”
Aku menggigit bibirku untuk menahan seringai konyolku. Aku berbalik dan menatap orang yang memanggilku tadi.
“Angga, ada apa?”
“Emm, hari ini kamu juga dijemput?”
Kuanggukkan kepala, ”Ya sama seperti hari-hari biasanya.”
“Ya sudah kalau begitu, aku pulang duluan, Nay.”
Aku tersenyum padanya. Andai saja dia tahu, percakapan satu menit kami ini membuat jantungku bertalu-talu lebih cepat dari biasanya.
“Udah Nay, jangan senyum-senyum gitu. Nanti orang-orang pada salah ngira kamu naksir Angga. Mau dikemanain tuh Kak Tera??”
Aku memutar mataku, Lina, sahabatku ini memang paling pintar merusak suasana. Kucepatkan langkahku menuju gerbang sekolahku. Biasanya mama sudah menungguku didepan gerbang.
“Nay, tungguin dong, jangan cepet-cepet jalannya,” pinta Lina.
“Makanya nggak usah ngomong yang aneh-aneh, Lin. Aku ngobrol sama Angga sebentar kok, kamu nyangkut-nyangkutin sama Kak Tera,” gerutuku.
“Iye Nay. Maaf deh. Abisnya aku heran deh Nay, Kak Tera itu lagi ngejar-ngejar kamu kayak gitu, tapi kamu cuek aja. Aku malah ngerasa kamu ada rasa lebih ke Angga kan?? Hayo ngaku!!!” Lina tertawa terbahak-bahak. Sepertinya dia begitu puas melihat wajahku memerah bak kepiting rebus karena godaannya.
“Eh beneran kamu suka sama Angga, Nay??” tanyanya lagi.
“Lina!! Udah ah, aku pulang aja daripada kamu godain aku terus.”
Sebagai murid kelas dua SMA, mungkin aku satu-satunya gadis yang belum pernah berpacaran sama sekali. Hal-hal yang menyangkut perasaan seperti ini membuatku malu. Aku tidak terbiasa membuka hatiku pada siapapun. Terkecuali pada kedua orangtuaku. Aku selalu menceritakan apapun yang kurasakan maupun yang kualami.
Aku masuk kedalam mobil dan mama menyambutku dengan pelukan singkat. Memang, kedua orangtuaku termasuk orangtua yang sedikit kolot bila menyangkut soal aku. Mungkin itu disebabkan karena aku adalah anak satu-satunya. Beberapa kali mama mengalami keguguran.
Setiap hari mereka selalu meluangkan waktu untuk mengantar jemputku di sekolah. Bahkan merekalah yang boleh mengantar kemanapun aku pergi. Sepertinya itulah yang membuat teman-temanku seringkali mengejekku sebagai anak manja. Namun, aku tidak pernah ambil pusing. Aku selalu nyaman-nyaman saja dengan semua perlakuan kedua orangtuaku.
Pernah ada beberapa laki-laki yang mencoba dekat denganku. Menyadari mereka tidak bisa mengantarku pulang, mereka mencoba menggunakan cara yang lain. Main ke rumah. Namun, sekali lagi, tidak ada dari mereka yang berhasil. Ayah dan mama, dengan alasan ingin mengobrol dengan temanku, mereka selalu ikut menemui temanku. Hingga akhirnya mereka berhenti untuk mencoba mendekatiku.
Ayah dan mama selalu mengatakan, lelaki yang baik pasti akan bisa mengakrabkan diri dengan keluarga wanita yang mereka cintai. Bila suatu saat lelaki seperti itu muncul, maka mereka baru akan memberikan kepercayaan padanya.
Kak Tera sudah lebih dari dua kali datang ke rumah. Sepertinya saat ini dia masih bertahan, hanya saja, aku tidak memiliki perasaan lebih padanya. Ada orang lain yang sudah memiliki hatiku.
Aku kembali tersenyum konyol ketika mengingat obrolan singkat dengan Angga.
Aku tidak tahu apa yang membuatku jatuh cinta padanya. Ketika kelas satu, hampir setahun aku duduk semeja dengannya. Seringkali kami berbagi canda, berbagi cerita dan juga berbagi ilmu. Kami memiliki banyak kesamaan. Salah satunya kami sangat mencintai buku sampai-sampai kami dijuluki kutu buku kembar. Kami sering menukar koleksi bacaan kami, membahas setiap buku bacaan kami hingga bahkan tidak jarang kami bertengkar karena itu.
Mungkin kebiasaan itu yang membuatku merindukan saat-saat itu. Kami berada di kelas yang berbeda di kelas dua. Sangat sulit mencari kesempatan untuk mengobrol seperti dulu lagi. Maka dari itu, obrolan singkat kami tadi mampu menyinari hariku.
“Kenapa Nay, dari tadi senyum-senyum sendiri?”
Aku tertawa malu. “Nggak apa-apa, ma.”
“Angga, ya?”
Rasa maluku semakin bertambah ketika mama bisa menebak dengan tepat.
“Kok dia belum pernah main ke rumah, Nay?”
Aku memutar mataku. “Buat apa ma? Sekarang ngobrol aja jarang, masak tahu-tahu dia main ke rumah.”
“Mama penasaran deh sama dia sebagai satu-satunya cowok yang bisa ngebuat anak mama senyum-senyum gini.”
“Mama!!!” pekikku.
Mama terkekeh melihat sikapku yang memalukan ini.
-**-
Aku menutup buku yang sudah selesai kubaca. Kulirik jam dinding kamarku, pantas saja aku sudah mengantuk. Rupanya sekarang sudah cukup malam.
Pikiranku kembali melayang pada mimpiku kemarin malam. Aku benar-benar tidak ada ide siapa wanita itu dan kenapa dia ada dalam mimpiku. Rasa kehilangan besar kembali terasa direlung hatiku ketika aku tidak menemukan jawaban semua pertanyaanku. Aku merasakan bahwa wanita itu adalah seseorang yang sangat penting bagiku.
-**-
Aku berusaha keras menggapai udara. Nafasku begitu sesak, sesuatu menutupi wajahku. Menghalangiku mendapatkan pasokan oksigen. Aku mencoba untuk berteriak, tetap tidak sedikit pun suaraku terdengar. Senandung nina bobo terdengar cukup nyaring ditelingaku. Aku merasakan jiwaku mulai melayang pergi meninggalkan jasadku.
Seseorang berteriak cukup keras, memanggil namaku. Namun, kesadaranku pun mulai menghilang.
-**-
Seseorang memanggil namaku cukup keras. Aku membuka mataku. Nafasku terengah-engah. Aku mencengkeram selimutku. Mimpi itu kali ini begitu menakutkanku. Perlahan aku mulai menyadari bahwa aku sudah tidak lagi berada dalam alam mimpi. Mama dan ayah sudah berada di kamarku. Mama memelukku, berusaha menenangkanku.
“Sayang, Nayla. Itu cuma mimpi. Tenangkan dirimu.”
Nafasku mulai teratur. Dalam pelukan mama adalah tempat teramanku. Tidak ada orang yang akan menyakitiku bila aku berada disini.
“Nay, tadi kamu mimpi apa?” Ayah bertanya padaku.
Aku menggelengkan kepala. Mimpi ini terlalu menakutkan untuk kembali kuceritakan.
Mama menyodorkan gelas untukku. Dalam beberapa tegukan, air didalam gelas itu sudah habis kuminum.
Kukuatkan diriku. Mimpi ini memang menakutkan, tetapi aku merasa mimpi ini berkaitan dengan mimpiku sebelumnya. Dan juga kurasa, aku harus bisa mengingat wanita itu. Hatiku menyatakan betapa aku merindukannya.
“Yah, ini adalah mimpi kedua yang kualami dalam dua malam berturut-turut. Kurasa kedua mimpi ini saling berhubungan,” ucapku.
Dengan tersendat-sendat, cerita tentang mimpi itu mengalir dari bibirku. Aku merasa bingung mendapati ayah dan mama memandang dengan raut wajah yang tak pernah kulihat sebelumnya.
“Apakah ayah dan mama mengenal siapa wanita itu?”
“Tidak,” pekik mama lantang.
“Tidak sayang, mama tidak mengenalnya. Itu hanyalah bunga tidurmu saja. Jangan terlalu kamu pikirkan.”
“Tapi, ma..”
“Kanaya, cobalah untuk tidur lagi, ini sudah malam. Ayah dan mama akan menemanimu disini,” potong mama.
Aku menganggukkan kepala walaupun aku tidak yakin bisa kembali tidur. Setidaknya aku ingin menenangkan mama.
Mama memelukku sepanjang malam membuatku teringat kenanganku kecil. Mama seringkali menemaniku dikamar, menyenandungkan lagu nina bobo ataupun membacakan buku dongeng.
Mataku sudah hampir terpejam ketika mendengar ayah berbisik pada mama.
“Ma, Kanaya pasti akan mencari tahu siapa wanita itu. Dia pasti tidak tenang sebelum mengetahui siapa dia. Mungkin sudah saatnya dia tahu.”
“Ayah, kita hanya ingin melindunginya seperti janji kita dulu.”
Sudah kuduga pasti ayah dan mama mengetahui sesuatu yang terkait dengan mimpiku. Kubuka telingaku lebar-lebar. Namun sepertinya ayah dan mama sama-sama sudah memutuskan untuk tidak membahas hal itu lagi.
-**-
Beberapa kali guru menegurku karena aku banyak melamun, sesuatu yang tidak pernah kulakukan dalam kelas. Namun, aku begitu memikirkan mimpi-mimpi itu. Aku merasa sangat tidak tenang selama belum memahami arti dibalik mimpi itu.
Aku bahkan tidak berselera untuk ke kantin ketika jam istirahat tiba. Semakin lama aku berpikir, kepalaku semakin pusing. Tidak ada apapun yang bisa membuka pikiranku.
Aku terperangah ketika mendapati kursi depanku berderit. “Hayo, ngelamunin apa, Nay.”
“Angga??”
Angga hanya tersenyum tak berkata apa-apa.
“Ngapain kamu ada disini?”
Angga menggaruk-garuk kepalanya. “Err, aku...ya tadi nyariin kamu di kantin, tapi kata Lina kamu ada di kelas.”
“Oooh,” jawabku singkat.
“Nay, ada sesuatu yang bisa kamu bagi ke aku?”
Aku terdiam, kutatap matanya dalam-dalam dan kutemukan ketulusan yang dulu selalu kulihat setiap aku bercerita dengannya. Aku meragu, ini adalah sesuatu yang rumit dan terasa sangat pribadi bagiku. Aku tidak terbiasa membagikan cerita pribadiku ke orang lain selain kedua orangtuaku. Namun, kali ini aku harus membaginya dengan orang lain sebelum kepalaku pecah. Hal yang semakin diperumit dengan kediaman ayah dan mama.
“Ngga, kamu percaya bahwa mimpi terkadang mengandung sesuatu yang belum kamu ketahui dalam dunia nyata?”
“Maksudmu seperti de javu?”
“Ya, hampir seperti itu. Entahlah, aku juga bingung.”
“Ceritakanlah padaku secara lengkap, Nay. Kamu sudah tahu bahwa aku memahami semua kerumitan pola pikirmu, kan.”
Aku tertawa pelan mendengar ucapannya. Dulu memang dia sering mengataiku sebagai orang dengan pola pikir terumit.
Kutarik nafas dalam-dalam, “suatu malam aku memimpikan seorang wanita asing, Ngga. Namun hatiku menyatakan wanita itu bukanlah orang asing bagiku. Besok malamnya, aku bermimpi sesuatu yang sangat berbeda dan juga begitu menakutkan.”
“Menakutkan seperti apa, Nay?”
“Aku bermimpi wanita itu seperti ingin menghabisi nyawaku. Namun, aku semakin merasa bahwa aku sangat mencintai wanita itu, menyayanginya setulus hatiku.”
“Kamu sudah menanyakannya pada orangtuamu?”
Aku menganggukkan kepala. “Sudah, Ngga. Aku merasa mama dan ayah mengetahui sesuatu, tetapi mereka tidak mau mengatakan apa-apa padaku.”
“Nay, ada waktu dimana kebenaran akan terbuka bagi kita. Bersabarlah hingga waktu itu tiba.”
“Tapi, Ngga. Aku tidak bisa tenang sebelum aku memahami semuanya.”
“Kanaya.” Angga menyentuh tanganku ragu-ragu.
“Orangtuamu pun pasti memiliki alasan. Cobalah untuk mengalihkan fokus pikiranmu pada hal yang lain sembari kebenaran itu perlahan terbuka. Apapun yang nantinya akan terbuka, aku akan selalu berada didekatmu untuk mendukungmu, Nay.”
“Terima kasih, Angga.” Semua ucapannya membuatku lebih tenang.
-**-
Aku mengerutkan kening ketika mendapati ayah yang menjemputku.
“Ayah, kok tumben?” tanyaku.
“Iya, sayang. Kebetulan ayah sedang tidak terlalu sibuk jadi ayah bisa menjemputmu.”
Aku tahu, tanpa ayah katakan pun, sikap ayah ini ada hubungannya dengan mimpiku.
“Ngomong-ngomong ayah ingin membawamu ke suatu tempat. Mama sudah menunggu kita disana.”
“Kemana, Yah?”
“Ayah dan mama akan menjelaskan semuanya disana, Naya.”
Aku terdiam. Jantungku berdebar-debar sangat kencang, sepertinya inilah waktunya.
Aku semakin kebingungan ketika melihat ayah membawaku ke sebuah rumah sakit jiwa.
“Ayah??”
“Ayo, kita turun, Naya. Mama menunggu kita didalam.”
Ragu-ragu aku turun dari mobil. Ayah mengulurkan tangannya. Dalam genggaman tangan ayah, aku berjalan memasuki rumah sakit itu. Ayah membawaku ke sebuah ruangan. Aku semakin bingung mendapati mama sudah menungguku dengan seorang wanita yang berpakaian seperti dokter.
“Selamat siang, Kanaya. Kamu sudah besar rupanya. Sudah menjadi wanita cantik.”
Aku menatap mama dengan kebingungan.
“Ah, maaf saya lupa memperkenalkan diri. Pasti kamu tidak mengingat saya. Saya dokter Manda. Psikiater disini.” Dokter Manda mengulurkan tangan padaku.
Ku jabat tangannya. “Maaf dokter, saya merasa bingung. Saya benar-benar tidak mengenali anda.”
“Ma,” panggilku.
Mama mendekatiku. “Sayang, ada sesuatu yang ingin kami semua ceritakan. Ini semua berkaitan dengan mimpimu.”
Aku mengerjapkan mata. Jadi benar orangtuaku mengetahui sesuatu.
“Kanaya, disini saya ingin bercerita padamu, ”ucap dokter Manda.
Aku tetap membisu menunggu seseorang segera mengatakan sesuatu.
“Beberapa tahun lalu saya memiliki seorang pasien. Dia baru berusia lima belas tahun ketika keluarganya membawanya pada saya. Saat itu kondisinya tidak baik. Dia sedang hamil dalam kondisi kejiwaan yang tidak stabil. Dia memiliki suatu trauma yang sangat buruk yang membuat kondisinya seperti itu.” Dokter Manda menghela nafas panjang. “Dia diperkosa.”
Aku terperanjat mendengar cerita dokter Manda. Betapa kejamnya laki-laki itu sudah memperkosa gadis yang masih sangat muda seperti itu.
“Sesekali ketika sadar, dia mengatakan betapa dia sangat mencintai bayi yang ada dalam kandungannya. Namun ketika emosinya memuncak, dia mencoba untuk membunuh janin itu. Hingga akhirnya dia melahirkan putrinya. Perjuangan yang sangat luar biasa bagi gadis semuda itu. Sejak dia melahirkan, kami tidak pernah memberinya kesempatan untuk bertemu dengan putrinya. Kami tidak berani memberikan resiko pada bayi itu bila sewaktu-waktu dia lepas kendali.”
Sebuah kenyataan perlahan mulai menyingkap tabir kegelapan yang kurasakan. Perlahan aku mulai memahami maksud cerita dokter Manda.
“Siapa wanita itu, Dokter?” Dengan suara bergetar, aku memberanikan diri untuk bertanya.
“Bayi perempuan itu adalah kamu, Kanaya. Wanita itu adalah mamamu.”
Nafasku tercekat. “Mama, apa maksudnya?”
Mama memelukku begitu erat. “Ma??” tanyaku lagi.
Mama melepaskan pelukannya dan berjongkok didepanku. Dengan menggenggam tanganku mama mulai mencoba untuk berbicara.
“Kanaya sayang. Wanita itu adalah adikku, Nina. Wanita yang kamu lihat dalam mimpimu adalah dia. Dia..dia wanita yang melahirkanmu. Namun selamanya, kamu adalah putriku,” isak mama.
Aku menatap mama tak percaya. Kebohongan apa ini. Bagaimana mungkin aku bukan anak kandung mereka???!!
“Maafkan mama sayang. Sebenarnya kami tidak ingin mengatakannya padamu. Tapi, mimpi-mimpi itu mulai datang menghampirimu. Kami merasa mungkin sudah waktunya bagimu untuk mengetahui semuanya.”
“Tidak..tidak, ma. Aku akan selalu mencari tahu jawaban dari semua mimpi itu. Bila mama tidak segera memberitahuku, akan jauh lebih menyakitkan bila aku mengetahuinya bukan dari kalian. Terima kasih mama sudah mau mengatakannya padaku.”
Hatiku begitu hancur berkeping-keping. Kenyataan ini menghantam dunia indahku. Aku menangis tersedu-sedu. Kutarik nafas dalam-dalam, mencoba untuk berpikir jernih.
“Lalu dimana sekarang mama kandungku, dokter?”
Dokter Manda menatap ayah dan mama bergantian. “Dia ada di rumah sakit ini, Kanaya.”
“Aku ingin bertemu dengannya,” putusku.
“Jangan memaksakan diri, Kanaya. Kamu baru saja mendapatkan kenyataan baru dalam hidupmu.”
“Dokter, aku ingin menemuinya. Sejak mimpi itu, hatiku mengatakan bahwa aku sangat menyayangi wanita itu.”
Dokter Manda terdiam sejenak, alisnya menaut menandakan ia sedang mengambil keputusan.
“Baiklah, Kanaya. Aku akan mengantarmu bertemu Nina.”
Rumah sakit ini terasa begitu sunyi, hanyalah suara sepatu yang beradu dengan lantai yang terdengar. Walaupun menyakitkan, tetapi sepertinya aku mulai bisa menerima kenyataan. Setidaknya aku jauh lebih beruntung daripada anak-anak lain yang tidak memiliki ibu. Aku bahkan memiliki dua orang ibu.
Berjalan dalam lorong ini menimbulkan suatu rasa yang sangat familiar, seolah dulu aku pernah berada disini. Gelombang kerinduan tiba-tiba menyergapku. Mama, mungkin aku belum pernah bertemu denganmu, mengingat wajahmu pun aku tidak bisa. Namun, aku sangat yakin bahwa di sudut hati terdalamku, hatiku tetap mengingat betapa aku mencintaimu.
Dokter Manda membuka pintu sebuah kamar perawatan. Seorang wanita sedang duduk membelakangi kami.
“Nina,” panggil dokter Manda.
Wanita itu merespon panggilan dokter Manda. Perlahan-lahan da membalikkan tubuhnya menghadap kami. Rasanya aku ingin berlari untuk memeluknya. Mengatakan padanya bahwa aku adalah putrinya.
Sisa-sisa kecantikan masih terlihat di wajahnya. Dia menatap kami semua dengan kebingungan.
“Nina,” kali ini mama yang memanggil.
Mama Nina mengerutkan keningnya. “Kak Naura?”
“Nina aku ingin memperkenalkan seseorang denganmu.”
Ragu-ragu, mama menggandengku untuk mendekati mama Nina. Air mataku menetes begitu deras. Ingin rasanya aku memanggilnya dengan sebutan mama, memberitahunya bahwa aku adalah putrinya.
“Nina, ini adalah Kanaya, putriku.”
Mama Nina menatapku dengan penasaran. Namun, senyum lembut terukir di wajahnya.
“Kanaya, sapa tante Nina,” pinta mama.
“Tante Nina,” panggilku.
Tangan mama Nina terulur padaku. Dia mengusap-usap rambutku.
“Putrimu sangat cantik, Kak.” Mama Nina menatapku. ”Bila putriku masih hidup, mungkin dia juga akan secantik kamu, Kanaya.”
Aku menggigit bibir untuk menahan isakan keluar dari bibirku. Kesedihanku adalah tidak bisa mengatakan padanya bahwa aku adalah putrinya.
Menurut Dokter Manda, saat ini jauh lebih aman untuk memperkenalkanku sebagai keponakannya saja karena tidak ada yang bisa menebak reaksinya bila tahu aku adalah putrinya. Saat ini yang bisa kulakukan hanyalah berdoa bahwa ibu kandungku akan segera sembuh hingga suatu saat nanti aku bisa memanggilnya dengan sebutan mama.
-**- 



No comments:

Post a Comment

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.